DOWNLOAD PTK BIMBINGAN KONSELING (BK) SMP KELAS VIII

DOWNLOAD PTK BIMBINGAN KONSELING (BK) SMP KELAS VIII-Kemandirian merupakan cara bersikap, berfikir, dan berperilaku individu yang tidak bergantung kepada orang lain, akan tetapi tidak semua individu memiliki karakter mandiri karena berbagai faktor. Fenomena di SMPN 3 ...  menunjukkan belum sepenuhnya siswa memiliki kemandirian, hal ini dapat dilihat dari gej ala siswa yang tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, minta diarahkan guru secara terus menerus dalam kegiatan belajar, membutuhkan dukungan dari orang lain dalam menyelesaikan masalah, tidak mampu belajar mandiri, melaksanakan kegiatan harus atas perintah orang lain, sering menyontek, saat ada jam kosong digunakan untuk bermain, tidak memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, ingin cepat-cepat mengakhiri kegiatan belajarnya. ptk bk smp doc Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimanakah gambaran nilai kemandirian siswa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok, 2) bagaimanakah gambaran nilai kemandirian siswa sesudah diberi layanan bimbingan kelompok, 3) apakah ada perbedaan nilai kemandirian siswa sebelum dan sesudah diberi layanan bimbingan kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peningkatan nilai kemandirian siswa sebelum dan sesudah diberi layanan bimbingan kelompok.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Populasi penelitian berjumlah 48 siswa kelas 8B SMPN 3 ... . Teknik sampling yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling, ditunjuk 12 siswa sebagai sampel penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala psikologi dengan alat pengumpulan data berupa skala kemandirian. Validitas instrument menggunakan rumus korelasi product moment dihitung dengan taraf signifikansi 5% dan perhitungan reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase, uji wilxocon dan analisis kualitatif.
Hasil dari penelitian ini adalah tingkat kemandirian siswa sebelum bimbingan kelompok 63,18% berada pada kategori sedang, tingkat kemandirian siswa sesudah bimbingan kelompok 73,67% berada pada kategori tinggi, dan peningkatan kemandirian siswa sebelum dan sesudah bimbingan kelompok 10,49%. Hasil uji wilxocon menunjukkan Zhitung= 78, Ztabel = 14 sehingga Zhitung > Ztabel. Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan kemandirian siswa sesudah pemberian layanan bimbingan kelompok. Berdasarkan kesimpulan tersebut, diharapkan guru bimbingan dan konseling dapat menggunakan layanan bimbingan kelompok dalam membantu siswa meningkatkan kemandirian.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BIMBINGAN KONSELING SMP yang diberi judul UPAYA MENINGKATKAN NILAI KEMANDIRIAN MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS 8B SMP NEGERI 3 ... KECAMATAN ... KABUPATEN ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BIMBINGAN KONSELING SMP KELAS VIII lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 054).

DOWNLOAD PTK BIMBINGAN KONSELING SMP KELAS 8

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dampak globalisasi yang terjadi saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter. Padahal, pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak¬anak. Sebagai contoh, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah dan memiliki etika sopan santun yang tinggi tetapi sekarang kita sering disuguhi kabar tentang etika sopan santun siswa yang kurang terhadap orang tua dan guru. Permasalahan tersebut mencerminkan lunturnya nilai–nilai karakter.

Dalam pendidikan karakter terdapat nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Khususnya untuk sekolah menengah pertama, terdapat 20 nilai utama yang dikembangkan yang disarikan dari butir-butir SKL SMP. Adapun 20 nilai karakter tersebut menurut Kemendiknas (2010: 15-19) adalah nilai religius; jujur; bertanggung jawab; bergaya hidup sehat; disiplin; kerja keras; percaya diri; berjiwa wirausaha; berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif; mandiri; ingin tahu; cinta ilmu; sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain; patuh pada aturan¬aturan sosial; menghargai karya dan prestasi orang lain; santun, demokratis; ekologis, nasionalis, menghargai keberagaman. Download ptk bk smp doc

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen sekolah dan mengemban tugas pendidikan karakter. Pelaksanaan bimbingan dan konseling tidak bisa lepas dari fungsi dan tujuan pendidikan. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dilakukan oleh konselor sekolah sebagaimana telah diakui dalam undang–undang sistem pendidikan nasional Tahun 2003 pasal 1. Melalui layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan konselor dapat membantu siswa mencapai individu yang memiliki nilai kemandirian. Layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan di sekolah meliputi layanan orientasi, informasi, penguasaan konten, penempatan penyaluran, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, dan layanan mediasi. Dalam memberikan layanan ada yang bersifat secara pribadi, klasikal, dan bersifat kelompok.

Melihat fenomena diatas maka penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut dan peneliti mengambil judul “Upaya Meningkatkan Nilai Kemandirian Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa Kelas 8B SMPN 3 ...  Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung Tahun pelajaran 2015/2016”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan utama yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah “Apakah nilai kemandirian siswa dapat ditingkatkan melalui bimbingan kelompok?”. Rumusan masalah utama tersebut dapat dijabarkan menjadi tiga rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana gambaran nilai kemandirian siswa sebelum diberikan layanan
bimbingan kelompok?
1.2.2 Bagaimana gambaran nilai kemandirian siswa sesudah diberi layanan bimbingan kelompok?
1.2.3 Apakah ada perbedaan nilai kemandirian siswa sebelum dan sesudah diberi layanan bimbingan kelompok?

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan permasalahan di atas, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau temuan empiris tentang meningkatkan nilai kemandirian siswa melalui layanan bimbingan kelompok. Sedangkan tujuan khusus penelitian yaitu untuk memperoleh data empiris tentang:
1.3.1  Gambaran secara deskripsi nilai kemandirian siswa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok.
1.3.2  Gambaran secara deskripsi nilai kemandirian siswa sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok.
1.3.3  Perbedaan yang signifikan nilai kemandirian siswa sebelum dan sesudah diberi layanan bimbingan kelompok.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.4.1 Manfaat Teoritis
Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan pengembangan bimbingan kelompok, yaitu hasil-hasil penelitian baru guna meningkatkan pelayanan bimbingan dan konseling khususnya dalam setting sekolah.
1.4.2 Manfaat Praktis
Layanan bimbingan kelompok dapat menjadi masukan bagi peneliti dalam pengelolaan pelaksanaan bimbingan kelompok dan pengembangan karakter mandiri.

CONTOH LENGKAP PTK BK SMP KURTILAS TERBARU WORD

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Tinjauan pustaka merupakan suatu komponen yang penting dalam suatu penelitian, karena dapat dijadikan sebagai kerangka berfikir bagi peneliti untuk memahami dan menerangkan fenomena yang menjadi pusat perhatian peneliti. Dalam bab ini akan diuraikan tinjauan pustaka yang melandasi penelitian, yaitu penelitian terdahulu, karakter mandiri, layanan bimbingan kelompok, karakter mandiri siswa dapat dikembangkan melalui layanan bimbingan kelompok dan hipotesis.
2.1 Kemandirian
Setiap individu cenderung mengharapkan potensi dirinya dapat berkembang secara optimal kearah yang lebih baik. Hal ini dapat diperoleh individu dengan memiliki jiwa mandiri. Pembahasan mengenai kemandirian diawali dengan pengertian mandiri, ciri-ciri mandiri, faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian, dan upaya pengembangan kemandirian siswa.

2.1.1 Pengertian Kemandirian
Mandiri berasal dari kata diri, dimana setiap membahas kata mandiri tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan diri itu sendiri. “Mandiri diartikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan keputusan dan adanya sikap percaya diri” (Chaplin, 1996: 105). Contoh ptk bk smp kelas 8 Dalam pandangan konformistik/sudut pandang yang berpusat pada masyarakat, kemandirian merupakan konformitas terhadap prinsip moral kelompok rujukan. Oleh karena itu, “individu yang mandiri adalah individu yang berani mengambil keputusan dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekuensi dari tindakannya” (Ali dan Asrori, 2005: 110).

Nilai kemandirian merupakan salah satu nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan karakter pada jalur pendidikan menengah pertama. Nilai karakter yang dikembangkan tersebut tercakup dalam lima kategori (Kemendiknas, 2010), diantaranya nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri, nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama, nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan, dan nilai karakter dalam hubungannya dengan kebangsaan. Setiap kategori karakter tersebut terdapat nilai-nilai yang akan dikembangkan dan nilai karakter mandiri berada dalam kategori nilai karakter yang hubungannya dengan diri sendiri. Nilai kemandirian didefinisikan oleh Kemendiknas (2010: 17) sebagai “Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas”.

2.1.2 Ciri-Ciri Kemandirian
Gea (2003: 195) mengatakan bahwa individu dikatakan mandiri apabila memiliki lima ciri sebagai berikut: 1) percaya diri, 2) mampu bekerja sendiri, 3) menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya, 4) menghargai waktu, dan 5) tanggung jawab.
Kelima ciri-ciri individu mandiri tersebut, dapat dijelaskan oleh penulis sebagai berikut: 1) percaya diri, adalah meyakini pada kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif, 2) mampu bekerja sendiri, adalah usaha sekuat tenaga yang dilakukan secara mandiri untuk menghasilkan sesuatu yang membanggakan atas kesungguhan dan keahlian yang dimilikinya. 3) menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya, adalah mempunyai keterampilan sesuai dengan potensi yang sangat diharapkan pada lingkungan kerjanya. 4) menghargai waktu, adalah kemampuan mengatur jadwal sehari-hari yang diprioritaskan dalam kegiatan yang bermanfaat secara efesien, dan 5) tanggung jawab, adalah segala sesuatu yang harus dijalankan atau dilakukan oleh seseorang dalam melaksanakan sesuatu yang sudah menjadi pilihannya atau dengan kata lain, tanggung jawab merupakan sebuah amanat atau tugas dari seseorang yang dipercayakan untuk menjaganya.

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian
Sebagai hasil dari proses belajar pencapaian karakter mandiri dipengaruhi oleh banyak faktor, Ali dan Asrori (2005: 118-119) mengemukakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi kemandirian remaja, yaitu:
2.1.3.1 Gen atau keturunan orang tua
Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.
2.1.3.2 Pola asuh orang tua
Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata ”jangan” kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga, orang tua yang cenderung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.

2.1.3.3 Sistem pendidikan di sekolah
Sistem pendidikan di sekolah adalah sistem pendidikan yang ada di sekolah tempat anak dididik dalam lingkungan formal. Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian siswa. Sebaliknya, proses pendidikan di sekolah yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap anak dan penciptaan kompetensi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian belajar.

2.1.4 Upaya Pengembangan Kemandirian
Nilai kemandirian merupakan kecakapan yang berkembang sepanjang rentang kehidupan individu, yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman dan pendidikan. Upaya untuk mengembangkan nilai kemandirian melalui ikhtiar pengembangan atau pendidikan sangat diperlukan untuk kelancaran perkembangan kemandirian siswa. judul ptk bk smp  Pendidikan di sekolah perlu melakukan upaya-upaya pengembangan kemandirian siswa. Desmita (2009: 190) mengemukakan upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mengembangkan kemandirian siswa adalah:

1) mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa dihargai. 2) mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah. 3) memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekplorasi lingkungan serta mendorong rasa ingin tahu. 4) penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lainnya. 5) menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemandirian siswa adalah: melakukan tindakan penciptaan kebebasan keterlibatan dan partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan, menciptakan hubungan yang akrab, hangat dan harmonis dengan siswa, menciptakan keterbukaan, penerimaan positif tanpa syarat, menciptakan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan serta menciptakan empati kepada siswa.
2.2 Layanan Bimbingan Kelompok
Salah satu layanan dalam bimbingan konseling yang diselenggarakan dalam situasi kelompok adalah layanan bimbingan kelompok. Pembahasan yang berkaitan dengan konsep layanan bimbingan kelompok meliputi pengertian bimbingan kelompok, tujuan layanan bimbingan kelompok, jenis-jenis bimbingan kelompo, asas-asas layanan bimbingan kelompok, fungsi bimbingan kelompok, komponen-komponen layanan bimbingan kelompok, tahap-tahap layanan bimbingan kelompok, dan operasionalisasi layanan bimbingan kelompok yang semuanya akan diuraikan sebagai berikut:

2.2.1 Pengertian Layanan Bimbingan Kelompok
Dalam bimbingan dan konseling ada beberapa layanan. Salah satu layanan yang ada dalam bimbingan dan konseling adalah layanan bimbingan kelompok. Prayitno dan Amti (2004: 309) menyatakan bahwa “bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok”. Kegiatan bimbingan kelompok akan terlihat hidup jika di dalamnya terdapat dinamika kelompok. Seperti yang dijelaskan oleh Prayitno (1995: 178) bahwa, “bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok”.
Bimbingan kelompok memungkinkan individu secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber dan membahas secara bersama-sama topik tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dalam kehidupannya sehari-hari dan untuk perkembangan dirinya secara optimal. Gazda dalam Prayitno (2004: 309) menjelaskan bahwa

“bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat”. Dijelaskan pula oleh Romlah (2001: 3) bahwa
“Bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dan dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya dan lingkungannya, dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan dapat mengembangkan dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian menyimpulkan bimbingan kelompok sebagai proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok”.


2.2.2 Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok
Setiap pelaksanaan dari kegiatan pasti ada tujuan yang akan dicapai, begitu juga dalam kegiatan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok sebagai salah satu bagian dari layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dalam situasi kelompok memiliki beberapa tujuan. Adapun beberapa tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh beberapa beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:
Prayitno (2004: 2) mengemukakan tujuan bimbingan kelompok dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan secara umum dan tujuan secara khusus.
1. Tujuan umum layanan bimbingan kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Contoh ptk bk smp kelas 8
2. Tujuan khusus layanan bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik tertentu yang mengandung permasalahan aktual (hangat) dan menjadi perhatian peserta. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi, verbal maupun non verbal ditingkatkan.

Dari tujuan secara umum dan khusus di atas dapat disimpulkan bahwa
kemampuan sosialisasi anggota kelompok, khususnya kemampuan berkomunikasi anggota layanan bimbingan kelompok, baik secara verbal maupun non verbal. Tujuan yang bersifat secara umum yaitu untuk semua anggota kelompok dan tujuan yang bersifat khusus yaitu untuk pribadi setiap anggota kelompok.

2.2.3 Jenis-Jenis Layanan Bimbingan Kelompok
Pelaksanaan bimbingan kelompok dapat dikembangkan dua jenis kelompok, yaitu “kelompok bebas dan kelompok tugas” (Prayitno, 1995: 25). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
2.2.3.1 Bimbingan kelompok tugas
Dalam penyelengaraan bimbingan kelompok tugas ini, arti dan isi kegiatannya tidak ditentukan oleh para anggota kelompok melainkan diartikan kepada penyelesain tugas. Tugas yang dikerjakan kelompok itu berasal dari pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok mengemukakan suatu tugas untuk dibahas dan diselenggarakan oleh anggota kelompok.
2.2.3.2 Bimbingan kelompok bebas
Dalam kegiatannya, anggota bisa mengemukakan segala pikiran dan perasaannya dalam kelompok. Topik yang dibahas berasal dari anggota kelompok. Selanjutnya, apa yang disampaikan anggota dalam kelompok itulah yang menjadi pokok bahasan kelompok.

2.2.4 Asas-Asas Layanan Bimbingan Kelompok
Kegiatan bimbingan kelompok tidak terlepas dari asas-asas yang harus dipatuhi agar tujuan bimbingan kelompok dapat tercapai. Prayitno (2004: 14) menjelaskan asas-asas bimbingan kelompok sebagai berikut:
2.2.4.1 Kesukarelaan
Sikap sukarela harus ada pada diri konselor maupun klien. Klien secara sukarela mengikuti kegiatan bimbingan kelompok tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Sedangkan pihak konselor hendaknya memberi bantuan secara sukarela tanpa ada unsur keterpaksaan.
2.2.4.2 Keterbukaan
Asas keterbukaan merupakan asas untuk mempermudah pencapaian tujuan bimbingan diharapkan. Anggota kelompok harus terbuka tentang pengalaman yang dimilikinya dan mampu menceritakannya kepada anggota kelompok lainnya. 

2.2.4.3 Kegiatan
Proses bimbingan kelompok berhasil apabila klien dapat mnyelenggarakan kegiatan yang dimaksud dalam menyelesaikan topik yang dibahas. Asas kegiatan ini menghendaki agar setiap anggota kelompok aktif menemukakan pendapat, menyangga, dan aktif berbicara dalam kegiatan kelompok.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang menjadi asas dalam bimbingan kelompok antara lain asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kegiatan, asas kenormatifan, asas kekinian, dan asas kerahasiaan.

2.2.5 Fungsi Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok dapat dijadikan media pemberian bantuan kepada individu dalam suasana kelompok. Layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk memungkinkan individu secara bersama-sama memperoleh berbagai informasi yang bermanfaaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu. Romlah (2001: 3) mengemukakan bahwa “bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa”.
2.3.6 Komponen-Komponen Layanan Bimbingan Kelompok
Prayitno (2004: 4-13) mengemukakan adanya komponen-komponen yang harus diperhatikan sehingga bimbingan kelompok dapat berjalan, yaitu:
2.2.6.1 Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok (PK) adalah konselor yang terlatih dan berwenang menyelenggarakan praktik konseling professional. Sebagaimana untuk jenis layanan konseling lainnya, konselor memiliki keterampilan khusus menyelengarakan bimbingan kelompok. Download ptk bk smp pdf  PK diwajibkan menghidupkan dinamika kelompok antara semua peserta seintensif mungkin yang mengarah kepada pencapaian tujuan–tujuan umum dalam bimbingan kelompok.
PK agar dapat menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional, hendaknya memiliki karakteristik sebagai seorang yang mampu membentuk dan mengarahkan kelompok sehingga terjadi dinamika kelompok, berwawasan luas dan tajam, serta memiliki kemampuan hubungan antar-personal yang hangat dan nyaman.

Sehubungan dengan keterampilan dan sikap yang menyangkut hal-hal tersebut di atas, peranan PK menurut Prayitno (2004: 7) yaitu sebagai berikut :
“Dalam mengarahkan suasana kelompok melalui dinamika kelompok, pemimpin kelompok mempunyai peranan: 1) Pembentukan kelompok dari sekumpulan (calon) peserta (terdiri dari 8-10 orang), sehingga terpenuhi syarat-syarat kelompok yang mampu secara aktif mengembangkan dinamika kelompok, 2) Penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok apa, mengapa dan bagaimana layanan bimbingan kelompok dilaksanakan, 3) Pentahapan kegiatan bimbingan kelompok, 4) Penilaian segera (laiseg) hasil layanan bimbingan kelompok, dan 5) Tindak lanjut layanan”.


2.2.6.2 Anggota Kelompok
Tidak semua kumpulan atau individu dapat dijadikan anggota bimbingan kelompok. Untuk terselengaranya bimbingan kelompok seorang konselor harus membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok sesuai dengan persyaratan yang ada. Besarnya kelompok (jumlah anggota kelompok), dan homogenitas/heterogenitas anggota kelompok dapat mempengaruhi kinerja kelompok. Sebaiknya jumlah kelompok tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

2.2.6.3 Dinamika Kelompok
Kelompok yang baik adalah kelompok yang di dalamnya diwarnai oleh semangat yang tinggi, kerjasama yang lancar dan mantap, serta adanya saling mempercayai di antara anggota-anggotanya. Kekuatan yang mendorong kehidupan dalam kelompok disebut dengan dinamika kelompok. Prayitno (1995: 23) mendefinisikan dinamika kelompok merupakan “sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu”.

Dapat disimpulkan bahwa dinamika kelompok merupakan kekuatan operasional suatu kelompok yang akan memicu adanya proses kelompok dalam melakukan pertukaran semangat dan komunikasi di antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok. Sehingga apabila dinamika kelompok dapat terjadi kemungkinan besar tujuan dari bimbingan kelompok dapat tercapai.

2.2.7 Tahap-Tahap Layanan Bimbingan Kelompok
Tahap dalam kegiatan bimbingan kelompok merupakan suatu kesatuan dalam keseluruhan kegiatan kelompok. Prosedur pelaksanaan dari bimbingan kelompok dibagi menjadi empat tahap. Menurut Prayitno (1995: 40-60) yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pengakhiran. Pada masing–masing tahap tersebut mempunyai sub–sub tahap dalam pelaksanaan bimbingan kelompok. Di samping keempat tahap itu masih ada yang disebut tahap awal. Tahap awal berlangsung sampai berkumpulnya para (calon) anggota kelompok dan dimulainya tahap pembentukan. Tahap–tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

2.2.7.1 Tahap pembentukan
Tahap pembentukan yaitu tahapan untuk membentuk kerumunan sejumlah individu menjadi satu kelompok yang siap mengembangkan dinamika kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Tahap ini merupakan tahap pengenalan dan keterlibatan anggota ke dalam kelompok dengan tujuan anggota lebih memahami maksud dan tujuan bimbingan kelompok. Pemahaman ini memungkinkan anggota untuk berperan secara aktif dalam bimbingan kelompok dan selanjutnya dapat menumbuhkan minat untuk mengikuti bimbingan kelompok. Tahap ini juga bertujuan untuk menumbuhkan suasana saling mengenal, saling percaya, saling menerima dan membantu antar angota kelompok.
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah pengungkapan pengertian dan tujuan dari kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling, penjelasan cara dan asas-asas bimbingan kelompok, perkenalan dan pengungkapan diri dari anggota kelompok, serta melakukan permainan keakraban bila diperlukan.

2.2.7.2 Tahap peralihan
Tahap peralihan atau disebut juga tahap transisi merupakan tahapan untuk mengalihkan kegiatan dari tahap pembentukan ke tahap kegiatan yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok. Pada tahap ini pemimpin kelompok menegaskan jenis bimbingan kelompok yaitu tugas atau bebas. Kegiatan yang dilakukan pemimpin kelompok pada tahap ini adalah menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya, membahas suasana yang terjadi, dan meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota kelompok.
Pada tahap peralihan, anggota dimantabkan lagi sebelum masuk ke tahap selanjutnya. Anggota juga ditanya mengenai harapan yang ingin dicapai dalam kegiatan bimbinan kelompok. Setelah jelas kegiatan apa yang harus dilakukan maka tidak akan muncul keraguan atau belum siapnya anggota dalam melaksanakan kegiatan dan manfaat yang diperoleh setiap anggota kelompok.

2.2.7.3 Tahap kegiatan
Tahap kegiatan merupakan tahap inti dari kegiatan bimbingan kelompok. Dalam tahap ini, pembahasan topik dilakukan dengan menghidupkan dinamika kelompok. Tahap kegiatan ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kehidupan kelompok. Tujuan yang hendak dicapai dalam tahap ini yaitu terbahasnya secara tuntas permasalahan yang dihadapi anggota kelompok dan terciptanya suasana untuk mengembangkan diri, baik menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun pendapat yang dikemukakan oleh anggota kelompok.

Dalam tahap ini, perbedaan kelompok topic tugas dan kelompok topic bebas terlihat secara nyata. Kegiatan yang dilakukan pada kelompok topik tugas adalah pemimpin kelompok mengemukakan satu topik untuk dibahas oleh kelompok, kemudian terjadi tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang belum jelas mengenai topik yang dikemukakan oleh pemimpin kelompok. Selanjutnya anggota membahas topik tersebut secara mendalam dan tuntas, serta dilakukan kegiatan selingan bila diperlukan. proposal ptk bk smp pdf
Sedangkan untuk kelompok topik bebas, kegiatan yang dilakukan adalah masing-masing anggota secara bebas mengemukakan topik bahasan, selanjutnya menetapkan topik yang akan dibahas dulu, kemudian anggota membahas secara mendalam dan tuntas, serta diakhiri kegiatan selingan bila perlu.

2.2.8 Operasionalisasi Layanan Bimbingan Kelompok
Dalam mempersiapkan penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok, agar dapat berjalan dengan baik, maka perlu dilaksanakan tahap-tahap layanan secara sistematis, tahap-tahap tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam tabel berikut:
Tabel 2.1
Operasionalisasi Layanan Bimbingan Kelompok

2.3 Meningkatkan Nilai Kemandirian Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok
Dalam meningkatkan nilai kemandirian siswa, peneliti menggunakan salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling, yaitu bimbingan kelompok. Adapun alasan peneliti menggunakan layanan ini adalah sesuai dengan upaya pengembangan kemandirian yang dikemukakan oleh Ali dan Asrori (2005) bahwa untuk mengembangkan kemandirian remaja dapat dilakukan cara yaitu: penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja, penciptaan keterbukaan, penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan, penerimaan positif tanpa syarat, menciptakan empati, serta menciptakan hubungan yang hangat.
Dalam kegiatan bimbingan kelompok, siswa dilatih untuk berpatisipasi aktif mengemukakan pendapat terhadap topik yang dibahas berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Hal tersebut membuat siswa terlibat dalam suasana yang tumbuh dan berkembang dalam kelompok. Keterlibatan siswa dalam kegiatan bimbingan kelompok akan mempengaruhi timbulnya dinamika kelompok.

Dari penjabaran tersebut, maka layanan bimbingan kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan nilai kemandirian siswa. Asumsinya melalui bimbingan kelompok dapat mengajari siswa untuk belajar mandiri mengemukakan pendapat, keterbukaan, hubungan yang hangat, serta partisipasi dan keterlibatan siswa dalam kelompok. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengembangkan kemandirian siswa. Dari uraian tersebut maka nampak jelas bahwa layanan bimbingan kelompok dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan nilai kemandirian siswa.

2.4 Hipotesis
Berdasarkan kajian teoritis di atas maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut : layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan nilai kemandirian siswa kelas 8B SMPN 3 ...  Kabupaten Bandung.

DOWNLOAD CONTOH PROPOSAL PTK KENAIKAN PANGKAT GURU SMP

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


Keberhasilan kegiatan yang dilakukan dalam suatu penelitian banyak ditentukan oleh tepatnya metode yang digunakan. Ketepatan dalam memilih metode akan mengatur arah serta tujuan penelitian. Dalam bab ini akan dibahas tentang metode penelitian. Ada beberapa hal yang dapat menentukan langkah¬langkah pelaksanaan kegiatan penelitian. Hal ini bertujuan untuk melaksanakan kegiatan penelitian secara sistematis. Adapun langkah-langkah yang harus ditentukan adalah (1) jenis penelitian, (2) desain penelitian, (3) variabel penelitian, (4) populas, sampel, dan teknik sampling, (5) metode dan alat pengumpul data, (7) validitas dan reliabilitas instrumen, (7) teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian
Penelitian dapat diklasifikasikan dalam berbagai macam cara dan sudut pandang. Dipandang dari cara penelitiannya, penelitian dapat dibagi menjadi dua macam sebagaimana diuraikan oleh Arikunto (2006: 3) yaitu “operation research (action research) dan eksperiment”. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah “suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu” (Arikunto, 2006: 3).

3.2 Desain Penelitian
Secara garis besar penelitian eksperimen dibagi menjadi dua desain yaitu pre-eksperimental design dan true-eksperimental design (Arikunto, 2006: 84). Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental design. Menurut Arikunto (2006: 84) pre-experimental design seringkali dipandang sebagai eksperimen yang tidak sebenarnya. Download ptk bk smp doc Oleh karena itu sering disebut juga dengan istilah “quasi eksperiment” atau eksperimen pura-pura. Disebut demikian karena eksperimen jenis ini belum memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan¬peraturan tertentu.
Di dalam penelitian pre-eksperimental design terdiri 3 jenis desain yaitu (a) one shot case study, (b) pre test and post test, (c) static group comparasion (Arikunto, 2006: 84). Penelitian ini menggunakan desain pre test dan post test, karena dalam penelitian ini pengukuran dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pertama digunakan untuk mengetahui perkembangan nilai kemandirian siswa sebelum diberi layanan bimbingan kelompok (pre test) dengan kode O1, sedangkan pengukuran yang kedua dilakukan untuk mengetahui perkembangan nilai kemandirian siswa setelah diberi layanan bimbingan kelompok (post test)
dengan kode O2. Perbedaan antara O1 dan O2 diasumsikan sebagai efek dari treatment atau eksperimen yang telah dilakukan. Desain gambar pre test dan post test sebagai berikut:

Gambar 3.1
Design pre test dan post test

Desain penelitian eksperimen secara konkrit yang akan dilaksanakan di SMPN 3 ...  Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut:

3.2.1 Pre test
Pre test dilakukan sebelum pemberian treatment dengan menggunakan instrumen skala karakter mandiri. Tujuan pre test adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemandirian siswa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok. Hasil dari pre test ini akan menjadi bahan perbandingan pada post test.

 3.2.2 Treatment (perlakuan)
Treatment (perlakuan) yang diberikan adalah berupa layanan bimbingan kelompok. Tujuan treatment atau perlakuan adalah untuk meningkatkan nilai kemandirian siswa. Treatment atau perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok, yang akan dilaksanakan selama delapan kali pertemuan dan masing¬masing pertemuan berlangsung kurang lebih 60 menit. Setiap pertemuan layanan bimbingan kelompok dilaksanakan empat tahap yaitu, tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran.
Tabel 3.1
Rencana Pemberian Layanan Bimbingan Kelompok Topik Tugas
3.2.3 Post test
Post test dilakukan setelah pemberian treatment dengan menggunakan skala karakter mandiri yang telah digunakan pada saat mengadakan pre test. Post test bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari treatment yang telah dilakukan dan mengetahui seberapa besar tingkat kemandirian siswa setelah dilakukan treatment.
3.2.4 Proses analisis data
Proses analisis data yaitu menganalisis data yang sudah terkumpul dengan menggunakan perhitungan uji wilcoxon match pairs dan analisis deskriptif persentase. Dalam penelitian ini digunakan perhitungan uji wilcoxon match pairs karena data yang digunakan dalam penelitian berbentuk ordinal dan memiliki hipotesis komparasi dua sampel berpasangan. Uji wilcoxon match pairst tidak dilandasi persyaratan data harus berdistribusi normal. ptk bk smp pdf

3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah “suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2008: 38). Dalam penelitian ini akan digunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Menurut Sugiyono (2008: 39), variabel bebas adalah “variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat”. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Di dalam variabel penelitian akan dibahas beberapa hal sebagai berikut: (1) identifikasi variabel, (2) hubungan antar variabel, dan (3) definisi operasional variabel. Penjelasan dari bagian tersebut adalah sebagai berikut:
3.3.1 Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diteliti, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah layanan bimbingan kelompok. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemandirian siswa.

3.3.2 Hubungan Antar Variabel
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas (X) layanan bimbingan kelompok dan variabel terikat (Y) kemandirian siswa. Variabel bebas (X) mempengaruhi variabel terikat (Y). Hubungan antar variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y) dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.2
Hubungan Antar Variabel

Pemberian layanan bimbingan kelompok sebagai variabel bebas bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kemandirian siswa melalui layanan bimbingan kelompok. Dengan demikian layanan bimbingan kelompok ini mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat yaitu berpengaruh terhadap kemandirian siswa.
3.3.3 Definisi Operasional Variabel
Sesuai dengan identifikasi variabel, dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang menjadi fokus penelitian. Dua variabel tersebut adalah variabel bebas (X) layanan bimbingan kelompok dan variabel terikat (Y) kemandirian siswa. Untuk memberikan pemahaman tentang dua variabel tersebut, maka akan dikemukakan definisi operasional sebagai berikut:

3.4 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
3.4.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006: 130). Sedangkan menurut Sugiyono (2009: 117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 8B SMPN 3 ...  Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, yang berjumlah 48 siswa. Pengambilan populasi ini berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru pembimbing dan guru mata pelajaran bahwa kelas 8B memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelas 8 lainnya. Pengambilan populasi ini berdasarkan rekomendasi juga dari guru pembimbing serta beberapa guru mata pelajaran.

3.4.2 Sampel
”Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 2009: 118). Sedangkan menurut Arikunto (2006: 131) sampel adalah ”sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang dikenai penyelidikan yang dapat mewakili populasi.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 12 siswa. Pertimbangan jumlah anggota 12 siswa yaitu karena dipandang lebih efisien dan efektif. Efesien yang dimaksud adalah mempertimbangkan karena keterbatasan waktu, tenaga dan dana. Sedangkan efektif dimaksudkan sejumlah subyek yang diambil sebagai sampel dalam penelitian sudah tepat, dalam hal ini pengambilan subyek berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian yaitu siswa-siswa yang tingkat kemandiriannya sangat rendah, rendah, cukup, tinggi dan sangat tinggi.

3.4.3 Teknik Sampling
Cara pengambilan sampel dalam penelitian kali ini adalah dengan probability sampling. Probability sampling adalah “teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel” (Sugiyono, 2008: 82). Penelitian ini menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Teknik proportionate stratified random sampling adalah “teknik penentuan sampel dimana populasinya mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional” (Sugiyono, 2008: 82). Cara pengambilan sampel secara proportionate stratified random sampling ini memberikan hak yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. proposal ptk bk smp pdf

Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Mengukur tingkat kemandirian siswa dengan menggunakan skala karakter
mandiri sekalian melakukan pre test.
2. Mengklasifikasikan dan menghitung hasil skala karakter mandiri dalam lima kategori, yaitu sangat rendah, rendah, cukup, tinggi dan sangat tinggi, sehingga akan diperoleh data siswa yang memiliki kemandirian sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.
3. Mengambil sampel penelitian dengan cara membuat proporsi untuk setiap kategori. Dalam penelitian ini akan diambil 12 siswa yang memiliki kemandirian rendah sampai sangat tinggi.
Dalam penelitian ini diambil sampel 12 siswa dikarenakan di dalam bimbingan kelompok dituntut adanya homogenitas dan heterogenitas. Homogen karena anggota memiliki tingkat perkembangan yang relatif sama (umur), sedangkan heterogen yaitu anggota merupakan pribadi yang unik, karakteristik yang berbeda, latar belakang sosial ekonomi yang beragam dan pendidikan yang beragam.
Tabel 3.2
Sampel Penelitian Bimbingan Kelompok

3.5 Metode dan Alat Pengumpulan Data
3.5.1 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan salah satu langkah yang terpenting dalam penelitian. Mengumpulkan berarti mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode atau teknik pengumpulan data tertentu. Dalam penelitian ini data yang akan dikumpulkan yaitu tingkat kemandirian siswa SMPN 3 ...  Kabupaten Bandung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala psikologi.
Skala psikologis adalah alat yang digunakan untuk mengukur atribut psikologis. Atribut yang diungkap adalah kemandirian siswa. Alasan menggunakan skala psikologi sebagai alat ukur adalah karena variabel karakter mandiri merupakan atribut psikologi yang sifatnya tidak tampak. Ditegaskan oleh Azwar (2004: 3) bahwa skala psikologi merupakan “alat ukur aspek psikologis atau atribut afektif”. Menurut Azwar (2004: 4) 

karakteristik skala psikologi antara lain sebagai berikut :
1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
2. Skala psikologi selalu berisi banyak item dikarenakan atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indikator¬indikator perilaku sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk item-item.
3. Respons subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. Hanya saja, jawaban yang berbeda akan diinterpretasikan berbeda pula.
Pertanyaan atau pernyataan dalam skala psikologi digunakan sebagai Pertanyaan atau pernyataan yang diajukan dirancang untuk mengumpulkan indikasi dari aspek kemandirian siswa. Responden tidak mengetahui arah jawaban dari pertanyaan atau pernyataan yang dibuat.

3.5.2 Alat Pengumpul Data
Skala psikologi digunakan untuk memperoleh data penjaringan sampel, pre test dan post test. Penjaringan sampel menggunakan skala karakter mandiri untuk mencari informasi siswa yang kemandiriannya sangat rendah sampai ke tingkatan yang sangat tinggi, setelah diperoleh sampel maka hasil skala karakter mandiri dijadikan sebagai data pre test. Skala karakter mandiri digunakan juga pada saat post test, data post test digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemandirian siswa sesudah diberikan treatment.
Penentuan alat pengumpul data yang akan digunakan dalam penelitian ditentukan berdasarkan variabel terikat yang akan diamati yaitu kemandirian siswa. Untuk itu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah skala karakter mandiri. Pernyataan dalam skala karakter mandiri digunakan sebagai stimulus untuk memancing jawaban yang berupa refleksi dari keadaan responden. Pernyataan yang diajukan dirancang untuk mengumpulkan indikasi dari aspek karakter mandiri siswa.
Table 3.3
Kategori Jawaban Instrumen Penelitian Skala Karakter Mandiri

Table 3.4
Kriteria Penilaian Tingkat Karakter Mandiri

Berdasarkan tabel diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa siswa yang mendapatkan skor sangat rendah, sedang, cukup, tinggi dan sangat tinggi, mempunyai kemungkinan atau kesempatan yang sama untuk diberikan treatment agar kemandirian siswa dapat meningkat.
Pada saat treatment dilakukan, peneliti juga menggunakan lembar observasi berupa daftar cek untuk mengamati anggota kelompok selama treatment dilakukan. Alasannya yaitu peneliti ingin mengamati perubahan pada indikator yang terdapat dalam penelitian.
Tabel 3.5
Penskoran Item Daftar Cek Anggota Kelompok

3.5.3 Penyusunan Instrumen
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen dilaksanakan dengan beberapa tahap, baik dalam pembuatan maupun uji coba. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Contoh ptk bk smp kelas 8
Gambar 3.3
Prosedur penyusunan instrumen

Bagan di atas merupakan langkah-langkah menyusun instrumen yang dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu peneliti membuat dan menyusun kisi-kisi instrumen yang meliputi variabel, indikator, deskriptor dan nomor soal, menyusun pernyataan, kemudian instrumen jadi berupa skala, selanjutnya direvisi dan instrumen jadi.
Tabel 3.6
Kisi-kisi instrumen tentang karakter mandiri siswa

3.6 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
3.6.1 Validitas Instrumen
Menurut Arikunto (2006: 168) validitas adalah “suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen”. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud. Dalam penelitian ini menggunakan uji validitas internal, dimana instrumen dikatakan valid apabila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional (teoretis) telah mencerminkan apa yang diukur (Sugiyono, 2009: 174).

Sebelum digunakan sebagai alat pengumpul data, skala karakter mandiri akan terlebih dahulu diujicobakan kepada siswa SMPN 3 ... . Hasil uji coba akan dianalisis dengan menggunakan analisis butir. Skor yang ada pada item dikorelasikan dengan skor total. Hasil analisis kemudian dikonsultasikan dengan harga kritik r product moment dengan taraf signifikansi (ά) = 5%. Apabila r hitung lebih besar dari r kritik product moment maka instrumen dikatakan valid dan dapat digunakan untuk mengambil data. Alasannya adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian atau kesejajaran antara hasil tes dengan kriteria. Validitas empiris dari tes ini dicari melalui uji coba tes dengan menggunakan korelasi product moment angka kasar dengan rumus sebagai berikut:
Rumus 3.4

Reliabilitas Instrumen
Arikunto (2006: 178) mengemukakan bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tepat. Reliabel tes dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Adapun rumus Alpha adalah sebagai berikut :
Rumus 3.5

Dari hasil perhitungan dengan rumus Alpha, kemudian dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r (reliabilitas). Apabila angka analisis yang diperoleh dari hasil perhitungan (r analisis atau r11) mempunyai reliabilitas tinggi, maka instrumen tersebut adalah reliabel atau dapat dipercaya untuk digunakan dalam penelitian.

3.6.3 Hasil Uji Coba Instrumen penelitian
3.6.3.1 Uji Validitas Instrumen Skala Karakter Mandiri
Berdasarkan hasil pengujian validitas item dengan menggunakan rumus product moment, diketahui bahwa dari 87 item yang diajukan terhadap 40 responden diperoleh diperoleh 23 item yang tidak valid. Dari 23 nomor item tersebut antara lain 7, 8, 12, 17, 24, 29, 31, 35, 39, 42, 46, 53, 56, 59, 60, 63, 65, 69, 71, 75, 79, 80, dan 84. Item yang tidak valid tersebut kemudian dibuang dan tidak digunakan dalam penelitian, karena telah terwakili oleh item yang lain sesuai dengan indikator dalam instrumen. Sehingga instrumen karakter mandiri siswa dalam penelitian ini adalah 64 item pernyataan.
3.6.3.2 Uji Reliabilitas Instrumen Skala Karakter Mandiri
Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha terdapat 40 responden, skala karakter mandiri siswa dinyatakan reliabel, karena
r11> rtabel dengan nilai r11 = 0,941 dan rtabel = 0,312.

3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah. Download ptk bk smp pdf Dengan analisis data ini akan diperoleh hasil pengungkapan data yang telah diungkap melalui instrumen penelitian dan menghasilkan bukti terhadap adanya hal yang diteliti.
3.7.1 Analisis Data Kuantitatif
Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui hasil penelitian dalam bentuk angka. Analisis data kuantitatif yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase dan uji wilcoxon.
3.7.1.1 Analisis Deskriptif Persentase
Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan :
(1) Tingkat karakter mandiri siswa sebelum mendapatkan layanan bimbingan kelompok (pre test).
(2) Tingkat karakter mandiri siswa setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok (post test).
Adapun rumus yang digunakan :
Rumus 3.6

3.7.1.2 Uji Wilcoxon
Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistic non parametric, dengan menggunakan uji wilcoxon match pairst. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh dalam penelitian ini berbentuk ordinal. Data ordinal adalah data yang memiliki rangking dan jarak antara keduanya tidak diketahui.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistic non parametrik dengan menggunakan rumus “wilcoxon match pairst”, yaitu untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel berpasangan bila datanya berbentuk ordinal” (Sugiyono, 2007: 134). Selain itu uji wilcoxon match pairst tidak menerapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitian. Uji wilcoxon match pairst tidak dilandasi persyaratan data harus berdistribusi normal.
Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan indeks tabel wilcoxon, jika hasil analisis lebih besar dari indeks tabel wilcoxon maka kemandirian siswa dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok. Cara pengambilan keputusan menggunakan taraf signifikansi 5% melalui ketentuan sebagai berikut: Download ptk bk smp doc 
(3) Ho diterima dan Ha ditolak apabila Zhitung lebih kecil dari Ztabel.

3.7.2 Analisis Data Kualitatif
Analisis data kualitatif merupakan analisis data yang berupa kalimat. Analisis data kualitatif digunakan untuk menafsirkan hasil analisis data kuantitatif dan untuk mengetahui hasil penelitian menggunakan kalimat. Analisis data kualitatif diperoleh berdasarkan penafsiran hasil observasi dan penafsiran dari hasil analisis data menggunakan rumus analisis deskriptif persentase dan analisis
data wilcoxon match pairs test.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) BK SMP DENGAN METODE TERBARU

DAFTAR PUSTAKA


Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2005. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka cipta.
Azwar, Saifuddin. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Basri, Hasan. 2004. Remaja Berkualitas (Problematika Remaja dan Solusinya). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaplin. 1996. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Press.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Depdiknas. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.
Familia. 2006. Membuat Prioritas Melatih Anak Mandiri. Yogyakarta: Kanisius.
Gea, Antonius Atosakhi, dkk. 2003. Character Building 1 Relasi dengan Diri Sendiri (edisi revisi). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Gibson, Robert L dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jas, Walneg S. 2010. Wawasan Kemandirian Calon Sarjana. Jakarta: PT RajaGarafindo Persada.
Mustari, Mohamad. 2011. Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan Karakter. Yogyakarta: laksbang Pressindo.
Nurchaili. 2010. ‘Membentuk Kerakter Siswa Melalui Keteladanan Guru’. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 16 Edisi Khusus III. Hal. 233-244
Permana, Muhammad Sidiq. 2010. Program Bimbingan dan Konseling Untuk Meningkatkan Kemandirian Siswa (Penelitian Pra-Eksperimental
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (dasar dan profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Prayitno dan Erman Amti.2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno. 2004. Layanan Bimbingan dan Konseling. Padang: BK FIP.
Pusparini, Ika. 2012. Efektifitas Layanan Bimbingan Kelompok Melalui Teknik Home Room Dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa Kelas XI SMK PGRI 01 Semarang Tahun Pelajaran 201 1/2012. Skripsi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP PGRI Semarang.
Ratna, Yuyun Tri. 2010. Upaya Meningkatkan Kemandirian Siswa dalam memilih karier melalui layanan Informasi Karier di Kelas X2 SMA Negeri 1 Sirampog Brebes Tahun Pelajaran 2009/201 0. Skripsi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang.
Romlah, Tatiek. 2001. Teori dan Praktik. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sukardi, Dewa Ketut dan Desak P.E Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2007. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, Sumadi. 1998. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi Offset.
Wibowo, Mungin Eddy. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UNNES Press.
Winkel, W.S dan M.M Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.
. 2009. Undang-Undang SISDIKNAS. Bandung: Fokusmedia.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTK BIMBINGAN KONSELING (BK) SMP KELAS VIII

Postingan terkait: