CONTOH PTK IPA KELAS IV SD INQUIRY WORD

CONTOH PTK IPA KELAS IV SD INQUIRY WORD-Masalah utama dalam penelitian ini adalah tidak aktifnya siswa pada proses pembelajaran dan hasil belajar siswa yang rendah, di SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........ tahun 2011/2012. Keaktifan siswa merupakan bagian terpenting dalam keberhasilan dalan pembelajaran, disinilah peran guru menempati garis terdepan dalam pelaksanaan pembelajaran. Tidak aneh jika kegagalan suatu pembelajaran gurulah yang pertama kali bertanggung jawab. Penggunaan berbagai pendekatan dan model dalam pembelajaran merupakan usaha guru untuk meningkatkan hasil belajar yang maksimal. Salah satu usaha guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan memberikan pendekatan pembelajaran inquiry yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar. Dari uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........ tahun 2011/2012. ptk ipa sd kelas 4 pdf

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Alat pengumpul data yang digunakan terdiri instrumen pembelajaran, tes formatif serta instrumen observasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus pembelajaran dan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Subyek yang di teliti adalah siswa kelas IV SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........ yang terdiri dari 21 siswa laki – laki dan 17 siswa perempuan dengan jumlah 38 siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perbaikan pembelajaran siswa yang tuntas KKM (65) dalam pembelajaran IPA hanya 15 siswa (39%) dari 38 siswa. Pada perbaikan pembelajaran siklus I siswa yang tuntas KKM meningkat menjadi 36 siswa (95%) dari 38 siswa. Dan pada perbaikan pembelajaran siklus II siswa yang tuntas KKM meningkat lagi menjadi 38 siswa (100%) dari 38 siswa. Jadi penerapan pendekatan pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ........ tahun 2011/2012.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPA SD yang diberi judul “ PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA STANDAR KOMPETENSI MENGGOLONGKAN HEWAN BERDASARKAN JENIS MAKANANNYA SISWA KELAS IV SEMESTER 1 SD NEGERI 3 ........ TAHUN 2011/2012". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPA SD KELAS IV lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK  037 SD).

DOWNLOAD PTK IPA KELAS IV  SD DENGAN METODE INQUIRY 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kunpulan pengetahuan yang berupa fakta – fakta, konsep – konsep, atau prinsip – prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari – hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inquiry dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. IPA diperlukan dalam sehari – hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah – masalah yang dapat di identifikasikan. Download ptk ipa sd Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD diharapkan ada penekanan pembelajaran salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inquiry ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikan sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah.

Kebanyakan siswa berasal dari keluarga yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tua, sehingga tidak ada yang memperhatikan mereka saat belajar yang menjadikan mereka tidak ingin belajar. Hal ini mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah. Banyak dari mereka yang tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan, ada yang mengatakan lupa, soalnya sulit, dan ada yang melontarkan kata – kata di rumah tidak ada yang membimbing mereka saat belajar. Dari perkataan yang dilontarkan oleh siswa guru dapat menyimpulkan apakah guru yang harus bertanggung jawab atas daya tarik mereka untuk belajar agar hasil belajarnya baik ? Apakah metode yang digunakan guru membuat siswa merasa bosan dan tidak tertarik ? rata – rata diantara mereka hanya 30 – 40 % yang mencapai batas KKM.
Dampak dari yang disampaikan di atas siswa kurang mendapat hasil belajar yang baik, hasil belajarnya juga sering dibawah KKM, siswa kurang aktif pada waktu proses pembelajaran, dan siswa ramai sendiri pada waktu diterangkan. Setelah adanya penerapan pendekatan pembelajaran inquiry hasil belajar siswa semakin meningkat.

Jika dilihat dari paparan diatas, maka tugas yang di emban oleh guru memang sangat berat, namun sangatlah mulia. Untuk itu, sudah selayaknya guru memiliki berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugasnya, agar menjadi guru yang profesional. Apalagi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi atau bahkan diharapkan mampu melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat. Melalui sentuhan-sentuhan guru di sekolah, diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup yang semakin keras. Guru dan juga dunia pendidikan pada umumnya diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik secara keilmuan maupun secara sikap mental yang positif. Untuk itu, dalam proses pembelajaraan, metode, strategi atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru seyogyanya adalah sesuatu yang benar-benar tepat dan bermakna, untuk memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan tahap perkembangan anak, maka strategi yang guru gunakan dalam menyampaikan sesuatu, baik yang berupa penanaman sikap, mental, perilaku, kepribadian maupun kecerdasan harus tepat sasaran, tujuh kecerdasan peserta didik sedapatnya harus dikembangkan secara profesional. Yang sangat kita khawatirkan dan harus dihindari adalah jangan sampai masa-masa keemasan anak tersebut malah terbalik, justru menjadi masa - masa penumpulan otak anak hanya karena strategi, teknik, metode atau model pembelajaran yang guru sampaikan tidak tepat dan tidak sesuai dengan masa perkembangan anak.

Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti akan mencoba menerapkan model pembelajaran Inquiry dalam pelajaran IPA tentang memggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya di kelas IV SD Negeri 3 ......... Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan. Karena dalam metode Inquiry merupakan metode yang mampu mengiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003:234).
Berdasarkan lembar pengamatan masih terjadi kelemahan – kelemahan mendasar yaitu Contoh yang disajikan guru masih kurang, sistematika penyajian perlu diperbaiki, dan Sebagian siswa belum memahami penjelasan guru. Sedangkan arah kekuatan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran Inquiry berimbas positif terhadap perubahan aktifitas dalam kreatifitas siswa.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang teridentifikasi beberapa masalah, yaitu :
1. Hasil belajar siswa di bawah KKM.
2. Siswa belum dapat menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya.
3. Siswa kurang aktif pada waktu proses pembelajaran.
4. Siswa ramai sendiri pada saat diterangkan.

1.3 Pembatasan Masalah
Batasan masalah judul ini sangat penting karena berguna memudahkan dan menghindari kesalahpahaman serta salah tafsir dari pembaca. Untuk itu penulis memberi batasan sebagai berikut :
1. Masalah penelitian dibatasi hanya pada SD Negeri 3 ......... yaitu tentang penerapan pendekatan pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ......... tahun 2011/2012. Siswa yang akan diteliti yaitu siswa dari SD Negeri 3 .......... 
2. Dalam Penelitian ini, hasil belajar siswa yang digunakan nilai harian yaitu kemampuan siswa setelah menjalani proses belajar mengajar dengan indikator nilai harian semester I.
3. Siswa yang penulis maksud adalah siswa SD Negeri 3 .......... Contoh ptk ipa sd lengkap

1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang batasan masalah yang diberikan maka di rumuskan adalah “ Apakah penerapan pendekatan pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ......... tahun 2011/2012 ?
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ......... tahun 2011/2012.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini meliputi manfaat secara teoritis dan manfaat praktis. Adapun tindakan penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat yang sangat berguna :
1.6.1 Manfaat Teoritis
1. Bagi Siswa
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan pendekatan pembelajaran inquiry yang digunakan.
2. Bagi Guru
Mengembangkan alat pembelajaran untuk memudahkan pada waktu menerangkan materi kepada siswa.
3. Bagi Sekolah
Untuk mengetahui manfaat metode pembelajaran yang sedang digunakan di sekolah.

1.6.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Siswa
Dapat meningkatkan minat belajar siswa sehingga dapat dicapai hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya dengan perubahan sikap yang signifikan. Misalnya hasil belajar siswa diatas KKM, siswa bisa aktif dalam pembelajaran, dan siswa mudah menangkap materi yang disampaikan.
2. Bagi Guru
Dapat mengembangkan wawasan keilmuan serta meningkatkan ketrampilan dan motivasi guru dalam proses pembelajaran hingga dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki hasil belajar yang lebih dari sebelumnya.
3. Bagi Sekolah
Dapat menambah wahana pembelajaran menjadi lebih variatif sehingga mampu memajukan proses pendidikan di masa mendatang.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) UNTUK  SYARAT KENAIKAN PANGKAT GURU WORD

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kajian Teori
2.1.1 Hakikat Pendekatan Pembelajaran Inquiry
2.1.1.1 Pendekatan Pembelajaran
Guru di dalam kelas ialah menggunakan pendekatan pembelajaran sebab kegiatan belajar mengajar pada hakekatnya adalah komunikasi, dalam proses komunikasi ini guru berperan sebagai komunikator yang akan menyampaikan pesan kepada siswa, agar pesan itu dapat diterima dengan baik oleh siswa, maka perlu suatu metode pembelajaran yang tepat.
2.1.1.2 Pembelajaran Inquiry
Inquiry adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inquiry sebenarnya merupakan prosedur yang biasa di lakukan oleh ilmuan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari (Herbrank, 2000; Butnitz, 2003; Chiapetta dan Adams, 2004). Metode Inquiry adalah metode yang mampu mengiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003:234).

2.1.1.3 Prinsip Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran berbasis Inquiry meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku – buku dan sumber – sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, merangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil (Menurut NRC, 1996). PTK ipa sd kelas 4 pdf
2.1.1.4 Penerapan Pembelajaran Inquiry di dalam Proses Belajar.
Penerapan Strategi pembelajaran Inquiry sesuai dengan teori konstruktivisme. Teori ini menyakinkan guru bahwa proses belajar merefleksikan pengalaman siswa membangun pemahaman dirinya sendiri. Tiap siswa menghasilkan sendiri “aturan” dan “model mental” yang digunakannya untuk membangun pengalaman dan memperoleh pengetahuan. Belajar , karenanya merupakan proses penyesuaian model mental siswa menyusun dan mengakomodasi pengalaman baru. Belajar merupakan proses interaksi sosial (Wikipedia:2010).
Pengetahuan siswa dibangun dengan informasi yang diperoleh secara alami. Proses belajar siswa merupakan bagian dari pengembangan pengalaman melalui pertemuan mereka dengan guru dan rekan – rekan mereka, dan mengkaji apa yang telah mereka pelajari dari sumber belajar yang terpercaya. Karena itu pula, ilmu pengetahuan harus dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit.

Pembelajaran berbasis inquiry adalah strategi mengajar yang mengkombinasikan rasa ingin tahu siswa dan metode ilmiah. Inquiry dapat dimulai dengan pertanyaan “Apa?” atau “Bagaimana?” untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu gejala alam atau pun sosial.
Berdasarkan konsep itu, maka dalam menerapkan strategi pembelajaran inquiry guru harus melibatkan siswa untuk melakukan penyelidikan, penelitian, atau investigasi yang dapat membangun pemahaman mereka sendiri. Siswa melakukan langkah kegiatan belajar aktif dan menerapkan ketrampilan berpikir kritis yang dipadukan dengan metode ilmiah.
2.1.1.5 Langkah Pembelajaran Inquiry
Secara umum proses otak secara pembelajaran dengan menggunakan strategi dapat mengikuti langkah – langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan strategi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas untuk menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah :
1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
2) Menjelaskan pokok – pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah – langkah inquiry serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan – merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
3) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

2. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka – teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka – teki itu. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf Dikatakan teka – teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inquiry, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi untuk memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.

4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inquiry, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Karena itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinquiry adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala – gejala ketidakgairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala – gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus – menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan bebagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.

5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Dalam menguji hipotesis yang terpenting adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, karena banyaknya data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data nama yang relevan.

2.1.2 Hakikat Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
2.1.2.1 Pengertian IPA
Menurut Hendro Darmodjo dan kaligis (1991 : 3-5) IPA dapat dipandang sebagai suatu proses dari upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam. Untuk ini diperlukan cara tertentu yang sifatnya analisis, cermat, lengkap dan menghubungkan gejala alam yang satu dengan gejala alam lain. IPA dapat dipandang sebagai suatu produk dari upaya manusia memahami berbagai gejala alam. IPA dapat pula dipandang sebagai fakta yang menyebabkan sikap dan pandangan yang mitologis menjadi sudut pandang ilmiah.
Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa (Depdikbut, 1997).

2.1.2.2 Teori Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Carin (1985) mendefinisikan IPA sebagai sistem pengetahuan alam semesta melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan eksperimen. Sementara itu Hungerford dan Volk (1990) mendefinisikan IPA sebagai, (1) proses menguji informasi yang diperoleh melalui metode empiris, (2) informasi yang diberikan oleh suatu proses yang menggunakan pelatihan yang dirancang secara logis, dan (3) kombinasi antara proses berfikir kritis yang menghasilkan produk informasi yang sahih. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam bentuk kumpulan konsep, prinsip, teori dan hukum. Contoh ptk ipa sd kelas 4 semester 2 IPA dapat dipandang sebagai produk yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah, dan dapat juga dipandang sebagai proses yaitu sebagai pola berfikir atau metode berfikirnya. Sedangkan sikap yang dibutuhkan dalam metode ilmiah berupa sikap ilmiah yang antara lain berupa hasrat ingin tahu, kerendahan hati, jujur, objektif, cermat, kritis, tekun, terbuka, dan penuh tanggung jawab.
2.1.2.3 Kendala Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Hancurnya paradigma kuno tentang IPA menggunakan pola DDCH (duduk, dengar, catat, dan hapal) ini menjadi tema khususnya pembelajaran IPA di sekolah, khususnya di Sekolah Dasar (SD). Sebagai arena pembentukan dan pemberi watak usia dini anak sudah tidak suka pembelajaran IPA dan juga tidak adanya media pembelajaran yang memadai untuk menjelaskan suatu konsep diluar praktikum dan observasi.
2.1.3 Menggolongkan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya
2.1.3.1 Pengertian Hewan
Hewan adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau Metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup di bumi. Hewan dalam pengertian sistematika modern mencakup hanya kelompok bersel banyak (multiselular) dan terorganisasi dalam fungsi – fungsi yang berbeda (jaringan), sehingga kelompok ini disebut juga Histozoa.

Dalam sistematika awal, binatang mencakup banyak organisasi bersel tunggal yang dikelompokkan sebagai Protozoa karena sifat heterotrof dan bergerak aktif (motif). Pengelompokan ini terus dianut hingga pertengahan abad ke-20 dan hingga sekarang masih dipakai untuk kepentingan praktis. Ketika orang mulai menganggap bahwa organisme bersel satu tidak memiliki organisasi jaringan, dibentuklah kelompok Protista yang menghimpun semua organisme sederhana yang berperilaku mirip binatang (bergerak, heterotrof).
Perkembangan biologi sejak paruh akhir abad ke-20 telah menunjukkan bahwa banyak organisme bersel satu tidak dapat lagi dipertahankan sebagai binatang. Ke dalam binatang dimasukkan semua organisme bersel banyak yang sel spermanya memiliki kesamaan struktur dengan koanosit, suatu sel generatif primitif.
Selain itu, penerapan konsep evolusi dan kladistik telah mengubah banyak organisasi sistematika hewan. Proses reklasifikasi ini sampai sekarang masih terus berjalan.

2.1.3.2 Penggolongan Makanan Hewan
Berdasarkan jenis makanannya, hewan dikelompokkan dalam tiga golongan yaitu :
1. Herbivor
Herbivor adalah hewan yang makanannya berasal dari tumbuhan saja (Haryanto, 2004:55). Sedangkan menurut Budi Wahyono dan Setyo Nurachmandani, herbivor adalah hewan yang makanannya hanya berupa tumbuhan saja (rumput, daun – daunan, biji – bijian, dan buah – buahan) digolongkan sebagai hewan pemakan tumbuhan (Budi Wahyono, 2008).
2. Karnivor
Karnivor adalah hewan yang makanannya berasal dari hewan lain. Hewan – hewan yang termasuk karnovor antara lain kucing, anjing, harimau, serigala, ikan hiu, dan burung elang.
3. Omnivor
Omnivor adalah hewan yang makanannya berasal dari tumbuhan dan hewan lain. Hewan – hewan yang temasuk omnivor antara lain ayam, bebek, beruang, dan tikus (Haryanto, 2004:57-59).

2.1.3.3 Langkah Pembelajaran Menggolongkan Makanan Hewan
Di dalam proses pembelajaran ada beberapa langkah yang diberikan agar siswa bisa mengikuti materi secara urut dan tidak akan menjadikan siswa kebingungan. Langkah – langkah itu adalah di mulai dari kegiatan awal dimana guru memberikan motivasi kepada siswa agar lebih semangat, serta memberikan apersepsi berupa tanya jawab sebagai pengetahuan awal siswa, misalnya : Apakah anak – anak pernah melihat hewan makan rumput ?, Mengapa hewan itu memakan rumput ?. Kegiatan apersepsi ini bisa memberikan gambaran awal tentang menggolongkan makanan hewan. Selanjutnya pada kegiatan inti guru memberikan penjelasan tentang hewan dan penggolongan hewan secara rinci, sesudah guru menjelaskan, siswa diberikan tugas untuk mendemonstrasikan tentang penggolongan makanan hewan, misalnya : mendemonstrasikan apa saja hewan yang temasuk hewan herbivor, karnivor dan omnivor. Guru sesudah memberikan tugas kepada siswa, terus dilanjutkan dengan menanggapi tugas yang sudah dikerjakan oleh siswa dan tidak lupa guru memberikan penegasan serta pemantapan materi pembelajaran. Pada kegiatan akhir guru memberikan rangkuman kesiswa dan simpulan materi, melakukan tanya jawab umpan balik tentang materi, dan menginformasikan kegiatan remedial / pengayaan / pemberian PR.

2.2 Kerangka Berpikir
Pembelajaran IPA suatu proses dari upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam, IPA dapat pula dipandang sebagai fakta yang menyebabkan sikap dan pandangan yang mitologis menjadi sudut pandang ilmiah. Mata pelajaran IPA juga untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf Dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry ini siswa memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah sendiri. Maka pengetahuan siswa dibangun dengan informasi yang diperoleh secara alami. Penggunaan model Inquiry diharapkan siswa dapat berpikir secara divergen. Siswa dapat melatih kemampuan berpikirnya, berpikir kritis, melatih keterampilan dan kreativitasnya. Sehingga dapat menambah pengetahuan siswa untuk belajar, dimana yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Gambar 2.1

2.3 Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah pendapat yang kebenarannya masih rendah atau kadar kebenarannya masih belum meyakinkan atau jawaban sementara dari masalah yang masih memerlukan penelitian (Sutrisno Hadi, 1976). Dalam bahasa yang berbeda Arikunto mengartikan hipotesis sebagai suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1993:64).
Berdasarkan landasan teori dan kerangka teori dapat disimpulkan sementara “Bahwa penerapan pendekatan pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ........ tahun 2011/2012”.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK IPA SD PDF

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Setting Penelitian
3.1.1 Waktu Penelitian
Dalam penentuan waktu ini diharapkan pengadaan PTK berjalan dengan efektif. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober s/d November 2011. 
3.1.2 Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ......... Penulis mengambil tempat penelitian ini adalah karena penulis menjadi pengajar di SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........, sehingga akan lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan PTK.
3.2 Subjek Penelitian
Lokasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas IV (empat) SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ......... Karakteristik siswa Kelas IV (empat) SD Negeri 3 ........ adalah sebagai berikut : jumlah siswa 38 orang, siswa laki – laki 21 orang dan jumlah siswa perempuan 17 orang. PTK ipa sd kelas 4 pdf Sedang latar belakang siswa berasal dari keluarga dengan tingkat kehidupan beragam, 10% pekerjaan orang tua siswa pegawai negeri, 80% pekerjaan orang tua siswa pedagang dan petani, dan 10% pekerjaan orang tua siswa pegawai swasta. Siswa kelas 4 sebagai subjek yang akan diamati kegiatan pembelajarannya dan dikenai tindakan.

3.3 Sumber Data
Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
3.3.1 Data Primer
Data yang langsung dikumpulkan dari objek. Data ini diperoleh melalui wawancara dengan objek dan informasi dilapangan. Objek dalam hal ini adalah SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........, sedangkan informasi dalam penelitian ini adalah guru SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten .........

3.3.2 Data Sekunder
Data yang telah dikumpulkan pada kesempatan lain dengan tujuan yang berada dari tujuan penelitian yang sedang dijalankan. Data ini diperoleh dari buku – buku, hasil penelitian, dokumen dan sumber lain yang relevan.
3.4 Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Instrumen Penelitian
Dua hal yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Dua hal itu sebagai berikut :
1. Kualitas instrument penelitian.
2. Kualitas pengumpulan data.
Adapun yang mempengaruhi pada penelitian kuantitatif adalah :
1. Kualitas instrument : berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrument.
2. Kualitas pengumpulan data : berkenaan dengan ketepatan cara – cara yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Adapun yang mempengaruhi pada penelitian kualitatif adalah :
1. Instrument penelitian : peneliti itu sendiri sehingga validasi dilakukan oleh penelitisendiri dengan memperhatikan hal – hal diantaranya :
1) Pemahaman peneliti terhadap metode penelitian kualitatif.
2) Penguasaan wawasan peneliti terhadap bidang yang diteliti.
3) Kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian secara akademik maupun logistik.

Instrumen penelitian pada penelitian kualitatif adalah :
1. Pada penelitian kualitatif, permasalahan di awal penelitian belum jelas dan pasti, maka instrumen yang paling tepat adalah peneliti itu sendiri.
2. Setelah masalah sudah mulai jelas, akan dapat dikembangkan sebagai instrumen yang sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan
dengan data yang ditemukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. 3.4.2 Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengungkap data tentang pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada siswa SD Negeri 3 ......... Di samping itu wawancara dilakukan dengan membuat instrument dan pedoman pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas, wawancara ini dapat dikembangkan apabila masih diperlukan untuk melengkapi data-data yang masih kurang. Alat – alat yang dipergunakan yaitu buku catatan dan camera.
2. Observasi
Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mendapat informasi secara langsung dengan cara peneliti mengamati pelaksanaan di sekolah atau terlibat langsung dalam suatu kegiatan di sekolah. Observasi ini dilaksanakan di SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten .........

3. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan suatu cara untuk memungkinkan memperoleh informasi dari bermacam – macam sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden atau tempat, dimana responden bertempat tinggal atau melakukan kegiatan sehari – hari. Contoh ptk ipa sd lengkap  Dalam penelitian ini dokumentasi diperlukan untuk memperkuat data yang diperoleh dari lapangan melalui catatan atau dokumentasi yang di SD Negeri 3 ........ Kecamatan ........ Kabupaten ......... Khususnya penilaian dan jadwal kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPA.
3.5 Validitas Data
Validasi data adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang di inginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 1996).

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data yaitu triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembandingan data itu(Lexy J. Moleong, 1995: 178). Teknik triangulasi yang digunakan antara lain berupa triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Misalnya, untuk mengetahui kesulitan – kesulitan yang dihadapi siswa dalam kegiatan proses belajar dan faktor – faktor penyebabnya, peneliti melakukan hal – hal berikut :
1. Memberikan tes dan selanjutnya menganalisis hasil untuk mengidentifikasi kesalahan.
2. Melakukan wawancara dengan guru observer untuk mengetahui pandangan guru tentang hambatan – hambatan yang dialami siswa dalam proses pembelajaran. 
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara induktif, yang berarti penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan, yakni fakta empirik. Peneliti terjun langsung ke lapangan, mempelajari, menganalisis dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada dilapangan. Analisis dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Dengan demikian, temuan penelitian di lapangan yang kemudian di bentuk kedalam bangunan teori, prinsip, bukan teori yang telah ada, melainkan dikembangkan dari data lapangan (induktif). Adapun analisis data yang digunakan adalah metode analisis interaksi, dimana komponen reduksi data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, kesimpulan atau verifikasi) berinteraksi (Rachman, 1999:110).

Proses analisis data ada tiga komponen pokok yang harus disadari sepenuhnya oleh peneliti. Ketiga komponen analisis data tersebut adalah :
1. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemfokuskan, penyederhanaan, dan transformasi data kasar yang dikumpulkan dari lapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data merupakan informasi yang tersusun berupa berita yang sistematis. Berdasarkan sajian data memungkinkan untuk mengadakan penarikan kesimpulan
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan langkah terakhir dari analisis data. Dalam penarikan kesimpulan harus didasarkan pada sajian data. Jika dalam penarikan kesimpulan masih terdapat kekurangan data dalam reduksi data, maka peneliti menggali kembali pada catatan itu tidak ditemukan, maka peneliti kembali melakukan pengumpulan data yang perlu dilakukan kembali.
Adapun cara menggunakan metode ini, peneliti mengumpulkan catatan dari lapangan dan catatan tersebut diadakan proses pemilihan, membuat ringkasan, mengkode, membuang yang tidak perlu, mengorgansasi data, dan menarik kesimpulan. Proses ini bergerak bolak – balik dari pengumpulan data, penyajian data, sampai betul – betul dapat ditarik kesimpulan.

3.7 Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah :
1. Tercapainya ketuntasan belajar sebesar 85% semakin meningkatnya ketuntasan belajar siswa diharapkan meningkatnya hasil belajar.
3.8 Prosedur Penelitian
Dalam penelitian, peneliti membagi dalam empat tahap, yaitu tahap perencanaan (Pra-Siklus), pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada tahap Pra-Siklus, peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan atau diperlukan peneliti sebelum melakukan perbaikan Per-Siklus, yaitu :
1. Menyusun rancangan penelitian .
2. Membuat format kesediaan teman sejawat dalam penyelenggaraan PTK.
3. Melakukan koordinasi dengan kepala SD Negeri 3 .........
Pada tahap kedua yaitu pelaksanaan. Peneliti melaksanakan penelitian dengan melaksanakan mengajar kelas IV (empat) di SD Negeri 3 ......... Di dalam pelaksanaan peneliti mengacu pada RPP yang sudah dipersiapkan.

Tahap ketiga yaitu pengamatan. Pada waktu peneliti sedang mengajar akan diamati oleh teman sejawat sebagai hasil Penelitian Tindakan Kelas. Untuk sebagai pedoman pengamatan sudah dipersiapkan sebelumnya yaitu lembar pengamatan dan diberikan oleh teman sejawat yang menjadi pengamat. Dalam tahap ini peniliti akan mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan pendekatan pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar IPA standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya siswa kelas IV semester I SD Negeri 3 ........ tahun 2011/2012 Kecamatan ........ Kabupaten .........
Tahap keempat yaitu refleksi. Dalam tahap ini peneliti akan memaparkan hasil dari per-siklus yang sudah dilaksanakan.
Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Kegiatan perbaikan pembelajaran IPA untuk konsep penerapan pendekatan pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam konsep standar kompetensi menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya. Untuk pemecahan masalah dilaksanakan dalam 2 siklus pembelajaran yang meliputi kegiatan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Pada setiap siklus perbaikan, penulis dibantu oleh teman sejawat dan supervisor. Berikut adalah deskripsi dari setiap prosedur kegiatan :
3.8.1 Perencanaan
1. Siklus I (Pertama)
Pada pelaksanaan Siklus I (pertama) yang didasarkan pada identifikasi penyebab masalah pada pembelajaran dimana guru, rekan sejawat dan supervisor yang selanjutnya disebut tim peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
1) Merancang strategi dan skenario kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pembelajaran yang disesuaikan dengan pendekatan belajar realistik berbasis materi dan media yang nyata dan dekat dengan siswa, dengan penekanan pada metode penyelidikan.
2) Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrument pengumpul data.
2. Siklus II (kedua)
Sedangkan pada rencana tindakan siklus II (kedua) yang dirumuskan berdasarkan refleksi dari siklus I (pertama) tim peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
1) Melakukan review (tinjauan) dan re-planning (perencanaan) rancangan pembelajaran dimana pada siklus I (pertama) terfokus kegiatan belajarnya terletak pada teknik menyampaikan materi menggolongkan hewan dalam pembelajaran diketahui masalah.
2) Mengembangkan Lembar Kerja Siswa.
3) Mengembangkan instrument observasi.

3.8.2 Pelaksanaan Tindakan
1. Siklus I (pertama)
Pada kegiatan pelaksanaan siklus I (pertama), rincian kegiatan yang dilakukan peneliti, rekan sejawat dan supervisor ialah :
1) Peneliti sehari sebelum melaksanakan perbaikan pembelajaran terlebih dahulu melakukan semacam micro teaching (simulasi tentang pembelajaran inquiry dengan rekan sejawat).
2) Melaksanakan perbaikan pembelajaran di kelas yang sesuai langkah – langkah pada perencanaan perbaikan pembelajaran. Secara garis besar prosedur pembelajaran yang dilaksanakan sebagai berikut :
(1) Mengajukan pertanyaan hewan pemakan rumput kepada siswa untuk menggali pemahaman mereka tentang menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya.
(2) Mengenalkan terlebih dahulu konsep awal penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya.
(3) Membagi siswa menjadi kelompok untuk menganalisis menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya yang dapat dibedakan beberapa jenis. Contoh ptk ipa sd kelas 4 pdf
(4) Membimbing siswa untuk mengakurasi hasil penyelidikannya dengan konsep
penggolongan hewan.

3) Rekan sejawat dan supervisor di belakang kelas melakukan pengamatan.
4) Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan.
2. Siklus II (kedua)
Sedangkan pada siklus II (kedua) garis besar prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut :
1) Kegiatan siswa menjawab pertanyaan guru dengan menyebutkan hewan pemakan rumput dari pengetahuan awal mereka.
2) Mendemonstrasikan pendekatan inquiry dalam pembelajaran menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya.
3) Memberikan penguatan, dengan menjelaskan menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya dalam kehidupan sehari – hari.
3.8.3 Pengamatan atau Observasi
Pada kegiatan pengamatan, rekan sejawat dan supervisor mengamati peneliti dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran dan mengamati perilaku siswa pada proses pembelajaran dengan menggunakan instrument lembar observasi (terlampir). Selain instrument observasi, tim peneliti akan menjadikan hasil penelitian siswa dalam soal dan pengamatan kerja kelompok sebagai bahan refleksi.
3.8.4 Refleksi
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat refleksi akan bisa :
1) Memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis, dengan mempertimbangkan ragam persepektif yang mungkin ada dalam situasi pembelajaran kelas.
2) Memahami persoalan dan keadaan kelas dimana dilaksanakan.

DOWNLOAD KUMPULAN JUDUL PTK IPS SD WORD

DAFTAR PUSTAKA


Hamalik Oemar. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan – kesulitan Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
2005. Proses Belajar Men gajar. Jakarta : Bumi Aksara. Haryanto. 2004. Sains. Jakarata : Erlangga.
Hendro Darmodjo dan Kaligis. 1991. Pendidikan IPA II. Jakarta: Depdikbud.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto, Prof. Dr. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Sujdana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Men gajar. Bandung: Rosda Karya.
Sutrisno Hadi, Prof. Drs. MA. 1976. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta
Wahyono, Budi. 2008. Ilmu Pen getahuan Alam. Surakarta: CV Putra Merpati Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK IPA KELAS IV SD INQUIRY WORD

Postingan terkait: