CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP REDUPLIKASI WORD

CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP REDUPLIKASI WORD-Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, dokumentasi, dan tes/penugasan. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan melalui 2 siklus, dimana setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Hasil penelitian pada siklus yang pertama belum mencapai peningkatan kemampuan siswa dalam penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi. Hal ini terbukti dari hasil rata-rata skor yang diperoleh siswa untuk soal pilihan ganda (PG) hanya sebesar 6.05 dan untuk soal esai (mengarang) hasil rata-rata skor yang diperoleh hanya mencapai 6.03, dengan rata-rata skor keseluruhan hanya mencapai 6.04 indikator pencapaian hasil (IPH) tidak tercapai karena belum mencapai batas kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan (70), selain itu hal ini disebabkan pula oleh kurangnya keterampilan dan kemahiran siswa dalam menjawab tugas yang diberikan secara individu. Tetapi setelah dilaksanakan siklus yang kedua tingkat kemampuan siswa mengalami peningkatan dalam penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh dari masing-masing siswa pada siklus yang kedua mengalami peningkatan hingga sebesar 79 untuk soal pilihan ganda (PG) dan untuk soal esai (mengarang) mencapai 7.43 dengan rata-rata skor keseluruhan mencapai 7.66 indikator pencapaian hasil belajar siswa pada siklus 2 telah tercapai melebihi batas KKM (70) yang ditetapkan. Hal ini juga dapat dilihat dari pengamatan yang menunjukkan persiapan yang lebih baik dari siklus sebelumnya (siklus 1). ptk bahasa indonesia smp pdf

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA SMP yang diberi judul PENINGKATAN KEMAMPUAN REDUPLIKASI DALAM KARANGAN NARASI DENGAN METODE TUGAS INDIVIDU PENELITIAN TINDAKAN KELAS PADA SISWA KELAS 8 SMP NEGERI 1 ... KECAMATAN ... KABUPATEN ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016 ". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS VIII lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 048).

BAB 1
PENDAHULUAN

PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS 8 TERBARU

A. Latar Belakang Masalah
Metodologi mengajar perlu dikuasai oleh pendidik karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya baik menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan tingkah laku baik tutur katanya, sikap/tingkah lakunya, dan gaya hidupnya.
Metode mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu harus menguasai metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasaikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud.

Untuk keberhasilan pembelajaran reduplikasi di sekolah guru berupaya memilih metode yang tepat agar kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan berhasil. Oleh karena itu, dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran yang sangat besar. Artinya, guru melakukan kegiatan yang melibatkan, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pengajaran di sekolah. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 8 Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisifasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapai tujuan pendidikan.

Salah satu metode pengajaran adalah metode pemberian tugas individu. Metode ini lebih mengutamakan kemampuan berpikir siswa dalam menyerap dan memahami secara individual. Sehingga pendidik dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai bidang pelajaran yang telah diajarkan tersebut, dan untuk peserta didik mereka dapat memupuk rasa percaya diri dan dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah, menginformasikan dan mengkomunikasikan sendiri, juga dapat dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa, serta dapat mengembangkan kreativitas siswa dan mengembangkan pola berpikir dan keterampilan anak setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan dari berbagai kondisi, statmen, argumentasi, dan kenyataan di atas peneliti ingin melakukan penelitian secara lebih mendalam tentang siswa berkaitan dengan Peningkatan Kemampuan Penggunaan Reduplikasi dalam Karangan Narasi dengan Penerapan Metode Pemberian Tugas Individu. Dalam hal ini penulis mengadakan penelitian pada siswa kelas 8.7 di SMPN 1 ... Kecamatan ... Kabupaten ... .
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas, masalah yang teridentifikasi sebagai berikut.
1. Bagaimana penerapan metode pemberian tugas individu dapat terjadi
peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi?
2. Seberapa besar peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam
karangan narasi dengan penerapan metode pemberian tugas individu pada
siswa kelas 8.7 di SMPN 1 ... Kecamatan ... Kabupaten ... . ?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi siswa tidak memahami reduplikasi?
4. Bagaimana hasil belajar siswa setelah memperoleh tugas individu?

C. Pembatasan Masalah
Mengacu pada masalah-masalah yang muncul di atas, maka demi terarahnya penelitian ini penulis perlu membatasi masalah yang akan diteliti yakni:
1. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas 8.7 semester II (dua) tahun ajaran 2015/2016.
2. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pemberian tugas individu untuk meningkatkan kemampuan siswa.
3. Pembelajaran difokuskan pada aspek kognitif siswa dengan mengerjakan latihan soal.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut: bagaimana peningkatan kemampuan reduplikasi dalam karangan narasi dengan metode tugas individu?

E. Tujuan Penelitian
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi dengan penerapan metode pemberian tugas individu.
2. Seberapa besar peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi dengan penerapan metode pemberian tugas individu.
F. Manfaat Penelitian
Secara umum hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan bisa dijadikan bahan masukan dalam program pembelajaran pendidikan bahasa Indonesia, berkaitan dengan penerapan metode pemberian tugas individu pada penggunaan reduplikasi, khususnya dalam pembuatan karangan narasi.
1. Manfaat Teoretis
a. Manfaat bagi guru
1. Manfaat bagi guru adalah untuk membantu guru dalam upaya menentukan strategi pengajaran yang tepat dan efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa pada reduplikasi. Contoh ptk bahasa indonesia smp pdf
2. Sebagai bahan pertimbangan guru dalam mengajar dengan penerapan metode pemberian tugas individu baik dari strategi persiapan mengajar maupun kendala-kendala yang dihadapi.

b. Manfaat bagi siswa
Manfaat bagi siswa dalam hal ini adalah untuk memudahkan siswa dalam memahami reduplikasi dengan metode yang efektif dan menyenangkan, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran menjadikan siswa lebih giat dalam membuat karangan narasi.
c. Manfaat bagi sekolah
Manfaat bagi sekolah dalam hal ini adalah sebagai bahan masukan dan metode yang efektif dalam menerapkan metode pemberian tugas individu untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.

2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi guru
Manfaat praktis bagi guru adalah memberikan informasi yang bermanfaat tentang penggunaan metode pemberian tugas indivudu untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, serta dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan acuan pembelajaran bagi guru.
b. Manfaat bagi siswa
Manfaat praktis bagi siswa adalah sebagai sumber pelajaran bagi siswa atau pihak-pihak yang menaruh perhatian pada kajian tentang pemahaman reduplikasi.
c. Manfaat bagi sekolah
Manfaat praktis bagi sekolah adalah sebagai salah satu upaya untuk menentukan kebijaksanaan dalam metode atau alat pembelajaran dalam proses mengajar.

DOWNLOAD LENGKAP PTK SMP BAHASA INDONESIA

BAB II
KAJIAN TEORETIS

A. Pengertian Karangan
Sebelum merumuskan pengertian karangan, perlu dipahami makna kata mengarang, karena dari kegiatan yang disebut mengarang itu dihasilkan suatu karangan. Mengarang berarti menyusun‘ atau merangkai‘.
Pada awalnya kata merangkai tidak berkaitan dengan kegiatan menulis. Cakupan makna kata merangkai mula-mula terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret seperti merangkai bunga atau merangkai benda lain. Sejalan dengan kemajuan komunikasi dan bahasa, lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan merangkai kalimat; kemudian jadilah apa yang disebut pekerjaan mengarang. Orang yang merangkai atau menyusun kata, kalimat dan alinea tidak disebut perangkai, tetapi penyusun atau pengarang untuk membedakannya misalnya dengan perangkai bunga. Mengingat karangan tertulis juga disebut tulisan, kemudian sebutan penulis untuk orang yang menulis karangan.


Adapun pengertian karangan menurut hemat Lamuddin Finoza adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan. Setiap karangan yang idealnya pada prinsipnya merupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.
1. Penggolongan Karangan Menurut Bobot Isinya
a. Karangan Ilmiah, Semiilmiah, dan Nonilmiah
Berdasarkan bobot isinya, karangan dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu (1) karangan ilmiah, (2) karangan semiilmiah atau ilmiah populer, dan (3) karangan nonilmiah. Contoh karangan yang tergolong sebagai karangan ilmiah antara lain disertasi, makalah, penelitian, tesis; yang tergolong sebagai karangan semiilmiah antara lain artikel, berita, editorial, feature, laporan, opini, tip; dan yang tergolong sebagai karangan nonilmiah antara lain anekdot, cerpen, dongeng, hikayat, naskah drama, novel, puisi. Download ptk bahasa indonesia smp doc
Ketiga jenis karangan tersebut di atas memiliki karakteristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut penggunaan bahasa. Kebalikan dari karangan ilmiah adalah karangan nonilmiah, yaitu karangan yang tidak terikat pada aturan baku tadi; sedangkan karangan semiilmiah berada diantara keduanya. (lihat gambaran posisi karangan semiilmiah di bawah ini).

Gambar 1
Gambaran Posisi Karangan Semiilmiah
Karangan ilmiah dan karangan ilmiah populer tidak banyak perbedaan yang mendasar. Perbedaaan yang paling jelas hanya pada pemakaian bahasa, struktur, dan kondisi karangan. Dalam karangan ilmiah digunakan kosakata yang khusus berlaku dibidang ilmu tertentu. Dalam karangan ilmiah populer bahasa yang terlalu teknis tersebut terkadang dihindari. Sebagai gantinya digunakan kata atau istilah yang umum. Jika kita perhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan secara ketat dan sisematis, sedangkan karangan ilmiah populer agak longgar, meskipun tetap sistematis. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah tabel berikut.
Tabel 1
Perbedaan Karangan Ilmiah, Semiilmiah, Nonilmiah

b. Ciri Karangan Ilmiah dan Semiilmiah
Sebelum merinci ciri karangan ilmiah dan semiilmiah, ada baiknya dipahami terlebih dahulu batasan karangan kedua jenis tersebut. Karangan ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran yang dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis, dan sintetis-analisis. Adapaun karangan semiilmiah adalah tulisan yang berisi informasi faktual yang diungkapkan dengan bahasa semiformal, namun tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintetis-analitis karena sering dibumbui´ opini pengarang yang terkadang subjektif.

Tata bentuk karangan mencakup tiga bagian karangan, yaitu (1) halaman¬halaman awal (preliminaries) yang meliputi judul, kata pengantar, aneka daftar (daftar isi, daftar tabel/bagan/lampiran); (2) isi utama (main body) yang meliputi pendahuluan, isi, penutup; dan (3) halaman-halaman akhir (reference matter) yang meliputi daftar pustaka, lampiran, dan biodata penulis.
Dalam karangan ilmiah populer, bagian preliminaries tidak ada. Bagian awal karangan ilmiah populer langsung memasuki isi. Seperti halnya karangan ilmiah murni, karangan ilmiah populer boleh menggunakan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka.
Untuk menyajikan suatu topik, seorang penulis akan menggunakan cara atau teknik tertentu yang disesuaikan dengan pokok bahasan dan tujuan yang hendak dicapainya. Jika hendak menyampaikan informasi berupa berita, misalnya, ia akan menggunakan bentuk karangan tertentu. Bentuk itu akan berbeda jika ia hendak menyampaikan imbauan yang bersifat menggugah perasaan atau emosi. Dengan kata lain, terdapat beberapa jenis karangan berdasarkan penyajian dan tujuan penulisannya.

2. Penggolongan Karangan Menurut Cara Penyajian dan Tujuan Penulisannya
Berdasarkan cara penyajian dan tujuan penulisannya, karangan dapat dibedakan atas enam jenis, yaitu
(1) Deskripsi (perian)
(2) Narasi (kisahan)
(3) Eksposisi (paparan)
(4) Argumentasi (bahasan)
(5) Persuasi (ajakan)
(6) Campuran/kombinasi
Dalam praktiknya, karangan murni yang dapat berdiri sendiri sebagai karangan yang lengkap adalah narasi, eksposisi, dan persuasi; sedangkan deskripsi dan argumentasi sering dipakai untuk melengkapi atau menjadi bagian dari karangan lain. Contoh karangan eksposisi yang berdiri sendiri sangat banyak ragamnya. Berita-berita dalam surat kabar adalah contoh eksposisi. Adapun contoh karangan persuasi yang utuh adalah iklan atau lembar promosi lainnya seperti leaflet, brosur, dan advertorial.
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan sementara, yaitu ada tiga jenis karangan (narasi, eksposisi, dan persuasi) yang sering ditemukan sebagai karangan yang utuh berdiri sendiri. Dua jenis yang lain (deskripsi dan argumentasi) jarang tampil sebagai karangan yang utuh. Kedua bentuk ini sering merupakan bagian dari karangan lain. Karangan ilmiah pada umumnya terbentuk argumentasi dengan bantuan deskripsi sebagai pendukung.
Keahlian memadukan beberapa jenis karangan tentu tidak diperoleh dengan gampang. Ingat, mengarang adalah suatu keterampilan. Karena itu, latihan yang intensif merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan oleh calon penulis. Satu lagi pedoman yang perlu dicermati oleh calon penulis adalah keharusan mengetahui ciri setiap jenis karangan sebelum mencoba mengkombinasikannya.
3. Pengertian Karangan Narasi
Karanggan Narasi adalah suatu bentuk karangan yang menceritakan kejadian berdasarkan urutan waktu. Karangan narasi biasanya disertai oleh kisah, kehadiran tokoh, dan ada deskripsi baik latar, tokoh, dan alur. ptk bahasa indonesia smp pdf Contoh karangan narasi adalah cerita Siti Nubaya, Malin Kundang, dan Supernova. Narasi itu sendiri merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu, unsur yang paling penting pada sebuah naras adalah unsur perbuatan dan tindakan. Tetapi kalau narasi hanya menyampaikan kepada pembaca suatu kejadian atau peristiwa, maka tampak bahwa narasi akan sulit dibedakan dari deskripsi, karena suatu peristiwa atau suatu proses dapat juga disajikan dengan mempergunakan metode deskripsi. Oleh karena itu, mesti ada unsur lain yang harus diperhitungkan, yaitu unsure waktu. Bila deskripsi mengggambarkan suatu obyek secara statis, maka narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu.

a. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris disebut juga narasi teknis adalah karangan yang mencoba menyajikan sebuah peristiwa kepada pembaca apa adanya. Narasi ekspositoris pertama-tama bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut Narasi menyampaikan informasi berlangsungnya suatu peristiwa. Sebuah naras mengenai suatu pemogokan buruh di suatu perusahaan untuk menuntut kenaikan gaji, suatu narasi yang ditampilkan oleh seorang penuntut umum di depan pengadilan mengenai bagaimana berlangsungnya suatu pembunuhan— semuanya berusaha menyampaikan informasi kepada para pembaca atau pendengar mengenai kejadian itu, supaya mereka pun tahu mengenai peristiwa itu secara tepat.

Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap¬tahap kejadian, rangkaian-rangkaian perbuatan kepada para pembaca atau pendengar. Runtun kejadian atau peristiwa yang disajikan itu dimaksudkan untuk menyampaikan informasi untuk memperluas pengetahuan atau pengertian pembaca, tidak perduli apakah disampaikan secara tertulis atau secara lisan.

b. Narasi Sugestif
Seperti halnya narasi ekspositoris, narasi sugestif juga pertama-tama bertalian dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaikan dengan suatu kejadian atau peristiwa. Seluruh rangkaian kejadian itu berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Tetapi tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, tetapi berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, maka narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal (imajinasi).
Narasi sugestif merupakan suatu rangkaian peristiwa yang disajikan sekian macam sehingga merangsang daya khayal para pembaca. Pembaca menarik suatu makna baru di luar apa yang diungkapkan secara eksplisit. Sesuatu yang eksplisit adalah sesuatu yang tersurat mengenai obyek atau subjek yang bergerak dan bertindak, sedangkan makna yang baru adalah sesuatu yang tersirat. Semua obyek dipaparkan sebagai suatu rangkaian gerak, kehidupan para tokoh dilukiskan dalam satuan gerak yang dinamis, bagaimana kehidupan itu berubah dari waktu ke waktu. Makna yang baru akan jelas dipahami sesudah narasi itu selesai dibaca, karena ia tersirat dalam seluruh narasi itu.

Dengan demikian narasi tidak bercerita atau memberikan komentar mengenai sebuah cerita, tetapi justru ia mengisahkan suatu cerita atau kisah. Seluruh kejadian yang disajikan menyiapkan pembaca kepada suatu perasaan tertentu untuk mengahadapi peristiwa yang berada di depan matanya. Narasi menyediakan suatu kematangan mental. Kesiapan mental itulah yang melibatkan para pembaca bersama perasaannya, bahkan melibatkan simpati atau antipati mereka kepada kejadian itu sendiri. Inilah makna yang dikatakan tadi, makna yang tersirat dalam seluruh rangkaian kejadian itu.

c. Perbedaan Pokok antara Narasi Ekspositoris dan Narasi Sugestif
Supaya perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif lebih jelas maka di bawah ini akan dikemukakan sekali lagi secara singkat perbedaan antara kedua macam narasi tersebut. Perbedaan yang terpenting antara karangan naras ekspositoris dan karangan narasi sugestif dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2
Perbedaan pokok antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif

Pokok-pokok perbedaan seperti yang dikemukakan di atas merupakan garis yang ekstrim antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Antara kedua ekstrim itu masih terdapat percampuran-pencampuran, dari narasi ekspositoris yang murni berangsur-angsur mengandung ciri-ciri narasi sugestif yang semakin meningkat hingga ke narasi yang murni.

B. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Oleh karena itu, lazim dibedakan adanya reduplikasi penuh, seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lelaki ( dari dasar laki), dan reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik (dari dasar balik). Di samping adanya reduplikasi semu, seperti mondar-mandir, yaitu sejenis bentuk kata yang tampaknya sebagai hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya yang diulang. ptk bahasa indonesia smp doc
Dalam linguistik Indonesia sudah lazim digunakan sejumlah istilah sehubungan dengan reduplikasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Istilah¬istilah itu adalah (a) dwilingga, yakni pengulangan morfem dasar, seperti meja¬meja, aki-aki, dan mlaku-mlaku µberjalan-jalan; (b) dwilingga salin suara, yakni pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik, langak-longok, dan mondar-mandir; (c) dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lelaki, peparu, dan pepatah; (d) dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan µselalu tertawa‘ yang terbentuk dari cenges µtertawa‘; dan (e) trilingga, yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, dag-dig-dug, cas-cis-cus, dan ngak-ngik-ngok.
1. Pengertian
Secara leksikografis, kata berulang atau reduplikasi ´adalah proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal, misalnya rumah-rumah, tetamu´. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dirumuskan, ´reduplikasi adalah proses atau hasil perulangan kata atau unsur kata, misalnya rumah-rumah, tetamu, bolak-balik´. Dengan kata lain, reduplikasi adalah kata yang mengalami perulangan, baik perulangan penuh, perulangan sebagian, atau perulangan karena perubahan bunyi. Kata berulang bangunan-bangunan meskipun bukan bentuk bangun yang diulang, tetapi tampak bahwa bentuk bangun yang menjadi tumpuan untuk menghasilkan kata bangunan.

2. Menentukan bentuk Dasar
Jika kita berhadapan dengan sebuah bentuk berulang, sering sulit menentukan bentuk dasarnya. Telah dikemukakan bahwa prinsip bentuk berulang, yakni harus ada bentuk yang diulang. Untuk memudahkan bentuk berulang, digunakan prinsip. Ramlan mengemukakan dua prinsip.
Pertama, perulangan tidak mengubah kelas kata. Contohnya, bentuk berulang berkata-kata. Kata berkata-kata termasuk verba. Dengan demikian bentuk dasarnya harus verba pula, yakni berkata. Contoh lain, sungai-sungai. Kata sungai-sungai termasuk nomina. Dengan demikian bentuk dasarnya harus nomina dalam hal ini sungai.PTK bahasa indonesia smp

Prinsip kedua, yakni bentuk dasarnya mestilah bentuk yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Dalam hubungannya dengan cara menentukan bentuk dasar bentuk berulang. Kita mencari bentuk satu tingkat yang lebih dari bentuk yang dihadapi. Misalnya, bentuk berulang tersenyum-senyum. Dan tingkatan lebih kecil dari bentuk ini, ialah tersenyum. Bentuk tersenyum sendiri memenuhi prinsip pertama yang dikemukakan oleh Ramlan, yakni tersenyum merupakan verba.

3. Pembagian Bentuk Berulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya:
Anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra.
Bentuk berulang atau reduplikasi dapat juga dilihat dari kelas kata yang merupakan bentuk dasarnya. Berdasarkan kenyataan dalam BI, rupanya hanya kelas kata adverbia, adjektiva, nomina, numeralia, persona, dan verba yang mengalami perulangan. Bentuk berulang itu atau reduplikasi itu, boleh saja bentuk berulang penuh, bentuk perulangan sebagian, atau bentuk berulang variasi fonem.
Bentuk berulang atau reduplikasi adverbia, misalnya pagi-pagi, bentuk berulang atau reduplikasi adjektive misalnya tinggi-tinggi, bentuk berulang atau reduplikasi nomina, misalnya buku-buku, bentuk berulang atau reduplikasi numeraslis, misalnya tiga-tiga, bentuk berulang atau reduplikasi persona, misalnya saya-saya juga yang dimarahi, bentuk berulang atau reduplikasi verba, misalnya berlari-lari.

4. Makna bentuk Berulang
Makna bentuk reduplikasi atau bentuk berulang bergantung pada hasil proses pembentukannya, dan bergantung pada kelas kata yang menjadi bentuk dasarnya. Misalnya, bentuk berulang atau reduplikasi buku-buku yang bentuk dasarnya buku, yang dalam hal ini nomina, maka makna yang ditimbulkannya adalah banyak buku. Bentuk berulang pagi-pagi yang bentuk dasarnya pagi, yang berarti adverbia itu sendiri. Dalam hal ini Harimurti (1989:90) berkata, … dalam reduplikasi morfemis terjadi perubahan makna gramatikal. Dari sudut pandang yang lain, dalam hal ini dilihat dari sudut semantis, dapat dibedakan reduplikasi morfemis yang bersifat semantis, dan reduplikasi morfemis yang bersifat non-idiomatis menyangkut reduplikasi yang makna leksikal dari bentuk dasarnya tidak berubah.

a. Reduplikasi Fonologis
Reduplikasi fonologi berlangsung terhadap dasar yang bukan akar terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar. Status bentuk yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal. Yang termasuk reduplikasi fonologis ini adalah bentuk-bentuk seperti:
(1) Kuku, dada, pipi, cincin, dan sisi. Bentuk-bentuk tersebut µbukan‘ berasal dari ku, da, pi, cin, dan si. Jadi. Bentuk tersebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.

b. Reduplikasi sintaksis
Sebelum membahas reduplikasi sintaksis ada baiknya kita bahas paradigm ilmu sintaksis itu sendiri. Ilmu sintaksis harus berpegang bahwa kalimat dan tutur¬tutur yang ditangkap oleh pancaindera merupakan struktur luar. Struktur-luar merupakan hasil transformasi dari struktur-dalam (SD).
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi dari sebuah kata. Kridalaksana menyebutnya menghasilkan sebuah sebuah µulangan kata‘, bukan kata ulang‘. Contoh:
- Suaminya benar-benar jantan.
- Jangan-jangan kau dekati pemuda itu.

c. Reduplikasi Semantis
Sebelum membahas reduplikasi semantis ada baiknya kita pahami dulu pengertian semantik itu sendiri. Dalam buku Semantik Leksikal´ yang ditulis oleh Mansoer Pateda, ada pendapat yang berbunyi:

Reduplikasi semantis adalah pengulangan ³makna´ yang sama dari dua buah kata yang bersinonim. Misalnya ilmu-pengetahuan, alim-ulama dan cendi¬cendikia. Kita lihat kata ilmu dan kata pengetahuan memiliki makna yang sama; kata alim dan ulama juga memiliki makna yang sama. Demikian juga katacendi dan kata cendikia.
Termasuk ke dalam bentuk ini adalah bentuk-bentuk sepertisegar-bugar, muda-belia, tua-renta, gelap-gulita dan kerik-mersik. Namun, bentuk-bentuk seperti ini di dalam berbagai buku tata bahasa dimasukkan dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi (dwilingga salin suara). Memang bentuk segar bugar perubahan bunyinya masih bisa dikenali, tetapi bentuk muda belia dan kerik mersik tidak tampak sama sekali bahwa unsur pertama berasal dari unsur kedua atau sebaliknya.

d. Reduplikasi Morfologis
Sebelum membahas reduplikasi morfologis ada baiknya kita membahas pengertian morfologi dan proses morfologis terlebih dahulu. Pengertian morfolog telah banyak dibicarakan oleh para linguis. Berikut akan dikemukakan beberapa diantaranya.
Menurut Crystal, morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau bentuk kata, utamanya adalah melalui penggunaan morfem Morfologi umumnya dibagi ke dalam dua bidang yakni: telaah infleks (inflectional morphology), dan telaah pembentukan kata (lexical or dervational morphology). Apabila penekanan pada teknik menganalisis kata menjadi morfem khususnya seperti dipraktikkan oleh para linguis strukturalis Amerika pada tahun 1940 dan 1950, maka morfemik dipakai. Analisis morfemik dalam pengertian in adalah bagian adalah bagian dari telaah linguistik singkronis; analisis morfologis adalah istilah yang lebih umum, yang juga diterapkan dalam telaah histories Analisis morfologis dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Satu pendekatan adalah membuat telaah distribusional morfem dan morfemis yang muncul dalam kata (analisis susunan morfotaktis), seperti dalam model pemirian item and arrangement, yaitu suatu model pemerian yang mengandung kata sebagai gugus linear (arrangement) morf-morf (items), misalnya The boy kicked the ball. 

Pendekatan lain menetapkan atau membangun proses-proses atau operasi-operasi morfologis, yang melihat hubungan-hubungan antara bentuk-bentuk kata sebagai satu hubungan pergantian, seperti dalam model item and process, yaitu suatu model pemerian yang memandang hubungan antara kata-kata sebagai proses derivasi, misalnya item took diturunkan dari item take melalui proses perubahan vokal. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 8 Dalam linguistik generatif, morfologi dan sintaksis dilihat sebagi dua tingkat yang terpisah; kaidah-kaidah dari tata bahasa berlaku bagi struktur kata, seperti halnya terhadap frasa dan kalimat dan konsep-konsep morfologis hanya muncul sebagai titik di mana output komponen sintaksis harus diberikan reprsentasi fonologis melalui kaidah-kaidah morfofonologis.

Gambar 2
Diagram Rangkuman Morfologi

Jadi, proses morfologis ialah proses penggabungan morfem-morfem menjadi kata. Keterangan ini perlu diberikan, supaya ada ketegasan sampai dimana boleh digolong-golongkan. Dengan begitu bentuk terkecil ialah morfem sedangkan terbesar ialah kata.
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang serupa akar berupa bentuk berafiks dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi dan pengulangan sebagian.

C. Tugas Individu
Manusia dilahirkan dengan berbagai macam potensi yang dapat dikembangkan untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Potensi-potensi itu tidak mempunyai arti apa-apa bila tidak dikembangkan dengan baik. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua individu memahami potensi yang dimilikinya apalagi pemahaman tentang cara mengembangkannya.
Selama perkembangannya, kehidupan individu-individu itu tidak statis melainkan dinamis, dan pengalaman belajar yang disajikan kepada mereka harus sesuai dengan sifat-sifat khasnya yang sesuai dengan masa perkembangannya itu.
Tugas individu atau disebut latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan

CONTOH PTK KENAIKAN PANGKAT UNTUK GURU SMP

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 ... Kecamatan ... Kabupaten ... .Kelas 8.7, yang berlokasi di Kecamatan Sukawangi 
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 mulai Februari sampai dengan Maret 2016.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suryanto PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional. Metode penelitian ini mengikuti pola sikus yang diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Untuk lebih lengkapnya mengenai prosedur tentang penelitian ini, maka akan diuraikan sebagai berikut.
1. Pra-Penelitian
a. Menentukan sekolah yang akan dijadikan obyek penelitian
b. Identifikasi masalah yang ada di sekolah melalui wawancara tertulis dengan guru bidang studi bahasa Indonesia.

2. Penelitian PTK:
a. Perencanaan tindakan dengan membuat kelengkapan pembelajaran dan instrumen penelitian.
b. Pelaksanaan tindakan dengan melaksanakan KBM sesuai dengan langkah¬langkah RPP dengan metode pemberian tugas individu. Contoh ptk bahasa indonesia smp pdf 
c. Pengamatan/Observasi
1. Observer mencatat aktivitas guru dan siswa pada format observasi.
2. Memberikan tes hasil belajar
d. Tahap Refleksi dan Evaluasi
1. Mengolah dan menganalisis data yang diperoleh
2. Menarik kesimpulan: jika hasil tahapan refleksi (kesimpulan) belum bisa
dikatakan mengatasi masalah-masalah yang ada, maka PTK ini dilanjutkan ke
siklus selanjutnya berdasarkan perbaikan atas kekurangan pada siklus
sebelumnya (perencanaan II, tindakan II, pengamatan II dan refleksi II, dst.)
3. Penyusunan penelitian
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber, yaitu siswa kelas 8.7 dan guru.

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian
Pada penelitian ini, posisi peneliti yaitu sebagai pengkaji permasalahan, pendiagnosis masalah, perencana tindakan, pengamat, dan pelaksana tindakan.
E. Intrumen-instrumen Pengumpulan Data yang Digunakan
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, yaitu:
1. Lembar Observasi Proses Pembelajaran dan Catatan Lapangan
Lembar observasi diperlukan untuk mencatat kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung. Lembar observasi ini berisi tentang kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan oleh siswa ataupun oleh guru selama proses pembelajaran. Catatan lapangan digunakan dalam rangka melengkapi kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi.
2. Tes Kemampuan Penggunaan Reduplikasi dalam Karangan Narasi Untuk mengetahui penguasaan reduplikasi dan pemahaman siswa dalam karangan narasi maka instrumen yang digunakan adalah tes pilihan ganda, serta tes esai yaitu membuat suatu karangan narasi dan memiliki kemampuan dalam penggunaan reduplikasi yang ada di dalam karangan yang mereka (siswa) buat.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini , teknik yang digunakan adalah teknik tes subjektif. Sehubungan dengan ini Nurkancana dan suhartana menyatakan bahwa tes merupakan suatu cara yang berbentuk tugas atau serangkaian tugas yang harus diselesaikan oleh siswa yang bersangkutan. Dalam penelitian ini siswa sebagai subjek yang dites, dan data yang dikumpulkan berupa hasil tes kemampuan menulis karangan siswa.
Tes menulis bentuk esai ini mempunyai kelebihan, antara lain bahwa siswa diminta untuk menyusun sendiri karangan dengan menggunakan kata¬kata sendiri. Bentuk esai ini dapat mengukur kemampuan siswa dalam menemukan ide, menyusun ide ke dalam kalimat, menghubungkan kalimat, serta mempertimbangkan bahan karangannya secara lebih efektif dan tes esai akan mendorong siswa untuk meningkatkan karangannya agar lebih baik.

F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik-teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui:
1. Observasi
Observasi adalah tindakan yang merupakan penafsiran dari teori. Observasi atau pengamatan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan memproleh gambaran lengkap secara objektif tentang perkembangan siswa dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.
2. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data yang tersedia di sekolah berkaitan dengan dokumentasi siswa, seperti RPP catatan lapangan, absensi kelas, gambar-gambar foto, dan nilai hasil belajar.
3. Tes/Penugasan
Dalam teknik ini peneliti memberikan tes/penugasan secara individu agar terdapat peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi, hingga diperoleh data mengenai perlu tidaknya perbaikan dilakukan dalam setiap tindakan.
G. Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian ini mengikuti pola penelitian Tindakan Kelas. Adapun pola tahapan penelitian ini sebagai berikut.
1. Perencanaan (Plan)
Dalam tahap ini akan dilakukan kegiatan:
a. Menyusun rencana pembelajaran.
b. Menetapkan kelas yang akan dijadikan kelas observasi.

2. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Adapun kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut:
a. Guru dan observer masuk ke kelas.
b. Menarik perhatian siswa.
c. Mengabsen.
d. Menjelaskan tentang topik yang akan dibahas mengenai pengertian karangan narasi dan macam-macam jenis reduplikasi.
e. Melaksanakan pembelajaran yang membuat siswa aktif dengan memberikan latihan tugas individu berupa pembuatan karangan narasi dan penggunaan reduplikasi dalam karangan yang dibuat.
f. Memberikan pertanyaan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyerap materi yang telah disampaikan.
g. Mengamati perkembangan siswa.
h. Memberikan penguatan dengan memberikan penjelasan tentang materi yang diberikan.
i. Melakukan tes kepada siswa.
j. Memberikan penilaian terhadap siswa.

3. Observasi
Dalam observasi ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan berkaitan dengan tugas individu pada masing-masing siswa/i. Adapun aspek yang diamati tersebut adalah:
Mendengarkan penjelasan guru.
Datang tepat waktu.
Mencatat materi yang penting.
Membawa buku paket.
Membawa buku catatan.
Mengikuti jalannya KBM.
Mengajukan pertanyaan pada saat penjelasan materi. Aktif dan menjawab pertanyaan dari guru.
Aktif mengerjakan tugas ´individu´ yang diberikan oleh guru.
4. Refleksi (reflecting)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. ptk bahasa indonesia smp doc
Dalam tahap ini akan diuraikan data-data yang diperoleh dari hasil pelaksanaan tindakan. Apakah tujuan yang hendak dicapai sudah tercapai atau belum? Dan kemudian diuraikan faktor-faktor penghambat atau pendukung dalam pelaksanaan tindakan.

H. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah;
1. Tes Hasil Belajar
Teknik yang digunakan untuk menganalisis data-data yang telah berhasil dikumpulkan antara lain dengan deskriptif komparatif (statistik deskriptif komparatif) dan analisis kritis. Teknik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan hasil antarsiklus. Peneliti membandingkan hasil sebelum penelitian dengan hasil pada akhir setiap siklus, yaitu membandingkan rerata kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi siswa pada kondisi sebelum tindakan, siklus I, siklus II, dan seterusnya. Teknik analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif.
Teknik analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teoritis maupun ketentuan yang ada. Hasil analisis tersebut dijadikan dasar dalam menyusun perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Analisis data dilakukan bersamaan dan/atau setelah pengumpulan data.
2. Teknik Skoring
Teknik skoring digunakan untuk memberikan skor pada hasil penelitian. Melalui teknik ini akan diketahui nilai rata-rata peningkatan kemampuan penggunaan reduplikasi dalam karangan narasi. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut.

Total Skor = Jumlah skor yang diperoleh siswa 
                              Jumlah siswa
I. Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data dimaksudkan dalam penelitian ini adalah untuk mengecek keabsahan data, yang mencakup sumber, metode, penyidik dan teori. Teknik keabsahan data ini merupakan pengolahan data hasil penelitian dengan tujuan agar kumpulan data itu bermakna. Analisis dilakukan mengacu pada hasil pengamatan dan observasi langsung yang diperoleh pada saat pelaksanaan tindakan dengan menggunakan teknik triangulasi. Contoh ptk bahasa indonesia smp pdf 
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

J. Teknik Pengambilan Kesimpulan
Adapun teknik pengambilan kesimpulan yang digunakan yaitu;
1. Jika pelaksanaan siklus 1 belum mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM) sebesar 7.00 maka perlu dilakukan siklus
selanjutnya. (siklus 2, siklus 3, dst)
2. Jika nilai rata-rata siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 7.00 maka pelaksanaan siklus selanjutnya tidak perlu dilanjutkan.

DOWNLOAD LENGKAP PTK SMP KURIKULUM 2013 TERBARU

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Chaer. Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
. Morfologi Bahasa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta. 2002
Andriana, Deni. ³Teknik Triangulasi ”, diakses pada tanggal 07 Juli 2016, dari http://goyangkarawang.com/2015/ 02/triangulasi-dan-keabsahan-data¬dalam-penelitian/
Ba‘dulu, Abdul Muis, dkk. Morfosintaksis, Jakarta: Rineka Cipta, 2005
Brataatmaja, T Heru Kasida. Morfologi Bahasa Indonesia,Yogyakarta: Kanisius, 1987
Darmayanti, Nani. ³Menulis Wacana Naratif ´, diakses pada tanggal 13 desember 2016, dari http://books.google.co.id/books?id=264rOvSaHCwC&pg= PA 
Fauzi, Ahmad. Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2004
Finoza, Lamuddin. Komposisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2008
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi, Jakarta: Gramedia. 1982
Muslich, Masnur. Melaksanakan PTK Itu Mudah, Jakarta: Bumi Aksara, 2009 Parera, Jos Daniel. Sintaksis, Jakarta: Gramedia, 1993
Pateda, Mansoer. Morfologi,Gorontalo: Viladan, 2005
. Semantik Leksikal, Jakarta: Rineka Cipta, 2001
Samsuri. Analisis Bahasa, Malang: Erlangga, 1994
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2009
Sekawan, Tim Lima Adi. EYD Plus, Jakarta: Limas, 2007
Soetjipto, dkk. Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007
Sudarno. Morfofonemik, Jakarta: Arikha Media Cipta, 1990
Surachmad, Winarno. Metodologi Pengajaran Nasional, Jakarta: Jemmars, 2002
Usman, M Basyiruddin. Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: PT Intermasa, 2002
Wiriaatmadja, Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Remaja Rosadakarya, 2008

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP REDUPLIKASI WORD

Postingan terkait: