CONTOH TERBARU PTK IPS GEOGRAFI SMP WORD

CONTOH TERBARU PTK IPS GEOGRAFI SMP WORD-Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan metode pembelajaran kooperatif model teams games tournament dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia kelas IX di SMPN ... . Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Objek penelitian adalah kelas IX SMPN ...  dengan jumlah siswa 22 yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 10siswa perempuan. Penelitian dilakukan di kelas IX pada Bulan November tahun 2015 pada semester I tahun ajaran 2015/2016. Lingkup materi adalah Perkembangan negara di dunia dan pemanfaatannya di Indonesia. Teknik pengumpulan data dengan metode observasi, metode angket dan metode tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Model analisis interaktif meliputi 3 alur kegiatan, yaitu : reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Download ptk ips smp doc

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Metode Teams Games Tournament mendapat respon yang baik oleh siswa  sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, itu terlihat dari hasil tes pada siklus pertama maupun siklus kedua. Pada siklus pertama diperoleh hasil sebagai berikut : Nilai tes pada siklus pertama, dari jumlah siswa kelas IX sebanyak 22 siswa, yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 15 anak (67,5 %), sedangkan yang mendapat nilai 6,5 ke atas berjumlah 7 anak (32,5 %),. Dari 22 siswa tersebut diperoleh rata – rata 5,75, kemudian untuk siklus kedua yang juga diikuti 22 siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 ada 1 anak (5 %) dan yang mendapat 6,5 ke atas ada 21 siswa (95 %). Dengan metode teams games tournament dapat diperoleh ketuntasan belajar baik individu maupun klasikal. Dimana batasan ketuntasan secara klasikal adalah 85 % dari jumlah siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini lebih tinggi dari standar yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini terjadi peningkatan pada prosentase ketuntasan belajar. Siklus pertama mencapai prosentase klasikal 32,5 % dan pada siklus kedua diperoleh prosentase ketuntasan klasikal 95 %. Dari hasil tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode teams games tournament mampu meningkatkan prestasi siswa. Hal ini dapat dilihat presentase yang dicapai yaitu meningkat 62,5 %.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas GEOGRAFI yang diberi judul "PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT  SEBAGAI SUATU ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN IPS PADA POKOK BAHASAN PERKEMBANGAN NEGARA DI DUNIA KELAS IX DI SMPN ... KABUPATEN ... TAHUN AJARAN 2015/2016"Disini akan  di bahas lengkap.




PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK GEOGRAFI IX SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 041)


DOWNLOAD PTK IPS GEOGRAFI SMP METODE TGT

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Didalam perkembangannya, dunia pendidikan harus sangat diperhatikan mutunya. Pendidikan merupakan faktor yang sangat vital dalam menentukan sumber daya manusia suatu negara. Persoalan pendidikan di Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada permasalahan yang cukup kompleks diantaranya  menyangkut pemerataan pendidikan, manajemen pendidikan dan mutu pendidikan.
Persoalan manajemen menyangkut segala unsur macam peraturan pendidikan seperti otonomi pendidikan dan debirokratisasi agar kualitas dan pemerataan dapat terselesaikan dengan baik. Termasuk persoalan pemerataan pendidikan adalah masih banyaknya anak umur sekolah yang tidak dapat menikmati pendidikan formal di sekolah. Menurut J. Drost, S.J., 2005 : xv – xvi bahwa ”yang mempengaruhi mutu pendidikan antara lain, kurikulum, proses pembelajaran, mutu guru, sarana dan prasarana”.

Dalam pembaharuan ini juga meliputi metode mengajar. Metode mengajar atau teknik penyajian ini merupakan teknik yang harus dikuasai guru untuk menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. Dalam memilih metode mengajar harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran, materi pengajaran dan bentuk pengajaran ( individu / kelompok). Contoh ptk ips smp kelas 8 doc Metode mengajar ada berbagai macam misalnya ceramah, diskusi, demonstrasi, kooperatif ( kelompok), dan masih banyak lagi.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan model  Teams Games Tournament (TGT). Pendekatan pembelajaran model TGT ini memiliki kesamaan dalam pembentukan kelompok dan pembagian materi pada STAD, namun kuis- kuis diganti dengan tournament- tournament, seperti bekerja dalam kelompok. Dalam pembelajaran pada pendekatan TGT ini semua kelompok memiliki peluang yang sama untuk sukses (mendapatkan nilai yang tinggi). Pada penggunaan model pembelajaran TGT ini menggunakan bentuk teka- teki silang. Upaya itu dapat dilakukan dengan memberi variasi cara mengajar dalam kegiatan belajar mengajar hal ini agar  tidak menimbulkan kebosanan siswa pada  metode pembelajaran yang sudah biasa digunakan, dan membantu siswa agar berlatih berpikir kritis dan analisis dalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Penelitian dilakukan di SMPN ...  yang merupakan salah satu sekolah negeri yang mempunyai input / masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi sehingga peran serta siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar juga beraneka ragam. Dari beberapa kelas yang diobservasi, peneliti memilih satu kelas yaitu kelas IX. Alasan peneliti memilih kelas tersebut karena nilai rata – rata ulangan harian pada pokok bahasan sebelumnya sebesar 5,6 sedangkan nilai batas tuntas pelajaran geografi di SMPN ...  adalah 6,5. Ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa belum mancapai standar yang diharapkan. Untuk itu dalam penelitian ini penulis mengetengahkan penggunaan metode kooperatif model Teams Games Tournament. Untuk itu model tersebut dicoba untuk memberi variasi atau alternatif pada metode konvensional. Sehingga pada metode konvensional ini kurang dapat membantu siswa untuk berpikir kritis. 

Dalam pelaksanaanya di SMPN ...  guru masih menggunakan metode konvensional dalam materi pengajaran sehingga siswa cenderung pasif dalam KBM. Dan ini secara tidak langsung mempengaruhi  hasil prestasi siswa, dimana siswa yang aktif lebih memiliki prestasi yang lebih tinggi. Sedangkan siswa yang kurang aktif atau pasif cenderung memiliki prestasi yang rendah karena  hanya mengandalkan pada materi yang diberikan guru saja, dan itu dirasa sangat minim sekali.
Berdasarkan latar masalah yang telah diuraikan di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut “PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT SEBAGAI SUATU ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN IPS PADA POKOK BAHASAN PERKEMBANGAN NEGARA DI DUNIA KELAS IX DI SMPN ...  TAHUN AJARAN 2015/2016”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran konvensional yang dinilai cenderung monoton.
2. Media pembelajaran yang kurang bervariasi.
3. Prestasi belajar siswa yang menurun.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah ini diberikan untuk lebih memfokuskan topik masalah agar dalam pengkajiannya lebih terarah dan terfokus. Untuk itu pembatasan masalah dalam hal ini adalah siswa kelas IX SMPN ...  Tahun Ajaran 2015/2016 dan penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament yang menjadi objek dari penelitian ini. Ptk ips geografi smp pdf

D. Perumusan Masalah
Apakah penggunaan metode pembelajaran kooperatif model teams games tournament dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada pokok bahasan perkembangan negara di dunia  kelas IX di SMPN ... ?
E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah penggunaan metode pembelajaran kooperatif model teams games tournament dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam  pembelajaran IPS pada pokok bahasan perkembangan negara di dunia kelas IX di SMPN ... .

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis. 
a. Memberikan informasi kepada guru tentang alternatif penggunaan model TGT pada materi pokok Perkembangan negara di dunia.
b. Memberikan masukan kepada guru dalam usaha mencari suatu bentuk pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.
c. Memberikan masukan kepada peneliti lain untuk menggunakan model TGT pada materi pokok Perkembangan negara di dunia.
2. Manfaat praktis.
a. Bagi guru.
Memberikan informasi kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran TGT dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok bahasan perkembangan negara di dunia.  
b. Bagi siswa.
Memberi variasi model pembelajaran bagi siswa dengan media teka – teki silang.
c. Bagi sekolah.
Memberikan suatu alternatif dalam upaya untuk dapat meningkatkan kualitas proses  belajar mengajar IPS di SMPN ... .

PENELITIAN TINDAKAN KELAS GEOGRAFI SMP KELAS 8 DOC

BAB II
LANDASAN TEORI


A. Kajian Teori
1. Belajar dan Pembelajaran
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang telah dikenal dan bahkan sadar atau tidak telah dilakukan manusia untuk mengembangkan pengetahuan dirinya tentang banyak hal. Dengan adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadi belajar. Proses belajar ini merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar.
Beberapa ahli telah menyusun definisi belajar menurut sudut pandang masing – masing, antara lain sebagai berikut :
1) Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dari beberapa pendapat tentang definisi belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha sadar yang dilakukan individu dimana menghasilkan perubahan tingkah laku (dalam pengetahuan dan pemahaman) tentang suatu hal, di mana lingkungan ikut berperan di dalamnya.

b. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai pengajaran yang mempunyai cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. ptk ips terpadu smp doc Kegiatan belajar adalah kegiatan primer dalam kegiatan belajar pembelajaran tersebut. sedangkan pembelajaran merupakan kegiatan sekunder yang diupayakan untuk dapat tercapainya kegiatan belajar mengajar yang optimal.
Arti pembelajaran memiliki definisi yang berbeda – beda menurut beberapa ahli. 
1) Menurut Howard, dalam (Slameto,2003:32) bahwa “pembelajaran adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita – cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge”.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari pengajar untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan pengetahuan, ketrampilan dan tingkah laku pada diri peserta didik.

2. Prestasi Belajar
 Arifin (1990:2-3) menyatakan bahwa kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu “prestatie”. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”. Menurut Arifin (1990:2) bahwa prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perrenial. Dalam sejarah dan kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuannya masing- masing.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa, berupa pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap setelah siswa tersebut mengalami proses belajar. Prestasi belajar dapat digambarkan dengan adanya nilai tes yang diberikan oleh guru kepada siswa. Prestasi belajar mempunyai beberapa  fungsi utama antara lain:
1). Sebagai indikator kualitas dan kuantitas yang telah dikuasai anak.
2). Sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
3).  Sebagai bahan informasi dan inovasi pendidikan.
4). Dapat dijadikan indikator terhadap daya serap anak didik.
      (Arifin, 1990: 2-3)
Prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor ekstern menjadi bahan pembahasan yang perlu diperhatikan. Untuk itu dilakukan diantaranya pemilihan metode yang tepat dan efektif dilengkapi media yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai.

3. Pembelajaran  Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pengajaran yang berpusat pada guru. Sistem pembelajaran konvensional salah satunya menggunakan metode ceramah. Metode ceramah sering disebut juga sebagai metode konvensional karena metode ini sejak dulu paling sering dan paling banyak digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
Metode pembelajaran konvensional apabila digunakan pada setiap situasi akan menekan kreativitas siswa dan mengabaikan potensi yang ada pada diri siswa. Meskipun demikian penggunaannya masih mutlak diperlukan dengan mempertimbangkan aspek tujuan pengajaran, bahan pengajaran, serta fasilitas yang tersedia di sekolah. Download ptk ips smp doc Dalam penggunaan metode ini guru harus tetap berpegang bahwa siswa merupakan subyek belajar yang mempunyai perbedaan – perbedaan individual yang masing – masing membutuhkan bimbingan belajar.

4. Metode Pembelajaran  Kooperatif
a. Pengertian metode pembelajaran kooperatif.
Metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang akhir – akhir ini semakin populer. Beberapa ahli menyatakan bahwa metode pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu peserta didik dalam memahami dan menerapkan konsep – konsep, tetapi juga sangat membantu peserta didik menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis, kemampuan membantu teman sekelompok dan sebagainya.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan (Roger dan Davidson dalam Lie, 2005 : 31). Kelima unsur – unsur tersebut antara lain :
1) Saling Ketergantungan Positif
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif,  pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2) Tanggung Jawab Perseorangan 
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur – unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.
3) Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk strategi semua anggota. Dan inti dari strategi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing – masing. Di mana setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang  pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya.

4) Komunikasi Antar Anggota
Unsur ini menghendaki agar para siswa dibekali dengan berbagai keterampilan komunikasi.  Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara – cara berkomunikasi.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif.

b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Arend (1997:111- 112) berpendapat bahwa “model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran, yakni potensi akademik, penerimaan dan keanekaragaman, dan pengembangan ketrampilan”. Akan tetapi didalam penelitian ini tujuan pembelajaran kooperatif lebih ditekankan pada potensi akademik dan pengembangan keterampilan. Contoh ptk ips smp kelas 8 doc 

Dalam penelitian ini akan dicoba salah satu model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang kaitannya dengan pengajaran geografi di SMPN ... . Tipe TGT pertama kali dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edward. Pendekatan pembelajaran model TGT memiliki kesamaan dalam pembentukan kelompok dan pembagian materi pada STAD. Namun kuis- kuis diganti dengan tournament- tournament, seperti bekerja dalam kelompok. Tournament ini dapat dilakukan dengan mengisi TTS yang diberikan pada setiap kelompok. Dimana kelompok yang cepat menyelesaikan TTS tersebut dengan benar dapat menjadi pemenang.  Dalam pembelajaran pada pendekatan TGT ini semua anggota kelompok memiliki peluang yang sama untuk sukses (mendapat nilai yang tinggi).

Adapun  langkah – langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan TGT antara lain:
Membuat kelompok kecil yang beranggotakan 4 -5 siswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda.
a. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk permainan.
a. Berdiskusi kelompok/ tutorial antar anggota dalam bentuk kuis yang berupa teka- teki silang.
b. Melakukan penilaian.
  Srategi  pembelajaran kooperatif adalah strategi  yang  relatif baru di Indonesia. Strategi pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) pada prinsipnya adalah membentuk kelompok- kelompok kecil, yang dalam kelompok tersebut terdapat kerjasama antar anggota kelompok dan diskusi kelompok. Pembelajaran difokuskan pada cara kerja kelompok. Dalam strategi pembelajaran kooperatif, kreatifitas individu sangat diperlukan, termasuk hubungan antar pribadi (Slavin, 1995 :11-12)

Untuk model TGT, dibagi menjadi dua tahap pembelajaran, yaitu : 
a. Tahap penyampaian materi pelajaran
Di sini materi pelajaran akan disampaikan melalui pengajaran secara langsung di kelas. 
Di sini guru menekankan pada apa yang akan dipelajari siswa. Ini dilakukan untuk mendorong siswa untuk lebih siap belajar dalam mempelajari konsep yang akan disampaikan. Untuk tahap ini, perlu adanya penekanan  pada  :
1) Pengembangan
a) Guru menentukan tujuan – tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
b) Menekankan pada siswa bahwa pada pembelajaran kooperatif, belajar adalah memahami arti dan bukan menghafal.
c) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin.
d) Memberikan penjelasan mengenai alasan mengapa jawaban benar atau salah.
e) Beralih ke konsep yang lain apabila siswa sudah menguasai pokok permasalahnya.

2) Praktek terkendali
a) Guru memanggil siswa secara acak untuk menyelesaikan soal sebagai bagian dari kegiatan permainan “teka – teki silang”.
b) Pemberian tugas kelas.
b.  Kegiatan kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif, tiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 siswa. Selain kegiatan kelompok berlangsung, masing – masing siswa bertugas untuk mempelajari materi yag disajikan oleh guru, dan saling membantu apabila ada teman sekelompoknya yang belum menguasai materi pelajaran tersebut. Di sini guru akan membagikan lembar kegiatan untuk dikerjakan oleh siswa. Setiap individu harus mengerjakan soal secara mandiri, dan dapat saling membantu dalam menyelesaikan dan menjawab soal dengan teman sekelompoknya.

Dengan pembelajaran kooperatif model TGT, diharapkan bisa merangsang siswa untuk lebih siap belajar mata pelajaran geografi. Selain itu selama siswa bekerja di dalam kelompoknya, guru akan bertindak sebagai fasilitator yang akan memantau kegiatan masing – masing.
6. Teka–teki Silang
Teka- teki silang berasal dari kata teka- teki dan silang. Teka- teki dalam buku kamus besar Bahasa Indonesia berarti soal yang berupa kalimat (cerita, gambar,dsb) sebagai permainan untuk pengasah pikiran atau tebakan. Sedangkan kata silang berarti bertumpuk (palang- memalang), berpapasan (berselisih jalan). (Poerwadarminto, 1984).  Teka–teki silang merupakan salah satu sarana untuk dapat mengetahui dan mengingat pengetahuan yang kita miliki untuk kita tuangkan dalam jawaban atas pertanyaan yang ada, baik dalam baris maupun kolom. 
Teka – teki silang sudah banyak dikenal oleh masyarakat dan dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang yang ada.

Teka–teki silang digunakan dalam model TGT (Teams Games Tournament). Hal ini dimaksudkan bahwa selain ada unsur permainannya ada juga unsur pendidikannya, dimana dengan mengisi teka – teki silang tersebut secara tidak sadar siswa belajar ilmu geografi, sehingga diharapkan mendapatkan kesenangan juga didapatkan pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran, khususnya materi pada pokok bahasan  perkembangan negara di dunia dan ilmu geografi pada umumnya. Maka diharapkan dengan membuka, membaca dan mencari jawaban teka – teki silang tersebut, siswa akan paham tentang materi perkembangan negara di dunia.
Kerangka Pemikiran 
Pencapaian prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri siswa sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar siswa. Salah satu faktor tersebut adalah faktor metode pembelajaran yang digunakan. Metode pembelajaran yang biasa dipakai adalah metode ceramah, SMPN ...  metode ceramah mendominasi kegiatan belajar belajar dan siswa cenderung untuk pasif dan sedikit sekali yang aktif, sehingga perlu dikembangkan metode pembelajaran kooperatif.
Untuk itu perlu diterapkan metode yang tepat dalam menangani permasalahan tersebut. Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan metode pembelajaran kooperatif model TGT. Metode ini menggunakan teka – teki silang. Dalam penelitian ini diberikan pada materi pokok bahasan “Perkembangan negara di dunia”. Dengan sub pokok bahasan mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju. 

Metode pembelajaran kooperatif model TGT yang akan diterapkan mempunyai kelebihan dalam proses belajar mengajar diantaranya siswa diharapkan lebih aktif dalam setiap kelompok, bermain dan bertanding antar kelompok untuk saling berpacu dalam prestasi yang tinggi dan dapat memperkecil perbedaan yang ada pada diri siswa dalam proses pemahaman materi pelajaran. Penggunaan metode pembelajaran kooperati model TGT (Teams Games Tournament) dengan menggunakan media teka – teki silang dapat meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik. Ptk ips geografi smp pdf Diagram dalam penelitian ini adalah :
Diagram 1. Metode kooperatif model TGT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia. 
C.  Hipotesis Tindakan
Penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT dengan menggunakan media teka – teki silang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga dapat dijadikan alternatif untuk pembelajaran IPS pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia di SMPN ... . 

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK IPS SMP TERBARU

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN


A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di SMPN ... .
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November semester ganjil (I) tahun ajaran 2015/2016. Penelitian ini mengambil pokok bahasan Perkembangan negara di dunia. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus dengan satu pokok bahasan, yaitu Perkembangan negara di dunia. Siklus pertama membahas tentang sub pokok bahasan mengidentifikasi negara berkembang dan negara maju. Siklus kedua membahas sub pokok perang dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia. Waktu penelitian dilaksanakan selama sembilan bulan dari Bulan April 2015 sampai Bulan Desember 2015.

3. Objek Penelitian
Kelas yang diambil sebagai obyek penelitian ini adalah siswa kelas IX  SMPN ...   dengan jumlah 22 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki- laki dan 10 siswa perempuan. Pada semester ganjil hasil belajar siswa mempunyai rata – rata kelas paling rendah bila dibandingkan dengan kelas yang lain. ptk ips terpadu smp doc
B. Metode Penelitian
  Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah  Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang sering disebut dengan  Classroom Action Research.  Menurut Hopkins dalam Sadikin, dkk. ( 2002 : 16 ) PTK merupakan suatu bentuk kajian reflektif oleh pelaku tindakan dan PTK dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan- tindakan yang dilakukan, dan memperbaiki kondisi praktik- praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Penelitian Tindakan Kelas memperbaiki pengajaran secara praktis dan secara langsung serta memusatkan perhatian pada masalah yang spesifik dan konseptual, tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan suatu refleksi suatu keadaan pembelajaran, yang kemudian mencoba berbagai tindakan alternatif untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran yang sedang dihadapi bagi seorang pengajar.

Fungsi Penelitian Tindakan, sebagaimana dikemukakan oleh Lonen dan Manion (dalam Rianto 2001:55) bahwa penelitian tindakan mempunyai 5 kategori fungsi, yaitu:
1. Sebagai alat untuk memecahkan masalah yang dilakukan diagnosis dalam situasi tertentu.
2. Sebagai alat pelatihan dalam jabatan, sehingga membekali guru yang bersangkutan dengan ketrampilan, metode dan teknik mengajar yang baru, mempertajam kemampuan analisisnya dan mempertinggi kesadaran atas kelebihan dan kekurangan pada dirinya.
3. Sebagai alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan/ yang inovatif pada pengajaran.
4. Sebagai alat untuk meningkatkan komunkasi  antara guru di lapangan dan peneliti akademis, dan memperbaiki kegagalan tradisional.
5. Alat untuk menyediakan alternatif yang lebih baik untuk mengantisipasi pendekatan yang lebih subjektif, impresionistik dalam memecahkan masalah di dalam kelas.

 Penelitian ini memberikan alternatif dalam peningkatan pemahaman  “Perkembangan negara di dunia “ untuk itu terdapat beberapa model penelitian tindakan yang dikemukakan oleh sejumlah pakar antara lain seperti model  Kemmis dan Mc. Taggart, model Elliot, Model Ebbut, Model- model penelitian tindakan tersebut  dikembangkan dari pemikiran Kurt Lewin, dialah orang  pertama yang menciptakan model penelitian tindakan kelas. 
Kurt Lewin dalam Arikunto ( 2002 : 83 ), mengemukakan penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk siklus. Bentuk siklus ini dalam setiap langkah memiliki suatu tahapan yaitu perencanan ( planning ), tindakan ( acting ), pengamatan ( observasi ), dan refleksi ( reflecting ).
Langkah – langkah tersebut dapat diilustrasikan dalam gambar I. berikut ini:
Gambar 1.  Model Dasar Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin dalam Arikunto (2002:84)

Tahap-tahap siklus diatas dapat dilanjutkan ke dalam siklus berikutnya dengan rencana, tindakan, pengamatan dan refleksi ulang berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus sebelumnya. Dan jumlah siklus dalam suatu penelitian ini bergantung pada bagaimana permasalahan yang dihadapi sudah dapat dipecahkan melalui refleksi yang dilakukan.
Selain itu model penelitian tindakan yang telah dikembangkan oleh Kemmis dan M. C. Taggart. Model ini merupakan perkembangan dari model penelitian tindakan Kurt Lewin, dimana dalam model penelitian tindakan oleh Kemmis dan M. C. Taggart memberi suatu pemikiran dalam siklus selanjutnya. Jika ternyata, permasalahan belum dapat diatasi maka perlu diberikan perbaikan terhadap perencanaan  yang telah ada serta dilakukan tindakan, pengamatan, dan refleksi pada siklus berikutnya, dan demikian seterusnya. Model penelitian tindakan yang  diusulkan oleh Kemmis dan M. C Taggart (dalam Kasbolah, 2001:63) Download ptk ips smp doc
Gambar 2. Model Penelitian Tindakan Kemmis dan M.C.Taggart (dalam Kasbolah, 2001:63).

Secara rinci urutan masing – masing tahap dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut  
Gambar 3. Skema Pelaksanaan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. (Tim PGSM, 1999: 70).

C. Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data.
Data penelitian tindakan ini berupa informan tentang kemampuan siswa kelas IX SMPN ...  tahun ajaran 2015/2016 tentang penggunaan metode pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran IPS pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia. Data penelitian ini dikumpulkan dari siswa kelas IX SMPN ... , data yang diperoleh berupa nilai post test, tanggapan siswa tentang metode kooperatif model TGT melalui angket dan aktivitas siswa.
2. Teknik Pengumpuan Data
Teknik yang digunakan untuk pengumpualn data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Metode Observasi.
  Observasi dilakukan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik yang dilakukan terhadap objek di tempat  penelitian. Menurut Rianto (2001: 96) “observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian”.Dalam melakukan observasi selama pembelajaran berlangsung, peneliti sebagai guru dibantu oleh guru mitra.

b) Metode angket.
Menurut Rianto (2001:87) “angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk  dijawab secara tertulis.”
Merupakan usaha mengumpulkan informasi  dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan cara sistematik dan berlandaskan pada tujuan penelitian ini. Dalam penelitian ini angket digunakan untuk memperoleh data tentang bagaimana respon siswa terhadap penggunaan metode kooperatif model TGT, apakah cukup memberi variasi dari metode konvensional yang sering digunakan dalam pembelajaran IPS pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia. Angket ini diberikan pada akhir pembelajaran.

c) Metode tes.
Metode tes adalah cara pengumpulan data yang menghadap sejumlah pertanyaan- pertanyaan atau suruhan- suruhan kepada subjek penelitian, Budiyono (2003:54). Metode tes digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyerapan materi siswa pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia dengan sub pokok bahasan ciri-ciri negara berkembang dan negara maju serta perang dunia II (pendudukan Jepang) dan pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia. Pelaksanaannya dengan menggunakan metode kooperatif model TGT ini.
D. Validitas Data
Dari informasi yang telah di dapat oleh peneliti maka data dalam penelitian itu akan diperiksa validitas agar kebenaran data itu dapat dipertanggung jawabkan. Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data dan triangulasi metode. Menurut Sutopo (2002:80), triangulasi adalah “mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda”.

Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data dan triangulasi metode. Triangulasi data dilakukan dengan cara memanfaatkan jenis sumber data yang berbeda – beda untuk menggali data yang sejenis, selain itu juga ada cara lain yaitu dengan menggali informasi dari suatu narasumber tertentu, dari kondisi lokasinya, dari aktivitas yang menggambarkan perilaku orang atau warga masyarakat, atau dari sumber yang berupa catatan atau arsip dan dokumen yang memuat catatan yang berkaitan dengan data yang dimaksud peneliti (Sutopo, 2002:79). Misalnya, untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada semester ganjil, peneliti melakukan hal – hal sebagai berikut :
1. Memberikan tes tentang materi yang diajarkan pada semester ganjil yaitu perkembangan negara di dunia.
2. Menerapkan metode pembelajaran Teams Games Tournament.

E. Teknik Analisis Data
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan analisis melalui 3 alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan tahap – tahap analisis data tersebut adalah sebagai berikut :
1. Reduksi data.
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis di lapangan. Proses reduksi data ini berlangsung terus menerus selama pelaksanaan penelitian sampai penelitian berakhir. Reduksi data dilakukan pada awal penelitian pada akhir penelitian.
2. Sajian data.
Sajian data / data – data display dapat diartikan sebagai penyajian dari sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Pada tahap ini informasi – informasi yang telah diperoleh selama pendidikan disusun untuk mempermudah dalam penarikan kesimpulan. Contoh ptk ips smp kelas 8 doc 

3. Penarikan kesimpulan.
Merupakan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian. Dari awal pengumpulan data sudah ada pernyataan – pernyataan yang digunakan sebagai arahan – arahan untuk mengambil suatu kesimpulan sementara.
Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan / verifikasi sebagai sesuatu yang berinteraksi pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data. Ketiga jenis kegiatan analisis dan kegiatan pengumpulan data merupakan analisis interaktif. 
Model analisis interaktif tersebut dapat dibuat skema dalam bentuk sebagai berikut 
Diagram 2. Komponen – komponen analisis data : Model Interaktif.

Keempat komponen tersebut diatas harus merupakan unsur yang ada dalam proses analisis data. Keempat komponen diatas merupakan unsur yang saling berkait pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data.

F. Indikator Kinerja 
1. Bagi  siswa
Indikator kinerja dapat dikatakan berhasil jika memenuhi target yang telah ditentukan yaitu siswa mengalami ketuntasan belajar. Belajar siswa dikatakan tuntas yaitu lebih dari 65% untuk individu dan lebih dari 85% untuk klasikal. Dengan kata lain balajar dalam tes formatif dikatakan tuntas jika seorang siswa secara klasikal ditentukan apabila 85% dari jumlah siswa mendapat nilai lebih dari 6,5 atau 65%. Sedangkan belajar tuntas siswa secara klasikal ditentukan apabila 85% dari jumlah siswa mendapat nilai 6,5 keatas.
2. Pada  aspek  proses
a. Perhatian siswa lebih pada mata pelajaran IPS dengan penggunaan metode TGT dapat meningkat.
b.  Keaktifan siswa lebih pada proses pembelajaran dengan menggunakan metode TGT dapat meningkat.

G. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ada langkah-langkah yang harus dilaksanakan yaitu penetapan fokus masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi analisis dan refleksi. Masing-masing dari langkah-langkah tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Penetapan Masalah
Penetapan fokus masalah berawal dari permasalahan yang dianggap menghalangi tujuan pembelajaran, sehingga berdampak tidak baik terhadap kegiatan belajar-mengajar dan prestasi belajar. Peneliti menetapkan fokus permasalahan yang tepat berdasarkan observasi yang telah dilakukan.

2. Perencanaan Tindakan 
Menerapkan kegiatan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan-persiapan sebagai berikut : 
a. Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah, guru mata pelajaran geografi dan siswa kelas IX untuk kelancaran penelitian.
b. Menerapkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang digunakan untuk kegiatan penelitian. Pada penelitian ini mengambil pokok bahasan “Perkembangan negara di dunia”  dengan sub pokok bahasan ciri-ciri negara berkembang dan negara maju serta perang dunia II (pendudukan Jepang) dan pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia.
c. Membuat rencana pembelajaran. 
d. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan.
1) Lembar kerja siswa IPS kelas IX
2)   Buku paket IPS kelas IX
3)   Buku IPS kelas IX yang relevan 

e. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati proses belajar-mengajar yang sedang dilaksanakan.
f. Menyiapkan alat evaluasi berupa lembaran soal-soal tes untuk keperluan penelitian hasil atau prestasi belajar siswa.
g. Menyiapkan lembar angket siswa untuk mendapatkan informasi pendapat siswa tentang penggunaan metode Kooperatif model TGT (dengan media teka-teki silang).

3. Implementasi Tindakan 
a. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan menggunakan metode kooperatif model TGT (dengan media teka-teki silang) dengan langkah-langkah KBM yang telah dijelaskan dalam rencana pembelajaran (RP).
b. Melakukan kegiatan pemantauaan proses belajar mengajar melalui observasi langsung.
c. Memberikan tes untuk mengetahui tingkat prestasi siswa dalam mata pelajaran geografi  dengan menggunakan metode TGT (dengan media teka-teki silang).
d. Memberikan angket untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajarn IPS pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia dengan menggunakan metode TGT (dengan media teka-teki silang).

4. Pemantauan dan Evaluasi
a. Pemantauan 
Pemantauaan tindakan penelitiaan menggunakan dua alat yaitu observasi dan angket siswa.
1) Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam observasi sebagai berikut :
a) Pelaksanaan pengamatan dilakukan oleh guru IPS dan peneliti sendiri.
b) Mencatat semua hasil pengamatan ke dalam lembar observasi. Ptk ips geografi smp pdf
c) Mendiskusikan dengan guru IPS terhadap hasil pengamatan setelah proses belajar mengajar selesai.
d) Membuat kesimpulan hasil pengamatan. 
2)  Langkah-langkah yang harus dilakukan terhadap angket yang telah diisi oleh siswa sebagai berikut :
a) Membagikan lembar angket untuk diisi siswa setelah pertemuan selesai dilaksanakan.
b) Mengumpulkan lembar angket yang telah diisi oleh siswa.
c) Membuat kesimpulan hasil angket siswa.
b. Evaluasi
Langkah-langkah evaluasi yang dilaksanakan dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat-alat evaluasi soal-soal tes.
2) Melaksanakan evaluasi dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar.
3) Melaksanakan analisis hasil evaluasi.

5. Analisis dan Refleksi
a. Analisis 
Langkah-langkah dalam kegiatan analisis dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Menganalisis tanggapan siswa pada lembar angket
Metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar dinyatakan menarik apabila ada 85% dari seluruh siswa dalam kelas tindakan menyatakan tertarik pembelajaran geografi dengan metode TGT.
2) Memasukan hasil pengamatan oleh guru pada lembar monitoring.
Apabila hasil pengamatan siswa mengikuti pelajaran dengan baik, yaitu siswa aktif dalam mengerjakan tugas kelompok maupun fokus dalam mengerjakan tugas yang diberikan baik tugas kelompok maupun individu dan siswa merespon dengan baik pembelajaran IPS kelas IX pada pokok bahasan Perkembangan negara di dunia.
b. Refleksi
Refleksi dalam penelitiaan tindakan ini adalah memikirkan ulang untuk mencari dan menemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan mulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan tindakan kelas. Refleksi dilaksanakan agar tidak terjadi kesalahan yang terulang pada tindakan kelas berikutnya.

6. Perencanaan Tindak Lanjut
Dari keberhasilan dan kegagalan dalam pelaksanaan tindakan yang ada dalam refleksi maka peneliti dengan guru mitra mengadakan diskusi untuk mengambil tindakan perbaikan berikutnya dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan peneliti.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan prestasi belajar siswa yang lebih optimal dari proses pembelajaran sebelumnya.
Dengan demikian dapat diketahui sampai sejauh mana respon siswa dengan metode TGT (dengan media teka-teki silang) dalam pembelajaran IPS siswa kelas IX SMPN ... 
7. Perencanaan Siklus I
Dalam siklus I dibahas pokok bahasan “Perkembangan negara di dunia” dengan sub pokok bahasan ciri-ciri negara berkembang dan negara maju serta perang dunia II (pendudukan Jepang) dan pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia dengan waktu dua jam pelajaran (2 x 45 menit). Rincian pelaksanaan siklus 1 dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.  Rincian Prosedur Penelitian Siklus I

8. Perencanan Siklus II
Dalam siklus II dibahas pokok bahasan “Perkembangan negara di dunia” dengan sub pokok bahasan perang dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia. Dengan waktu dua jam pelajaran (2 x 45”) dengan melihat hasil refleksi dari pembelajaran yang pertama, selanjutnya diadakan perencanaan pembelajaran dengan perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran maupun peningkatan prestasi belajar siswa pada proses pembelajaran dalam pokok bahasan “Perkembangan negara di dunia”. Dengan perbaikan-perbaikan ini diharapkan pada siklus kedua ini dapat diperoleh hasil yang lebih baik dibanding siklus pertama.

Tindakan pada siklus kedua ini sangat memperhatikan kekurangan dan kelemahan yang ada pada siklus pertama serta diusahakan cara mengatasinya. Rincian pelaksanaan siklus II dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.  Rincian Prosedur Penelitian Siklus II
Adapun perbedaan siklus I dan siklus II adalah :
1. Pada siklus pertama guru tidak menjelaskan secara detail tentang metode Teams Games Tournament, sehingga banyak siswa yang menanyakan karena kebanyakan dari mereka belum mengerti maksud bekerja kelompok dengan metode Teams Games Tournament ini.
Pada siklus kedua guru memberikan pengertian bagaimana bekerja kelompok dengan model Teams Games Tournament ini.
2. Pada siklus pertama guru masih kesulitan memusatkan perhatian kelompok pada materi pelajaran.
Pada siklus kedua, guru sudah bisa memusatkan perhatian kelompok pada materi pelajaran.
3. Pada siklus pertama soal-soal teka-teki silang dan soal-soal tes kurang bervariasi.
Pada siklus kedua soal teka-teki silang dan soal-soal tes sudah bervariasi.
4. Pada siklus pertama terdapat siswa yang mondar – mandir di dalam kelas mengganggu teman lain atau kelompok lain, berbicara sendiri (membuat gaduh) pada saat bekerja kelompok, mengerjakan tugas yang lain dan ada yang keluar kelas.
Pada siklus kedua, hal – hal seperti di atas sudah dapat diatasi

PTK IPS SMP KELAS 8 DENGAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT

DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT Remadja Rosdakarya.
             Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arend, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New Jersey: The Mc Graw Hill Companie. Inc.
Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Tindakan. Surakarta: UNS Press.
Cece N. Djadja dan Tabrani R. 1987. Upaya Pembaharuan dalam  Pendidikan   dan Pengajaran. Bandung: Remadja Karya.
Darmawijaya, Isa. 1997. Klasifikasi Tanah: dasar teori bagi peneliti tanah dan pelaksana pertanian di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees.
Drost, J. 2005. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Kasbolah, Kasihani. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Malang.
Lie, Anita. 2005. Cooperativ Learning. Jakarta: PT Gramedia.
Moleong, Lexy , J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
Purwanto, Ngalim.2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosdakarya. 
Rianto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. sSurabaya. SIC
Roostiyah , N. K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto.2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumantri. M, & Permana, Johar. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Maulana.
Suranto, Basrowi, dan Sukidin.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia. 
 Slavin, Robert E.1995. Cooperatif Learning Theory and Practise, Secind Edition. Boston: Allyn and Bacon Publisher
Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosda Karya.
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom AR). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi: Jakarta.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH TERBARU PTK IPS GEOGRAFI SMP WORD

Postingan terkait: