DOWNLOAD PTK PENJAS SMA DENGAN TEKNIK THROW IN

DOWNLOAD PTK PENJAS SMA DENGAN TEKNIK THROW IN-Metode penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengacu pada model pengembangan dari Borg & Gall yang telah dimodifikasi, yaitu: (1) melalakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi,termasuk observasi lapangan dan kajian pustaka, (2) mengembangkan bentuk produk awal (berupa bentuk kegiatan permainan sepak bola), (3) evaluasi para ahli dengan menggunakan satu ahli penjas dan satu ahli pembelajaran, serta uji coba skala kecil, dengan menggunakan lembar evaluasi yang kemudian dianalisis, (4) revisi produk pertama berdasarkan hasil dari evaluasi ahli dan uji coba skala kecil, (5) uji coba skala besar, (6) revisi produk akhir, (7) hasil akhir modifikasi pembelajaran permainan “modifikasi hand ball”. Data hasil penelitian berupa kualitas produk, saran untuk perbaikan produk, dan hasil pengisian kuisioner oleh siswa. proposal ptk penjas sma pdf Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar evaluasi ahli (satu ahli Penjas dan satu ahli pembelajaran), uji coba skala kecil (18 siswa), dan uji skala besar (34 siswa). Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif presentase untuk mengungkap aspek psikomotor, kognitif, dan afektif siswa setelah menggunakan produk.

Dari hasil uji coba diperoleh data evaluasi ahli Penjas 82,5 % (baik), ahli Pembelajaran 85 % (baik), uji coba kelompok kecil 79 % (baik), dan uji coba kelompok besar 84 % (baik). Dari data yang ada maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran penjasorkes melalui permainan modifikasi hand ball ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran penjasorkes siswa SMA Negeri ... Kota .... Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa permainan modifikasi hand ball efektif, sehingga dapat diterapkan sebagai model pembelajaran dalam pembelajaran penjasorkes. Diharapkan bagi guru penjasorkes SMA Negeri ... Kota ... dapat menggunakan produk model permainan modifikasi hand ball dalam proses pembelajaran penjasorkes

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas PENJAS SMA yang diberi judul 





PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TEKHNIK THROW IN MELALUI MODIFIKASI PERMAINAN HAND BALL PADA SISWA KELAS XI IPA 5 SMA NEGERI ... KOTA ...TAHUN PELAJARAN 2014/2015
"
. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PENJAS SMA KELAS XI lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 053).

CONTOH PTK PENJAS KELAS XI SMA TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan sebagai proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, mempunyai peranan yang sangat penting yaitu member kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik, bertujuan untuk meningkatkan individu secara organic, neuromuscular,perceptual, kognitif, sosial dan emosional (Depdiknas: 2003)

Salah satu permasalahan kurang berkembangnya proses pembelajaran penjasorkes di sekolah antara lain, terbatasnya sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia di sekolah, kekurangan dana untuk menyelenggarakan program yang akan menghasilkan perubahan bermakna, hasil belajar yang diharapkan. Permasalahan tersebut semakin mendalam dan berpengaruh secara signifikan terhadap proses pembelajaran penjasorkes, karena kurang didukung oleh tingkat kemampuan, kreatifitas dan inovasi para guru Penjasorkes selaku pelaksana khususnya dalam pengembangan model pembelajaran.

Pada prinsipnya pendidikan jasmani memiliki potensi untuk meningkatkan dan mengembangkan harga diri siswa. Hal ini terjadi melalui persepsi terhadap dirinya tentang kemampuan jasmaninya daya tarik dan prestasi yang dicapai. Download PTK penjas sma kelas xi Pembentukan harga diri juga berkenan dengan kondisi tubuh dengan segenap fungsi-fungsinya, performa dan kemampuanya, kesempatan itu merupakan aspek sentral bagi pengembangan aspek harga diri seseorang. Misal dalam memberikan motivasi atau semangat dalam bermain sepakbola.
Permainan sepak bola merupakan permainan olahraga beregu dan kompetitif. Artinya, kegiatan olahraga sepak bola dilakukan oleh 11 orang pemain yang saling bekerjasama untuk memasukkan bola ke gawang lawan dan menjaga supaya lawan tidak bisa mencetak gol ke gawang sendiri. Tanpa kerjasama antar pemain maka akan sulit bagi suatu regu untuk memenangkan pertandingan. Sebagai olahraga kompetitif, permaianan sepak bola berlangsung antar dua kelompok yang bersaing untuk memenangkan pertandingan. Selain daripada itu, olahraga sepak bola banyak digemari dari berbagai lapisan masyarakat. Jika dilihat dari segi positif dari permaianan sepak bola, sepak bola dapat mengajarkan arti disiplin, sportifitas, fairplay kerjasama, serta sebagai media untuk menjalin persaudaraan.

SMA Negeri ... Kota ... terletak di Jl...  Kota .... SMA Negeri ... Kota ... adalah sekolahan yang memiliki luas lapangan yang cukup luas, dimana memiliki 1 lapangan basket yang biasanya dipakai upacara bendera dan olahraga lainnya seperti voli dan futsal, selain itu memiliki 1 lahan kosong yang tidak begitu luas yang biasa dipakai untuk bermain sepak bola. Tidak semua SMA Negeri yang ada di wilayah Kota Tangerang memiliki lapangan atau halaman untuk berolahraga pada umumnya secara lengkap, termasuk SMA Negeri ... Kota ... meski memiliki lapangan yang cukup luas, namun SMA Negeri ... Kota ... kurang memiliki kelengkapan peralatan untuk berolahraga misalnya hanya memiliki berberapa bola sepak saja dan kondisinya yang kurang begitu baik, selain itu kondisi lapangan yang tidak rata dan banyak yang berlubang, sehingga sangat tidak efektif pada saat melakukan pembelajaran. Sehingga guru penjas harus pandai memanfaatkan areal tersebut serta dapat memodifikasi permainan¬permainan agar pembelajaran penjas menjadi lebih efektif serta menyenangkan.
Telah dilakukan survei di SMA Negeri ... Kota ... untuk mengetahui sarana dan prasarana olahraga sepakbola. Serta mengetahui proses belajar mengajar pendidikan jasmani khususnya pembelajaran permainan sepakbola, dan mengetahui efektivitas permainan sepakbola yang diajarkan kepada peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA).

Peneliti mengamati dalam proses pembelajaran sepakbola siswa kelas XI IPA 5 yang berlokasi di SMA Negeri ... Kota .... Di lokasi penelitian hasil pengamatan yang diperoleh masih jauh dari harapan dan tidak sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan siswa, serta permainan sepakbola yang diajarkan belum dimodifikasi.
Pada pembelajaran sepak bola ditemui beberapa hal, anatara lain:
1) Alat dan fasilitas yang digunakan tidak sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan siswa. Contoh: Lapangan yang dipergunakan tidak menggunakan lapangan ukuran standar dan di pakai untuk berbagai macam cabang olahraga.
2) Peraturan permainan sepak bola yang digunakan adalah peraturan sebenarnya permainan sepak bola.
3) Diketahui ada beberapa siswa ketika mengikuti pembelajaran hanya duduk¬duduk saja dan tidak aktif mengikuti pembelajaran sepak bola

4) Diketahui ada beberapa siswa khususnya siswa putri yang mengeluh karena merasa berat dalam melakukan lemparan bola karena menggunakan bola yang sebenarnya.
5) Pembelajaran permainan sepak bola yang diberikan oleh guru masih belum dikemas dalam bentuk modifikasi,sehingga dijumpai siswa yang merasa tidak senang, bosan, dan malas untuk bergerak dan mengikuti pelajaran penjasorkes.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran permainan olahraga sepak bola khususnya dalam pembelajaran teknik dasar bermain sepak bola masih menggunakan latihan dasar yaitu latihan unsur-unsur teknik dari pada permainan sepak bola yang kurang efektif dan kurang menumbuhkan minat siswa agar aktif bergerak.
Dari masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran sepak bola khususnya teknik dasar bermain sepak bola tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengembangan model pembelajaran tekhnik throw in melalui modifikasi permainan hand ball pada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota ...”

1.2 Perumusan Masalah
Setelah mencermati latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dikaji adalah “Bagaimana bentuk pengembangan model pembelajaran tekhnik throw in sepakbola melalui pendekatan modifikasi permainan hand ball pada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota ... ?”
1.3 Tujuan Pengembangan
Tujuan dari penelitian adalah menghasilkan model pembelajaran tekhnik throw in melalui modifikasi permainan hand ball pada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota .... Contoh judul ptk penjas sma
1.4 Spesifikasi Produk
Produk yang akan dihasilkan melalui penelitian pengembangan ini berupa model pembelajaran permainan sepakbola yang sudah di kembangkan untuk siswa SMA, yang dapat mengembangkan baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor, dan siswa dapat melakukan olahraga dengan senang, aktif bergerak tanpa rasa jenuh, serta dapat meningkatkan intensitas fisik sehingga kebugaran jasmani dapat terwujud. Agar tujuan dari pendidikan jasmani juga dapat tercapai

1.5 Pentingnya Pengembangan
1.5.1 Bagi Peneliti
1) Sebagai modal dalam penyusunan PTK selanjutnya
2) Sebagai bekal/ pengalaman dalam mengembangkan model pembelajaran penjas.
1.5.2 Bagi Penelitian Lanjutan
1) Sebagai pertimbangan untuk penelitian pengembangan model permainan sepak bola dalam pembelajaran penjas siswa SMA.
2) Sebagai dasar penelitian lebih lanjut.
1.5.3 Bagi Guru Penjas
1) Menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran Penjasorkes
2) Mengatasi keterbatasan saranan dan prasarana sepak bola di sekolah
3) Meningkatkan pengetahuan tentang pembelajaran permainan sepak bola
terhadap guru penjas
1.6 Sumber Pemecahan Masalah
Pengembangan model pembelajaran tekhnik throw in melalui modifikasi permainan hand ball bagi siswa SMA penting untuk dilakukan, mengingat pembelajaran permainan sepak bola yang diterapkan guru Penjasorkes masih jauh dari harapan, serta mengingat karakteristik siswa SMA sangat menyukai model pembelajaran dalam bentuk permainan.
Pemecahan masalah pembelajaran tekhnik throw in di Sekolah Menengah Atas (SMA), melalui penerapan pengembangan modifikasi permainan hand ball ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah guru Penjasorkes dalam memberikan pembelajaran permainan sepak bola, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan sesuai dengan tujuan penjas yang diharapkan.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) PENJAS SMA PDF

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR


2.1 Landasan Teori
Sebagai acuan berpikir secara ilmiah dalam rangka untuk pemecahan permasalahan, pada landasan teori ini dimuat beberapa pendapat dari para pakar. Selanjutnya secara garis besar akan diuraikan tentang pengertian pendidikan jasmani, model pembelajaran, gerak dasar, kebugaran jasmani, motor learning, perkembangan gerak, karakteristik perkembangan gerak anak Sekolah Menengah Atas, perkembangan gerak pada fase adolesensi (12-18 tahun), Klasifikasi ketrampilan gerak anak usia 12-18 Tahun, tinjauan keterampilan gerak dasar usia 12-18 tahun, karakteristik pembelajaran tekhnik throw in dalam sepak bola, karakteristik modifikasi permainan hand ball.
2.1.1 Pendidikan Jasmani
Rusli Lutan (2000:15), menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan secara keseluruhan. Tujuan umum pendidikan jasmani juga selaras dengan tujuan umum pendidikan. Tujuan belajar adalah menghasilkan perubahan perilaku yang melekat. Proses belajar dalam penjas juga bertujuan untuk menimbulkan perubahan perilaku. Guru mengajar dengan maksud agar terjadi proses belajar secara sederhana, pendidikan jasmani tak lain adalah proses belajar untuk bergerak, dan belajar untuk bergerak. Contoh PTK penjas sma doc Selain belajar dan dididik melalui gerak untuk mencapai tujuan pengajaran, dalam penjas anak diajarkan untuk bergerak. Melalui pengalaman itu akan terbentuk perubahan dalam aspek jasmani dan rohaninya.

2.1.2 Tujuan Pendidikan Jasmani
Tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya, cakupan penjas tidak hanya semata-mata aspek jasmani saja, akan tetapi juga aspek mental, dan sosial.
Dalam hal ini cakupan pendidikan jasmani adalah sebagai berikut :
1) Perkembangan fisik. Tujuan dari perkembangan fisik ini mempunyai
hubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan
fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical fitness).
2) Perkembangan gerak. Tujuan dari perkembangan gerak ini mempunyai hubungan dengan kemampuan melakukan gerak secara afektif, efisien, dan sempurna.
3) Perkembangan mental. Tujuan dari perkembangan mental mempunyai hubungan dengan kemampuan berfikir dan menginterprestasikan keseluruhan pengetahuan tentang penjas ke dalam lingkunganya sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab siswa.
4) Perkembangan sosial. Tujuan perkembangan sosial mempunyai hubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat (Adang Suherman, 2000 : 22-23)

2.1.3 Model Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator (Rudi Susulana dan Cepi Riyana, 2008:1). Pembelajaran bertujuan untuk membawa perubahan tingkah laku siswa kearah yang lebih baik hal ini dapat ditujukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku dan keterampilan serta aspek-aspek lain yang ada pada individu siswa yang belajar.
2.1.4 Pengertian Gerak Dasar
Kemampuan gerak dasar merupakan kemampuan yang biasa siswa lakukan guna meningkatkan kualitas hidup. Kemampuan gerak dasar dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
2.1.4.1 Kemampauan lokomotor
Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain atau untuk mengangkat tubuh keatas seperti lompat atau loncat, berjalan, berlari.
2.1.4.2 Kemampuan Non-lokomotor
Kemampuan non lokomotor dilakukan ditempat, tanpa ada ruangan gerak yang memadai. Kemapuan non lokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik.

2.1.4.3 Kemampuan manipulatife
Kemampuan manipulatife dikembangkan ketika anak tengah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatife lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan.
Manipulasi obyek jauh lebih unggul dari pada koordinasi mata-kaki dan tangan¬mata, yang mana cukup penting untuk item, berjalan (gerakan langkah) dalam ruang. Bentuk-bentuk kemampuan manipulatife terdiri dari gerkan mendorong, menerima (menangkap obyek), dan gerkan mennggiring bola (Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra, 2000:20). Download PTK penjas kelas xi pdf
2.1.5 Kebugaran Jasmani
Menurut Cholik dan Makasum (2007 : 51) kebugaran jasmani adalah kesanggupan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
Unsur kebugaran jasmani ada 10 yaitu :
1. Kekuatan (strength)
Adalah kemampuan dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.
2. Daya tahan (endurance)
Adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus.
3. Daya otot (muscular power)
Adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan kekuatan maksimum yag dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya.
4. Kecepatan (speed)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam waktu yang sama dengan waktu sesingkat¬singkatnya.
5. Daya lentur (flexibility)
Adalah efektifitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang luas.
6. Kelincahan (agility)
Adalah kemampuan seseorang merubah posisi di area tertentu, dari depan ke belakang, dari kanan ke kiri.

7. Koordinasi (coordination)
Adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan berbagai geakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif.
8. Keseimbangan (balance)
Adalah kemampuan seseorang mengendalikanorgan-organ syaraf otot sehingga dapat mengendalikan gerakan-gerakan yang baik dan benar.
9. Ketepatan (accuracy)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan¬gerakan bebas terhadap suatu sasaran.
10. Reaksi (reaction)
Adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera.

2.1.6 Motor Learning
Motor learning adalah studi tentang proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan ketrampilan gerak dan sangat terkai dengan latihan atau pengalaman individu yang bersangkutan. Motor learning khusus dipengaruhi oleh barbagai bentuk latihan paengalaman atau situasi belajar pada gerak manusia (Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra, 2000:3).
Ada tiga tahapan dalam motor learning yaitu :
1. Tahapan verbal kognitif maksudnya kognitif dan proses membuat keputusan lebih menonjol.
2. Tahapan gerak memiliki makna sebagai pola gerak yang dikembangkan sebaik mungkin agar peserta didik atau atlet lebih terampil.
3. Tahapan otomatisasi artinya memperhalus gerakan agar performa peserta didik atau atlet menjadi lebih padu dalam melakukan gerakannya.
Contoh peneltian yang dilakukan dalam motor learning seperti membedakan bentuk latihan padat (dengan sedikit istirahat atau tanpa istirahat) dengan latihan distribusi (dengan istirahat).

2.1.7 Perkembangan Gerak (Motor Development)
Perkembangan gerak merupakan perubahan dalam perilaku gerak yang merefleksikan interaksi dari kematangan organism dan lingkungannya. (Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra, 2000:4).
Pada tahun 1988, Roberton mengklarifikasi peranan dari para ahli perkambangan gerak melalui penjelasannya bahwa kita berupaya untuk meningkatkan pemahaman dalam 3 hal :
1. Kita mencoba untuk memahami motor behavior, apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi.
2. Kita berusaha untuk mengerti apa perilaku sekarang sama dengan perilaku sebelumnya dan mengapa. ptk penjaskes smp lengkap
3. Kita mencari tahu apa perilaku sekarang akan serupa dengan perilaku yang akan datang dan mengapa.
2.1.8 Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Sekolah Menengah Atas
Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1991:137), kemampuan gerak pada masa adolesensi cenderung mengikuti perubahan dalam ukuran badan, kekuatan, dan fungsi fisiologis. Perbedaan dalam penampilan ketrampilan gerak dasar anak laki-laki dan perempuan sangat berbeda, anak laki-laki menunjukkan peningkatan yang terus berlangsung, sedangkan anak perempuan menunjukkan peningkatan yang tidak berarti, bahkan menurun setelah umur menstruasi.

Pada anak remaja pertumbuhan merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Hal ini biasanya dipandang dari segi kematangan seksual dan cepatnya pertumbuhan.tinggi dan berat badan relative menurun kecepatanya dibandingkan masa sebelumnya. Tinggi badan dan berat badan sama-sama meningkat, tapi presentase peningkatan berbeda. Presentase peningkatan tinggi badan bisa mencapai 2 kali lipat. Karena itu anak remaja pada umumnya cenderung tampak langsing atau kurus. Di dalam membentuk peningkatan tinggi badan, presentase pertumbuhan panjang kaki lebih besar dibandingkan pertumbuhan togok. Karakteristik perkembangan gerak anak sekolah menengah atas meliputi :
2.1.9 Ukuran dan bentuk tubuh anak usia 12-18 tahun.
Ukuran badan untuk anak laki-laki dan perempuan pada awal masa adolesensi anak perempuan lebih tinggi dan lebih berat dari anak laki-laki. Sedangkan pertumbuhan bentuk fisik pada masa adolesensi menimbulkan terjadinya perbedaan morfologis antara anak laki-laki dan perempuan yang makin nampak menjelang masa dewasa, ciri-ciri yang nampak adalah bertambah lebanya pundak laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan lebar pinggulnya, sebaliknya perkembangan anak perempuan lebih epat pada pinggulnya dari pada lebar pundaknya (Sugiyanto dan Sudjarwo ,1991:137)

2.1.10 Perkembangan aktivitas motorik kasar (gross motor activity)
Pekembangan kemampuan gerak kasar adalah gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh, yang melibatkan sebagian besar bagian tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot-otot yang lebih besar, misalnya : menegakkan kepala, tengkurap, merangkak, berjalan, dan sebagainya (Sugiyanto dan Sudjarwo ,1993:116)
2.1.11 Perkembangan aktivitas motorik halus (fine motor activity)
Perkembangan kemampuan gerak adalah hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tidak memerlukan tenaga, contoh : memegang benda kecil dengan jari telunjuk dan ibu jari, memasukkan benda kedalam botol, dan menggambar.
Gerak motorik baik yang kasar maupun yang halus tersebut erat kaitanya dengan perkembangan dari pusat motorik di otak. Melalui latihan-latihan yang tepat, gerakan kasar dan halus ini dapat ditingkatkan dalam hal keluwesan dan
kecermatanya, sehingga secara bertahap seorang anak akan bertambah terampil melakukan gerakan-gerakan tersebut (Sugiyanto dan Sudjarwo ,1993:117)

2.1.12 Perkembangan Gerak Dasar Pada Fase Adolesensi (12-18 tahun)
Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1991:155), sejalan dengan meningkatnya kemampuan tubuh dan kemampuan fisik maka meningkat pula kemampuan gerak anak adolesensi. Berbagai kemampuan gerak dasar yang sudah mulai bias dilakukan pada masa anak besar semakin dikuasai. Peningkatan kemampuan gerak bisa diidentifikasi dalam bentuk sebagai berikut :
1) Anak pada masa adolesensi memiliki pengalaman ketrampilan gerak
dasar utama di masa kanak-kanak.
2) Anak adolesensi dalam penggunaan waktu dan belajar ketrampilan gerak secara efisien.
3) Anak laki dan perempuan pada masa adolesensi memiliki kecakapan dalam berbagai kegiatan fisik.
4) Gerakan lebih bervariasi.

2.1.13 Klasifikasi Ketrampilan Gerak Anak Usia 12-18 Tahun.
Sugiyanto dan Sudjarwo (1993:249), Menyatakan Ketrampilan gerak bisa diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas gerak tertentu dengan baik. Semakin baik penguasaan gerak ketrampilan, maka pelaksanaannya akan semakin efisien. Dengan kata lain bahwa efisiensi pelaksanaannya diperlukan untuk melakukan gerakan ketrampilan. Efisiensi pelaksanaanya dapat tercapai apabila secara mekanis gerakan dilakukan dengan benar. 

2.1.15 Klasifikasi berdasarkan stabilitas lingkungan
Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1993:25 1) di dalam melakukan suatu gerak ketrampilan, ada kalanya pelaku menghadapi kondisi lingkungan yang tidak berubah dan ada yang berubah-ubah. Berdasarkan keadaan kondisi lingkungan seperti itu, gerakan ketrampilan bisa dikategorikan menjadi 2 yaitu :
2.1.15.1 Ketrampilan gerak terbuka (open skill)
Adalah ketrampilan gerak dimana dalam pelaksanaannya terjadi pada kondisi lingkungan yang berubah-ubah, dan pelaku bergerak menyesuaikan dengan stimulus yang timbul dari lingkunganya. Perubahan kondisi lingkungannya bersifat temporal dan bisa bersifat spasial. Contohnya adalah dalam melakukan gerakan memukul bola yang dilambungkan. Dalam gerakan ini pelaku memukul bola dengan menyesuaikan dengan kondisi bolanya agar pukulannya tepat sasaran. Pelaku dipaksa untuk mengamati kecepatan, arah, dan jarak bola, kemudian menyesuaikanya.

2.1.15.2 Ketrampilan gerak tertutup (closed skill)
Adalah ketrampilan gerak dimana pelaksanaannya terjadi pada kondisi lingkungan yang tidak berubah, dan stimulus gerakannya timbul dari dalam diri si pelaku sendiri. Contohnya adalah dalam melakukan gerakan guling pada senam lantai. Dalam gerakan ini pelaku memulainya setelah siap untuk melakukannya, dan bergerak berdasarkan apa yang direncanakannya.

2.1.16 Karakteristik Pembelajaran Throw in dalam Sepakbola 
2.1.1 6.1 Teknik Dasar Lemparan Ke Dalam
Lemparan ke dalam adalah suatu ketrampilan yang sering diabaikan dalam sepak bola. Penggunaan lemparan ke dalam atau throw in yang benar adalah menciptakan banyak peluang untuk mengontrol bola dan mencetak gol selama pertandingan. Salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan throw in adalah komunikasi, dimana pelempar dan penerima bola harus mengetahui apa yang akan dilakukan masing-masing sebelum malakukan lemparan tersebut dilakukan, (Danny Mielke, 2007 : 39) menyatakan " throw in dapat menjadi senjata yang ampuh dalam rencana serangan sebuah tim. “ Sebuah lemparan kedalam yang sangat kuat dapat mendorong bola dari garis pinggir ke tengah¬tengah lapangan, menyusuri sisi lapangan, atau kedepan gawang. Lemparan kedalam biasanya lebih mudah dikontrol untuk mengambil dan mempertahankan kontrol bola. Oleh karena itu, seorang pemain penyerang dapat diuntungkan saat lemparan ke dalam digunakan untuk memulai upaya mencetak gol.

2.1.17 Bagian – Bagian Tangan Untuk Melakukan Lemparan Kedalam.
Kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang dominan dalam permainan yang sepak bola. Namun, untuk melakukan lemparan ke dalam kita harus menggunakan tangan dan bagian untuk melempar bola ke dalam adalah telapak tangan bagian dalam dengan tangan membentuk seperti huruf “W” (window = jendela) (Danny Mielke , 2007 : 40).
2.1.18 Throw In (Lemparan Ke Dalam)
Throw in adalah salah satu ketrampilan yang sering diabaikan dalam sepak bola. Penggunaan throw in yang benar dapat menciptakan banyak peluang untuk mengontrol bola dan menetak gol selama pertandingan. Salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan throw in adalah komunikasi, dimana pelempar dan penerima bola harus mengetahui apa yang akan dilakukan oleh masing – masing sebelum lemparan tersebut dilakukan (Danny Mielke, 2007 :40).
2.1.19 Cara Melakukan Keterampilan Throw In
Sebelum melempar bola, kita dapat melakukannya dengan kaki diam, atau dengan awalan lari. Ketika bola sudah dilepas, kedua kaki harus tetap bersentuhan dengan tanah, baik menyentuh garis pinggir lapangan atau diluar garis pinggir lapangan. penelitian tindakan kelas penjas doc Jika pelempar melewati garis maka ini dianggap pelanggaran dan akan diberikan kepada tim lain dengan posisi lemparan ke dalam yang sama (Danny Mielke, 2007 :40).

2.1.20 Tekhnik Throw in.
2.1.20.1 Tekhnik throw in dengan awalan diam.
1) Peganglah bola dengan kuat menggunakan jari-jari dan ibu jari secara melebar di seluruh permukaan bola. Kedua ibu jari dan kedua jari telunjuk membentuk huruf “W” (window = jendela).
Gambar 2. 1. Memegang bola dengan genggaman berbentuk huruf “W”
(Danny Mielke, 2007 : 40)

2) Tariklah bola ke belakang melewati kepala.
Gambar 2.2. Menarik bola ke arah belakang
(Danny Mielke 2007 : 40)

3) Lengkungkan punggung ke belakang.
Gambar 2.3. Lengkungkan tubuh ke belakang
(Danny Mielke 2007 : 41)

4) Lepaskan bola ke arah teman, namun kaki tidak boleh melewati garis pinggir lapangan.
Gambar 2.4. Melepaskan bola
(Danny Mielke 2007 : 41)

2.1.20.2 Awalan dengan berlari
1) Gunakan awalan berlari untuk mendapatkan lemparan yang jauh. Pegang bola dengan kedua tangan dengan posisi sedikit di depan kepala.
Gambar 2.5. Berlari menuju garis pinggir.
(Danny Mielke 2007 : 42)

2) Berhenti dengan rentangan kaki yang cukup panjang dengan telapak kaki depan tepat berada di dekat garis pinggir lapangan ketika menarik bola ke belakang kepala. Pindahkan tumpuan berat badan dari kaki belakang ke kaki depan dan dorong dengan kuat bagian atas tubuh ke arah depan seperti lecutan cambuk. Lepaskan bola pada sudut yang membuat bola dapat menempuh jarak terjauh ke sasaran.
Gambar 2.6. Lepaskan bola. (Danny Mielke 2007 : 42)

2.1.21 Analisis Pola Gerak Domain Permainan Sepakbola
Kalau kita perhatikan gerakan-gerakan pada permainan sepak bola, disitu terdapat gerakan lari, lompat, loncat, menendang, menghentakkan dan menangkap bola bagi penjaga gawang. Semua gerakan - gerakan tersebut terangkai dalam suatu pola gerak. Jika dilihat dari rumpun gerak dan ketrampilan dasar terdapat tiga ketrampilan diantaranya : Lokomotor, Non lokomotor, dan Manipulatif.
1) Lokomotor
Pada permainan sepak bola ada gerakan berpindah tempat, seperti lari kesegala arah, meloncat atau melompat, gerakan tersebut diatas termasuk kedalam rumpun gerak lokomotor.
2) Non Lokomotor
Dalam bermain sepakbola ada gerakan-gerakan yang tidak berpindah tempat, seperti menjangkau, melenting, membungkuk, meliuk dan lain sebagainya.
3) Manipulatife
Dalam sepakbola yang termasuk gerakan - gerakan manipulatife adalah
gerakan menendang, menggiring, menyundul, lemparan, kedalam.

Dan analisis gerakan - gerakan bermain sepakbola terdapat pola gerak yang bersifat dominan. Pola gerak dominan inilah yang menjadi ciri khas dari permainan sepak bola. Seperti lari keberbagai arah untuk mengikuti irama permainan, meloncat atau melompat pada saat menyundul bola, merampas bola, menangkap bola, menendang, menggiring merupakan gerak - gerak dominan dalam permainan sepakbola.
Penguasaan pola gerak dominan merupaka syarat mutlak guna terbentuknya keterampilan khas dalam suatu cabang olahraga, termasuk cabang sepak bola. proposal ptk penjas sma pdf Jika pola gerak dominan tidak dimiliki oleh siswa, maka ia akan menenmui kesulitan dalam bermain sepak bola. (Sucipto, dkk, 2000 :8-9).

2.1.22 Struktur Gerak Tekhnik Throw in
Teknik melempar bola dibedakan berdasarkan awalannya yang pertama bisa dilakukan tanpa awalan atau dengan langkah biasa dan yang kedua adalah dengan menggunakan awalan berlari terlebih dahulu sebelum melakukan lemparan. Selain keakuratan lemparan yang harus dilakukan, ada salah satu bagian penting yang harus diingat pelempar saat melakukan lemparan yaitu adalah posisi kaki, apabila saat melempar posisi kaki melebihi garis pinggir lapangan, maka akan dianggap sebagai pelanggaran dan lemparan ke dalam akan diberikan kepada tim lawan.

Melihat kompleksitas skill dan ketrampilan terbuka dari cabang olahraga sepak bola, maka untuk dapat diajarkan di sekolah - sekolah perlu diadakan pengembangan dan modifikasi pembelajarannya. Untuk itu perlu dimodifikasi dengan cara mengurangi struktur permainan yang sebenarnya, sehingga strategi dasar bermain dapat diterima dengan mudah oleh siswa. Pengurangan struktur permainan ini dapat dilakukan terhadap faktor - faktor ukuran lapangan, jumlah/ukuran/kualitas peralatan yang digunakan, jenis ketrampilan yang diterapkan, aturan permainan, jumlah pemain, tujuan permainan dan lain-lain.

2.1.23 Fasilitas, Alat dan Perlengkapan
1. Lapangan Permainan
Lapangan sepak bola berbentuk persegi panjang, panjangnya 100 m - 120 m, dan lebarnya antara 46,9 m - 91,8m. Untuk pertandingan Internasional panjang lapangan antara 100 m - 110 m dan lebarnya antara 64,26 m - 73,44 m.
2. Pembatas lapangan
Lapangan permainan dibatasi dengan garis yang jelas lebarnya tidak lebih dari 15 cm. Bendera sudut lapangan tidak kurang dari 15 m, dan diletakkan pada keempat sudut lapangan. Titik tengah lapangan ditandai dengan titik yang jelas dan dikelilingi lingkaran tengah dengan jari-jari 9,15 m.

3. Kotak Gawang
Di setiap ujung jari dari lapangan harus digambar 2 garis sejajar dengan garis gawang, sejajar dengan lebar lapangan. Daerah yang berada didalam garis¬garis ini dinamakan daerah gawang. Pada setiap ujung lapangan digambar dua garis dengan panjang lapangan dan berjarak masing-masing 16,5 m dari tiap gawang. Garis-garis ini disatukan oleh sebuah garis lain yang sejajar denga lebar lapangan. Daerah yang diapit oleh garis ini disebut daerah tendangan hukuman.
4. Bola
Bola harus bulat terbuat dari kulit / karet, Bola dalamnya terbuat dari karet atau bahan lain yang semacam. Bola tidak boleh terbuat dari bahan yang membahayakan pemain. Keliling bola tidak boleh lebih dari 71 cm dan tidak kurang dari 68 cm. Berat bola antara 410 gr - 450 gr. Tekanan udara antara 0,6 – 1,1 atmosfer.
5. Gawang
Gawang diletakkan ditengah garis gawang, terdiri dari dua tiang tegak, membentuk garis lurus dengan kedua garis sudut dan lebarnya 7,32 m dihubungkan dengan sebuah tiang horizontal yang tingginya 2,44 m. Tiang gawang terbuat kayu, besi, atau bahan yang telah disetujui oleh badan internasional.

6. Jumlah Pemain
Pertandingan akan dilaksanakan oleh dua tim yang masing-masing tim beranggotakan 11 orang dan salah satu dintaranya bertindak sebagai penjaga gawang.
7. Kotak Gawang
Pemain hendaknya memakai kostum yang bernomor di dada dan di punggung. Dalam permainan, pemain diharuskan memakai sepatu sepak bola.
8. Perlengkapan Pemain
Pemain hendaknya memakai kostum yang bernomor di dada dan punggung. Dalam permaianan, pemain diharuskan memakai sepatu sepak bola. 

2.1.24 Karakteristik Modifikasi Permainan Hand Ball
2.1.24.1 Hakekat Permainan Hand Ball
Permainan hand ball merupakan permainan beregu dimana 2 regu dengan masing-masing pemain 7 pemain (6 pemain dan 1 penjaga gawang) dan berusaha memasukkan bola ke gawang lawan. Permainan ini mirip permainan
sepak bola tapi cara memindahkan bola dengan tangan bukan menggunakan kaki. Download PTK penjas sma kelas xi Peraturan permainan yang digunakan dalam permainan hand ball dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi yang ada dilapangan.
Modifikasi permainan hand ball ini bertujuan untuk memperbaiki keterampilan melakukan lemparan ke dalam atau throw in dalam permainan sepak bola, meningkatkan ketangkasan, kelincahan, dan kebugaran.
Tim yang berhasil mencetak skor terbanyak dalam waktu 2 x 10 menit akan memenagkan pertandingan tersebut. Dalam permainan ini, umpan yang cermat lebih ditekankan daripada skor akhir pertandingan. Pemain hendaknya melakukan lemparan sedekat mungkin ke arah sasaran.
Gambar 2.7. Lapangan Permainan Hand Ball

Nama Permainan : mini hand ball
Peraturan :
1) Permainan dilakukan dilapangan futsal.
2) Bola yang digunakan adalah bola futsal.
3) Permulaan permainan bola dilempar keatas oleh wasit.
4) Waktu permainan 2 x 10 menit.
5) Pemain bertahan dilarang memasuki daerah kiper.
6) Kiper boleh menghalau bola dengan menggunakan semua bagian tubuh, termasuk kaki.
7) Bola boleh dipantulkan di lapangan pada saat passing.
8) Boleh menggunakan berbagai macam tekhnik passing yang ada di permainan hand ball.
9) Tidak boleh mengenai kaki.
10) Melempar bola ke atas, kemudian ditangkap lagi sebelum bola menyentuh pemain lain.
11) Apabila terjadi pelanggaran di kotak pinalti maka akan dilakukan lemparan penalti.
12) Memegang bola maksimal 5 detik.
13) Bola boleh di dribble maksimal 5 langkah lalu di oper ke teman yang lainnya.
14) Tiap gol dihitung 1 poin.

Cara bermain : Permainan dimulai dengan salah satu pemain berada di depan untuk memperebutkan bola untuk pertama kali, bola dilempar ke atas oleh wasit lalu diperebutkan oleh kedua tim. Lemparan atau passing boleh dilakukan sesuai dengan tekhnik permainan hand ball yaitu chest pass, bounce pass, overhead pass, bola boleh di dribble maksimal 5 langkah, apabila bola mengenai kaki, maka akan dihitung foul, dan bola akan diberikan ke tim lain, apabila terjadi foul di daerah penalti maka akan diberikan hukuman lemparan penalti.
Modifikasi permainan hand ball ini merupakan upaya yang diwujudkan dengan harapan mampu membuat anak lebih aktif bergerak dalam berbagai situasi dan kondisi yang menyenangkan ketika mengikuti pembelajaran sepak bola.

2.2 Kerangka Berfikir
Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan sebagai proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, mempunyai peranan yang sangat penting yaitu member kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktifitas jasmani. Pendidikan jasani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik, bertujuan untuk meningkatkan individu secraa organic, neuromuscular, perceptual, kognitif, sosial dan emosional. (Depdiknas; 2003).
Hand ball adalah permainan beregu yang menggunakan bola sebagai alatnya, yang dimainkan dengan menggunakan satu atau kedua tangan. Bola tersebut boleh dipantulkan, dilempar, atau ditembakkan (Drs. Agus Mahendra, 2000 : 6). Kalau kita tinjau pada analisis pada pola gerak domain permainan hand ball disitu terdapat gerakan melempar, lokomotor, menangkap, menggiring atau dribbling bola. Semua gerakan tersebut terangkat dalam satu pola gerak yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya bermain hand ball.

Dalam mengembangkan dan memodifikasi pembelajaran khususnya penguasaan bagian perbagian dari teknik - teknik dasar dalam permainan sepak bola, khususnya throw in dapat didesain dengan berbagai model permainan sesuai dengan karakteristik anak usia Sekolah Menengah Atas. Salah satu contohnya dapat dikembangkan suatu model permainan hand ball. Contoh PTK penjas sma doc Dari contoh pengembangan model pembelajaran tersebut, untuk menjawab, tuntutan kurikulum dimana permainan sepak bola tidak hanya bisa dinikmati atau dilakukan oleh anak laki – laki saja, namun siswa perempuan pun dapat menikmati pembelajaran tersebut, bahkan terlibat aktif selama proses pembelajaran, maka perlu diciptakan suatu produk model pengembangan pembelajaran dalam pendidikan jasmani.

DOWNLOAD PTK PENJAS SMA KELAS XI KURTILAS 

BAB III
METODE PENGEMBANGAN


3.1. Model Pengembangan
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan yang biasanya disebut penelitian berbasis pengembangan (research-based development) merupakan jenis penelitian yang tujuan penggunaanya adalah menghasilkan produk berupa modifikasi permainan hand ball siswa SMA.
Arikunto (2006: 7) mengatakan bahwa penelitian pengembangan atau penelitian developmental adalah penelitian yang mengadakan percobaan dan penyempurnaan.
Penelitian pengembangan mengembangkan modifikasi permainan hand ball disesuaiakan dengan kondisi atau luas lapangan yang tersedia dan jumlah pemain. Penelitian ini juga disesuaiakan dengan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya sehingga tidak mengambil subyek yang besar. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian pengembangan modifikasi permainan hand ball adalah sebagai berikut:

Melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi.
1) Mengembangkan produk awal (berupa peraturan dan cara bermain modifikasi permainan hand ball).
2) Evaluasi ahli pendidikan jasmani dan satu orang ahli pembelajaran, uji coba kelompok kecil dengan menggunakan kuesioner, konsultasi dan evaluasi yang kemudian dianalisis. Download PTK penjas kelas xi pdf
3) Revisi produk pertama, berdasarkan dari hasil evaluasi ahli dan uji coba kelompok kecil. Revisi ini digunakan untuk perbaikan terhadap produk awal yang dibuat oleh peneliti.
4) Uji coba lapangan
5) Revisi produk akhir yang dilakukan berdasarkan hasil uji coba lapangan.
6) Hasil akhir pengembangan model modifikasi permainan hand ball pada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota ...

3.2 Prosedur Pengembangan
Prosedur pengembangan akan memaparkan prosedur yang akan ditempuh oleh peneliti dalam membuat produk. Dalam prosedur peneliti akan menyebutkan komponen pada setiap tahapan-tahapan yang akan dikembangkan.
Pada bagan berikut akan disajikan tahapan–tahapan prosedur pengembangan modifikasi peraturan permainan modifikasi hand ball.
Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Model Modifikasi Permainan Hand Ball

3.2.1 Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan adalah langkah awal dalam melakukan penelitian. Langkah ini bertujuan untuk menentukan apakah pengembangan model modifikasi permainan hand ball ini dibutuhkan atau tidak. Pada tahap ini peneliti mengadakan observasi di SMA Negeri ... Kota ... tentang pelaksanaan olahraga sepak bola dengan cara melakukan pengamatan langsung tentang aktifitas siswa.
3.2.2 Pembuatan Produk awal
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan produk model modifikasi permainan hand ball. Dalam pembuatan produk yang dikembangkan, peneliti membuat produk berdasarkan kajian teori yang kemudian dievaluasi oleh satu ahli sepakbola dan dua guru pendidikan jasmani sebagai ahli pembelajaran, serta uji coba kelompok kecil.
3.2.3 Uji Coba Produk
Pelaksanaan uji coba produk dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: (1) menetapkan desain uji coba, (2) menentukan subjek uji coba, (3) menyusun instrumen pengumpulan data, dan (4) menetapkan teknik analisis data. 

3.2.4 Revisi Produk Pertama
Setelah uji coba produk, maka dilakukan revisi produk pertama hasil dari evaluasi ahli dan uji coba kelompok kecil sebagai perbaikan dari produk yang telah diuj icobakan..
3.2.5 Uji Lapangan
Pada tahap ini dilakukan uji lapangan terhadap terhadap produk yang dikembangkan dengan menggunakan subjek uji coba 18 siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota ...
3.2.6 Revisi Produk Akhir
Revisi produk dari hasil uji lapangan yang telah diujicobakan siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota ...
3.2.7 Hasil Akhir
Hasil akhir produk pengembangan dari uji lapangan yang berupa model pengembangan permainan modifikasi hand ball.

3.3 Uji Coba Produk
Uji coba produk penelitian ini bertujuan untuk memperoleh efektivitas, efisiensi dan kebermanfaatan dari produk. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan uji coba produk adalah sebagai berikut:
3.3.1 Desain uji coba
Desain uji coba yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui tingkat keefektifan dan segi pemanfaatan produk yeng dikembangkan. Desain uji coba yang dilaksanakan terdiri dari :
3.3.1.1 Uji Coba Kelompok Kecil
Pada tahapan ini produk yang telah di revisi dan hasil evaluasi ahli kemudian diujicobakan kepada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota .... Pada uji coba kelompok kecil ini menggunakan 18 siswa sebagai subjeknya. Pengambilan siswa dilakukan dengan menggunakan sampel secara random karena karakteristik dan tingkat kesegaran jasmani siswa yang berbeda.
Siswa diberikan penjelasan peraturan modifikasi permainan hand ball yang kemudian melakukan uji coba siswa mengisi kuesioner tentang permainan yang telah dilakukan. Tujuan uji coba kelompok kecil ini adalah untuk mengetahui tanggapan awal dari produk yang dikembangkan.

3.3.1.2 Uji Coba Kelompok Besar
Hasil analisis uji coba kelompok kecil serta revisi produk pertama, selanjutnya dilakukan uji coba kelompok besar. Uji lapangan ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri ... Kota .... Siswa diberikan penjelasan peraturan modifikasi permainan hand ball yang telah direvisi yang kemudian melakukan uji coba modifikasi permainan hand ball. penelitian tindakan kelas penjas doc Setelah selesai melakukan uji coba siswa mengisi kuesioner tentang permainan yang telah dilakukan.
3.3.2 Subjek Uji Coba
Adapun subjek yang teribat dalam penelitian antara lain :
1) Satu orang ahli pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
2) Satu orang guru pembelajaran Penjasorkes.
3) Siswa dalam uji coba skala kecil sebanyak 18 orang.
4) Siswa dalam uji coba skala besar sebanyak 37 orang.

3.4 Cetak Biru Produk
Permainan modifikasi hand ball merupakan modifikasi dari permainan hand ball aslinya, permainan modifikasi hand ball ini diberikan sebagai model pembelajaran latihan tekhnik throw in. Permainan modifikasi hand ball dimainkan dalam lapangan yang lebih kecil yaitu lapangan futsal. Permainan ini dimainkan oleh 18 orang. Dimana masing-masing tim terdiri dari 9 pemain dengan 1 sebagai penjaga gawang, menggunakan 2 buah gawang. Untuk bola menggunakan bola futsal, dan gawangnya menggunakan gawang futsal.
Permulaan permainan modifikasi hand ball dilakukan dari tengah-tengah lapangan seperti pertandingan bola basket, yaitu bola dilempar keatas oleh wasit lalu kedua pemain dari masing-masing tim memperebutkan bola tersebut. Masing-masing tim berusaha memasukkan bola ke gawang lawannya. Dalam permainan modifikasi hand ball ini pergerakan siswa membawa bola maksimal lima langkah. Bila bola keluar dari permainan untuk menghidupkan dengan lemparan kedalam dari garis tepi / sisi lapangan.
Permainan dilakukan dalam waktu 2 x 10 menit, tim yang mendapatkan nilai terbanyak dalam waktu tersebut adalah tim yang memenangkan permainan. 

3.4.1 Peraturan Permainan Modifikasi Hand Ball
Berikut ini adalah peraturan-peraturan dalam modifikasi permainan bola voli net hidup, terdiri dari beberapa hal antara lain :
3.4.1.1 Fasilitas dan Peralatan
1. Lapangan
Menggunakan lapangan futsal standar, dengan ukuran lapangan 15 m x 25 m menyesuaikan dengan jumlah pemain.
Gambar 3.2. Lapangan Permainan Modifikasi Hand Ball
15 meter

2. Bola Bola yang digunakan adalah bola voli.
Gambar 3.3 Bola
3. Gawang
Gawang yang digunakan terdiri dari dua tiang setinggi 2 meter dan lebar 3 meter.
Gambar 3.4 Gawang

4. Jumlah pemain
Setiap pertandingan terdapat 18 pemain yang masing masing tim 8 orang dan 1 penjaga gawang. Untuk skala kecil 18 pemain, untuk skala besar 37 pemain dan diujikan / dipertandingkan dua kali.
5. Perlengkapan permainan
1.) Memakai pakaian seragam olahraga
2.) Memakai sepatu olahraga
6. Lama permainan dan permulaan permainan
1.) Lama permainan adalah 2 x 20 menit.
2.) Untuk memulai permainan dilakukan dari titik tengah lapangan dengan bola dilemparkan ke atas oleh wasit.

7. Cara mencetak gol
Suatu gol dianggap sah jika bola setengah lebih melewati garis gawang. Serta jika bola masuk ke gawang. Dan gol tidak sah jika langsung dari lemparan ke dalam yang langsung gol tanpa menyentuh pemain baik lawan maupun kawan.
8. Jenis pelanggaran
1.) Membawa bola lebih dari lima langkah.
2.) Memegang bola lebih dari lima detik.
3.) Melempar bola ke atas, kemudian ditangkap lagi sebelum bola menyentuh pemain lain.
4.) Menyentuh bola dengan tungkai bawah.
5.) Dengan sengaja melempar bola ke lawan.
6.) Memasuki daerah kiper.

7.) Memukul, menarik, mendorong, menjatuhkan lawan.
8.) Dan segala tindakan yang menurut wasit merugikan
10 Cara bermain
Untuk memulai pertandingan diawali dengan lemparan bola ke atas oleh wasit, kemudian kedua pemain masing-masing tim berebut bola. Lemparan yang dilakukan oleh wasit dimulai dari titik tengah lapangan, tim yang mendapatkan bola bisa melakukan lemparan langsung ke gawang tim bertahan, atau mengumpan ke rekan timnya terlebih dahulu. Lama permainan 2 x 10 menit setiap pertandingan, terdiri dari 2 babak. Jika terjadi pelanggaran diluar garis gawang tim yang melakukan pelanggaran diberi hukuman yaitu lemparan bebas. Contoh PTK penjas sma doc Lemparan bebas dilakukan oleh tim yang dilanggar. Penalti diberikan bila pemain bertahan memasuki garis kotak gawang. Karena disini garis kotak gawang dilarang dimasuki tim bertahan. Jika bola keluar lapangan, maka untuk menghidupkan bola kembali dilakukan lemparan kedalam oleh tim yang tidak menyentuh bola terakhir sebelum bola keluar dari garis lapangan. Setiap terjadi gol maka untuk memulai permainan dilakukan lemparan dari tengah lapangan yang dilakukan oleh wasit seperti pada saat pertama. Gol juga dianggap sah bila masuk ke gawang. Dalam permainan, permainan dipimpin oleh seorang wasit yang berada ditengah permainan.

3.5 Jenis Data
Data yang diperoleh adalah data kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara dan kuisioner yang berupa kritik dan saran dari ahli penjas dan narasumber secara lisan maupun tulisan sebagai masukan untuk bahan revisi produk.
3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah berbentuk kuesioner dan tes unjuk kerja. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data dari evaluasi ahli dan uji coba. Alasan memilih kuesioner adalah jumlah subjek yang relatif banyak sehingga data dapat diambil secara serentak dan waktu yang singkat, dan tes unjuk kerja digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam melaksanakan produk pembelajaran. Kepada ahli dan siswa diberikan kuesioner yang berbeda. Kuesioner ahli dititikberatkan pada produk pertama yang dibuat, sedangkan kuesioner siswa dititikberatkan pada kenyamanan dalam menggunakan produk. yaitu dalam motivasi siswa dalam melakukan produk, tingkat kesenangan siswa terhadap produk, apakah produk membosankan bagi siswa, keaktifan siswa dalam melaksanankan produk pembelajaran.

Kuesioner yang digunakan untuk ahli berupa sejumlah aspek yang harus dinilai kelayakannya. Faktor yang digunakan dalam kuesioner berupa tingkat kesesuaian produk dengan kompetensi dasar yang ada pada Kurikulum KTSP Sekolah Dasar, ketepatan memilih bahan ajar, kesesuaian fasilitas yang digunakan, ketepatan model dengan tingkat, karakterisrtik siswa usia Sekolah Menengah Atas, tingkat efektifitas model metode pembelajaran throw in dalam modifikasi permainan hand ball, serta komentar dan saran umum jika ada. Rentangan evaluasi mulai dari "tidak baik" sampai dengan " sangat baik" dengan cara memberi tanda "3" pada kolom yang tersedia.
(1) Tidak baik
(2) Kurang baik
(3) Cukup bailk
(4) Baik
(5) Sangat baik Berikut adalah faktor, indikator dan jumlah kuesioner digunakan pada kuesioner ahli:
Tabel 3.1. Faktor, Indikator, dan Jumlah Butir Kuesioner

Kuesioner yang digunakan siswa berupa sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa dengan altenatif jawaban " Ya" dan " Tidak". Faktor yang digunakan dalam kuesioner meliputi aspek kognitf, afektif dan psikomotorik.
Cara pemberian skor pada alternatif jawaban sebagai berikut :
Tabel 3.2. Skor Jawaban Kuesioner "Ya" dan " Tidak".

Berikut adalah faktor-faktor, indikator dan jumlah butir kuesioner yang akan digunakan pada siswa:
Tabel 3.3. Faktor, Indikator dan Jumlah Butir Kuesioner.

Tabel 3.4. Faktor, Indikator dan Jenis penilaian

3.7 Tekhnik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah menggunakan teknik analisis deskriptif berbentuk presentase. Download PTK penjas kelas xi pdf Sedangkan data yang berupa saran dan alasan memilih jawaban dianalisi dengan menggunakan teknik analisi kualitataif.
Dalam pengolahan data, presentase diperoleh dengan rumus dari Sukirman,dkk.(2003:879), yaitu :
Rumus 3.3

Dari hasil presentase yang diperoleh kemudian diklasifikasikan untuk memperoleh kesimpulan data.
Tabel 3.5. Klasifikasi Presentase
Sumber Guilford (dalam Faqih, 1996 : 57)

CONTOH LENGKAPLAPORAN PROPOSAL PTK PENJAS SMA TERBARU

DAFTAR PUSTAKA

Adang Suherman, 2000. Dasar-dasar Penjas. Jakarta; Depdiknas.
Amung Ma’mun dan Yudha Saputra. 2000. Perkembang Belajar Gerak. Jakarta : Depdikbud.
Agus Mahendra. 2000. Bola Tangan. Jakarta : Depdiknas. Gerak dan
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.
Kurniawan, Feri. 2011. Buku Pintar Pengetahuan Olahraga. Jakarta : Laskar Aksara
Mielke, Danny. 2007. Dasar – Dasar Sepak Bola. Jakarta : Depdikbud Rusli Lutan. 2001. Asas-Asas Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas , dkk., 2000. Penelitian Penjaskes. Jakarta : Depdikbud
Soegiyanto dan Sodjarwo. 1993. Perkembangan dan belajar gerak. Jakarta: Depdikbud.
Sucipto, dkk., 2000., Sepakbola. Jakarta: Depdikbud
Suharsini Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Sukirman,dkk.,2003. Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTK PENJAS SMA DENGAN TEKNIK THROW IN

Postingan terkait: