DOWNLOAD PTK PENJAS KELAS XI LENGKAP

DOWNLOAD PTK PENJAS KELAS XI LENGKAP-Hand stand merupakan salah satu materi senam lantai yang diajarkan di sekolah Menengah Kejuruan. Akan tetapi, kenyataannya dalam proses pembelajaran belum terlaksana secara optimal dikarenakan siswa kurang jelas dalam menerima materi dari guru, dan merasa contoh gerakan yang diberikan terlalu cepat sehingga siswa kesulitan dalam memahami materi. Hal tersebut berpengaruh pada hasil belajar siswa, maka perlu adanya media alat bantu pembelajaran sebagai sarana penunjang belajar siswa. Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah pembelajaran handstand menggunakan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar handstand siswa kelas SMAN ...  Tahun Ajaran 2014/2015?”.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penggunaan media audio visual dalam meningkatkan hasil belajar handstand siswa. Download ptk penjas sma doc
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pengamatan dilapangan yang dilakukan oleh evaluator dan kuesioner siswa. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan rumus yang ada oleh evaluasi kolabolator yaitu guru penjas bersama peneliti.

Data dari pengamatan psikomotor diperoleh hasil pada siklus I rata-rata mencapai 66% (kurang baik) dan mengalami kenaikan pada siklus II mencapai 75% (cukup baik), hasil dari kedua siklus tersebut kemudian dianalisis dengan rumus Hake’s Normalized Gain dan mengalami peningkatan sebesar 0,2 dengan kriteria rendah. Data hasil pengamatan afektif pada siklus I mencapai 77%(cukup baik) pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 84% (baik), setelah dianalisis dengan rumus Hake’s Normalized Gain dan mengalami peningkatan sebesar 0,3 dengan kriteria sedang. Dari hasil pemahaman siswa (kognitif) pada siklus I mencapai 79% (kualifikasi cukup) pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 87%% ( baik), setelah dianalisis dengan rumus Hake’s Normalized Gain dan mengalami peningkatan sebesar 0,3 dengan kriteria sedang.
Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar handstand siswa. Oleh karena itu diharapkan bagi guru penjasorkes di SMAN ...  dapat menggunakan media audio visual dalam pembelajaran handstand. Pembelajaran dengan mengunakan media audio visual juga dapat dijadikan alternatif sistem pengajaran agar suasana pembelajaran selalu menyenangkan sesuai tujuan dalam pembelajaran PAIKEM.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas PENJAS SMA yang diberi judul MENINGKATKAN HASIL BELAJAR HANDSTAND DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL PADA SIS WA KELAS XI IPA 1 SMAN ... SEMESTER II TAHUN AJARAN 2014/2015". Disini akan di bahas lengkap.



PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PENJAS SMA KELAS XI lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 039).

CONTOH JUDUL PTK PENJAS SMA TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan sosial, penalaran stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan hidup bersih melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan termasuk salah satu upaya untuk mewujudkan manusia seutuhnya yang diselenggarakan di sekolah baik dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah.

Senam ketangkasan merupakan salah satu materi yang diajarkan di SMAN ... . Hal tersebut sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada silabus penjasorkes kelas XI IPA 1 semester 2 di SMA tersebut. Salah satu materi senam ketangkasan yang diajarkan di sekolah dasar tersebut ialah pembelajaran hanstand. Contoh ptk penjas sma kelas xi pdf 
Handstand merupakan salah satu materi senam yang penguasaan rangkaian keterampilan geraknya dilakukan secara berurutan. Inti dari gerakan ini adalah bentuk sikap berdiri dengan tumpuan kedua belah tangan. Namun, bagi siswa yang tidak memiliki keberanian dan penguasaan keterampilan dan pengertian dalam melakukan gerakan hand stand yang baik dan benar maka akan mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan tersebut. Hal ini dikarenakan siswa yang kurang bisa menangkap dengan jelas penjelasan dan contoh yang diberikan oleh guru, sehingga pada saat melakukan masih mengalami kesulitan.

Salah satu upaya dalam mengatasi kesulitan tersebut ialah dengan memberikan materi dengan bentuk audio visual dengan tujuan siswa dapat melihat dan mengamati gerak “handstand” yang sudah dimodifikasi agar siswa mudah dalam memahami setiap gerakan yang dilakukan. Tampilan audio visual ini dikemas dalam bentuk yang sederhana supaya siswa dapat benar-benar memperhatikan urutan, cara pemanasan, awalan, posisi handstand dan pendaratan yang benar. Dengan tampilan yang diperlambat ataupun diperjelas dalam pelaksanaannya dapat memudahkan siswa dalam mencermati setiap gerakan yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Dalam sisi lain penggunaan media ini dapat menjadi pelengkap dalam pembelajaran dan sebagai peralihan model peraga agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan dalam setiap pembelajaran yang dilakukan.

Sebelumnya, peneliti telah melakukan observasi awal yaitu d SMAN ... . Berdasarkan hasil observasi tersebut diperoleh data awal sebagai berikut:
1. Siswa masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran senam lantai khususnya materi handstand
2. Siswa kurang jelas dalam menerima materi dan merasa pemberian contoh gerakan yang diberikan oleh guru terlalu cepat, terutama untuk gerakan yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dalam melakukannya.
3. Siswa kurang bisa mengamati secara jelas dan perlahan tentang urutan, cara pelaksanaan dan kejelasan gerak yang dicontohkan oleh guru

4. Tidak sedikit siswa yang enggan mencoba gerakan untuk kedua kalinya manakala ia gagal dalam melakukan gerakan pada kesempatan pertama. Hal ini mungkin disebabkan keberanian siswa yang kurang karena rasa takut jika ia gagal dan terjatuh dalam melakukan gerakan dan belum mengertinya langkah dalam melakukan gerak rangkaian handstand yang baik dan efisien
5. Kesulitan tersebut diatas diatasi dengan cara guru memberikan bantuan, namun hasilnya masih jauh dari harapan.
6. Dari 37 jumlah siswa kelas XI IPA 1 yang tuntas dalam pembelajaran handstand hanya 16 siswa atau sekitar 43%. Siswa yang dikatakan tuntas ialah siswa yang mampu memenuhi KKM 70. KKM 70 ini sesuai dengan KKM penjasorkes untuk kelas XI IPA 1 SMAN ...  tahun 2015.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru penjasorkes SMAN ...  diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran, selain memberikan materi berupa penjelasan tentang cara melakukan, guru juga memberikan contoh. Dalam praktek pembelajaran guru mengamati sambil membenarkan gerakan siswa yang masih salah, tidak jarang juga guru memberikan bantuan kepada siswa agar dapat melakukan gerakan tersebut. Namun demikian, upaya yang telah dilakukan guru hasilnya masih belum maksimal. Download ptk penjas sma pdf Siswa masih belum mampu melakukan gerak rangkaian hand stand, kalaupun bisa gerakannya masih kaku, kaki belum lurus dan kadang siswa masih merasa takut untuk mencoba kembali. Selain itu, di sekolah tersebut belum pernah dilakukan modifikasi pembelajaran handstand.

Penyebab masalah belajar dapat bersumber dari faktor internal dan eksternal, faktor dari dalam individu sendiri atau internal, misalnya motivasi dan antusiasme siswa terhadap materi pembelajaran. Sedangkan faktor ekternal seperti media dan metode yang digunakan oleh guru. Hal tersebut mempengaruhi partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan suatu tindakan yang mampu melibatkan peran aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Dari permasalahan tersebut penulis ingin melakukan pendekatan dengan mengunakan penelitian tindakan kelas. Dimana tindakan tersebut sangat efektif untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran.

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran handstand, maka penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Handstand Dalam Pembelajaran Penjasorkes Melalui Media Audio
Visual Pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN ...  Tahun Ajaran 2014/2015”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penulisan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar handstand siswa kelas XI IPA 1 SMAN ...  Tahun Ajaran 2014/2015 ?”

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pembelajaran hand stand menggunakan media audio visual dalam meningkatkan hasil belajar guling depan siswa kelas XI IPA 1 SMAN ...  Tahun Ajaran 2014/2015.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut : 
1.4.1 Bagi Peneliti
1) Sebagai pengalaman dibidang penelitian dalam memodifikasi pembelajaran penjas.
2) Sebagai dasar untuk mengembangan hasil penelitian di masa yang akan datang.
3) Sebagai bagian persyaratan untuk menyelesaikan studi strata satu. 
1.4.2. Bagi Guru Pendidikan Jasmani
1) Untuk mendorong dan memotivasi guru dalam membuat dan mengembangkan media bantu pembelajaran dalam rangka perancangan pembelajaran PAIKEM.
2) Sebagai bahan pertimbangan dan pedoman dalam pembelajaran handstand.
3) Sebagai bahan masukan guru dalam memilih alternative pembelajaran yang akan dilakukan guna meningkatkan kualitas belajar peserta didik.

DOWNLOAD PTK PENJAS KELAS XI DENGAN MATERI HAND STAND

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS


2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian Penjasorkes
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara saksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap siswa (Samsudin, 2008:2).

Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan (penjasorkes) adalah kelompok mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atau kejuruan melalui aktivitas fisik. Penjasorkes diharapkan dapat mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai, serta pembiasaan hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Pada dasarnya pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasamani dan sekaligus merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan kemampuan jasmani. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Download ptk penjas sma pdf Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek jasmani saja, akan tetapi juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual.

2.1.2 Tujuan Penjasorkes
Pada dasarnya penjasorkes merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan sekaligus merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan kemampuan jasmani, oleh karna itu tujuan yang ingin dicapai melalui penjasorkes mencakup pengembangan individu secara menyeluruh, artinya cakupan penjasorkes tidak hanya pada aspek jasmani saja, akan tetapi juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual. Penjasorkes bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga terpilih.
2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang baik.
3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
4) Meletakan landasan dasar karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai¬nilai yang terkandung di dalam penjasorkes.

5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis.
6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga dilingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif ( Depdiknas, 2006:195).

2.1.3 Ruang Lingkup Penjasorkes
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan meliputi aspek-aspek yaitu permainan dan olahraga meliputi olahraga tradisional, permainan, eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis dan bela diri, serta aktivitas lainnya; Aktivitas pelayanan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya; Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya; Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.

2.1.4 Belajar
Belajar menurut Bigge (1982) yang dikutip Amung Ma’mun (2000 : 42) ialah perubahan yang bertahan lama dalam kehidupan individu dan tidak dilahirkan atau didahului oleh warisan keturunan. Sedangkan menurut Mayer (1987) yang dikutip Amung Ma’mun (2000 : 40) menyatakan bahwa “belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan dan perilaku seseorang yang disebabkan oleh pengalaman”. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk antara lain perubahan pengetahuan, perubahan pemahaman, perubahan sikap dan tingkah laku, perubahan ketrampilan, perubahan kecakapan, perubahan kebiasaan dan perubahan pada aspek yang ada pada individu yang belajar. Pengertian belajar secara umum ialah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik.

Jadi yang dimaksud dengan belajar ialah adanya perubahan pada diri individu yang sifatnya permanen baik berupa ketrampilan maupun pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman. Sedangkan pembelajaran itu sendiri adalah kegiatan belajar dan mengajar yang saling berhubungan diantara keduanya. Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara siswa dan guru yang mana terjadi perubahan tingkah laku yang bersifat pengetahuan, ketrampilan, serta nilai-nilai sikap. Proses pembelajaran dilakukan untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan aktivitas siswa.

2.1.5 HASIL BELAJAR
Dalam pembelajaran, hasil belajar merupakan tolak ukur dari keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Apabila hasil belajar siswa sudah memenuhi indikator ketuntasan pembelajaran, maka dapat dinyatakan proses pembelajaran telah berhasil. Ketuntasan belajar dapat diperoleh melalui evaluasi yang mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dalam pembelajaran penjas, hasil belajar juga dinilai berdasarkan ketiga aspek terebut. Aspek kognitif bertujuan untuk mengetahui kemampuan penguasaan dan pemahaman materi oleh siswa. Aspek afektif bertujuan untuk mengetahui keadaan mental dan sikap siswa dalam pembelajaran. Sedangkan aspek psikomotor digunakan sebagai ukuran penilaian keterampilan siswa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan jasmani yaitu membentuk pribadi manusia yang sehat secara jasmani dan batiniah.

2.1.6 KETERAMPILAN GERAK
Keterampilan gerak merupakan keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol otot-otot yang ada pada tubuh manusia agar pelaksanaan keterampilan yang sukses dapat tercapai. Keterampilan gerak haruslah dimiliki oleh manusia sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Apabila seorang anak mempunyai keterampilan gerak yang baik, maka dia mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat menguasai kecakapan hidup yang dibutuhkan. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan/olahraga, intemalisasi nilai-nilai (sportivitas, jujur, kerjasama), dan pembiasaan pola hidup sehat. ptk penjas sma doc

Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani melalui pengajaran yang konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosi dan sosial. Selain itu, aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Keterampilan gerak dalam hal ini adalah gerak dalam melakukan Handstand. Sikap rangkaian gerak Handstand yang secara berurutan dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Posisi badan lurus mulai dari tangan, bahu, pinggul sampai dengan ujung kaki dalam satu garis lurus.
2) Posisi siku betul-betul lurus, dorong bahu dengan cara menekan kedua tangan dengan kuat.
3) Kepala tidak diperkenankan tengadah, pandangan lurus ke arah titik antara kedua telapak tangan.
4) Pingggul tidak diperkenankan lenting.
5) Pantat tidak diperkenanan kendor.
6) Lutut ditekan secara maksimal, sehingga posisi kaki lurus.
7) Ujung kaki ditekan secara maksimal, sehingga posisi ujung kaki lurus (runcing) “Biasworo Adisuyanto (2009:100)”.

Selama pembelajaran berlangsung, tugas agar anak menguasai keterampilan gerak dalam melakukan keterampilan senam merupakan tanggug jawab utama dari guru penjas. Tujuan utama dalam mengajarkan keterampilan gerak tersebut adalah pengembangan serta bertindak efektif dan efisien dalam melakukan gerakan handstand bukan untuk mempersiapkan siswa menjadi atlet yang berprestasi. Dalam keterampilan melakukan gerakan senam, performa yang efisien dalam gerakan merupakan tujuan utama dan menjadi efektifitas keterampilan itu. Sebagai patokan, keterampilan pada dasarnya dapat dibagi dalam beberapa kategori.

Tabel 1.
Klasifikasi Keterampilan Gerak
(Samsudin, 2008 : 23)

Peningkatan kemampuan gerak bisa diidentifikasikan dalam bentuk: 1) gerakan bisa dilakukan dengan mekanika tubuh yang makin efisien, 2) gerakan bisa dilakukan semakin lancar dan terkontrol, 3) pola atau bentuk gerakan semakin bervariasi, dan 4) gerakan semakin bertenaga (Sugiyanto, 1993: 119).

2.1.7 SENAM
Senam yang dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai salah satu cabang olahraga, merupakan terjemahan langsung dari bahasa Inggris Gymnasitcs, atau Belanda Gymnastiek. Gymnastics sendiri dalam bahasa aslinya merupakan serapan kata dari bahasa Yunani, gymnos, yang berarti telanjang. Menurut Imam Hidayat (1995) kata gymnastiek tersebut dipakai untuk menunjukkan kegiatan¬kegiatan fisik yang memerlukan keleluasaan gerak sehingga perlu dilakukan dengan telanjang atau setengah telanjang.
Senam ketangkasan juga disebut sebagai senam artistik atau senam pertandingan, karena gerakan dalam senam ketangkasan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam pertandingan baik mengenai sikap pada waktu akan melakukan, keindahan, ketepatan dan keseimbangan pada sikap akhir.

Handstand merupakan salah satu materi senam yang penguasaan rangkaian keterampilan geraknya dilakukan secara berurutan. Biasworo Adisuyanto (2009 : 100-101) berpendapat bahwa keterampilan gerak Handstand diperoleh dari berbagai gerak awalan. Beberapa awalan yang dapat menunjang terjadinya gerak akhir handstand bisa diperoleh dari:
1) Sikap awalan jongkok;
Pelaksanaan keterampilan gerak Handstand dapat diawali dari sikap jongkok dengan kaki rapat. Diawali dari sikap jongkok, letakkan telapak tangan di depan kaki dan kemudian tolak kedua kaki ke atas. Setelah menolak posisikan kaki agar rapat kemudian secara perlahan diluruskan sekaligus tangan dan bahu mengatur keseimbangan tubuh untuk tidak jatuh.

Gambar 1. Rangkaian keterampilan gerak hand stand sikap awal jongkok
(sumber: Biasworo Adisuyanto, 2009:101)
2) Sikap awal berdiri, dengan mengayunkan satu kaki;
Keterampilan gerak Handstand juga dapat diawali dari sikap berdiri. Posisi tangan di atas lurus dan kemudian diturunkan bersamaan dengan kaki kiri melangkah ke depan. Julurkan telapak tangan hingga ke bawah dan kaki kiri ditekuk. Dorong kaki kiri dan ayunkan kaki kanan hingga lurus ke atas, kemudian kaki kiri menyusul kaki kanan hingga rapat.

Gambar 2. Rangkaian keterampilan gerak handstand sikap awal berdiri
dengan mengayunkan satu kaki
(sumber: Sumanto Y; Sukiyo , 1992 : 107)
3) Sikap awal berdiri, dengan mengangkat dua kaki secara bersama-sama (kaki rapat);
Keterampilan gerak dasar Handstand dengan awalan mengangkat dua kaki secara bersama-sama sering dikenal dengan istilah (press to handstand). Gerakan ini lebih sulit dilakukan dari awalan yang sebelumnya karena membutuhkan kekuatan pergelangan tangan, tangan, bahu dan otot perut yang benar-benar kuat. Tanpa ditunjang dengan kekuatan empat komponen tersebut anak didik akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya.

Gambar 3. Rangkaian keterampilan gerak Handstand sikap awal berdiri
dengan mengangkat dua kaki secara bersama-sama (kaki rapat)
(sumber: Biasworo Adisuyanto, 2009:101)
4) Berguling ke belakang kaki lurus;
Pelaksanaan gerak dasar handstand dari awalan roll belakang menyudut membutuhkan kekuatan otot lengan, bahu dan perut serta ketepatan mengatur keseimbangan badan saat melakukan gerak dasar Handstand. diawali dari duduk kaki lurus, kemudian berguling ke belakang dengan posisi kaki tetap lurus. Letakkan tangan di samping kepala dengan ujung jari menghadap ke bahu. Ketika ujung kaki telah melampaui kepala, ayunkan kedua kaki secara bersama ke atas diiringi kedua tangan mendorong dengan kuat. ptk penjas sma pdf Secara otomatis, badan terangkat ke atas. Ketika sudah lurus, kencangkan seluruh tubuh mulai dari tangan sampai dengan ujung kaki sehingga keseimbangan dapat diatasi dengan baik.

Gambar 4. Rangkaian keterampilan gerak Handstand berguling ke belakang kaki lurus

Berkaitan dengan jenis rangkaian keterampilan gerak handstand yang telah dikemukakan di atas, jenis handstand yang akan dipraktikan dalam penelitian ini adalah Handstand sikap awal berdiri dengan mengayunkan satu kaki. Hal ini dikarenakan Handstand sikap awal berdiri dengan mengayunkan satu kaki lebih mudah gerakannya dibandingkan dengan ketrampilan gerak Handstand dengan awalan yang lain. Selain itu, dalam pembelajaran di tingkat sekolah menengah lanjutan sebagai awal diajarkan handstand sikap awal berdiri dengan mengayunkan satu kaki. Akan tetapi, masih banyak dijumpai siswa yang belum bisa melakukan gerakan dengan baik. Dalam melakukan gerakan Handstand ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa, yaitu :
1) Letak kedua tangan dan kepala tida merupakan segitiga sama sisi
2) Ketika meluruskan kaki ke atas tidak dibantu dengan mendorongkan pinggul ke depan secara perlahan
3) Pada saat melakukan tangan masih membengkok, tidak sedikit juga yang
tangannya gemetaran karena posisi tumpuan yang kurang benar.

Kesalahan-kesalahan tersebut di atas harus dihindari pada saat melakukan gerakan Handstand. Salah satu upaya untuk menghindari kesalahan tersebut ialah dengan memberikan bantuan. Cara memberi pertolongan pada siswa yang mengalami kesulitan pada saat melakukan handstand adalah :
1) Berdiri disamping siswa yang akan melakukan.
2) Bagi siswa yang kurang kuat dalam menolak, guru bersiap memegangi pinggul dan membantu menarik pinggul perlahan-lahan ke atas belakang pada saat siswa melakukan tolakan.
3) Ketika siswa sudah bisa mengayunkan kaki ke atas, guru bersiap menangkap pergelangan kaki atau paha siswa.
4) Membantu meluruskan dan menjaga keseimbangan pada saat kaki berada di atas.

Cara memberikan bantuan pada gerakan Handstand sangat penting dipahami oleh seorang guru pendidikan jasmani maupun pembantu gerakan handstand. Pemberian bantuan handstand yang benar akan lebih mempermudah seseorang dalam melakukan handstand. Akan tetapi jika pemberian bantuan justru salah maka akan dapat menimbulkan rasa takut dan cidera pada siswa.

2.1.8 MEDIA PENGAJARAN
Media pengajaran merupakan bagian integral dalam sistem pengajaran. Banyak macam media dapat digunakan, penggunaannya meliputi manfaat yang banyak pula. Penggunaan media harus didasarkan pada pemilihan yang tepat sehingga dapat memperbesar arti dan fungsi dalam menunjang efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar (Muhammad Ali, ).
Media secara harafiah merupakan kata jamak, dari kata medium. Medium berasal dari bahasa latin yang berarti perantara atau pengantar. Beberapa pihak mendefinisikan media dari sudut pandang yang berbeda. AECT (Association for Education and communication) mendefinisikan media sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk memproses penyaluran informasi. Sedangkan NEA (National Education Association) mendefinisikan media adalah segala hal yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta pirantinya untuk kegiatan tersebut. Menurut Gagne (1970) yang dikutip Arief S. Sadiman dkk (2003) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Media yang dimaksud harus dapat menunjang tujuan proses belajar dan juga membantu proses berfikir siswa agar dapat dengan segera memahami informasi yang diberikan.

Media merupakan suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resouce) kepada penerimanya ( receiver) (soeparno : 1988:1). Dalam dunia pengajaran, pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut berupa sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai pembelajar. Maka diselidikilah secara sisematis hal-hal yang berkenaan tentang unsur-unsur pendidikan yakni tujuan, metode penyampaian. Dalam hal penyampaian diperlukan alat-alat bantu yang mendukung proses berlangsungnya pendidikan dibedakan menjadi 2 macam yaitu alat bantu “hardware dan alat bantu software” (Nasution, 2005; 1 yang dikutip Mohammad Arif). Adapun yang dimaksud software atau perangkat lunak adalah semua perangkat pembelajaran dalam pendidikan yang berupa konsep, rencana dan metode serta kurikulum dalam pengajaran. 

Media pengajaran sangat beraneka ragam. Aneka ragam media pengajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Menurut Berts yang dikutip Muhammad Ali, membuat klasifikasi berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu: suara (audio), bentuk (visual) dan gerak (motion). Atas dasar ni Brets membuat delapan kelompok media yaitu:
1) Media audio-motion-visua l, yakni media yang mempunyai suara, ada gerakan dan bentuk obyeknya dapat dilihat. Media semacam ini paling lengkap. Jenis media termasuk kelompok ini adalah televisi, video tape dan film bergerak.
2) Media audio-still-visual, yakni media yang mempunyai suara, obyeknya dapat dilihat, namun tidak ada gerakan. Seperti film-strip bersuara, slide bersuara atau rekaman televisi dengan gambar tak bergerak (television still recordings).
3) Media audio-semimotion, mempunyai suara dan gerakan, namun tidak dapat menampilkan suatu gerakan secara utuh. Seperti tele-writi n g atau teleboard.

4) Media motion-visual, yakni media yang mempunyai gambar obyek bergerak. Seperti film (bergerak) bisu (tak bersuara).
5) Media still-visual, yakni ada obyek namun tidak ada gerakan. Seperti film-strip, gambar, microform, atau halaman cetakan.
6) Media semi-motion (semi gerak), yakni yang menggunakan garis dan tulisan, seperti tele-autograf.
7) Media audio, hanya menggunakan suara. Seperti radio, telephon, audio-tape.
8) Media cetakan, hanya menampilkan simbol-simbol tertentu yaitu huruf (simbol bunyi).

Media yang digunakan dalam pembelajaran handstand adalah media audio visual. Penggunaan media audio visual merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam melakukan handstand. Pembelajaran handstand menggunakan media audio visual pada dasarnya bertujuan agar siswa lebih mudah memahami isi materi yang diberikan serta untuk menarik minat siswa agar lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Download ptk penjas sma doc Dengan menggunakan media audio visual pembelajaran akan menjadi lebih menarik karena media audio visual dapat menyampaikan informasi yang dapat didengar (audio) dan dapat dilihat (visual), sehingga dapat mendiskripsikan suatu masalah, suatu konsep, suatu proses atau suatu prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lengkap dan jelas (Soepartono, 2000:16). Untuk menghidupkan suasana kelas, media tersebut memungkinkan siswa menyentuh obyek kajian pelajaran, membantu siswa mengkonkritkan sesuatu yang abstrak dan membatu guru menghindarkan suasana monoton.

Dengan adanya media pembelajaran audio visual yang menampilkan rangkaian gerak Handstand mulai dari awalan, sikap inti dan sikap akhir yang berupa tayangan rangkaian gerak secara keseluruhan tentunya siswa akan mempunyai landasan pengetahuan tentang gerak apa yang harus ia lakukan dari awal sampai selesai. Penggunaan media tidak hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi materi pelajaran dapat diserap lebih mendalam. Pemahaman siswa akan lebih baik lagi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan atau mengalami melalui media (Soepartono , 2000:17). Ini bisa dilakukan dengan membawa siswa masuk dalam suasana tayangan audio visual sambil diberikan pengarahan oleh pengajar supayasiswa benar-benar menikmati tayangan dan mengilhami isi materi yang disajikan.

2.1.9 KERANGKA BERFIKIR
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan sosial, penalaran stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan hidup bersih melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan termasuk salah satu upaya untuk mewujudkan manusia seutuhnya yang diselenggarakan di sekolah baik dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah dan lanjutan atau kejuruan.

Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan. Namun dalam pelaksanaannyapengajaran pendidikan jasmani belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan era globalisasi serta cara penyampaian yang menarik dan menyenangkan. Suasana pembelajaran yang kondusif tentunya akan menentukan keberhasilan proses pembelajaran tersebut. Dibutuhkan sebuah tindakan yang relevan yang dimaksudkan dapat menunjang tujuan proses belajar mengajar dan juga membantu proses berfikir siswa agar dapat dengan segera memahami informasi yang dimaksud.

Guna menyikapi hal tersebut diatas, penggunaan tampilan gambar, audio visual dan lain sebagainya dapat dijadikan alternatif dalam membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Pembelajaran handstand menggunakan media audio visual diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar handstand siswa kelas XI IPA 1 SMAN ...  tahun ajaran 2014/2015.

2.2 HIPOTESIS
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah “Pembelajaran hand stand menggunakan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar handstand siswa kelas XI IPA 1 SMAN ...  Tahun Ajaran 2014/2015.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK PENJAS SMA LENGKAP

BAB III
METODE PENELITIAN


Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Dalam hal ini pengertian kelas tidak terbatas pada tempat dinding kelas atau ruang kelas, tetapi lebih pada adanya aktivitas belajar dua orang atau lebih peserta didik. Suharsimi Arikunto dkk (2009: 2-3) menjelaskan PTK dengan memisahkan kata-kata yang tergabung di dalamnya, yakni : Penelitian + Tindakan + Kelas, dengan paparan sebagai berikut.
1) Penelitian, menunjuk pada kegiatan mencermati suatu objek, dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2) Tindakan, menunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk siklus kegiatan untuk peserta didik. Tindakan dalam hal ini adalah menyusun RPP. Contoh ptk penjas sma kelas xi pdf 
3) Kelas, dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok peserta didik dalam waktu sama, menerima pelajaran yang sama dan guru yang sama pula.

PTK terdiri atas empat tahap, yaitu planning (Perencanaan), action (tindakan), observation (pengamatan) dan refle ction (refleksi). Dalam bukunya, Agus Krisyanto (2010: 55), empat tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah langkah yang paling awal, yaitu langkah untuk merencanakan tindakan yang telah dipilih untuk memperbaiki keadaan. Pada tahap perencanaan telah tertuang berbagai skenario untuk siklus yang bersangkutan, terutama tentang hal-hal teknis terkait dengan rencana pelaksanaan tindakan dan indikator-indikator capaian pada akhir siklusnya.
Substansi perencanaan pada garis besarnya meliputi beberapa hal terkait dengan: 1) pembuatan skenario pembelajaran, 2) persiapan sarana pembelajaran, 3) persiapan instrument penelitian untuk pembelajaran, dan 4) simulasi pelaksanaan tindakan.

2) Tindakan/Pelaksanaan (action)
Tahap tindakan adalah tahap untuk melaksanakan hal-hal yang telah direncanakan dalam tahap perencanaan. Peneliti utama dan kolaborator harus saling meyakinkan bahwa apa yang telah disepakati dalam perencanaan benar-benar dapat dilaksankan. Hal yang cukup berat adalah menjamin agar seluruh pelaksanaan itu berlangsung secara alamiah.
3) Pengamatan (observation)
Tahap observasi adalah tahap mengamati kejadian yang ada pada saat pelaksanaan tindakan. Observer tidak mencatat semua kejadian, tetapi hanya mencatat hal-hal penting yang perlu diamati dengan memanfaatkan lembar observasi yang sudah disiapkan peneliti. Pengamatan dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan. Pencatatan dilakukan seketika dan tidak boleh ditunda, bahkan pengamatan juga akan menghasilkan hasil analisis seketika.
Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, presentasi, nilai tugas, dan lain-lain) atau data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa dan lain-lain.

4) Refleksi (reflection)
Refleksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk perenungan yang sangat mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi pada akhir siklus merupakan sharingof idea yang dilakukan antara peneliti utama dan kolabolator atas hal yang telah direncanakan, dilaksanakan, dan diobservasi pada siklus tersebut. Refleksi merupakan tahap evaluasi untuk membuat keputusan akhir siklus. Hasil observasi dan analisis pelaksanaan didiskusikan antara peneliti dan kolabolator. Hasil finalnya adalah untuk membuat kesimpulan bersama.
(Sumber: Subyantoro, 2009:27)

Adapun rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1) Siklus Pertama
(1) Perencanaan (Planning
a. Perencanaan dalam penelitian tindakan kelas sangat penting dalam proses pembelajaran, karena di dalamnya terdapat hal-hal tentang pembelajaran.
b. Pembuatan Skenario Pembelajaran. Dalam hal ini, peneliti membuat RPP sebagai dasar skenario pembelajaran dengan indikator ketrampilan melakukan serangkaian gerak Handstand.
c. Persiapan sarana dan sumber pembelajaran. Mempersiapkan media pembelajaran berupa peluit, matras, jam tangan, buku pelajaran senam ketangkasan (handstand) dan modifikasi model pembelajaran audio visual.
d. Persiapan instrumen penelitian untuk pembelajaran. Mempersiapkan instrumen yang sudah dibuat oleh peneliti berupa lembar pengamatan aktivitas siswa (afektif) dan tes praktik (psikomotor) serta kuesioner/soaltes siswa yang digunakan sebagai penilaian kognitif siswa. Instrumen yang berupa lembar pengamatan di lapangan tersebut diberikan kepada guru kolabolator sebelum pembelajaran dimulai. Setelah penelitian selesai, peneliti dan guru kolabolator mendiskusikan hasil dari penelitian tersebut dan merencanakan tindakan selanjutnya, apakah akan mengulang pada siklus kedua atau sudah berhasil hanya di siklus pertama.

(2) Tindakan (action)
a. Guru mempersiapkan siswa di ruang praktek senam sekolah dan membariskannya, kemudian mempresensi siswa.
b. Guru memimpin doa sebelum memulai pembelajaran, kemudian memberi penjelasan kepada siswa tentang materi apa yang akan diberikan serta memberi motivasi kepada siswa.
c. Guru memberikan penjelasan mengenai handstand mengenai tata cara melakukan, urutan dan cara latihan yang benar. Kemudian guru memberikan contoh kepada siswa dengan diikuti siswa mempraktekkannya secara bergantian
d. Setelah melakukan semua, siswa dikumpulkan dan diberian tanya jawab seputar handstand dan kesultan apa yang ditemuinya. Download ptk penjas sma pdf Setelah itu guru menampilkan penjelasan audio visual kepada murid untuk dipahami dan kemudian dipraktekan secara berkelompok 7-10 anak.
e. Kemudian guru memberi instruksi pada siswa untuk mencobanya dengan diawasi guru. Apabila siswa ada yang salah guru langsung mengingatkannya.
f. Pembelajaran diahiri dengan pengambilan nilai prak tek dan pengisann kuesioner test soal.

(3) Pengamatan (observation)
Melakukan pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran
Handstand mulai dari sikap awal, sikap inti dan sikap akhir serta sikap siswa selama pembelajaran berlangsung yang dilakukan oleh guru kolabolator atau pengamat.
(4) Refleksi (reflection)
a. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus pertama.
b. Mengkaji pelaksanaan pembelajaran tindakan siklus pertama.
c. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya.
d. Memperbaiki pelaksanaan tindakan.
e. Merencanakan perencanaan tindak lanjut untuk siklus kedua.

2) Siklus Kedua
Pelaksanaan pada siklus kedua ini sama dengan siklus pertama.
(1) Perencanaan (Planning)
a. Membuat RPP .
b. Persiapan sarana dan sumber pembelajaran berupa peluit, matras, jam tangan, buku pelajaran senam ketangkasan (handstand) dan modifikasi model pembelajaran audio visual.
c. Persiapan instrumen penelitian untuk pembelajaran. Mempersiapkan instrumen yang sudah dibuat oleh peneliti berupa lembar pengamatan lapangan aktivitas siswa meliputi aspek afektifdan psikomotorik. Soal tes siswa digunakan sebagai instrumen penilaian kognitif. Setelah penelitian selesai, peneliti dan guru kolabolator mendiskusikan hasil dari penelitian tersebut dan merencanakan tindakan selanjutnya, apakah akan mengulang pada siklus kedua atau sudah berhasil di siklus kedua.

(2) Tindakan (action)
a. Guru mempersiapkan siswa di ruang praktek senam sekolah dan membariskannya, kemudian mempresensi siswa.
b. Guru memimpin doa sebelum memulai pembelajaran, kemudian memberi penjelasan kepada siswa tentang materi apa yang akan diberikan serta memberi motivasi kepada siswa dengan sedikit menyinggun enjelasan inti materi.
c. Setelah diberikan sedikit penjelasan materi, guru mempraktekkan gerakan materi yang diajarkan. Kemudian siswa mencoba satu persatu secara berganrian.
d. siswa dikumpulkan untuk diberikan pertanyaan tanya jawab seputar materi yang diberikan dan kesulitan apa yang ditemuinya.
e. Guru menampilkan penjelasan audio visual kepada murid untuk dipahami dan kemudian dipraktekan secara berkelompok 7-10 anak.
f. Kemudian guru memberi instruksi pada siswa untuk mencobanya dengan diawasi guru mulai dari gerakan latihan pertama sampai akhir.
g. Apabila siswa ada yang salah, guru langsung mengingatkan dan membetulkan gerakannya.
h. Pembelajaran diakhiri dengan pengambilan nilai dan pengisian angket kuesioner.

(3) Pengamatan (observation)
Melakukan pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran r oll depan mulai dari sikap awal samapai sikap akhir serta sikap siswa selama pembelajaran berlangsung yang dilakukan oleh guru kolabolator/pengamat.
(4) Refleksi (reflection)
a. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus kedua.
b. Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan siklus kedua.
c. Evaluasi tindakan II
Sedangkan Indikator keberhasilan dalam pembelajaran ialah jika siswa mampu memperoleh nilai rata-rata kognitif (menj awab soal tes), afektif dan psikomotor minimal 70 sesuai dengan KKM yang telah ditentukan dan ketuntasan klasikal siswa mencapai 85%.

3.1 Subjek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI IPA 1 SMAN ... , sebanyak 37 siswa.
3.2 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah keterampilan siswa dalam melakukan Handstand menggunakan media audio visual.
3.3 Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2013 sampai dengan selesai. Download ptk penjas sma doc 

3.4 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMAN ... .
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penlitian ini adalah dengan menggunakan :
1) Dokumentasi, yaitu untuk memperoleh data nama siswa kelas XI IPA 1 SMAN ... 
2) Observasi (pengamatan), yaitu untuk memperoleh data keterampilan proses siswa yang berupa lembar observasi (pengamatan) di lapangan. Pengamatan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui keterampilan siswa serta sikap siswa selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan oleh guru penjasorkes dan kolaborator.
3) Angket/Kuesioner, diberikan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa pada terhadap materi pembelajaran handstand (aspek kognitif). Adapun kuesioner/angket yang disusun adalah angket tertutup. Angket tertutup adalah angket yang sudah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih, hal ini akan mempermudah responden dalam menjawab. Angket/kuesioner yang digunakan adalah angket dalam bentuk pilihan ya-tidak, dimana siswa diberikan pertanyaan singkat kemudian siswa mengisi dengan memilih salah satu jawaban yang sudah disediakan.

3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya cermat sehingga lebih mudah diolah.
Agar data yang diperoleh akurat digunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut :
1) Instrumen Pembelajaran
Instrumen pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
(1) SILABUS
Silabus dibuat sebagai pedoman dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran.
(2) Rencana Pelakanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran dibuat dan digunakan ebagai panduan peneliti untuk mengatur jalannya proses pembelajaran.

2) Instrumen Evaluasi
Instrumen evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran berupa tes hasil belajar handstand yang meliputi :
(1) Lembar Observasi (Pengamatan) Lapangan
Adapun hal yang diamati pada aktivitas siswa (kisi-kisi penilaian afektif) sebagai berikut :
Tabel 2.
Pengamatan afektif siswa

Tabel 3.
Penilaian tes praktek (psikomotor)

(2) Kuesioner
Kuesioner digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa (kognitif). Tes yang dibuat merupakan pertanyaan singkat dan siswa menjawab dengan jawaban yang benar. Soal yang dibuat disusun berdasarkan indikator pada tiap siklus.
Tabel 4.
Kisi-Kisi Soal Tes

3) Analisis Data
Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa, dengan mengetahui perbedaan hasil pembelajaran handstand dengan media audio visual (Suharsimi Arikunto, 2006:239).
Jenis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : 
a. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa hasil belajar siswa, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan presentasi ketuntasan belajar dan mean (rerata) kelas.
Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk presentase dan angka.
i. Rumus untuk menghitung persentase ketuntasan belajar (Zainal Aqib, 2008: 41) adalah sebagai berikut :

ii. Rumus untuk menghitung nilai soal test (Muhammad Ali, 1987:184) adalah sebagai berikut:
Dengan : NP = Nilai dalam %
N = Jumlah seluruh nilai / jumlah seluruh data
n = Nilai yang diperoleh
iii. Rumus untuk mengetahui peningkatan hasil belajar adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui adanya peningkatan (gain) pada keterampilan proses yang diamati pada setiap siklus digunakan rumus Hake (Coletta, 2007) dalam skripsi Mukhamad Khamdun (2011: 60) adalah sebagai berikut :
Keterangan :
g (gain) : peningkatan keterampilan siswa
S awal : Rata-rata keterampilan proses awal S akhir : rata-rata keterampilan proes akhir Mengklasifikasikan gain sebagai berikut :
g- tinggi : (g) > 0,7
g- sedang : 0,7 > (g) > 0,3
g- rendah : (g) < 0,3

Apabila gain lebih dari 0,7 maka dapat dinyatakan bahwa peningkatan tinggi (hightgain). Jika gain berada pada kisaran 0,7 - 0,3 maka dikatakan bahwa terjadi peningkatan sedang (middlegain). Contoh ptk penjas sma kelas xi pdf  Namun jika gain berada dibawah 0,3 dinyatakan bahwa peningkatan yang terjadi rendah (log gain).
Penghitungan presentase dengan menggunakan rumus di atas harus sesuai dan memperhatikan kriteria ketuntasan belajar siswa SMAN ...  yang dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu tuntas dan tidak tuntas dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 5.
Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal Penjasorkes

Tabel 6.
Rambu-rambu Analisis Hasil Analisis

(Zainal Aqib, 2011: 53)
b. Data Kualitatif
Data Kualitatif merupakan data yang digunakan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.

PTK PENJAS SMA KELAS XI WORD

DAFTAR PUSTAKA


Adang Suherman. 2000. Dasar-Dasar Pendidikan Jasmani. Jakarta : DEPDIKNAS.
Agus Krisyanto. 2010. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dalam Pendidikan Jasmani dan Kepelatihan Olahraga. Surakarta: UNS Press.
Agus Mahendra. 2000. Sen am. DEPDIKNAS. Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.
Amung Ma’mun, Yudha Saputra. 2000. Perkembangan Gerak dan Belajar G erak. Jakarta : DEPDIKNAS.
Arief S. Sadiman., dkk 2003. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Biasworo Adisuyanto. 2009. Cerdas dan Bugar dengan Senam Lantai. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Depdiknas. 2006. Stand a r I si. Jakarta: Direktorat Jenderal Olahraga dan Lemlit UNESA
Dimyati, Mudjiono. 2009. Belajar dan Pem belajaran. Jakarta : Rineka Cipta. http://www.cheeerleadingsupply.net/cheerleadingsupply04.php.
Imam Hidayat. 1997. B io m eka n i ka. Bandung : FPOK IKIP Bandung.
Mahmudi Sholeh. 1992. Ola hr a g a P ili h a n Sen a m. Surakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Max Darsono. 2000. B elajar Pem belajaran. .......... : IKIP .......... Press. Mohammad Arif. 2010. Teknologi Pendidikan. Kediri: STAIN Kediri Pers.
Muhammad Ali. 1987. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa Bandung.
Mukhamad Khamdun. 2011. PenerapanPermainan Bola TanganM odifikasiTerhadapH asilBelajar Bola TanganM elalui M odel
Panitia Sertifikasi Guru Rayon XII. 2011. Sertifikasi Guru Pendidikan Jasmani (SD) Pendidikian Dan Latihan Profesi Guru (PLPG)Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. .......... : Buku Ajar.
Samsudin. 2008. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP.
Soepartono. 2000. Media Pembelajaran. DEPDIKNAS.
Sugiyanto, Sudjarwo. 1993. Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta: DEPDIKNAS.
Suharsimi Arikunto. 2009. Penelitian Tindakan K elas. Jakarta : PT Bumi Aksara.
. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sumanto Y., Sukiyo. 1992. Sen am. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Zaenal Aqib, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas U ntuk Guru SM P, SM A, SM K. Bandung : Yrama Widya.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTK PENJAS KELAS XI LENGKAP

Postingan terkait: