PTK BAHASA INDONESIA KELAS X SMA METODE JIGSAW

PTK BAHASA INDONESIA KELAS X SMA METODE JIGSAW-Pembelajaran sastra khususnya menganalisis keterkaitan unsur intrinsik cerita pendek dengan kehidupan sehari-hari kurang mendapat perhatian dari guru maupun siswa. Guru mengajarkan siswa tentang unsur intrinsik tanpa mengajarkan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, kemampuan mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  rendah. Hal ini disebabkan metode yang digunakan guru belum mampu mengubah kemampuan dan perilaku siswa dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana proses pembelajaran mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... , (2) bagaimana peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... , (3) bagaimana perubahan perilaku siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  selama mengikuti pembelajaran mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw. ptk bahasa indonesia sma pdf

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II dengan target nilai rata-rata atau ketuntasan minimal yaitu 70. Subjek penelitian ini adalah kemampuan mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... . Pengumpulan data siklus I dan siklus II menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik tes berupa kemampuan mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw. Teknik nontes berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, pedoman jurnal, dan pedoman dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.Proses pembelajaran mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (1) siswa dan guru menemukan materi mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi, (2) guru menyampaikan langkah¬langkah pembelajaran menggunakan metode jigsaw, (3) siswa diminta berkelompok menjadi lima kelompok yang selanjutnya disebut kelompok asal, (4) masing-masing anggota kelompok mendapat tugas menjadi ahli suatu unsur intrinsik tertentu, (5) siswa dengan tugas yang sama berkelompok menjadi kelompok ahli, (6) siswa menemukan materi tentang mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari secara berdiskusi dalam kelompok ahli, (7) siswa kembali pada kelompok asal dan menjelaskan hasil temuan dalam kelompok ahli, (8) guru membagikan teks eksposisi, (9) masing-masing siswa mengembangkan pendapat dalam Teks Eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, (10) Guru memberi masukan tentang kekurangan-kekurangan yang masih ada, (11) Guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah disampaikan.

Hasil analisis data siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata kelas. Hasil tes siklus I menunjukkan rata-rata sebesar 68,9 dan hasil tes siklus II menunjukkan nilai sebesar 80,3. Perubahan perilaku siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  mengalami peningkatan ke arah yang positif. Pada siklus I siswa cenderung pasif, kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang serius dalam berlatih, dan kurang percaya diri. Pada siklus II, perilaku siswa berubah menjadi aktif, memperhatikan penjelasan guru, serius dalam berlatih, dan menjadi percaya diri.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA SMA yang diberi judul PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGEMBANGAKAN PENDAPAT DALAM TEKS EKSPOSISI DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI MELALUI METODE JIGSAW PADA SISWA KELAS X-4 SMA NEGERI 3 ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016 ". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA SMA KELAS X lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 047).

DOWNLOAD PTK BAHASA INDONESIA KELAS X KURTILAS WORD

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Karya sastra merupakan hasil salah satu cabang kebudayaan, yakni kesenian. Sebagai cabang kesenian, sastra berfungsi memperjelas, memperdalam, dan memperkaya penghayatan manusia terhadap kehidupan yang sejahtera (Sumardjo dan Saini 1994:16). Karya sastra senantiasa menawarkan peran moral atau hikmah yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat kemanusiaan tersebut pada hakikatnya bersifat universal, artinya sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini oleh manusia sejagat.
Adapun dalam pembelajaran, sastra mempunyai peranan yang relatif penting dalam mempengaruhi watak, kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa siswa. Bertahannya pembelajaran sastra di sekolah karena pembelajaran sastra mempunyai peranan penting dalam mencapai berbagai aspek tujuan pendidikan, seperti aspek pendidikan susila, sosial, sikap, penilaian, dan keagamaan (Rusyana 1982:26). Sastra mampu mengolah watak pelajar, meliputi pandangan hidup atau pola pikir yang mendorong ketegasan sikap dan perilaku. Kini, ketika persoalan karakter diangkat menjadi garapan pendidikan, sastra patut diacu sebagai media sekaligus sumber pendidikan karakter yang bercita menyelamatkan moralitas bangsa dan membentuk peradaban luhur.

Pembelajaran sastra seperti prosa, puisi, dan drama bertujuan agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Resmini,201 1). Untuk memahami dan menghayati karya sastra, siswa diharapkan langsung membaca karya sastra bukan membaca ringkasannya. Tujuan akhirnya adalah menanamkan dan menumbuhkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik konteks individu maupun sosial. Download ptk bahasa indonesia sma pdf
Pembelajaran sastra khususnya menganalisis keterkaitan unsur intrinsik cerita pendek dengan kehidupan sehari-hari kurang mendapat perhatian dari guru maupun siswa. Guru mengajarkan siswa tentang unsur intrinsik tanpa mengajarkan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Pada saat observasi di kelas X-4 SMA Negeri 3 ... , peneliti menemukan beberapa masalah yang menunjukkan bahwa siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi. Banyak siswa tidak serius mengikuti pembelajaran serta tidak berkonsentrasi dalam pembelajaran. Mereka masih berbicara sendiri dengan temannya, merasa jenuh dan bosan menulis teks eksposisi, mengantuk, melamun, dan beberapa siswa pandangan matanya tertuju ke luar ruang kelas. Siswa merasa kesulitan dalam memahami dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dengan nilai rata-rata kelas 67. Nilai rata-rata ini masih belum mencapai KKM yaitu 70.

Teknik yang digunakan oleh guru tidak mengubah perilaku siswa dalam pembelajaran. Guru menggunakan teknik ceramah dan penugasan kepada siswa. Dalam teknik ini guru menerangkan secara lisan dan siswa mendengarkan, setelah kegiatan tersebut siswa diberi penugasan untuk mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi. Kegiatan pembelajaran yang digunakan oleh guru sebatas mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi di kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini dirasa masih kurang tepat untuk membelajarkan kemampuan membandingkan dan memproduksi teks eksposisi. 
Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan teknik atau strategi pembelajaran sastra agar dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan bahwa pembelajaran mengapresiasi karya sastra merupakan pembelajaran yang sulit, tentu termasuk juga tentang cerita pendek, sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode dari guru yang kurang tepat.

Ada beberapa kelemahan dari teknik ceramah antara lain, (1) pengajar tidak dapat mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan, (2) kata-kata yang diucapkan pengajar ditafsirkan lain oleh pembelajar. Teori tersebut ternyata sama dengan yang peneliti alami setelah melakukan observasi. Itulah beberapa penyebab kegagalan dalam pembelajaran cerita pendek. Kegagalan tersebut terlihat dari banyaknya siswa yang masih mengalami ketidakjelasan dalam memahami dan mengembangkan teks eksposisi.
Oleh karena itu, diperlukan strategi atau pemilihan metode pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa agar kemampuan siswa dalam mengapresiasi sastra khususnya teks eksposisi yaitu mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Dari berbagai masalah yang ada, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan pada kelas X karena didasari bahwa KD tentang mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari terdapat pada kelas X.

Berdasarkan observasi tersebut, peneliti akan mencoba menerapkan salah satu metode yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Siswa dalam pembelajaran kelompok kooperatif belajar berdiskusi, saling membantu, dan mengajak satu sama lain untuk mengatasi masalah belajar. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa untuk aktif dan saling memberi dukungan dalam kerja kelompok untuk menuntaskan masalah dalam belajar. Contoh ptk bahasa indonesia sma doc Tipe Jigsaw melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus siswa belajar serta mengajarkan apa yang dipelajari kepada orang lain. Maka peneliti penting mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul Peningkatan Kemampuan Mengembangkan Pendapat Dalam Teks Eksposisi dengan Kehidupan Sehari-hari Melalui Metode Jigsaw pada Siswa Kelas X-4 Semester 1 SMA Negeri 3 ...  Tahun ajaran 2015/2016.

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Bagaimana proses pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  ?
2) Bagaimana peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... ?
3) Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  selama mengikuti pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Mendeskripsi proses pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... .
2) Mendeskripsi peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw.
3) Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  selama mengikuti pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw.

1.4 Manfaat Penelitian
Dalam penyusunan PTK ini, peneliti berharap hasil penelitian ini akan mempunyai manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis.
1. Manfaat teoretis
Manfaat teoretis penelitian ini akan memberi masukan pengetahuan tentang pengembangan teori pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw. Selain itu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolak ukur kajian pada penelitian yang lebih lanjut.
2. Manfaat praktis
a. Bagi siswa
1) Siswa mengalami perubahan belajar dari cenderung bosan, pasif, kurang berminat dengan apresiasi cerita pendek menjadi lebih bersemangat aktif dan senang.
2) Kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari siswa meningkat setelah pembelajaran.
b. Bagi Guru
Guru bertambah wawasan mengenai metode pembelajaran Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.
c. Bagi Sekolah
Sekolah semakin meningkat prestasinya dengan metode pembelajaran yang bervariatif seperti metode Jigsaw sehingga siswa lebih antusias dan hasil akademik diharapkan optimal. Pembelajaran metode Jigsaw menyenangkan bagi siswa dan guru sehingga diharapkan hasilnya lebih meningkat

CONTOH LENGKAP PTK SMA KENAIKAN PANGKAT 

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS


2.1 Landasan Teoretis
Pada landasan teori ini dipaparkan teori yang mendukung penelitian mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw, diantaranya hakikat teks eksposisi, ciri-ciri teks eksposisi, ,pengembangan teks eksposisi kehidupan sehari-hari, hakikat pembelajaran kooperatif, metode jigsaw, dan pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw.
2.1.1 Hakikat Teks Eksposisi 
Pengertian teks eksposisi adalah sebuah paragraf atau karangan yang terkandung di dalamnya sejumlah informasi yang mana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, padat dan akurat.

1. Pengertian Teks Eksposisi 
Ciri-ciri Teks Eksposisi
Gaya informasi yang mengajak
1. Penyampaian teksnya secara lugas dan menggunakan bahasa yang baku
2. Menjelaskan informasi-informasi pengetahuan
3. Tidak memihak berarti tidak memaksakan kemauan dari penulis terhadap pembacanya
4. Teks Eksposisi bersifat objektif dan netral
5. Penjelasannya disertai data-data yang akurat
6. Fakta digunakan sebagai alat konkritasi dan kontribusi
Struktur Teks Eksposisi
Pernyataan pendapat (Tesis) : Gagasan utama tentang salah satu permasalahan berdasarkan fakta.
1. Argumentasi : Penjelasan secara mendalam tentang pernyataan pendapat dan pengungkapan fakta sebagai penjelasan dari argumen si penulis. Download ptk bahasa indonesia sma kurikulum 2013 pdf
2. Penegasan ulang pendapat : Salah satu penguat dari pendapat serta argumen yang ditunjang oleh fakta.

Jenis-jenis Teks Eksposisi
Eksposisi Definisi
Eksposisi definisi adalah suatu paragraf eksposisi yang memaparkan definisi suatu topik tertentu.
Eksposisi Proses 
Eksposisi proses adalah langkah-langkah atau cara-cara untuk melakukan sesuatu dari awal hingga akhir.
Eksposisi Ilustrasi
Eksposisi ilustrasi adalah teks yang memaparkan informasi atau penjelasan-penjelasan tertentu dengan caranya memberikan gambaran yang sederhana mengenai suatu topik dengan topik lainnya yang memiliki kesamaan sifat atau kemiripan dalam hal-hal tertentu.
Eksposisi Laporan
Eksposisi laporan adalah paragraf eksposisi yang mengemukakan laporan dari sebuah berita atau penelitian tertentu.

Eksposisi Perbandingan
Eksposisi perbandingan adalah eksposisi yang gagasan utamanya disajikan dengan cara membandingkan dengan yang lain.
Eksposisi Pertentangan
Eksposisi pertentangan adalah eksposisi ini berisi tentang hal pertentangan akan suatu hal dengan hal lainnya.
Unsur Kebahasaan Teks Eksposisi
Unsur kebahasaan merupakan bagian-bagian yang membangun teks eksposisi. Unsur kebahasaan yang ada pada teks eksposisi adalah pronomina, konjungsi dan kata leksikal.
Pronomina 
Pronomina adalah kata ganti orang yang dapat digunakan terutama pada saat pernyataan pendapat pribadi diungkapkan. Pronomina dapat diklasifikasikan menjadi dua macam :
1. Pronomina Persona (kata ganti orang) yaitu persona tunggal. Contohnya : Ia, Dia, Anda, Kamu, Aku, Saudara, -nya, -mu, -ku, si-. Dan pesona jamak contohnya seperti : Kita, Kami, Kalian, Mereka, Hadirin, Para.
2. Pronomina Nonpersona (kata ganti bukan orang) yaitu pronomina penunjuk, contohnya adalah : Ini, Itu, Sini, Situ, Sana. Dan pronomina penanya contohnya : Apa, Mana, Siapa.

Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung digunakan dalam teks eksposisi untuk memperkuat argumentasi. Berikut ini adalah jenis konjungsi yang dapat ditemukan pada teks eksposisi :
1. Konjungsi waktu : sesudah, setelah, lalu, sebelum, setelah itu, kemudian
2. Konjungsi gabungan : serta, dan, dengan
3. Konjungsi pembatasan : asal, kecuali, selain
4. Konjungsi tujuan : untuk, supaya, agar
5. Konjungsi persyaratan : jika, jikalau, apabila, bila, asalkan, bilamana, apabila
6. Konjungsi perincian : adalah, yaitu, ialah, antara lain, yakni
7. Konjungsi sebab-akibat : sehingga, karena, sebab, akibat, akibatnya
8. Konjungsi pertentangan : akan tetapi, tetapi, namun, melainkan, sedangkan
9. Konjungsi pilihan : atau
10. Konjungsi penegasan/penguatan : apalagi, bahkan, hanya, lagi pula, itu pun
11. Konjungsi penjelasan : bahwa
12. Konjungsi perbandingan : bagai, seperti, serupa, ibarat
13. Konjungsi penyimpulan : oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.

Kata leksikal
1. Nomina : kata yang mengacu pada benda, baik nyata ataupun abstrak.
2. Verba : kata yang mengandung makna dasar perbuatan, proses, atau keadaan yang bukan sifat.
3. Adjektiv : kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, dan binatang.
4. Adverbia : kata yang melengkapi atau memberikan informasi berupa keterangan tempat, waktu, suasana, alat, cara dan lain-lain.

2.1.2 Hakikat Pembelajaran Kooperatif
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang pengertian pembelajaran kooperatif dan karakteristik pembelajaran kooperatif.
2.1.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menurut Slavin (2008:4-5) merujuk pada berbagai macam metode pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran. Contoh ptk sma  Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas¬tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan pertisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya.

Pembelajaran kooperatif mendorong dan memberi kesempatan kepada siswa untuk terampil berkomunikasi. Artinya, siswa didorong untuk mampu menyatakan pendapat atau idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain dan menanggapinya dengan tepat. Siswa juga mampu membangun dan menjaga kepercayaan, terbuka untuk menerima dan memberi pendapat serta ide-idenya, mau berbagi informasi dan sumber, mau memberi dukungan pada orang lain dengan tulus. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi keberhasilan individual ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
2.1.2.2 Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooeratif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin (2012), yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
a. Penghargaan Kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antarsiswa yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
b. Pertanggungjawaban Individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya. Siswa yang terlibat dalam Pembelajaran kooperatif akan memahami bahwa mereka diharapkan untuk belajar dan melakukan aktivitas bersama-sama serta dapat menunjukkan bahwa mereka dapat memahami isi materi

c. Kesempatan yang sama untuk sukses
Setiap anggota kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk menguasai materi pembelajaran dan mendapatkan penghargaan dari kemampuan yang dicapainya.
2.1.3 Metode Jigsaw
Proses pembelajaran yang memberikan peluang kepada siswa untuk meilhat jati dirinya adalah dengan kerja kelompok (Siskandar 2009:178). Menurut Joice (dalam Ahmadi 2011:13) metode pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menemukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Dalam pembelajaran Jigsaw siswa dapat saling bertukar pendapat dan saling membantu sehingga siswa lebih kreatif dalam pembelajaran.
Metode pembelajaran Jigsaw termasuk kedalam metode pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda (Amri dan Ahmadi 2009:67). Dengan demikian, pembelajaran Jigsaw akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengkonstruksikan sendiri konsep yang sudah disampaikan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih meningkatkan aktivitasnya dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan metode Jigsaw diawali dengan pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru. Guru bisa menuliskan topik yang dipelajari pada papan tulis, penanyangan power point dan sebagainya. Lalu guru menanyakan kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari (Suprijono 2009:89). Metode Jigsaw merupakan metode yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan uraian penyampaian (Aryani 2008:56).
Sejalan dengan pendapat Suprijono, Lie (dalam Syarifah 2009:23). menyatakan bahwa Metode tipe Jigsaw merupakan salah satu dari metode pembelajaran kooperatif. Metode Jigsaw adalah metode pembelajaran kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang heterogen dan siswa belajar saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri siswa mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan komunikasi. Setiap kelompok bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pembelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikannua kepada anggota kelompok lain.

Melalui belajar dari teman sebaya dengan bimbingan guru, maka proses penerimaan dan pemahaman siswa akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang dipelajari (Indriasih 2009:8 1). Proses pembelajaran akan dapat dilaksanakan dengan lancar jika guru sungguh-sungguh melaksanakan perannya dengan baik. Keberhasilan belajar menurut metode ini bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh, melainkan perolehan belajar itu akan semakin baik apabila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.

Aryani (2008) mengungkapkan langkah-langkah pembelajaran dengan metode Jigsaw adalah:
1) pilihlah materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen (bagian),
2) bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. jika jumlah siswa 50, sementara jumlah segmen yang ada 5, maka masing¬masing kelompok terdiri atas 10 orang. jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga setiap kelompok terdiri atas 5 orang, kemudian setelah proses selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut,
3) setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi yang berbeda¬beda,
4) setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok,

5) kembalikan suasan kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok,
6) beri siswa beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
Cara kerja jigsaw menurut Isjoni (2009:54-56) adalah:
1) Tahap pertama adalah pembentukan kelompok asal, jumlah siswa yang bekerja sama dalam masing-masing kelompok harus dibatasi agar siswa bekerja secara efektif.
2) Tahap kedua adalah pemberian tugas kepada masing-masing anggota kelompok asal.
3) Tahap ketiga adalah siswa dengan tugas yang sama berkumpul dalam kelompok ahli dan membahas materi yang menjadi tanggungjawab mereka.
4) Tahap keempat adalah siswa kembali ke kelompok asal untuk menjelaskan hasil temuan materi yang didapat dari hasil diskusi dalam kelompok ahli.
5) Tahap kelima adalah penyelenggaraan tes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi.
Untuk lebih jelas cara kerja jigsaw dapat dilihat dari bagan 1 berikut ini:

Bagan 1 Alur Pembelajaran Metode Jigsaw
Keterangan: Baris I dan III : Kelompok asal
Baris II : Kelompok ahli
2.1.3.1 Kelebihan dan Kelemahan Metode Jigsaw
Menurut Isjoni (2009:63) kelebihan dan kelemahan metode jigsaw adalah: Kelebihan metode jigsaw: 1) memacu siswa untuk lebih aktif, kreatif, dam bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, 2) memberi kesempatan setiap siswa untuk berpikir kritis, 3) memberi kesempatan setiap siswa untuk menerapkan ide yang dimiliki untuk menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam kelompok, 4) diskusi tidak didominasi oleh siswa tertentu saja tetapi semua siswa dituntut untuk menjadi aktif dalam diskusi. Download ptk bahasa indonesia sma pdf 
Kelemahan metode jigsaw adalah: 1) kegiatan pembelajaran membutuhkan waktu yang relatif lama, 2) bagi guru metode ini memerlukan kemampuan lebih karena setiap kelompok membutuhkan penanganan yang berbeda, 3) materi yang diajarkan harus bisa dibagi menjadi bagian-bagian sehingga dapat didiskusikan dalam kelompok. Dalam masalah ini kelemahan diatasi dengan cara : 1) pembagian waktu dalam proses pembelajaran, waktu pada proses inti pembelajaran lebih lama dibanding dengan waktu pada proses awal dan akhir pembelajaran, 2) guru memantau seluruh siswa dengan baik saat pembelajaran berlangsung, 3) materi yang diteliti adalah materi tentang mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi sehingga materi tersebut dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang dapat didiskusikan dalam kelompok.

Berdasarkan kajian teori di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. Begitu juga dengan metode jigsaw. Keberhasilan belajar menurut metode ini bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh, melainkan perolehan belajar itu akan semakin
baik apabila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terstruktur dengan baik. Melalui belajar dengan teman dengan langkah berdiskusi dapat mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut (Suryosubroto 2009:169). Selain itu melalui belajar dari teman sebaya dengan bimbingan guru, maka proses penerimaan dan pemahaman siswa akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang dipelajari.
2.1.4 Pembelajaran Mengembangkan Pendapat dalam Teks Eksposisi dengan Kehidupan Sehari-hari Melalui Metode Jigsaw
Pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari merupakan pembelajaran apresiasi teks eksposisi. Tujuan pembelajaran apresiasi sastra adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasisi sastra berkaitan dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan kepekaan terhadap masyarakat, budaya serta lingkungan hidup. Dengan demikian, pembelajaran apresiasi sastra bukanlah hafalan, melainkan berupa aktivitas siswa dengan karya sastra.

Kegiatan mengapresiasi sastra di sekolah diharapkan dapat mendidik siswa menjadi lebih peka terhadap masyarakat. Pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap masyarakat. Salah satu alternatif yang dapat diupayakan dalam meningkatkan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari adalah melalui penggunaan metode Jigsaw.
Metode Jigsaw merupakan metode dalam pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar, diskusi atau kerjasama dengan teman. Hasil belajar diperoleh dari teman sebaya yang menjelaskan apa saja yang diperolehnya dalam diskusi pada kelompok subbab.

Cara kerja metode ini yaitu guru membentuk kelas menjadi kelompok¬kelompok. Kemudian guru memberikan teks eksposisi pada masing-masing siswa. Marno dan Idris (2009:154) menyatakan bahwa Jigsaw dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar. Selanjutnya siswa diminta untuk mengembangkan teks eksposisi tersebut. Contoh ptk bahasa indonesia sma doc Setiap siswa dalam kelompok diberi tugas untuk mengembangkan pendapatnya dalam teks eksposisi tertentu dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali kepada kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok asal.

2.2 Kerangka Berpikir
Kemampuan siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari masih rendah. Penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran ini adalah karena rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, penggunaaan metode pembelajaran yang kurang menarik minat siswa, nilai siswa rendah dan belum mencapai ketuntasan.
Oleh karena itu, metode jigsaw digunakan pada pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... . Metode Jigsaw dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari mampu menarik minat siswa terhadap pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, membantu guru untuk menemukan alternatif metode yang menarik minat siswa, membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Berikut disajikan bagan kerangka berpikir penelitian ini.

Bagan 2 Kerangka Berpikir
2.3 Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah jika dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari diterapkan metode Jigsaw maka kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ...  akan mengalami peningkatan, serta perilaku siswa dalam pembelajaran mengalami perubahan yang lebih baik.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA KELAS X DENGAN METODE TERBARU

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan demikian, penelitian ini berbasis kelas yang meilbatkan komponen yang ada di dalam kelas yaitu siswa, guru, materi pelajaran, dan metode pembelajaran yang terangkum dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
Penelitian tindakan kelas ini mencakup 4 aspek pokok, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Penelitian ini dilakukan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Permasalahan-permasalahan siklus I merupakan permasalahan yang harus dipecahkan pada siklus II. Berikut ini adalah gambar penelitian yang dilaksanakan.

Bagan 3
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Pada pratindakan berisi renungan dalam mengajar sehingga dapat menemukan kelemahan-kelemahan, kekurangan dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari kemudian dilakukan dengan tindak lanjut yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tentang pembelajaran sastra, adapun tahapan penelitian tindakan kelas pada siklus I dan II sebagai berikut:

1) Perencanaan
Tahapan perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Perencanaan harus dibuat oleh peneliti sebelum peneliti melangkah lebih lanjut. Download ptk bahasa indonesia sma kurikulum 2013 pdf
Pada perencanaan siklus I dilakukan persiapan pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw: 1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw, 2) menentukan teks eksposisi yang akan digunakan, 3) mempersiapkan instrumen penilaian yaitu instrumen tes dan nontes. Instrumen tes berupa tes mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari beserta kriteria penilaiannya, dan instrumen nontes berupa pedoman observasi, jurnal siswa dan guru, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi foto, 4) menyiapkan perangkat tes mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari yang berupa soal tes, pedoman penskoran, dan penilaian, 5) berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan kelas yang akan diteliti.
2) Tindakan
Tindakan penelitian adalah pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat sebelumnya. Tindakan yang dilakukan adalah pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi melalui metode jigsaw.

3) Observasi
Tahap observasi merupakan tahapan peneliti mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pedoman observasi. Dalam melaksanakan observasi, peneliti dibantu oleh salah seorang rekan untuk dan guru bahasa Indonesia untuk mencatat hal-hal yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Data yang dieproleh pada siklus I sebagai acuan dalam perbaikan siklus II, serta dijadikan refleksi.
4) Refleksi
Refleksi adalah kegiatan perenungan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Kegiatan ini dilaksanakan pada akhir pembelajaran. refleksi dilakukan bertujuan untuk mengetahui kelebihan atau kelemahan pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil perenungan pada tahap refleksi ini dapat digunakan sebagai dasar perbaikan pada pembelajaran berikutnya sehingga diharapkan pembelajaran berikutnya menjadi lebih baik. Refleksi pada siklus I dijadikan masukan dalam perbaikan langkah pada siklus II. Dengan demikian, didapatkan perbaikan perencanaan dan tindakan pada siklus II sehingga hasil pembelajaran yang diperoleh menjadi lebih baik dan sesuai dengan harapan.
3.1.1 Proses Tindakan Siklus I
Proses tindakan siklus I terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, pengamatan, dan refleksi.

3.1.1.1 Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan penyusunan kegiatan dengan menentukan langkah¬langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk memecahkan masalah. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw.
Pada tahap perencanaan ini juga dipersiapkan rencana pembelajaran dan rancangan evaluasi yang meliputi tes dan nontes. Rencana pembelajaran ini dilakukan sebagai pedoman peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran agar pembelajaran dapat tercapai. Peneliti menyiapkan rancangan evaluasi yang meliputi tes dan nontes. Rancangan evaluasi yang meliputi tes dan non tes. Rancangan evaluasi yang meliputi tes yaitu berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, pedoman jurnal, dan dokumentasi yang berupa foto. Setelah meyiakan alat tes dan nontes, peneliti berkoordinasi dengan guru mata pelajaran mengenai kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.1.1.2 Tindakan
Tindakan ini disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Pelaksanaan tindakan dalam siklus I meliputi apersepsi, proses pembelajaran dan evaluasi. Tindakan ini dilakukan oleh guru sebagai upaya perbaikan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi kelas X-4 SMA N 3 .... ptk bahasa indonesia sma pdf Tindakan yang dilakukan oleh peneliti adalah melaksanakan pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode Jigsaw. Proses pembelajaran dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, inti, dan penutup.

1) Pendahuluan
Tahap pendahuluan merupakan tahap untuk mempersiapkan menrtal siswa sebelum pembelajaran berlangsung. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan dapat berlangsung dengan baik. Pada tahap ini hal-hal yang akan dilakukan peneliti adalah: (1) Guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pelajaran, (2) Guru menggali pengetahuan siswa tentang unsur ciri-ciri teks eksposisi, (3) Guru menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.
2) Inti
Tahap ini terwujud dalam bentuk proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dan siswa. Kegiatan ini merupakan tahap melaksanakan pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw. Pada tahap ini hal-hal yang dilakukan peneliti adalah: (1) guru menjelaskan materi tentang jenis dan ciri-ciri teks eksposisi, (2) guru menyampaikan langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode jigsaw, (3) siswa mendengarkan penjelasan guru, (4) siswa diminta berkelompok menjadi lima kelompok yang selanjutnya disebut kelompok asal, (5) masing-masing anggota kelompok mendapat tugas menjadi ahli suatu unsur intrinsik tertentu, (6) siswa dengan tugas yang sama berkelompok menjadi kelompok ahli, (7) siswa menemukan teori mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari secara berdiskusi dalam kelompok ahli, (8) siswa kembali pada kelompok asal dan menjelaskan hasil temuan dalam kelompok ahli, (9) guru membagikan teks ekposisi kepada masing-masing siswa, (10) siswa mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari secara individu, (11) guru memberi masukan tentang kekurangan-kekurangan yang masih ada, (12) guru dan siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan.

3) Penutup Pada tahap ini bersama guru, siswa melakukan refleksi terhadap mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk mengetahui kekurangan yang ada dalam siklus ini.
3.1.1.3 Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan sekaligus untuk mengetahui hasil belajar siswa serta perilaku siswa selama proses pembelajaran. Selain menggunakan pedoman observasi, peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa selama kegiatan pembelajaran. Hasil pemotretan ini digunakan sebagai gambaran siswa yang diabadikan selama proses pembelajaran berlangsung.
Setelah kegiatan pembelajaran selesai, peneliti meminta tanggapan siswa, kesan, dan pesan terhadap materi, dan proses pembelajaran, yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Tanggapan tersebut tertulis dalam jurnal siswa.
Wawancara untuk memperoleh data berdasarkan pendapat siswa tentang pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode pembelajaran Jigsaw. Wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran. Wawancara dilakukan pada siswa yang memiliki kemampuan berbeda, yaitu terhadap siswa yang mendapat nilai tertinggi dan siswa yang mendapat nilai terendah. download ptk bahasa indonesia sma doc Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang lebih lengkap karena masing-masing telah terwakili.

3.1.1.4 Refleksi
Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis hasil tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara yang telah dilakukan. Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran. Sebanyak 20 siswa atau sekitar 50% dari 30 siswa masih memperoleh nilai dibawah 70 sedangkan nilai rata-rata siswa hanya 68,92.
Beberapa siswa masih terlihat kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw. Selama proses pembelajaran beberapa siswa tampak pasif dan tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Selain itu, ada beberapa siswa yang terlihat berbicara dan mengganggu temannya pada saat pembelajaran berlangsung.

Upaya perbaikan yang akan dilakukan peneliti pada siklus II antara lain: (1) guru kembali menjelaskan cara mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari (2) meminta siswa untuk menuliskan bukti mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, dan (3) menggunakan teks eksposisi yang berbeda dengan siklus I. Refleksi pada siklus I digunakan untuk mengubah strategi dan sebagai perbaikan pembelajaran pada siklus II.
3.1.2 Prosedur Tindakan Siklus II
Proses tindakan siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, pengamatan, dan refleksi.

3.1.2.1 Perencanaan
Pada dasarnya pelaksanaan proses pembelajaran dalam siklus II sama dengan siklus I. Siklus I dapat digunakan sebagai refleksi untuk siklus II. Siklus II digunakan untuk memperbaiki tindakan-tindakan yang masih kurang pada siklus I, sehingga pada siklus II terjadi peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode Jigsaw dibandingkan siklus I.
Pada tahap perencanaan siklus II, berdasarkan refleksi siklus I meliputi: menyiapkan soal tes dan kriteria penilaian, pedoman observasi, pedoman jurnal, pedoman wawancara, dan dokumentasi foto. Peneliti juga berkoordinasi dengan guru mata pelajaran mengenai kegiatan pembe lajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II.
3.1.2.2 Tindakan
Tindakan pada siklus II merupakan perbaikan dari siklus I. tindakan ini difokuskan pada hal-hal yang penting bagi peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan tindakan pada siklus II hampir sama dengan siklus I yakni tahap pendahuluan, inti, penutup.
(1) Pendahuluan
Pada pendahuluan siklus II ini guru melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pelajaran, (2) guru menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, (3) siswa dan guru bertanya jawab tentang kesulitan yang dialami pada siklus I.

(2) Inti
Pada kegiatan inti, tindakan yang dilakukan peniliti siklus II ini adalah : (1) guru menjelaskan kembali materi tentang mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, (2) guru menyampaikan langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode jigsaw, (3) siswa mendengarkan penjelasan guru, (4) siswa diminta berkelompok menjadi lima kelompok yang selanjutnya disebut kelompok asal, (5) masing-masing anggota kelompok mendapat tugas menjadi ahli suatu unsur intrinsik tertentu, (6) siswa dengan tugas yang sama berkelompok menjadi kelompok ahli, (7) siswa menemukan cara mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari secara berdiskusi dalam kelompok ahli, (8) siswa kembali pada kelompok asal dan menjelaskan hasil temuan dalam kelompok ahli, (9) guru membagikan teks eksposisi kepada masing-masing siswa, (10) siswa menemukan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari secara individu, (11) guru memberi masukan tentang kekurangan-kekurangan yang masih ada, (12) guru dan siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan.

(3) Penutup
Tindakan selanjutnya guru bersama siswa melakukan refleksi pada proses pembelajaran siklus II.
3.1.2.3 Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan terhadap semua perubahan laku dan sikap selama proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus II, peneliti memberi perhatian yang lebih terhadap siswa yang belum baik dalam bersikap pada proses pembelajaran. sehingga adanya peningkatan hasil tes dan perilaku siswa dalam mengerjakan tugas dan keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan.
Observator juga melakukan pengamatan terhadap siswa dengan menggunakan pedoman observasi dan melakukan pemotretan selama proses pembelajaran. Peneliti melakukan wawancara di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapat nilai tertinggi, sedang, dan nilai rendah, dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran.
3.1.2.4 Refleksi
Peneliti merefleksi perubahan-perubahan sikap dan peningkatan kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari pada diri siswa dengan cara menganalisis hasil tes dan nontes selama proses pembelajaran siklus II berlangsung. Dari refleksi tersebut, dapat diketahui keberhasilan penggunaan metode Jigsaw.

3.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw pada siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 ... . Kelas X-4 berjumlah 32 siswa. Kelas X-4 merupakan salah satu kelas X dari sembilan kelas yang ada di SMA Negeri 3 ... .
Peneliti memilih kelas X-4 sebagai subjek penelitian dengan berdasarkan pada kurang berhasilnya pembelajaran sastra membaca untuk mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang mengajar di kelas X, guru tersebut menyatakan bahwa di kelas X-4 pada umumnya siswa kurang respon terhadap pembelajaran sastra mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Download ptk bahasa indonesia sma pdf Selain itu, kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari siswa kelas X-4 paling rendah dibandingkan kelas yang lain yaitu dengan nilai rata-rata 6,8.

3.3 Variabel Penelitian
Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan dalam penelitian. Penelitian ini mengungkap dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas atau variabel yang menyebabkan perubahan dalam penelitian ini adalah metode jigsaw, sedangkan variabel terikat atau variabel yang diukur untuk menentukan adanya pengaruh dari variabel bebas yaitu kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.

3.3.1 Variabel Metode Jigsaw
Metode Jigsaw merupakan salam satu dari metode pembelajaran kooperatif. Metode Jigsaw adalah metode pembelajaran kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang heterogen dan siswa belajar saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri (Lie dalam Syarifah 2009:23). Siswa mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan komunikasi. Setiap kelompok bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pembelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikannua kepada anggota kelompok lain.
Langkah-langkah metode pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut: 1)yang berbeda, 3) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan, 4) Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka., 5) Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali kepada kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Target tingkat keberhasilan setiap siswa ditetapkan jika siswa mampu mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw dan nilai memenuhi batas tuntas serta terjadi perubahan perilaku pada siswa.

3.3.2 Variabel Kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan Kehidupan Sehari-hari
Kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari merupakan variabel terikat dalam penelitian ini. Hasil yang diteliti meliputi hasil tes dan nontes. Hasil tes dinilai berdasarkan analisis siswa dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan hasil nontes dilihat dari perubahan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehair-hari melalui metode jigsaw.
3.4 Indiaktor Kinerja
Indikator kinerja penelitian ini terdiri atas indikator kuantitatif, indikator kualitatif, serta indikator proses.
3.4.1 Indikator Kuantitatif
Indikator kuantitatif penelitin ini adalah ketercapaian target keterampilan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari siswa yang diketahui melalui hasil tes. Siswa dinyatakan berhasil melakukan pembelajaran keterampilan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari apabila nilai yang diperoleh sesuai dengan target yang telah ditentukan target nilai ketuntasan dalam penelitian ini sebesar 70. Keberhasilan klasikal adalah siswa yang mencapai nilai 70 setidaknya berjumlah 70% dari jumlah seluruh siswa yang diteliti.

3.4.2 Indikator Kualitatif
Indikator kualitatif penelitian ini dilakukan berdasarkan teknik nontes. Siswa dinyatakan berhasil jika perilaku berubah ke arah positif dari sebelumnya. Perilaku siswa yang menunjukkan ke arah positif antara lain: 1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran, 3) kepartisipasifan siswa dalam kelompok, 4) kedisiplinan siswa terhadap tugas yang diberikan , 5) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru.
3.4.3 Indikator Proses
Indikator proses penelitian ini adalah berbagai aspek yang diamatai selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi : 1) intensif atau tidaknya proses penumbuhan minat siswa untuk mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 2) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok ahli untuk menentukan materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 3) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok asal untuk menyampaikan temuan tentang materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 4) intensif atau tidaknya proses evaluasi dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 5) reflektif atau tidaknya suasana saat kegiatan refleksi pada akhir pembelajaran sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran. Contoh ptk bahasa indonesia sma doc 

3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas instrumen tes dan nontes.
3.5.1 Instrumen Tes
Dalam instrumen tes, aspek-aspek yang dinilai meliputi : 1) penjelasan keterkaitan alur atau plot dengan kehidupan sehari-hari, 2) penjelasan keterkaitan latar dengan kehidupan sehari-hari, 3) penjelasan keterkaitan sudut pandang dengan kehidupan sehari-hari, dan 4) penjelasan keterkaitan tokoh dan penokohan dengan kehidupan sehari-hari, 5) penjelasan keterkaitan amanat dengan kehidupan sehari¬hari, 6) penjelasan keterkaitan gaya bahasa dengan kehidupan sehari-hari, 7) penjelasan keterkaitan tema dengan kehidupan sehari-hari. Dalam setiap aspek, ditentukan skor maksimal yang besarnya berbeda-beda tergantung pada peran pentingnya mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi Dalam penentuan nilai digunakan pedoman penskoran berdasarkan kriteria dari masing-masing aspek penilaian.
Tabel 1 Pedoman Penilaian Kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.

Nilai tersebut diperoleh dari tes yang dilakukan sekali dalam tiap siklus yaitu dilakukan di akhir siklus. Dari siklus I akan diperoleh nilai mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, kemudian hasil tes pada siklus I tersebut ditindak lanjuti pada siklus II. Nilai keterampilan siswa diperoleh dari nilai akhir yang kemudian dapat dilihat kategori keterampilan siswa sesuai dengan pedoman yang telah disusun.

Tabel 2 Rincian Perolehan Nilai Tiap Siswa
Keterangan:
1 = Penjelasan tentang keterkaitan alur atau plot dengan kehidupan sehari-hari
2 = penjelasan tokoh dan penokohan.
2 = Penjelasan tentang keterkaitan tokoh dan penokohan dengan kehidupan sehari-hari 
3 = Penjelasan tentang keterkaitan latar dengan kehidupan sehari-hari
4 = Penjelasan tentang keterkaitan gaya bahasa dengan kehidupan sehari-hari 
5 = Penjelasan tentang keterkaitan sudut pandang dengan kehidupan sehari-hari 
6 = Penjelasan tentang keterkaitan tema dengan kehidupan sehari-hari
7 = Penjelasan tentang keterkaitan amanat dengan kehidupan sehari-hari 
R = kode responden.

3.5.2 Instrumen Nontes
Untuk pengambilan data berupa sikap maupun perilaku siswa dalam pembelajaran membaca karya sastra, peneliti menggunakan bentuk instrumen nontes. Instrumen nontes ini berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, pedoman jurnal, dan dokumentasi foto.
3.5.2.1 Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan sebagai alat untuk mengambil data dengan langkah peniliti membuat catatan khusus selama melakukan pengamatan terhadap siswa dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.
Aspek yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi : 1) intensif atau tidaknya proses penumbuhan minat siswa untuk mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 2) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok ahli untuk menentukan materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 3) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok asal untuk menyampaikan temuan tentang materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 4) intensif atau tidaknya proses evaluasi dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 5) reflektif atau tidaknya suasana saat kegiatan refleksi pada akhir pembelajaran sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran.

Aspek-aspek yang diamati pada perubahan perilaku antara lain: 1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran, 3) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Pada tahap observasi ini, peneliti dan guru memberikan tanda chek list (¥) pada lembar observasi berdasarkan pengamatan proses pembelajaran berlangsung. 
3.5.2.2 Pedoman Dokumentasi Foto
Dalam penilitian ini, peneliti juga menggunakan instrumen nontes berupa dokumentasi foto sebagai alat untuk memperoleh bukti mengenai berlangsungnya proses pembelajaran. Dokumentasi foto ini dipandang perlu sebagai bukti bahwa proses pembelajaran benar-benar berlangsung dan juga sebagai bukti analisis pada setiap siklus. ptk bahasa indonesia sma pdf

Aspek yang diamati dalam dokumentasi foto meliputi 1) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok ahli untuk menentukan materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 2) kondusif atau tidaknya proses diskusi dalam kelompok asal untuk menyampaikan temuan tentang materi mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari, 3) intensif atau tidaknya proses evaluasi dalam mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari.

3.5.2.3 Pedoman Jurnal
Pedoman jurnal merupakan salah satu instrumen nontes yang digunakan peniliti dalam penelitian ini. Pedoman jurnal ini dibuat oleh siswa dan guru dengan aspek yang berlainan. Jurnal guru berisi uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dianggap penting selama pembelajaran berlangsung secara tertulis. Aspek yang diamati dalam jurnal guru adalah: 1) kesiapan siswa sebelum mengikuti pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, 3) perilaku siswa yang paling menonjol saat pembelajaran, 4) suasana kelas selama pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode jigsaw.
Jurnal siswa berisi uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dianggap penting selama pembelajaran berlangsung secara tertulis. Aspek pertanyaan yang digunakan dalam jurnal siswa meliputi: 1) kesan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) kesulitan yang dialami siswa pada kegiatan pembelajaran, 3) saran siswa untuk pembelajaran selanjutnya.

3.5.2.4 Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara merupakan salah satu cara untuk mengambil data secara langsung terhadap beberapa responden. Data yang diambil berupa tanggapan terhadap pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan metode Jigsaw dan beberapa kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran. Wawancara tidak dilakukan pada semua siswa, hanya dipilih siswa dengan kategori tertentu, misalnya siswa dengan nilai tertinggi, siswa nilai terendah, siwa dengan perilaku yang positif maupun siswa dengan perilaku kurang.
Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada aspek-aspek yang ingin diungkap meliputi: 1) kesan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) kesulitan yang dialami siswa pada kegiatan pembelajaran, 3) pendapat siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru, 4) pemahaman siswa terhadap materi, 5) saran yang diberikan siswa kepada guru untuk pembelajaran selanjutnya.

3.5.3 Validitas Instrumen
Uji instrumen untuk mengetahui validitas instrumen dilakukan dengan uji validitas permukaan dan validitas isi. Validitas permukaan dengan cara berkonsultasi dengan pembimbing dan guru bidang studi sehingga diperoleh kesepakatan bersama bahwa instrumen yang ditentukan telah valid.
Validitas isi dilakukan dengan menyesuaikan semua aspek kemampuan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari yang diginakan untuk menilai dan berdasrkan landasan teori yang ada.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data yang diperlukan. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan suatu alat penelitian yang akurat, karena hasilnya sangat menentukan mutu dan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu teknik tes dan teknik nontes.

3.6.1 Teknik Tes
Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan tes yang dilakukan sebanyak dua kali yakni pada siklus pertama dan siklus kedua. Kekurangan yang terdapat pada siklus pertama harus diperbaiki pada siklus kedua.
3.6.2 Teknik Nontes
Teknik nontes yang digunakan adalah observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto

3.6.2.1 Teknik Observasi
Teknik observasi dilakukan peneliti pada saat pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II. Observasi dilakukan pada semua siswa dengan memberikan tanda check list pada pedoman observasi berdasarkan pengamatan proses pembelajaran berlangsung. Teknik observasi ini tujuannya adalah menyimpulkan data dan mengamati perilaku siswa dalam proses pembelajaran
3.6.2.2 Teknik Wawancara
Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran. Wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari. Wawancara dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dengan menggunakan alat perekam. Wawancara ditujukan kepada siswa tertentu yang mendapat nilai tertinggi, nilai sedang, dan nilai rendah. Download ptk bahasa indonesia sma kurikulum 2013 pdf Kegiatan wawancara ini dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh teman sejawat. Hal ini bertujuan agar jawaban siswa lebih jujur dan terbuka.
3.6.2.3 Teknik Jurnal
Pengisian jurnal dilakukan setelah pembelajaran selesai. Jurnal dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui respon dan minat siswa terhadap pembelajan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari¬hari dengan menggunakan metode Jigsaw, kesulitan yang dihadapi siswa dan kesan pesan siswa setelah mebgikuti kegiatan pembelajaran menggunakan metode Jigsaw. Guru mengamati proses pembelajaran dengan memperhatikan pedoman jurnal yang telah dibuat peneliti.

3.6.2.4 Teknik Dokumentasi Foto
Peneliti menggunakan dokumentasi yang berupa pengambilan gambar foto pada saat penelitian berlangsung. Gambar foto ini menghasilkan data yang autentik karena pengambilan foto tersebut dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. dokumentasi berupa foto ini digunakan sebagai bukti visual kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung.
3.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
3.7.1 Teknik Kuantitatif
Teknik kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitasif yang diperoleh dari hasil tes mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari pada siklus I dan siklus II. Analisis data tes secara kuanttatif delakukan dengan merekap skor rata-rata kelas, dan menghitung persentase. Persentasi skor rata-rata kelas, dan menghitung persentase. Persentase skor dihitung menggunakan rumus berikut: Contoh ptk sma

Keterangan:
P= Skor Persentase
SS= Skor yang dicapai siswa
R= Responden

Hasil perhitungan nilai siswa dari masing-masing tes ini kemudian dibandingkan, yaitu antara siklus I dan siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari melalui metode Jigsaw.
3.7.2 Teknik Kualitatif
Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari data nontes yaitu data observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan menganalisis pedoman observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan mengklasifikasikannya dengan teman peneliti yang membantu dalam penelitian. Data jurnal dianalisis dengan cara membaca seluruh jurnal siswa dan guru. Data wawancara dianalisis dengan cara membaca lagi catatan wawancara dan dengan memutar kembali rekaman jika catatan kurang jelas. Data dokumentasi dianalisis dengan cara melihat kembali gambar yang telah dambil ketika pembelajaran berlangsung.
Data yang diperoleh dari hasil tes sklus I dan siklus II digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran mengembangkan pendapat dalam teks eksposisi dengan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan metode Jigsaw.

CONTOH LENGKAP LAPORAN PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA SMA

DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Amri, Sofan dan Iif Khoiru Ahmadi. 2009. Proses Pembelajaran Inovatif dan Kreatif dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka
Aryani, Sekar Ayu.2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Madani
Damono, Sapardi Djoko. 2006. “Pengarang, Karya Sastra, dan Pembaca”. Jurnal Lingua. Volume I, Nomor I , Halaman 5 1-61. ISSN: 1693-4725
Efendi, Anwar. 2010. “Analisis Perbandingan Struktural Cerpen “Selamat Jalan Nek” Karya Danarto dan Cerpen “Pohon” Karya Monaj Das”. Jurnal Litera. Volume 9, Nomor 2. Halaman 82-96. ISSN: 14 12-2596
Indriasih, Aini. 2009. “Penerapan Pembelajran Kooperatif Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di SD”. Jurnal Pendidikan. Volume 10. September 2009. Halaman 78-84. ISSN:1411-1942
Ibrahim, R dan Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Isjoni. 2009. Cooperative Learning (Efektivitas Pembelajaran Kelompok). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ismawati, Esti. 2011. “Pengembangan Penilaian Pembelajaran bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Konstekstual” diunduh melalui http://journal.unwidha.ac.id/index. ph p/ procceding/article/download/268/2 1 7 pada 25 Agustus 2013
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Lebaron, John dan Diane Miller. 2005. “The Potential of Jigsaw Role Playing to Promote the Social Construction of Knowledge in an Online Graduate Education Course”. Teacher College Record. Vol. 107. Agustus 2005 No. 8. Halaman 1652-1674. ISSN: 0161-4681
Marno dan Idris. 2009. Strategi & Metode Pengajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Mengduo, Qiao, dan Jin Xioling. 2010. “Jigsaw Strategy as a Cooperative Learning Technique: Focusing on the Language Learners”. Chinese
Journal of Applied Linguistics (Bimonthly). Vol. 33 No. 4. Agustus 2010. ISSN: 0269-9206.
Mulyani, Wahyu. 2010. “Membidik Kehidupan Rakyat Kecil di Balik Gaya Bahasa Metafora dalam “Senyum” Karyamin Karya Ahmad Tohari”. Prospektus Jurnal Ilmiah Unirow Tuban. Vol VII, Nomor 1, Halaman 54-62. ISSN: 1693-8593
Mulyono. 2006. “Popularitas Sastra Islami di Indonesia”. Jurnal Lingua. Volume I, Nomor I , Halaman 32-41. ISSN: 1693-4725
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Nursisto. 2004. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia. Jakarta: Pay Cita
Nuryatin, Agus. 2010. Mengabadikan Pengalaman dalam Cerpen. Semarang: Yayasan Adhigama
Pujiastuti, Emi dan Amin Suyitno. 2009. “Implementasi Cooperative Learning Tipe Jigsaw II Berbasis Kontekstual untuk Meningkatkan Kompetensi Dasar Mahasiswa Pendidikan Matematika Unnes dalam Perkuliahan Kalkulus Lanjut”. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. 26. Oktober 2009. Hal 143-149. ISSN:1978-8304
Rahmanto, B. 1996. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius
Rahmawati, Dwi Norma. 2007. “Peningkatan Kemampuan Memahami Alur, Penokohan, dan Latar dalam Cerpen dengan Teknik Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas XI MAN Pagerbarang Kabupaten Tegal”. Skripsi. Universitas Negeri Semarang
Rasmi, Ni Nengah. 2006. “Peningkatan Mutu Pengajaran Teori Sastra Melalui Pemberian Pengalaman Membaca Karya Sastra Siswa Kelas I SMU Laboratorium IKIP Negeri Singaraja”. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. Vol. 39. April 2006. Halaman 356-376. ISSN: 02 15-8250
Resmini. 2011 .”Pembelajaran Apresiasi Bacaan Cerita Melalui Implementasi Strategi Directed Reading Activity“ diunduh melalui http://file.upi.edu/direktori/fpbs/jur._pend._bhs._dan_sastra_indonesia/1 96 71103 1993032novi_resmini/pengajaran_sastra_dengan_drta_%28artikel_j urnal_sekolah_dasar_malang%29.pdf pada 11 Agustus 2013
Sasmito, Muji. 2010. “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Memanfaatkan Situs Cerpenista.Com Siswa Kelas X2 SMA Negeri 7 Semarang”. Skripsi. Universitas Negeri Semarang
Siskandar. 2009. “Keefektifan Pendekatan Cooperative Learning dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Mahasiswa”. Jurnal Ilmu Pendidikan. Vol 16. Oktober 2009. Halaman 178- 185. ISSN: 0215-9643
Situmeang, Dahriansyah. 2012. “Efektivitas Model Pembelajaran Cooperatif Learningtipe Stad dalam Meningkatkan Kemampuan Menganalisis Unsur Intrinsik Cerpen “Daerah Garong” Karya M. Shoim Anwar Oleh Siswa Kelas Xi Sma Negeri 1 Sibolga Tahun Pembelajaran 2010/2011” Asas Jurnal Sastra. Vol I. Halaman 53-62 ISSN: 2301-5896
Slavin, Robert E. 2012. Cooperative Learning Teori, riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media
Suharianto. S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta
Sumardjo, Jakob, dan Saini. 1994. Apresiasi Kesusatraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Suprijono. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Syarifah. Eri. 2009. Pembelajaran Inovatif Bahasa Indonesia. Semarang: Bandungan Institude
Tarigan, Henry Guntur. 1997. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Girimukti Pasaka
Wallek, Rene, Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia
Yuliantini. 2012. “Pembelajaran Menganalisis Keterkaitan Unsur Intrinsik Suatu Cerpen dalam Kehidupan Sehari-hari dengan Menggunakan Metode Quantum Reading di Kelas X MAS Muhammadiyah 2 Bandung Tahun Pelajaran 2011/2012” diunduh melalui http://publikasi.stkipsiliwangi.ac.id/karya-ilmiah-mahasiswa/pembelajaran-menganalisis-keterkaitan-unsur-intrinsik-suatu-cerpen-dalam-kehidupan 
sehari-hari-dengan-menggunakan-metode-quantum-reading-di-kelas-x¬mas-muhammadiyah-2-bandung-tahun-pelajaran-20 11/2012/ pada 6
Agustus 2013 

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK BAHASA INDONESIA KELAS X SMA METODE JIGSAW

Postingan terkait: