PTK BAHASA INDONESIA KELAS XI METODE HIPNOSIS

PTK BAHASA INDONESIA KELAS XI METODE HIPNOSIS-Berdasarkan proses pelaksanaan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis, kegiatan pembelajaran selama tiga siklus terangkum dalam lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, jurnal siswa, dan catatan lapangan yang dibuat setiap siklus. Hasil observasi aktivitas siswa pada setiap siklus pun mengalami peningkatan terutama dalam hal keseriusan mengerjakan tugas, respons dan motivasi siswa untuk belajar menulis naskah drama menunjukkan perbaikan. Hal ini dibuktikan dengan usaha siswa dalam memperbaiki setiap naskah drama yang dibuatnya. Siswa berusaha merangkai dialog-dialog menjadi suatu naskah drama dengan cerita yang utuh.
Hasil observasi aktivitas guru meningkat seiring dengan perbaikan¬perbaikan yang dilakukan guru berdasarkan catatan lapangan. Dalam pemberian materi, guru mampu menarik motivasi siswa karena mampu memberikan penjelasan dengan baik.

Berdasarkan data hasil evaluasi pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis, kemampuan siswa mengalami peningkatan. Melalui proses kegiatan belajar yang dilakukan secara bertahap, akhirnya siswa mampu menulis naskah drama menggunakan metode hipnosis dengan kelengkapan aspek formal naskah drama, kelengkapan unsur intrinsik, keterpaduan unsur dan kesesuaian penggunaan bahasa. Contoh ptk bahasa indonesia smk pdf
Jika dilihat dari kemampuan siswa dalam menulis naskah drama yang mengacu pada skala lima dapat diperoleh data bahwa 29 orang siswa atau sebesar 77% siswa mengalami peningkatan pada siklus II. Siswa yang termasuk kategori tinggi meningkat sebesar 68% atau sebanyak 26 orang siswa. Adapun pada siklus III, peningkatan sebesar 60% atau sebanyak 23 orang siswa berkategori sangat tinggi. Sudah tidak ada siswa yang berada pada kategori cukup, sedangkan sisanya berada pada kategori tinggi.
Tingkat kemampuan tertingigi pada siklus I mencapai nilai 60 dan pada siklus II mencapai peningkatan menjadi 80. Pada siklus III terjadi peningkatan kembali menjadi 95. Peningkatan yang terjadi ini disebabkan semakin terampilnya siswa dalam menulis seiring tindakan pembelajaran yang diberikan guru di dalam kelas.

Adapun tingkat kemampuan terendah setiap siklusnya mengalami peningkatan nilai. Kemampuan terendah pada siklus I sebesar 45. Peningkatan terjadi pada siklus III menjadi 75. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dari kemampuan siswa menulis naskah drama.
Kemampuan tertinggi dan terendah dalam menulis naskah drama, diperoleh kemampuan rata-ratanya. Nilai rata-rata kemampuan siswa pada siklus I berada pada kategori kurang, yaitu 52,5 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 65 meskipun masih berada pada kategori cukup. Sementara pada siklus III nilai rata-rata meningkat menjadi 85 dan berada pada kategori tinggi.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA SMA yang diberi judul MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS NASKAH DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS SISWA KELAS XI SMAN 1 ... KABUPATEN ... TAHUN AJARAN 2015/2016 ". Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA SMA KELAS XI lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 040).

CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMA KELAS XI

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Berdasarkan observasi awal, keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kurang diminati oleh siswa kelas XI di SMAN 1 ...  dibandingkan tiga keterampilan berbahasa lainnya. Pengamatan awal di SMAN 1 ... , khususnya siswa kelas XI lebih menyukai dan menguasai pembelajaran menyimak, berbicara dan membaca. Hal ini dapat terlihat misalnya pada saat pembelajaran menyimak dan membaca cerpen, siswa mampu mengungkapkan kembali isi cerpen. Begitu juga pembelajaran berbicara, siswa mampu mengungkapkan hal-hal yang menarik dari biografi tokoh. Sementara dalam pembelajaran menulis, siswa cenderung merasa kesulitan.

Siswa kelas XI sering merasa kesulitan dalam mengekspresikan pikirannya dalam tulisan. Beberapa alasan siswa berkaitan dengan sulitnya menentukan tokoh yang ada dalam drama yang akan mereka tulis, kehabisan ide ketika sudah sampai di tengah jalan cerita dan sulitnya mencari inspirasi. Sudah tertanam sejak awal pada diri siswa bahwa menulis itu sangat sulit apalagi berkaitan dengan pembelajaran menulis naskah drama. Download ptk bahasa indonesia sma doc

Hasil obsevasi awal di SMAN 1 ...  ini menunjukan perlu adanya sebuah metode yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis. Pembelajaran menulis ini sangat perlu dimiliki oleh siswa agar pembelajaran menulis naskah drama bermanfaat tidak hanya bagi siswa tetapi juga keseluruhan pembelajaran. Pengajaran sastra dikatakan berhasil seandainya dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Pengajaran sastra memang sudah diperkenalkan sejak dini, sejak sekolah dasar siswa sudah harus diperkenalkan dengan jenis-jenis sastra, seperti puisi, cerpen, drama dan pantun. Pengajaran sastra terbukti sangat penting dan efektif dalam pengembangan kepribadian siswa.

Penelitian ini mencoba untuk menerapkan metode hipnosis dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran menulis naskah drama. Dengan pemberian sugesti dan motivasi yang tinggi bahwa pembelajaran menulis itu penting, sama pentingnya dengan pembelajaran membaca, menyimak ataupun berbicara. Siswa diharapkan mampu mengerti dan memahami secara baik bahwa metode ini sangat bermanfaat. Selama ini metode yang digunakan guru bahasa Indonesia di SMAN 1 ...  adalah pemberian contoh dialog kemudian anak diberi tugas untuk menulis naskah drama sesuai dengan contoh yang ada. Kendala dari pemberian contoh ini adalah siswa tidak paham dan cenderung jauh dari contoh naskah yang diberikan.
Dengan mengunakan metode hipnosis ini siswa diarahkan terlebih dahulu kepada manfaat, keuntungan dan kegunaan keterampilan menulis di masa depan. Intinya mengajak siswa untuk menyenangi terlebih dahulu pembelajaran menulis naskah drama. Metode hipnosis ini bisa juga dikombinasikan dengan media, misalnya media foto berseri, gambar kolase dan sebagainya. Penggunaan media ini sebagai tambahan agar siswa mendapat inspirasi untuk drama yang akan mereka tulis.

Penelitian dalam pembelajaran menulis naskah drama ini menekankan pada pemanfaatan potensi yang belum banyak digunakan secara maksimal, yaitu otak bawah sadar. Selama ini pembelajaran di sekolah masih terpusat pada otak sadar. Pemanfaatan otak bawah sadar diyakini bisa meningkatkan kemampuan siswa. Oleh sebab itu, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Keterampilan Menulis Naskah Drama dengan Menggunakan Metode Hipnosis Siswa Kelas XI SMAN 1 ...  Tahun Ajaran 2015/2016”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil obsevasi terhadap siswa kelas XI SMAN 1 ...  yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:
(1) bagaimanakah rancangan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016?
(2) bagaimanakah pelaksanaan proses pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016?
(3) bagaimanakah peningkatan pembelajaran menulis naskah drama dengan mengunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai adalah :
(1) untuk mendeskripsikan rancangan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMA Angkasa tahun ajaran 2015/2016;
(2) untuk mendeskripsikan pelaksanaan proses dan hasil pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016.
(3) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis pada siswa kelas XI SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016.

1.4 Manfaat Penelitian
Seandainya penelitian yang dikemukakan di atas dapat tercapai, penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai berikut:
(1) bagi guru
Dengan penelitian ini, guru dapat mengetahui metode yang tepat dalam mengajarkan penulisan naskah drama kepada siswa. Metode ini dapat membantu guru dalam memberikan motivasi dan menimbulkan rasa ketertarikan kepada siswa. Download ptk bahasa indonesia
(2) bagi siswa
Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa yang selama ini kesulitan menuangkan idenya dalam bentuk naskah drama. Dengan keberhasilan metode ini diharapkan siswa akan semakin termotivasi untuk menghasilkan tulisan-tulisan lain berupa naskah drama yang lebih banyak secara kuantitas dan lebih baik secara kualitas.
(3) bagi peneliti
Peneliti dapat mengetahui peningkatan keterampilan siswa dalam menulis naskah drama dengan menggunakan sebuah metode pembelajaran yaitu metode hipnosis.
(4) bagi pengajaran sastra Indonesia
Melalui penelitian ini pengajaran bahasa dan sastra Indonesia akan menjadi lebih kaya dengan metode-metode baru dan menjadi perbaikan atas metode-metode yang sudah ada.

DOWNLOAD LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMA TERBARU

BAB 2
PEMBELAJARAN MENULIS NASKAH DRAMA
DENGAN MENGGUNAKAN METODE HIPNOSIS


2.1 Pembelajaran Menulis
2.1.1 Pengertian Menulis
Menulis adalah kegiatan yang berjalan satu arah. Tarigan (1992:2 1) mengemukakan pendapatnya tentang menulis, bahwa menulis adalah melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar itu. Sementara E. Mulyasa menyatakan kompetensi menulis merupakan perpaduan pengetauan, nilai, sikap dan keterampilan yang digambarkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Menyampaikan gagasan melalui tulisan berbeda dengan gagasan melalui lisan (Mulyasa, 2004:37).

Menulis juga merupakan aktivitas otak manusia yang paling tinggi derajat atau tingkatannya setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca. Pada dasarnya fungsi utama tulisan adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung. Salah satu contoh konkretnya ada dalam dunia pendidikan. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan bagi pelajar untuk berpikir secara kritis.
Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang berupaya mengekspresikan sesuatu yang dilihat, dirasa, dialami, dipikirkan, dikhayalkan, dibaca ke dalam bahasa tulisan.

2.1.2 Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis sangat erat dengan keterampilan berbahasa lainnya, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan membaca. Keempat keterampilan berbahasa tersebut dapat dimiliki oleh setiap orang jika dilatih secara berkelanjutan. Tarigan (1994: 3) mengungkapkan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk komunikasi secara tidak langsung, tidak secara bertatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Download ptk bahasa indonesia smk doc

Menulis juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting dimiliki oleh pelajar. Menulis adalah kegiatan produktif dan ekspresif. Produktif karena menulis adalah pencurahan pikiran yang menjadi sebuah produk yang bisa dinikmati orang lain. Ekspresif berarti tulisan harus dapat memberikan gambaran maksud, gagasan atau ungkapan penulisnya sehingga mengundang orang lain untuk tertarik membacanya. Jadi, menulis selain berupa pencurahan pikiran penulisnya juga harus dapat menarik minat pembacanya untuk menikmati tulisan.

2.1.3 Tujuan Menulis
Menurut Hugo Hartig dalam Tarigan (1994:24), tujuan penulisan suatu tulisan adalah sebagai berikut:
(1) Assigment Purpose (Tujuan Penugasan)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku; sekretaris yang ditugaskan membuat laporan, notulen rapat).
(2) Alturistic Purpose (Tujuan Alturistik)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pemabca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak akan dapat menulis secara tepat guna kalau dia percaya, baik secara sadar maupaun tidak sadar bahwa pembaca atau penikmat karyanya itu adalah “lawan” atau “musuh”. Tujuan alturistik adalah kunci keterbacaan sesuatu tulisan.

(3) Persuasive Purpose (Tujuan Persuasif)
Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
(4) Informational Purpose (Tujuan Penerangan)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca.
(5) Self-Expressive Purpose (Tujuan Pernyataan Diri)
Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri pengarang kepada para pembaca.
(6) Creative Purpose (Tujuan Kreatif)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan peryatan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyatan diri, dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal, seni idaman. Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
(7) Problem-solving Purpose (Tujuan Pemecahan Masalah)
Dalam tulisan seperti ini penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Penulis ingin menjelaskan, menjernihkan serta menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

2.1.4 Manfaat Menulis
Manfaat menulis menurut Pennebaker adalah sebagai berikut:
(1) menulis dapat menjernihkan pikiran;
(2) menulis dapat mengatasi trauma;
(3) menulis dapat membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru;
(4) menulis dapat membantu memecahkan masalah;
(5) menulis bebas dapat membantu ketika terpaksa harus menulis.

2.2 Keterampilan Menulis Naskah Drama 2.2.1 Pengertian Drama
Pengertian Drama menurut Harymawan, kata drama berasal dari bahasa Yunani, draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi dan sebagainya, jadi drama berarti perbuatan atau tindakan. Sudjiman (1990: 22 ) mendefinisikan drama sebagai karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakana emosi lewat dialog dan gerak.
Drama juga merupakan karangan berbentuk prosa yang melukiskan sifat dan sikap serta konflik manusia untuk dipentaskan/dipertunjukkan dalam seni peran dengan kekuatan dialog sebagai unsurnya dan dapat menimbulkan perhatian, kehebatan dan ketegangan pada pendengar/penonton. (Anggraeni, 2008:17).
Kesimpulan dari penjelasan di atas, Drama adalah karya sastra yang ciri utamanya adalah dialog. Dalam dialog bisa terlihat tokoh, perwatakan, latar , alur cerita, amanat maupun keterangan lakuan atau tindakan.

2.2.2 Menulis Naskah Drama
Prinsip yang melandasi perumusan kaidah-kaidah bentuk drama adalah prinsip mimesis (peniruan). Prinsip yang telah dianut sejak zaman aristotelles itu menghendaki adanya realisme dalam drama. Selain itu, keterbatasan waktu pementasan mengharuskan adanya kepadatan semua unsur bentuk. Menurut Bachmid dalam Mulyana (1998: 147), menyatakan bahwa drama memiliki konvensi dan kaidah umum, yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama berhubungan dengan kaidah bentuk, seperti alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan. Yang kedua berkaitan dengan stilistika atau bahasa dramatik.

Naskah drama yang berisi dialog merupakan hal penting yang tidak bisa dipisahkan dari drama itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Hasanuddin (2009: 17) bahwa dalam sebuah drama, dialog merupakan sarana primer. Maksudnya, dialog di dalam drama merupakan situasi bahasa utama. Luxemburg, dkk dalam Hasanuddin (2009:17) juga menyebutkan bahwa dialog di dalam drama merupakan bagian terpenting dalam sebuah drama, dan sampai taraf tertentu ini juga berlaku bagi monolog-monolog.

Menulis drama tidak bisa dipisahkan dari bentuk dasarnya dan juga bahasa. Bentuk dasar yang dimaksud adalah keharusan adanya unsur pembentuk drama seperti alur, penokohan dan latar ruang maupun latar waktu. Contoh ptk bahasa indonesia smk pdf Bahasa dalam drama diuraikan dalam bentuk dialog-dialog yang membentuk rangkaian cerita dan kesatuan yang utuh.
Drama yang masih berlandaskan pada konvensi, unit-unit dialog diucapkan oleh masing-masing tokoh secara bergiliran, bergantian, dan tertib. Bagaimana pun bentuk dialog yang dapat ditemukan di dalam karya drama yang harus dipahami adalah betapa pentingnya unsur dialog bagi sebuah drama. Dialog menempatkan dirinya sebagai unsur utama dalam drama.

2.3 Metode Hipnosis 
2.3.1 Pengertian Hipnosis
Kata “Hipnosis” adalah kependekan dari istilah James Braid’s (1843) “neuro-hypnotism”, yang berarti “tidurnya sistem syaraf”. Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hipnosis sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi.
Namun hipnosis itu sendiri bukanlah tidur. Secara sederhana, hipnosis adalah fenomena yang mirip tidur, alam bawah sadar lebih mengambil peranan, dan peran alam sadar berkurang. Pada kondisi semacam ini, seseorang menjadi sangat sugestif (mudah dipengaruhi) karena alam bawah sadar, yang seharusnya menjadi filter logik, sudah tidak lagi mengambil peranan.

Kondisi hipnosis adalah kondisi di mana fungsi pikiran sadar yang bersifat kinerja pikiran bawah sadar yang lugu, polos, jujur dan terkesan bodoh, difungsikan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hipnosis merupakan fenomena yang mirip dengan tidur, di mana pikiran kritis logis tidak difungsikan. Pikiran yang sangat berperan dalam situasi seperti itu adalah pikiran bawah sadar. Padahal alam bawah sadar merupakan “pikiran yang bodoh”. Karena pikiran bawah sadar menerima apa pun bentuk informasi yang disampaikan kepadanya. Dia tidak peduli informasi itu baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah sugesti, yaitu menerima perintah apa saja tanpa penolakan. Untuk mencapai kondisi demikian diperlukan kelihaian dan keahlian dalam komunikasi persuasif.

2.3.2 Manfaat Metode Hipnosis
Ada beberapa manfaat dari metode hipnosis ini antara lain sebagai berikut:
(1) lebih mengenal otak dan pikiran manusia;
(2) menunjukkan tahap pengubahan diri;
(3) kunci pencapaian tujuan;
(4) meningkatkan prestasi dan motivasi.
2.3.3 Metode Hipnosis dalam Pembelajaran
Hipnosis dalam pembelajaran lebih dikenal dengan sebutan hypnoteaching. Dalam hypnoteachinng, guru berperan sebagai hipnotis, sementara siswa menjadi suyet atau orang yang dihipnosis. Guru selaku hipnotis tidak perlu menidurkan anak didiknya di waktu memberikan sugesti. Guru dalam praktek hipnoteaching cukup menggunakan bahasa persuasif sebagai alat komunikasi yang dapat menyugesti siswa secara efektif. Guru menggunakan bahasa komunikasi yang sesuai dengan harapan siswa. Dalam arti, turunkan gelombang otak siswa dari beta menjadi alpa-tetha.

Dengan metode hipnosis ini peserta didik akan dibawa pada suatu keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan yang baik dalam aspek menulis, dalam hal ini titik ukurnya adalah menulis naskah drama. Peserta didik akan ditujukan pada suatu kematangan aspek linguistik mereka dengan terampil menulis, mampu menggunakan kata dan kalimat dengan baik dalam konteksnya, penulisan cerita dengan runut, dan memperlihatkan kemajuan dalam teknik penulisan naskah drama.

Metode hipnosis ini sangat membantu peserta didik dalam mengatasi masalah, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar, yang timbul pada saat menulis naskah drama. Maka dari itu, metode hipnosis ini merupakan salah satu solusi dalam mengefektifkan keterampilan menulis setiap peserta didik.

Metode hipnosis dapat digunakan oleh guru dengan prinsip agar pembelajaran mencapi tujuan. Langkah yang perlu dilakukan adalah:
(1) mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan siswa;
(2) merencanakan pembelajaran dengan mengaitkan media hipnosis
seperti suara, gambar, tulisan, gerak, dan simbol-simbol;
(3) memulai mengajar dengan tetap pada rencana yang dibuat dengan melakukan induksi (cara untuk masuk ke dalam keadaan fokus);
(4) melakukan afirmasi (menyatakan sesuatu yang positif tentang diri sendiri) sebagai bahan untuk memunculkan gagasan dari siswa;
(5) melakukan visualisasi sebagai sarana agar siswa dapat memproduksi gagasan sebanyak-banyaknya berkaitan dengan topik pembejaran hari itu;

(6) guru diharapkan melakukan evaluasi setelah akhir proses pembelajaran;
(7) sebelum pembelajaran berakhir, guru melakukan refleksi tentang sesuatu yang dialami oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Selain yang telah disebutkan di atas, ada pendapat lain mengenai langkah¬langkah yang harus dilakukan agar dapat menggunakan metode pembelajaran hipnosis, diantaranya adalah sebagai berikut :
(1) niat dan motivasi dalam diri siswa.
Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi;

(2) ketertarikan dan rasa nyaman.
Secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Download ptk bahasa indonesia sma doc Kesamaan-kesamaan diantara beberapa orang, akan memancarkan gelombang otak yang sama. Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA KELAS XI

BAB 3
METODE PENELITIAN


3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dijadikan sebagai alat untuk memonitor perkembangan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama. Tujuan utama penelitian tindakan kelas ini untuk perbaikan dan peningkatan apresiasi siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama serta memberikan alernatif penggunaan metode pembelajaran untuk guru dalam meningkatkan hasil proses belajar mengajar, terutama pembelajaran drama.

Tahap-tahap dari PTK meliputi : (a) perencanaan (planning), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan; (b) tindakan (action), merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu menggunakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ini pelaksana/guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat; (c) pengamatan (observation), yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pengamat. Tindakan dan pengamatan harus dilakukan dalam waktu yang bersamaan; (c) refleksi (reflection ), merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Berikut ini adalah bagan PTK yang terbagi ke dalam tiga siklus. Contoh proposal ptk bahasa indonesia sma

3.2 Sampel Penelitian
Penelitian ini mengambil sampel penelitian siswa kelas XI IPS SMAN 1 ...  tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 38 orang.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan sarana penelitian baik itu berupa tes dan sebagainya yang digunakan untuk mengumpulkan data sebagai bahan pengolahan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen non-tes dan instrumen tes.

3.3.1 Instrumen Non-tes
Instrumen non-tes terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, wawancara, angket, observasi, catatan lapangan dan jurnal siswa.
3.3.1.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan  : SMAN 1 ... 
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas                : XI 
Semester                 : 2
Alokasi Waktu : 2 X 45 Menit
1. STANDAR KOMPETENSI
Menulis naskah drama.
2. KOMPETENSI DASAR
Menarasikan pengalaman manusia dalam bentuk adegan dan latar pada naskah drama.
3. TUJUAN PEMBELAJARAN
1) secara mandiri siswa mendaftar dan menyebutkan pengalaman diri sendiri atau orang lain yang menarik.
2) secara mandiri siswa memilih salah satu pengalaman pribadi yang menarik.
3) secara mandiri siswa mampu menarasikan pengalaman dalam bentuk adegan drama.
4) secara mandiri siswa mampu menghadirkan latar yang dapat mendukung adegan.

4. INDIKATOR
1) Mendaftar pengalaman sendiri atau orang lain yang menarik.
2) Menarasikan pengalaman sendiri atau orang lain dalam bentuk adegan drama.
3) Menghadirkan latar yang mendukung adegan.
5. MATERI PEMBELAJARAN
1) Pengalaman sendiri yang berkesan atau penglaman orang lain yang menarik.
2) Teks drama.
3) Unsur-unsur drama (tema, penokohan, dan konflik).
4) Latar yang mendukung adegan.
6. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
1) Kegiatan Awal (10’)
(1) Apersepsi
(a) guru mengecek kesiapan siswa;
(b) guru mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari saat ini;

(c) Guru menjelaskan pengertian drama, naskah drama, dan memberikan contoh pengalaman hidup seseorang.
(2) Motivasi
Guru memberikan contoh naskah drama dan pengalaman pribadi.
2) Kegiatan Inti (65’)
(1) eksplorasi
Guru menunjukkkan contoh naskah drama di buku paket.
(2) Elaborasi
(1) mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan siswa;
(2) merencanakan pembelajaran dengan mengaitkan media hipnosis yaitu menampilkan gambar kolase;
(3) memulai mengajar dengan tetap pada rencana yang dibuat dengan melakukan induksi (cara untuk masuk ke dalam keadaan fokus);
(4) melakukan afirmasi (menyatakan sesuatu yang positif tentang diri sendiri) sebagai bahan untuk memunculkan gagasan dari siswa;
(5) melakukan visualisasi sebagai sarana agar siswa dapat memproduksi gagasan sebanyak-banyaknya berkaitan dengan topik pembejaran menulis naskah drama;
(6) guru melakukan evaluasi setelah akhir proses pembelajaran;

3) Konfirmasi
guru melakukan refleksi tentang sesuatu yang dialami oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
4) Kegiatan Akhir (10’)
(1) Refleksi
(2) Guru menyimpulkan
(3) Guru memberikan tugas tambahan untuk menulis naskah drama berdasarkan film yang ditonton siswa.
7. METODE PEMBELAJARAN
Hipnosis, pemberian contoh, dan ceramah
8. ALAT / MEDIA
Buku paket, naskah drama, karton, gambar kolase.
9. PENILAIAN / EVALUASI
1) Prosedur Penilaian
(1) Penilaian kognitif
(2) Penilaian Afektif Download ptk bahasa indonesia smk doc
(3) Penilaian Psikomotorik
2) Instrumen Penilaian
(1) Soal Kognitif
(a) Sebutkan pengertian drama!
(b) Sebutkan pengertian naskah drama!
(c) Jelaskan pengertian unsur-unsur drama (tema, penokohan, konflik)!
(2) Lembar Penilaian Afektif
Tabel 3.2

Keterangan: A=
B =
C =
D =
E = Sangat baik Baik
Cukup Kurang Sangat kurang

(3) Lembar Psikomotorik
Tabel 3.3
Keterangan:
9-10 = Sangat Baik 7-8 = Baik
5-6 = Cukup
3-4 = Kurang
1-2 = Sangat Kurang

3.3.1.2 Wawancara
Wawancara dilakukan sebagai identifikasi pada refleksi awal untuk menemukan permasalahan dalam pembelajaran menulis naskah drama. Selain itu, wawancara juga bertujuan untuk mengetahui respon guru terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis. Wawancara dilakukan kepada salah satu guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMAN 1 ... 
3.3.1.3 Angket
Angket diberikan kepada siswa sebelum penggunaan metode hipnosis. pembelajaran drama serta kesulitan-kesulitan apa saja yang mereka alami saat pembelajaran menulis naskah drama.

Selain itu, angket juga diberikan setelah selesai seluruh pelaksanaan tindakan. Angket ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana respon atau sikap siswa terhadap pembelajaran drama dengan menggunakan metode hipnosis. Angket yang digunakan adalah angket tertutup yang berbentuk skala bertingkat yaitu sebuah pernyataan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukan tingkatan. Responden tinggal membubuhkan tanda chek list (~) pada kolom yang sesuai, misalnya sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS).
Tabel 3.1
Angket Siswa terhadap Pembelajaran Menulis Naskah Drama
dengan Menggunakan Metode Hipnosis

3.3.1.4 Observasi
Lembar observasi merupakan alat pengamatan yang digunakan untuk melihat aktifitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observer mengisi lembar observasi dengan memberikan check list (~) pada kolom ya atau tidak untuk setiap poin hal yang diamati.
3.3.1.5 Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan catatan harian yang ditulis oleh observer segera setelah proses pembelajaran berakhir. Catatan lapangan dimaksudkan untuk mengungkapkan aktivitas siswa dan guru yang tidak dapat diungkapkan dengan menggunakan lembar observasi dan sebagai bahan refleksi untuk tindakan selanjutnya.
Format Catatan Lapangan
Hari/tanggal :
Observer :

Tabel 3.2
Catatan Lapangan 

3.3.1.6 Jurnal Siswa
Jurnal siswa digunakan untuk memperoleh data mengenai respon siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Data tersebut dapat membantu untuk melakukan tindakan dalam KBM selanjutnya. Jurnal diberikan kepada setiap siswa di akhir pembelajaran.
Jurnal Siswa terhadap pembelajaran
Nama:
Kelas:
Siklus ke:
1. Materi apakah yang kamu dapatkan hari ini?
2. Manfaat apakah yang kamu dapatkan dari pembelajaran kali ini?
3. Berikan saran untuk pembelajaran selanjutnya

3.3.2 Instrumen Tes
Instrumen penelitian berupa tes dalam penelitian ini adalah tes kemampuan menulis naskah drama. Lembar tes kemampuan diisi oleh siswa dengan hasil yang berupa naskah drama. Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis. Lembar tes ini akan ada di setiap siklus pembelajaran. Contoh ptk bahasa indonesia smk pdf Lember tes kemampuan ini berukuran kertas A4 dan akan dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan. Selanjutnya guru akan memeriksa karya siswa terrsebut. Hasil dari evaluasi tersebut dapat dijadikan tolak ukur siswa dalam kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis. Adapun format tesnya adalah sebagai berikut:
Tuliskanlah naskah drama berdasarkan pengalaman pribadi yang sangat berkesan bagimu di lembar tes yang telah disediakan!

3.4 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dalam PTK ini ada dua tahap, yakni tahap pengumpulan data dan pengolahan data.
3.4.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan alur sebagai
(1) sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan refleksi awal, yaitu dengan melakukan wawancara dan angket untuk siswa, serta mengobservasi guru dan siswa selama pembelajaran;
(2) identifikasi masalah terhadap hasil observasi awal;
(3) perencanaan tindakan kelas untuk setiap siklus;

Sebelum PTK dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu menyusun
perencanaan tindakan dengan melakukan tindakan kegiatan berikut ini:
(a) kegiatan Observasi awal. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui permasalahn mengenai kemapuan menulis naskah drama dikelas XI. Observasi dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia, ............., tentang metode yang biasa digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama. Tahap kedua adalah observasi langsung kepada para siswa dengan melakukan wanacara mengenai pembelajaran menulis naskah drama dan hal-hal yang berkaitan dengannnya.
(b) membuat rencana pembelajaran bermain drama dengan menggunakan metode hipnosis.

(c) membuat lembar observasi, yaitu lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran bermain drama.
(d) membuat dan menyediakan alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka mengoptimalkan kemampuan siswa dalam melakukan eksperimen/latihan.
(e) membuat lembar pertanyaan/panduan wawancara.
(4) Pelaksanaan Tindakan.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah direncanakan pada setiap siklusnya. Pada tahap ini dilakukan observasi oleh observer terhadap pelakasanaan tindakan. Selain itu dilakukan observasi terhadap guru dan siswa , pengisian angket, wawancara, serta tes menulis naskah drama yang pelaksanaannya tersebar pada beberapa siklus.
Pelaksanaan tindakan terdiri atas beberapa siklus. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai implementasi tindakan secara garis besar terdiri atas pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.

3.4.2 Pengolahan Data
Setelah semua data terkumpul, peneliti kemudian mengolah data tersebut. Pengolahan data merupakan usaha mengkategorikan data dan memisahkan data untuk menjawab masalah-msalah yang dirumuskan dalam penelitian ini. Pengolahan data, baik data kulalitatif maupun data kunatitatif dapat dianalisis secara deskriftif dengan menampilkan hasil data dengan cara dibuat dalam persentase dan digambarkan dalam tabel. Dari analisis lalu dideskrifsikan, kemudian dibuat refleksinya dan disimpulkan.

3.4.2.1 Analisis data
Setelah semua data terkumpul, peneliti kemudian melakukan analisis terhadap data tersebut. Analisis data merupakan usaha mengkategorikan data dan memisahkan data untuk menjawab masalah-masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini. Analisis data, baik data kulalitatif maupun data kunatitatif dapat
dianalisis secara deskriftif dengan menampilkan hasil data dengan cara dibuat dalam presentase dan digambarkan dalam tabel. Dari analisis lalu dideskrifsikan, kemudian dibuat refleksinya dan disimpulkan.

a. Kategorisasi data
Data yang dianalisis dan direfleksi terlebih dahulu dikategorisasikan berdasarkan fokus penelitian. Data dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menulis naskah drama setelah mendapatkan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan metode hipnosis.

b. Interpretasi data
Setelah semua data diperoleh dan diolah, peneliti kemudian menginterpretasikan data tersebut. Namun, sebelum peneliti menginterpretasikan data yang telah peneliti kumpulkan, ada beberapa hal yang peneliti lakukan, yaitu:
1) mendeskripsikan perencanaan pelaksanaan tindakan;
2) mendeskripsikan pelaksanaan tindakan setiap siklus;
3) menganalisis data berupa hasil belajar siswa dari setiap tindakan untuk mengetahui keberhasilan penelitian yang telah dilakukan. Untuk mengukur daya serap siswa.
Tabel 3.3 Penilaian

4) menganalisis hasil observasi aktivitas siswa:
Menghitung persentase tiap kategori untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh observer.
5) menganalisis jurnal siswa dengan mengelompokkan pendapat siswa ke dalam kelompok pendapat atau komentar positif, negatif, dan biasa.
6) Menganalisis data angket siswa dengan cara:
a) menghitung jumlah seluruh responden yang memilih item-item yang tersedia, kemudian data tersebut diubah ke dalam bentuk persentase dengan cara sebagai berikut:
Presentase alternatif jawaban = Frekuensi alternatif x 100
           Jumlah siswa
b) Membuat klasifikasi interpretasi tiap-tiap kategori
Tabel .
7) Mendeskripsikan hasil wawancara dengan guru

3.5 Kategori Penilaian Naskah Drama
Dalam menganalisis hasil tes penulis menggunakan beberapa prosedur penilaian agar hasil penilaian memenuhi derajat validitas dan reliabilitas yang baik. Dalam menilai naskah drama siswa, penulis menetapkan kriteria penilaian yang menjadi patokan bagi para penilai dalam menganalisis hasil tes. Kriteria penilaian tersebut diuraikan dalam penjelasan sebagai berikut.
3.5.1 Kelengkapan dan keterpaduan aspek formal drama
Kelengkapan aspek formal drama merupakan kelengkapan yang secara struktur ada dalam penulisan naskah drama. Kelengkapan tersebut diantaranya:
 3.5.1.1 Judul
Pemilihan judul naskah drama sangat penting untuk melengkapi kelengkapan aspek formal drama. Kriteria judul dalam naskah drama ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1) judul dituliskan di awal naskah drama;
2) judul harus relevan dengan isi naskah drama;
3) judul menggunakan kaidah penulisan sesuai dengan EYD;
4) judul dapat menggunakan ragam bahasa;

3.5.1.2 Informasi Tokoh
Tokoh dan penokohan secara struktur harus dituliskan dalam naskah drama. Ketepatan dalam pemilihan tokoh dan penokohan diperlukan guna mencapai keterpaduan dengan unsur-unsur intrinsik lainnya. Informasi tokoh dan penokohan dapat diketahui dengan menggunakan berbagai cara, diantarnya ada dalam penggambaran dialog antartokoh dan kramagung atau tata lakuan tokoh.
3.5.1.3 Kramagung
Kramagung merupakan petunjuk gerak untuk pemain yang biasanya diletakkan di antara dua tanda kurung. Kramagung atau tata lakuan tokoh harus ditulis dengan rinci dan merupakan petunjuk utama bagi tokoh untuk menghidupkan sebuah drama. Kramagung sangat penting untuk pementasan drama, sedangkan dalam naskah drama kramagung berfungsi sebagai bahan imajinasi bagi pembaca, sehingga pembaca dapat ikut merasakan dan membayangkan suasana yang dituliskan dalam naskah drama.

3.5.1.4 Babak dan Adegan
Dalam naskah drama pembagaian babak dan adegan harus secara struktur dituliskan. Hal ini disebabkan karena naskah drama sangat terfokus pada dialog antar tokoh, sehingga pembagian babak dan adegan kadang tidak terlalu terlihat, terlebih jika alur yang digunakan adalah alur campuran yang menggunakan banyak latar. Download ptk bahasa indonesia sma doc 

3.5.2 Kelengkapan dan Keterpaduan Unsur Intrinsik
3.5.2.1 Alur, tokoh, latar
Alur, tokoh, dan latar dapat menimbulkan adanya konflik dalam sebuah naskah drama. Alur merupakan rangkaian peristiwa dengan latar tertentu yang akhirnya mempertemukan tokoh satu dengan lainnya. Perbedaan latar serta alur yang terus berjalan menimbulkan pertentangan antartokoh dalam naskah drama. Pemaparan alur, tokoh, dan latar dalam naskah drama dituliskan dengan cara sebagai berikut:
1) Alur: alur yang dapat digunakan adalah alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
2) Tokoh: penamaan dan perwatakan tokoh harus disesuaikan dengan cerita.
3) Latar : latar dapat disisipkan pada kramagung dan dialog antartokoh. 

3.5.2.2 Sarana cerita
Sarana cerita yang dapat digunakan oleh siswa beraneka ragam. Dalam penulisan naskah drama remaja, bahasa keseharian dan bahasa sleng biasanya dipakai dalam dialog. Gaya bahasa kiasan dan majas dapat pula digunakan untuk menambah ragam bahasa yang dituliskan.
3.5.2.3 Pengembangan Tema
Pengembangan tema harus relevan dengan peristiwa-peristiwa dalam naskah drama.

3.5.3 Kelengkapan dan Keterpaduan Struktur Dramatik
Kelengkapan unsur dramatik terdiri dari Eksposisi atau perkenalan, Konflik, komplikasi, klimaks dan Resolusi.
3.5.3.1 Eksposisi
Eksposisi merupakan tahap perkenalan, berupa penejeasan untuk mengantarkan pembaca pada situasi awal drama
3.5.3.2 Konflik
Dalam tahap ini tokoh sudah terlibat dalam persoalan pokok drama. Mulai terjadi insiden (peristiwa), memulai alur drama sebenarnya.
3.5.3.3 Komplikasi
Insiden berkembang dan menimbulkan konflik yang semakin banyak dan ruwet, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda Tanya.
3.5.3.4 Klimaks
Pada tahap ini konflik meencpai puncak dan mencapai ketegangan.
3.5.3.5 Resolusi
Dalam tahap ini, dilakukan penyelesaian konflik. Jalan keluar konflik mulai jelas.

3.5.4 Kesesuaian dan Keterpaduan Penggunaan Bahasa
Pengunaan bahasa dalam naskah drama siswa, diharapkan memuat unsur Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Pada penugasan, siswa ditugasi untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, oleh karena itu kaidah EYD harus diterapkan dalam penulisan naskah drama. Pedoman umum EYD tersebut didapat dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Unsur EYD yang dipakai dalam pembelajaran menulis naskah drama meliputi beberapa hal sebagai berikut:
(a) pemakaian huruf kapital;
(b) penulisan kata;
(c) pemakaian tanda baca;
Penilaian yang dilakukan pada setiap siklusnya mengacu pada kriteria seperti dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.4
Kriteria Penilaian Penulisan Naskah Drama

DOWNLOAD JUDUL-JUDUL PTK BAHASA INDONESIA SMA TERBARU

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Maulida. 2008. Peningkatan Pembelajaran Menulis Naskah Drama Melaui Media Ekranisasi.(Penelitian Tindakan Kelas pada siswa Kelas XI SMA Negeri 15 Bandung tahun Ajaran 2007/2008). Skripsi Sarjana Pendidikan pada FPBS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Arikunto, dkk. 2007. Penelitian tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Harymawan. 1986. Dramaturgi. Bandung : CV Rosda.
Hasanuddin. 2009. Drama : Karya dalam Dua Dimensi. Bandung : Angkasa. Mulyana, Yoyo, dkk. 1998. Sanggar Sastra. Jakarata: Depdikbud.
Noer, Muhammad. 2010. Hypnoteaching for Succes Learning. Yogyakarta: Pedagogia.
Pradopo, Rahmat Joko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Surabaya: Kencana.
Sa’anah. 2010. Penggunaan Model Tandur untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerpen di Kelas X MAN I bandung tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi Sarjana Pendidikan FPBS UPI bandung: tidak diterbitkan.
Syamsudin AR dan Vismaia S. Damaianti. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sufanti, Main. 2010. Strategi Pengajaran bahasa dan Sastra Indonesia. Surakarta: Yuma Pustaka.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M.. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Sumiyadi.2010. Kriteria Penilaian Penulisan Drama. [Online]. Tersedia: http: //perpustakaan.upi.edu/index.php?option=com_wrapper&item id=3 8 [1 Agustus 2011]
Syukur, Freddy Faldi. 2010. Menjadi Guru Dahsyat, Guru Yang Memikat Melalui Pendekatan Teknologi Piki ran Bawah Sadar Hypnoteaching dan NLP. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis. Bandung: Angkasa.
Widaningsih, Nining. 2010. Penggunaan Teknik Drama Kreatif Dalam Pembelajaran Menulis Naskah Drama (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 13 Bandung Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi Sarjana Pendidikan pada FPBS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK BAHASA INDONESIA KELAS XI METODE HIPNOSIS

Postingan terkait: