CONTOH TERBARU PTK PKN KELAS 8 DOC

CONTOH TERBARU PTK PKN KELAS 8 DOC-Aktivitas belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 ... khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada semester II masih rendah dalam proses pembelajaran. Hal itu ditunjukkan dari 36 siswa, 23 siswa (64,3 %) masih kurang keseriusan dalam memperhatikan penjelasan dari guru, keaktifan dalam menanggapi pertanyaan dari guru atau mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya sebanyak 13 siswa (35,7 %). Selain itu juga hasil belajar siswa belum semua siswa mencapai KKM ( ~ 7,00 ), dari 36 siswa kelas VIII A yang nilainya telah mencapai KKM ( ~ 7,00) hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 26 siswa (75 %) nilainya belum mencapai KKM. Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan PTK sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 (dua) siklus tindakan dan di setiap siklusnya terdiri empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 ... pada Semester II tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan observasi, dokumentasi dan angket. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Contoh ptk pkn doc 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pra siklus aktivitas belajar siswa hanya mencapai (35,7 %) saja dan hasil belajar siswa yang nilainya telah mencapai KKM (> 7,00) hanya sebesar 25 % (9 siswa). Pada siklus I setelah peneliti menerapkan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual sebagai media pembelajaran, aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 59,4% dan peningkatan tersebut berdampak positif terhadap hasil belajar siswa yang juga meningkat menjadi 46,4%. Pada siklus 2 prosentase aktivitas belajar siswa meningkat lagi menjadi 81,9% dan hasil belajarnya yang juga meningkat yaitu menjadi 89,3 % .

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas PKN yang diberi judul "UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE CERAMAH BERVARIASI DAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS VIII A SEMESTER II TAHUN AJARAN 2016 / 2017 DI SMP NEGERI 1 ..."Disini akan  di bahas lengkap.




PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PKN VIII SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 042)

DOWNLOAD LENGKAP PTK PKN SMP KELAS VIII 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Peningkatan sumber daya manusia merupakan salah satu sasaran pembangunan jangka panjang yang mengiringi laju pertumbuhan ekonomi. Salah satu pilar dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia adalah bidang pendidikan. Pendidikan sebagai pembentukan generasi muda yang tangguh, dapat dilaksanakan dalam keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.

Melalui pelajaran PKn yang diberikan secara formal kepada generasi muda Indonesia atau peserta didik maka akan terbentuk manusia yang berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana pembinaan perilaku pada peserta didik juga dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga Negara dengan negara sehingga menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas VIII A di SMP Negeri 1 ..., pada waktu guru PKn mengajar dengan materi “Peraturan Hukum dan Perundang-Undangan Nasional, dan Kompetensi Dasar : mendiskripsikan proses pembuatan perundang-undangan nasional”, pada indikator : Menjelaskan makna peraturan perundang-undangan dan menyebutkan lembaga pembuat peraturan perundang-undangan nasional, ditemukan atau nampak bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih kurang. Hal itu ditunjukkan dari 36 siswa, 23 siswa (64,3 %) masih kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mata pelajaran tersebut. Saat guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, ternyata ada siswa yang melakukan aktivitas sendiri seperti berbicara sendiri dengan teman sebelahnya, bermain HP, bermain penggaris, dan masih banyak lagi. Download ptk pkn smp kelas 8 pdf Hal itu disebabkan karena guru PKn dalam mengajar hanya menggunakan metode ceramah tanpa didukung dengan menggunakan media pembelajaran. Tingkat keaktifan siswa yang rendah tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh hasil tes pada akhir pembelajaran yaitu dari 36 siswa kelas VIII A, yang nilainya telah mencapai KKM (> 7,00) hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 27 siswa (75 %) nilainya belum mencapai KKM.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dilakukan PTK sebagai Upaya untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Ceramah Bervariasi dan Penggunaan Media Audiovisual dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Materi “Peraturan Perundang-Undangan Nasional, dengan Kompetensi Dasar : Mendiskripsikan Proses Pembuatan Perundang-Undangan Nasional”, pada Siswa Kelas VIII A Semester II Tahun Ajaran 2016/2017 Di SMP Negeri 1 ... 

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tesebut dapat diidentifikasikan masalahnya sebagai berikut :
1. Keaktifan siswa dalam mengikuti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih kurang. Dari 36 siswa, 23 siswa (64,3 %) masih kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran mata pelajaran tersebut.
2. Hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 ...  dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada akhir pembelajaran belum semua siswa mencapai KKM (> 7,00). Dari 36 siswa kelas VIII A, yang nilainya telah mencapai KKM hanya 9 siswa (25 %) dan sisanya sebesar 27 siswa (75 %) nilainya belum mencapai KKM.
3. Dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan metode ceramah bervariasi dan media pembelajaran, dalam hal ini yaitu media audiovisual.

1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan :
Apakah penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Materi Peraturan Perundang-Undangan Nasional, dengan Kompetensi Dasar : mendiskripsikan proses pembuatan perundang-undangan nasional, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII A semester II tahun ajaran 2016/2017 di SMP Negeri 1 ... ?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan peningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VIII A semester II tahun ajaran 2016/2017 di SMP Negeri 1 ... .

1.5. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat :
1. Manfaat Akademis
Manfaat akademis hasil penelitian ini adalah untuk mengembangkan penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi peneliti untuk memberi pengetahuan (wawasan) dan meningkatkan ketrampilan yang dimilikinya untuk menggunakan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran.
b) Bagi Program Studi PPKn untuk memberi masukan bagi pengembangan materi perkuliahan pada mata kuliah ”Belajar dan Pembelajaran”, mata kuliah ”Metode Pembelajaran PKn”, serta mata kuliah ”Teknologi dan Media Pembelajaran PKn”.
c) Bagi pihak sekolah untuk memberi masukan kepada guru – guru secara umum dan guru-guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan secara khusus dalam kegiatan pembelajaran mengenai manfaat metode ceramah bervariasi penggunaan media audiovisual.

1.6 Penegasan Istilah
Agar diperoleh kesepahaman terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan definisi operasional sebagai berikut:
1. Keaktifan siswa adalah kegiatan yang dilakukan siswa secara bertanggungjawab untuk mendapat pengetahuan PKn melalui proses belajar yang nantinya akan berpengaruh positif terhadap hasil belajarnya.
2) Hasil Belajar : keberhasilan yang dicapai oleh siswa untuk mendapatkan suatu peningkatan kepandaian yang diwujudkan dalam bentuk nilai yang diperoleh melalui tes.
3) Metode ceramah bervariasi : metode pembelajaran dimana dalam penggunaannya tidak berdiri sendiri melainkan divariasikan dengan metode pembelajaran yang lain atau komponen yang lain dalam pembelajaran.
4) Media Audiovisual : segala macam sarana yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran guna menopang pencapaian hasil belajar para siswa. media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar
5) Pendidikan Kewarganegaraan : usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warganegara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenegaraannya secara bertanggungjawab. ptk pkn smp pdf 

1.7 Sistematika Penulisan
Secara garis besar, PTK ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal PTK ini berisi halaman judul, abstrak, surat peryataan, halaman pengesahan, halaman persembahan, kata pengatar, daftar isi, daftar tabel, daftar diagram, dan daftar lampiran.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK PKN SMP TERBARU

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1. Pendekatan Pembelajaran Aktif 2.1.1. Pengertian pembelajaran aktif
Dalam buku “Strategi Pembelajaran Aktif” (Zaini dkk, 2004 : xvi), pembelajaran aktif adalah suatu pembelaj ran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru saja mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya siswa akan merasakan suasana yan lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

1) Melakukan (Doing)
Kegiatan ini menunjukkan pada proses pembelajaran dimana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan melakukan dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung.
2) Mengamati (Observing)
Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)”, terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Guru olahraga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya. ptk pkn smp pdf 

Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat music gitar dan sebagainya. Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain, terkait dengan topik yang sedang dipelajari, misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.
3) Dialog dengan Diri Sendiri (Dialogue with Self)
Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berpikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang dan harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)” dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

4) Dialog dengan Orang Lain (Dialogue with Others)
Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan mendengarkan dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue”.

2.1.2. Karakteristik Pembelajaran Aktif
Dalam Saptono dkk (2010 : 141) dibahas karakteristik pembelajaran aktif didalam ruang kelas yang meliputi :
1) Child Centered Activities (CCA)
Fokus pendidikan seharusnya pada minat anak, apa yang anak ketahui, apa yang anak inginkan untuk menemukan dan mempelajari, dan bagaimana anak didorong untuk mendapatkan jawaban. Dinyatakan CCA ketika : (1) Anak adalah fokus aktivitas pembelajaran. (2) Anak-anak secara aktif dilibatkan didalam pembelajaran mereka. (3) Anak-anak dan bukan guru yang sedang banyak melakukan pembicaraan di dalam ruang kelas.
2) Language Development Though Activities
Ketika anak-anak mengambil bagian di dalam aktivitas-aktivitas yang menarik, sosial, mempunyai makna, mempunyai suatu tujuan, yang membangkitkan gairah mereka dan mereka dapat menikmatinya. Disini guru-guru butuh menolong anak-anak bertambah di ih sulit, dan mendapatkan lebih banyak bagaimana mendapatkan lebih banyak bagaimana menggunakan bahasa. Siswa-siswa akan belajar bahasa dari berpikir, berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Setiap aktivitas dan pengalaman adalah kesempatan untuk mengembangkan keterampilan bahasa dan berpikir, ketika mempelajari suatu pengetahuan baru.

3) Encouragement
Dorongan menolong siswa-siswa untuk keyakinan dan memiliki perasaan yang baik akan diri mereka sendiri. Ini juga akan menolong murid untuk mencoba suatu aktivitas baru. Anak-anak perlu untuk tahu bahwa mereka diterima dan dikasihi oleh guru-guru mereka. Guru-guru perlu mendorong siswa-siswa untuk belajar dari kesalahan.
4) Children have opportunities to work in groups
Ketika siswa-siswa bekerja di dalam pasangan dan kelompok kecil mereka terlibat di dalam mengkomunikasikan ide-ide / gagasan-gagasan, di dalam kerjasama untuk mencapai tujuan. Siswa-siswa dapat dikelompokkan dalam suatu jumlah dengan cara yang berbeda, dan yang juga penting adalah adanya fleksibelilitas di dalam ukuran kelompok, anggota dan peranannya.

5) Demonstrations
Pengajaran langsung adalah praktek yang terkenal, yang mana guru-guru dapat memusatkan kelas atau kelompok melalui ceramah, membaca, dan memimpin daripada mendemostrasikan suatu keterampilan atau tekhnik¬tekhnik baru. Download ptk pkn smp kelas 8 pdf  Guru dapat menuntun pikiran siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan contoh-contoh. Di dalam suatu pembacaan kelas, sebagai contoh, guru dapat membacakan suatu teks baru, kemudian memulai diskusi dengan petanyaan-pertanyaan terbuka yang mendorong siswa-siswa untuk berpikir tentang tesk tersebut.
6) Independent Learning
Siswa- siswa lebih dapat mengerjakan dan belajar dengan tidak bergantung kepada guru. Ini berarti bahwa mereka dimotivasi untuk belajar, dapat focus kepada tugas-tugas yang spesifik, dan memiliki keterampilan. Ini dapat berarti siswa-siswa dapat memecahkan persoalan matematika atau konsentrasi pada contoh-contoh soal matematika. Dapat juga berarti siswa-siswa melakukan penelitian atau eksperimen atau menulis suatu laporan mengatasi suatu topik pengetahuan. Semua dari cirri-ciri ini pada akhirnya menuju pada satu cirri utama yaitu : Most Children Learn Best When They Learn Through Action.

2.2 Metode Ceramah
2.2.1. Pengertian Metode Ceramah
Menurut Djamarah dkk (2006 : 97) metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada siswa, tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya ceramah murni cenderung pada bentuk komunikasi satu arah.

Apabila guru menyampaikan informasi kepada siswa maka, guru berfungsi sebagai transmitter dan siswa sebagai receiver. Bahasa, baik verbal dan nonverbal merupakan satu-satunya media komunikasi. Bahan yang disampaikan dengan bahasa sebagai alatnya disebut message (pesan). Komunikasi dikatakan baik jika pesan diterima 100% oleh receiver. Sebaliknya, komunikasi dikatakan jelek jika pesan yang ada pada transmitter tidak diterima sesuai dengan aslinya oleh receiver. Hal itu bisa dikatakan terjadi communication gap (kesenjangan komunikasi) jika pesan itu tidak diterima sama sekali oleh receiver, dan miscommunication (kesalahan komunikasi) jika pesan itu diterima tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh transmitter

2.2.2. Metode Ceramah Bervariasi
Metode ceramah pada dirinya belum termasuk kedalam pembelajaran aktif. Karena metode ceramah cenderung lebih bannyak menuntut keaktifan guru daripada siswa, sehingga siswa menjadi pasif. Upaya untuk mengaktifkan siswa dengan metode ceramah, selain memenfaatkan kelebihan dari metode ceramah itu, juga diupayakan mengatasi kelemahan-kelemahannya. Strategi ini disebut ceramah bervariasi (W. Gulo, 2004 : 142). Selain itu Djamarah dkk (2006 : 98) menyebutkan bahwa metode ceramah termasuk dalam pembelajaran aktif apabila divariasikan dengan metode-metode pembelajaran yang lain sehingga disebut metode ceramah bervariasi.

Metode eksperimen adalah metode yang siswanya mencoba mempraktikkan suatu proses tersebut, setelah melihat atau mengamati apa yang telah didemonstrasikan oleh seorang demonstrator. Eksperimen juga dapat dilakukan untuk membuktikan kebenaran sesuatu, misalnya menguji sebuah hipotesis. Dalam pelaksanaannya, metode demontrasi dan eksperimen dapat digabungkan, artinya setelah dilakukan demonstrasi kemudian diikuti oleh eksperimen dengan disertai penjelasan secara lisan (ceramah).
Ceramah, Demonstrasi, dan Latihan Metode latihan umumnya dilakukan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Karena itu metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang akan dilakukannya.

Sedangkan demonstrasi yang dimaksudkan untuk memperagakan atau mempertunjukkan suatu kesimpulan yang akan dipelajari siswa. Misalnya belajar tari jaipong. Siswa sebelum berlatih tari jaipong siswa diberikan penjelasan dulu seluruh gerakan tangan, gerakan badan, dan sebagainya melalui ceramah. Lalu guru mendemostrasikan tari jaipong dan siswa memperhatikan demonstrasi tersebut. Setelah itu baru siswa mulai latihan tari jaipong seperti yang dilakukan
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam prakteknya atau kenyataannya, metode mengajar tidak digunakan sendiri sendiri, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Hal itu dilakukan agar siswa tidak merasa bosan atau jenuh dalam mengikuti proses belajar.

2.3. Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran, guru selain menggunakan metode pembelajaran juga dituntut untuk menggunakan media pembelajaran agar siswa merasa senang dan tertarik terhadap mata pelajaran yang sedang diajarkan. Selain itu juga agar materi-materi yang dirasa sulit dipahami oleh siswa, dengan bantuan media pembelajaran tersebut dapat membantu mengkonkretkan hal-hal yang dirasa sulit oleh siswa, jadi lebih mudah untuk dipahami. Contoh ptk pkn doc 

2.3.1. Pengertian Media Pembelajaran
Dalam Sadiman dkk (2008 : 6) kata media berasal dari bahasa Latin media yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam dunia pendidikan biasanya disebut media pendidikan atau media pengajaran.

Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk merangsang perhatian, minat, dan pikiran siswa sehingga dapat mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, siswa lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.

2.3.2. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Sadiman dkk (2008 : 17) media mempunyai beberapa fungsi dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut :
Jika obyek terlalu besar maka bias digantikan dengan gambar, film bingkai, film atau model yang lebih kecil.
Jika obyek kecil, maka dapat diperbesar dengan bantuan proyektor, film bingkai atau gambar.

keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain itu media juga dapat berguna untuk membangkitkan gairah belajar, memungkinkan siswa untuk belajar mandiri sesuai dengan minat dan kemampuannya. Media dapat meningkatkan pengetahuan, serta memberikan fleksibilitas dalam penyampaian pesan. Selain itu juga berfungsi sebagai alat komunikasi, sebagai sarana pemecahan masalah sebagai sarana pengembangan diri.
Jadi dapat dirumuskan bahwa fungsi media dalam pembelajaran adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan pesan (materi pembelajaran) yang lebih kongkret pada siswa, sehingga lebih mudah dipahami.

2.3.3. Klasifikasi Media Pembelajaran
Dalam Djamarah (2006 : 124) media pembelajaran dapat diklasifikasikan tiga yaitu dilihat dari jenisnya, dilihat dari daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya.
a) Dilihat dari Jenisnya, Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media Auditif
 Media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, kaset recorder, dll.
 Media Visual
 Media yang hanya mengandalkan indra penglihatan, seperti slides, gambar,film, dll.
 Media Audiovisual
Media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. 

b) Dilihat dari Daya Liputnya , Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak
 Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama. Contoh : Radio dan Televisi
 Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Waktu
 Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus.
Contoh : Film, Sound Slide.
 Media Untuk Pengajaran Individual
 Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri, termasuk media
ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

c) Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media dapat Dibagai ke Dalam:
 Media Sederhana
 Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
 Media Kompleks
 Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.

2.3.4. Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaaan Media
Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat, disamping memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran
(Djamarah, 2006 : 128) yaitu :
a) Objektivitas
b) Program Pengajaran
c) Sasaran Program
d) Situasi dan Kondisi
e) Kualitas Teknik
f) Keefektifan dan Kefisiensi Penggunaan

2) Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Menurut Nana Sudjana dan Ahmat Rivai dalam Djamarah (2006 : 132), dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran
b) Dukungan terhadap isi bahan pengajaran
c) Kemudahan memperoleh media.
d) Ketrampilan guru dalam menggunakannya.
e) Tersedia waktu untuk menggunakannya.
f) Sesuai dengan taraf berpikir siswa.

Dengan kreteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga dapat mempersulit guru, tapi sebaliknya, yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran.
2.3.5. Media Audiovisual
Menurut Hujair (2009 : 105), media audiovisual adalah seperangkat alat yang memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara. Paduan antara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya.
Sedangkan menurut Djamarah (2006 : 124), mengartikan media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke dalam :
- Audiovisual Diam  media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides).
- Audiovisual Gerak  media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara, video.

Pembagian lain dari media ini adalah :
- Audiovisual Murni  baik unsur suara maupun unsure gambar berasal dari satu sumber film Video cassette.
- Audiovisual tidak Murni  yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda.

Pada umumnya jika digunakan untuk keperluan instruksional, slide dapat dibuat secara berseri dan berurutan serta dikombinasikan dengan audio kaset. ptk pkn smp pdf Slide yang dikombinasikan dengan audio kaset disebut dengan sound slide yaitu penyajian bahan pelajaran yang dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan slide secara berurutan yang dikombinasikan atau dilengkapi dengan audio kaset.
Jadi dapat disimpulkan bahwa media audiovisual adalah suatu alat yang digunakan dalam pembelajaran yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.

2.3.6. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik agar dapat menjadi warganegara yang baik, yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajiban kenegaraannya secara bertanggungjawab. Untuk maksud tersebut pendidikan kewarganegaraan minimal harus mencakup :
1) Penanaman ide-ide dan prinsip-prinsip etik dan moral, yang memberi arah, makna, dan tujuan bagi seluruh bangsa.
2) Penanaman dan pengembangan pengetahuan yang diperlukan untuk berpikir dan bertindak cerdas dalam menghadapi isu-isu kenegaraan mutakhir.
3) Pengembangan keterampilan, dan teknik-teknik yang diperlukan warganegara dalam menunaikan tanggungjawab kenegaraannya.

Dalam Negara demokrasi pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan generasi muda agar mereka mampu dan bersemangat untuk menjalankan, meningkatkan, dan memperluas kehidupan demokratis. Mereka harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang demokrasi, keyakinan-keyakinan, dan kesetiaan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi, keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan untuk menerapkan teknik-
teknik yang diperlukan dalam mewujudkan partisipasi dalam kehidupan demokratis secara cerdas, efektif, dan menyenangkan.

Materi pokok dan proses kognitif dasar adalah faktor yang saling terkait dalam proses belajar mengajar. Keduanya harus diajarkan secara bersama-sama. Untuk memenuhi misi pendidikan kewarganegaraan yaitu mengembangkan kemampuan individu untuk membangun, memelihara dan meningkatkan pemerintahan dan kewarganegaraan demokratis di negaranya sendiri maupun diseluruh dunia.

2.4. Hasil Belajar
2.4.1. Pengertian Hasil Belajar
Istilah hasil belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu hasil dan belajar. Menurut pengertian secara psikologi dalam Bayu .D (2010 : 14) belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahana tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek kehidupan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagi hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

2.4.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Menurut Slameto dalam Bayu D. (2010 : 16), hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang mempengaruhi prestasi hasil belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor-faktor intern itu aantara lain :
1) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya kurang baik, sehingga belajarnya juga akan lebih baik.
2) Kecerdasan / Intelegensia
Kecerdasan / intelegensia adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi. Intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebayanya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainya, sehingga seorang anak pada usia tertentu sudah mamiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya.

3) Cara Belajar
Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan factor fisiologis, psiologis dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Download ptk pkn smp kelas 8 pdf 

4) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating. Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar diluar bakatnya.
5) Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang/ hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Serang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat dalam belajar.
6) Motivasi
Motivasi sebagai factor intern berfungsi menimbulkan, mandasari, mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan memiliki prestasi yang baik, begitu pula sebaliknya.

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya dari luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan pada individu. Faktor-faktor ekstern itu antara lain :
1) Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka anak dituntut harus lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi belajar anak.
2) Status ekonomi sosial orang tua
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar harus terpenihi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu. Akibatnya, belajar anak juga tergangu.

3) Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan di sekolah
Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di rumah diperlukan tempat belajar dan bermain, agar anak dapat berkreasi sesuai apa yang diinginkan. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik.
4) Media yang dipakai guru
Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk tiap sekolah.
5) Kompetensi guru
Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya terhadap siswa dengan metode atau program tertentu. Metode atau program disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program yang dirancang.

Dari uraian yang telah dijabarkan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa berasal dari dua hal yaitu faktor yangberasal dari dalam diri siswa (faktor intern) dan faktor yang berasal dari luar siswa (faktor ekstern).
2.4.3. Bentuk dan Tipe Hasil Belajar
Dalam proses pembelajarn, tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting untuk diketahui oleh guru, agar guru pada tahap selanjutnya dapat mendesain pembelajaran secara tepat dan penuh makna. Setiap proses pembelajaran hendaknya tingkat keberhasilannya dapat diukur, disamping dapat diukur dari segi prose snya. Tipe hasil belajar yang dimaksud perlu nampak dalam prumusan tujuan pembelajaran (instruksional), sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses pembelajaran. 

Proses pendidikan mempunyai tujuan yang ingin dicapai, yang dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan sikap dan nilai), serta bidang psikomotorik (kemampuan / keterampilan untuk bertindak berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki. ptk pkn smp pdf Sebagai tujuan yang akan dicapai melalui proses pembelajaran, ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. 

2.5. Kerangka Berfikir
Berdasarkan pemaknaan-pemaknaan tentang Penerapan Metode Ceramah Bervariasi dan Penggunaan Media Audiovisual dalam Pembelajarn Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Upaya dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII A, maka disini akan mencoba membangun kerangka berpikir teoritis sebagai berikut :
Gambar 2.5
Pembelajaran PKn adalah pembelajaran yang menumbuhkembangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat menjadi warga negara yang baik yaitu warga negara yang memahami, menyadari dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajibannya secara bertanggung jawab, dimana materi-materinya lebih pada pendidikan budi pekerti, pengamalan nilai-nilai dan moral.

Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam mengajar seharusnya tidaklah bertumpu pada aspek pengetahuan saja, akan tetapi harus dapat merangkai ketiga aspek tersebut yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Selain itu juga harus memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Metode yang tepat agar siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran adalah salah satunya dengan metode ceramah bervariasi, dan karena dalam pembelajaran PKn itu materi-materinya lebih pada pendidikan budi pekerti, pengamalan nilai-nilai dan moral, maka guru dalam mengajar perlu adanya media yang tepat untuk menjelaskan materi tersebut yaitu melalui media audiovisual. Karena dengan media audiovisual tersebut dapat mengkonkretkan pemahaman para peserta didik terhadap materi-materi yang sulit dimengerti seperti materi Pendidikan Kewarganegaraan.

2.6. Hipotesis
Penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 ... pada semester II tahun ajaran 2016/2017 dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS PKN SMP DENGAN METODE CERAMAH

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Jenis Penelitian
Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Sudikin dalam Susiloningsih (2010) tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan Taggart dengan menggunakan system spiral, yang setiap sklusnya terdiri dari empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).

3.2. Setting dan Subyek Penelitian
1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 .... Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang dilaksanakan pada awal Semester II tahun ajaran 2016/2017.
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 ... pada Semester II tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 36 orang.
3.3. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Observasi
 Observasi digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Contoh ptk pkn doc Menggunakan Observasi terfokus dimana sasaran atau maksud dari observasi tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh observer.
2) Dokumentasi
 Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa yang merupakan pencerminan pencapaian tujuan pembelajaran melalui tes.
3) Angket
 Angket digunakan untuk mengetahui pendapat atau tanggapan dari siswa terhadap penggunaan metode dan media tersebut.

2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengukur peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan metode ceramah bervariasi dan penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu
Instrumen 1 (lembar observasi pada siklus I dan siklus II)
Instrumen 2 ( berupa butiran soal tes)
Instrumen 3 ( pedoman angket)

3.4. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan terhadap seluruh kegiatan yang telah dilakukan dan menarik kesimpulan dari semua data yang terkumpul dalam penelitian ini. Setelah data diperoleh selanjutnya menganalisis data tersebut. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif . Data kuantitatif berupa hasil tes tertulis yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu tes awal pada pra siklus, pada akhir siklus I, dan pada akhir siklus II. Presentase rata 
rata kemampuan / hasil tes siswa dapat ditentukan dengan rumus sebagi berikut :

Keterangan :
~ N     : jumlah nilai satu kelas
S : banyaknya siswa satu kelas
Hasil perhitungan persentase kemampuan siswa dari ketiga tes tersebut (pra sisklus, siklus I, dan siklus II) kemudian dibandingkan.
Sedangkan data yang diperoleh melalui non tes yaitu observasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dan hasil dari pengisian angket dari siswa tentang tanggapan penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran dianalisis secara deskriptif kualittif. Dari pengambilan data non tes diperoleh gambaran tentang situasi dan kondisi siswa, keantusiasan, aktivitas, dan kegembiraan selama mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, juga hambatan-hambatan yang dihadapi saat mengikuti pembelajaran tersebut.

3.5. Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini, diharapkan pada akhir siklus 2 terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah guru menerapkan penggunaan metode ceramah bervariasi dan media audiovisual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Untuk hasil belajar diberikan patokan 80 % dari jumlah keseluruhan siswa yang mendapat nilah lebih tinggi atau sama dengan nilai yang telah distandarkan oleh sekolah yaitu 7,00.
Selain itu juga terjadi peningkatan keaktifan siswa pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, untuk keaktifan siswa diberikan patokan 80 % atau sekitar minimal 14-215 siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. ptk pkn smp pdf
3.6. Prosedur Pelaksanaan
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan Taggart dengan menggunakan system spiral, yang setiap sklusnya terdiri dari empat langkah yaitu planning (perencanaan), action (tindakan perbaikan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
Adapun tahapan-tahapan siklus yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
Gambar 3.6

a. Siklus I
1) Perencanaan
a) Peneliti berdiskusi dengan guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran SMP Negeri 1 ... yaitu Sayuti,S.Pd menentukan materi yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang merupakan materi kelanjutan dari pra siklus. Setelah berdiskusi maka ditemukan materi yang tepat dengan judul penelitian ini yaitu “Peraturan Hukum dan Perundang-undangan Nasional” , dengan standar kompetensi dan kompetensi dasarnya adalah sebagai berikut:
 Standar Kompetensi : kemampuan mendiskripsikan dan mentaati
perundang-undangan nasional.
Kompetensi Dasar : mendiskripsikan proses pembuatan peraturan perundang-undangan nasional.

b) Peneliti berdiskusi dengan guru pengampu mata pelajaran PKn untuk merencanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tersebut didalamnya berisi mengenai metode dan media apa yang akan dipakai atau digunakan dalam penelitian ini. Rencana metode pembelajaran yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode ceramah bervariasi, artinya dalam pengunaan metode ceramah akan dipadukan dengan
metode pembelajaran yang lain yaitu metode tanya jawab dan metode pemberian tugas. Sedangkan media yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemaparan materi dengan menggunakan media audiovisual (LCD), disini materi akan disajikan dalam bentuk power point yang didalamnya ada tayangan gambar dan suaranya.
c) Peneliti mempersiapkan materi yang akan dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu materi tentang “Peraturan Perundang-undangan Nasional”.
d) Peneliti mempersiapkan lembar observasi. (terlampir)

2) Pelaksanaan dan Observasi
Guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII A mengajar sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dipersiapkan, dan kemudian peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan aktivitas belajar siswa tersebut.
3) Refleksi
Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan evaluasi, kemudian peneliti bersama guru pengajar mata pelajaran PKn Kelas VIII A melakukan refleksi terhadap proses kegiatan pembelajaran tadi. Refleksi dilakukan atas dasar hasil pengamatan dikelas dan hasil evaluasi atau tes.

Setelah tahap refleksi pada siklus I selesai, maka akan diperoleh hasil penelitian yang diharapkan. Apabila teryata hasil penelitian itu belum mencapai target aktivitas belajar siswa dan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan maka akan dilanjutkan dengan siklus II.
b. Siklus II
Untuk tahap-tahapan yang dilakukan pada siklus II ini sama dengan tahap-tahapan yang dilakukan pada siklus I dengan berpedoman pada hasil refleksi pada siklus I.

CONTOH LENGKAP PTK PKN SMP WORD

DAFTAR PUSTAKA


Angkowo , R. Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran
Mempengaruhi Motivasi, Hasil Belajar Dan Kepribadian. Jakarta : Grasindo.
Baharudin ,A . Wahyuni, N. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogyakarta : Ar Ruzz Media.
Dimyati. Mudjiono . 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Djamarah, dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan . Surabaya : Usana
Offset Printing.
Furchan, A. 2007. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gula, W. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Grasindo.
Hujair , A. H. 2009. Media Pembelajaran. Jogyakarta : Safiria Insania Press.
Kasbolah, K. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Universitas Negeri Malang.
Kusnandar. 2009. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Bumi Aksara.
Kusumadewi, LF. 2011. Peningkatan Hasil Belajar Seni Tari dengan Media AudioVisual dan Melalui Metode Ceramah Bervariasi. Semarang : UNS.
Miarso, Y. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Mulyanto, B. 2010. Upaya Peningkatan Prestasi Belajar IPS dengan Menggunakan Media Peta Pada Siswa Kelas V di SDN Bonomerto 2 Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang Semester II Tahun 2009/2010. Salatiga : UKSW.
Mulyasa .2009. Praktik Penelitian Tinadakan Kelas. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, M. 2009. Melaksanakan PTK itu Mudah ( Classroom Action Research). Jakarta : Bumi Aksara.
Nana, S. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rasdakarya.
Pramuduaningrum, V. I. 2007. Peningkatan Minat Belajar dan Pemahaman Materi Norma – Norma dalam Masyarakat Melalui Teknik Pembuatan dan Permaianan Kartu Norma pada Siswa Kelas VII SMP Stella Matutina Salatiga Tahun Pembelajaran 2007 – 2008. Salatiga : SMP Stella Matutina.
Sadiman, dkk . 2008. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Saptono, dkk. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Adaptif, Kooperatif, Aktif, dan Reflektif (Model Pakar). Salatiga : UKSW.
Silberman, M. 2010. Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Yappendis.
Slameto, dkk. 2011. Scholaria Jurnal Ilmiah Pendidikan Ke- SD- an. Salatiga : Widya Sari Press.
Susiloningsih, H. 2010. Penggunaan Media Peta dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Kutowinangun 09 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2009-2010. Salatiga : UKSW.
Warningsih , S. dkk. 2011. Inovasi pendidikan denagan pemanfaatan media audiovisual dalam pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V di SD Negeri 02 Tuntang Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Salatiga : UKSW.
Yuswanti, L. 2007. Media Audiovisual Meningkatkan Minat Belajar IPA Kelas VI SD Pewyatan Daha Kediri, PTK. Dinas Pendidikan Kota Kediri.
Zaini, dkk. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CTSD.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH TERBARU PTK PKN KELAS 8 DOC

Postingan terkait: