CONTOH PTK IPA SD METODE DEMONTRASI WORD

CONTOH PTK IPA SD METODE DEMONTRASI WORD-Belajar adalah hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dan merupakan penilaian yang dicapai oleh siswa untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran diterima oleh siswa. Melalui metode demonstrasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa karena siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga memudahkan pemahaman mengenai materi yang sedang disampaikan.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Untuk mengukur tingkat keberhasilan hasil belajar digunakan teknik tes pada akhir pembelajaran, sedangkan untuk mengukur motivasi belajar siswa digunakan angket sebagai teknik pengumpulan data. PTK ipa sd kelas 4 pdf
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadinya peningkatan hasil belajar dan peningkatan motivasi belajar siswa kelas 4 SD Negeri 2 ...  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui metode demonstrasi.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPA SD yang diberi judul UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS 4 SEMESTER 2 DI SD NEGERI 2 ... KECAMATAN ... KABUPATEN ... . Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPA SD KELAS IV lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK  044 SD).

DOWNLOAD LENGKAP PTK IPA SD KELAS IV

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kegiatan sehari-hari siswa sering menjumpai kegiatan yang menggunakan prinsip gaya, akan tetapi siswa tidak menyadari bahwa kegiatan itu ada hubungannya dengan pelajaran IPA di sekolah. Oleh karena itu guru harus dapat memberikan pemahaman pada siswa bahwa kegiatan yang dilakukan itu memanfaatkan prinsip gaya pada mata pelajaran IPA.  Contoh ptk ipa sd lengkap
Pada umumnya hasil belajar pada pelajaran IPA siswa di SD Negeri 2 ...  masih rendah karena belum mencapai nilai KKM 61. Sebagai contoh pembelajaran IPA pada materi sebelumnya hasilnya masih rendah setelah diadakan tes formatif. Masih banyak siswa yang mendapatkan nilai dibawah 61 (Lampiran 3). Hal ini disebabkan oleh kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, siswa cenderung hanya menerima materi yang disampaikan dan tidak melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan pemahamannya.
Tabel 1.1
Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Mata Pelajaran IPA Kelas 4 Semester 1 SD Negeri 2 ... 

Dalam proses belajar mengajar sering timbul permasalahan:
1. Beberapa siswa kelas 4 SD Negeri 2 ...  sering ribut dan mengganggu teman.
2. Siswa masih ragu dan malu untuk mengungkapkan pendapat.
3. Sebagian besar siswa kelas 4 SD Negeri 2 ... mengobrol dengan teman sebangku bila guru menerangkan.

Dari masalah yang ada, masalah yang paling penting adalah kurang termotivasinya siswa dalam belajar pada pelajaran IPA dan siswa kurang berperan dalam pembelajaran. Ciri-ciri dari masalah tersebut :
a. Siswa cenderung ribut bila guru menerangkan.
b. Siswa kurang berani menyampaikan pendapat/ menjawab pertanyaan guru.
c. Siswa terkadang asyik sendiri dengan benda yang ada di sekitarnya. Penyebabnya:
a. Dominan menggunakan metode ceramah.
b. Kurang memaksimalkan penggunaaan media dalam menjelaskan materi/ kurang melibatkan siswa dalam penggunaan media.
c. Contoh yang diberikan hanya dari buku paket.
d. Ruang kelas yang sempit, kurang sesuai untuk jumlah siswa sebanyak 35 siswa.
Dampak yang akan timbul jika tidak segera diberikan tindakan, atau menentukan serta memilih strategi yang cocok maka pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan akan susah untuk ditangkap dan dipahami oleh siswa. IPA merupakan pembelajaran yang bersifat abstrak, jadi perlu adanya kegiatan yang dapat memudahkan siswa untuk lebih memahami materi. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang dapat memudahkan siswa untuk memahami materi yang sedang dipelajari, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi sehingga pemahaman yang abstrak akan menjadi konkret karena siswa dapat mendemonstrasikan dan ini akan memudahkan siswa uuntuk memahami materi yang disampaikan. Menurut Rahardja (2002) metode demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dimana guru atau nara sumbernya dengan sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan atau proses yang disertai penjelasan, ilustrasi seperlunya dan siswa mengamati dengan seksama.

Satu cara yang bisa diambil guru adalah dengan memperbaiki strategi dan metode pembelajaran. Jika dicermati fenomena pembelajaran selama ini anggapan siswa bahwa pelajaran IPA adalah salah satu mata pelajaran yang sulit. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang kurang diminati sehingga menjadikan pelajaran tersebut merupakan momok sebagian besar siswa.
Pembelajaran yang efektif harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam penguasaan metode dan materi ajar. Penggunaan metode demonstrasi mampu mengkomunikasikan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pemberi kepada penerima. Oleh karena itu dalam merancang proses belajar hendaknya dipilih metode yang benar-benar efektif dan efisien atau merancang metode sendiri sehingga dapat menyampaikan pesan pembelajaran, yang akhirnya terbentuk kompetensi tertentu dari siswa. Metode yang dimaksud adalah metode demonstrasi. Metode demonstrasi mempunyai kemampuan atau potensi mengatasi kekurangan-kekurangan guru, metode demonstrasi mampu menyampaikan materi secara jelas dan mudah di pahami siswa.
Dalam hal ini dengan demonstrasi siswa berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang sesuai dengan harapan. Dengan demikian penggunan metode demonstrasi dapat menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan. Dari hal tersebut maka proses belajar akan efektif dan prestasi belajar siswa akan meningkat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka guru harus dapat menggunakan strategi pembelajaran lain yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, salah satu langkah yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan metode demonstrasi.
Dengan menggunakan metode demonstrasi maka siswa akan mempunyai peran serta dan aktif ikut serta dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak akan terpaku hanya dari penjelasan guru dan buku paket, metode ini dapat menunjang keaktifan dari siswa. Siswa akan lebih mudah menangkap maksud dari setiap materi yang disajikan dengan penggunaan metode demonstrasi. Dalam demonstrasi siswa dapat mengamati apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.
Berdasarkan permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran khususnya IPA maka peneliti berkolaborasi dengan guru mencoba untuk meneliti tentang kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPA, menjadi latar belakang masalah yang akan diteliti dan berguna untuk memperbaiki proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa di sekolah.
1.2 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini dibatasi pada pengaruh penggunaan metode demonstrasi terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas 4. Motivasi disini dapat diketahui dari kemauan siswa untuk belajar dengan menggunakan inovasi pembelajaran yang baru, yaitu penggunaan metode demonstrasi.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan dan siklus 2 terdiri dari 3 kali pertemuan. Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester II pada akhir bulan Februari di SD Negeri 2 ...  tahun pelajaran 2014/2015.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dari masalah diatas maka rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah: “Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas 4 semester 2 di SD Negeri 2 ...  Tahun Pelajaran 2014/2015?”. Contoh ptk ipa sd kelas 4 semester 2
1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu: Ingin mengetahui peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar siswa melalui metode demonstrasi pada siswa kelas 4 SD Negeri 2 ...  pada mata pelajaran IPA materi pokok tentang gaya. 
1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penyusunan dan pelaksanaan program yang inovatif dalam belajar mengajar IPA kelas 4 di SD Negeri 2 ...  sehingga dari penelitian ini diupakan agar dapat menambah wawasan bagi guru atau calon guru dalam mengembangkan desain pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi siswa:
Diupakan untuk dapat meningkatkan dan mempengaruhi hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas 4 SD Negeri 2 ...  pada mata pelajaran IPA.
b. Manfaat bagi guru:
Memberikan masukan dan pengalaman dalam mengajar dengan metode demonstrasi
c. Manfaat bagi sekolah:
Memberikan masukan dalam rangka mengembangkan hasil belajar dan kepemimpinan peserta didik melalui proses pembelajaran.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK IPA SD TERBARU

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Belajar dan Hasil Belajar
Belajar ialah sesuatu yang terjadi dalam benak seseorang di dalam otaknya. Belajar itu sendiri pada dasarnya tidak memandang siapa yang belajar dan di mana tempatnya, sehi ngga siapa saja dapat melakukannya.
Menurut Whandi (2007) menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut:
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku.
2. Perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman bukan karena pertumbuhan.
3. Perubahan tersebut harus bersif at permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003).

Sardiman (2007) mendefinisikan bahwa:” belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, medengarkan, meniru dan lain sebagainya”.
Jadi dalam belajar tidak hanya aspek pengetahuan yang diutamakan tetapi perubahan tingkah laku juga menjadi tujuan yang sangat penting dalam belajar. Perubahan tingkah laku itu dapat diperoleh melalui pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya dengan berbagai kegiatan yang dapat merubah tingkah lakunya menjadi lebih baik.

Menurut Syaiful dan Aswan (2006) setiap proses belajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai ditingkat mana prestasi (hasil ) belajar yang dicapai. Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono (2006) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar.
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Download ptk ipa sd Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja (Suprijono. 2011).
Pengertian hasil belajar menurut Uno (2008) adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan kemampuan yang dimiliki seseorang baik kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor, kemampuan–kemampuan yang dimiliki oleh siswa melalui suatu proses berupa informasi yang diperoleh dari pembelajaran dari guru terhadap siswa. Perubahan kemampuan-kemampuan belajar ke arah yang lebih baik (perubahan progresif). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Tes digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam hasil belajarnya. Tes pilihan ganda, tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan merupakan teknik tes yang biasa digunakan oleh guru. Observasi atau pengamatan, jurnal, angket, portofolio dan wawancara merupakan teknik non tes. Untuk mengetahui hasil belajar siswa guru melihatnya dapat dalam bentuk nilai yang diperoleh oleh siswa.

2.1.2 Pengertian Metode Demonstrasi
Dari asal katanya demonstrasi dapat diartikan sebagai pertunjukan mengenai cara–cara memakai sesuatu. Secara bahasa metode adalah cara yang tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan khususnya dalam ilmu pengetahuan.
Menurut Sudjana (2008) metode demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta/ data yang benar. Demonstrasi yang dimaksud ialah suatu metode yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu. Putra (2004) mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu untuk mempertunj ukkan proses tertentu.

Metode demonstrasi adalah cara penyampaian bahan ajar yang disampaikan dengan cara memperagakan atau mempertunjukkan tentang suatu proses atau kejadian tertentu pada suatu benda yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber lain yang ahli dalam topik bahasan. 
Metode demonstrasi memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu sebagai berikut:
a. Kelebihan metode demonstrasi:
1. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh yang konkret, dengan menghadirkan obyek sebenarnya.

b. Sedangkan kelemahan dari metode demonstrasi ialah:
1. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan yang dikarenakan jarak pandang jauh dan obyek yang diamati kecil.
2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan karena proses demonstrasi harus didukung dengan penjelasan yang rinci oleh guru/ instrukturnya (Gunawan, 2009).
Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf  Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah, dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses. Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada keterampilan (Widiatmoko, 2002).

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai metode demonstrasi tersebut, maka dapat diketahui bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan oleh guru dengan cara mempraktekkan secara langsung dan siswa mengamati serta mencatat hal penting selama demonstrasi, setelah itu siswa diberikan kesempatan untuk mempraktekkan secara langsung dengan mendemonstrasikan materi yang sedangg dipelajari. Selain itu metode ini juga mempunyai kelebihan dan kelemahan, salah satu kelemahan metode demonstrasi adalah membutuhkan waktu yang lama selain itu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang lebih dalam mengontrol siswa selama kegiatan. Tetapi disisi lain metode demonstrasi memiliki kelebihan yaitu siswa menjadi lebih aktif, dan cermat memerhatikan dengan seksama kegiatan demonstrasi.

Langkah-langkah Menggunakan Metode Demonstrasi menurut Widi atmoko (2002) adalah sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
2. Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
3. Lakukan uji coba demonstrasi.
b. Tahap Pelaksanaan
1. Langkah pembukaan.
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
a. Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat mem perhati kan dengan jelas apa yang didemonstrasi kan.
b. Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
c. Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.

2. Langkah pelaksanaan demonstrasi:
a. Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
b. Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
c. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.

3. Langkah mengakhiri demonstrasi. Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbai kan selanj utnya.

2.1.3 IPA dan Pembelajarannya di SD
Pada hakikatnya IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala alam, baik yang menyangkut makhluk hidup maupun benda mati. Pada prinsipnya, IPA diajarkan untuk membekali siswa agar mempunyai pengetahuan (mengetahui berbagai cara) dan keterampilan (cara mengerjakan) yang dapat membantu siswa untuk memahami gejala alam. IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperi men dengan menggunakan metode ilmiah.
Ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun (Wikipedia, 2010).

Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi sangat penting. Pengajaran IPA dan keterampilan proses IPA untuk siswa hendaknya dimodifikasi sesuai taraf perkembangan kognitif siswa, karena struktur kognitif anak-anak tidak dapat dibandingkan dengan struktur kognitiff ilmuwan. Oleh karena itu anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA sehingga diharapkan akhirnya mereka berfikir dan memiliki sifat ilmiah (Samatowa, 2010).
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersif at umum, sehingga akan dapat disempurnakan.

Dalam IPA anak-anak (siswa) harus bersikap skeptik sehingga mereka selalu siap memodifikasi model-model yang mereka punyai tentang alam ini sejalan dengan penemuan-penemuan yang mereka dapatkan. Selain materi IPA harus dimodifikasi, keterampilan-keterampilan proses IPA yang akan dilatihkan juga harus disesuaikan dengan perkembangan anak-anak. PTK ipa sd kelas 4 pdf
Setiap guru harus paham akan alasan, mengapa suatu mata pelajaran yang diajarkan perlu diajarkan disekolahnya. Demikian halnya dengan guru IPA harus tahu benar kegunaan-kegunaan apa saja yang dapat diperoleh dari pelajaran IPA. Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa dapat memahami konsep-konsep IPA, memiliki keterampilan proses, mempunyai minat mempelajari alam sekitar, bersikap ilmiah, mampu menerapkan konsep-konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, mencintai alam sekitar, serta menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan. Berdasarkan tujuan di atas, maka pembelajaran pendidikan IPA di SD menuntut proses belajar mengajar yang tidak terlalu akademis dan verbal istik.

Dalam ilmu pengetahuan, istilah ilmu pengetahuan alam merujuk kepada pendekatan logis untuk mempelajari alam semesta. Ilmu pengetahuan alam mempelajari alam dengan menggunakan metode-metode sains. Ilmu pengetahuan jenis ini berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial yang menggunakan metode sains untuk mempelajari perilaku manusia dan masyarakat, ataupun ilmu pengetahuan formal seperti matemati ka (K hal i mah, 2010).

2.1.4 Pengertian Motivasi Belajar
Suparno (2005) mengemukakan bahwa motivasi belajar berkaitan dengan equilibrium (keseimbangan), yaitu upaya untuk dapat membuat dirinya memadai dalam menjalankan hidup ini. Dengan equilibrium dimaksudkan agar seseorang dapat mengatur dirinya sehingga dapat menjadi kekuatan pendorong untuk mempelajari sesuatu.
Motivasi belajar siswa adalah kecenderungan siswa untuk mencapai aktivitas akademis yang bermakna dan bermanfaat serta mencoba untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas tersebut. Terdapat dua aspek motivasi belajar yang dimiliki siswa, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras dalam menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Sedangkan motivasi intrinsik yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu (Asrori, 2011).

Motivasi belajar merupakan kekuatan (power motivation) daya pendorong (driving force) atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psi komotor (Hanafiah & Suhana, 2010).
Ada bermacam-macam jenis motivasi yang ada, antara lain motivasi instrik dan motivasi ekstrinsik.
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh, seseorang yang sedang membaca tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah ingin mencari buku-buku untuk dibacanya. Motivasi intrinsik merupakan suatu keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi termasuk motivasi intrinsik siswa. Motivasi intrinsik adalah merupakan motif-motif yang menjadi dasar, pendorong seseorang untuk melakukan aktifitas yang timbul dari diri seseorang. Motivasi intrinsik dalam belajar didasari dengan adanya perasaan senang, kemauan, serta kemandirian dalam belajar.

2. Motivasi Ektrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan merangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik adalah keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi ekstrinsik dalam belajar didasari dengan adanya dorongan yang berasal tidak mutlak dari diri individu atau dorongan yang berasal dari lingkungan sekitar individu yang memengaruhi proses belajar, motivasi ektrinsik berasal dari luar diri siswa, antara lain dorongan dari lingkungan sekitar misalnya dorongan dari orang tua, dorongan untuk berprestasi, keinginan untuk mendapatkan hadiah/ pujian yang dapat mendorong siswa dalam belajarnya (Putra, 2010).

2.2 Kerangka Pikir
Mengapa penerapan metode pembelajaran dengan demonstrasi dijadikan salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPA, karena melalui metode ini siswa menjadi lebih aktif dan memahami materi dengan mudah. Melalui metode demonstrasi siswa terlibat untuk lebih aktif dan cermat mengamati setiap langkah¬langkah selama kegiatan pembelajaran menggunakan metode demonstrasi berlangsung dan mudah dalam memahami materi yang sedang disampaikan. Contoh ptk ipa sd kelas 4  Ketika siswa mengerti dan memahami materi yang disampaikan maka hasil belajar siswa pun menjadi lebih baik.
Metode demonstrasi digunakan dalam pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar juga motivasi belajar siswa. Dalam metode demonstrasi siswa akan dengan sungguh-sungguh memperhatikan materi yang sedang disampaikan oleh guru. Berdasarkan kerangka pikir di bawah ini, diduga bahwa metode pembelajaran yang digunakan guru sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar pada mata pelajaran IPA kelas 4 maka digunakan metode demonstrasi.
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Metode Demonstrasi

2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian teori dan kerangka pikir diatas maka hipotesis penelitian tindakan kelas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Diduga, apabila dalam kegiatan pembelajaran guru dapat menggunakan metode demonstrasi sebagai pendukung dalam kegiatan pembelajaran, maka dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA tentang gaya pada siswa kelas 4 di SD Negeri 2 ...  tahun pelajaran 2014/2015.
2. Diduga, apabila dalam kegiatan pembelajaran guru dapat menggunakan metode demonstrasi sebagai pendukung dalam kegiatan pembelajaran, maka dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA tentang gaya pada siswa kelas 4 di SD Negeri 2 ...  tahun pelajaran 2014/2015.

CONTOH PTK IPA SD UNTUK SYARAT KENAIKAN PANGKAT GURU

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Seting dan Karakteristik Subjek Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di ruang kelas IV di SD Negeri 2 ...  pada mata pelajaran IPA tentang Gaya semester II tahun pelajaran 2014/2015, yang diikuti oleh 32 siswa. Terdapat perbedaan siswa–siswi dalam kemampuan menangkap materi yang diajarkan, ada yang pintar, sedang dan kurang dalam memahami materi pelajaran. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf Banyak penyebab yang membuat perbedaan tersebut, antara lain sebagian dari orang tua mereka khususnya ibu hanya sebagai ibu rumah tangga dan banyak berada di rumah, sehingga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membantu siswa¬siswi dalam belajar, tetapi banyak dari latar belakang orang tua yang berpendidikan rendah sehingga orang tua kesulitan dalam membantu siswa-siswi yang kurang memahami pelajaran.
Sesuai dengan masalah yang dikemukakan, sasaran kajian dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada pelajaran IPA tentang gaya yang dilakukan dengan menggunakan metode demonstrasi.

3.2 Variabel yang Diselidiki
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini objek penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu variabel dependen (terikat) dan variabel independen (bebas):
1. Variabel Independen atau variabel bebas
Variabel independen atau variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Metode demonstrasi merupakan variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian ini. Metode demonstrasi merupakan tipe pembelajaran yang menerapkan peragaan langsung dari guru maupun instruktur lain dengan memperhatikan setiap langkah yang dilakukan dalam kegiatan demonstrasi, kemudian siswa memperagakan langsung kegiatan mengguunakan metode demonstrasi. Metode demonstrasi yang digunakan adalah materi gaya pada pembelajaran IPA kelas 4 SD.

2. Variabel Dependen atau variabel bebas
Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas 4 merupakan variabel terikat dalam penelitian ini.
Setelah menerapkan metode demonstrasi pada pembelajaran IPA kelas 4, maka akan diperoleh hasil belajar. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik, dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan yang dapat diketahui melalui tes tertulis pilihan ganda yang diberikan pada akhir pembelajaran atau setelah proses pembelajaran selesai. Pencapaian hasil belajar dapat diketahui dalam bentuk nilai yang diperoleh siswa.
Sedangkan motivasi belajar disini di artikan sebagai sikap yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar mengguunakan metode demonstrasi. Motivasi belajar adalah dorongan yang membuat siswa untuk berubah kearah yang lebih baik, ketertarikan siswa suatu materi baru, maupun suatu inovasi pembelajaran yang baru untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Pencapaian kepemimpinan siswa diukur menggunakan angket dengan skala likert. 

3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dilakukan dengan 2 siklus yakni siklus 1 dan siklus 2. Adapun alur tahapan pada setiap siklus melalui 4 hal sebagai berikut: perencanaan (planning), pelaksanaan (implementation) dan observasi (observation), ref leksi (reflection).
SIKLUS I
1. Perencanaan
Tahap perencanaan ini meliputi:
a. Memberikan pre-test untuk mengukur pemahaman siswa pada kondisi awal mengenai materi.
b. Merancang skenario pembelajaran sebanyak 2 siklus.
c. Menentukan SK, KD dan indikator yang akan diajarkan.
d. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
e. Menyiapkan sumber, alat dan bahan yang digunakan dalam PBM. 

2. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan/ tindakan meliputi:
a. Pengkondisian kelas
b. Menyampaikan tujuan dari materi yang akan diajarkan
c. Apersepsi untuk memotivasi siswa
d. Kegiatan eksplorasi untuk menggali pengetahuan peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
e. Kegiatan elaborasi/ masuk kedalam kegiatan inti.
f. Kegiatan konfirmasi dengan memberikan umpan balik positif dan tanggapan.
Gambar 2.2

3. Pengamatan
Pengamatan/ observasi dilakukan oleh observer untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang menerapkan metode demonstrasi pada pembelajaran IPA tentang gaya. Observer menggunakan lembar observasi untuk mencatat kegiatan pembelajaran. Contoh ptk ipa sd lengkap
4. Refleksi
Pada tahap ref leksi, peneliti bersama guru dan observer menganalisa pelaksanaan PTK setelah pembelajaran berakhir. Untuk mengetahui apa sajakah hambatan/ kekurangan yang dihadapi selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi. Selanjutnya dengan permasalahan yang ditemui pada siklus 1 diadakan pemantapan pada tahap selanjutnya sampai hasil mencapai tujuan yang diinginkan.

SIKLUS II
1. Perencanaan
Tahap perencanaan ini meliputi:
a. Menentukan KD dan indikator yang akan diajarkan.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
c. Menyiapkan sumber, alat dan bahan yang digunakan dalam PBM.
2. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan/ tindakan meliputi:
a. Pengkondisian kelas
b. Menyampaikan tujuan dari materi yang akan diajarkan
c. Apersepsi untuk memotivasi siswa
d. Kegiatan eksplorasi untuk menggali pengetahuan peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
e. Kegiatan elaborasi/ masuk kedalam kegiatan inti.
f. Kegiatan konfirmasi dengan memberikan umpan balik positif dan tanggapan.
3. Pengamatan
Pengamatan/ observasi dilakukan oleh observer untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang menerapkan metode demonstrasi pada pembelajaran IPA tentang gaya. Observer menggunakan lembar observasi untuk mencatat kegiatan pembelajaran.
4. Refleksi
Pada tahap ref leksi, peneliti bersama guru dan observer menganalisa pelaksanaan PTK setelah pembelajaran berakhir. Untuk mengetahui apa sajakah hambatan/ kekurangan yang dihadapi selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi. Diharapkan pada siklus 2 terjadi peningkatan dibandingkan dengan siklus 1 dan mencapai hasil yang sudah ditentukan.

3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini terdapat tiga teknik pengumpulan data. Ketiga teknik tersebut adalah tes, observasi, dan angket.
a. Teknik Tes
Tes dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa selama proses belajar, sehingga peneliti dapat merencanakan tindakan yang akan diambil dalam memperbaiki pembelajaran. Dalam penelitian ini tes dilakukan dengan dua cara yaitu pre-test dan post-test. Pre-test dilakukan untuk diawal pembelajaran (sebelum materi disajikan) sedangkan post-test dilakukan diakhir pembelajaran (sebagai alat ukur keberhasilan pembelajaran).
b. Observasi
Dalam menggunakan tekhnik observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blanko pengamat sebagai instrumen. Observasi dilakukan mulai kegiatan sampai metode demonstrasi selesai diterapkan (Lampiran 4).
c. Angket
Angket digunakan untuk mengumpulkan data mengenai motivasi belajar siswa yang dinilai dari aspek dan indikator yang telah ditentukan. Angket yang digunakan diadopsi dari angket Amrih Yuwana Adi Putra (2010). Peneliti menggunakan angket tertutup dan langsung, dikatakan tertutup karena dalam angket ini sudah disediakan alternatif jawaban dan siswa tinggal memilih salah satu jawaban, dan dikatakan langsung karena individu yang diberi angket adalah orang yang diinginkan langsung datanya yaitu siswa. Angket ini terdiri dari 20 pertanyaan yang dikelompokkan menjadi 4 tingkatan yang pembuatannya mengacu pada Skala Likert. Dalam penelitian ini untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPA maka digunakan teknik nontes yaitu pengisian angket (Lampiran 5).
Tabel 3.1
Skor Jawaban Angket

Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, seperti: selalu, sering, kadang¬kadang, tidak pernah.
Sedangkan interval yang digunakan untuk mengukur motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
Rumus 3.1

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Butir Soal Tes
Butir-butir soal tes merupakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini. Butir soal yang digunakan untuk menguji hasil belajar siswa baik pada siklus I maupun siklus II. Pada siklus 1 terdapat soal dalam bentuk pilihan gabda dan soal isian, sedangkan pada siklus 2 terdapat soal dalam bentuk pilihan ganda, isian, dan uraian. PTK ipa sd kelas 4 pdf Adapun kisi-kisi soal siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 3.2 sebagai berikut:
Tabel 3.2
Kisi-kisi soal untuk mengukur hasil belajar siswa 
Standar Kompetensi :
7. Memahami beragam gaya dapat mengubah gerak dan atau bentuk suatu benda. Kompetensi dasar :
7.1 Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda.
7.2 Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah bentuk suatu benda.
Tabel 3.1

Tabel 3.2

b. Lembar observasi
Lembar pengamatan digunakan mulai kegiatan awal sampai dengan metode demonstrasi selesai diterapkan. Dalam hal ini untuk menilai penggunaan metode demonstrasi pada siswa dan juga guru dalam pembelajaran IPA di kelas 4.
Pengamatan/ observasi berjalan bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini, guru kelas 2 selaku observer melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar instrumen observasi yang telah disusun. Termasuk pengamatan secara cermat terhadap pelaksanaan skenario pembelajaran dari waktu ke waktu dan dam paknya terhadap hasil belajar siswa.
Adapun kisi-kisi observasi kegiatan belajar mengajar terdapat pada tabel 3.3 berikut ini:
Tabel 3.3Kisi-kisi Observasi Penerapan Metode Demonstrasi
(Sumber, Vita Asti: 2011)

c. Lembar Angket
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan, maka angket digunakan sebagai alat pengumpulan data. Angket digunakan untuk mengumpulkan data motivasi belajar siswa (Lampiran 5).
Untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 maka dilakukan scoring pada angket, yaitu sebagai berikut:
Rumus 3.2
Berikut ini merupakan kisi-kisi angket motivasi belajar siswa, terdapat 25 butir soal sebelum diuji, setelah dianalisis menggunakan SPSS 16.0 maka didapatkan hasil 20 butir soal yang valid dan semuanya termasuk dalam favorabel.
Tabel 3.4
Kisi-kisi angket Motivasi Belajar Siswa

3.5 Indikator Kinerja
Indikator kinerja adalah harapan terjadinya kenaikan hasil belajar dan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya kenaikan nilai peserta didik sesuai dengan target nilai dan kenaikan tingkat motivasi belajar siswa. Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah:
1. Hasil belajar siswa: 85% dari jumlah siswa mendapatkan nilai ≥  61.
2. Skor motivasi belajar: 
70% siswa memperoleh skor angket motivasi ≥  56 (minimal kategori tinggi).
3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas
3.6.1 Uji Validitas
Sebelum memberikan soal maupun angket terlebih dahulu harus diuji untuk mengukur tingkat validitas dan reliabilitas soal. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan yaitu valid dan reliabel.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan instrumen. Instrumen dapat dikatakan valid bila mempunyai tingkat validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen akan dikatakan tidak valid apabila mempunyai tingkat validitas yang rendah. Contoh ptk ipa sd kelas 4 semester 2 
Instrumen tes dan angket diujikan terlebih dahulu di SD Negeri 2 ... dengan jumlah 20 siswa. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16,0 untuk mengetahui tingkat validitas dengan melihat angka pada Corrected Item Total Correlation. Teknik yang digunakan untuk menguji kesahihan indikator adalah Corrected Item Total Correlation yang dinotasikan dengan (r) semua indikator dikatakan valid apabila mempunyai nilai koefisien korelasi positif ~ 0,40 (Sugiyono, 2010).
Dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS 16,0 diketahui N=37 pada (r) ~ 0,40 menunjukkan bahwa dari 50 item soal yang dianalisis terdapat 37 soal yang valid yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 11, 12, 14, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 29, 30, 33, 34, 35, 37, 38, 40, 41, 42, 43, 45, 46, 47, 48, 49, dan 50 (Lampiran 11). Dari 37 item soal yang valid sudah mewakili semua indikator yang akan digunakan pada soal evaluasi pada siklus 1 dan siklus 2.

3.6.2 Uji Reliabilitas
Suatu instrumen dikatakan reliabel bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek sama akan mempunyai hasil data yang sama. Salah satu metode pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan metode Alpha-Cronbach, apabila pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode Alpha-Cronbach maka (r) hitung diwakili oleh nilai Alpha. Apabila Alpha hitung > r tabel dan Alpha hitung bernilai positif, maka instrumen dapat dikatakan reliabel
(Sugiyono, 2010).
Berikut ini merupakan tabel tingkat Korelasi Alpha Cronbach.
Tabel 3.5
Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha

3.6.3 Taraf Kesukaran Soal
Teknik penghitungan taraf kesukaran butir soal adalah menghitung prosentase yang menjawab benar untuk tiap-tiap item.
Untuk mendapatkan nilai taraf kesukaran soal pilihan ganda dan isian singkat digunakan rumus sebagai berikut:
Rumus 3.3

Sedangkan rumus untuk menghitung taraf kesukaran soal uraian adalah
Rumus 3.4
Kriteria tolak ukur kesukaran soal adalah:
Tabel 3.4

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah membuat siswa tidak terangsang untuk mempertinggi usaha dalam memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauan pemahamannya. Jadi kriteria soal yang ideal adalah soal yang memiliki kriteria tolak ukur kesulitan soal 0,31 -0,70 yaitu soal dengan kategori sedang (Sudjana, 2010).
3.7 Analisis Data
Pada saat melakukan penelitian juga dilakukan analisis data karena analisis data merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Hal ini perlu dilakukan karena analisis data yang memberikan arti penting diperoleh pada penelitian. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis deskriptif komparatif. Digunakannya analisis deskriptif komparatif sebab untuk membandingkan nilai tes antar siklus dan indikator kerja.
Analisis data dilakukan sejak awal sampai akhir proses penelitian. Karena hal ini merupakan kesatuan yang tak terpisahkan antara tahap pengumpulan dan analisis data. Dalam menganalisis data dilakukan juga dengan metode deskriptif prosentase. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf Sedangkan data hasil observasi dianalisis dengan analisis deskriptif kom parati f di lakukan berdasarkan hasi l pengam atan dan refleksi.
Untuk menghitung prosentase hasil belajar siswa dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai siswa kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan
siswa yang diteliti kemudian dikalikan dengan 100%, maka akan didapatkan hasil prosentase hasil belajar. Sedangkan untuk menghitung prosentase tiap kriteria motivasi belajar siswa dilakukan dengan menghitung jumlah frekuensi siswa pada kriteria motivasi tertentu dibagi dengan jumlah keseluruhan siswa kemudian dikalikan 100% maka akan didapatkan hasil prosentase tiap kriteria motivasi, kemudian dilakukan komparasi untuk menghitung perbandingan hasil belajar maupun motivasi belajar siswa pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2.

CONTOH PTK IPA SD KELAS IV DENGAN METODE DEMONTRASI PDF

DAFTAR PUSTAKA


Arfiandi, H. W. (2011). Penelitian Tindakan Kelas: Peningkatan Hasil Bel ajar
Matematika dan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV Melalui Pemberian
Ganjaran di SDN 02 Kronggen Kecamatan Brati Kab. Grobogan Semester
I Tahun Pelajaran 2010/2011. UKSW, Salatiga.
Asti, V. (2011). Penelitian Tindakan Kelas: Penggunaan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas V pada Pembelajaran IPA. UKSW, Salatiga.
Astuti, B. L. (2010). Penggunaan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Kelas V Pada Pembelajaran IPA di SD N Jepon 8 Kec, Jepon Kab. Blora Tahun Ajaran 2009/2010.UKSW, Salatiga.
Arfiandi, H. W. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. UKSW, Salatiga. Ani, Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT UNNES Press.
Arikunto, S. (2006). Dasar-dasarEvaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Asrori. (2011). Pengertian Motivasi Belajar.
http://www.asrori.com/20 11/1 0/artikel-pendidikan-pengertian - motivasi_09.html.
Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Darsono, M. (2001). Belajar dan Pembelajaran. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Gunawan, E. (2009, August 22). Definisi Metode Demonstrasi. Retrieved from Nilaieka Blog. http://nilaieka.blogspot.com/.
Harahab, R. 2009. Hubungan Metode Demonstrasi dengan Pemahaman Siswa Terhadap materi Pelajaran Fiqih pada Pondik Pesantren Al-A nsor Manunggal Julu Kecamatan Padang Sidimpuan Tenggara. Skripsi: Fakultas Tarbuyah Jurusan Pendidikan Agama Islam stambuk Institut Agama islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Medan.
(http:www.yahoo. com :http://udhiexz. wordpress. com/2008/08/08/metode-demonstrasi-dan-eksperimen/_).
Hanafiah, & Suhana, C. (2010). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Khalimah. (2010, August 10). Ilmu Pengetahuan Alam. Retrieved from Gunadarma Blog, http ://wartawarga.gunadarma. ac.id/20 10/01 /ilmu¬pengetahuan-alam/.
Nashar. H. (2004). Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran. Jakarta: Delia Press.
Oemar, H. (2003). Motivasi dalam Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Rachmawati, I. S. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Metode Demostrasi. UKSW, Salatiga.
Rasim. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. UKSW, Salatiga.
Raharja, W. (2002). Sekitar Strategi Belajar Mengajar dan Keterampilan Mengajar. Salatiga: Fakultas Ekonomi UKSW.
Sardiman, A.M. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Samatowa, U.( 2006). Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
Samatowa, U. (2010). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Indeks. Sirait, A. 2002. Pembelajaran PAKEM dengan Metode Demonstrasi. (http//blogspot.com. diakses 2 agustus 2009).
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2008). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suharsimi, A. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Suharsimi, A. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning. Jogjakarta: Pustaka Belajar.
Samatowa, U. (2006, April 7). Sains Dalam Sekolah Dasar. Retrieved from Wikipedia, http//id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Pengetahuan_Alam.
Syafarudin, & Nasution, I. (2005). Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Quantum Teaching.
Uno, H. (2008). Menciptakan proses Belajar Mengajar yang Kretif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Whandi. (2007, September 17). Pengertian Hasil Belajar. Retrieved from Whandi
Blog, http ://whandi.net/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&did=4i.
Wianat Putra, U. (2004). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. IKIP: Semarang.
Widiatmoko, A. (2002, October 10). Pengertian Metode Demonstrasi. Retrieved from Naindra Blog, http ://naindra. students.fkip.uns.ac.id/.
WS, Winkel. (2004). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK IPA SD METODE DEMONTRASI WORD

Postingan terkait: