CONTOH PTK IPS SMP KELAS 9 KOOPERATIF

CONTOH PTK IPS SMP KELAS 9 KOOPERATIF-Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi dan siswa SMPN 2 ... , salah satu hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran IPS adalah mengenai metode pembelajaran yang digunakan tidak efektif. Untuk mengatasinya, peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif metode Numbered Heads Together. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif metode NHT dalam meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas 9.3 SMPN 2 ... .
Hipotesis tindakannya adalah peneliti menerapkan metode NHT pada pelajaran IPS materi Ekonomi, dengan begitu minat dan hasil belajar IPS Ekonomi siswa akan meningkat. Adapun indikator keberhasilannya adalah 75% nilai IPS Ekonomi siswa kelas 9.3 mencapai KKM > 65. Download ptk ips smp kelas 9 doc 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa pretes dan postes, serta instrumen nontes berupa lembar observasi, catatan lapangan, lembar wawancara, dan angket.

Berdasarkan hasil Normal Gain, hasil belajar siswa di siklus II dan III mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil belajarnya di siklus I. Hal ini membuktikan bahwa penerapan metode NHT berhasil belajar IPS Ekonomi siswa SMPN 2 ...  ... . Rata-rata N-gain siklus I adalah 0,4, rata-rata N-gain siklus II adalah 0,5 dan siklus III adalah 0,6 dengan begitu, indikator keberhasilan dalam penelitian telah tercapai karena seluruh siswa kelas 9.3 nilai IPS Ekonomi telah mencapai KKM yang telah ditentukan yakni 65. Berdasarkan hasil analisis angket, minat belajar siswa setelah belajar IPS Ekonomi dengan metode NHT adalah tinggi. Yakni rata-ratanya mencapai 32,72.
Setelah belajar dengan metode NHT, siswa menjadi lebih aktif dan mudah berfikir kreatif serta meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran IPS materi Ekonomi. Motivasi belajarnya pun meningkat, dan lebih menyenangkan.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPS yang diberi judul "PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPS SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE NUMBERED HEADS TOGETHER DI SMP NEGERI 2 ..."Disini akan  di bahas lengkap.




PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPS IX SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 040)

DOWNLOAD PTK IPS SMP DENGAN METODE TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 (I) pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pada sistem pembelajaran masih cenderung bersifat berpusat pada guru, suasana kelas cenderung kaku, para siswa pasif dan lambat dalam meyerap konsep yang disampaikan guru dan guru hanya menerapkan metode pembelajaran ceramah. Pembelajaran yang monoton dan penerapan sistem hapalan kerap membuat siswa menjadi pasif sehingga siswa tidak memiliki rasa ingin tahu, tidak memiliki pertanyaan dan juga tidak tertarik pada hasil pelajaran kondisi yang seperti ini dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dan ada kemungkinan juga dapat digolongkan menjasi salah satu faktor rendahnya belajar siswa. Contoh ptk ips smp doc 

Dalam proses belajar mengajar ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, diantaranya adalah: “(1) karena faktor internal siswa misalnya fisiologi, psikologi, (2) karena faktor eksternal, hal ini dipengaruhi lingkungan alam dan lingkungan sosial dan faktor pendekatan belajar yaitu strategi dan metode dalam proses pembelajaran”. Seseorang yang secara internal memiliki dukungan belajar tinggi, baik kecerdasan, motivasi, bakat, minat serta pemahaman tentunya akan lebih baik lagi jika didukung oleh faktor Studi Kelompok (Study Group). Studi kelompok merupakan usaha perbaikan yang dapat memacu siswa untuk saling berinteraksi antar sesama siswa dan melatih keterampilan intelektual serta menanamkan rasa tanggung jawab siswa.

Keberhasilan suatu pendidikan terkait dengan masalah untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Sebagai seorang guru sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio emosional dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik sosio emosional mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual, mental dan perkembangan kognitif siswa. Perkembangan tersebut sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif dan mampu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil belajar yang diinginkan.

Minat belajar adalah faktor internal atau indogen pada setiap individu yang dapat menunjang belajar siswa. Alisuf Sabri mengatakan bahwa, “minat yang menunjang belajar ialah minat kepada bahan/ mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya.” Karena apabila siswa tidak berminat kepada pelajaran ataupun gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar.
Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar erat hubungannya dengan minat belajar siswa itu sendiri. Siswa akan terlibat aktif dalam proses belajar mengajar apabila memiliki minat yang kuat untuk belajar. Hal ini terjadi karena siswa merasa senang dan tertarik terhadap sesuatu yang melingkupi proses belajar mengajar tersebut.

Dengan demikian, minat itu sangat besar peranannya dalam belajar disekolah. “minat akan berperan sebagai Motivating Force yaitu sebagai kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima kepada pelajaran, mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak ada dorongannya.”

Belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Oleh karena itu, guru dalam mengajar dituntut kesabaran, keuletan dan sikap terbuka di samping kemampuan dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif. Demikian pula dari siswa dituntut adanya semangat dan dorongan untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar pasti terdapat beberapa kelemahan yang mempengaruhi minat dan hasil belajar siswa dan dari hasil observasi ketika peneliti dan wawancara awal diketahui bahwa proses pembelajaran IPS kelas 9.3 SMPN 2 ...  tahun ajaran 2015/2016 ditemukan kelemahan-kelemahan yaitu:

(1) siswa banyak yang tidak mengerti materi yang disampaikan guru, mereka kadang asyik ramai sendiri, (2) konsentrasi siswa kurang terfokus pada pembelajaran IPS, (3) siswa cenderung bosan karena guru hanya menggunakan metode ceramah, (4) tidak adanya keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat sehingga siswa cenderung bersikap pasif, dan (5) keberadaan guru pada waktu pembelajaran kurang mendapat perhatian siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, hambatan yang ditemui pada saat kegiatan belajar mengajar adalah minat belajar siswa kurang, tidak memperhatikan guru, rendahnya hasil belajar siswa dan gaya belajar siswa berbeda-beda sehingga kesulitan untuk menggunakan metode yang cocok.

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota berkerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Pendekatan pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik. Pendekatan pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan bagi siswa untuk bekerjasama menyelesaikan tugas¬tugas akademik teman sebaya, yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Jadi tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.

Menurut Trianto, model pembelajaran kooperatif ada 5 yaitu: (1) Student Teams Achievement (STAD), (2) Teams Games Tournaments (TGT), (3) Jigsaw, (4) Think-Pair Share (TPS), (5) Numbered Heads-Together (NHT). Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan cara mengelompokkan semua ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang. Kesulitan pemahaman materi yang dialami dapat dipecahkan bersama dengan anggota kelompok dengan bimbingan guru. Untuk itu pembelajaran NHT menitikberatkan pada keaktifan siswa dan memerlukan interaksi sosial yang baik antara semua kelompok. Penelitian tindakan kelas ips smp pdf Pembelajaran NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangan jawaban yang paling tepat. Selain itu, pembelajaran NHT juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama siswa.

Pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai 3 tujuan yaitu: hasil belajar akademik, penerimaan tentang keragaman dan pengembangan keterampilan. Pembelajaran NHT mengutamakan kerja kelompok dari pada individual, sehingga siswa bekerja dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk menyalurkan informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Minat dan Hasil Belajar IPS Siswa melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Metode Numbered Heads Together (NHT) di SMPN 2 ...  ... ”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, beberapa masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Metode pembelajaran yang digunakan di dominasi oleh metode ceramah kurang divariasikan dengan metode yang lain.
2. Rendahnya minat dan hasil belajar dalam pelajaran IPS.
3. Siswa kurang memahami materi yang disampaikan guru dalam pelajaran IPS.
4. Siswa kurang memiliki perhatian dalam belajar IPS.
5. Siswa tidak terlibat secara aktif saat belajar IPS.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan agar penelitian ini lebih fokus, maka peneliti akan membatasi pada masalah rendahnya minat dan hasil belajar dalam pelajaran IPS. Untuk itu peneliti akan mengedepankan:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif metode kepala bernomor terhadap minat belajar IPS Ekonomi di SMPN 2 ...  ... .
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif metode kepala bernomor terhadap hasil belajar IPS Ekonomi di SMPN 2 ...  ... 

D. Perumusan Masalah
Rumusan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif metode kepala bernomor terhadap minat belajar IPS Ekonomi di SMPN 2 ...  ... ?
2. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif metode kepala bernomor terhadap hasil belajar IPS Ekonomi di SMPN 2 ...  ... ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk memperoleh gambaran tentang penerapan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dengan metode kepala bernomor (numbered heads together) untuk meningkatkan minat belajar IPS Ekonomi siswa di SMPN 2 ...  ... .
2. Untuk memperoleh gambaran tentang penerapan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dengan metode kepala bernomor (numbered heads together) untuk meningkatkan hasil belajar IPS Ekonomi siswa di SMPN 2 ...  ... .

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk: contoh ptk ips geografi doc
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan, pengetahuan tentang metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
b. Memberikan informasi tentang penerapan pembelajaran kooperatif khususnya dengan metode kepala bernomor untuk meningkatkan minat dan hasil belajar IPS siswa.
c. Dapat menjadi dasar bahan kajian untuk penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam tentang permasalahan yang terkait.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, dapat memberikan motivasi dalam belajar dan dapat mengembangkan nilai dan sikap ilmiah sebagai peningkatan hasil belajar.
b. Bagi guru, dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran agar dapat tercipta suasana pembelajaran yang efektif dan bermakna.
c. Bagi sekolah, dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam rangka perbaikan mutu pendidikan sehingga diharapkan hasil belajar IPS siswa lebih baik.
d. Bagi peneliti, memperluas wawasan dan pengalaman peneliti tentang penerapan metode alternatif dalam pembelajaran IPS
e. Bagi pembaca, dapat dijadikan bahan informasi untuk membuka wawasan tentang penggunaan metode NHT.

DOWNLOAD PTK IPS SMP KELAS 9 METODE NUMBERED HEADS TOGETHER

BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN


A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti
1. Hakikat pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning)
a. Definisi Pembelajaran kooperatif
Secara etimologi, dalam bahasa Inggris, kooperatif (to cooperate) berarti bekerja bersama-sama. Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Posamentier secara sederhana menyebutkan cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah “penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas”.

Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. “Cooperative learning juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok”. Download ptk ips smp pdf

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok¬kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.

Jadi pembelajaran kooperatif adalah suatu variasi pembelajaran dimana siswa belajar, bekerja dan berinteraksi dalam kelompok¬kelompok kecil. Di dalam kelompok-kelompok tersebut siswa saling bekerja sama, saling membantu, berdiskusi dan berargumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, baik dalam tutorial sebaya, latihan maupun koreksi teman sebaya. Selain kelompok belajar kooperatif, ada beberapa kelompok belajar tradisional yang sering diterapkan disekolah, seperti kelompok diskusi, kelompok tugas dan kelompok belajar lainnya.

b. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
1. Siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka “ sehidup sepenanggungan bersama”
2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti mereka sendiri.
3. Siswa harus melihat bahwa semua anggota dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5. Siswa akan dikenakan evaluasi dan juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar secara kelompok bersama temean-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

d. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Apabila diperhatikan secara seksama, maka pembelajaran kooperatif ini mempunyai ciri-ciri tertentu dibandingkan dengan metode lainnya. Ciri-ciri tersebut yaitu :
1). Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar; 2). Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; 3). Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam; 4). Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu

e. Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa antara lain:
1). Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; 2). Rasa harga diri menjadi lebih tinggi; 3) Memperbaiki sikap terhadap IPS dan sekolah; 4). Memperbaiki kehadiran; 5). Angka putus sekolah menjadi rendah; 6). Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar; 7). Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil; 8). Konflik antar pribadi menjadi berkurang; 9). Sikap apatis berkurang.

f. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam tahapan (langkah utama) dalam pembelajaran kooperatif, seperti ditunjukkan tabel 2.1 berikut ini:
Tabel 2.1
Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif


Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif di dorong dan dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama. Mereka mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.

2. Hakikat Metode Kep ala Bernomor (Numbered Heads Together) 
a. Definisi Pembelajaran dengan Metode NHT
Metode pembelajaran adalah “cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok”.15 Syaiful Bahri Djamarah mendefinisikan bahwa metode adalah “ suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan”.16 Dalam kegiatan belajar mengajar metode sangat diperlukan oleh guru, dan penggunaannya bervariasi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Metode belajar mengajar kepala bernomor (Numbered Heads Together) dikembangkan oleh Spencer Kagan. Pembelajaran kooperatif metode NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen pada tahun 1993.17 “Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat. Selain itu, metode ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Download ptk ips smp kelas 9 doc  Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik”.18 Semua siswa dilibatkan dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut.

Dengan metode kepala bernomor yang merupakan salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif memungkinkan terwujudnya kondisi belajar di mana siswa dapat mengembangkan berbagai kemampuan dalam bersosialisasi, belajar mandiri dan bekerja sama.

b. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Metode NHT
Langkah-langkah yang digunakan dalam metode NHT pada pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Penomoran
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok secara heterogen yang terdiri dari 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor.
2) Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi dan dalam bentuk kalimat Tanya. Siswa diberi waktu berfikir dan bekerja.
3) Berfikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

4) Menjawab
Guru memanggil salah satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan menjawab pertanyaan. 
Adapun penerapan metode kepala bernomor seperti dikatakan Anita Lie adalah sebagai berikut:
1). Siswa dibagi ke dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapatkan nomor; 2). Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya; 3). Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini; 4). Guru memanggil salah satu nomor, siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja mereka. 

c. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran dengan Metode NHT
Kelebihan-kelebihan pembelajaran dengan metode NHT adalah:
1) Memberikan motivasi, yaitu mendorong siswa untuk beraktivitas dalam kegiatan belajarnya. Dengan demikian siswa akan termotivasi dengan hal-hal yang baru dalam proses pembelajaran.
2) Menambah rasa percaya diri, karena dalam pembelajaran NHT ada metode pemanggilan nomor, dan siswa yang dipanggil nomornya akan menjawab pertanyaan hasil diskusi, sehingga dalam diri siswa timbul rasa percaya diri.
3) Siswa aktif, dengan metode NHT akan menambah keaktifan siswa dalam belajar, karena setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberi dan menukar pendapat.

Adapun kekurangan pembelajaran dengan metode NHT adalah:
1) Efisiensi waktu, belajar dengan menggunakan metode NHT memerlukan waktu yang agak panjang agar siswa memahami materi yang diajarkan.
2) Membuat panik siswa, pembelajaran dengan metode NHT tidak hanya membuat siswa percaya diri, namun dapat membuat siswa grogi atau panik. Hal ini terlihat ketika siswa yang dipanggil nomornya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
3) Membuat repot guru, metode NHT merupakan metode belajar diskusi kelompok yang menggunakan kelompok, sehingga sebelum pembelajaran dimulai guru harus menyediakan nomor.

3. Minat Belajar
a. Pengertian Minat Belajar
Pengertian minat belajar terdiri dari dua suku kata, yakni kata minat dan belajar. Dari segi bahasa minat adalah “kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu”. Minat merupakan salah satu faktor psikis yang membantu dan mendorong individu dalam memberi stimulus suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Dalam minat terdapat 3 unsur penting, yaitu unsur kognisi berupa informasi dan pengetahuan menganai obyek yang dituju, unsur emosi atau afeksi berupa rasa senang terhadap obyek, dan unsur konasi berupa kemauan atau hasrat untuk melakukan sesuatu.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecendrungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat secara terus menerus terhadap sesuatu (orang, benda, kegiatan) yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari serta membuktikannya lebih lanjut.
Adapun definisi belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. “Perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri”. Contoh ptk ips smp doc 

b. Macam-macam Minat Belajar
Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain berdasarkan timbulnya minat dan berdasarkan arahnya minat.
1. Berdasarkan timbulnya, minat dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a) Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks.
b) Minat sosial adalah minat yang timbulnya karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan kita sendiri. Misalnya minat belajar, individu punya pengalaman bahwa masyarakat atau lingkungan akan lebih menghargai orang-orang terpelajar dan pendidikan tinggi, sehingga hal ini akan menimbulkan minat individu untuk belajar dan berprestasi agar mendapat penghargaan dari lingkungan, hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi harga dirinya.

2. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a) Minat intrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktifitas itu sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar. Misalnya, seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan tau karena memang senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian atau penghargaan.
b) Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada kemungkinan minat tersebut hilang, misalnya seseorang yang belajar dengan tujuan agar menjadi juara kelas.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat belajar
Keberhasilan suatu pendidikan ditentukan oleh proses pendidikan, karena pada proses pendidikan diperlukan peran siswa secara aktif. Sementara itu, keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar erat kaitannya dengan kondisi minat belajarnya. Minat belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan diri siswa meliputi kondisi fisik dan psikisnya. Kondisi fisik yang dimaksud adalah kondisi yang berkaitan dengan keadaan jasmani seperti kelengkapan anggota tubuh, kenormalan fungsi organ tubuh serta kesehatan fisik dari berbagai penyakit.

Faktor intern yang lain yang mempengaruhi minat belajar adalah faktor psikis, yaitu kondisi kejiwaan yang berkaitan dengan perasaan atau emosi, motivasi, bakat, inteligensi, dan kemampuan dasar dalam suatu bidang yang akan dipelajari. Penelitian tindakan kelas ips smp pdf
“Perasaan merupakan keadaan-keadaan sesaat pada individu yang muncul ketika terpadu secara pribadi dengan situasi yang ditempatinya”. Menurut Wundt sebagaimana dikutip oleh Sarlito W. Sarwono dalam buku Pengantar Psikologi Umum bahwa ada tiga pasang kutub perasaan, yaitu: “ a.) Lust-unlust (senang-tidak senang), b.) Spanning-Losung (tegang-tidak tegang), c.) Erregung-Berubigung (semangat-tenang)”.

Minat belajar yang tinggi dipengaruhi oleh adanya perasaan senang terhadap mata pelajaran tertentu, guru yang mengajar, dan lingkungan di mana proses belajar mengajar tersebut diselenggarakan. Siswa yang memiliki perasaan positif (senang dan menerima) terhadap mata pelajaran yang akan dipelajari dan kepada guru yang mengajar, maka ia akan tergerak untuk belajar. Sebaliknya, siswa yang memiliki perasaan negatif (tidak senang dan menolak) terhadap mata pelajaran dan guru yang mengajar maka ia akan tergerak untuk menghindari belajar.

4. Hakikat Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Ada pula sebagian yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti tampak pada latihan membaca dan menulis. Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya Education Psycology The Teaching Leaning Proses, berpendapat bahwa “ belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif”.

Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik.

Hasil belajarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Hasil belajar adalah tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuh.
Hasil belajar dapat diketahui dari evaluasi yang diadakan. Evaluasi atau penilaian hasil belajar merupakan usaha guru untuk mendapatkan informasi tentang siswa, baik kemampuan penguasaan konsep, sikap maupun keterampilan. Hal ini digunakan sebagai umpan balik yang sangat diperlukan dalam menentukan strategi belajar siswa.

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, adapun faktor-faktor itu digolongkan sebagai berikut:
1) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri, seperti kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat dan sebagainya. Faktor internal disebut juga faktor individual yaitu faktor pada organism (siswa). Muhibbin Syah menyebutkan bahwa “yang termasuk faktor internal adalah aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis mencakup kondisi tubuh siswa termasuk organ tubuh dan kondisi alat indera. Sedangkan aspek psiologis banyak sekali macamnya tetapi yang esensial antara lain kecerdasan (intelegensi), sikap, bakat, minat dan motivasi siswa”.

2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri si anak, seperti keberhasilan rumah, udara yang panas, lingkungan dan sebagainya. Download ptk ips smp pdf Faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, masyarakat dan sekolah. Selama hidup anak didik tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. Interaksi dari kedua lingkungan yang berbeda ini selalu terjadi dalam mengisi kehidupan anak didik. Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha di dalamnya seperti lingkungan sekolah. Sedangkan lingkungan sosial budaya, sebagai anggota masyarakat, anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku anak didik untuk tunduk pada norma sosial, susila dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Seperti dalam lingkungan sekolah maka anak didik berada dalam sistem sosial disekolah.

3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning)
“Faktor pendekatan merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan model yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran”.
Agar bahan pelajaran dapat dipahami oleh siswa maka dibutuhkan cara-cara mengajar serta cara belajar yang tepat, efisien dan efektif. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi hasil belajar siswa yang kurang baik pula. Guru yang progresif berani mencoba metode-metode baru yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan motivasi siswa dalam belajar.

Hubungan antara satu faktor dengan faktor lainnya sangat erat kaitannya dan bersifat saling mendukung. Dalam faktor internal terdapat faktor psikologis dan fisiologis siswa yang didukung oleh faktor eksternal dan pendekatan belajar. Oleh karena itu, lingkungan yang merupakan bagian dari faktor eksternal dan metode belajar yang merupakan bagian dari pendekatan belajar perlu diperhatikan dengan seksama dalam penerapannya. Hal ini dimaksudkan agar hasil belajar yang akan dicapai dapat diperoleh dengan maksimal.

5. Hakikat Pendidikan IPS
a. Pengertian Pendidikan IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai ke pendidikan menengah. Dapatlah dinyatakan bahwa IPS yang dimasukkan dalam dalam study ini adalah “suatu mata pelajaran yang mengkaji kehidupan sosial yang bahannya didasarkan pada kajian sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan tata Negara” dengan mendapat sumber materi dari berbagai ilmu sosial”.

Sosial studies atau ilmu pengetahuan sosial (IPS) adalah ilmu¬ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan-tujuan pendidiakn dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah. Dengan demikian bahwa IPS ialah ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan disesuaikan bagi penggunaan program pendidikan di sekolah atau bagi kelompok belajar lainnya yang sederajat.

Materi dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, sejarah, sosiologi, antropologi sosial, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, dan ilmu-ilmu sosial lainnya, dijadikan bahan baku bagi pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah”.
Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.
Adapun tujuan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madasah Tsanawiyah (MTs) pada kelas VII, VIII, dan IX yang terdapat di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi

b. Landasan Pendidikan IPS
Pendidikan IPS sebagai mata pelajaran dan pendidikan disiplin ilmu seyoginya memiliki landasan dalam pengembangan, baik sebagai mata pelajaran maupun pendidikan disiplin ilmu. Landasan ini diharapkan akan dapat memberikan pemikiran-pemikiran mendasar tentang pengembangan struktur, metodologi, dan pemanfaatan PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu. Download ptk ips smp kelas 9 doc 
Landsan-landasan Pendidikan IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu meliputi:
1) Landasan Filosofis, memberikan gagasan pemikiran mendasar yang digunakan untuk menentukan apa obyek kajian atau domain apa saja yang menjadi kajian pokok dan dimensi pengembangan IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu (aspek ontologis).

2) Landasan Ideologis, dimaksudkan sebagai sistem gagasan mendasar untuk member pertimbangan dan menjawab pertanyaan: a). bagaimana keterkaitan antara das sein PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu dan das sollen PIPS; dan b) bagaimana keterkaitan antara teori-teori pendidikan dengan hakikat dan praksis etika, moral, politik dan norma-norma perilaku dalam membangun dan mengembangkan PIP S.
3) Landasan Sosiologis, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan cita-cita, kebutuhan, kepentingan, kekuatan, aspirasi, serta pola kehidupan masa depan melalui interaksi social yang akan membangun teori-teori atau prinsip-prinsip PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu.
4) Landasan Antropologis, memberikan sistem gagasan mendasar dalam menentukan pola, sistem dan struktur pendidikan disiplin ilmu sehingga relevan dengan pola, sistem dan struktur kebudayaan bahkan dengan pola, sistem dan struktur perilaku manusia yang kompleks.

5) Landasan Kemanusiaan, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan karakteristik ideal manusia sebagai sasaran proses pendidikan.
6) Landasan Politis, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan arah dan garis kebijakan dalam politik pendidikan dari PIPS.
7) Landasan Psikologis, memberikan sistem gagasan-gagasan mendasar untuk menentukan cara-cara PIPS membangun struktur tubuh disiplin pengetahuannya, baik dalam tataran personal maupun komunal berdasarkan entitas-entitas psikologisnya.
8) Landasan Religious, memberikan sistem gagasan-gagasan mendasar tentang nilai-nilai, norma, etika, dan moral yang menjadi jiwa (roh) yang melandasi keseluruhan bangunan PIPS, khususnya pendidikan di Indonesia.

c. Tujuan Pendidikan IPS
Pada dasarnya tujuan pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan nilai peserta didik sebagai individu maupun sebagai sosial budaya. Kemudian dalam berbagai buku social studies, sering dijumpai bahwa para ahli merumuskan tujuan IPS dengan mengaitkannya pada usaha mempersiapkan murid atau siswa menjadi warga negara yang baik.

Pengembangan aspek kognitif dapat diupayakan melalui penguasaan materi (Substansi) mata pelajaran IPS yang berasal dari ilmu-ilmu sosial, seperti; sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan tata negara. Oleh karena itu, pemilihan materi IPS yang bersumber pada ilmu-ilmu sosial bukan didasarkan atas pemikiran bahwa materi itu penting dilihat dari disiplin ilmunya, tapi karena penting dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sedangkan untuk pengembangan aspek nilai dan kepribadian dalam pembelajaran IPS perlu diperhatikan bagaimana keterkaitan antara murid atau siswa dengan masyarakat. Tentang bagaimana keterkaitan antara murid atau siswa (pendidikan) dan masyarakat. Oleh karena itu, baik aspek nilai dan kepribadian, pengetahuan, maupun keterampilan yang dibina dan dikembangkan di sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa “IPS bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan nilai peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat, makhluk sosial dan budaya, agar nantinya mampu hidup di tengah-tengah masyarakat dengan baik”.

B. Hipotesis Tindakan
Pelajaran IPS pada materi Ekonomi apabila dilakukan dengan mengembangkan model pembelajaran kooperatif metode numbered heads together akan efektif dalam meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK IPS SMP

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru semester ganjil 2015/2016. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena Penelitian Tindakan Kelas memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas. Adapun waktu penelitian akan dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah SMPN 2 ...  yang beralamat di Jl. ...  Kabupaten ...  untuk mata pelajaran IPS. Tempat penelitian ini diambil karena, jarak yang dekat dengan tempat lokasi penelitian, peneliti pernah mengajar pada Praktek Profesi Keguruan Terpadu (PPKT), dan kepala sekolah memberi apresiasi yang baik terhadap penelitian ini. Contoh ptk ips smp doc 

B. Metode dan Desain Intervensi Tindakan/Rancangan Siklus Penelitian
Penelitian ini menggunkan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau yang lebih dikenal dengan Classroom Action Research. “Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas”.1
Penelitian ini diawali dengan menggunakan penelitian pendahuluan (pra penelitian) dan akan dilanjutkan dengan siklus. Dalam hal ini, yang dimaksud siklus adalah satu putaran kegiatan beruntun yang kembali ke langkah semula, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu:
Tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan (Planning). Rancangan tindakan atau perencanaan tindakan menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
Tahap 2 : Pelaksanaan Tindakan (Acting). Pelaksanaan tindakan yaitu implementasi atau penerapan isi rencana tindakan dikelas yang diteliti.
Tahap 3 : Pengamatan (Observing). Pengamatan yang dilakukan oleh
pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri).
Tahap 4 : Refleksi (Reflecting). Merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. 

Siklus akan berhenti apabila kriteria keberhasilan telah tercapai. Gambaran langkah-langkah yang akan dilakukan dalam tindakan penelitian adalah sebagai berikut.
Gambar 3.1
Disain Interval Tindakan/ Rancangan Siklus Penelitian

Model Penelitian Tindakan Kelas
C. Subjek yang Terlibat dalam Penelitian
Pihak yang terkait dalam penelitian ini adalah peneliti, satu guru IPS dan siswa-siswi kelas 9.3 SMPN 2 ...  Kabupaten ...  semester genap tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 42 siswa.

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian
Peneliti berperan sebagai observer sekaligus guru kelas yang berkolaborasi dengan satu guru IPS sebagai partner (dalam hal ini guru IPS kelas 9.3) untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan peneliti dalam proses pembelajaran Numbered Heads Together pada materi IPS. Sebagai kolabolator yaitu membantu peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melakukan refleksi, serta menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. Sebagai observer yaitu memberi penilaian terhadap peneliti dalam melakukan proses pengajaran dengan menerapkan metode NHT, mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran, dan menilai hasil belajar IPS siswa setelah diberikan pretes dan postes disetiap siklus. Untuk mencapai hasil penelitian yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian, maka dibutuhkan solidaritas yang kuat antara peneliti dengan guru mata pelajaran. Keduanya sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.

E. Tahapan Intervensi Tindakan
Penelitian tindakan diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan (pra penelitian) kemudian akan dilanjutkan dengan siklus I dan siklus selanjutnya hingga mencapai indikator keberhasilan.
Adapun uraian dari tahap-tahap penelitian di atas adalah sebagai berikut:
1. Pra penelitian
a. Pengamatan keadaan kelas
Pada kegiatan ini peneliti pengamatan awal terhadap proses pembelajaran di kelas 9.3 SMPN 2 ...  Kabupaten ... . Waktu pelaksanaan observasi yakni satu minggu sebelum melakukan tindakan.

b. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap guru mata pelajaran dan siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran umum mengenai proses pembelajaran IPS, untuk mengetahui minat dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajara IPS, serta untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran IPS di kelas 9.3.

2. Siklus PTK
1) Tahap Perencanaan
a. Membuat RPP dengan mengintegrasikan penerapan metode numbered heads together.
b. Membuat hand out untuk media belajar siswa.
c. Menyiapkan instrument (tes, lembar observasi, catatan lapangan dan angket).
d. Membuat soal tes Siklus I untuk siswa.
2) Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar IPS pada materi Ekonomi dengan menerapkan pembelajaran metode numbered heads together, kemudian dilanjutkan dengan pemberian tes Siklus.
3) Tahap Observasi
a. Kalaborator mengobservasi proses pembelajaran dengan metode numbered heads together.
b. Peneliti mengamati hasil belajar siswa selama proses pembelajaran lewat aspek-aspek yang ingin diamati.
c. Mendokumentasikan kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa

4) Tahap Refleksi
Mengevaluasi proses pembelajaran Siklus I.
Berdasarkan hasil penelitian siklus I apabila indikator keberhasilan belum dicapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II, dengan hasil refleksi siklus I sebagai acuannya. Penelitian tindakan kelas ips smp pdf Siklus II dan siklus selanjutnya hingga hasil penelitian mencapai indikator keberhasilan. Hasil refleksi dijadikan landasan untuk membuat perencanaan dan pelaksanaan siklus-siklus berikutnya hingga indikator pencapaian dianggap tuntas.

3. Penulisan Laporan Penelitian
F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan
Hasil intervensi tindakan yang diharapkan (indikator pencapaian) dari penelitian ini yaitu:
1. Adanya peningkatan minat belajar siswa pada proses pembelajaran IPS.
2. Adanya peningkatan hasil belajar (pos test dan pre test) siswa pada pelajaran IPS yang dilihat dari ketercapaian KKM. Indikator keberhasilan ketuntasan belajar (hasil belajar) yang diharapkan mecapai presentase 75% dengan nilai KKM > 65.

G. Data dan Sumber Data
Data dan sumber penelitian ini ada dua macam, yaitu:
1. Data kualitatif : hasil observasi guru dalam proses pembelajaran, hasil observasi siswa, hasil wawancara dengan guru mata pelajaran dan siswa, catatan lapangan, serta dokumentasi (berupa foto kegiatan pembelajaran).
2. Data kuantitatif: nilai tes siswa dan angket untuk mengukur tentang minat belajar siswa.
Sumber data diperoleh dari guru mata pelajaran dan siswa-siswi SMPN 2 ...  Kabupaten ... .

H. Instrumen-Instrumen Pengumpulan Data yang Digunakan
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu:
1. Instrument Tes
Tes merupakan alat pengukur data yang berharga dalam penelitian. Tes ialah “seperangkat rangsangan yang diberikan kepada seseorang dengan maksud mendapatkan jawaban-jawaban yang dijadikan penetapan skor angka”.
Lembar tes tertulis ini berupa pre test dan post test soal-soal pada materi IPS berbentuk pilihan ganda. Tes tersebut dalam bentuk tes obyektif jenis pilihan ganda sebanyak 30 soal untuk siklus I dan siklus II dan III 20 soal. Skor yang digunakan untuk soal adalah bernilai 1 (satu) untuk soal yang dijawab benar dan bernilai 0 (nol) untuk soal yang dijawab salah. Tes ini diberikan kepada siswa kelas 9.3 sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Heads Together untuk memperoleh gambaran hasil belajar siswa sebelum dan sesudah aktivitas siswa saat proses pembelajaran.
Tabel 3.2
Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus Pertama

Tabel 3.3
Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus Kedua

Tabel 3.4
Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus Ketiga

2. Insturmen Nontes
a) Lembar Observasi
Observasi adalah “kegiatan pengamatan untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran”. Lembar observasi yang digunakan pada peleitian ini adalah lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dan lembar observasi kegiatan guru. Lembar observasi guru bertujuan untuk melihat konsistensi guru terhadap RPP yang telah dibuat.

b) Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah “catatan yang dibuat oleh peneliti atau mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi terhadap subjek atau objek penelitian tindakan kelas”. Catatan lapangan diperlukan untuk merekam kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung. Catatan lapangan meliputi rencana, tindakan, observasi dan refleksi. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti dapat melakukan perbaikan-perbaikan terhadap rencana awal.

c) Wawancara
Wawancara adalah “metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada subyek yang diteliti”.7 Menurut kunandar wawancara merupakan “ pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian tindakan kelas”. Wawancara dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang ada di sekolah. Wawancara dilakukan untuk mengungkap kebiasaan yang dilakukan oleh guru selama pembelajaran IPS Ekonomi dan hasil belajar yang didapat oleh siswa serta guru dalam mengatasi permasalahan terjadi di kelas.

d) Angket
Kuesioner (angket) merupakan “teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi seperangkat pertanyaan dan pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Angket diberikan kepada siswa setelah berakhirnya penelitian, tujuannya adalah untuk mengetahui minat belajar siswa setelah belajar IPS Ekonomi dengan metode NHT.
Tabel 3.5
Kisi-Kisi Angket
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Metode Numbered Heads
Together Untuk Meningkatkan Minat Belajar IPS Ekonomi

e) Dokumentasi
Dokumentasi yang akan peneliti gunakan adalah dokumentasi foto aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.

I. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi terhadap proses pembelajaran, melakukan wawancara, membuat catatan lapangan, lembar observasi, dokumentasi, menyebarkan angket, dan merekapitulasi nilai hasil belajar yang diperoleh siswa dari tes pada setiap akhir siklus.
Setelah semua data terkumpul, peneliti bersama kolabolator (guru mata pelajaran) melakukan analisis dan evaluasi data untuk membuat kesimpulan mengenai peningkatan hasil belajar siswa, serta kelebihan dan kekurangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan. Download ptk ips smp pdf 

J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) Studi
Validitas data dilakukan untuk menyakinkan diri bahwa data yang diperoleh selama penelitian adalah benar dan valid menggunakan validitas isi (Content Validity). Validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi yang telah diajarkan. Secara teknis pengujian validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrument, atau matrik pengembangan instrumen. Penulis menggunakan validitas instrument tes menggunakan validitas isi yang di ujikan oleh pakar atau dalam hal ini adalah dosen pembimbing yang disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari.

K. Analisis Data dan Interprestasi Hasil Analisis
1. Data Minat Belajar siswa terhadap Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif metode NHT
Pengolahan data hasil jawaban angket siswa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Teknik pengolahan data
Untuk mengelola data dalam penulisan ini, penulis melakukan langkah¬langkah sebagai berikut:
a. Editing yaitu memeriksa kembali jawaban daftar pertanyaan yang diserahkan oleh responden. Kemudian angket tersebut diperiksa satu persatu, tujuannya untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada pada daftar pertanyaan yang telah diselesaikan. Jika ada jawaban yang diragukan atau tidak dijawab, maka penulis menghubungi responden yang bersangkutan untuk menyempurnakan jawabannya.

b. Scoring yaitu merupakan tahap pemberian skor terhadap butir-butir pernyataan yang terdapat dalam angket. Dalam setiap pernyataan dalam angket terdapat 4 butir jawaban yaitu: sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju, yang harus dipilih oleh responden. Maka penulis melakukan perhitungan skor rata-ratanya dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Untuk jawaban yang pertanyaan positif, skornya:
Alternatif jawaban A mempunyai bobot 4
Alternatif jawaban B mempunyai bobot 3
Alternatif jawaban C mempunyai bobot 2
Alternatif jawaban D mempunyai bobot 1
2) Untuk jawaban yang pertanyaan negative, skornya:
Alternatif jawaban A mempunyai bobot 1
Alternatif jawaban B mempunyai bobot 2
Alternatif jawaban C mempunyai bobot 3
Alternatif jawaban D mempunyai bobot 4

c. Tabulating yaitu setelah diketahui setiap indikatornya, maka seluruh data tersebut ditabulasikan dalam sebuah tabel untuk kemudian diketahui perhitungannya.
2. Teknik analisis data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisis secara kuantitatif yang dinamakan deskripsi analisis, yaitu menggambarkan apa adanya. Download ptk ips smp kelas 9 doc
Langkah pertama adalah membuat tabel frekuensi dan kemudian dilengkapi dengan persentase. Dalam hal ini penulis menggunakan rumus sebagai berikut:
Ket: P = Presentase
F = Frekuensi/jumlah yang mengisi
N = Jumlah responden
Setelah didapat hasil presentase dari angket yang disebarkan kepada siswa, maka akan menentukan kategori penilaian dari hasil penelitian tersebut, penulis merumuskan sebagai berikut 11:
Table 3.6
Kategori Penilaian

Selanjutnya, untuk mengetahui minat belajar siswa SMPN 2 ...  terhadap IPS, maka penulis menghitung rata-rata minat belajar tersebut dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Ket : Mx = Mean (rata-rata) yang dicari
∑x = Jumlah dari skor-skor (nilai-nilai) yang ada
N = Number of cases (banyaknya skor-skor itu sendiri). 
Kemudian penulis menentukan kategori penilaian minat belajar tersebut, di antaranya:
Kategori penilaian minat belajar tersebut, diantaranya:
36- 40 : Sangat tinggi
31-35 : Tinggi
26- 30 : Sedang
21- 25 : Rendah

2. Tes Hasil Belajar
Dalam menganalisis data hasil belajar pada aspek kognitif atau penguasaan konsep menggunakan analisis deskriftif dari setiap siklus dengan menggunakan gain skor, nilainya selisih antara nilai pretes dan postes dibagi dengan kenaikan skor maksimum, gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru.
Untuk mengetahui peningkatan skort pre test dan post test menggunakan rumusan Normalized Gain.

Untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa mengalami peningkatan atau tidak maka digunakan kriteria sebagai berikut:
Kategori: Tinggi : g>0.7
Sedang : 0,3<g<0,7
Rendah : g<0,3

3. Data Observasi
a. Data observasi kegiatan guru
Data hasil ukur kegiatan guru diolah secara kualitatif. Skor rata-rata kegiatan guru akan dibagi menjadi lima kategori skala ordinal, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, kurang sekali seperti klasifikasi pada tabel 3.7
Tabel 3.7 Klasifikasi kegiatan guru

Data yang diperoleh dari observasi merupakan data kualitatif dan diskonversi ke dalam bentuk penskoran kuantitatif berdasarkan jumlah siswa yang memunculkan tiap indikator. Pada pengelolaan data ini digunakan rumus:
Keterangan:
P = angka presentasi
F = Frekuensi nilai yang memunculkan indikator. 
N = Jumlah nilai keseluruhan.
Adapun kriteria pengujian:
P = 80%-100% = Sangat baik
P = 70%-79% = Baik
P = 60%-69% = Cukup
P = 50 %-59% = Kurang
P = 0%- 49% = Sangat kurang

CONTOH JUDUL PTK IPS SMP TERBARU

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999.
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Reneka Cipta, 2004.
Ahmadi, Abu, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: PT Asadi Mahasatya, 2003.
Arikunto, Suharsimi dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.4, 2003.
DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, cet. Ke-3, 2003.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2002.
Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Hamdani, Nizar Alam, dan Dody Hermana, Classroom Action Research, Bandung: Rahayasa, 2008.
Ibrahim, Muslimin dkk., Pembelajaran Kooperatif, Surabaya: University Press, 2001.
Isjoni, Cooperative Learning; Efektivitas Pembelajaran Kelompok, Bandung: Alfabeta, 2010.
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Lie, Anita Cooperatif Learning, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002.
Lie, Anita Cooperative Learning; Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang Kelas, Jakarta: Gramedia, 2003.
Melly Delvianita, Penerapan pembelajaran Konstruktivisme model Learning Cycle untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep
Struktur Organ Tumbuhan, “ Jurusan Pendidikan IPA Fakultas FITK UIN Jakarta, 2008.
Mulyasa, E,. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung:Remaja Rosda Karya, 2009.
Nadlir, dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial 1, Surabaya: LAPIS-PGMI, 2009.
Nurdin, Syafruddin, Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam KBK, Tangerang: Quantum Teaching, 2005.
Nurwan, Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Materi Limit Fungsi Al Jabar ,Laporan Penelitian Dosen Muda Jurusan Matematika Fak. Matematika dan IPA UN Gorontalo, 2008.
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Sabri, Ahmad, Strategi Belajar Mengajar; Micro Teaching, ... : ...  Press, 2010.
Sabri, Alisuf, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007.
Sapriya, dkk, Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS, Bandung: UPI Press, 2006.
Sapriya, Pendidikan IPS, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010.
Sarwono,Sarlito Wirawan, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta : Bulan Bintang, 2000.
Shaleh, Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab. Psikologi suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta:Prenada Media.2004.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Soemanto,Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT.Rineka Cipta, Cet. 5, 2006.
Solihatin, Etin dan Raharjo, Cooperative Learning ; Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta: Bumi Aksara,2008)
Subri, M. Alisuf, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007.
Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosda Karya, 2009.
Sugiyono, Metode Penilitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung: Alfabeta,2010.
Supardi, Ahmad dan Wayudin Syah, Metodologi Riset, Bandung: IAIN SGD, 1984.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Bandung: Rosda Karya, 1999.
Trianto, Mendesain Pembelajaran Inovatif Progresif, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivitistik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007.
Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Sinar Grafika, 2003.
Uno, Hamzah B. Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Usman, Moh Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Wena, Made Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009.
Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo, 1996.
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, Cet 1, 2009.
http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-nht-numbered¬head-together/, 12 oktober 2010 jam 12.48.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK IPS SMP KELAS 9 KOOPERATIF

Postingan terkait: