DOWNLOAD PTK MATEMATIKA SMP DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TERBARU

DOWNLOAD PTK MATEMATIKA SMP DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TERBARU-Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yaitu proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. Bagi peserta didik, PTK bermanfaat untuk meningkatkan proses/ hasil belajar dan bersifat kritis terhadap hasil belajarnya.
Pelaksanaan penelitian dibagi dalam tiga tahap yaitu pra siklus, siklus I dan siklus II. Pada pra siklus, hasil belajar dan keaktifan belajar peserta didik diperoleh dari 1 tahun yang lalu. Pada siklus I dan II terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil pengamatan dan refleksi akan dijadikan bahan rujukan untuk pelaksanaan siklus berikutnya. Sehingga proses dan hasil pelaksanaan siklus berikutnya diharapkan akan lebih baik dari siklus sebelumnya. Dari setiap siklus akan diukur hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar peserta didik. Download ptk matematika smp kelas 8 lengkap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pra siklus diperoleh rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar pada pra siklus adalah 52.97 dan 26.32%. Setelah dilakukan siklus I rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar mengalami peningkatan yaitu menjadi 57.89 dan 52.63%. Pada siklus II setelah diadakan refleksi pelaksanaan tindakan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar adalah 74.90 dan 91.89%.
Dari hasil tersebut disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada materi pokok bangun ruang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ... tahun pelajaran 2015/2016.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMATIKA SMP yang diberi judul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI POKOK BANGUN RUANG KELAS VIII.1 SMP NEGERI 2 ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA SMP KELAS VIII lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 059).

CONTOH PTK MATEMATIKA SMP UNTUK SYARAT KENAIKAN PANGKAT

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Bangun ruang adalah materi pokok dalam pembelajaran matematika di SMP/MTs yang kajian materinya masih bersifat abstrak. Pada materi bangun ruang ini, peserta didik dituntut untuk memiliki kompetensi dasar dapat menghitung luas permukaan dan volum kubus, balok, prisma, dan limas.
Materi pokok ini banyak menuntut peserta didik untuk dapat mengkonstruksikan pemahaman yang diperolehnya. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa materi pokok bangun ruang merupakan materi pokok yang abstrak, banyak menggunakan konsep, dan bukan materi hafalan,sehingga apabila peserta didik belum menguasai konsep materi maka akan kesulitan dalam mengerjakan soal¬soal pada materi bangun ruang. Untuk mewujudkan pemahaman konsep pada materi yang bersifat abstrak dan meningkatkan hasil belajar peserta didik diperlukan suatu terobosan baru diantaranya yaitu pemilihan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi bangun ruang yang abstrak. Model pembelajaran, dirasakan mempunyai peran strategis dalam upaya mendongkrak keberhasilan proses belajar mengajar. Model pembelajaran bergerak melihat kondisi kebutuhan peserta didiknya sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi bangun ruang yang bersifat abstrak dengan tepat. Namun sebaliknya, peserta didik juga diharapkan dapat tertarik dan terus tertarik mengikuti pelajaran, dengan keingintahuan yang berkelanjutan. ptk matematika smp doc Berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar peserta didik, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktifitas individu maupun kelompok.

Seperti yang terjadi di SMP Negeri 2 ..., berdasarkan informasi dari guru matematika yang mengampu kelas VIII.1, pada tanggal 15 November 2015, peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mempelajari materi bangun ruang khususnya dalam mamahami konsep rumus luas permukaan dan volum bangun ruang. Peserta didik kebanyakan tidak mengetahui asal penemuan konsep rumus luas permukan dan volum tersebut. Ini mengakibatkan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan sosl-soal yang berkaitan dengan bangun ruang tersebut. Selain itu peserta didik cenderung pasif dalam pembelajaran di kelas. Ini terlihat dari nilai yang masih belum mencapai ketuntasan minimal yaitu 58 sedangkan rata-rata yang dicapai peserta didik hanya mencapai 52.97. Peserta didik yang tuntas dalam materi bangun ruang hanya mencapai 26.32% saja sedangkan yang lainnya masih belum tuntas.
Oleh karena itu, dalam membelajarkan materi bangun ruang kepada peserta didik, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, model yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan dari suatu pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung pada tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi yang disampaikan, tingkat perkembangan peserta didik, kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.

Memahami permasalahan di atas, peneliti berusaha mencari model pembelajaran yang dirasa tepat pada materi bangun ruang ini agar peserta didik dapat memahami konsep secara menyeluruh yang akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar. Model pembelajaran yang akan diterapkan adalah model pembelajaran group investigation. Model pembelajaran group investigation adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajarannya, karena pada model pembelajaran ini menuntut peran serta masing-masing anggota kelompok dalam suatu penyelidikan. Jadi, dalam kelompok, mereka harus dapat berpikir dan bertindak kreatif, karena mereka harus mendesain suatu penemuan rumus. Selain itu, kemampuan komunikasi dan sosial dalam kelompok pun juga diperlukan. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik diharapkan dapat memahami kajian materi yang bersifat abstrak, sehingga peserta didik dapat memahami konsep dalam penemuan rumus bangun ruang. Terutama dalam mecari rumus luas permukaan dan volumnya. Dengan menggunakan model pembelajaran ini, diharapkan dapat menumbuhkan minat dan motivasi peserta didik dalam mempelajari materi bangun ruang, sehingga peserta didik memperoleh manfaat yang maksimal baik dari proses pemahaman konsep maupun hasil belajarnya. Dengan demikian, berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis merasa perlu mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pokok Bangun Ruang kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ... Tahun Pelajaran 2015/2016”

B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari adanya salah pengertian dan agar diperoleh pengertian yang sama tentang istilah dalam penelitian ini, maka perlu adanya penegasan istilah. Penegasan istilah dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup permasalahan sesuai dengan tujuan penelitian.
Adapun istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh dari usaha belajar. Menurut Dimyati hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
2. Meningkatkan hasil belajar
Meningkatkan hasil belajar yang dimaksud adalah meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar peserta didik sehingga mencapai lebih dari 58 dengan ketuntasan lebih dari 75%. Ini berarti bahwa lebih dari 75% dari jumlah peserta didik memperoleh nilai dari 58. Download ptk matematika smp doc
3. Bangun Ruang
Yang dimaksud bangun Rrang dalam penelitian ini adalah salah satu materi pokok yang diajarkan di kelas VIII.1 SMP/MTs pada semester genap. Kompetensi Dasar yang diambil dalam pelaksanaan penelitian ini adalah peserta didik diharapkan mampu menghitung luas permukaan dan volum kubus, balok, prisma dan limas.

4. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Suatu kegiatan pembelajaran di kelas disebut model pembelajaran jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Ada kajian ilmiah dari penemu atau ahlinya.
b. Ada tujuannya.
c. Ada tingkah laku yang spesifik
d. Ada kondisi spesifik yang diperluakan agar tindakan/kegiatan pembelajaran tersebut dapat berlangsung secara efektif.
5. Model Pembelajaran Group Investigation
Model pembelajaran group investigation adalah model pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil dimana peserta didik bekerja menggunakan penemuan kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikannya penemuan mereka di depan kelas. 
Jadi penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pokok Bangun Ruang Kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ... Tahun Pelajaran 2015/2016”, berarti dalam penelitian akan diterapkan model pembelajaran group investigation pada materi pokok bangun ruang agar hasil belajar meningkat.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan yang perlu untuk dikaji yaitu : “Apakah penerapan model pembelajaran group investigation pada materi pokok bangun ruang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ... tahun pelajaran 2015/2016?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : “Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar pada materi pokok bangun ruang bagi peserta didik kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ....”
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1. Manfaat bagi peserta didik.
a. Diharapkan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran matematika meningkat, khususnya pada materi pokok bangun ruang.
b. Diharapkan peserta memperoleh pemahaman yang bersifat konkret.
c. Menumbuhkan kemampuan bekerjasama dan berkomunikasi bagi peserta didik dalam memecahkan masalah.
d. Sebagai paradigma baru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan lebih mudah memahami materi.

2. Manfaat bagi pendidik.
a. Memberi gambaran bagaimana mengajarkan materi bangun ruang menggunakan model pembelajaran group investigation.
b. Meningkatkan kreativitas guru dalam membawa materi pelajaran.
c. Memberi inspirasi bagi guru dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi peserta didik. Contoh ptk matematika smp pdf
3. Manfaat bagi lembaga pendidikan.
a. Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, khususnya pada materi pokok bangun ruang.
b. Melalui peningkatan kualitas pembelajaran maka diharapkan masyarakat lebih antusias untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.
4. Manfaat bagi peneliti
a. Mendapatkan pengalaman bagaimana pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran group investigation pada materi pokok bangun ruang.
b. Sebagai bekal peneliti sebagai calon guru matematika agar siap melaksanakan tugas di lapangan.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) SMP DENGAN METODE GROUP INVESTIGATION

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka
1. Belajar
a. Pengertian belajar
Beberapa pengertian belajar :
1) Menurut Cronbach
“Learning is hown by change in behavior as result of experience” yang artinya belajar adalah suatu aktivitas yang di tunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagi hasil dari pengalaman. 
2) Menurut Harold Spears
“ Learning is ti observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.” yang artinya balajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri tentang sesuatu, mendengarkan, mengikuti petunjuk.

Dari beberapa definisi di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar.  ptk matematika smp kelas 7 lengkap
b. Teori-teori Belajar
1) Teori belajar Konstruktivis
Belajar adalah tidak sekadar mengingat. Peserta didik yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan berbagai gagasan. Guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik, sebab peserta didik yang harus mengkonstruksikan pengetahuan dalam memorinya sendiri. Sebaliknya, tugas utama guru adalah: (a) memperlancar peserta didik dengan cara mengajarkan cara-cara membuat informasi bermakna dan relevan dengan peserta didik; (b) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau menerapkan gagasannya sendiri; (c) menanamkan kesadaran belajar dan menggunakan strategi belajarnya sendiri. Di samping itu, guru harus mampu mendorong peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang dipelajari.
Intisari teori konstruktivisme adalah bahwa peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri. Teori ini memandang peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak dapat digunakan lagi. Hal ini memberikan implikasi bahwa peserta didik harus terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

2) Teori penemuan Jerome Bruner
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya akan memberikan hasil yang baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. 
c. Hasil belajar
1) Pengertian hasil belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mngalami aktivitas belajar. Benyamin S. Bloom menyebutkan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu:
a) Ranah kognitif (cognitive domain)
(a) Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori berikut:
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif.
(b) Bakat peserta didik
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
(c) Minat peserta didik
Minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu.
(d) Motivasi peserta didik
Motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

b) Faktor eksternal peserta didik, yaitu kondisi lingkungan di sekitar peserta didik, terdiri atas dua macam yaitu:
(1) Faktor lingkungan sosial, lingkungan sosial peserta didik seperti para guru, staf administrasi, teman-teman sekelas, masyarakat, tetangga dan teman-teman sepermainan,
(2) Faktor lingkungan non sosial, faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan peserta didik.
c) Faktor pendekatan belajar, yaitu segala cara atau strategi yang digunakan peserta didik dalam menunjang efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.

2. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian pembelajaran matematika
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik.
Sedangkan, berdasarkan etimologis, perkataan matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. ptk matematika smp pdf Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen di samping penalaran. Matematika terbentuk dari hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.
Jadi, pembelajaran matematika merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang menitik beratkan ide, proses dan penalaran. Dalam pembelajaran ini peserta didik diharapkan mampu berlatih untuk belajar mandiri atau bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, dan kreatif, mampu berfikir logis dan sistematis serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

b. Teori pembelajaran matematika
1) Teori pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivisme tujuan pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman. Pemahaman memberi makna terhadap apa yang ia pelajari. Belajar menurut konstruktivisme tidak menekankan untuk memperoleh yang banyak tanpa pemahaman.
Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang aktif, menyenangkan, memperhatikan keinginan peserta didik, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui peserta didik, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian peserta didik.
Pembelajaran konstruktivis lebih menekankan pada belajar bersama dengan alasan suatu konsep akan dapat terbentuk apabila mereka bekerja dan membahas dalam suatu kelompok. Penggunaan belajar kelompok memungkinkan peserta didik untuk memperoleh model berpikir, cara-cara menyampaikan gagasan atau fakta, dan mengatasi kesalahan yang dihadapi oleh kelompok.
2) Teori pembelajaran matematika menurut pandangan Jerome Bruner
Bruner dalam metode penemuannya mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika, peserta didik harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukannya. Menemukan di sini terutama adalah menemukan lagi (discovery), atau dapat juga menemukan yang sama sekali baru (invention). Oleh karena itu, kepada peserta didik materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran ini, guru harus lebih banyak berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberi tahu.
Tujuan dari metode penemuan adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih berbagai kemampuan intelektual peserta didik, merangsang keingintahuan dan memotivasi kemampuan mereka. 

3. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Suatu kegiatan pembelajaran di kelas disebut model pembelajaran jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) ada kajian ilmiah dari penemu atau ahlinya.
2) ada tujuannya.
3) ada tingkah laku yang spesifik
4) ada kondisi spesifik yang diperluakan agar tindakan/kegiatan pembelajaran tersebut dapat berlangsung secara efektif. 
4. Model pembelajaran group investigation
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih kompleks daripada pendekatan yang lebih berpusat kepada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar peserta didik keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Sebagai suatu model mengsajar yang menjadi pilihan peneliti, tentunya peneliti melihat adanya kelebihan-kelebihan dalam model pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut:
a. Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan
b. Melatih berpikir dan bertindak kreatif
c. Dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
d. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
e. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
f. Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menghadap masalah yang dihadapi secara tepat

Selain kelebihan yang dipaparkan tersebut, pembelajaran group investigation ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut yaitu,
a. Membutuhkan keaktifan anggota kelompok dalam melakukan penyelidikan atau investigasi.
b. Jika seluruh anggota kelompok pasif, maka akan menyulitkan mereka dalam melakukan kegiatan investigasi.

Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran group investigation, antara lain:
a. Menguasai kemampuan kelompok
Kesuksesan implementasi dari group investigation sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial.
b. Perencanaan kooperatif
Anggota kelompok mengambil bagian daam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek mereka. Contoh ptk matematika smp kelas 8 doc Bersama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan sehubungan dengan upaya mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, sumber apa yang mereka butuhkan, siapa melakukan apa, dan bagaimana mereka akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai di hadapan kelas
c. Peran guru
Di dalam kelas yang melaksanakan proyek group investigation, guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok¬kelompok yang ada, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran. 
Adapun langkah-langkah group investigation:
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen.
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok.
c. Guru memanggil para ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain.
d. Setiap kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan.
e. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok.
f. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberikan kesimpulan. 
g. Evaluasi.
h. Penutup.
5. a. Uraian Materi
Kubus
Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi yang kongruen (sama sebangun).
Gambar 2.1

1) Luas permukaan Kubus
Kubus mempunyai permukaan, sehingga kubus mempunyai luas permukaan. Luas permukaan kubus sama dengan luas jaring-jaring kubus yang dibuat. Download ptk matematika smp doc

Dari jaring-jaring kubus terlihat bahwa kubus memiliki enam buah bidang dengan setiap bidangnya berbentuk persegi. Maka,
Rumus 2.1
2) Volum Kubus
Volum kubus adalah hasil kali luas alas dengan tingginya. Karena pada kubus panjang rusuk-rusuknya sama, maka: Luas alas kubus yang bentuknya persegi adalah s2 Tinggi kubus adalah s²
Jadi,
Rumus 2.2
b. Balok
Balok adalah bangun ruang yang sisi-sisi berhadapannya berbentuk persegi panjang yang kongruen.
Rumus 2.3

1) Luas permukaan balok
Rumus 2.4
2) Volum balok
Volum balok adalah hasil kali luas alas dengan tingginya. Alas balok berbentuk persegi panjang, sehingga luas alas = p. l Tinggi balok adalah t
Rumus 2.5
c. Prisma
1) Luas permukaan prisma
Secara umum, rumus luas permukaan prisma sebagai berikut.
Rumus 2.6

2) Volum prisma
Rumus 2.7
d. Limas
1) Luas permukaan limas
Menentukan luas permukaan limas dengan cara mencari luas jaring-jaring. Pada limas segiempat seperti pada Gambar 5 di atas,
Luas permukaan limas
Rumus 2.8
b. Volum limas
Rumus 2.9

6. Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation pada Materi Bangun Ruang
Dalam penelitian ini peserta didik tidak hanya duduk dan menerima konsep dari guru, melainkan dilatih untuk menemukan langkah-langkah penemuan konsep luas permukaan dan volum bangun ruang. Dengan demikian peserta didik dapat memahami konsep materi bangun ruang yang sifatnya abstak sehingga lebih mudah menerapkan konsep yang telah didapat ke dalam pemecahan masalah.
Prosedur penerapan model pembelajaran group investigation pada materi bangun ruang adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1

B. Kerangka Berpikir
Materi Bangun ruang merupakan salah satu materi pokok dalam pembelajaran matematika yang mempunyai kajian yang abstrak, sehingga pada umumnya peserta didik mengalami kesulitan dalam pemahaman konsep rumus yang ada pada materi bangun ruang ini, terutama pada rumus luas permukaan dan volumnya. Kesulitan dalam pemahaman konsep rumus akan mengakibatkan peserta didik kesulitan juga dalam pengerjaan soal-soal yang berkaitan dengan rumus tersebut.
Proses pembelajaran matematika yang biasanya diberikan kepada peserta didik kegiatannya hanya berpusat pada guru sehingga menimbulkan peserta kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pembelajaran tersebut mendorong peserta didik untuk menghafal dan kurang memahami apa yang dipelajarinya, sehingga peserta didik tidak akan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan. Jika pembelajaran tersebut dilanjutkan, maka dengan sendirinya daya kreatifitas peserta didik tidak bisa berkembang secara maksimal.

Aktifitas investigasi, menemukan, kemudian mempresentasikan hasil penemuan secara berkelompok di depan kelas merupakan karateristik model pembelajaran Group Investigation (GI). Group Investigation merupakan suatu model pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajarannya. Dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation peserta didik akan dapat mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Mampu menyelidiki asal rumus luas permukaan dan volum bangun ruang sehingga dapat memahami konsep materi secara keseluruhan.
Sebagai suatu metode mengajar, pembelajaran koopertif tipe group investigation, tentunya memiliki kelebihan-kelebihan. Kelebihan metode group investigation antara lain sebagai berikut: (1) Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan, (2) berpikir dan bertindak kreatif, (3) memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis/konkret (mengurangi keabstrakan), (4) mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan, (5) menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan, (6) merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
Jadi sangatlah tepat menerapkan model pembelajaran group investigation pada materi bangun ruang ini, karena dengan melakukan pembelajaran pada materi bangun ruang dengan menggunakan model pembelajaran group investigation, dapat mengkonkretkan materi yang masih bersifat abstrak. Selain itu, peserta didik dapat mengalami sendiri dan termotivasi untuk menyusun gagasan atau ide dari hasil mensintesis, menyampaikan pendapat, bekerjasama, dan menghargai pendapat orang lain. Guru di sini hanya sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran. Contoh ptk matematika smp pdf Pembelajaran kooperatif tipe group investigation merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang dapat membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih efektif dan membuat peserta didik lebih kreatif, karena di sini peserta didik bersama dengan kelompoknya dapat mengembangkan dan bertukar pengetahuannya di dalam mempelajari suatu materi yang ditugaskan oleh guru.

Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran group investigation ini juga dapat memacu peserta didik untuk dapat saling bekerjasama, melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan, menafsirkan, dan mengevaluasi hasil pengamatan, serta merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat.
Diantara teori belajar yang mendukung model belajar group investigation adalah teori belajar konstruktivisme dan teori belajar J. Bruner. Teori belajar konstruktivisme yang memfokuskan pada kesuksesan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalaman mereka sedangkan teori Bruner mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika, peserta didik harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukannya. Teori Bruner bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih berbagai kemampuan intelektual peserta didik, merangsang keingintahuan dan memotivasi kemampuan mereka. 
Diharapkan dengan diterapkannya model pembelajaran group investigation pada materi bangun ruang ini hasil belajar peserta didik akan lebih meningkat.

C. Rumusan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan yang diajukan adalah sebagai berikut: ”Melalui pembelajaran group investigation pada materi pokok bangun ruang maka hasil belajar peserta didik SMP Negeri 2 ... kelas VIII.1 dapat ditingkatkan.”

DOWNLOAD LENGKAP PTK MATEMATIKA SMP KURTILAS (KURIKULUM 2013) 

BAB III
METODE PENELITIAN


A. Materi Penelitian
Materi pokok pada penelitian tindakan kelas ini adalah bangun ruang dengan fokus pada:
a. Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas dan bagian-bagiannya serta dapat menentukan ukurannya.
b. Kompetensi Dasar : Menghitung luas permukaan dan volum kubus, balok, prisma, dan limas.
Pada penelitian kali ini difokuskan pada materi luas permukan dan volum bangun ruang.
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik yang mendapat pembelajaran materi pokok bangun ruang, yaitu peserta didik kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ..., tahun pelajaran 2015/2016. Peserta didik di kelas VIII.1 berjumlah 49. Download ptk matematika smp kelas 8 lengkap

C. Tempat dan Waktu dan Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 ... Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi. Dilaksanakan pada kelas VIII.1.
2. Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret pada semester genap tahun Pelajaran 2015/2016. Adapun jadwal rencana penelitian sebagai berikut:
D. Pelaksana dan Kolaborator
Pelaksana adalah orang yang menerapkan pembelajaran yang sedang diteliti sedangkan kolaborator dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah orang-orang yang bertindak sebagai pengamat untuk memberikan masukan kepada guru selama tindakan dilakukan. Dalam penelitian ini, pelaksana penelitian adalah guru matematika kelas VIII.1 SMP Negeri 2 .... Sedangkan kolaborator dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.
E. Rancangan Penelitian
Kegiatan dirancang dengan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penerapan berbagai fakta yang ditemukan untuk memecahkan masalah dalam situasi sosial untuk memecahkan masalah dalam situasi social untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan dengan melibatkan kolaborasi dan kerja sama para peneliti dan praktisi.

Adapun dalam penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus/tahap penelitian yaitu pra siklus, siklus I dan siklus II. Pra siklus dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah. Sedangkan siklus I dan II terdiri atas :
Tahap 1. Perencanaan.
Tahap 2.Pelaksanaan tindakan
Tahap 3. Observasi
Tahap 4. Refleksi
Prosedur kerja siklus I dan siklus II dapat dilihat dalam skema dibawah ini:
Gambar 3.1

Sebagai langkah besar yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pra Siklus
Dalam pra siklus ini peneliti akan melihat pembelajaran matematika pada materi pokok Bangun Ruang di kelas VIII.1 semester 1 SMP Negeri 2 .... Pada siklus ini guru masih menerapkan metode ceramah dalam pembelajarannya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus ini juga akan diukur dengan indikator penelitian yaitu akan dilihat hasil belajar peserta didik yang dapat dilihat dari nilai tes. Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk membandingkan keberhasilan pembelajaran menggunakan model pembelajaran group investigation pada siklus I dan siklus II.
2. Siklus I
a. Perencanaan.
1) Menyusun rencana pembelajaran dengan materi pokok bangun ruang.
2) Merancang pembelajaran dengan model group investigation yakni dengan
membentuk kelompok belajar siswa, tiap kelompok beranggotakan 4 atau
5 siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan secara merata.
3) Menentukan lokasi dan media pembelajaran sebagai penerapan tindakan.
4) Menentukan kolaborasi dengan teman sejawat sebagai partner penelitian.
5) Menentukan lembar observasi baik untuk peserta didik maupun untuk
guru. Observasi direncanakan akan dilakasanakan tiap pertemuan dan
dilakukan oleh observer.
6) Merancang lembar kerja kelompok, tes akhir pertemuan, soal pekerjaan rumah, tes akhir siklus.
7) Merancang evaluasi

b. Pelaksanaan tindakan
1) Guru mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa.
2) Guru mengadakan tanya jawab yang mengarah pada materi pelajaran.
3) Guru membentuk kelompok diskusi, tiap kelompok beranggotakan 5 atau
6 peserta didik dengan penyebaran tingkat kecerdasan secara merata.
(tahap pengelompokan).
4) Guru membagikan lembar kerja kelompok kepada masing-masing kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok sudah dapat merencanakan apa yang akan mereka selidiki (investigasi) pada diskusi saat itu. Tiap kelompok mendapat satu lembar kerja kelompok dengan sub pokok bahasan yang berbeda-beda tiap kelompoknya. (tahap perencanaan)
5) Guru menyuruh masing-masing kelompok untuk melakukan investigasi sesuai dengan sub pokok bahasan yang telah didapat. (tahap investigasi)
6) Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk menemukan pemahaman dengan cara mereka sendiri, sehingga mereka dapat menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang telah didapat. Setelah itu anggota kelompok merencanakan apa saja yang akan mereka laporkan pada saat presentasi di depan kelas, agar penyajian dapat menarik. (tahap pengorganisasian) ptk matematika smp doc
7) Guru menyuruh perwakilan dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil investigasi di depan kelas. Peserta didik yang lain mendengarkan, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang dipresentasikan. Setelah itu, guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan. (tahap presentasi)

8) Guru beserta peserta didik melakukan evaluasi akhir mengenai topik¬topik yang telah didiskusikan. (tahap evaluasi)
9) Peserta didik mengerjakan tes formatif pada akhir pelajaran.
10) Peserta didik diberi pekerjaaan rumah yang dikerjakan secara individual.
c. Observasi
Dalam penelitian tindakan kelas, observasi dilaksanakan dengan beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut :
1) Pengamatan terhadap peserta didik
a) Kesiapan peserta didik dalam mengikuti pelajaran
b) Kekondusifan suasana belajar
c) Keantusiasan dalam melaksanakan diskusi kelompok
d) Hubungan kerja sama antar peserta didik pada saat mengerjakan diskusi kelompok
e) Partisipasi peserta didik pada saat mempresentasikan hasil kerja kelompok.
f) Pemahaman konsep peserta didik dalam melaksanakan diskusi kelompok.
g) Kesan umum peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

2) Pengamatan terhadap guru
a) Kelengkapan RPP
b) Kemampuan guru membuka pelajaran klasikal.
c) Kemampuan guru memberikan motivasi kepada peserta didik
d) Kemampuan guru menyampaikan apersepsi
e) Kemampuan guru melaksanakan langkah-langkah pembelajaran.
f) Kemampuan guru dan menetapkan peserta didik dalam kelompok.
g) Ketrampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran group
investigation pada saat pembelajaran.
h) Kemampuan guru mengelola kelas
i) Kemunculan komponen-komponen group investigation.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil kerja peserta didik, lembar pengamatan yang telah diisi dari hasil diskusi yang dilakukan peneliti dan pengamat. Analisis dilakukan untuk mengukur kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada siklus I, kemudian mendiskusikan hasil analisis secara kolaborasi untuk perbaikan pada pelaksanaan siklus II.

3. Siklus II
Pada prinsipnya semua kegiatan siklus II mirip dengan siklus I. Siklus II merupakan perbaikan pada siklus I, terutama didasarkan atas hasil refleksi pada siklus I. Secara garis besarnya adalah sebagai berikut.
a. Perencanaan
Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2 dengan melakukan revisi sesuai hasil refleksi 1.
b. Pelaksanaan tindakan
1) Menyusun rencana pembelajaran dengan materi pokok bangun ruang.
2) Memancing rasa ingin tahu siswa dengan memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi Bangun Ruang.
3) Merancang pembelajaran dengan model group investigation yakni dengan membentuk kelompok diskusi peserta didik, tiap kelompok beranggotakan 5 atau 6 peserta didik dengan penyebaran tingkat kecerdasan secara merata.
4) Menentukan kolaborasi dengan teman sejawat sebagai partner penelitian.
5) Membagikan lembar kerja kelompok yang akan digunakan sebagai media dalam pembelajaran.
6) Mengamati diskusi kelompok yang dilakukan oleh peserta didik. ptk matematika smp pdf
7) Merancang soal pekerjaan rumah dan tes akhir siklus.
8) Merancang tes akhir

c. Pengamatan,
Guru dan peneliti melakukan pengamatan yang sama pada siklus I.
d. Refleksi
Refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk melakukan penyempurnaan model pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran matematika group investigation di harapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
F. Metode Penyusunan Instrumen
1. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran, yaitu panduan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan.
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada siklus 1 dan siklus 2 dibuat berdasarkan format yang diisyaratkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Di dalam RPP tertuang skenario pembelajaran pada materi pokok bangun ruang dengan menggunakan model pembelajaran group investigation.
2. Lembar kerja
Lembar Kerja adalah panduan peserta didik yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah.
Lembar kerja dibuat berdasarkan langkah-langkah untuk memahami dan menyederhanakan bentuk penyelidikan dalam penemuan konsep rumus luas permukaan dan volum Bangun Ruang dengan model pembelajaran group investigation.
3. Tugas Rumah
Tugas rumah diberikan soal-soal yang bertujuan untuk mendalami soal-soal yang berkaitan dengan Bangun Ruang.
4. Tes akhir
Tes akhir dilakukan pada akhir siklus I dan siklus II. Tes akhir pada siklus I dipakai untuk melihat keberhasilan sementara pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran matematika group investigation, yang akan dibandingkan dengan hasil belajar pada pra siklus dan sebagai evaluasi untuk refleksi pada siklus II. Sedangkan tes akhir pada siklus II untuk melihat keberhasilan model pembelajaran ini.

G.  Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data
1. Teknik pengumpulan data
a. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mengetahui dan mendapatkan daftar nama peserta didik kelas VIII.1 SMP Negeri 2 ....
b. Angket
Angket dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.
c. Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik dalam belajar matematika. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus baik siklus I maupun siklus II.
2. Teknik analisis data
Data hasil pengamatan mengenai hasil belajar diolah dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan keadaan peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus dan untuk menggambarkan keberhasilan pembelajaran melalui model pembelajaran group investigation dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok bangun ruang. Download ptk matematika smp doc
Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan kognitif peserta didik dalam memecahkan masalah dianalisis dengan menghitung rata-rata nilai ketuntasan belajar.

a. Menghitung rata-rata
Untuk menghitung nilai rata-rata digunakan rumus:
Rumus 3.1

b. Menghitung ketuntasan belajar
1) Ketuntasan belajar individu
Data yang diperoleh hasil belajar peserta didik dapat ditentukan
ketuntasan belajar individu. Peserta didik dikatakan:
Tuntas, jika ≥ 58
Tidak tuntas, jika < 58
Hal ini sesuai dengan nilai KKM mata pelajaran matematika pada tahun pelajaran 2015/2016 semester genap.
2) Ketuntasan belajar klasikal
Data yang diperoleh dari hasil belajar dapat ditentukan ketuntasan belajar klasikal menggunakan analisis deskriptif persentase dengan perhitungan:
Rumus 3.2

H. Indikator Keberhasilan
Terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik yang ditandai dengan:
1. Rata-rata hasil belajar kelas tiap siklus minimal 58,
2. Ketuntasan belajar (peserta didik yang memperoleh nilai 58 atau lebih) sebanyak 75% dari jumlah peserta didik di kelas.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK MATEMATIKA SMP KELAS VIII

DAFTAR PUSTAKA


Aqib, Zainal, Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya: Insan Cendekia, 2002.
Asyono, Matematika Kelas IX SMP dan MTs, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005.
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Alfabeta, 2009.
Cunayah, Cucun, dkk, Pelajaran Matematika Untuk SMP/MTS Kelas VI, Bandung: CV,Yrama Widya, 2008.
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Mekar Surabaya, 2002.
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 1999. Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Heruman, Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Muslich, Masnur, KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Saminanto, Ayo Praktik PTK (Penelitian Tindakan Kelas), Semarang: Rasail Media Group, 2015.
Sanjaya, Wina, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Kencana, 2015.
Slavin, Robert E., Cooperative Learning, Bandung: Nusa Media, 2008.
Sudjana, Metode Statistika, Bandung: Tarsito, 2005.
Sudjiono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Suherman, Erman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: JICA-UPI, 2003.
Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka, 2009.
Suyitno, Amin, Pemilihan Model-Model Penbelajaran dan Penerapannya di SMP, Semarang: UNNES, 2006.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendekatan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Rosda Karya, 2000.
Tompomas, Husain, Matematika Plus SMP Kelas IX, Jakarta: Yudistira, 2005.
Tri Anni, Catharina, dkk, Psikologi Belajar, Semarang: UPT MKK UNNES, 1996.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta: Tim Prestasi Pustaka, 2007.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, Jakarta: Prenada Media Group, 2009.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTK MATEMATIKA SMP DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TERBARU

Postingan terkait: