DOWNLOAD PTK IPA FISIKA DENGAN METODE TGT

DOWNLOAD PTK IPA FISIKA DENGAN METODE TGT-Permasalahan dalam penelitian ini apakah melalui Penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika pada materi pokok gelombang elektromagnetik? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika pada materi pokok gelombang elektromagnetik dapat ditingkatkan. Kemudian dalam proses pembelajaran dilakukan dengan melalui lima komponen utama dalam TGT yaitu: penyajian kelas, kelompok (Teams), permainan (Game), turnamen, penghargaan kelompok (teams recognize). Download proposal ptk fisika sma doc 
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus nya terdiri dari empat tahapan PTK, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-MIA2 SMA Negeri 1 ...

Hasil penelitian dari siklus I ke siklus II, menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar serta aktivitas siswa. Motivasi siswa meningkat dari 65,18% pada siklus I menjadi 79,63% pada siklus II. Sementara itu, hasil ketuntasan hasil belajar kognitif siswa pada siklus I mencapai 91,42% (27 siswa), siklus II mencapai 100% (30 siswa). Hasil ketuntasan aktivitas afektif siswa pada siklus I adalah 80,00% (24 siswa),menjadi 100% (30 siswa)pada siklus II. Hasil ketuntasan Aktivitas psikomotorik siswa pada siklus I adalah 82,85% (25 siswa), menjadi 100% (30 siswa) pada siklus II.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa baik ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT layak dikembangkan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran fisika.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPA SMA yang diberi judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI I ... UNTUK MATERI POKOK GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK". Disini akan di bahas lengkap.



PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPA SMA KELAS X lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMA 036).

CONTOH PTK IPA FISIKA KELAS X SMA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang materi atau zat yang meliputi sifat fisis, komposisi, perubahan, dan energi yang dihasilkannya. Oleh karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini tidak lepas dari ilmu fisika sebagai salah satu ilmu dasar. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seperti telepon selular dan satelit tidak lepas dari aplikasi dari pembelajaran fisika pada materi pokok gelombang elektromagnetik. Perkembangan teknologi yang pesat ini, hendaknya selaras dengan peningkatan mutu sumber daya manusia agar arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menuju sasaran yang tepat. Karenanya seorang guru perlu memperhatikan secara seksama peningkatan mutu sumber daya manusia, khususnya dalam melihat permasalahan¬permasalahan dan perkembangan di dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi awal dan data yang diperoleh dari guru pengampu mata pelajaran fisika kelas X SMA Negeri I ..........., diperoleh informasi bahwa motivasi dan hasil belajar fisika peserta didik di SMA Negeri I ........... pada tahun 2015 khususnya di kelas X-MIA2 masih rendah. Contoh ptk fisika sma pdf Hal ini ditandai oleh minat belajar yang rendah, dan kemampuan dalam proses menghitung rendah, kemampuan menganalisis soal rendah yang berdampak pada tidak tercapainya ketuntasan belajar mengajar. Secara umum aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran fisika masih di bawah rata-rata, seperti pada materi pokok gelombang elektromagnetik. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor siswa dan faktor guru. Dari faktor peserta didik sendiri, hal ini dimungkinkan karena kurangnya minat dan motivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu juga, disebabkan oleh anggapan peserta didik yang menganggap bahwa pelajaran fisika adalah pelajaran yang sulit dan tidak mengasyikkan. Dari faktor guru sendiri, hal ini dimungkinkan karena guru dalam mengajar menggunakan metode pembelajaran yang kurang variatif dan menarik sehingga membuat peserta didik merasa bosan.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe team games tournament (TGT) secara positif mengandung unsur model kompetisi yang dapat menimbulkan rasa cemas yang justru bisa memotivasi siswa untuk meningkatkan kegiatan belajar mereka. Sedikit rasa cemas memang mempunyai korelasi positif dengan motivasi belajar.

Berdasarkan permasalahan di atas maka dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA PADA SISWA KELAS X-MIA2 SMA NEGERI I ... UNTUK MATERI POKOK GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK.” (Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa SMA Negeri 1 ... Tahun Ajaran 2014/2015).

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasikan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Rendahnya motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar pada pembelajaran fisika materi pokok gelombang elektromagnetik karena seringnya guru mengajar secara konvensional.
2. Nilai tes formatif yang masih di bawah standar ketuntasan minimal SMA Negeri 1 ........... yakni 60.

C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas peneliti membatasi sasaran penelitian pada peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa SMA Negeri 1 ........... kelas X-MIA2 semester genap pada materi pokok gelombang elektromagnetik tahun ajaran 2014/2015.
D. Perumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) pada materi pokok gelombang elektromagnetik pada siswa kelas X SMA Negeri I ...........?
2. Apakah pembelajaran fisika materi pokok gelombang elektromagnetik dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika?

E. Manfaat penelitian
Manfaat yang diharapkan setelah menyelesaikan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi siswa
a. Memberikan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa dan menghilangkan kejenuhan dalam proses pembelajaran fisika.
b. Meningkatkan semangat atau motivasi belajar siswa pada pembelajaran fisika sehingga siswa mampu secara mandiri menghadapi masalah dan memecahkannya.
c. Meningkatkan hasil belajar fisika khususnya pada materi pokok gelombang elektromagnetik.

2. Bagi guru
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan contoh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) pada guru dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Download ptk fisika sma lengkap doc 
b. Menjadi acuan guru lain dalam melaksanakan pembelajaran fisika. 
3. Bagi sekolah
Diperolehnya ketepatan implementasi pembelajaran sesuai dengan tuntutan KTSP sehingga sekolah dapat bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dengan penelitian ini sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP.

PTK IPA FISIKA KELAS X DENGAN METODE TGT

BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan. Belajar memegang peran penting dalam perkembangan kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan prestasi manusia sehingga seseorang harus mampu memahami bahwa aktifitas belajar itu memegang peran penting dalam proses psikologis.

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Dengan perilaku itu mengandung pengertian yang luas. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan sebagainya. 
Para ahli telah menjelaskan pengertian belajar dengan mengemukakan rumusan atau definisi menurut sudut pandang masing¬masing, baik bentuk rumusan maupun aspek-aspek yang ditekankan dalam belajar. Namun perlu diketahui bahwa di samping perbedaan terdapat pula persamaan di antaranya belajar adalah hal yang menyenangkan. Contoh ptk fisika sma kelas x 

Belajar yang dimaksud di sini tak hanya mencakup aspek intelektual, melainkan melibatkan seluruh kepribadian si pembelajar. Seluruh aspek yang menunjang terbentuknya kepribadian terlihat dalam kegiatan belajar, atau lebih tepatnya ikut dibelajarkan. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku seseorang setelah mengalami peristiwa belajar. Pada hakekatnya, perubahan tingkah laku juga perubahan kepribadian pada diri si pembelajar. Tingkah laku itu dapat meliputi pengetahuan, sikap, ketrampilan, kemampuan, kebiasaan kebiasaan, perasaan, penanggapan terhadap sesuatu, hubungan atau interaksi sosial, dan sebagainya.

2. Hakikat Pembelajaran Fisika
a. Pengertian Fisika
Terdapat beberapa definisi tentang fisika. Definisi-definisi tersebut antara lain sebagai berikut:
1) Menurut Brockhaus, fisika adalah pelajaran tentang kejadian di alam, yang memungkinkan penelitian dengan percobaan, pengukuran yang didapati, penyajian secara matematis, dan berdasarkan peraturan-peraturan umum.
2) Menurut Brandt/Dahmen, fisika adalah suatu uraian terutup tentang semua kejadian fisikalis yang berdasarkan beberapa hukum dasar.
3) Menurut Gertsen, fisika adalah suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam sesederhana-sederhananya dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan-kenyataannya.

4) Menurut Weizsacher, fisika adalah teori peramalan alternatif¬alternatif yang secara empiris (dengan percobaan) dapat dibeda¬bedakan
5) Fisika adalah bagian dari IPA (Sains yang mempelajari tentang zat dan energi. Ada pula yang mengatakan bahwa fisika adalah cabang IPA yang menyangkut gej ala alam yang dinyatakan dalam zat dan energi. Jadi, fisika dapatlah disebut ilmu tentang zat dan energi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang zat dan energi. Jadi fisika dapatlah disebut ilmu tentang zat dan energi.

Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika, serta dapat mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap percaya diri.

Fungsi dan tujuan mata pelajaran fisika di SMA dan MA adalah sebagai sarana untuk:
1) Menyadari keindahan dan keteraturan alam atau meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
2) Menumpuk sikap ilmiah yang mencakup:
a) Jujur dan obyektif terhadap data
b) Terbuka dalam menerima pendapat berdasarkan bukti-bukti tertentu
c) Ulet dan tidak cepat putus asa
d) Kritis terhadap pernyataan ilmiah yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris.
e) Dapat bekerjasama dengan orang lain.
3) Memberi pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, menyusun laporan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.

4) Mengembangkan kemampuan berfikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
5) Menguasai pengetahuan, konsep dan prinsip fisika serta mempunyai ketrampilan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
6) Membentuk sikap positif terhadap fisik dengan menikmati dan menjelaskan berbagai peristiwa alam dan keleluasaan penerapan fisika dalam teknologi. Download proposal ptk fisika sma doc

b. Belajar Fisika
Fisika sebagai cabang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) diorganisasikan sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari dan dikembangkan. Sebagai bagian dari IPA, fisika mempelajari gejala¬gejala alam dalam satu kesatuan sistem yang selalu berkembang dan dapat dikembangkan terus-menerus. Kaitannya dalam pendidikan, Max Muller berpendapat bahwa fisika sebagai cabang IPA yang telah terorganisir diharapkan dapat membantu subyek yang mempelajarinya menjadi dewasa dan disiplin fisika. Oleh sebab itu untuk mempelajari teori-teori dan eksperimen fisika diperlukan kemauan, kekuatan dan usaha.

Hasil belajar fisika merupakan hasil keseluruhan yang dicerminkan dalam bentuk nilai yang dapat dicapai oleh siswa melalui kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Jika dalam diri peserta didik tersebut terjadi perubahan yang positif dalam ketiga hal tersebut, maka proses belajar dalam diri peserta didik dapat dikatakan baik.

3. Hakikat Motivasi Belajar
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Namun pada intinya motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya dan penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar dengan baik. Dari sudut sumber yang menimbulkannya, motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik

a.   Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan atau dorongan dari orang lain, tapi atas dasar kemauan sendiri.
b.   Motivasi Ektrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu.

Berdasarkan prinsip-prinsip motivasi tersebut kemudian dapat kita ketahui bagaimana fungsi motivasi dalam berbagai kegiatan, khususnya dalam kegiatan belajar. Ada empat fungsi motivasi dalam proses belajar mengajar yaitu: (1) fungsi membangkitkan (arousal function), mengajak siswa belajar; (2) fungsi harapan (expectancy function ) apa yang harus bisa ia lakukan setelah berakhirnya pengajaran (kapabilitas baru); (3) fungsi intensif (intensif function) memberikan hadiah pada prestasi yang akan datang; dan (4) fungsi disiplin (disciplinary function) menggunakan hadiah dan hukuman untuk mengontrol tingkah laku yang menyimpang.

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal ini mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (3) adanya penghargaan dalam belajar; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.

Dari berbagai pengertian hasil belajar di atas dapat kita simpulkan bahwa perbuatan dan hasil belajar dapat dimanifestasikan dalam wujud: (1) pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta; informasi, prinsip atau hukum atau kaidah prosedur atau pola kerja atau teori sistem nilai-nilai dan sebagainya; (2) Penguasan pola-pola perilaku kognitif (pengamatan) proses berfikir, mengingat atau mengenai kembali, perilaku afektif (sikap-sikap apresisai, penghayatan, dan sebagainya), prilaku psikomotorik (keterampilan¬keterampilan psikomotorik) termasuk yang bersifat ekpresif; (3) Perubahan dalam sifat-sifat kepribadian yang baik.

b. Aspek-aspek hasil belajar
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang sikomotor (kemampuan atau ketrampilan bertindak ataupun berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus tampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut, harus dipandang sebagai hasil belajar siswa dari proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut nampak dalam perubahan tingkah laku, secara teknik dirumuskan dalam sebuah pernyataan verbal melalui tujuan pengajaran (tujuan instruksional). Dengan perkataan lain rumusan tujuan pengajaran berisikan hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa yang mencakup ketiga aspek tersebut. 

Berikut ini dikemukakan unsur- unsur yang terdapat dalam ketiga aspek hasil belajar tersebut.
1) Aspek hasil belajar bidang kognitif
Aspek hasil belajar bidang kognitif meliputi pengetahuan hafalan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (application), analisis, sintesis, dan evaluasi.
2) Aspek hasil belajar bidang afektif
Aspek hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti atensi atau perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain.

3) Aspek hasil belajar bidang psikomotor
Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk ketrampilan (skill), kemampuan bertindak individu (seseorang). Ada 6 tingkatan ketrampilan yakni:
a) Gerakan refleks ( ketrampilan pada gerakan yang tidak sadar)
b) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar.
c) Kemampuan perseptual termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain.
d) Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, ketepatan.
e) Gerakan skill, mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non diskursif (hubungan tanpa bahasa, melainkan melalui gerakan).

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik meliputi faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik (internal) dan faktor yang berasal dari luar peserta didik (eksternal). Kegiatan belajar dapat dikatakan berhasil apabila perubahan tingkah laku dapat dicapai.
Adapun faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri atau segala sesuatu yang telah dibawa oleh manusia sejak kelahirannya, yakni fitrah suci yang merupakan bakat bawaan.
Faktor dalam merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang mempengaruhi proses dan hasil belajar di antaranya, yaitu :
a) Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis meliputi kondisi fisiologis umum dan kondisi panca indra. Kondisi fisiologis umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Anak¬anak yang kurang gizi, kemampuan belajarnya di bawah anak¬anak yang tidak kekurangan gizi, mereka cepat lelah, mudah mengantuk dan tidak mudah menerima pelajaran.

b) Faktor Psikologis
1) Kecerdasan/ Inteligensi
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat inteligensi rendah.
2) Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju kepada sesuatu obyek(benda/hal) atau sekumpulan objek.
3) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.

4) Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
5) Motivasi
Motivasi adalah keadaan internal organisasi yang mendorong untuk berbuat sesuatu.
6) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
7) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi.

2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar pribadi manusia atau berasal dari orang lain atau lingkungannya. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
a) Lingkungan Sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan. Lingkungan sosial yang lebih baik banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan keluarga.
b) Lingkungan Non Sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan peserta didik. Contoh ptk fisika sma pdf Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar.

5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)
Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota lain yang bekerja.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Setidaknya terdapat lima komponen utama dalam TGT yaitu:
a. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.

b. Kelompok (Teams)
Kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 7 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
c. Permainan (Game)
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan¬pertanyaan sederhana bernomor. Peserta didik memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ni yang nantinya dikumpulkan untuk menentukan time mana yang mendapat skor tertinggi dan akan diberi penghargaan sebagai pemenang dari game ini.

d. Turnament
Turnament adalah sebuah struktur di mana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Bagi time yang telah menyelesaikan soal-soal game terlebih dahulu, diminta untuk memepresentasikan hasilnya dengan diwakili oleh masing-masing anggota regunya yang menjawab. Kompetisi yang seimbang ini, memungkinan pada para siswa dari semua tingkatan kinerja sebelumnya berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka jika mereka melakukan yang terbaik.
e. Penghargaan kelompok (teams recognize)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Suatu kelompok akan mendapat julukan “Super Teams” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Teams” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Teams” apabila rata-ratanya 30-40.

6. Materi Pokok Gelombang Elektromagnetik.
a. Gelombang Elektromagnetik
Puncak dari teori gelombang elektromagnetik adalah prediksi, dan verifikasi eksperimental, bahwa gelombang medan elektromagnetik dapat menjelajahi angkasa. Penemuan ini membuka dunia baru bagi komunikasi diawali dengan telegram tanpa kawat, kemudian radio dan televisi. Dan menghasilkan prediksi spektakuler bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik .
Prediksi teoritis mengenai gelombang elektromagnetik merupakan hasil karya fisikawan Skotlandia, James Clerk Maxwell (1831-1879), yang menyatakan, dalam suatu teori yang cemerlang, seluruh venomena kelistrikan dan kemagnitan.
Keberadaan gelombang elektromagnetik didasarkan pada hipotesis Maxwell dengan mengacu pada 3 fakta relasi antara listrik dan magnet yang sudah ditemukan:
1) Percobaan Oersted yang berhasil membuktikan bahwa arus listrik dalam konduktor menghasilkan medan magnet di sekitarnya (jarum kompas menyimpang bila didekatkan pada kawat yang dialiri arus listrik)
2) Percobaan Faraday yang berhasil membuktikan batang konduktor yang menghasilkan GGL induksi pada kedua ujungnya bila memotong medan magnet
3) Percobaan Faraday yang menunjukkan perubahan fluks magnetik pada kumparan menghasilkan arus induksi dalam kumparan tersebut.

Cahaya matahari merupakan salah satu contoh gelombang elektromagnetik. Jika ditinjau pada satu arah saja, permukaan gelombang elektromagnetik dapat ditunjukkan seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 2.1 Gambar Permukaan Gelombang Elektromagnetik yang
terdiri dari medan listrik (E) dan medan magnet (B)

Gambar 2.1 menunjukkan kuat medan yang dipetakan sebagai posisi, di mana bahwa B dan E tegak lurus satu sama lain dan tegak lurus terhadap arah rambatannya. Gelombang ini disebut gelombang elektromagnetik. Gelombang ini adalah gelombang transversal dan mirip dengan gelombang-gelombang jenis lain. Namun, gelombang elektromagnetik selalu merupakan gelombang medan, bukan materi, seperti halnya gelombang pada air atau tali. Karena gelombang elektromagnetik terdiri atas medan maka gelombang elektromagnetik dapat merambat melalui ruang hampa. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa gelombang elektromagnetik dihasilkan oleh muatan listrik yang berisolasi, dan karenanya juga mengalami percepatan. Dalam kenyataannya dapat dikatakan secara umum bahwa muatan listrik yang dipercepat menimbulkan gelombang elektromagnetik.

Kecepatan rambat gelombang elektromagnetik bergantung pada dua besaran, yaitu permitivitas listrik (å0 ) dan permeabilitas magnet (µ0). Dari hasil perhitungan secara matematis, Maxwel menemukan kecepatan rambat gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa (c) memenuhi persamaan berikut:

Dengan :

Sebagaimana halnya cahaya, gelombang elektromagnetik memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
1) dapat merambat dalam ruang hampa;
2) merupakan gelombang tranversal;
3) dapat mengalami polarisasi, dapat mengalami pemantulan (refleksi), dapat mengalami pembiasan (refraksi), dapat mengalami interferensi, dapat mengalami lenturan (difraksi); dan
4) arah perambatannya lurus.

b. Spektrum gelombang elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik meliputi cahaya, gelombang radio, sinar-X, sinar Gama, gelombang mikro, dan lain-lain. Berbagai jenis gelombang elektromagnetik hanya berbeda dalam panjang gelombang dan frekuensinya, yang dihubungkan dengan panjang gelombang dalam cara yang biasa.

dengan
f = frekuensi gelombang (Hz)
λ = penjang gelombang (m)
c = laju cahaya untuk seluruh gelombang elektromagnetik di ruang hampa adalah 3x 108m/detik

Panjang gelombang dan frekuensi gelombang elektromagnetik mempunyai rentang yang sangat besar. Seluruh rentang panjang gelombang dan frekuensi ini disebut spektrum gelombang elektromagnetik. Sebagian besar spektrum gelombang elektromagnetik ini tidak dapat dilihat sehingga pengamatannya dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan alat yang dapat mengubah gelombang elektromagnetik menjadi bentuk energi lain, seperti energi listrik, energi kalor dan energi kimia. Contoh ptk fisika sma kelas x 

Urutan spektrum gelombang elektromagnetik dari frekuensi besar ke frekuensi kecil adalah sebagai berikut:
1. Sinar Gamma
2. Sinar-X
3. Sinar ultrafiolet
4. Sinar tampak (cahaya)
5. Sinar inframerah
6. Gelombang mikro (radar)
7. Gelombang televsi
8. Gelombang radio

B. Hipotesis Tindakan
Hipotesis berasal dari kata ”Hypo” yang berarti di bawah dan ”thesa” yang berarti kebenaran. Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai akhirnya terbukti melalui data yang terkumpul.
Dalam hal ini peneliti mengajukan hipotesis bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik pada pelajaran fisika materi pokok gelombang elektromagnetik.

PTK IPA FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 30 Maret sampai 20 April 2015. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah dan silabus pembelajaran mata pelajaran Fisika kelas X semester genap. Adapun yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah SMA Negeri 1 ... yang beralamat di Jl ... No.  ...

B. Subyek Penelitian
Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas X-MIA2 SMA Negeri 1 ........... tahun pelajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang.
Tabel 3.1 Daftar kelas X-MIA2 SMA Negeri 1 ........... 1

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun penjelasan mengenai PTK adalah sebagai berikut:
1. Pengertian PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946.2 Dalam bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan arti dari Classroom Action Research (CAR).
Penelitian tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Bisa juga dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki kondisi nyata di mana praktik pelaksanaan pembelajaran tersebut dilakukan di dalam kelas. Download proposal ptk fisika sma doc 

2. Langkah- langkah Pelaksanaan PTK
Yang perlu mendapatkan perhatian dalam kaitannya dengan diterapkannya suatu model penelitian tindakan kelas ialah bahwa terdapat langkah-langkah yang seharusnya diikuti oleh peneliti atau guru, yaitu:
a. Ide awal
Pada umumnya ide awal yang menyangkut di dalam penelitian tindakan kelas ialah terdapatnya suatu permasalahan yang berlangsung di dalam suatu kelas. Ide awal tersebut di antaranya berupa suatu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut .
b. Pra survei atau temuan awal
Pra survei dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang terdapat di suatu kelas yang akan diteliti.
c. Diagnosis
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak terbiasa mengajar di suatu kelas yang dijadikan sasaran penelitian. Peneliti dari “luar” lingkungan kelas atau sekolah perlu melakukan diagnosis atau dugaan¬dugaan sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam kelas.

d. Perencanaan
Di dalam penentuan perencanaan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum yaitu perencanaan yang dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan penelitian tindakan kelas. Sedangkan perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus per siklus. Oleh karena itu, dalam perencanaan ulangnya hal-hal yang direncanakan di antaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran hampir sama dengan apabila kita menyiapkan suatu kegiatan belajar mengajar.
e. Implementasi tindakan
Implementasi tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya.
f. Pengamatan atau observasi
Pengamatan atau observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh peneliti atau kolaborator, yang memang diberi tugas untuk hal itu. Pada saat melakukan pengamatan, pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal-hal yang terjadi di kelas penelitian.

g. Refleksi
Pada prinsipnya yang dimaksud dengan istilah refleksi ialah upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan. Refleksi ini dilakukan dengan cara kolaboratif, yaitu adanya diskusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian.
h. Penyusunan laporan
Laporan hasil penelitian tindakan kelas seperti halnya jenis penelitian di lapangan berakhir dan selesai.

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar. Di samping itu PTK juga bertujuan untuk:
a. Memperbaiki dan meningkatkan kondisi serta kualitas pembelajaran di kelas.
b. Meningkatkan layanan profesional dalam konteks pembelajaran di kelas, khususnya layanan kepada peserta didik.
c. Memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan tindakan dalam pembelajaran yang direncanakan di kelas.
d. Memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengkajian terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. 

4. Rencana dan Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas diperlukan lebih dari satu siklus atau minimal dua siklus. Karena siklus-siklus dalam PTK saling terkait dan berkelanjutan. Masing-masing siklus mencakup empat tahap kegiatan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), deskripsi alur siklus seperti yang terlihat pada gambar berikut:
Gambar : 3.1

D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Kegiatan dalam penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam upaya menumbuhkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika materi pokok gelombang elektromagnetik. Tahapan-tahapan kegiatan dalam penelitian ini disusun dalam dua siklus penelitian, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi partisipatif antara guru mata pelajaran fisika kelas X-MIA2 SMA Negeri 1 ........... dengan peneliti. Contoh ptk fisika sma pdf
Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Kelas

E. Kolaborator
Kolaborasi (kerjasama) dalam PTK antara guru dengan peneliti menjadi hal penting terutama dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action). Melalui kerjasama, mereka secara bersama dan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi guru dan peserta didik di sekolah. Dalam penelitian kolaborasi, pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan. Sebagai penelitian yang bersifat kolaboratif, kedudukan antara peneliti dan guru mempunyai peran yang saling membutukan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan. Peran kerja sama sangat menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melakukan tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, refleksi, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan akhir.

Adapun kerjasama di sini berupa sudut pandang dari kolabolator dalam upaya meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, peneliti memerlukan kolabolator yang dapat memberikan masukan¬masukan demi tercapainya tujuan penelitian. Pengalaman kolanorator mengajar beliau tidak kurang dari 16 tahun. Karena pengalaman mengajar beliau sudah lama diharapkan kolaborator ini dapat memberikan masukan-masukan dalam melaksanakan perbaikan¬perbaikan pembelajaran selama siklus dalam penelitian yang dilaksanakan.

F. Metode Pengumpulan Data
1. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber yakni siswa dan guru.
a. Data dari siswa digunakan untuk mendapatkan data tentang motivasi dan hasil belajar dalam proses belajar mengajar.
b. Data dari guru digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) pada motivasi dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.

2. Jenis data
Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini, peneliti menggunakan 2 jenis data yang dapat dikumpulkan peneliti, yaitu:
a. Data kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat. Data kualitatif pada penelitian ini terdiri dari:
1) Data tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru.
2) Data angket motivasi siswa.
b. Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif pada penelitian ini terdiri dari:
1) Data tentang hasil evaluasi belajar siswa
2) Data tentang keaktifan dan kinerja siswa. 

3. Cara pengambilan data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode untuk pengambilan data, yaitu:
a. Metode Observasi
Metode observasi yaitu metode yang digunakan melalui pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan keseluruhan alat indera. Metode observasi akan lebih efektif jika informasi yang hendak diambil berupa kondisi atau fakta alami, tingkah laku dan hasil kerja responden dalam situasi alami.
b. Metode Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data-data tentang siswa dan data prestasi belajar mata pelajaran Fisika siswa kelas X-MIA2 di SMA Negeri 1 ........... yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

c. Metode Angket (Kuesioner)
Angket adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan kepada responden untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri responden maupun di luar dirinya. Untuk mengukur motivasi yang menyangkut sikap mental atau sikap kehendak untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Salah satu model skala pengukuran sikap atau motivasi ini adalah skala likert. Skala ini memuat seperangkat item, yang semuanya ditata kira-kira mempunyai nilai sikap yang sama dan setiap subyek diminta merespon secara berjenjang dari tingkat sangat setuju sampai tingkat sangat tidak setuju.
d. Metode Tes
Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan baik secara tertulis atau secara lisan atau secara perbuatan.
Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar peserta didik pada materi pokok gelombang elektromagnetik menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Tes yang digunakan adalah tes berbentuk multiple choice (pilihan ganda).

G. Teknik Analisis Data
1. Pengumpulan Data
Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, dilakukan analisis hasil yang telah dicapai siswa dalam lembar observasi, kuesioner, dan tes evaluasi. Data observasi penelitian diberikan dengan pemberian nilai berupa angka yang dikategorikan dengan kurang, cukup, baik, dan sangat baik. Pada tindakan setiap siklus masing-masing satu kali pertemuan untuk satu siklus, kemudian diberi perlakuan kegiatan yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

2. Hasil Observasi
Hasil observasi proses pembelajaran adalah dengan menghitung jumlah skor pengamatan dengan teknik dan kriteria sebagai berikut :
a. Lembar observasi afektif siswa
Untuk mengetahui tentang kemampuan afektif siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, maka penulis membuat 4 aspek pengamatan yang meliputi: sikap saat mengikuti diskusi pada materi gelombang, bekerjasama dalam kelompok, memberikan pendapat atau masukan dalam diskusi, dan menjelaskan hasil diskusi pada materi gelombang. Download ptk fisika sma lengkap doc Kemudian dilakukan analisis pada instrumen lembar observasi dengan menggunakan teknik deskriptif melalui persentase. 

H. Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang menjelaskan keberhasilan tindakan kelas ini adalah:
1. Meningkatnya motivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
2. Meningkatnya hasil belajar peserta didik di atas kriteria ketuntasan belajar minimum (KKM) setelah diterapkannya model pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) pada setiap siklus.

CONTOH LENGKAP JUDUL PTK IPA FISIKA SMA

DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman, Mulyono, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2002.
Abror, Abd. Rachman, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1993.
Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Al-Imam. Al-Bukhori, .........: Thoha Putra, t.th
Ali, Mohammad, Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa, 1995.
, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007.
Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Aqib, Zainal, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Yrama Widya, 2006.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 2002.
, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.
Civiliani Widyastuti, Rosa, (4101404082), Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Pada Peserta didik Kelas VI di SMP Negeri 37 ........., .........: Perpustakaan UNNES 2008.
Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Fisika, Jakarta: Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2003.
Dokumen SMA Negeri 1 ..........., tahun ajaran 2007-2008 dan 2008-2009.
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Dan Implementasi, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008.
, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008
E.Slavin, Robert. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, Diterjemahkan dari Coopertive Learning: theori, reearch and practice (London: Allymand Bacon: 2005) penerjemah Nurulita Nasron, Bandung: Nusa Media, 2008.
Ghony, Djunaidi, Penelitian Tindakan Kelas, Malang: UIN Malang Press,2008.
Giancoli, Douglas C. FISIKA; alih bahasa, Yuhilza Hanum, Jakarta: Erlangga, 2001
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2001. , Proses Belajar men gajar, Jakarta: PT Bumi aksara, 2007.
Istiqomah, Titin (03430340),“ Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games
Tournaments (TGT) Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Minat Belajar
Matematika Siswa di MTs Hasyim Asy ’ari Piyungan Yogyakarta ”,
Yogyakarta: perpustakaan UIN SUKA, 2009.
Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang, Telaah Kurikulum Fisika, Malang: Universitas Negeri Malang, 2003.
Kasiram, Moh, Metodologi Penelitian, Refleksi Pengembangan Pemahaman dan Penguasaan Metodologi Penelitian, Malang : UIN Malang Press, 2008.
Kunandar (132302371), “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Pen getahuan Sosial Melalui Pembelajaran Koopetarif Tipe STAD kelas V SDN 01kali baru jakarta utara” Depdiknas, 2007
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.
Lie, Anita. Coopertive Learning (Mempraktik kan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas), Jakarta: PT Grasindo Widia Sarana Indonesia, 2004.
M.O. Tjia, Gelombang, Bandung: Jurusan Fisika-FMIPA Institut Teknologi Bandung, 1993.
Nasirudin, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, .........: Tarbiyah Press, 2008
Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara, 1999.
Nurgiantoro, Burhan, Dasar-Dasar Pengem ban gan Kurikulum Sekolah, Yogyakarta: BPFE, 1998.
Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996.
Rochiati Wiratmaja, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.
Rohani, Ahmad dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991.
Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: IKAPI, 2006.
Sanjaya, Wina, Kurikulum Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangannya Kurukulum KTSP, Jakarta: Kencana, 2009.
Setyowati (3301403001), Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VI SMPN 13 .........”, .........: Perpustakaan UNNES, 2007.
Slamento, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2003.
Soeparwoto, Psikologi Perkembangan, ......... : UNNES Pres, 2006
Sudjana, Nana. dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007.
, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008.
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Suparno, Paul, Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik Dan Menyenangkan, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2007.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Syamsuddin Makmun, Abin, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002.
Syukur, Fatah, Teknologi Pendidikan, .........: Rasail, 2004.
Tim Penyusun KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Tipler, Paul A.: Alih Bahasa. Bambang Soeijono, Fisika, Jakarta: Erlangga, 2001.
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007.
Uno, B. Hamzah, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Warsita, Bambang, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Wittig, Arno F, Psychology of Learning, New York: Mc Graw Hill, 1981.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTK IPA FISIKA DENGAN METODE TGT

Postingan terkait: