CONTOH PTK PKN KELAS X KURTILAS TERBARU

CONTOH PTK PKN KELAS X KURTILAS TERBARU-Aktivitas belajar siswa kelas X.IPA3 SMAN ... Kota ... khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada semester II masih rendah dalam proses pembelajaran. Hal itu ditunjukkan dari 36 siswa, 23 siswa (64,3 %) masih kurang keseriusan dalam memperhatikan penjelasan dari guru, keaktifan dalam menanggapi pertanyaan dari guru atau mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya sebanyak 13 siswa (35,7 %). Selain itu juga hasil belajar siswa belum semua siswa mencapai KKM ( > 7,00 ), dari 36 siswa kelas X.IPA3 yang nilainya telah mencapai KKM ( > 7,00) hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 27 siswa (75 %) nilainya belum mencapai KKM. Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan PTK sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 (dua) siklus tindakan dan di setiap siklusnya terdiri empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X.IPA3 SMAN ... Kota ... pada Semester I tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 36 orang, terdiri dari 24 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan observasi, dokumentasi dan angket. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. ptk pkn sma pdf

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pra siklus aktivitas belajar siswa hanya mencapai (35,7 %) saja dan hasil belajar siswa yang nilainya telah mencapai KKM (~ 7,00) hanya sebesar 25 % (9 siswa). Pada siklus I setelah peneliti menerapkan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual sebagai media pembelajaran, aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 59,4 % dan peningkatan tersebut berdampak positif terhadap hasil belajar siswa yang juga meningkat menjadi 46,4 %. Pada siklus 2 prosentase aktivitas belajar siswa meningkat lagi menjadi 81,9 % dan hasil belajarnya yang juga meningkat yaitu menjadi 89,3 % .
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu disarankan untuk guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan guru bidang studi yang lain di SMAN ... Kota ... hendaknya menerapkan metode ceramah bervariasi dan menggunakan media audiovisual dalam pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas PKN SMA yang diberi judul MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE CERAMAH BERVARIASI DAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MATERI POKOK PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH PADA SISWA KELAS X.IPA SEMESTER I SMAN ... KOTA ...  TAHUN AJARAN 2014/2015". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PKN SMA KELAS X lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 045).

DOWNLOAD PTK PKN SMA KELAS X WORD

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Peningkatan sumber daya manusia merupakan salah satu sasaran pembangunan jangka panjang yang mengiringi laju pertumbuhan ekonomi. Salah satu pilar dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia adalah bidang pendidikan. Pendidikan sebagai pembentukan generasi muda yang tangguh, dapat dilaksanakan dalam keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.
Proses pendidikan berarti di dalamnya menyangkut kegiatan belajar mengajar dengan segala aspek maupun faktor yang mempengaruhinya. Pada hakekatnya, untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran perlu adanya kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa, guru, materi pelajaran, metode pengajaran, kurikulum dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa serta didukung oleh lingkungan belajar mengajar yang kondusif.

Melalui pelajaran PKn yang diberikan secara formal kepada generasi muda Indonesia atau peserta didik maka akan terbentuk manusia yang berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana pembinaan perilaku pada peserta didik juga dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga Negara dengan negara sehingga menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas X.IPA3 di SMAN ... Kota ... pada waktu guru PKn mengajar dengan materi “Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dan Kompetensi Dasar : Memahami hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”, pada indikator : Meninjau hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, ditemukan atau nampak bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih kurang. Download ptk pkn sma pdf Hal itu ditunjukkan dari 36 siswa, 23 siswa (64,3%) masih kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mata pelajaran tersebut. Saat guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, ternyata ada siswa yang melakukan aktivitas sendiri seperti berbicara sendiri dengan teman sebelahnya, bermain HP, bermain penggaris, dan masih banyak lagi. Hal itu disebabkan karena guru PKn dalam mengajar hanya menggunakan metode ceramah tanpa didukung dengan menggunakan media pembelajaran. Tingkat keaktifan siswa yang rendah tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh hasil tes pada akhir pembelajaran yaitu dari 36 siswa kelas X.IPA3, yang nilainya telah mencapai KKM (~ 7,00) hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 27 siswa (75 %) nilainya belum mencapai KKM.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dilakukan PTK sebagai Upaya untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Ceramah Bervariasi dan Penggunaan Media Audiovisual dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Materi “Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dengan Kompetensi Dasar : Memahami hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”, pada Siswa Kelas X.IPA3 Semester I Tahun Ajaran 2014/2015 Di SMAN ... Kota ... . 

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tesebut dapat diidentifikasikan masalahnya sebagai berikut :
1. Keaktifan siswa dalam mengikuti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih kurang. Dari 36 siswa, 23 siswa (64,3 %) masih kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran mata pelajaran tersebut.
2. Hasil belajar siswa kelas X.IPA3 SMAN ... Kota ... dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada akhir pembelajaran belum semua siswa mencapai KKM (~ 7,00). Dari 36 siswa kelas X.IPA3, yang nilainya telah mencapai KKM hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 27 siswa (75%) nilainya belum mencapai KKM.
3. Dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan metode ceramah
bervariasi dan media pembelajaran, dalam hal ini yaitu media audiovisual.

1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan :
Apakah penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Materi Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dengan Kompetensi Dasar : Memahami hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X.IPA3 semester I tahun ajaran 2014/2015 di SMAN ... Kota ... ?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan peningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas X.IPA3 semester I tahun ajaran 2014/2015 di SMAN ... Kota ... .

1.5. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat :
1. Manfaat Akademis
Manfaat akademis hasil penelitian ini adalah untuk mengembangkan penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Contoh ptk pkn sma doc
2. Manfaat Praktis
a) Bagi peneliti untuk memberi pengetahuan (wawasan) dan meningkatkan ketrampilan yang dimilikinya untuk menggunakan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran.
b) Bagi Program Studi PKn untuk memberi masukan bagi pengembangan materi perkuliahan pada mata kuliah ”Belajar dan Pembelajaran”, mata kuliah ”Metode Pembelajaran Kn”, serta mata kuliah ”Teknologi dan Media Pembelajaran PKn”.
c) Bagi pihak sekolah untuk memberi masukan kepada guru – guru secara umum dan guru-guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan secara khusus dalam kegiatan pembelajaran mengenai manfaat metode ceramah bervariasi penggunaan media audiovisual.

1.6 Penegasan Istilah
Agar diperoleh kesepahaman terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan definisi operasional sebagai berikut:
1. Keaktifan siswa adalah kegiatan yang dilakukan siswa secara bertanggungjawab untuk mendapat pengetahuan PKn melalui proses belajar yang nantinya akan berpengaruh positif terhadap hasil belajarnya.
2. Hasil Belajar : keberhasilan yang dicapai oleh siswa untuk mendapatkan suatu peningkatan kepandaian yang diwujudkan dalam bentuk nilai yang diperoleh melalui tes.
3. Metode ceramah bervariasi : metode pembelajaran dimana dalam penggunaannya tidak berdiri sendiri melainkan divariasikan dengan metode pembelajaran yang lain atau komponen yang lain dalam pembelajaran.
4. Media Audiovisual : segala macam sarana yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran guna menopang pencapaian hasil belajar para siswa. media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar
5. Pendidikan Kewarganegaraan : usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warganegara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenegaraannya secara bertanggungjawab.
1.7 Sistematika Penulisan
Secara garis besar, PTK ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal PTK ini berisi halaman judul, abstrak, surat peryataan, halaman pengesahan, halaman persembahan, kata pengatar, daftar isi, daftar tabel, daftar diagram, dan daftar lampiran.
Bagian isi, PTK ini terdiri dari 5 bab yaitu Bab I berisi tentang latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika penulisan PTK. Bab II membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji yaitu pendekatan pembelajaran aktif, metode ceramah, metode ceramah bervariasi, media pembelajaran, media audiovisual, pendidikan kewarganegaraan, hasil belajar, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Sedangkan Bab III berisi tentang metodologi penelitian yang meliputi jenis penelitian, setting dan subyek penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik analisis data, indikator kinerja, prosedur pelaksanaan PTK. Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian, dan yang terakhir adalah Bab V berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian. Bagian akhir PTK ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.

CONTOH TERBARU PTK PKN SMA DOC

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1. Pendekatan Pembelajaran Aktif 
2.1.1. Pengertian pembelajaran aktif
Dalam buku “Strategi Pembelajaran Aktif” (Zaini dkk, 2004 : xvi), pembelajaran aktif adalah suatu pembelaj ran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru saja mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya siswa akan merasakan suasana yan lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
1) Melakukan (Doing)
Kegiatan ini menunjukkan pada proses pembelajaran dimana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan melakukan dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung.
2) Mengamati (Observing)
Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)”, terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Guru olahraga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya.

3) Dialog dengan Diri Sendiri (Dialogue with Self)
Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berpikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang dan harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)” dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata. Contoh judul ptk pkn sma
4) Dialog dengan Orang Lain (Dialogue with Others)
Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan mendengarkan dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue”.
Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa kedalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu, untuk melibatkan siswa kedalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan bermacam-macam cara kreatif, misalnya mengajak siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya, baik yang berlangsung didalam kelas maupun diluar kelas, melalui interaksi langsung atau secara tertulis.

Suatu kegiatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat KBM berarti harus memperhatikan potensi siswa (seperti tingkat perkembangna fisik, psykhis, tingkat perkembangan belajar, pengalaman belajar, latar belakang social budaya, bakat dan minat), dan juga memperhatikan kebutuhan siswa dalam merancang strategi pembelajaran.
Sedangkan makna demokratisasi dalam KBM berarti siswa itu diperlakukan secara manusiawi, sewajarnya dan siswa dipahami sebagai subyek dalam pembelajaran yang berarti memiliki kebutuhan, keinginan dan tujuan hidup, dan sekaligus sebagai obyek pembelajaran juga berarti siswa itu memiliki potensi yang perlu dibina, diarahkan dan dituntut kearah yang tepat dengan penerapan prinsip Tut Wuri Handayani.

Selama ini proses pembelajaran lebih sering diartikan sebagai pengajar menjelaskan materi pelajaran dan siswa mendengarkan secara pasif. Namun telah banyak ditemukan bahwa kualitas pembelajaran akan meningkat jika para siswa peserta proses pembelajaran memperoleh kesempatan yang luas untuk bertanya, berdiskusi, dan menggunakan secara aktif pengetahuan baru yang diperoleh. Dengan cara ini diketahui pula bahwa pengetahuan baru tersebut cenderung untuk dapat dipahami dan dikuasai secara lebih baik.
Banyak cara, metode atau teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran . Berikut ini adalah gambar efektifitas model pembelajaran aktif dan pasif yang dikemukakan oleh Edgar Dale tentang penggunaan berbagai media komunikasi dan informasi yang dikenal dengan Kerucut Dale.
Gambar Model Kelompok Pembelajaran

Gambar diatas menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran aktif dan pembelajaran pasif. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa mengingat (retention rate of knowledge) materi pelajaran. Selain itu juga konsep yang diinformasikan melalui lambang verbal mempunyai daya serap paling rendah dibandingkan apabila disampaikan dengan lambang visual, film dan sebagainya. Media yang terletak pada alas kerucut menunjukkan tingkat keefektifan tertinggi. Makin menuju kepuncak makin kerucut makin berkurang keefektifannya.
Pembelajaran aktif pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respon siswa dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi pembelajaran aktif pada siswa dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses.

2.1.2. Karakteristik Pembelajaran Aktif
Dalam Saptono dkk (2010 : 141) dibahas karakteristik pembelajaran aktif didalam ruang kelas yang meliputi :
1) Child Centered Activities (CCA)
Fokus pendidikan seharusnya pada minat anak, apa yang anak ketahui, apa yang anakinginkan untuk menemukan dan mempelajari, dan bagaimana anak didorong untuk mendapatkan jawaban. Dinyatakan CCA ketika : (1) Anak adalah fokus aktivitas pembelajaran. (2) Anak-anak secara aktif dilibatkan didalam pembelajaran mereka. (3) Anak-anak dan bukan guru yang sedang banyak melakukan pembicaraan di dalam ruang kelas.
2) Language Development Though Activities
Ketika anak-anak mengambil bagian di dalam aktivitas-aktivitas yang menarik, sosial, mempunyai makna, mempunyai suatu tujuan, yang membangkitkan gairah mereka dan mereka dapat menikmatinya. Disini guru-guru butuh menolong anak-anak bertambah di ih sulit, dan mendapatkan lebih banyak bagaimana mendapatkan lebih banyak bagaimana menggunakan bahasa. Siswa-siswa akan belajar bahasa dari berpikir, berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Setiap aktivitas dan pengalaman adalah kesempatan untuk mengembangkan keterampilan bahasa dan berpikir, ketika mempelajari suatu pengetahuan baru.

3) Encouragement
Dorongan menolong siswa-siswa untuk keyakinan dan memiliki perasaan yang baik akan diri mereka sendiri. Ini juga akan menolong murid untuk mencoba suatu aktivitas baru. Anak-anak perlu untuk tahu bahwa mereka diterima dan dikasihi oleh guru-guru mereka. Guru-guru perlu mendorong siswa-siswa untuk belajar dari kesalahan.
4) Children have opportunities to work in groups
Ketika siswa-siswa bekerja di dalam pasangan dan kelompok kecil mereka terlibat di dalam mengkomunikasikan ide-ide / gagasan-gagasan, di dalam kerjasama untuk mencapai tujuan. Siswa-siswa dapat dikelompokkan dalam suatu jumlah dengan cara yang berbeda, dan yang juga penting adalah adanya fleksibelilitas di dalam ukuran kelompok, anggota dan peranannya. ptk pkn smk pdf Struktur kelompok ini tentu saja penting untuk mengatur garis pedoman bagi komunikasi dan kerjasama. Garis pedoman ini juga menjamin bahwa setiap orang memiliki pergantian di dalam berbicara, dan mendapatkan cara untuk menganalisa pekerjaan orang lain.

5) Demonstrations
Pengajaran langsung adalah praktek yang terkenal, yang mana guru-guru dapat memusatkan kelas atau kelompok melalui ceramah, membaca, dan memimpin daripada mendemostrasikan suatu keterampilan atau tekhnik¬tekhnik baru. Guru dapat menuntun pikiran siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan contoh-contoh. Di dalam suatu pembacaan kelas, sebagai contoh, guru dapat membacakan suatu teks baru, kemudian memulai diskusi dengan petanyaan-pertanyaan terbuka yang mendorong siswa-siswa untuk berpikir tentang tesk tersebut.
6) Independent Learning
Siswa- siswa lebih dapat mengerjakan dan belajar dengan tidak bergantung kepada guru. Ini berarti bahwa mereka dimotivasi untuk belajar, dapat focus kepada tugas-tugas yang spesifik, dan memiliki keterampilan. Ini dapat berarti siswa-siswa dapat memecahkan persoalan matematika atau konsentrasi pada contoh-contoh soal matematika. Dapat juga berarti siswa-siswa melakukan penelitian atau eksperimen atau menulis suatu laporan mengatasi suatu topik pengetahuan. Semua dari cirri-ciri ini pada akhirnya menuju pada satu cirri utama yaitu : Most Children Learn Best When They Learn Through Action.

Di samping karakteristik dia atas, secara umum suatu proses pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama¬sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap mahasiswa sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.
2.2 Metode Ceramah
2.2.1. Pengertian Metode Ceramah
Menurut Djamarah dkk (2006 : 97) metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru
daripada siswa, tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya ceramah murni cenderung pada bentuk komunikasi satu arah.
Apabila guru menyampaikan informasi kepada siswa maka, guru berfungsi sebagai transmitter dan siswa sebagai receiver. Bahasa, baik verbal dan nonverbal merupakan satu-satunya media komunikasi. Bahan yang disampaikan dengan bahasa sebagai alatnya disebut message (pesan). Komunikasi dikatakan baik jika pesan diterima 100% oleh receiver. Sebaliknya, komunikasi dikatakan jelek jika pesan yang ada pada transmitter tidak diterima sesuai dengan aslinya oleh receiver. Hal itu bisa dikatakan terjadi communication gap (kesenjangan komunikasi) jika pesan itu tidak diterima sama sekali oleh receiver, dan miscommunication (kesalahan komunikasi) jika pesan itu diterima tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh transmitter. 

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa metode ceramah adalah cara
secara langsung terhadap siswa. Metode ini mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut :
1) Hemat dalam penggunaan waktu dan alat.
Melalui ceramah, bahan yang banyak dapat disampaikan dalam waktu sigkat. Alat (termasuk media) yang digunakan juga cukup sederhana. Pengorganisasian kelas sangat sederhana. Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan informasi kepada satu atau dua orang siswa sama dengan yang diperukan untuk seratus orang.
2) Mampu membangkitkan minat dan antusias siswa.
Kontak yang terjadi antara antara guru dan siswa tidak hanya sekadar kontak bicara, tetapi merupakan kontak pribadi dimana pribadi guru bertemu dengan pribadi siswa. ptk pkn smk pdf Pribadi ini dapat diartikan sebagai keseluruhan aspek rohani (seperti kecerdasan, kemauan, kejujuran, kedisiplinan, kepercayaan pada diri sendiri) dan jasmani (sosok fisik)yang menyatu dalam eksistensi seseorang.
3) Membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mendengarkannya.
Mendengar itu sendiri dapat tejadi dalam tiga bentuk yaitu pertama mendengar secara marginal yaitu mendengar sambil memperhatikan hal-hal lain, kedua mendengar evaluative yaitu mendengar sambil menilai informasi yang didengar dari yang bersangkutan menurut sudut pandang pendengar, ketiga mendengar proyektif yaitu mendengar dengan menenmpatkan diri pada jalan pikiran si pembicara sehingga informasi yang didengar, diterima, dan dipahami dari sudur si pembicara.

4) Merangsang kemampuan siswa untuk mencari informasi dari berbagai sumber.
Hal ini tergantung pada kemampuan si penceramah untuk menimbulkan keingintahuan si pendengar melalui ceramahnya. Kalau isi ceramah dianggap penting dan menarik, maka siswa akan menindak lanjuti dengan mengembangkan pemahamannya tentang itu melalui berbagai sumber yang dicarinya diperpustakaan dan lain-lain.
5) Mampu menyampaikan pengetahuan yang belum pernah diketahui oleh siswa.
Kemampuan ini menjadi optimal jika dikembangkan pola interaksi timbale balik antara guru dan siswa.

2.2.2. Metode Ceramah Bervariasi
Metode ceramah pada dirinya belum termasuk kedalam pembelajaran aktif. Karena metode ceramah cenderung lebih bannyak menuntut keaktifan guru daripada siswa, sehingga siswa menjadi pasif. Upaya untuk mengaktifkan siswa dengan metode ceramah, selain memenfaatkan kelebihan dari metode ceramah itu juga diupayakan mengatasi kelemahan-kelemahannya. Strategi ini disebut ceramah bervariasi (W. Gulo, 2004 : 142). Selain itu Djamarah dkk (2006 : 98) menyebutkan bahwa metode ceramah termasuk dalam pembelajaran aktif apabila divariasikan dengan metode-metode pembelajaran yang lain sehingga disebut metode ceramah bervariasi.

Menurut W. Gulo (2004 : 142) menyebutkan bahwa disebut ceramah bervariasi karena dalam strategi ini terdapat beberapa komponen atau unsur yang masing-masing bervariasi. Komponen- komponen tersebut adalah :
1) Variasi Metode
Ceramah murni hanya efektif untuk sekitar 15 menit yang pertama. Menit¬menit berikutnya, daya serap siswa terhadap ceramah mulai menurun. Oleh karena itu, supaya keefektifan belajar tetap tinggi, ceramah sebagai metode pengajaran yang pokok hanya dapat digunakan pada sekitar 15 menit yang pertama. Sesudah itu metode ceramah harus diganti dengan metode lain. Dengan demikian, interaksi pembelajaran menjadi variasi.
2) Variasi Media
Alat indera siswa dilibatkan sebanyak mungkin dalam proses pembelajaran. Untuk maksud tersebut media pembelajaran divariasikan, sehingga fungsi melihat (visual), fugsi mendengar (audio), dan fungsi meraba atau mencium diaktifkan pada hal-hal tertentu misalnya media audio divariasikan dengan media visual.

3) Variasi Penampilan
Dalam variasi penampilan dibagi ke dalam beberapa variasi yaitu :
a) Variasi gerak
b) Variasi isyarat/mimik
c) Variasi suara
d) Selingan diam
e) Kontak pandang
f) Pemusatan perhatian
4) Variasi Bahan Sajian
Dalam menyampaikan materi atau bahan sajian seorang guru, tidak monoton materi saja. Mereka harus menyajikan contoh-contoh yang kongret dan relevan misalnya dengan disertai gambar-gambar yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

Ceramah dimaksudkan untuk memberikan penjelasan/informasi mengenai bahan yang akan dibahas dalam diskusi, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Pada akhir kegiatan diskusi siswa diberikan beberapa tugas yang harus dikerjakan saat itu juga. Maksudnya untuk mengetahui hasil yang dicapai siswa melalui diskusi tersebut. Dengan demikian, tugas ini sekaligus merupakan umpan balik bagi guru terhadap hasil diskusi yang dilakukan siswa.
2) Ceramah, Demontrasi, dan Eksperimen
Penggunaan metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. Apapun yang didemonstrasikan, baik oleh guru maaupun oleh siswa, tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang efektif. Dalam melaksanakan demonstrasi, seorang demonstrator menjelaskan apa yang akan
didomonstrasikannya, sehinggga semua siswa dapat mengikuti jalannya demontrasi tersebut dengan baik.

Metode eksperimen adalah metode yang siswanya mencoba mempraktikkan suatu proses tersebut, setelah melihat atau mengamati apa yang telah didemonstrasikan oleh seorang demonstrator. Eksperimen juga dapat dilakukan untuk membuktikan kebenaran sesuatu, misalnya menguji sebuah hipotesis. Dalam pelaksanaannya, metode demontrasi dan eksperimen dapat digabungkan, artinya setelah dilakukan demonstrasi kemudian diikuti oleh eksperimen dengan disertai penjelasan secara lisan (ceramah).
4) Ceramah, Demonstrasi, dan Latihan
Metode latihan umumnya dilakukan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Karena itu metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang akan dilakukannya.
Sedangkan demonstrasi yang dimaksudkan untuk memperagakan atau mempertunjukkan suatu kesimpulan yang akan dipelajari siswa. Misalnya belajar tari jaipong. Siswa sebelum berlatih tari jaipong siswa diberikan penjelasan dulu seluruh gerakan tangan, gerakan badan, dan sebagainya melalui ceramah. Lalu guru mendemostrasikan tari jaipong dan siswa memperhatikan demonstrasi tersebut. Setelah itu baru siswa mulai latihan tari jaipong seperti yang dilakukan. Download ptk pkn sma pdf
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam prakteknya atau kenyataannya, metode mengajar tidak digunakan sendiri sendiri, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Hal itu dilakukan agar siswa tidak merasa bosan atau jenuh dalam mengikuti proses belajar.

2.3. Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran, guru selain menggunakan metode pembelajaran juga dituntut untuk menggunakan media pembelajaran agar siswa merasa senang dan tertarik terhadap mata pelajaran yang sedang diajarkan. Selain itu juga agar materi-materi yang dirasa sulit dipahami oleh siswa, dengan bantuan media pembelajaran tersebut dapat membantu mengkonkretkan hal-hal yang dirasa sulit oleh siswa, jadi lebih mudah untuk dipahami.
2.3.1. Pengertian Media Pembelajaran
Dalam Sadiman dkk (2008 : 6) kata media berasal dari bahasa Latin media yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam dunia pendidikan biasanya disebut media pendidikan atau media pengajaran.

Dalam konteks pembelajaran, media pembelajaran dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang perhatian, minat, pikiran dan kemajuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa (Y. Miarso dalam Hujair, 2009 : 24). Maka secara umum media adalah alat bantu yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk merangsang perhatian, minat, dan pikiran siswa sehingga dapat mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, siswa lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.
2.3.2. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Sadiman dkk (2008 : 17) media mempunyai beberapa fungsi dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut :
 Jika obyek terlalu besar maka bias digantikan dengan gambar, film bingkai, film atau model yang lebih kecil.
 Jika obyek kecil, maka dapat diperbesar dengan bantuan proyektor, film bingkai atau gambar.
 Gerak yang terlalu lambat dapat dipercepat dengan dengan teknik timelapse, sedang gerak yang terlalu cepat dapat diperlambat dengan teknik highspeed photography untuk kemudian diputar secara lambat (slow metion).
 Kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto, atau diceritakan secara verbal.
 Obyek yang terlalu komplek dapat disajikan dengan model, diagram, dll.  Konsep yang terlalu luas dapat divisualkan dalam bentuk dalam bentuk film, film bingkai, gambar dll.

b) Mengatasi Sikap Pasif dari Pebelajar
Dengan menggunakan media yang tepat dan bervariasai maka sikap pasif pebelajar dapat diatasi. Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar bermanfaat untuk :
 Menimbulkan kegairahan belajar.
 Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara pebelajar dengan lingkungan.
 Memungkinkan pebelajar untuk belajar mandiri menurut kemampuan dan minatnya.
c) Memudahkan Belajar Siswa Sesuai dengan Tipe Belajarnya
Ada tiga tipe bagaimana seseorang itu belajar yaitu :
 Pendengar (auditive learners)
 Tipe ini biasanya tampak seolah tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh guru dan tidak membuat catatan dikelas, ia lebih mengandalkan kemampuannya untuk mendengar dan mengingat.
 Pemirsa (Visual Learners)
 Tipe ini biasanya sangat mencermati penyajian informasi, mereka lebih suka mencatat apa yang dikemukakan oleh gurunya.
 Pekerja (Kinestetik)

2.3.3. Klasifikasi Media Pembelajaran
Dalam Djamarah (2006 : 124) media pembelajaran dapat diklasifikasikan tiga yaitu dilihat dari jenisnya, dilihat dari daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya.
a) Dilihat dari Jenisnya, Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media Auditif
 Media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, kaset recorder, dll.
 Media Visual
 Media yang hanya mengandalkan indra penglihatan, seperti slides, gambar,film, dll.
 Media Audiovisual
Media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Contoh ptk pkn sma doc Media ini dibagi lagi ke dalam :
-Audiovisual Diam  media yang menampilkan suara dan gambar
diam seperti film bingkai suara (sound slides).

-Audiovisual Gerak  media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara, video.
Pembagian lain dari media ini adalah :
-Audiovisual Murni  baik unsur suara maupun unsure gambar berasal dari satu sumber film Video cassette.
- Audiovisual tidak Murni  yang unsure suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda.
Misalnya : Film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.
b) Dilihat dari Daya Liputnya , Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak
 Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama. Contoh : Radio dan Televisi
 Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Waktu
 Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus.
Contoh : Film, Sound Slide.
 Media Untuk Pengajaran Individual
 Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri, termasuk media
ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

c) Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media Sederhana
 Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
 Media Kompleks
 Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.
2) Media objek  media yang mengandung informasi
Media objek adalah benda tiga dimensi yang mengandung informasi, tidak dalam bentuk penyajian tetapi melalui cirri fisiknya seperti ukurannya, beratnya, bentuknya, susunannya, warnanya, fungsinya, dan sebagainnya. 
3) Media interaktif  media yang memungkinkan untuk berinteraksi
Karakteristik terpenting kelompok ini adalah bahwa siswa tidak hanya memerhatikan penyajian atau objek, tetapi dipaksa untuk berinteraksi selama mengikuti pelajaran. Dalam hal ini siswa harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi karena tidak ada batasan yang kaku tentang jawaban yang benar. Permainan pendidikan dan simulasi yang berorientasi pada masalah memiliki potensi untuk memberikan pengalaman belajar yang merangsang minat dan realistis, dan oleh karena itu para pendidik perlu menganggapnya sebagai sumber terbaik untuk belajar.

Media pembelajaran sangat banyak macam dan jenisnya. Maka, untuk menggunakan media secara baik, efektif, dan efisien dalam proses pembelajaran diperlukan kemampuan, pengetahuan dalam memilih, menggunakan dan kemampuan untuk mendesain serta membuat suatu media pembelajaran tersebut.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan media dengan tujuan pembelajaran, metode, materi pembelajaran, dan kondisi siswa. Selain itu pengembangan dan penggunaan media pembelajaran, sangat tergantung pada kreasi dan inisiatif guru itu sendiri. Sebab kemampuan, kreasi dan inisiatif guru dalam mendesain, membuat, dan mengembangkan media pembelajaran merupakan hal yang mutlak dan tidak boleh diabaikan.

2.3.4. Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaaan Media
Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat, disamping memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran
(Djamarah, 2006 : 128) yaitu :
a) Objektivitas
b) Program Pengajaran
c) Sasaran Program
d) Situasi dan Kondisi
e) Kualitas Teknik
f) Keefektifan dan Kefisiensi Penggunaan
2) Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Menurut Nana Sudjana dan Ahmat Rivai dalam Djamarah (2006 : 132), dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran
b) Dukungan terhadap isi bahan pengajaran
c) Kemudahan memperoleh media.
d) Ketrampilan guru dalam menggunakannya.
e) Tersedia waktu untuk menggunakannya.
f) Sesuai dengan taraf berpikir siswa.

Dengan kreteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga dapat mempersulit guru, tapi sebaliknya, yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran.
2.3.5. Media Audiovisual
Menurut Hujair (2009 : 105), media audiovisual adalah seperangkat alat yang memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara. Paduan antara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya.
Sedangkan menurut Djamarah (2006 : 124), mengartikan media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Contoh judul ptk pkn sma  Media ini dibagi lagi ke dalam :
- Audiovisual Diam  media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides).
- Audiovisual Gerak  media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara, video.
Pembagian lain dari media ini adalah :
- Audiovisual Murni  baik unsur suara maupun unsure gambar berasal dari satu sumber film Video cassette.
- Audiovisual tidak Murni  yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda.

2.3.6. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warganegara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenegaraannya secara bertanggungjawab. Untuk maksud tersebut pendidikan kewarganegaraan minimal harus mencakup :
1) Penanaman ide-ide dan prinsip-prinsip etik dan moral, yang memberi arah, makna, dan tujuan bagi seluruh bangsa.
2) Penanaman dan pengembangan pengetahuan yang diperlukan untuk berpikir
dan bertindak cerdas dalam menghadapi isu-isu kenegaraan mutakhir.
3) Pengembangan keterampilan, dan teknik-teknik yang diperlukan warganegara
dalam menunaikan tanggungjawab kenegaraannya.
Dalam Negara demokrasi pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan generasi muda agar mereka mampu dan bersemangat untuk menjalankan, meningkatkan, dan memperluas kehidupan demokratis. Mereka harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang demokrasi, keyakinan-keyakinan, dan kesetiaan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi, keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan untuk menerapkan teknik-teknik yang diperlukan dalam mewujudkan partisipasi dalam kehidupan demokratis secara cerdas, efektif, dan menyenangkan.

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dalam sistem pendidikan di Indonesia, merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
a) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
b) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi.
c) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan krakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
d) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warganegara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenegaraannya secara bertanggungjawab, dimana materi-materinya lebih pada pendidikan budi pekerti, pengamalan nilai-nilai dan moral. Maka disinilah yang menjadi fungsi dari media audiovisual, karena di sini media audiovisual dapat mengkonkretkan pemahaman para peserta didik terhadap materi- materi yang sulit untuk dimengerti seperti pada materi Pendidikan Kewarganegaraan.

2.4. Hasil Belajar
2.4.1. Pengertian Hasil Belajar
Istilah hasil belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu hasil dan belajar. Menurut pengertian secara psikologi dalam Bayu .D (2010 : 14) belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahana tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek kehidupan.
Menurut Skinner dalam Angkowo dan Kosasih (2007 : 47) mengartikan belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Bell Gredler mendifinisikan belajar sebagai proses memperoleh berbagai kemampuan, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagi hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

2.4.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Menurut Slameto dalam Bayu D. (2010 : 16), hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang mempengaruhi prestasi hasil belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor-faktor intern itu aantara lain :
1) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya kurang baik, sehingga belajarnya juga akan lebih baik.
2) Kecerdasan / Intelegensia
Kecerdasan / intelegensia adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi. Intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebayanya. Download ptk pkn sma pdf Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainya, sehingga seorang anak pada usia tertentu sudah mamiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya.
Kecerdasan / intelegensia juga berpengaruh besar dalam menentukan seorang siswa dalam mencapai keberhasilan. Siswa yang memiliki intelegensi sangat tinggi, prestasi belajarnya juga akan tinggi, sementara siswa yang memiliki intelegensi rendah maka prestasi yang diperoleh akan rendah.
3) Cara Belajar
Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan factor fisiologis, psiologis dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.

4) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating. Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar diluar bakatnya.
5) Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang/ hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Serang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat dalam belajar.
6) Motivasi
Motivasi sebagai factor intern berfungsi menimbulkan, mandasari, mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan memiliki prestasi yang baik, begitu pula sebaliknya.
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk elakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaiman cara mengatur agar motivasi dapt ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didika akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya dari luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan pada individu. Faktor-faktor ekstern itu antara lain :
1) Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka anak dituntut harus lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi belajar anak.
2) Status ekonomi sosial orang tua
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar harus terpenihi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu. Akibatnya, belajar anak juga tergangu.
3) Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan di sekolah
Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di rumah diperlukan tempat belajar dan bermain, agar anak dapat berkreasi sesuai apa yang diinginkan. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik.
4) Media yang dipakai guru
Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk tiap sekolah.
5) Kompetensi guru
Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya
terhadap siswa dengan metode atau program tertentu. Metode atau program
disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan
di sekolah tergantung dari baik tidaknya program yang dirancang.
Dari uraian yang telah dijabarkan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa berasal dari dua hal yaitu faktor yangberasal dari dalam diri siswa (faktor intern) dan faktor yang berasal dari luar siswa (faktor ekstern).

2.4.3. Bentuk dan Tipe Hasil Belajar
Dalam proses pembelajarn, tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting untuk diketahui oleh guru, agar guru pada tahap selanjutnya dapat mendesain pembelajaran secara tepat dan penuh makna. Setiap proses pembelajaran hendaknya tingkat keberhasilannya dapat diukur, disamping dapat diukur dari segi prose snya. Contoh ptk pkn sma doc Tipe hasil belajar yang dimaksud perlu nampak dalam prumusan tujuan pembelajaran (instruksional), sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses pembelajaran. Ada beberapa pendapat yang dapat dipakai untuk melihat peristiwa atau proses belajar. Dari berbagai pendapat-pendapat itu Angkowo dan Kosasih (2007 : 52) mengklasifikasikan menjadi tiga sudut pandang, yaitu :
1) Memandang belajar sebagai proses.
2) Memandang belajar sebagai hasil.
3) Memandang belajar sebagai fungsi.
Ketiga cara pandang ini nampak perlu dipahami oleh guru sebab guru adalah pembina, pembimbing dan pengarah kegiatan belajar siswa. Dalam uraian berikut ini akan dipandang dari segi hasil.
Dengan melihat daya yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan persentase keberhasilan siswa dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa.

2.5. Kerangka Berfikir
Berdasarkan pemaknaan-pemaknaan tentang Penerapan Metode Ceramah Bervariasi dan Penggunaan Media Audiovisual dalam Pembelajarn Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Upaya dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X.IPA3, maka disini akan mencoba membangun kerangka berpikir teoritis sebagai berikut :
Gambar Kerangka Berfikir

Pembelajaran PKn adalah pembelajaran yang menumbuhkembangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat menjadi warga negara yang baik yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajibannya secara bertanggung jawab, dimana materi¬materinya lebih pada pendidikan budi pekerti, pengamalan nilai-nilai dan moral.
Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam mengajar seharusnya tidaklah bertumpu pada aspek pengetahuan saja, akan tetapi harus dapat merangkai ketiga aspek tersebut yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Selain itu juga harus memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Metode yang tepat agar siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran adalah salah satunya dengan metode ceramah bervariasi, dan karena dalam pembelajaran PKn itu materi-materinya lebih pada pendidikan budi pekerti, pengamalan nilai-nilai dan moral, maka guru dalam mengajar perlu adanya media yang tepat untuk menjelaskan materi tersebut yaitu melalui media audiovisual. ptk pkn sma pdf Karena dengan media audiovisual tersebut dapat mengkonkretkan pemahaman para peserta didik terhadap materi-materi yang sulit dimengerti seperti materi Pendidikan Kewarganegaraan.

2.6. Hipotesis
Penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X.IPA3 SMAN ... Kota ... pada semester I tahun ajaran 2014/2015 dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

PTK PKN KELAS X UNTUK KENAIKAN PANGKAT

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Sudikin dalam Susiloningsih (2010) tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan Taggart dengan menggunakan system spiral, yang setiap sklusnya terdiri dari empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
3.2. Setting dan Subyek Penelitian
1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN ... Kota ... . Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang dilaksanakan pada awal Semester I tahun ajaran 2014/2015.
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X.IPA3 SMAN ... Kota ... pada Semester I tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 36 orang , terdiri dari 24 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki.

3.3. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Observasi
 Observasi digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Menggunakan Observasi terfokus dimana sasaran atau maksud dari observasi tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh observer. ptk pkn sma doc
2) Dokumentasi
 Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa yang merupakan pencerminan pencapaian tujuan pembelajaran melalui tes.
3) Angket
Angket digunakan untuk mengetahui pendapat atau tanggapan dari siswa terhadap penggunaan metode dan media tersebut.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengukur peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu
Instrumen 1 (lembar observasi pada siklus I dan siklus II)
Instrumen 2 ( berupa butiran soal tes)
Instrumen 3 ( pedoman angket)

3.4. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan terhadap seluruh kegiatan yang telah dilakukan dan menarik kesimpulan dari semua data yang terkumpul dalam penelitian ini. Setelah data diperoleh selanjutnya menganalisis data tersebut. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif . Data kuantitatif berupa hasil tes tertulis yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu tes awal pada pra siklus, pada akhir siklus I, dan pada akhir siklus II. Presentase rata rata kemampuan / hasil tes siswa dapat ditentukan dengan rumus sebagi berikut :
Rumus Presentase Nilai

Keterangan :
 N : jumlah nilai satu kelas
S : banyaknya siswa satu kelas
Hasil perhitungan persentase kemampuan siswa dari ketiga tes tersebut (pra sisklus, siklus I, dan siklus II) kemudian dibandingkan.
Sedangkan data yang diperoleh melalui non tes yaitu observasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dan hasil dari pengisian angket dari siswa tentang tanggapan penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran dianalisis secara deskriptif kualittif. Dari pengambilan data non tes diperoleh gambaran tentang situasi dan kondisi siswa, keantusiasan, aktivitas, dan kegembiraan selama mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, juga hambatan-hambatan yang dihadapi saat mengikuti pembelajaran tersebut.
3.5. Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini, diharapkan pada akhir siklus 2 terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah guru menerapkan penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Untuk hasil belajar diberikan patokan 80 % dari jumlah keseluruhan siswa yang mendapat nilah lebih tinggi atau sama dengan nilai yang telah distandarkan oleh sekolah yaitu 7,00.
Selain itu juga terjadi peningkatan keaktifan siswa pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, untuk keaktifan siswa diberikan patokan 80 % atau sekitar minimal 24-25 siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.

3.6. Prosedur Pelaksanaan PTK
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan Taggart dengan menggunakan system spiral, yang setiap sklusnya terdiri dari empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
Adapun tahapan-tahapan siklus yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Siklus I
1) Perencanaan
a) Peneliti berdiskusi dengan guru pengampu lain mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran SMAN ... Kota ... untuk menentukan materi yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang merupakan materi kelanjutan dari pra siklus. Setelah berdiskusi maka ditemukan materi yang tepat dengan judul penelitian ini yaitu “Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah” , dengan standar kompetensi dan kompetensi dasarnya adalah sebagai berikut :
Standar Kompetensi : Memahami hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kompetensi Dasar : Menyaji hasil telaah hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b) Peneliti berdiskusi dengan guru pengampu mata pelajaran PKn untuk merencanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Contoh ptk pkn sma doc Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tersebut didalamnya berisi mengenai metode dan media apa yang akan dipakai atau digunakan dalam penelitian ini. Rencana metode pembelajaran yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode ceramah bervariasi, artinya dalam pengunaan metode ceramah akan dipadukan dengan metode pembelajaran yang lain yaitu metode tanya jawab dan metode pemberian tugas. Sedangkan media yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemaparan materi dengan menggunakan media audiovisual (LCD), disini materi akan disajikan dalam bentuk power point yang didalamnya ada tayangan gambar dan suaranya.
c) Peneliti mempersiapkan materi yang akan dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu materi tentang “Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah”.
d) Peneliti mempersiapkan lembar observasi. (terlampir)

2) Pelaksanaan dan Observasi
Guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas X.IPA3 mengajar sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dipersiapkan, dan kemudian peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan aktivitas belajar siswa tersebut.
3) Refleksi
Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan evaluasi, kemudian peneliti bersama guru pengajar mata pelajaran PKn Kelas X.IPA3 melakukan refleksi terhadap proses kegiatan pembelajaran tadi. Refleksi dilakukan atas dasar hasil pengamatan dikelas dan hasil evaluasi atau tes.
Setelah tahap refleksi pada siklus I selesai, maka akan diperoleh hasil penelitian yang diharapkan. Apabila teryata hasil penelitian itu belum mencapai target aktivitas belajar siswa dan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan maka akan dilanjutkan dengan siklus II.

b. Siklus II
Untuk tahap-tahapan yang dilakukan pada siklus II ini sama dengan tahap¬tahapan yang dilakukan pada siklus I dengan berpedoman pada hasil refleksi pada siklus I.
Secara singkat prosedur pelaksanaan dari penelitian ini dapat dilihat pada skema berikut :
Berikut kisi-kisi observasi yang akan digunakan :
Tabel Siklus II

Prosentase aktivitas belajar yang dilakukan siswa tersebut memiliki beberapa kategori kualifikasi, yaitu:
4 = Baik, apabila prosentasenya 78,6% - 100% dengan interval 22 - 28 siswa;
3 = Cukup, apabila prosentasenya 53,6% - 75% dengan interval 15 - 21 siswa;
2 = Kurang, apabila prosentasenya 28,6% - 50% dengan interval 8 - 14 siswa;
1 = Sangat Kurang, apabila prosentasenya 0% - 25% dengan interval 1 - 7 siswa.

CONTOH PTK PKN SMA KURTILAS WORD

DAFTAR PUSTAKA

Angkowo , R. Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran
Mempengaruhi Motivasi, Hasil Belajar Dan Kepribadian. Jakarta : Grasindo.
Baharudin ,A . Wahyuni, N. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogyakarta : Ar Ruzz Media.
Dimyati. Mudjiono . 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Djamarah, dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan . Surabaya : Usana
Offset Printing.
Furchan, A. 2007. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gula, W. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Grasindo.
Hujair , A. H. 2009. Media Pembelajaran. Jogyakarta : Safiria Insania Press.
Kasbolah, K. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Universitas Negeri Malang.
Kusnandar. 2009. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Bumi Aksara.
Kusumadewi, LF. 2011. Peningkatan Hasil Belajar Seni Tari dengan Media AudioVisual dan Melalui Metode Ceramah Bervariasi. Semarang : UNS.
Miarso, Y. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Mulyanto, B. 2010. Upaya Peningkatan Prestasi Belajar IPS dengan Menggunakan Media Peta Pada Siswa Kelas V di SDN Bonomerto 2 Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang Semester II Tahun 2009/2010. Salatiga : UKSW.
Mulyasa .2009. Praktik Penelitian Tinadakan Kelas. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, M. 2009. Melaksanakan PTK itu Mudah ( Classroom Action Research). Jakarta : Bumi Aksara.
Nana, S. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rasdakarya.
Pramuduaningrum, V. I. 2007. Peningkatan Minat Belajar dan Pemahaman Materi Norma – Norma dalam Masyarakat Melalui Teknik Pembuatan dan Permaianan Kartu Norma pada Siswa Kelas VII SMP Stella Matutina Salatiga Tahun Pembelajaran 2007 – 2008. Salatiga : SMP Stella Matutina.
Sadiman, dkk . 2008. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Saptono, dkk. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Adaptif, Kooperatif, Aktif, dan Reflektif (Model Pakar). Salatiga : UKSW.
Silberman, M. 2010. Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Yappendis.
Slameto, dkk. 2011. Scholaria Jurnal Ilmiah Pendidikan Ke- SD- an. Salatiga : Widya Sari Press.
Susiloningsih, H. 2010. Penggunaan Media Peta dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Kutowinangun 09 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2009-2010. Salatiga : UKSW.
Warningsih , S. dkk. 2011. Inovasi pendidikan denagan pemanfaatan media audiovisual dalam pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V di SD Negeri 02 Tuntang Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Salatiga : UKSW.
Yuswanti, L. 2007. Media Audiovisual Meningkatkan Minat Belajar IPA Kelas VI SD Pewyatan Daha Kediri, PTK. Dinas Pendidikan Kota Kediri.
Zaini, dkk. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CTSD.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK PKN KELAS X KURTILAS TERBARU

Postingan terkait: