PTK BAHASA INGGRIS KELAS X KECERDASAN LINGUISTIK

PTK BAHASA INGGRIS KELAS X KECERDASAN LINGUISTIK-Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan Model Kemmis dan Mc Taggart dengan langkah perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi yang dilaksanakan dengan dua siklus. Pada siklus I terdiri dari tiga pertemuan dan siklus II terdiri dari tiga pertemuan. Teknik analisis data yang digunakan dengan menggunakan teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif kemudian hasilnya dianalisis dengan indikator kerja. Subyek yang akan digunakan sebagai penelitian adalah seluruh siswa kelas X IPA 3 SMAN ... yang berjumlah 40 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan tes evaluasi pada akhir pertemuan yang hasilnya di rata-rata dari pertemuan I, II, dan III setiap siklus. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini yaitu 75 % dari seluruh siswa kelas X IPA3 telah mencapai atau melebihi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65 (>65). ptk bahasa inggris sma pdf 

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Inggris Kelas X IPA 3 SMAN ... Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015. Melalui metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik yang akan dilanjutkan oleh upaya peningkatan hasil belajar yang dapat dilihat pada kondisi awal dapat dilihat dengan skor rata-rata 60,60, Siklus I 78,23, Siklus II 94,38. Peningkatan hasil belajar pada kondisi awal ke siklus I sebesar 100% dan dari siklus I ke siklus II 100%. Dengan nilai maksimal siklus I 100 dan nilai minimalnya 71, dan pada siklus II dengan nilai maksimal 100 dan nilai minimal 86. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA 3 SMAN ... Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015. Maka saran dari penulis adalah metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam PBM. Dengan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dalam PBM dapat mengembangkan keterampilan berbahasa siswa.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INGGRIS SMA yang diberi judul UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS MATERI POKOK UNDERSTANDING A SONG MELALUI METODE BERMAIN PERAN BERBASIS KECERDASAN LINGUISTIK PADA SISWA KELAS X IPA 3 SMAN ... KOTA ... TAHUN PELAJARAN 2014/2015". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INGGRIS SMA KELAS X lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 042).


DOWNLOAD LAPORAN PROPOSAL PTK BAHASA INGGRIS SMA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam penyelenggaraan pendidikan metode pembelajaran ada berbagai metode yang dilakukan oleh para pendidik. Diantaranya adalah metode bermain peran. Pada hakikatnya berbagai metode pembelajaran yang ada sama¬sama saling mendukung dalam proses belajar anak didik. Pada umumnya dalam proses pendidikan pada anak usia dini lebih diutamakan pada metode bermain sambil belajar (bermain peran). Hal ini dilakukan karena metode ini lebih sesuai dengan kondisi anak-anak yang cenderung lebih suka bermain. Maka para pendidik memanfaatkan hal ini untuk mendidik mereka dengan cara bermain sambil belajar yaitu disamping mereka bermain mereka sekaligus mengasah keterampilan dan kemampuan. Cara ini akan lebih berkesan dalam memori otak anak-anak untuk perkembangan pengetahuannya karena pada usia dini adalah masa-masa perkembangan memori otak sangat pesat.

Guna mencapai arah pengembangan bahasa itu, manusia/anak memiliki kecerdasan yang dapat dikembangkannya, yaitu kecerdasan linguistik.Kecerdasan linguistik adalah kemampuan dalam menggunakan kata¬kata secara terampil dan mengekspresikan konsep-konsep secara fasih (fluently) (Agus Effendi, 2005: 25). Adapun tujuan dari pada usaha meningkatkan kecerdasan bahasa atau pengembangan bahasa di sekolah menengah atas adalah agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan minat untuk dapat berBahasa Inggris (Depdiknas, 2007: 17). ptk bahasa inggris sma doc
Bila kecerdasan linguistik ini diasah dengan baik melalui metode pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan, maka akan berkembang dengan sangat baik dan anak-anak akan memiliki kemampuan dalam hal kepekaan akan makna dan urutan kata serta kemampuan penggunaan bahasa, serta nantinya setelah besar nanti anak sangat berkompeten untuk menjadi jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Hal ini didasarkan karena orang yang memiliki kecerdasan ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur atau mengajak dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya.

Rata-rata nilai Bahasa Inggris kelas X IPA 3 SMAN ... tahun 2014/2015 pada ulangan harian masih dibawah KKM yang ditentukan yaitu 65, hal ini menunjukkan daya serap siswa dalam pelajaran Bahasa Inggris masih di bawah rata-rata. Nilai yang diperoleh siswa masih di bawah standar kelulusan yang sudah ditentukan sekolah. Sejalan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu upaya yang dilaksanakan di sekolah ini adalah penggunaan, media pembelajaran dan strategi pembelajaran. Hal ini harus dilakukan agar kebutuhan peserta didik dapat terlayani dengan baik sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Berdasarkan observasi peneliti dikelas X IPA 3 SMAN ... tahun 2014/2015, pada mata pelajaran Bahasa Inggris tingkat hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian siswa yang belum memuaskan. Dari 40 siswa terdapat 20 siswa yang memiliki nilai diatas KKM yaitu diatas nilai 65 sementara 20 siswa lainnya mendapat nilai di bawah KKM atau belum mengalami pembelajaran tuntas. Rata-rata nilai Bahasa Inggris pada ulangan harian hanya r 60,60. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, yaitu belajar siswa yang belum maksimal (belajar pada waktu ada PR atau ulangan), kemampuan belajar siswa berbeda-beda ada yang lebih cepat mengerti bila dijelaskan dan ada yang kurang mengerti bila dijelaskan tentang materi pelajaran yang disampaikan, minat terhadap pelajaran Bahasa Inggris rendah hal ini bisa dilihat dari keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, antusias siswa dan respon siswa dalam mengikuti pelajaran.

1.2 Identifikasi Masalah
Pemasalahan-permasalahan yang ditemukan pada proses pembelajaran yang di kelola guru di kelas, ditemukan penyebab rendahnya keterampilan berbahasa Bahasa Inggris siswa Kelas X IPA 3 SMAN ... Tahun Pelajaran 2014/2015.
a. Metode pembelajaran Bahasa Inggris yang selama ini diterapkan, kurang memberi kebiasaan pada pengalaman dan latihan pada siswa untuk mengungkapkan gagasan, imajinasi atau perasaan pada siswa sehingga metode pembelajaran Bahasa Inggris kurang menekankan pembelajaran pada siswa akibatnya proses pembelajaran Bahasa Inggris kurang mengembangkan keterampilan berbahasa siswa.
b. Metode pembelajaran Bahasa Inggris yang diterapkan masih cenderung mengarahkan siswa untuk menghafal informasi saja dan siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru tanpa melibatkan langsung siswa sehingga metode pembelajaran Bahasa Inggris lebih cenderung ke arah ceramah akibatnya metode pembelajaran terkesan tidak menarik bagi siswa.
c. Penyampaian materi pelajaran dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris masih kurang dipahami oleh siswa sehingga materi masih kurang dipahami oleh siswa sehingga hasil belajar siswa rendah.

Berdasarkan observasi di Kelas X IPA 3 SMAN ... Tahun Pelajaran 2014/2015, memberikan gambaran awal masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris, yaitu:
a. Siswa kurang terampil dalam aspek keterampilan mendengarkan dan membaca karena siswa kurang dibiasakan dan dilatih dalam kegiatan pembelajaran akibatnya keterampilan mendengar dan membaca siswa kurang dikembangkan.
b. Siswa kurang terampil dalam memahami dan menerapkan tanda baca dan ejaan yang benar pada keterampilan menulis sehingga siswa masih kurang memahami penggunaan tanda baca dan ejaan yang benar dalam menulis.
c. Siswa kurang terampil dalam mengungkapkan gagasan dalam kegiatan tanya jawab dan diskusi pada keterampilan berbicara sehingga siswa kurang berani dalam menyatakan pendapatnya jika dalam kegiatan tanya jawab dan diskusi.

d. Siswa kurang tertarik atau minat belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris rendah sehingga siswa kurang aktif dalam kegiatan.
e. Kemampuan belajar siswa berbeda-beda akibatnya daya serap siswa terhadap materi yang disampaikan juga berbeda-beda.
f. Siswa kurang memahami dan menguasai materi pelajaran sehingga hasil belajar siswa rendah.
Identifikasi dan analisis masalah yang dilakukan, memberi petunjuk awal, tentang keterampilan berbahasa yang harus diperbaiki pada pelajaran Bahasa Inggris. Download ptk bahasa inggris sma doc Keterampilan yang sudah ada pada siswa yang masih perlu dikembangkan dan ditingkatkan pada keempat keterampilan berbahasa yaitu mengembangkan bagaimana memahami dan menerapkan keterampilan mendengar dan membaca, mengembangkan keterampilan menulis dengan memperhatikan penggunaan tanda baca dan ejaan yang benar, serta dapat mengungkapkan gagasan dalam kegiatan tanya jawab dan diskusi pada keterampilan berbicara. Dengan demikian diperlukan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan berbahasa secara efektif dalam kegiatan belajar.

Yang perlu dilakukan oleh guru dalam menyampaikan materi dalam pembelajaran Bahasa Inggris agar siswa lebih memahami materi yang disampaikan, yaitu:
a. Guru dapat menyampaikan materi melalui Metode Bermain Peran
Berbasis Kecerdasan Linguistik yaitu suatu metode mengajar berdasarkan
pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan
dan pendapat dengan memperagakannya, baik secara lisan maupun tertulis.
b. Dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik sehingga dapat
membantu dalam memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan
serta tidak membosankan bagi siswa.
c. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat sehingga tidak terkesan monoton dan membosankan bagi siswa.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah dengan penerapan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas X IPA 3 SMAN ... Tahun Pelajaran 2014/2015”?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris melalui metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik pada siswa kelas X IPA 3 SMAN ... Tahun Pelajaran 2014/2015.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, adapun manfaat yang diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis serta manfaat praktis pada masyarakat luas, khususnya dibidang pendidikan:
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian diharapkan memberi sumbangan bagi pengembangan, peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran Bahasa Inggris yang berpedoman pada Kurikulum 2013. Penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberi manfaat bagi sekolah dan guru agar mampu menangani masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan berbahasa seperti membaca, menulis, berbicara dan mendengar.

1.5.2. Manfaat Praktis
1) Bagi kepala sekolah
Memberikan masukan kepada sekolah di daerah agar lebih tanggap jika ditemui masalah yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan berbahasa.
2) Bagi Guru
a. Meningkatkan kreativitas guru untuk menciptakan metode pembelajaran yang menarik dalam proses pembelajaran.
b. Dapat digunakan sebagai masukan bagi guru sekolah menengah atas untuk memperoleh metode pembelajaran yang tepat dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
3) Bagi Siswa
a. Meningkatkan keterampilan berbahasa pada siswa seperti, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan.
b. Pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa mempunyai gambaran tentang konsep mata pelajaran Bahasa Inggris.
c. Siswa dapat mengaplikasikan dikehidupan sehari-hari.

CONTOH PTK BAHASA INGGRIS SMA KELAS X TERBARU

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kajian Teori
2.1.1 Hakikat Hasil Belajar
2.1.1.1 Pengertian Hasil Belajar
Hasil Belajar Siswa - Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya dilakukan seseorang guru sebagai pengajar. Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduanya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar. Oleh karena itu, hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan¬kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru)

2.1.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 1989 : 39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981 : 21) menyatakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Contoh ptk bahasa inggris sma pdf Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran (Sudjana, 2002 : 39). "Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya" (Ali Muhammad, 204 : 14). Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik). 

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.

2.1.2 Konsep pengajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum 2013 
Bahasa berperan sangat penting dalam berkomunikasi dalam kehidupan yakni sebagai sarana menyampaikan dan memperoleh informasi, penyesuaian terhadap lingkungan, saling berinteraksi serta sebagai sarana hubungan sosial. Bahkan siswa komunikasi sangat penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah maupun kegiatan di rumah. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris berbasis kompetensi tentulah harus memberikan berbagai kecakapan bahasa, baik dalam mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Unsur pertama yang perlu diperhatikan dalam penyusunan pembelajaran adalah kompetensi dasar yang diuraikan. 

Berdasarkan aspek keterampilan yang telah disebutkan dalam Kurikulum 2013 bahwa pembelajaran Bahasa Inggris kelas X IPA meliputi empat keterampilan berbahasa dengan kemampuan siswa dapat memahami sesuatu yang disampaikan secara lisan, mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi, memahami teks dalam keterampilan membaca serta dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis.
2.1.3 Metode Bermain Peran
2.1.3.1 Pengertian Metode
Dalam suatu proses pembelajaran, agar guru dapat membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, dan mengekspresikan dirinya, guru perlu menyusun suatu rencana mengajar yang memfasilitasi terjadinya konsep perubahan pada siswa. Perwujudan rencana pengajaran dapat diungkapkan dalam bentuk metode pembelajaran.

Metode pembelajaran perlu dipahami guru agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Dalam penerapannya, metode pembelajaran harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan siswa karena masing-masing metode pembelajaran memiliki tujuan, prinsip, dan tekanan utama yang berbeda¬beda (Aunnurahman,20 10).
Salah satu yang membedakan metode pembelajaran yang satu dengan yang lain adalah tingkah laku mengajar (sintaks) yang digunakan masing-masing metode pembelajaran. Sintaks inilah yang menjadi ciri khas dari suatu metode pembelajaran. Masing-masing metode pembelajaran memiliki sintaks yang berbeda-beda meskipun memiliki tujuan pembelajaran yang sama.

2.1.3.2 Metode Bermain Peran
Menurut Andang (2006: 50) bermain khayal atau bermain peran termasuk salah satu jenis bermain aktif. Permainan ini juga disebut permainan drama, sebab merupakan kegiatan yang dilakukan dengan berpura-pura. Menurut Hamalik (2003: 214) bermain peran merupakan penerapan pengajaran berdasarkan pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan pendapat tanpa kekhawatiran mendapat sanksi.

Metode pembelajaran bermain peran ini merupakan metode pembelajaran yang menjadi wahana siswa untuk meningkatkan kecerdasan linguistiknya. ptk bahasa inggris sma kelas x doc Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode bermain peran adalah suatu metode mengajar berdasarkan pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan pendapat dengan memperagakannya.
2.1.3.3 Tahapan Pelaksanaan Metode Bermain Peran
Menurut Sharfel dan Shaftel (1967) yang dibahas kembali oleh Sumantri dan Permana mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman pembelajaran:
1. Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan perserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan actual, langsung menyangkut kehidupan peserta didik, menarik, dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, serta memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah. Oleh karena itu, tahap ini sangat penting dalam bermaian peran dan paling menentukan keberhasilan. Beramain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.

2. Memilih partisipan/peran, tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut, dan guru dapat menunjukkan salah seseorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu.
3. Menyusun tahap-tahap peran, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan, misalnya di mana pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya. Persiapan ini penting untuk mencipatakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik, dan mereka siap untuk memainkannya.

4. Menyiapkan pengamatan, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Menurut Sharfel dan Shafel (1967), agar pengamat turut terlibat, mereka perlu diberi tugas. Misalnya menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah dapat mengahayati peran yang dimainkan?
5. Pemeranan, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan. Sharfel dan Shafel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan, tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Adakalanya para peserta didik keasyikkan bermain peran sehingga tanpa disadarai telah memakan waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didikusikan.

6. Diskusi dan evaluasi, diskusi akan mudah jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
7. Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.

8. Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan.
9. Mengambil pengalaman dan mengambil kesimpulan, tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. Mereka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Contoh ptk bahasa inggris lengkap pdf Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran, yang ditegaskan lagi pada tahap akhir. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman, dan sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.

2.1.4 Hakikat Kecerdasan
2.1.4.1 Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan (inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni :
1) Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.
2) Kecerdasan kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat di pecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuanpun bertambah.

Kecerdasan mempunyai arti yang berbeda-beda, tapi pada umumya kecerdasan mempunyai peran yang penting bagi seseorang. Terutama dalam kehidupan sesorang, baik dalam memperoleh informasi, dalam memecahkan masalah yang dihadapi, dan terkait dengan bahasa yang sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan. Selain itu merupakan salah satu yang dapat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Bawasannya setiap orang mempunyai kecerdasan dan itu berbeda-beda dan tergantung orang itu mengembangkan kecerdasannya. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran berbasis kecerdasan linguistik dalam penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat mengembangkan kecerdasan linguistik siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris.

2.1.4.2 Jenis-jenis kecerdasan
Ada delapan jenis-jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner dalam Amstrong (2004: 2-4). Jenis-jenis kecerdasan majemuk tersebut antara lain: Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis, kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar, kecerdasan spasial adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut, kecerdasan kinestetis-jasmani adalah keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, kecerdasan musical adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi, mengubah, dan mengekpresikan, kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain, kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut, kecerdasan naturalis merupakan keahlian mengenali dan mengategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar.

Berdasarkan jenis-jenis kecerdasan yang di kemukakan oleh Gardner dalam Armstrong (2004: 250) dan Ngermanto dalam Putranti (2003: 3), dapat disimpulkan bahwa adanya kesamaan jenis-jenis kecerdasan manusia yang telah dikemukakan keduanya. Ini dapat dilihat bahwa kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis-matematis masuk dalam kelompok kecerdasan IQ, kecerdasan eksistensial masuk dalam kecerdasan EQ, kecerdasan spasial, kinestetis-jasmani dan kecerdasan naturalis masuk dalam kecerdasan SQ. Sedangkan kecerdasan musikal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal masuk dalam kecerdasan Q lainnya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan lagi, teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner lebih spesifik bila dibandingkan dengan kecerdasan yang dikemukakan oleh Ngermanto. Ngermanto mengelompokan beberapa kecerdasan dalam kelompok-kelompok tertentu. ptk bahasa inggris sma pdf Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini peneliti akan mengembangkan keterampilan kecerdasan lingusitik yang telah ada pada siswa melalui kegiatan pembelajaran melalui strategi dalam mengembangkan keterampilan dalam aspek berbahasa.

2.1.5 Hakikat Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Linguistik 
2.1.5.1 Pengertian Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Linguistik
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis Depdikbud (1995) dalam Utami (2009: 5). Hal ini bahwa kompetensi pembelajaran bahasa diarahkan ke dalam empat aspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Kecerdasan linguistik berkaitan dengan kemampuan penggunaan bahasa secara umum. Jadi berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan diatas maka kecerdasan linguisik merupakan kemampuan untuk menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan inti operasional bahasa dengan jelas untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks..

2.5.1.2 Implementasi Pembelaj aran Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik sangat berakar dalam perasaan mengenai kompetensi dan kepercayaan diri. Makin banyak anak-anak latihan dalam kecerdasan ini ditempat yang kondusif, makin mudah mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan verbal ini yang akan bermanfaat bagi mereka sepanjang hayat. Siswa memerlukan berbagai pengalaman dengan melibatkan kecerdasan linguistik. Latihan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis menimbulkan perkembangan manusia lebih penuh dengan penguasaan keterampilan-keterampilan yang penting bagi manusia seperti berpikir, belajar, menyelesaikan masalah, berkomunikasi, dan menciptakan, seperti halnya membantu masyarakat.

2.1.6 Pentingnya Kecerdasan Linguistik Dalam Pembelajaran
Kelas pada setiap pelajaran di setiap kelas, harus berupa lingkungan yang kaya akan bahasa tempat siswa dapat sering berbicara, berdiskusi dan menjelaskan dan yang terpenting mendorong rasa ingin tahu. Minat belajar bertambah ketika siswa merasa cukup aman untuk bertanya dan memperdebatkan sudut pandangnya. Mengungkapkan gagasan secara verbal merupakan latihan metakognitif yang penting, karena dengan sering mendengar diri kita berbicara, dan membaca apa yang kita tulis, maka kita akan memperoleh wawasan mengenai apa yang benar-benar kita pikirkan dan kita ketahui. Kepercayaan diri tumbuh ketika siswa belajar mempertahankan posisinya dalam suatu diskusi dan debat. Mereka memahami pelajaran lebih mendalam saat mereka memiliki peluang untuk berdiskusi atau mengajar teman lainnya apa yang telah dipelajari.

Pengembangkan aspek keterampilan berbahasa melalui pembentukan lingkungan pembelajaran mempunyai peranan yang penting, dimana seorang siswa akan terlatih kemampuan bertanya, kemampuan dalam mengungkapkan gagasan merupakan merupakan suatu hal penting. Dengan pembentukan lingkungan belajar yang menekankan pada aspek keterampilan berbahasa, akan melatih siswa dengan sendirinya memperoleh informasi melalui kegiatan mendengar dan mengungkapkannya dalam bentuk gagasan atau pertanyaan dalam keterampilan berbicara, siswa dapat memperoleh informasi dari kegiatan membaca sehingga dapat mengungkapkan kembali dalam keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini saling terkait, siswa akan merasa percaya diri karena meperoleh wawasan yang ditemukan sendiri sehingga memacu siswa untuk dapat mengungkapkan dan mempertahankan pendapatnya dalam sutu dikusi. Download ptk bahasa inggris sma doc Akan tetapi kebanyakan yang masih terjadi adalah guru yang paling banyak berbicara dalam kelas, siswa lebih cenderung sebagai pendengar. Sehingga siswa tidak dibiasakan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Siswa menjadi tidak terbiasa dalam mengungkapkan gagasan atau pertanyaan dikelas, melalui apa yang telah siswa dengar. Siswa kurang terlatih menuliskan kembali informasi apa yang telah siswa baca. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti akan menerapkan kecerdasan linguistik dalam pembelajaran, dimana dalam proses pembelajaran siswa akan dilatih mengungkapkan gagasan dalam kegiatan tanya jawab dan diskusi melalui informasi apa yang siswa temukan melalui kegiatan menyimak sebuah cerita, kemudian dapat menuliskan kembali secara runtut dalam bentuk cerita.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbahasa merupakan suatu keterampilan essensial yang dapat berkembang secara efektif jika banyak latihan dan dorongan. Dengan banyaknya latihan dan dorongan ini akan membuat anak lebih terampil kemampuan berbahasanya dan bisa berguna sepanjang hayat. Salah satunya melalui kegiatan pembelajaran yang dapat membentuk suatu lingkungan belajar yang menekankan pada aspek keterampilan berbahasa siswa, sehingga keterampilan siswa pun dapat terlatih sehingga dapat berkembang.
2.1.7 Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Lingusitik
2.1.7.1 Pengertian Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Lingusitik
Metode pembelajaran bermain peran berbasis kecerdasan linguistik merupakan metode pembelajaran yang menjadi wahana siswa untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan berbahasa. Melalui metode ini anak dapat melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak, dan bermain adalah suatu kebutuhan yang sudah ada (inhern) dalam diri anak. Dengan demikian, anak dapat mempelajari berbagai ketrampilan dengan senang hati, tanpa merasa dipaksa ataupun terpaksa dalam kegiatan bermain. Bermain mempunyai banyak manfaat dalam mengembangkan ketrampilan dan kecerdasan anak agar lebih siap menuju pendidikan selanjutnya. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata secara efektif, baik lisan maupun tertulis.

Metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik merupakan pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan cerita yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimprovisasi namun masih dalam batas-batas cerita dari guru. Metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik adalah suatu metode mengajar berdasarkan pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dengan memperagakannya, baik secara lisan maupun tertulis.
2.1.7.2 Langkah-Langkah Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Lingusitik
Langkah-langkah metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik merupakan pemaduan antara langkah-langkah metode bermain peran dan implementasi pembelajaran berbasis kecerdasan linguistik, yaitu

Tabel 2.1
Langkah-Langkah Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan
Linguistik

2.1.2 Hubungan Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Linguistik dengan Hasil Belajar
Penerapan metode bermain peran berbasis kecerdasan lingusitik merupakan suatu pembelajaran dengan tahapan-tahapan pembelajaran yang memiliki berbagai macam aktivitas di dalamnya sehingga membuat setiap siswa menggali berbagai kecerdasan yang dimilikinya. Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran yang ada pada metode ini siswa akan lebih banyak melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam materi cerita pendek anak tersebut sebagai tokoh-tokoh dengan melakukan gerakan, memperkenalkan diri sebagai salah satu tokoh dalam cerita pendek tersebut beserta wataknya, dan memperhatikan teman yang lainnya, maka siswa menjadi paham dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya.

2.2 Kerangka Berpikir
Dalam suatu proses pembelajaran, agar guru dapat membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, dan mengekspresikan dirinya, guru perlu menyusun suatu rencana mengajar yang memfasilitasi terjadinya konsep perubahan pada siswa. Salah satunya yaitu melalui metode pembelajaran.
Pembelajaran yang menggunakan metode akan mengurangi kondisi yang monoton dan pembelajaran yang menarik bagi siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik, karena bahasa Inggris merupakan bahasa yang berperan sangat penting dalam berkomunikasi dalam kehidupan yakni sebagai sarana menyampaikan dan memperoleh informasi, penyesuaian terhadap lingkungan, saling berinteraksi serta sebagai sarana hubungan sosial. Bahkan siswa berkomunikasi sangat penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah maupun kegiatan di rumah. ptk bahasa inggris sma kelas x doc 

Dengan menggunakan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris pada siswa. Sehingga dalam kegiatan belajar dapat menarik minat belajar siswa, karena dengan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik, yaitu suatu metode mengajar berdasarkan pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan pendapat dengan memperagakannya, baik secara lisan maupun tertulis. Dengan tahapan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik, yaitu menghangatkan suasana dan memotivasi siswa, memilih peran, menyusun tahap-tahap peran, menyiapkan pengamatan, pemeranan, diskusi dan evaluasi, pemeranan ulang, diskusi evaluasi tahap dua, mengambil pengalaman dan kesimpulan. Dengan demikian pemahaman terhadap kemampuan dan keterampilan berbahasa siswa dapat secara optimal, sehingga hasil belajar siswa pun menjadi optimal.
2.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah melalui metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas X IPA 3 SMAN ... Semester II Tahun Ajaran 2014/2015.

CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INGGRIS SMA DENGAN METODE TERBARU WORD

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian dilakukan di 3 SMAN .... Subyek dari penelitian tindakan kelas siswa Kelas X IPA 3 SMAN ... Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa 40 siswa. Siswa kelas X IPA ini hasil belajarnya masih rendah dalam pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya pada materi pokok Understanding a Song. Dari 40 siswa terdapat 18 siswa mendapatkan nilai dibawah 65 atau belum mencapai KKM yang ditentukan. Karakteristik siswa kelas X IPA3 ini adalah berumur antara 15 tahun sampai 17 yang merupakan menuju tahap berpikir konkrit/nyata. Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai wiraswasta.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik adalah suatu metode mengajar berdasarkan pengalaman karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan pendapat dengan memperagakannya, baik secara lisan maupun tertulis. Variabel bebasnya yaitu metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik dan variabel terikatnya yaitu hasil belajar siswa.

3.2.1 Variabel Bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik. Aspek yang diukur dalam pembelajaran ini meliputi menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik (membaca dan berbicara), memilih partisipan (membaca dan berbicara), menyusun tahap-tahap peran (berbicara dan mendengarkan), menyiapkan pengamatan (mendengarkan dan menulis), pemeranan (berbicara dan membaca), diskusi dan evaluasi (berbicara dan menulis), pemeranan ulang (berbicara dan membaca), diskusi dan evaluasi tahap dua (berbicara dan menulis), serta mengambil pengalaman dan kesimpulan (menulis, membaca, berbicara, dan mendengarkan).
3.2.2 Variabel Terikat
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar yang diperoleh dari tes tertulis.

3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus yang dipergunakan adalah model Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2006: 98) dan Daryanto (2011: 182) terdapat tiga tahap rencana tindakan, meliputi: Perencanaan, Pelaksanaan tindakan dan pengam atan/observasi, dan Refleksi. Rincian prosedur tindakan dapat digambarkan pada bagan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian
Berdasarkan skema di atas penelitian akan dilaksanakan melalui Siklus I dan Siklus II, sebelum dilaksanakan penelitian menyusun suatu perencanaan mengenai apa yang akan dilaksanakan dan diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Setelah perencanaan akan dilaksanakan tindakan dengan suatu pengamatan mengenai jalannya tindakan dalam pembelajaran, setelah tindakan akan dilaksanakan ref leksi berdasarkan hasil pengamatan. Hasil refleksi untuk menemukan kelemahan dan kekurangan yang ditemukan pada tindakan Siklus I kemudian akan dilaksanakan dan diperbaiki pada Siklus II yang pelaksanaanya sama pada Siklus I. Contoh ptk bahasa inggris sma pdf 

SIKLUS I
1. Perencanaan
Perencanaan pada penel itian ti ndakan kelas ini meliputi:
1) Penulis merancang dan merencanakan pembelajaran Bahasa
Indonesia kelas X IPA 3 dengan cara meyusun RPP pokok bahasan
“Understanding a Song“.
2) Menentukan cerita anak yang akan di perankan dan di identifikasi.
3) Menentukan lamanya waktu dalam kegiatan pembelajaran.
4) Menetapkan teknik pembelajaran.
5) Kesimpulan dan evaluasi.
6) Pemantapan dan tindak lanjut.
2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
a) Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I terdiri dari 3 pertemuan, yaitu sebagai berikut:
1) Pertemuan I

Fase 1 menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik (membaca dan berbicara)
a. Membuka pelajaran meliputi apersepsi dan motivasi
b. Siswa diberi arahan oleh guru tentang cerita yang akan di perankan.
Fase 2 Memilih Partisipan (membaca dan berbicara)
c. Beberapa siswa maju ke depan kelas untuk membagi peran
dalam lagu.
Fase 3 Tahap-Tahap Peran (berbicara dan mendengarkan)
d. Siswa mempersiapkan untuk memperagakan/menyanyikan
lagu.
Fase 4 Pengamatan (mendegarkan dan menulis)
e. Siswa mempersiapkan mengamati dan menghayati jalannya lagu.
Fase 5 Pemeranan (berbicara dan membaca)
f. Siswa memerankan/menyanyikan sebuah lagu.
Fase 6 Diskusi dan Evaluasi (berbicara dan menulis)
g. Siswa mengidentifikasi unsur lagu yang ditemukan.
h. Siswa melakukan tanya jawab mengenai unsur lagu yang telah ditemukan.
i. Siswa berdiskusi dikelas mengenai jalan lagu yang yang telah dinyayikan dan diamati.
j. Siswa dan guru bersama-sama membahas mengenai hasil diskusi siswa.

Fase 7 Pemeranan Ulang (berbicara dan membaca)
k. Melakukan pemeranan ulang sesuai hasil yang didiskusikan.
Fase 8 Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua (berbicara dan menulis)
l. Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan sikap dalam  lagu yang perlu di contoh dan perlu ditinggalkan.
Fase 9 Mengambil Pengalaman dan Kesimpulan (menulis, membaca, berbicara, dan mendegarkan)
m. Siswa memahami lagu yang telah dinyayikan dan diamati dengan runtut serta memperhatikan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan. 
2) Pertemuan II
Fase 1 Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Peserta Didik (membaca dan berbicara)
a. Membuka pelajaran meliputi apersepsi dan motivasi
b. Siswa diberi arahan oleh guru tentang lagu yang akan di perankan.
Fase 2 Memilih Partisipan (membaca dan berbicara) Contoh ptk bahasa inggris lengkap pdf
c. Beberapa siswa maju ke depan kelas untuk membagi peran
dalam lagu

Fase 3 Tahap-Tahap Peran (berbicara dan mendengarkan)
Si swa mempersiapkan untuk memperagakan/menyanyikan lagu yang telah ditentukan.
Fase 4 Pengamatan (mendegarkan dan menulis)
d. Siswa mempersiapkan mengamati dan menghayati lagu.
Fase 5 Pemeranan (berbicara dan membaca)
e. Siswa menyanyikan lagu.
Fase 6 Diskusi dan Evaluasi (berbicara dan menulis)
f. Siswa mengidentifikasi unsur lagu yang ditemukan.
g. Siswa melakukan tanya jawab mengenai unsur lagu yang telah ditemukan.
h. Siswa berdiskusi dikelas mengenai jalan lagu yang yang telah diperagakan dan diamati.
i. Siswa dan guru bersama-sama membahas mengenai hasil diskusi siswa.
Fase 7 Pemeranan Ulang (berbicara dan membaca)
j. Melakukan pemeranan ulang sesuai hasil yang didiskusikan.
Fase 8 Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua (berbicara dan menulis)
k. Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan sikap dalam lagu yang perlu di contoh dan perlu ditinggalkan.
Fase 9 Mengambil Pengalaman dan Kesimpulan (menulis, membaca, berbicara, dan mendegarkan)
l. Siswa menceritakan kembali isi lagu yang telah diperagakan dan diamati dengan runtut serta memperhatikan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan.
3) Pertemuan III
Fase 1 Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Peserta Didik (membaca dan berbicara)
a. Membuka pelajaran meliputi apersepsi dan motivasi
b. Siswa diberi arahan oleh guru tenatang lagu yang akan di nyanyikan.
Fase 2 Memilih Partisipan (membaca dan berbicara)
c. Beberapa siswa maju ke depan kelas untuk membagi peran dalam lagu.
Fase 3 Tahap-Tahap Peran (berbicara dan mendegarkan)
Siswa mempersiapkan untuk memperagakan/menyanyikan lagu.
Fase 4 Pengamatan (mendegarkan dan menulis)
d. Siswa mempersiapkan mengamati dan mengahayati lagu 

Fase 5 Pemeranan (berbicara dan membaca)
e. Siswa menyanyikan lagu.
Fase 6 Diskusi dan Evaluasi (berbicara dan menulis)
f. Siswa mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, latar, tema, dan amanat) yang ditemukan.
g. Siswa melakukan tanya jawab mengenai unsur cerita yang telah ditemukan.
h. Siswa berdiskusi dikelas mengenai jalan cerita yang yang telah dilihat dan diamati.
i. Siswa dan guru bersama-sama membahas mengenai hasil diskusi siswa.
Fase 7 Pemeranan Ulang (berbicara dan membaca)
j. M elakukan pemeranan ulang sesuai hasil yang
didiskusikan.
Fase 8 Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua (berbicara dan menulis)
l. Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan sikap dalam
cerita yang perlu di contoh dan perlu ditinggalkan.

Fase 9 Mengambil Pengalaman dan Kesimpulan (menulis, membaca, berbicara, dan mendegarkan)
m. Siswa menceritakan kembali isi lagu yang telah dinyanyikan dan diamati dengan runtut dan memperhatikan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan.

4) Tindak lanjut
Tindak lanjut dari pelaksanaan pembelajaran, setelah mengidentifikasi unsur lagu berupa laporan dalam mengidentifikasi dan menceritakan kembali isi lagu.
5) Pemantapan
Siswa didorong untuk mengi nternal isasikan konsep, pengetahuan dan keterampilan yang baru saja diperoleh dalam kegiatan sehari-hari dan menyisipkan pesan moral dari lagu yang telah perankan dan diamati.
6) Evaluasi
Guru membagikan soal tes tertulis berupa tes pilihan ganda dan uraian untuk dikerjakan secara individu pada akhir pembelajaran, sebagai sarana pengukuran tingkat penguasaan materi dan tingkat keberhasilan belajar siswa.
b) Observasi
Dalam tahap ini dilakukan observasi atau pengamatan oleh guru tentang jalannya proses kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh dari kegiatan awal, inti dan akhir yang dilaksanakan pada pertemuan I, II, dan III yang dibantu oleh pengamat untuk melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran. ptk bahasa inggris sma doc

3. Refleksi
Pada tahap ini peneliti dan pengamat segera menganalisa pelaksanaan PTK setelah kegiatan belajar mengajar berakhir, sebagai bahan refleksi. Selanjutnya peneliti mengadakan ref leksi dalam pelaksanaan pembelajaran dan kekurangan serta hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran, dan bila melalui metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik hasil belajar siswa masih rendah atau masih kurang dalam mata pelajaran Bahasa Inggris tentang materi “Understanding a Song” di kelas X IPA 3 SMAN ... Tahun Pelajaran 2014/2015, yang dapat dilihat dari kriteria pencapaian indikator kinerjanya. Maka, sebagai tindakan dalam merefleksi dilakukan dalam bentuk tindakan pengulangan (remidi), pemantapan (pengayaan) terhadap proses belajar mengajar selanjutnya sampai pada hasil dan tujuan yang telah dirumuskan berhasil.

SIKLUS II
Pada siklus II pun kegiatan pembelajaran akan dilakukan seperti pada siklus I hanya saja waktu pelaksanaan akan disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia di SMA tempat dilakukannya penelitian sehingga terdapat kemungkinan pembelajaran dilakukan kurang dari tiga pertemuan. Siklus II merupakan penyempurnaan dari kelemahan dan kekurangan pada siklus sebelumnya.
3.4 Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas X IPA 3 SMAN ... setelah menggunakan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik adalah:
3.4.1 Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamat sebagai instrument. Format yang sesuai item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi (Arikunto, 2002: 4). Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana implementasi metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik pada proses pembelajaran.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas X IPA 3 SMAN ... setelah menggunakan metode bermai n peran berbasis kecerdasan li nguisti k:
a. Lembar Observasi
Lembar observasi yang di gunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini berupa lembar observasi pada praktik pembelajaran terhadap implementasi/ pelaksanaan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik pada setiap kegiatan pembelajaran. Untuk mendapatkan data observasi yang valid digunakan juga kisi (terlampir) sebagai triangulasi beserta kisi-kisi observasi pada tabel 3.1 dan lembar obeservasi (terlampir).
Tabel 3.1

Kisi-Kisi Observasi
Penerapan Metode Bermain Peran Berbasis Kecerdasan Linguistik
3.4.2 Tes
Tes hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima bahan ajar dan tingkat pemahaman dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
a. Data Pra siklus
Data pra sikus ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Dilihat dari data sekunder yang diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian siswa hanya r 60,60 pada mata pelajaran bahasa Inggris.

3.5 Indikator Kinerja
Dengan melihat latar belakang permasalahan dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka di pergunakan indikator sebagai berikut:
3.5.1 Indikator Proses
Indikator proses dalam penelitian ini merupakan indikator ketercapaian dalam proses pembelajaran terhadap implementasi/pelaksanaan metode berm ain peran berbasis kecerdasan linguistik yang digunakan. Penulis memberikan patokan 75% dari jumlah keseluruhan kegiatan dari kegiatan metode bermain peran berbasis kecerdasan linguistik diterapkan dalam pembelajaran. ptk bahasa inggris sma pdf
3.5.2 Indikator Hasil
Indikator hasil dari penelitian ini adalah ketecapaian KKM pada hasil belajar siswa. Peneliti menetapkan minimal 75% dari jumlah keseluruhan siswa mencapai kentuntasan belajar siswa dengan memperoleh nilai > 65 sesuai dengan KKM.

3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data berupa nilai tes yang dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka yang diperoleh dari tes tertulis dan deskriptif kualitatif yaitu berupa kata-kata atau penjelasan yang diperoleh dari lembar observasi. Kemudian hasilnya dianalisis dengan indikator kinerja, yaitu membandingkan nilai siklus I dan nilai si klus II. Kemudian membuat kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi data.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) BAHASA INGGRIS SMA

DAFTAR PUSTAKA


Amstrong, T. 2004. Sekolah Para Juara. Bandung: Kaifa. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas Dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Campbell, L., Campbell, B., dan Dickinson, D. 2002. Multiple Intelligences: Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan. Terjemahan Suryadi, dkk. Depok: Iniasi Press.
English, W. 2005. Mengajar Dengan Empati. Bandung: Nuansa.
Rahardjo. 2002. Hubungan Antara Kecerdasan Majemuk dengan Prestasi Belajar Belajar Siswa Kelas I SMU Khatolik Yos Sudarso, Batu, Malang. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Sudjana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sumantri, Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Maulana.
Suparno, P. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Cara Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Surapranata, S. 2004. Analisis Validitas Realibilitas dan Interprestasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Rosdakarya Offiset.
Trimansyah, B. 2004. Saya Ingin Mahir Berbahasa Indonesia Untuk SD Kelas V. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Utami, D.W. 2009. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Wibowo, M.E. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK BAHASA INGGRIS KELAS X KECERDASAN LINGUISTIK



Postingan terkait: