CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS 1 SD MEDIA VISUAL

CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS 1 SD MEDIA VISUAL-Adanya kecenderungan proses pembelajaran Matematika yang terpusat pada guru yang dialami di SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ..., yang berdampak pada penurunan hasil belajar siswa. Hal ini diperoleh dari data ulangan dari 11 siswa, baru 4 siswa atau 40% yang mencapai terget ketuntasan belajar, sedangkan 7 atau 60% siswa belum mencapai hasil yang memuaskan. Dengan keadaan seperti itu, jika dibiarkan tanpa adanya tindakan untuk memperbaiki KBM maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media visual atau gambar pada siswa kelas I SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten .... Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian dengan menyajikan materi pengenalan konsep waktu yang menggunakan media visual atau gambar, selanjutnya memberikan tes hasil belajar, serta mengamati proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Download ptk matematika sd Metode pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah tes dan observasi. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, sedangkan observasi untuk mengamati proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Subyek penelitian berjumlah 11 siswa. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Tes hasil belajar dianalisis dengan teknik kuantitatif untuk menentukan ketuntasan belajar, sedangkan teknik kualitatif diperoleh dari refleksi proses belajar mengajar yang dilakukan guru dengan menggunakan media gambar.

Setelah dilakukan analisis data diperoleh hasil penelitian bahwa penggunaan media visual dalam pembelajaran matematika di kelas I SD Negeri 01 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun Ajaran 2015/2016, terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Hal tersebut diindikasikan dari ulangan pada siklus I rata-rata 71 dengan ketuntasan belajar 60% meningakat pada siklus II dengan perolehan rata-rata ulangan menjadi 81 dengan ketuntasan belajar 90%.
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran sebagai berikut: 1) Guru kelas I agar sedapat mungkin menggunakan media visual atau gambar dalam mengajarkan materi pengenalan konsep waktu, karena dapat mengingkatkan hasil belajar siswa. 2) Guru harus kreatif dalam pembuatan media yang akan disajikan melalui media gambar sehingga menarik perhatian siswa.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMATIKA SD yang diberi judul UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG PENGENALAN KONSEP WAKTU MELALUI PENGGUNAAN MEDIA VISUAL BAGI SISWA KELAS I SDN 01 ... KECAMATAN ...  KABUPATEN ... SEMESTER I TAHUN 2015/2016" . Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA SD KELAS I lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK  038 SD).

DOWNLOAD PTK MATEMATIKA KURTILAS KELAS 1 SD LENGKAP

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Perkembangan pengajaran matematika di sekolah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat berkaitan. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor siswa, guru dan materi pelajaran itu sendiri. Salah satu faktor yang cukup berperan adalah materi pelajaran, karena selain berkaitan dengan kesesuaian dan kesiapan siswa, materi pelajaran matematika juga harus memperhatikan materi¬materi sebelumnya sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Secara umum pelajaran Matematika merupakan salah satu pelajaran yang kurang menarik bagi siswa bahkan siswa berasumsi bahwa pelajaran Matematika itu sulit sehingga menjadi momok bagi sebagian siswa yang akhirnya berpengaruh pada interaksi proses belajar-mengajar. Seperti kita ketahui juga bahwa mempelajari matematika tidak boleh terpenggal-penggal karena matematika itu akan berhubungan dengan setiap bagiannya. Contoh ptk matematika sd kelas 1

Adanya kecenderungan proses pembelajaran Matematika yang terpusat pada guru juga dialami di SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ..., yang berdampak pada penurunan prestasi belajar siswa. Sedikitnya sumber belajar dan terbatasnya media atau alat peraga merupakan salah satu penyebab. Sehingga pembelajaran lebih bersifat searah dan membosankan. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila rata-rata pelajaran Matematika pada siswa kelas I Tahun Pelajaran 2015/2016 tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 63.
Berdasarkan hasil pengamatan penguasan materi pengenalan konsep waktu pada pembelajaran matematika di SDN 01 Mulyoharjo diperoleh hasil yang tidak memuaskan. Dari hasil pembelajaran diperoleh bahwa penguasaan materi pengenalan konsep waktu pada siswa kelas I semester I tahun 2015/2016 masih jauh dari harapan. Adapun hasil ulangan sebelum dilaksanakan perbaikan pembelajaran dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1 .Hasil Ulangan Matematika Kelas I Semester I

Tabel 1 di atas menunjukkan dari 11 siswa baru 4 siswa atau 40% yang mencapai terget ketuntasan belajar, sedangkan 6 atau 60% siswa belum mencapai hasil yang memuaskan. Dengan keadaan seperti itu, jika dibiarkan tanpa adanya tindakan untuk memperbaiki KBM maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
Fenomena yang terjadi dilapangan sehubungan dengan rendahnya prestasi belajar berhitung bertalian erat dengan substansi materi berhitung yang cenderung hafalan. Terkait dengan itu diperlukan peran media pembelajaran untuk menjembatani kesenjangan pemahaman materi berhitung dengan fenomena dilapangan, sehingga siswa mampu mempelajari materi berhitung tanpa ada perasaan takut dan tertekan. Salah satu diantaranya dapat memanfaatkan media gambar sebagai alat bantu untuk memperjelas bahan ajar yang disajikan dalam pembelajaran Matematika pengenalan konsep waktu.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka peneliti memandang perlu untuk menerapkan pemanfaatan media visual atau gambar di SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... tahun 2015/2016.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang tersebut diatas, penulis melakukan refleksi diri terhadap apa yang telah dilaksanakan pada pembelajaran dan mengingat kembali apa yang dilakukan dalam kelas yang pelaksanaanya dibantu oleh teman sejawat agar memperoleh pemecahan masalah yang muncul dalam pembelajaran Matematika yang dilaksanakan penulis. Setelah penulis berdiskusi dengan obsever terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu :
1. Penjelasan guru terlalu abstrak
2. Alat peraga kurang memadai
3. Siswa kurang aktif dalam diskusi kelompok sehingga tidak dapat menyelesaikan LKS dengan baik.
4. Soal formatif terlalu sulit
5. Siswa tidak termotivasi dalam proses pembelajaran

1.3. Rumusan Masalah
Dari hasil analisis masalah, refleksi diri dan juga diskusi dengan teman sejawat penulis dapat merumuskan masalah yang timbul pada saat melakukan pembelajaran. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: “Apakah penggunaan media visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang pengenalan konsep waktu bagi siswa kelas I SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester I Tahun 2015/2016?”
1.4. Cara Pemecahan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah-masalah yang menyebabkan ketidakberhasilan siswa dalam belajar, dalam penelitian ini peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan media visual dengan tujuan agar penguasaan dan pemahaman siswa pada
pembelajaran matematika tentang pengenalan konsep waktu lebih meningkat dan prestasi belajar siswa akan semakin baik.
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan media visual dapat meningkatkan hasil belajar tentang pengenalan konsep waktu bagi siswa kelas I SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester I tahun 2015/2016.

1.6. Manfaat Penelitian
Sebagai tenaga pendidik yang dituntut profesional dalam menjalankan tugasnya maka hasil penelitian ini sangat besar manfaatnya bagi penulis sendiri maupun bagi rekan rekan guru yang lain dalam satu profesi serta bermanfaat bagi sekolah sebagai lembaga institusi
1. Manfaat bagi siswa
a. Memperbaiki proses belajar siswa sehingga kesalahan dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara cepat dan tepat.
b. Siswa memperoleh dorongan semangat akibat dari pembelajaran yang dilakukan oleh gurunya.
2. Manfaat bagi guru ptk matematika sd doc
a. Untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya. 
b. Dapat berkembang secara professional karena diri mampu menilai dan memperbaikinya.
c. Lebih percaya diri sehingga guru mampu melakukan analisis terhadap kinerjanya sehingga tahu kekurangannya
3. Manfaat bagi sekolah
Membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan pada diri guru sehingga sekolah menjadi maju.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK KENAIKAN PANGKAT UNTUK GURU SD

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1. Kajian Teori
2.1.1. Pembelajaran Matematika di SD
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Hermawan, 2003 : 107).
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. ptk matematika sd kelas 1 pdf
(Djoko Moesono, 2006 : 125)
Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain ( KTSP, 2006 : 15)

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1 Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2 Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

3 Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4 Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5 Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut: a) Bilangan, b) Geometri dan pengukuran, c)Pengolahan data.

2.1.2. Hasil Belajar
Hasil belajar pada dasarnya berkaitan pula dengan hasil yang dicapai dalam belajar. Pengertian hasil belajar itu sendiri dapat diketahui dari pendapat ahli pendidikan. Hasil belajar berasal dari kata hasil dan belajar. Agar tidak menyimpang dari pengertian sesungguhnya maka perlu dijelaskan secara per kata terlebih dahulu.
Hasil belajar dari gabungan kata hasil dan kata belajar. Hasil belajar diartikan sebagai keberhasilan usaha yang dapat dicapai (Winkel,1998:162). Hasil belajar merupakan keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan akademik. Winarno Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai hasil belajar yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Hal tersebut berarti hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Dalam hasil belajar meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor (Sunaryo, 1983:4).
Dari berbagai kajian definisi hasil belajar di atas maka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika yang berupa kemampuan akademis siswa dalam mencapai standar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dan harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Belajar dipengaruhi pula oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain dibagi menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut: 1) Kesehatan anak, 2) Rasa aman, 3) Kemampuan dan minat, 4) Kebutuhan diri anak akan sesuatu yang akan dipelajari (Rustiyah NK,1995:123).

Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut. 1) Lingkungan belajar, iklim, dan teman belajar. 2) Motivasi dari luar (Rustiyah NK,1995:123).
Adapun faktor yang datang dari luar diri anak, yaitu dari sekolah tempat anak belajar seperti guru, waktu, sarana dan prasarana belajar, kurikulum, materi, dan suasana belajar. Selain faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, juga siswa mengalami hambatan-hambatan dalam belajar baik itu bersifat endogen maupun bersifat eksogen. Yang bersifat endogen adalah faktor biologis dan faktor psikologis siswa. Sedangkan faktor eksogen adalah seperti sikap orang tua, suasana lingkungan, sosial ekonominya, dan sikap budayanya. Untuk dapat meningkatkan belajar dengan baik maka guru harus mengenal anak dengan baik pula karena setiap anak tidak sama persis kesulitan dan permasalahan yang dihadapinya. Dengan demikian guru harus mampu meneliti setiap kekurangan-kekurangan dalam hasil belajar siswa. ptk matematika sd kelas 1
Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil akademis yaitu hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang telah dirumuskan guru baik berupa segi kognitif, afektif maupun dari segi psikomotornya. Dalam proses belajar dan mengajar seorang guru wajib menentukan tujuan pembelajaran baik tujuan pembelajaran umum maupun khusus.
Mengukur keberhasilan belajar siswa atau hasil yang dicapai siswa harus mampu mengevaluasi belajar siswa. Keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari segi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Untuk memudahkan guru dalam mengukur keberhasilan belajar maka guru harus menentukan tujuan pembelajaran khusus yang baik. Ada beberapa kriteria dalam pembuatan TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus) yang baik yaitu sebagai berikut.

a) Mengandung satu jenis perbuatan.
b) Dinyatakan dalam kualitas dan kuantitas penguasaan siswa.
c) Kondisi yang bagaimana yang diinginkan guru (Tim MKDK IKIP Semarang, 1995:28).
Jadi hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang telah dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan proses belajar dan mengajar, baik yang menyangkut segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil yang dimaksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini, berupa hasil belajar yang berupa hasil akademik siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Hasil akademik ini berupa angka kuantitas yang dituliskan dalam buku raport. Sedangkan dalam kaitannya dengan penelitian ini, hasil belajar adalah peningkatan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan guru.
Hasil belajar yang dicapai siswa berkaitan erat dengan kesulitan belajar dan keberhasilan belajar. Kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dapat diketahui dari ciri-cirinya. Kesulitan belajar yaitu di mana anak didik atau siswa tidak mampu belajar sehingga hasil di bawah potensi intelektualnya (Alan O Ross, 1974:103). Menurut Lerner (1931:367) dalam buku pendidikan bagi anak berkesulitan belajar, (Dr. Mulyono Abdurrahman, 1999:262) adalah kekurang pahaman tentang simbol, nilai tempat, perhitungan dan penggunaan proses yang keliru dan tulisan yang tidak terbaca.

Menurut Mulyono Abdurrahman (1996:6) bahwa kesulitan belajar adalah terjemahan dari learning disability. Terjemahan tersebut diartikan sebagai ketidakmampuan belajar. Menurut Kuffman dan Lloyd (1985:14) dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1996:6) bahwa kesulitan belajar adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut memungkinkan menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau berhitung. Learner berpendapat, ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar, yaitu :
a. Adanya gangguan dalam hubungan keruangan.
b. Abnormalitas persepsi visual.
c. Assosiasi visual motorik.
d. Perverasi.
e. Kesulitan mengenal dan memahami simbol.
f. Gangguan penghayatan tubuh.
g. Kesulitan dalam bahasa dan membaca
h. Performance IQ jauh lebih rendah daripada sektor verbal IQ (Mulyono Abdurrahman, 1999:259).

Jadi kesulitan belajar matematika disebabkan rendahnya kemampuan intelegensi, banyaknya terkait dengan kesulitan memahami konsep visual dan adanya gangguan assosiasi visual motorik.
Gejala adanya kesulitan belajar meliputi :
a. Hasil yang rendah di bawah rata-rata kelompok kelas.
b. Hasil yang dicapai dengan usaha tidak seimbang.
c. Lambat dalam melakukan tugas belajar.
d. Menunjukkan sikap kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dusta dan lain-lain.
e. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan (Widodo Supriyono, 1991:89).
Jenis kesulitan belajar menurut Erman Amti, (1992:67) masalah belajar pada dasarnya digolongkan atas: (a) sangat cepat dalam belajar, b) keterlambatan akademik, (c) lambat belajar, (d) penempatan kelas, (e) kurang motivasi dalam belajar, (f) sikap dan kebiasaan yang buruk dalam belajar dan kehadiran di sekolah sering tidak masuk. Dengan demikian bahwa anak yang perlu mendapat bantuan dari guru dalam hal ini adalah layanan bimbingan belajar, agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan belajar secara baik dan terarah.

2.1.3. Media pembelajaran
Mengingat anak SD berada dalam taraf berpikir konkrit , sehingga dalam setiap pembelajaran perlu secara kontinyu menggunakan media yang mampu mengkonkritkan sesuatu yang abtrak .”Media” menurut Heinich (1982) berasal dari bahasa latin , bentuk jamak dari “ Medium “ yang berarti perantara ( between ) , yaitu perantara sumber pesan ( source ) dengan penerima pesan ( receiver ).
Arti media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran ( Schramm, 1997 )
2. Sarana fisik untuk menyampaikan isi / materi pelajaran seperti buku, film, vidio , slide dan sebagainya ( Briggs , 1977)
3. Sarana Komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang, dengar termasuk teknologi perangkat kerasnya ( Nea, 1969 )
Jadi alat peraga adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya.

Jenis - jenis alat peraga :
1. Alat peraga barang cetak
Yaitu alat peraga berupa barang cetakan
2. Alat peraga elektronik
Yaitu alat peraga yang berupa media audio visual dan media audio.
3. Alat peraga benda hidup dan benda mati
Alat peraga yang berupa tumbuhan, hewan, tanah, batuan dan Lain.
Adapun fungsi media adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujutkan situasi belajar – mengajar yang lebih efektif.
2. Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
3. Media penbelajaran dalam penggunaan harus relevan dengan tujuan dan isi pembelajaran. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada tujuan dan bahan ajar.
4. Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau emacing perhatian siswa saja.

5. Media pemebalajran berfungsi mempercepat proses belajar. Download ptk matematika sd  Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajr lebih mudah dan lebih cepat.
6. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembalajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajara memiliki nilai yang tinggi.
7. Media pembelajaran meletakkan dasar – dasar kongret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penkit verbalisme.
Memperhatikan pentingnya media pembelajaran seperti diungkapkan di atas, maka sebenarnya tidak ada alasan lagi apabila kita menginginkan proses belajar yang berhasil selain menggunakan media pembelajaran pada setiap proses belajar mengajar tersebut. Untuk memberikan penelanan terhadap pernyataan tersebut, coba perhatikan juga nilai – nilai yang dimiliki media pembelajaran di baeah ini:
a) Membuat kongret konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah, arus litrik dan sebagainya,
b) Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar seperti binatang – binatang buas, pinguin dari kutup utara dan sebagainya,
c) Menampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya kapal laut, pesawat udara, pasar, candi borobudur, dan sebagainya,
d) Menampilkan obyek yang telalu kecil yang tak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti bakteri, molekul, atom, amuba, virus, dan sebagainya,
e) Memperhatikan gerakan yang terlalu cepat, misalnya lintasan peluru, ledakan dengan slow motion, atau terlalu lambat misalnya pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga, dan sebagainya,

f) Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya,
g) Memungkinkan keseragaman pengamatan atau pesepsi belajar siswa,
h) Membangkitkan motivasi belajar,
i) Memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar,
j) Menyajikan informasi belajar secara kosisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan,
k) Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak mengatasi waktu dan ruang,
l) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
2.1.4. Media Visual dalam pembelajaran Matematika
Sesuai dengan namanya, media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru – guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan ( non-projected visuals ) dan media yang dapat diproyeksikan (projected visuals) atau bergerak ( motion picture ). Marilah kita rinci satu persatu dan jenis media visual tersebut.

1. Media visual tidak diproyeksikan
a. Gambar diam / mati ( still picture )
Gambar diam / mati ini adalah gambar – gambar yang disajikan secara fotografik misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau obyek lain yang ada kaitannya dengan bahan / isi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. gambar diam ini ada yang tunggal dan ada yang berseri, yaitu sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Keuntungan yang didapa dengan menggunakan media gambar diam ini yaitu:
1) Media ini dapat menerjemahkan ide / gagasan yang sifatnya abstrak menjadi lebih relistik
2) Banyak tersedia dalam buku – buku ( termasuk buku teks ), majalah, suat kabar, kalender, dan sebagainya
3) Mudah menggunakan dan tidak memerlukan peralatan lain
4) Tidak mahal, bahkan mungkin tidak menggeluarkan biaya untuk pengadaannya
5) Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua pelajaran/disiplin ilmu
Selain beberapa keuntungan, terdapat juga sedikit keterbatasan dari media gambar ini yaitu:
1) terkadang ukuran gambar – gambarnya terlalu kecil jika digunakan pada suatu kelas
2) gambar diam merupakan media dua dimensi
3) tidak bisa menimbulkan kesan gerak

b. Media visual yang diproyeksikan
Media yang diproyeksikan pada dasarnya adalah media yang menggunakan alat proyeksi ( proyektor ) sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam dan media proyeksi gerak. Alat proyeksi yang digunakan tentu membutuhkan aliran listrik dan juga mebutuhkan ruangan tertentu yang cukup memadai. Pada sekolah – sekolah yang ada di daerah perkotaan, yang memiliki kemampuan untuk mengadakan media proyeksi ini tentu sangat menguntungkan sebab bisa ditata lebih menarik perhatian dibandingkan dengan media yang tidak diproyeksikan. ptk matematika sd doc Namun pada umumnya sekolah - sekolah ( SD ) di Indonesia belum memungkinkan untuk mengadakan media proyeksi ini sebab masih dianggap sangat mahal harganya, disamping itu diperlukan juga kemampuan yang memadai dari para guru untuk menggunakan dan memelihara alat proyeksi tersebut. Jenis media proyeksi yang bisa digunakan diantaranya: 1) Proyeksi opak( Opaque Projection ), 2) Proyeksi lintas kepala ( Overhead projection ), 3) Slide, 4) Filmstrip

2.2. Kerangka Berfikir
Tabel 2.1
2.3. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: penggunaan media visual dapat meningkatkan hasil belajar tentang pengenalan konsep waktu bagi siswa kelas I SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester I tahun 2015/2016.

CONTOH PTK MATEMATIKA SD DENGAN PENERAPAN MEDIA VISUAL WORD

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1. Seting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... pada kelas I semester I tahun 2015/2016 yang berjumlah 10 siswa yang terdiri atas 4 siswa putri dan 6 siswa putra , selama 3 bulan dari bulan Oktober sampai Desember 2015.
3.2.Variabel Penelitian
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media visual.
2. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar.
3.3. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model spiral dengan siklus yang berisi tahapan-tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi ( model Kemmis & Mc Taggart) dalam Kasihani Kasbolah (2001:63). Tahapan-tahapan dalam siklus tersebut adalah sebagai berikut:
Gambar rangkaian langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Rancangan penelitian yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah PTK yaitu, peneliti melakukan penelitian terhadap hasil belajar siswa dalam materi pengenalan konsep waktu.
a. Perencanaan Awal
Perencanaan awal berupa telaah pada mata pelajaran matematika di kelas I khususnya pada materi pengenalan konsep waktu . Kemudian peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), materi pengenalan konsep waktu.
b. Perencanaan Tindakan
Peneliti merencanakan tindakan dilakukan dalam dua siklus. Masing – masing siklus satu kali pertemuan. Indikator satu untuk siklus pertama dan indikator dua untuk siklus kedua. Setiap pertemuan dengan menerapkan latihan berulang yang benar.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dengan mengimplementasikan dari perencanaan yang telah disiapkan yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan metode yang benar dalam melakukan pembelajaran. 
d. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan Kepala sekolah untuk mengamati tingkah laku dan sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran matematika pengenalan konsep waktu. Disamping itu observasi juga dilakukan terhadap guru atau peneliti yang melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran. ptk matematika sd kelas 1 pdf

e. Refleksi
Setelah mengkaji hasil belajar matematika siswa dan hasil pengamatan aktifitas guru serta menyesuaikan dengan ketercapaian indikator kinerja maka peneliti mengubah strategi pada siklus kedua agar pelaksanaan lebih efektif.
Peneliti juga mengkaji apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya sudah tercapai. Dan bila belum tercapai maka peneliti tetap melanjutkan siklus selanjutnya, dan siklusnya sampai mencapai indikator kinerja.
3.3.1. Tahap Penelitian Siklus I
Peneliti tindakan kelas dilaksanakan pada pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

a. Guru menumbuhkan minat siswa dengan memberikan apersepsi.
b. Pembentukan kelompok kerja dan pemberian nama kelompok.
c. Siswa secara berkelompok mengerjakan tugas Tiap kelompok mendapatkan soal yang berbeda. Guru membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
d. Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
e. Kelomopok lain menanggapi kelompok lain yang maju.
f. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi pelajaran.
g. Pemberian penghargaan kepada kelompok terbaik.
h. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan kegiatan evaluasi.
3.3.2.Tahap Penelitian Siklus II
Pelaksanaan tindakan pada siklus ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung, melipiti kegiatan sebagai berikut :
a. Guru menumbuhkan minat siswa dengan memberkan apersepsi dan mengulas materi yang telah lalu, serta pembentukan kelompokkerja.
b. Siswa dalam kelompok mengerjakan tugas yang diberikan guru. Guru membimbing kelompok yang kesulitan.
c.  Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.

d. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi pelajaran.
e.  Pemberian penghargaan kepada kelompok terbaik.
f.  Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan evaluasi.  

3.4. Data dan Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh (Ari Kunto, 1996 : 114). Dalam penelitian tindakan kelas ini sumber datanya terdidi atas:
a. Person, yakni sumber data yang berasal dari siswa kelas I SDN 01 Mulyoharjo dan guru kelas I yang mengajar matematika.
b. Place, yakni sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaand diam dan bergerak. Sumber data yang diam seperti ruangan kelas, kelengkapan alat dan sejenisnya. Sedangkan sumber data yang bergerak yaitu dari aktifitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan berbagai metode dan media.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi teknik tes dan non tes. Teknik tes berupa tes tertulis sedangkan teknik non tes berupa observasi. Untuk teknik tes, alat pengumpul data berupa pemberian soal secara tertulis sejumlah 5 soal uraian selama siklus penelitian berlangsung. Untuk teknik non tes alat pengumpul data berupa lembar observasi dan jurnal kegiatan guru. lembar observasi dikalukan untuk mengetahui sikap dan perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran, diantaranya mengamati :
a. Semangat siswa saat pembelajaran berlangsung.
b. Keaktifan siswa bekerja.
c. Kemampuan mengemukakan pendapat.
d. Kecapatan menyelesaikan tugas.
e. Ketepatan dalam mengerjakan tugas.
Observasi juga dilakukan kepada guru yang mengajar matematika dengan lembar pengamatan Alat Kemampuan Penelitian Guru (APKG).

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Terhadap perolehan hasil belajar matematika dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Download ptk matematika sd  Data – data tesebut dianalisis milai dari siklus I dan siklus II untk dibandingkan dengan memberikan teknik deskriptif persentase dengan rumus :
Rumus 3.1

Hasil penghitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif prosentase yang dikelompokkan dalam 5 kategori yaitu :
Tabel : Klasifikasi kategori tingkatan dan prosentase

Hasil observasi dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif yang digambarkan dengan kata – kata atau kalimat. Dipisah – pisah menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
3.6. Indikator Keberhasilan
Kegiatan pembelajaran dengan media visual dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas I SDN 01  ... Kecamatan ... Kabupaten ... dengan indikator nilai rata-rata kelas > 63, dan 80% siswa mencapai nilai > 63.

CONTOH REFRENSI PTK MATEMATIKA SD DOC

DAFTAR PUSTAKA


Asep Herry Hermawan dkk. 2003. Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran.
Jakarta: Universitas Terbuka.
AbdurahmanMulyono, Belajardanpembelajara di SD Jakarta RajawaliPress
BinaKarya Guru Tim. 2004. TerampilBerhitungMatematikaKelasI. Surabaya:
Eerlangga.
Djoko Moesono Siti M. Amin. 2006. Mateatika Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Garot Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta Universitas Terbuka
Kamus Besar Matematika. 2002. Departemen Pendidikan Nasional. i Balai Pustaka.
Karso dkk. 1998. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nur Aksan dkk. 2006. Matematika Kelas I. Klaten: Cempaka Putih.
Purwanto, 1986, Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta Pustaka Belajar
Sunaryo, 1996, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta Ar-ruzz Media
Surya Yohanes. 2006. Matematika Itu Asyik 4b. Jakarta: Armadelta Selaras.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS 1 SD MEDIA VISUAL

Postingan terkait: