CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS VII GARIS DAN SUDUT

CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS VII GARIS DAN SUDUT-Model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Penggunaan model pembelajaran ini di SMPN 1 ...  dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar matematika yang dicapai serta kurangnya interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan guru ataupun dengan sesama peserta didik dalam proses belajar mengajar. Melalui rangkaian kegiatan dalam model pembelajaran interaktif yang meliputi: Introduction (pengantar), Activity problem solving (melakukan aktivitas atau memecahkan masalah), Sharing and discussing (saling berbagi dan diskusi), Summarizing (meringkas atau menarik kesimpulan), Assessment of learning of unit material (menilai belajar unit material) ini diharapkan interaksi antara peserta didik dengan guru ataupun dengan sesama peserta didik dapat meningkat sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar matematika yang dicapai. ptk matematika smp pdf

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen yang berdesain “posttest-only control design”. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik kelasVII SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektif tidaknya penerapan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik kelas VII SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut.
Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII SMPN 1 ...  semester II tahun pelajaran 2015/2016 yang terbagi dalam 4 kelas, yang berjumlah 180 peserta didik. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster sampling. Terpilih peserta didik kelas VIIA sebagai kelas eksperimen dan peserta didik kelas VIIB sebagai kelas kontrol. Pada akhir pembelajaran kedua kelas diberi tes dengan menggunakan instrumen yang sama yang telah diuji validitas, taraf kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitasnya. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi, metode observasi dan metode tes.            
                                                                                                                                                              
Hasil penelitian setelah dianalisis sebagai berikut: Kelompok eksperimen dan kontrol memiliki rata-rata hasil belajar berturut-turut adalah 73,714 dan 56,600. Hasil analisis dengan uji perbedaan rata-rata (uji t) pihak kanan diperoleh t’ = 9,675 sedangkan nilai t(0,95)(87) = 1,682 Karena t’ > t (0,95)(87) maka H0 ditolak. Artinya rata-rata hasil belajar matematika yang diajar dengan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) lebih besar dari pada rata-rata hasil belajar matematika yang diajar dengan pembelajaran metode konvensional.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil tes kelas eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol sehingga dapat dikatakan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik kelas VII SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut, dan disarankan guru dapat terus mengembangkan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dan menerapkan pada pembelajaran materi pokok yang lainnya.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMATIKA SMP yang diberi judul EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DENGAN PERTANYAAN PENGARAH(PROMPTING QUESTION) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 1 ... DALAM MATERI POKOK GARIS DAN SUDUT TAHUN PELAJARAN 2015/2016". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA SMP KELAS VII lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 047).

PTK MATEMATIKA KELAS VII SMP TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan interaksi antara peserta didik dengan guru, dimana peserta didik bertindak sebagai subyek pokok dalam pembelajaran. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Karena interaksi dalam proses belajar mengajar memiliki makna yang luas, tidak hanya sekedar hubungan antara guru dan peserta didik, tetapi berupa interaksi edukatif yang mempunyai tujuan tertentu. Interaksi dalam proses belajar mengajar dikatakan efektif apabila terjadi transfer belajar yaitu materi pelajaran yang disajikan guru dapat diserap ke dalam struktur kognitif peserta didik. Artinya peserta didik memahami materi tidak hanya terbatas pada tahap ingatan saja, tetapi bahan pelajaran yang disajikan dapat diserap secara bermakna (meaning learning), serta dapat dikonstruksikan kembali menjadi pengetahuan baru dalam pikirannya.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan ditingkat dasar dan menengah. Hal ini dikarenakan matematika mempunyai peran yang central dalam bidang ilmu sehingga matematika dijuluki sebagai “raja dan pelayan ilmu”. Disebut sebagai raja karena perkembangan ilmu matematika tidak berdasarkan ilmu-ilmu lain. Sedangakan kedudukannya sebagai pelayan bagi ilmu lain dikarenakan matematika merupakan ilmu dasar (basic science) yang mendasari ilmu-ilmu lain. Mengingat pentingnya peranan matematika di dalam disiplin ilmu maka peserta didik tingkat dasar dan menengah diharapkan dapat menguasai matematika sehingga dapat diaplikasikan dalam ilmu-ilmu lain.

Selain itu masalah yang tidak kalah penting yang terjadi dalam pembelajaran matematika di sekolah adalah kurangnya interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan guru ataupun dengan sesama peserta didik. download ptk matematika smp doc Umumnya proses belajar mengajar di sekolah sekarang ini masih didominasi oleh peran guru, sehingga peserta didik terlihat pasif. Memang kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses belajar mengajar matematika yang berlangsung sebenarnya telah melibatkan peserta didik, misalnya saat guru menerangkan peserta didik mendengarkan kemudian mencatat pelajaran yang diberikan akan tetapi peserta didik jarang terlibat dalam hal mengajukan pertanyaan, mengutarakan pendapat, ataupun dalam berdiskusi untuk memecahkan masalah. Hal inilah yang menjadi pemandangan pembelajaran matematika di SMPN 1 ... .

Berdasarkan data nilai yang diperoleh peneliti, nilai mata pelajaran matematika di SMPN 1 ...  khususnya kelas VII masih rendah. Salah satunya pada materi pokok garis dan sudut. Padahal materi pokok garis dan sudut merupakan materi yang penting bagi peserta didik, karena materi ini banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan disiplin ilmu lain seperti dalam fisika. Pada praktiknya banyak sekali peserta didik mengaku kesulitan dengan materi itu, terutama dalam membedakan jenis-jenis sudut yang terjadi jika dua garis dipotong oleh garis ketiga. Mereka masih belum bisa membedakan jenis¬jenis sudut yang terjadi. Hal ini dikarenakan minimnya pemahaman konsep peserta didik terhadap materi garis dan sudut. Selain itu kurangnya interaksi dalam proses pembelajaran matematika di SMP. ini juga menjadi masalah yang penting. Sehingga diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah tersebut, agar tujuan pembelajaran matematika tercapai secara maksimal.

Kegiatan pembelajaran bukanlah hanya memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik tetapi juga menciptakan situasi yang dapat membawa peserta didik belajar aktif untuk mencapai perubahan tingkah laku. Model pembelajaran interaktif merupakan salah satu model pembelajaran konstruktivisme dimana peserta didik dituntut untuk memahami konsep dengan cara mengkonstruksi dari benak mereka sendiri. Sehingga dengan model interaktif ini peserta didik dapat mengembangkan kemampuan yang ada dirinya untuk memahami suatu konsep yang dipelajari.

Selain itu dengan memberi pertanyaan pengarah (promting question) dalam pembelajaran matematika, khususnya materi pokok garis dan sudut guru dapat memberi arahan kepada peserta didik apa yang harus difahami dan diperoleh peserta didik dalam pembelajaran yang dilakukan. Dengan dihadapkan pada pertanyaan yang terarah peserta didik akan menjadi tertantang untuk merespon. Respon yang diberikan peserta didik dapat diperoleh dengan cara mengkonstruksi atau mengasimilasi konsep-konsep yang ditemuinya. Sehingga dengan adanya pertanyaan pengarah yang diberikan oleh guru dalam matri pokok garis dan sudut akan terjadi interaksi baik antara guru dengan peserta didik ataupun dengan sesama peserta didik. Selain itu pemberian pertanyaan pengarah juga dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri, dan belajar bermakna sehingga dapat berakibat pada baiknya pemahaman konsep dan retensi peserta didik.
Dari paparan diatas peneliti ingin mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka ada beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Peserta didik masih merasa kesulitan dalam memahami materi garis dan sudut.
2. Masih kurangnya interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran matematika.
3. Belum adanya variasi dalam proses pembelajaran matematika.

C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti akan membatasi permasalahan pada.
1. Mengetahui keefektivan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMPN 1 ... .
2. Materi pokok yang dipelajari dalam penelitian adalah garis dan sudut yang dispesifikan pada kompetensi dasar: Download ptk matematika smp kelas 7 doc Memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain.
3. Hasil belajar yang dievaluasi hanya pada aspek kognitif.
D. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahanman dalam memahami judul di atas dan demi menghindari dai bermacam-macam penfsiran, maka penulis memberikan penjelasan tentang pengertian beberapa kata yang tercantum dalam judul sehingga diketahui arti dan makna dalam pembelajaran yang diadakan.
1. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang artinya ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya). Selain itu efektivitas juga diartikan adanya kesesuaian antara yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang akan dicapai.
2. Model Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran interaktif didasarkan pada dua premis mayor yaitu:
a. Pemahaman berkembang sebagai suatu proses informasi dan mengkonstruksi ide-ide secara mental.

b. Pemecahan masalah sangat penting untuk menstimulasi pikiran.6 Model pembelajaran interaktif merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dimana siswa menemukan konsep dengan cara mengkonstruksi dari benak mereka sendiri. Pada model ini guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa dalam menemukan konsep yang dimaksud. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak.
3. Pertanyaan Pengarah (Prompting Question)
Pertanyaan pengarah merupakan pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan tujuan mengarahkan siswa pada penemuan konsep. Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa prompting question diajukan pada siswa apabila guru menghendaki siswanya untuk memperhatikan dengan seksama bagian tertentu atau inti pelajaran yang dianggap penting.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah peserta didik menerima pengalaman belajar. Hasil belajar matematika merupakan hasil kegiatan dari belajar matematika dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan peserta didik.
5. Garis dan Sudut
Garis dan sudut merupakan salah satu materi pokok dalam mata pelajaran matematika yang diajarkan pada kelas VII semester II. Pada penelitian ini akan dikhususkan pada kompetensi dasar (KD) memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika dua garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain.
Jadi penelitian yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Interaktif dengan Pertanyaan Pengarah (Prompting Question) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII SMPN 1 ...  dalam Materi Pokok Garis dan Sudut” berarti dalam penelitian ini akan diterapkan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) agar dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut.

E. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan diatas maka peneliti ingin mengetahui Apakah Model Pembelajaran Interaktif dengan Pertanyaan Pengarah (Prompting Question) lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMP Negeri 1 Nunukan pada materi pokok garis dan sudut?
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi peserta didik
Membantu peserta didik dalam mengembangkan pikiran serta mengkonstruksi konsep-konsep yang akan dipelajari melalui pertanyaan pengarah dalam pembelajaran interaktif.
2. Bagi guru
Memberi informasi tentang salah satu alternatif model pembelajaran yang bisa diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
3. Bagi sekolah
Memperkaya wawasan tentang berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran.
4. Bagi peneliti
Menambah pengalaman tentang berbagai masalah yang dapat timbul dalam proses pembelajaran dan cara menyelesaikan sebagai bekal menuju lapangan pekerjaan.

DOWNLOAD LENGKAP PTK MATEMATIKA SMP KELAS VII KURTILAS WORD

BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


A. Landasan Teori
1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika
Dalam dunia pendidikan kegiatan belajar merupakan proses yang paling penting, karena tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Banyak para ahli mendefinisikan “belajar” dengan definisi yang berbeda satu dengan yang lain.
Menurut Jerome Brunner yang dikutip dari Trianto belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya. Menurut Anita E Woolf olk, “learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior”. Belajar terjadi ketika pengalaman menyebabkan suatu perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan atau tingkah laku seseorang. Sedangkan menurut Dimyati belajar akan mengubah perilaku mental peserta didik. Perubahan itu terjadi sengaja bisa juga tidak sengaja, bisa lebih baik juga bisa lebih buruk. Agar belajar dapat berkualitas dengan baik, perubahan itu harus dilahirkan oleh pengalaman dan oleh interaksi antara orang dengan lingkungannya.

Dari definisi belajar yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar mempunyai 3 unsur yaitu:
a. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.
b. Perubahan perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman atau pengetahuan.
c. Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.
Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, di mana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh ptk matematika smp pdf Pembelajaran juga diartikan sebagai upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan peserta didik, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi yang optimal antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik. Jadi dapat disimpulkan disini bahwa pembelajaran merupakan proses atau interaksi yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik dengan tujuan untuk merubah tingkah laku peserta didik melalui pengalaman yang diberikan oleh guru.

Dalam kaitannya dengan matematika pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para peserta didiknya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik dalam mempelajari matematika tersebut.
Tujuan dari pembelajaran adalah membantu peserta didik untuk dapat memperoleh informasi, ide, ketrampilan, cara berfikir yang baik. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan pembelajaran. Salah satu pendekatan pembelajaran yang merupakan paradigma baru dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan konstruktivisme. Sedangkan model pembelajaran yang berdasarkan pendekatan tersebut salah satunya adalah model pembelajaran interaktif.

2. Teori-Teori Belajar
a. Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivis, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Pembangunan sistem makna dan pemahaman dapat dikembangkan dari interaksi aktif seorang anak dengan lingkungannya. Dalam hal ini guru menggunakan pertanyaan pengarah (prompting question) untuk menciptakan suatu interaksi dalam proses pembelajaran. Dengan adanya interaksi yang terjadi di dalam kelas akan berakibat pada peningkatan aktivitas belajar peserta didik, yangmana dapat membangun sistem makna dan pemahaman peserta didik, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh.
Proses adaptasi manusia dalam menghadapi pengetahuan baru ditentukan oleh fase perkembangan kognitifnya. Jean Piaget membagi fase perkembangan manusia ke dalam empat fase perkembangan sebagai berikut:
Tabel Fase Perkembangan Kognitif
Sumber: diadaptasi dari Santrock (1998).

Dari tabel tersebut disimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak dimulai dari usia bayi dimana mereka sudah mulai membangun pemahaman melalui benda kongkrit yang mereka lihat, dan pemahaman tersebut terus berkembang sampai pada tahap formal operational dimana anak sudah mulai berfikir dengan cara abstrak dan logis. Peserta didik SMP. Kelas VII berada pada tahap perkembangan kognitif formal operational, mereka sudah mulai dilatih untuk berfikir secara abstrak. Melalui penerapan model pembalajaran interaktif yang dipadukan dengan pertanyaan pengarah (prompting question) peserta didik dilatih untuk berfikir abstrak melalui rangkaian kegiatan pembelajaran dan pertanyaan¬pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Dari sini diharapkan sistem makna dan pemahaman dapat terbentuk dengan baik.

b. Teori Konstruktivis Sosial Vygotsky
Menurut Vygotsky belajar merupakan suatu perkembangan pengertian. Dia membedakan pengertian menjadi dua yaitu pengertian spontan dan pengertian ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang didapatkan dari pengalaman sehari-hari. download ptk matematika smp doc Pengertian ini tidak terdefinisikan dan terangkai secara sistematis logis. Sedangkan pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat melalui pembelajaran di kelas. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat dari dalam suatu sistem yang lebih luas. Dari proses belajar, kedua pengertian tersebut saling berelasi dan saling mempengaruhi. Vygotsky berpandangan bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya akan muncul melalui percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap kedalam individu tersebut.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa konsep-konsep dan prinsip¬prinsip dalam matematika akan mudah dipahami oleh peserta didik jika mereka saling bertukar informasi dan bekerja sama dengan temannya. Dengan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) peserta didik akan dilatih untuk membangun sistem makna dan pemahaman serta bekerja sama dengan temannya seperti pada fase sharing and discussing peserta didik dituntut untuk bekerja sama dengan temannya. Sedangkan pembanguanan sistem makna terjadi ketika guru mengajukan pertanyaan pengarah (prompting question) pada fase problem solving peserta didik yang mengalami kesulitan, tidak langsung diberi jawaban tetapi guru mengajukan pertanyaan pengarah yang membantu peserta didik untuk menemukan jawabanya sendiri.

3. Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mereka menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar matematika merupakan hasil kegiatan dari belajar matematika dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan peserta didik. Hasil belajar tampak sebagai suatu perubahan tingkah laku pada diri peserta didik, hal tersebut dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang sopan menjadi sopan, dan sebagainya.

Menurut Bloom dkk., hasil belajar dalam proses pembelajaran pada prinsipnya dikelompokkan menjadi tiga domain atau ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam penelitian ini hanya akan dibatasi pada ranah kognitif saja. Ranah kognitif merupakan ranah yang berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk didalamnya kemampuan memahami, menghapal, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Taksonomi Bloom membagi ranah kognitif menjadi enam tingkatan yaitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Aspek ini sering disebut sebagai aspek ingatan (recall). Dalam tingkatan ini peserta didik dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah, dan lain sebagainya tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan, isian atau jawaban singkat, dan pilihan ganda.

b. Pemahaman (Comprehension)
Kemampuan ini umumnya mendapatkan penekanan dalam proses belajar mengajar. Peserta didik dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat dimanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkan dengan hal¬hal lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian
c. Penerapan (Aplication)
Dalam tingkatan kemampuan ini peserta didik dituntut untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip  prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkret. Pengukuran kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Melalui pendekatan ini peserta didik dihadapkan dengan suatu masalah, entah riil atau hipotesis, yang perlu dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. ptk matematika smp pdf Dengan demikian, penguasaan aspek ini sudah tentu harus didasari aspek pemahaman yang mendalam tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah tersebut.

d. Analisis (Analysis)
Dalam tingkatan ini peserta didik dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen¬komponen pembentuknya. Dengan jalan ini situasi atau keadaan tersebut menjadi lebih jelas. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.
e. Sintesis (Synthesis)
Pada tahap ini peserta didik dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan beberapa faktor yang ada.
f. Penilaian (Evaluation)
Dalam jenjang kemampuan ini peserta didik dituntut untuk dapat menilai suatu situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu. Yang terpenting dalam evaluasi adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik mampu mengembangkan kriteria, standar, atau ukuran untuk menilai sesuatu.

4. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik padadasarnya dipengaruhi oleh dua faktor , yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal meliputi:
1) Faktor jasmani, meliputi kesehatan dan cacat tubuh.
a) Faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Seseorang akan terganggu jika kesehatannya kurang baik, ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indra serta tubuhnya. Sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap kualitas ranah cipta (kognitif) peserta didik.
b) Faktor Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu kelainan yang menyebabkan bentuk fisik tubuh yang kurang baik atau kurang sempurna mengenai badan. Keadaan tubuh yang cacat akan menggangu proses belajar seseorang, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya.
2) Faktor psikologis
a) Intelegensi
Menurut Reber intelegensi adalah kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Intelegensi mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan belajar peserta didik. Intelegensi sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik, karena semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang peserta didik maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang peserta didik maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.

b) Perhatian
Perhatian adalah pemusatan energi psikis yang tertuju kepada sesuatu objek pelajaran. Perhatian juga didefinisikan sebagai sedikit banyaknya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Untuk memperoleh hasil belajar yang baik, maka seorang peserta didik harus memiliki perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Sebaliknya jika tidak ada perhatian terhadap bahan pelajaran maka yang timbul adalah kebosanan, sehingga malas untuk belajar.
3) Faktor Kelelahan.
Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani ditandai dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan sub stansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.
Kelelahan rohani dapat terlihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing¬pusing sehingga sulit berkonsentrasi, seolah otak kehabisan daya untuk bekerja. Dari uraian ini maka dapatlah dimengerti bahwa kelelahan mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik maka perlu diusahakan agar kondisi tubuh bebas dari kelelahan. 

b. Faktor Eksternal
1) Faktor keluarga
a) Cara Orang Tua Mendidik
Cara orang tua mendidik anak mempunyai pengaruh besar terhadap hasil belajar anaknya. ptk matematika smp kelas 7 doc Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya misalnya: acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mau kemajuan-kemajuan anaknya dalam belajar, kesulitan-kesulitan yang ia alami dalam belajar dan lain-lain. Hal ini dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil belajarnya.
b) Suasana Rumah
Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada peserta didik untuk belajar dengan baik, sehingga hal ini membuat pikiran peserta didik tidak punya pendirian dan susah berkonsentrasi belajar.
Peserta didik yang sedang dalam proses studi memerlukan suasana rumah yang nyaman dan kondusif untuk studinya. Dan suasana yang nyaman di rumah dapat tercipta jika kondisi rumah jauh dari suara-suara bising, keramaian, pertengkaran dan lain-lain yang bisa memecahkan konsentrasi belajar siswa.

2) Faktor sekolah
a) Metode Pengajaran
Metode pengajaran adalah cara ataupun alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran. Makin baik metode yang dipakai, maka akan efektif pula pencapaian tujuan pembelajaranya. Dalam penelitian ini akan diterapkan suatu metode diskusi yang dikembangkan menjadi model pembelajaran yaitu model pembelajaran interaktif. Model pembelajaran ini menuntut kemampuan peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan atau kemampuan di dalam pikiran peserta didik, sehingga diharapkan dengan model pembelajaran ini hasil belajar dapat ditingkatkan.

b) Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada peserta didik. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar peserta didik menerima, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Kurikulum yang baik, yakni kurikulum yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, sedangkan kurikulum kurang baik adalah kurikulum terlalu padat di atas kemampuan peserta didik sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik.
c) Relasi guru dengan Peserta Didik
Proses interaksi peserta didik dengan guru, dipengaruhi hubungan yang ada. Apabila guru dapat berinteraksi dengan peserta didik dengan baik, akrab, peserta didik akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan oleh guru, sehingga peserta didik mempelajarinya dengan sebaik¬baiknya. Sebaliknya guru kurang berinteraksi dengan peserta didik secara akrab, menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar. Sehingga peserta didik merasa jauh dari guru, maka ia segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.

3) Faktor masyarakat
Kegiatan peserta didik dalam masyarakat yang dimaksud adalah kegiatan peserta didik dalam masyarakat yang dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi kalau kegiatan peserta didik terlalu banyak maka akan terganggu belajarnya, karena ia tidak bisa mengatur waktu.
b) Media massa
Yang dimaksud dengan media massa adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, buku-buku, komik dan lain-lain. Media massa yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap peserta didik dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap peserta didik.
c) Teman Bergaul
Pengaruh-pengaruh dari teman bergaul peserta didik lebih cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman yang baik membawa kebaikan, seperti membawa belajar bersama, dan teman pergaulan yang kurang baik adalah yang suka begadang, pecandu rokok, minum-minum maka berpengaruh sifat buruk juga. Download ptk matematika smp kelas 7 doc Sehingga perlulah agar peserta didik dijaga agar tidak salah pergaulan.

5.  Model Pembelajaran Interaktif dengan Pertanyaan Pengarah 
a. Pengertian Model Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran interaktif didasarkan pada dua premis mayor yaitu:
1) Pemahaman berkembang sebagai suatu proses informasi dan mengkonstruksi ide-ide secara mental.
2) Pemecahan masalah sangat penting untuk menstimulasi pikiran. Pemecahan masalah dikembangkan melalui:
a) Pertanyaan open-ended yang memberikan petunjuk untuk menguji dan menyusun kembali apa yang diketahui.
b) Aktivitas yang meliputi interpretasi pemikiran dari berbagai kegiatan, termasuk menginvestigasi dan mengeksplorasi.
c) Pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pertimbangan yang mendalam untuk dijawab.
Model pembelajaran interaktif merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dimana siswa menemukan konsep dengan cara mengkonstruksi dari benak mereka sendiri.41 Pada model ini guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa dalam menemukan konsep yang dimaksud. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri.

b. Pertanyaan Pengarah (Prompting Question)
Pertanyaan merupakan stimulus yang mendorong anak untuk berfikir dan belajar. Dalam proses belajar mengajar pertanyaan merupakan komponen yang sangat penting. Pertanyaan yang tersusun dengan baik dan terarah dapat memberikan dampak positif bagi siswa. Dalam penerapan model pembelajaran interaktif ini akan dipadukan dengan penggunaan pertanyaan pengarah dalam proses pembelajarannya.
Pertanyaan mengarah atau menuntun (prompting question) merupakan pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada peserta didik dalam proses berfikirnya. Hal ini dilakukan apabila guru menghendaki agar peserta didik memperhatikan dengan seksama bagian tertentu atau inti pelajaran yang dianggap penting. Dari segi yang lain, apabila peserta didik tidak menjawab atau salah menjawab, guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang mengarahkan atau menuntun proses berfikir peserta didik sehingga pada akhirnya peserta didik dapat menemukan jawaban bagi pertanyaan pertama tadi.

Dalam kegiatan pembelajaran pertanyaan tidak hanya digunakan untuk menguji kemampuan peserta didik, namun juga dapat merangsang keterlibatan mental dan fisik peserta didik. Oleh sebab itu dengan memberi pertanyaan pengarah dalam pembelajaran, maka guru dapat memberi arahan kepada apa yang harus difahami dan diperoleh peserta didik dalam pembelajaran yang dilakukan. Dengan dihadapkan pada pertanyaan yang terarah peserta didik akan menjadi tertantang untuk merespon. Respon yang diberikan peserta didik dapat diperoleh dengan cara mengkonstruksi atau mengasimilasi konsep-konsep yang ditemuinya. Dengan demikian pemberian pertanyaan pengarah dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri, dan belajar bermakna sehingga dapat berakibat pada baiknya pemahaman konsep dan retensi peserta didik.

c. Fase Pembelajaran Model Interaktif dengan Pertanyaan Pengarah (Prompting Question)
Holmes mengklasifikasikan pelaksanaan interaktif dalam lima tahap yaitu:
1) Introduction (pengantar).
2) Activity problem solving (melakukan aktivitas atau memecahkan masalah).
3) Sharing and discussing (saling berbagi dan diskusi).
4) Summarizing (meringkas atau menarik kesimpulan).
5) Assessment of learning of unit material (menilai belajar unit material).
Adapun tahapan proses pembelajarannya adalah sebagai berikut.

a) Fase pertama
Guru memulai pelajaran dengan mengorganisasi kelas, apakah siswa diminta untuk belajar secara individual atau secara berkelompok selanjutkan di fase ini juga guru menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, bisa berupa menyelesaikan masalah, melanjutkan mempelajari suatu topik, mengerjakan tugas (proyek) ataupun melakuakan aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat membantu siswa memahami suatu topik pelajaran. Guru juga dapat meminta siswa untuk mencatat hasil aktivitas yang lakukan.
b) Fase kedua
Siswa mulai melaksanakan aktivitas yang telah ditentukan guru pada fase pertama, siswa dapat bekerja secara individual ataupun berkelompok tergantung pada pengorganisasian kelas yang dilakukan guru di fase pertama. Pada model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah aktivitas dilakukan siswa adalah menjawab pertanyaan pengarah yang diberikan guru secara tertulis. Di fase ini guru dapat memberikan bimbingan atau bantuan terbatas kepada siswa dalam mengerjakan tugasnya, bimbingan ini bisa berupa pertanyaan pengarah yang diberikan secara lisan.

c) Fase ketiga
Presentasi hasil kerja, bisa berupa hasil kerja kelompok atau hasil kerja individual. Fase ini merupakan fase interaksi kelas. Beberapa siswa (dapat mewakili kelompok, jika pada fase kedua dilakukan secara berkelompok) diminta untuk menampilkan dan menjelaskan hasil pekerjaannya pada teman-teman sekelasnya, siswa-siswa lainnya diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan (pertanyaan atau komentar) terhadap pekerjaan temannya. Guru juga dapatmengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu siswa lebih memahami topik yang sedang mereka pelari.
d) Fase keempat
Meringkas atau menarik kesimpulan, di fase ini siswa diminta untuk memperatikan kembali hasil pekerjaannya di fase kedua dan memperbaikinya jika ternyata setelah dilakukan diskusi kelas terdapat kesalahan pada pekerjaan mereka. Contoh ptk matematika smp pdf Di fase ini juga, guru dapat mengecek kembali pemahaman siswa dengan memberikan beberapa permasalahan atau soal latihan yang dapat dijawab secar lisan ataupun tulisan. Siswa juga dapat mengajukan permasalahan ataupun pertanyaan jika ada hal-hal yang belum dipahaminya dari topik yang sedang dipelajari. Di akhir fase ini guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang apa yang telah dipelajarinya.
e) Fase kelima
Fase menilai belajar unit materi. Walaupun fase ini adalah fase terakhir, tetapi bukan berarti penilaian hanya dilakukan pada akhir pembelajaran, tetapi penilaian dilakukan sebelum, selama dan setelah pembelajaran dilaksanakan. Di awal pembelajaran penilaian dapat dilakukan dengan memberikan pretes. Penilaian selama pembelajaran dapat dilakukan melalui observasi selama siswa mengikuti proses pembelajaran, wawancara dengan siswa, menilai hasil pekerjaan siswa, dan juga dapat dilengkapi dengan portofolio dan jurnal siswa.
Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa peserta didik belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu peserta didik atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

6. Tinjauan Materi
a. Hubungan Antarsudut
1) Sepasang sudut yang saling berpelurus (suplemen)
Jika dua sudut dapat membentuk sudut lurus, maka sudut yang satu merupakan pelurus dari sudut lainnya.
Besar sudut dari dua buah sudut yang saling berpelurus adalah 180°
Gambar 5
2) Sepasang sudut yang saling berpenyiku.
Jika dua sudut dapat membentuk sudut siku-siku, maka sudut yang satu merupakan penyiku dari sudut lainnya.Besar sudut dari dua buah sudut yang saling berpenyiku adalah 90°
Gambar 6
3) Sepasang sudut yang saling bertolak belakang.
Gambar 7
Ruas garis NL dan KM berpotongan di titik O, sehingga terbentuklah pasangan sudut yang saling bertolak belakang. Besar sudut dari dua buah sudut yang saling bertolak belakang adalah sama.

b. Sudut yang terjadi jika dua garis sejajar dipotong garis ketiga
Gambar 8
Perhatikan gambar di atas garis a sejajar dengan garis b dipotong oleh garis c di titik A dan B, maka terjadilah delapan buah sudut yaitu
Rumus b.1

1) Sudut-sudut sehadap
Pasangan-pasangan sudut sehadap, yaitu:
Rumus 1.a
2) Sudut-sudut dalam bersebrangan
Pasangan-pasangan sudut dalam bersebrangan, yaitu:
Rumus 2.a
3) Sudut-sudut luar bersebrangan
Pasangan-pasangan sudut luar bersebrangan, yaitu:
Rumus 3.a
4) Sudut-sudut dalam sepihak
Pasangan-pasangan sudut dalam sepihak, yaitu:
Rumus 4.a
5) Sudut-sudut luar sepihak
Pasangan-pasangan sudut luar sepihak, yaitu:
Rumus 5.a
c. Contoh Soal
Tentukan besar sudut yang ditunjukkan oleh huruf pada gambar berikut ini dan berikan penjelasan tentang sudut tersebut!
Gambar 9

Pembahasan :
EF sejajar GH berdasarkan teorema sudut sepihak, diperoleh :
a + 1350° = 1800°
a = 1800° - 1350°
a = 450°
AB sejajar CD Berdasarkan teorema sudut bersebrangan, diperoleh:
b = a maka b = 450°
EF sejajar GH Berdasarkan teorema sudut sehadap, diperoleh: c = b maka c = 450°
B. Penerapan Model Pembelajaran Interaktif dengan Pertanyaan Pengarah (Prompting Question)
Pada penelitian ini akan diterapkan Model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dengan melalui fase sebagai berikut: ptk matematika smp kelas 7 doc
1. Pengantar (Introduction)
Sebelum memasuki aktivitas pembelajaran pada fase ini guru memberi arahan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik dalam proses pembelajaran yang akan berlangsung. Pertama-tama guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengorganisasi kelas dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil di mana setiap kelompok terdiri dari 5-6 peserta didik. Guru juga menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan peserta didik yaitu menjawab pertanyaan pengarah dalam lembar kerja yang akan dibagikan.
2. Melakukan aktivitas memecahkan masalah (A ctivity problem solving)
Pada fase memecahkan masalah ini peserta didik dengan bimbingan guru melakukan aktivitas menjawab pertanyaan pengarah pada lembar kerja. Bimbingan yang diberikan guru ini dapat berupa pertanyaan pengarah atau pertanyaan apersepsi secara lisan yang diperlukan untuk membantu peserta didik menemukan jawaban yang diperlukan. Dengan adanya kegiatan menjawab pertanyaan ini dapat mendorong peserta didik untuk berfikir dan mongkonstruksi konsep¬konsep yang dipelajari.

3. Saling berbagi dan berdiskusi (Sharing and discussing)
Kegiatan pembelajaran pada fase ini guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas, sedangkan kelompok lain memberikan tanggapan dari teman¬teman sekelasnya. Fase ini peserta didik dituntut untuk dapat menjelaskan hasil dari aktivitas pemecahan masalah yang mereka lakukan secara berkelompok. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat melatih kemampuan berkomunikasi pada orang lain.
4. Meringkas dan menarik kesimpulan (Summarizing)
Fase ini peserta didik dibawah bimbingan guru menyimpulkan hasil diskusi. Selain itu untuk mengetahui sebatas mana kemampuan pemahaman peserta didik, guru dapat memberikan permasalahan ataupun soal latihan dan bagi peserta didik yang belum paham difase ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan hal-hal yang belum mereka pahami.
5. Menilai belajar unit materi (Assessment of learning of unit material)
Fase ini merupakan fase penilaian hasil pembelajaran. Penilaian dapat dilakukan dengan memantau aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran. Bagaimana peran sertanya dalam kelompok, keaktifan dalam berdiskusi dan penyajian hasil diskusi.
Dalam pembelajaran interaktif terdapat dua hal yang tekankan dalam proses belajar peserta didik. Yang pertama adalah peserta didik mengkonstrusi pengetahuannya sendiri dengan melakukan aktivitas yang disediakan oleh guru, bisa berupa pemecahan masalah, penemuan konsep, menginvestigasi ataupun aktivitas lainnya. Kemudian yang ke dua adalah peserta didik dapat mengkomunikasikan dengan lainnya.

Pada fase saling berbagi dan diskusi terjadi pembangunan sistem makna melalui interaksi-interaksi yang terjadi. Pada fase ini peserta dituntut untuk dapat menjelaskan hasil dari pemecahan masalah yang mereka lakukan sendiri ataupun kelompok melalui diskusi kelas yang dibimbing oleh guru, selain itu pada fase ini peserta didik juga dapat mengemukakan pendapat ataupun bertanya pada peserta didik lain yang sedang mempresentasikan hasil diskusinya, sehingga dalam fase ini terjadi interaksi-interaksi edukatif. Lebih lanjut Vygotsky menyatakan bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya akan muncul melalui percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Sehingga dengan kondisi ini diharapkan terjadi interaksi edukatif dan peserta didik dapat benar-benar mengerti tentang apa yang mereka pelajari dan tidak mudah melupakannya.

Pada prinsipnya guru tidak akan mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik apabila peserta didik hanya menulis hasil diskusi kelompoknya disebuah kertas tanpa adanya presentasi. Sehingga dengan adanya fase Assesment of learning of material guru dapat mengetahui dan menilai kemampuan suatu kelompok ataupun individu dalam memecahkan masalah yang diberikan serta kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan hasil diskusi ataupun hasil pemecahan masalah mereka pada orang yang lain. Contoh ptk matematika smp pdf
Dengan demikian diharapkan dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dapat meningkatkan hasil belajar pada materi pokok garis dan sudut di SMPN 1 ... .
C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir di atas penulis mengajukan hipotesis awal bahwa model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK SMP KELAS VII

BAB III
METODE PENELITIAN


A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah pada BAB I, Penelitian kuantitatif yang akan dilaksanakan ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada waktu semester genap tahun ajaran 2015/2016.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 ....

C. Variabel Penelitian
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus penelitian untuk diamati. Variabel itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau objek yang merupakan variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas (Independen)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independennya adalah model pembelajaran, yang terdiri dari model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dan metode konvensional. ptk matematika smp pdf Aspek yang dapat diteliti dalam penerapan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) dalam pembelajaran di sekolah, penulis mengelompokkannya menjadi beberapa indikator sebagai berikut :
a. Indikator untuk peserta didik dalam penelitian ini adalah:
1) Kemampuan peserta didik dalam bertanya.
2) Kemampuan peserta didik dalam merespon pertanyaan.
3) Kemampuan peserta didik dalam mengemukakan pendapat.
4) Keaktifan dalam melaksanakan tugas diskusi.

b. Indikator untuk guru dalam penelitian ini adalah:
1) Kemampuan guru dalam mengajukan pertanyaan.
2) Kemampuan guru dalam menyusun pertanyaan pengarah.
3) Kesesuaian pertanyaan pengarah terhadap materi yang dipelajari.
4) Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran
interaktif sesuai dengan sintaksnya.
2. Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependennya adalah hasil belajar peserta didik kelas VII SMPN 1 ...  pada materi pokok garis dan sudut. Hasil belajar ini diperoleh dengan memberikan post test kepada peserta didik setelah mendapat perlakuan (treatment) dengan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (propting question).
D. Metode Penelitian
Metode penelitian kuantitatif yang akan dilakukan merupakan metode eksperimen yang berdesain “True Eksperimental Design” jenis “Posttest-Only Control Design” karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari efek dari treatment yang diberikan. Adapun pola desain penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 10
Keterangan:
R1 = Random (keadaan awal kelompok eksperimen).
R2 = Random (keadaan awal kelompok kontrol).
X = Treatmen (perlakuan).
O1 = Pengaruh diberikannya treatmen.
O2 = Pengaruh tidak diberikannya treatmen.

Pada desain penelitian “Posttest-Only Control Design” dipilih dua kelas sebagai sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question) sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan seperti biasanya yaitu dengan pembelajaran konvensional. Setelah proses pembelajaran selesai untuk mengetahui efek dari treatment yang diberikan masing-masing kelas diberi post-test dengan soal yang sama.
Data dari hasil post-test kedua sampel kemudian diuji normalitas, homogenitas dan perbedaan rata-rata (uji t pihak kanan).Uji tersebut digunakan untuk mengetahui apakah perbedaan skor pencapaian pada kedua sampel singnifikan atau tidak berdasarkan statistik.
Selain hasil belajar dalam penelitian ini juga diamati aktifitas proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dan guru mempengaruhi hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.

Skema penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 1.1
E. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh peserta didik SMPN 1 ...  kelas VII Tahun Pelajaran 2015/2016.

2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster random sampling yaitu teknik sampling yang memberi peluang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini digunakan dengan didasarkan pada beberapa asumsi yaitu: peserta didik mendapatkan materi berdasarkan kurikulum yang sama, peserta didik yang menjadi obyek penelitian duduk pada tingkat kelas yang sama, dan pembagian kelas tidak berdasarkan ranking.
Pada penelitian ini dipilih tiga kelas yang menjadi sampel yaitu kelas VIIA sebagai kelas eksperimen, kelas VIIB sebagai kelas kontrol.
F. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data nama-nama peserta didik yang akan diambil sampel dalam penelitian ini dan daftar nama-nama peserta didik yang akan menjadi responden dalam uji coba instumen. Selain itu, metode ini digunakan untuk mendapat data nilai ulangan harian bersama. Nilai tersebut digunakan untuk mengetahui normalitas dan homogenitas awal sampel. download ptk matematika smp doc 
2. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes diberikan pada kedua kelompok setelah mendapat perlakuan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan presstasi belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

3. Metode Observasi
Metode ini digunakan untuk mengamati aktivitas peserta didik ketika proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah (prompting question). Apakah sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran dan prosedur pelakasanaan model pembelajaran tersebut atau belum sehingga kita dapat mengetahui penyebab ketika ternyata prestasi belajar kelompok eksperimen tidak lebih baik dari kelompok kontrol.
G. Teknik Analisis Instrumen
Analisis instrumen dalam penelitian ini meliputi:
1. Materi dan bentuk tes
Materi yang diberikan dalam penelitian ini adalah materi pokok garis dan sudut. Sedangkan bentuk tes yang diberikan adalah tes objektif jenis pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.
2. Penyusunan Instrumen
Langkah-langkah penyusunan instrumen pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan materi
Materi yang digunakan dalam instrumen penelitian ini adalah materi pokok garis dan sudut yang dibatasi pada kompetensi dasar memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain.

b. Menentukan alokasi waktu
Dalam penelitian ini waktu yang digunakan untuk mengerjakan soal adalah 80 menit.
c. Menentukan bentuk tes
Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda (multiple choise) dengan empat pilihan jawaban.
d. Membuat kisi-kisi soal
Kisi-kisi soal dibuat oleh peneliti dengan memperhatikan kompetensi yang akan diukur dalam penelitian ini.
e. Membuat parangakat tes
Pembuatan perangkat tes dalam penelitian ini meliputi penulisan butir soal, penulisan pedoman pengerjaan, dan pembuatan kunci jawaban.
f. Mengujicobakan instrumen tes
Instrumen tes yang telah dibuat diujicobakan pada kelas uji coba yaitu kelas VII- 1. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memilih soal-soal yang memenuhi syarat untuk dijadikan instrumen penelitian yang baik.

g. Menganalisis hasil tes uji coba
Analisis yang digunakan adalah validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda.
3. Uji coba instrumen
Untuk mengetahui apakah butir soal telah memenuhi kriteria tes yang baik serta dapat mengukur kompetensi yang akan dicapai terlebih dahulu dilakukan tes uji coba. Hasilnya kemudian dianalisis dengan menguji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran serta daya beda soal.
Setelah diketahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda kemudian dipilih butir soal yang memenuhi kualifikasi untuk digunakan dalam pengukuran kemampuan peserta didik dalam memahami materi garis dan sudut. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Validitas Soal
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur.60 Uji validitas untuk pilihan ganda digunakan korelasi point biserial karena skor 1 dan 0 saja. Adapun Uji validitas butir pilihan ganda menggunakan korelasi point biseral sebagai berikut.
Gambar 11
Gambar 12

Setelah dihitung rhitung dibandingkan dengan rtabel dengan taraf signifikansi 5% dan jumlah sampel 44, sehingga diperoleh rtabel = 0,297. Jika rhitung > 0,297 maka item soal tersebut dikatakan valid.61
Berdasarkan hasil perhitungan validitas yang dilakukan sebanyak dua kali, dari 25 item soal yang diuji diperoleh sebanyak 22 soal dikatakan valid , yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, dan diperoleh 3 soal dikatakan tidak valid, yaitu nomor 5, 23 dan 25. (Cotoh perhitungan validitas dapat dilihat pada lampiran 19).
b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Suatu tes dikatakan reliabel jika dapat memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali atau dengan kata lain tes dikatakan reliabel jika hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan/keajegan hasil. Contoh ptk matematika smp pdf 
Rumus yang digunakan adalah KR-20, yaitu :
Gambar 13

Gambar 14
c. Tingkat Kesukaran
Menurut Witherington dalam bukunya Psychological Education menyebutkan, bahwa sudah atau belum memadainya derajat kesukaran item tes hasil belajar dapat diketahui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat kesulitan dari item tersebut. Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kesukaran item itu dikenal dengan istilah difficulty index (angka indek kesukaran item). Adapun rumus yang digunakan adalah:
Rumus 15

Dengan interpretasi tingkat kesukaran butir soalnya dapat digunakan tolak ukur sebagai berikut:
Tabel 2
Tabel Klasifikasi Tingkat Kesukaran
Dari 22 item soal yang diuji pada tahap kedua diperoleh klasifikasinya sebagai berikut:
1) Soal dengan kriteria sukar (1 butir): butir 6.
2) Soal dengan kriteria sedang (18 butir): butir 1, 2, 3, 4, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 17, 18, 19, 21, dan 22.
3) Soal dengan kriteria mudah (6 butir): butir 14,15,16, 20, dan 24. (Contoh perhitungan tingkat kesukaran dapat dilihat pada lampiran 21).
d. Daya Pembeda
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi (pandai), dengan testee yang berkemampuan rendah (bodoh). ptk matematika smp pdf 
Rumus yang digunakan untuk menentukan daya beda yaitu: 
Rumus 1.1

Dengan klasifikasi daya pembeda sebagai berikut: 
Tabel 3
Tabel Klasifikasi Daya Beda
Dari 22 soal yang diuji pada tahap kedua diperoleh klasifikasi daya beda sebagai berikut:
1) Soal dengan daya beda cukup(20 butir): butir 1, 2, 3, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, dan 24.
2) Soal dengan daya beda baik (4 butir): butir 4, 10, dan 17. (Contoh perhitungan daya pembeda dapat dilihat pada lampiran 22).
Berdasarkan hasil perhitungan analisis validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas soal, maka soal uji coba yang dipilih sebagai instrumen tes (soal pos-test) untuk mengambil data penelitian ada 22 soal, yaitu butir 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, dan 24.

H. Teknik Analisis Data
1. Analisis Tahap Awal
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah kelas yang dijadikan sampel berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas digunakan data nilai murni ulangan matematika sebelumnya. Rumus yang digunakan adalah uji Chi-Kuadrat.

Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut.
1) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah. 
2) Menentukan banyak kelas (BK)
3) Menentukan panjang kelas (i)
4) Menghitung rata-rata
5) Menentukan simpangan baku (S)
6) Menentukan rentang (R)

Membuat daftar frekuensi yang diharapkan dengan jalan:
a) Menentukan batas kelas
b) Menghitung nilai Zi dari setiap batas kelas dengan rumus:
Rumus 1.2

dimana S adalah simpangan baku dan x adalah rata-rata sampel.
8) Mencari luas 0 – Z dengan menggunakan angka-angka untuk batas kelas,
9) Mencari luas tiap kelas interval dengan jalan pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi baris krtiga dan seterusnya. download ptk matematika smp doc
10) Mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden.
11) Mencari Chi Kuadrat (2 ÷ hitung) dengan rumus:
Rumus 1.3

12) Membandingkan (X2 hitung) dengan (X2 tabel).
Ringkasan hasil uji normalitas dengan Chi Kuadrat terdapat dalam tebel berikut.
Tabel 4
Tabel Hasil Uji Normalitas Awal dengan Chi-kuadrat
(Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12-15).

b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen, yang selanjutnya akan digunakan untuk menentukan statistik t dalam pengujian hipotesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut:
Rumus 1.4
Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus: 
Rumus 1.5
Ringkasan hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5
Tabel Hasil Uji Homogenitas Awal Sampel
Pada pengujian tersebut dihasilkan nilai Fhitung = 1,366 dan pada = 5% dengan v1 = 45 – 1 = 44 dan v2 = 45 – 1 = 44, maka diperoleh Ftabel = 1,651. Karena Fhitung < Ftabel maka H0 diterima. Hal ini berarti, data sampel penelitian mempunyai varians yang sama (homogen). (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16).
c. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Awal
Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berawal dari kondisi yang sama. Contoh ptk matematika smp pdf Adapun hipotesis yang digunakan dalam uji kesamaan dua rata-rata ini adalah:
H0 : µ 1 = µ2
H1 : µ 1 µ2
Keterangan:
µ 1 = rata-rata hasil belajar matematika awal kelas eksperimen. 
µ2 =  rata-rata hasil belajar matematika awal kelas kontrol. 
Rumus 1.6

Kriteria pengujian adalah terima H0 jika thitung < t ( 1 - á ) dan tolak H0 jika t mempunyai harga-harga lain. Derajat kebebasan untuk daftar distribusi t adalah ( n1+ n2- 2) dengan peluang (1 - á ). 
Dari perhitungan diperoleh data berikut: 
Tabel 6
Tabel Sumber Data Uji-t Awal

Dari hasil perhitungan t-test thitung = 1,309 dan ttabel = 1,987. Jadi thitung < ttabel sehingga H0 diterima dan H1 ditolak yaitu ada kesamaan rata-rata di kedua kelas. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17).
2. Analisis tahap akhir
Setelah kedua sampel diberi perlakuan yang berbeda, maka dilaksanakan tes akhir. Dari hasil tes akhir ini akan diperoleh data yang digunakan sebagai dasar dalam menguji hipotesis penelitian. Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Kemudian dari uji prasyarat dilakukan uji hipotesis dengan hipotesis sebagai berikut:
H0 : µ 1 £ µ2
H1 : µ 1 >µ2
Keterangan:
µ 1 = rata-rata hasil belajar matematika pada materi garis dan sudut yang diajar dengan model pembelajaran interaktif dengan pertanyaan pengarah(promting question). Download ptk matematika smp kelas 7 doc
µ2 = rata-rata hasil belajar matematika pada materi garis dan sudut yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
Uji hipotesis ini menggunakan rumus t- test dengan ketentuan sebagai berikut:
Rumus 1.7
b. Jika variansi kedua kelas berbeda  , rumus yang digunakan adalah:
Rumus 1.8

DOWNLOAD PTK KENAIKAN PANGKAT GURU SMP KURTILAS 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Asikin, Moh., DASPROS Pembelajaran Matematika I, Semarang: FMIPA Unnes, 2004.
Azis, Abdul dan Abdusyyakir, Analisis Matematis Terhadap Filsafat Al-Qur’an, Malang: UIN Malang Press, 2006.
Aziz, Shaleh Abdul dan Abdul Aziz Majid, At-tarbiyah wa Thu ruqut Tadris, Juz I, Mesir: Darul Ma’arif, t.th.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2010.
Cunayah, Cucun, Ringkasan dan Bank Soal Matematika, Bandung: Yrama Widya, 2008.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2006.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan , Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Nasution, Didatik Asas-Asas Men gajar,J akarta: Bumi Aksara, 1995.
Riduwan, Dasar-dasar Statistika, Bandung: Alfabeta, 2008.
Suyitno, Amin, CTL dan Model Pembelajaran Inovatif serta Penerapannya pada SD/SMP CI-BI, Semarang, Bahan Ajar ini digunakan untuk keperluan pelatihan guru-guru Matematika SD/SMP CI-BI di Salatiga Provinsi Jawa Tengah, 25 Februari 2010.
, Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1, Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES, 2004.
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Rajawali Perss, 2010.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rieneka Cipta, 2003.
Silverius, Suke, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Jakarta: PT. Grasindo, 1991.
Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995.
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1989.
Sudjana, Metode Statistika, Bandung: Tarsito, 2005.
Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Oprasionalnya, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, Bandung: Alfa Beta, 2007.
,Metode Penelitian Pendidikan (Pendeklatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), Bandung: CV. Alfabeta, 2009.
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif: Konsep dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana, 2010
Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Bumi Akasara, 2008.
Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Woolfolk, Anita E., Educational Psychology, Bostan, Allyn and Bacon, 1996.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS VII GARIS DAN SUDUT

Postingan terkait: