CONTOH JUDUL PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7

CONTOH JUDUL PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7-Kemampuan Siswa memperoleh skor yang meningkat pada setiap pertemuan, sedangkan sebagian kecil siswa memperoleh skor yang tetap. Walaupun demikian, skor rata-rata siswa meningkat pada setiap pertemuan. Pada pratindakan skor rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 77,8, pada siklus I meningkat menjadi 83,2, pada siklus II meningkat menjadi 96,9. 
Jumlah siswa perkategori nilai setiap pertemuan pun mengalami peningkatan. Pada pratindakan 1 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai E/sangat rendah, 9 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai C/cukup, 11 orang termasuk ke dalam kategori nilai B/baik, dan 8 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai A/sangat baik. ptk bahasa indonesia smp doc

Pada siklus I tidak ada siswa yang termasuk ke dalam kategori nilai E/sangat rendah, 1 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai D/rendah, 1 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai C/cukup, 3  orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai B/baik, dan 18 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai A/sangat baik. 
Pada siklus II tidak ada siswa yang termasuk ke dalam kategori nilai E/sangat rendah, D/rendah, dan C/cukup, 2 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai B/Baik, dan 22 orang siswa termasuk ke dalam kategori nilai A/sangat baik. Hal tersebut meunjukkan bahwa media film kartun sangat efektif digunakan dalam pembelajaran menyimak dongeng karena dapat meningkatkan kemampuan menyimak dongeng siswa.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA yang diberi judul "PEMBELAJARAN MENYIMAK DONGENG DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM KARTUN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYIMAK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 ... KABUPATEN ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016"Disini akan  di bahas lengkap.




PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA VII SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 038).

DOWNLOAD PTK BAHASA INDONESIA MENYIMAK DONGENG DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM KARTUN

BAB 1
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah
Penggunaan media pembelajaran yang menarik dapat menciptakan suasana menyenangkan bagi siswa pada saat pembelajaran berlangsung, khususnya pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Akan tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan guru Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMPN 4 ... , pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menyimak jarang sekali menggunakan media. Pembelajaran menyimak dianggap pembelajaran yang kurang menarik.

Di sisi lain, kita tahu kalau keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan pertama yang dipelajari oleh manusia, kemudian berbicara, diikuti keterampilan membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan catur tunggal, yaitu antara satu dan yang lainnya saling berhubungan membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap keterampilan itu pun erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Seseorang yang terampil berbahasa, maka jalan pikirannya semakin cerah dan jelas. .Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa itu pula melatih keterampilan berpikir (Dawson, 1963 : 2; dalam tarigan 1985b : 1). ptk bahasa indonesia smp kelas 7 pdf
Mata pelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi/KTSP adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia. Menyimak merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam kurikulum berbasis kompetensi/KTSP. Kurikulum berbasis kompetensi/KTSP meliputi aspek kemampuan berbahasa dan aspek kemampuan bersastra. Aspek keterampilan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang berhubungan dengan ragam sastra. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, aspek keterampila

Menyimak merupakan salah satu faktor penting yang harus dikuasai siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Siswa harus bisa menyimak penjelasan guru dengan baik. Jika siswa tidak bisa menyimak dengan baik, secara otomatis apa yang disampaikan guru tidak berhasil. Jadi, keberhasilan siswa dalam pelajaran ditentukan oleh baik buruknya siswa dalam menyimak. Berdasarkan hal-hal tersebut maka menyimak perlu dikuasai dan ditingkatkan dengan baik.
Namun, pada kenyataannya, pembelajaran menyimak kurang diperhatikan dengan baik dan sering kali diremehkan oleh siswa. Hal itu menyebabkan siswa kurang maksimal dalam pembelajaran menyimak. Oleh sebab itu, guru harus memilih cara agar pembelajaran menyimak dapat berhasil. Hal ini terlihat pada banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam penguasaan keterampilan menyimak. Kenyataan ini terlihat dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas VII-A SMP Negeri 4 ... , yang hanya berorientasi pada teori dan pengetahuan saja, sedangkan latihan kurang diperhatikan khususnya keterampilan menyimak.

Akibat tidak terlaksananya pembelajaran menyimak yang baik maka keterampilan menyimak, khususnya menyimak dongeng, siswa kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  masih rendah. Berdasarkan pengamatan kesulitan dalam pembelajaran menyimak dongeng yang ditemukan dalam objek penelitian adalah (1) siswa kurang memahami keterampilan menyimak dongeng, (2) manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias, (3) penggunaan media di SMP Negeri 4 ...  belum banyak digunakan (4) teknik pembelajaran menyimak kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan keterampilan menyimak dongeng siswa kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  rendah.
Cara yang digunakan untuk keterampilan menyimak dongeng adalah diperlukannya pembuatan media. Hal itu diharapkan keterampilan menyimak akan mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya hasil pembelajaran menyimak dongeng maka siswa diharapkan dapat berhasil dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran dengan menggunakan media film kartun, diharapkan dapat pula meningkatkan kemampuan menyimak siswa karena media kartun sangat menarik. 
Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media kartun sangat membantu siswa dalam pembelajaran menyimak, agar pembelajaran menyimak menarik dan mudah dipahami. Oleh karena itu, penulis pun memilih media film kartun dalam penelitian ini.

Oleh karena itu, penelitian dengan menggunakan media film kartun ini dilakukan terhadap siswa kelas VII-A SMP yang berusia lebih kurang 13 tahun sehingga diharapkan mereka dapat terbantu oleh media ini dalam menyimak dongeng. Atas dasar urain itulah penulis memilih judul “Pembelajaran Menyimak Dongeng dengan Menggunakan Media Film Kartun sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Menyimak Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  Tahun pelajaran 2015-2016”.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, kesulitan yang diperoleh dalam pembelajaran menyimak dongeng adalah (1) siswa kurang berminat terhadap pembelajaran menyimak dongeng, (2) manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias, (3) penggunaan media pembelajaran belum ada. Download ptk bahasa indonesia smp doc 

1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi masalah pada kajian pembelajaran menyimak dongeng jenis parable, media yang digunakan adalah film kartun berjudul Putri Tidur, Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  Tahun Ajaran 2015-2016.

1.4 Rumusan Masalah
a. Bagaimana perencanaan pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016?
b. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016?
c. Bagaimana hasil pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun 2015-2016?
d.
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
a. mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016;
b. mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajararan 2015-2016;
c. mendeskripsikan hasil pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016.

1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat bagi penulis
Dengan adanya penelitian ini penulis dapat mengetahui gambaran perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun di kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016. Selain itu, penulis menjadi terlatih untuk mencari dan menemukan media dan metode yang dapat meningkatkan keterampilan meyimak siswa.
b. Manfaat Bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan keterampilan menyimak dongeng dalam suasana yang menyenangkan.
c. Manfaat Bagi Guru
Guru dapat meningkatkan kinerjanya karena memperoleh variasi metode dan media pendidikan. Selain itu, guru dapat meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyimak dongeng.

CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP WORD TERBARU 

BAB 2
MENYIMAK DONGENG DAN MEDIA FILM KARTUN


2.1 Menyimak
2.1.1 Pengertian
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian menyimak yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut.
1) Subana dan Sunarti (tanpa tahun :2 13)
Menyimak adalah mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian, interprestasi serta apresiasi untuk memperoleh informasi secara lisan.
2) Henry Guntur Tarigan (1994 : 28)
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

2.1.2 Tujuan menyimak
Menurut Hunt dalam Tarigan (1994:55) ada empat fungsi utama menyimak, yaitu:
1) untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan profesi;
2) untuk membuat hubungan antar pribadi lebih efektif;
3) untuk mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan yang masuk akal; dan
4) agar dapat memberikan respon yang tepat. Contoh ptk bahasa indonesia smp pdf

2.1.3 Manfaat
Menurut Setiawan (dalam Darmawan 2001:11-12) manfaat menyimak sebagai berikut:
1) menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informative yaitu memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman;
2) meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita;
3) memperkaya kosakata kita, menambah pembendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata¬kata yang digunakan lebih variatif;
4) memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan obyektif;

5) meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial;
6) meningkatkan citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus. Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sifat apresiatif, sikap menghargai karya atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera estetis kita;
7) menggugah kreativitas dan semangat mencipta kita untuk menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan ide- ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.

Semua manfaat tersebut diharapkan dapat diperoleh dalam kegiatan menyimak. Namun, dalam penelitian ini manfaat utama yang diperoleh adalah menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan serta meningkatkan dan menumbuhkan sikap apresiatif, mengingat menyimak yang dilaksanakan adalah menyimak dongeng. Dongeng merupakan salah satu karya sastra yang perlu diapresiasi dan diambil nilai-nilainya.

2.1.4 Ragam Menyimak
Tarigan membedakan menyimak menjadi dua, yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif.
1) Menyimak ektensif
Menyimak ekstensif, yaitu kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan
lebih bebas terhadap suatu ujaran, dan biasanya tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Dengan perkataan lain, menyimak ekstensif merupakan menyimak dengan sekilas saja. Menyimak ekstensif terbagi lagi menjadi beberapa jenis yaitu;
a. menyimak sosial, biasanya berlangsung dalam situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang;
b. menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan;
c. menyimak estetik adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan;
d. menyimak pasif adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar.

2) Menyimak Intensif.
Menyimak Intensif adalah kegiatan menyimak yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap suatu hal tertentu, sehingga perlu adanya bimbingan langsung dari seorang guru. Dengan perkataan lain, menyimak intensif merupakan menyimak dengan teliti. Menyimak intensif terbagi lagi menjadi beberapa jenis yaitu:
a. menyimak kritis adalah sejenis kegiatan menyimak berupa mencari kesalahan dan kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorag pembicara;
b. menyimak konsentratif adalah menyimak telaah. Sering juga disebut a study listeningatau menyimak yang merupakan sejenis telaah;
c. menyimak kreatif adalah sejenis kegiatan menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan kinestetik yang disarakan atau dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya;

d. menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit;
e. menyimak interogatif adalah sejenis kegiatan menyimak yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian, karena penyimak akan mengajukan pertanyaan;
f. menyimak Selektif adalah menyimak secara cerdas dan cermat aneka ragam ciri-ciri bahasa yang berurutan (nada suara, bunyi, bunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata dan frase, serta bentuk-bentuk ketatabahasaan).

2.1.5 Tahap-tahap Menyimak
Menyimak adalah satu kegiatan yang merupakan suatu proses, dalam proses ini terdapat tahap-tahap. Tarigan (1994:58) menyimpulkan lima tahap dalam proses menyimak, yaitu:
1) tahap mendengar, dalam tahap ini kita mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya;
2) tahap memahami, yaitu tahap mengerti dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh sang pembicara;
3) tahap menginterprestasi yaitu tahap menafsirkan isi dengan cermat dan teliti ujaran sang pembicara;
4) tahap mengevaluasi, yaitu tahap menilai pendapat dan gagasan, keunggulan dan kelemahan, serta kebaikan dan kekurangan sang pembicara, dan
5) tahap menanggapi, merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak.

2.1 Dongeng
2.2.1 Pengertian
Dongeng telah ada dan dikenal masyarakat sejak zaman dahulu. Pada awalnya dongeng muncul di kalangan rakyat yang disajikan dengan cara lisan oleh tukang cerita, seperti pelipur lara atau pawing. Pada saat itu dongeng sangat berarti untuk menghibur rakyat atau penghuni istana. Sebutan untuk orang yang menyampaikan dongeng berbeda-beda. Di Jawa Barat disebut tukang pantun, di Sumatera di sebut pawing kaba, di Pulau Jawa disebut dalang dan di Eropa disebut trubadur (Natawidjaya, 1980:39). ptk bahasa indonesia smp kelas 7 pdf
Cara manyampaikan dongeng dari berbagai macam pawang pelipur lara tersebut hampir menggunakan uang, dan dipanggil dari rumah ke rumah atau kerajaan. Namun, dongeng juga biasa disampaikan dari orang tua kepada anaknya. Dongeng tersebut disampaikan secara lisan dan biasanya tanpa diketahui pengarangnya. Dongeng selalu mengandung nasihat-nasihat untuk para pendengarnya. Melalui dongeng yang indah-indah tersimpan suatu nasehat yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

2.2.2 Jenis-jenis Dongeng
Menurut Zulfahnur dkk. (1996:44) bahwa berdasarkan isinya dongeng digolongkan atas beberapa jenis, yaitu mite, legenda, sage, fable, parable, dongeng alam, dongeng tentang peri dan hantu serta dongeng jenaka. Penjelasannya, yaitu sebagai berikut.
1) Mite
Mite berasal dari mythos dalam bahasa Yunani, dalam bahasa Perancis mythe dan dalam bahasa inggris myth dialihbahasakan menjadi mite. Mite memiliki arti cerita dewata, dongeng terjadinya bumi dengan segala isinya. Berdasarkan sejarahnya mitos pada mulanya hanya dikisahkan pada peristiwa keagamaan suatu daerah yang telah ditetapkan seperti pergantian tahun, musim menanam atau musim potong padi. Mitos hanya boleh didengarkan oleh orang-orang dewasa yang suci tubuhnya. Pada awalnya penyampaian mitos bertujuan untuk menerima kekuatan dan keselamatan dari nenek moyang bagi kesejahteraan masyarakat. Namun, belakangan ini mitos yang dianggap sakral tersebut dapat secara bebas disampaikan dan didengarkan oleh semua kalangan termasuk lingkungan keluarga di rumah secara bebas.

2) Legenda
Legenda berasal dari kata legend dalam bahasa Inggris. Dalam sastra Indonesia legenda diartikan dongeng yang dihubungkan dengan kenyataan di alam yang belum tentu kebenarannya. Sedangkan menurut Badudu dalam Zulfahnur dkk. (1996:48), bahwa legenda adalah dongeng yang dicari-cari hubungannya dengan kenyataan-kenyataan dalam alam. Misalnya Legenda Tangkuban Perahu dan Roro Jongrang.
3) Sage
Sage atau saga dalam bahasa Inggris adalah cerita lama tentang perbuatan kepahlawanan. Badudu dalam Zulfahnur dkk.(1996:49) mengartikan sage sebagai dongeng yang mengandung sedikit unsur-unsur sejarah di dalamnya; dan dihiasi dengan kesaktian dan keajaiban. Dengan perkataan lain, sage adalah cerita khayal yang mengandung unsur sejarah. Contoh sage adalah Ciung Wanara dan Lutung kasarung.

4) Fabel
Fabel adalah dongeng mengenai kehidupan binatang yang dilukiskan dapat berbuat dan berbicara seperti manusia. Meskipun ceritanya tentang kehidupan dunia binatang, ia merupakan simbolik dari kehidupan manusia. Fabel banyak mengandung ajaran hidup (didaktik) bagi kehidupan manusia. Contoh dari fable banyak sekali, diantaranya cerita si kancil.
5) Parabel 
Parabel adalah dongeng atau cerita khayal yang mengandung ajaran dan bersifat didaktik.
6) Dongeng Alam
Dongeng alam hampir sama dengan mite, yang membedakannya adalah dongeng alam menitikberatkan pada peristiwa yang terjadi setelah bumi terbentuk. Peristiwa-peristiwa yang dimaksud adalah gempa bumi, gunung meletus yang mereka anggap membahayakan.

7) Dongeng Peri
Dongeng peri bercerita tentang kehidupan makhluk-makhluk halus seperti kuntilanak dan peri. Dalam bahasa Inggris dongeng peri ini disebut faire tale.
8) Dongeng Jenaka
Dongeng jenaka adalah cerita fantasi tentang kehidupan orang-orang yang karena kepandaiannya, kejenakaannya atau sering mengalami suka duka bahkan kerugian dalam hidup mereka. Dongeng jenaka cenderung terlalu berlebih-lebihan dalam menceritakan kebodohan seseorang, namun member nasihat agar manusia selalu berhati-hati dan arif dalam kehidupan agar tidak mendapat kesusahan.

2.2.3 Ciri-ciri Dongeng
Ambary (1983:81) dalam bukunya berjudul Intisari sastra Indonesia untuk SMPT menuliskan ciri-ciri kesustastraan lama termasuk dongeng, yaitu sebagai berikut.
1) Sejalan dengan masyarakat yang setia akan sikap konservatif dan tradisional maka kesusastraan lama itu bersifat statis.
2) Masyarakat lama dihiasi oleh hidup gotong royong. Karena itu pula, kesusastraan lama sebagai pancaran masyarakat merupakan milik bersama. Itulah sebabnya para pujangga tak mau menonjolkan namanya dan menyerahkan hasil karyanya kepada masyarakat. Hal ini mengakibatkan kesusastraan lama itu sebagaian besar anonim (tidak dikenal nama pengarangnya). Contoh judul ptk bahasa indonesia smp

3) Tema atau pokok-pokok karangannya, baik puisi atau prosa bercorak:
a. Khayal atau fantasi.
b. Pendidikan (didaktik) dan pelajaran.
c. Agama (religius).
d. Istana sentris:yakni berisi cerita-cerita yang berkisar di sekitar raja-raja beserta keluarganya.
4) Menilik bahasanya, kesusastraan lama mempergunakan bahasa melayu kuno yang penuh dengan petatah petitih, kalimat majemuk yang panjang-panjang, ungkapan-ungkapan klise serta dihiasi kata-kata asing, sansekerta dan arab.
5) Menilik bentuknya, kesusastraan lama memiliki ciri-ciri:
a. Puisinya sangat terikat oleh syarat-syarat mutlak yang konservatif dan tradisional, seperti: jumlah bris dalam tiap-tiap bait, jumlah suku kata dalam tiap baris, sajak dan irama.
b. Prosanya pun senantiasa mempergunakan cara-cara yang tradisional, misalnya saja pendahuluan yang panjang serta ke Arab-araban.

2.2.4 Unsur-unsur yang Membangun Dongeng
Pada dasarnya unsur-unsur yang membangun prosa fiksi itu sama, baik roman, novelete, cerpen maupun dongeng. Setiap prosa fiksi dibangun oleh beberapa unsur intrinsik dan ekstrinsik.
1) Unsur Intrinsik
Unsur-unsur intrinsik meliputi beberapa unsure di antaranya sebagai berikut.
a. Tema adalah pokok masalah cerita.
b. Latar atau setting adalah tempat atau waktu terjadinya suatu peristiwa atau cerita.
c. Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang membangun sebuah cerita. Alur
merupakan kerangka cerita. Pada umumnya alur terdiri atas beberapa tahap:
1) Tahap pengenalan – menguraikan latar cerita atau penokohan.
2) Tahap penampilan masalah atau konflik – menceritakan persoalan yang dihadapi pelaku cerita. Dalam tahap ini akan terjadi konflik antar pelaku.
3) Tahap konflik memuncak – menceritakan konflik yang dihadapi pelaku semakin meningkat.
4) Puncak ketegangan atau klimaks – menggambarkan ketegangan masalah dalam cerita atau masalah itu telah mencapai klimaks atau puncak.
5) Tahap ketegangan menurun – menceritakan masalah yang telah berangsur – angsur dapat diatasi. Pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa sebelumnya.

d. Penokohan atau perwatakan merupakan unsur yang tersurat dalam sebuah cerita. Penokohan adalah pelukisan mengenai pelaku atau tokoh-tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun keadaan batinnya.
e. Sudut Pandang atau cara bercerita adalah kedudukan pencerita dalam membawakan cerita atau kisah. Ada beberapa macam sudut pandang atau cara bercerita, yaitu berikut ini.
1) Sudut pandang orang pertama, yaitu pengarang memakai istilah aku untuk menghidupkan tokoh, seolah-olah dia menceritakan pengalamannya sendiri.
2) Sudut pandang orang ketiga, yaitu pengarang memilih salah seorang tokohnya untuk juga menceritakan orang lain. Tokoh yang diceritakan itu disebut dia.
3) Sudut Pandang pengarang sebagai pencerita (objective point of view). Pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seolah-olah pembaca menonton pementasan sandiwara.
4) Sudut pandang serba tahu (omniscient point of view). Pengarang seolah serba tahu segalanya.

f. Amanat atau tendens adalah hal yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca, yang berkaitan dengan tema. Amanat disebut juga hikmah cerita. Amanat bisa berupa paham-paham tertentu, nasihat-nasihat, ajakan, atau larangan. Anda bisa mengetahui amanat yang disampaikan pengarang setelah membaca seluruh karangan.
2) Unsur Ekstrinsik
Unsur-unsur ekstrinsik yang membangun sebuah prosa fiksi yaitu sebagai berikut.
a. Latar belakang pengarang, kehidupan pengarang dan kejiwaannya berpengaruh terhadap proses penciptaan karya sastra.
b. Aspek-aspek sosial politik seperti masalah ekonomi, budaya, pendidikan akan berpengaruh terhadap karya sastra.
c. Hasil pemikiran manusia atau masyarakat baik berupa ideologi, filsafat maupun pengetahuan lain juga berpengaruh terhadap karya sastra.
d. Semangat zaman, atmosfer atau iklim tertentu, yang dimaksud semangat zaman di sini menyangkut masalah aliran seni yang digemari pada saat itu.

2.2.5 Pembelajaran Menyimak Dongeng
Menyimak dongeng untuk siswa kelas VII SMP adalah bagian dari apresiasi siswa terhadap karya sastra. Selain mempermudah meningkatkan keterampilan menyimak, dongeng merupakan suatu karya sastra lisan Indonesia yang disenangi oleh anak¬anak.
Tujuan menyimak dongeng adalah agar siswa dapat memaknai dengan cermat, cepat, dan tepat tentang cerita yang didengarkannya. Siswa mendengarkan cerita yang diputar atau dilisankan.
Guru sebagai fasilitator menyampaikan dongeng yang dipilih untuk dijadikan bahan apresiasi siswa. Audio Visual dapat dimanfaatkan sebagai media untuk memutarkan film rekaman dongeng. Siswa menyimak dengeng yang telah ditayangkan hingga selesai. Kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan cara menyimak pertanyaan tersebut dan mengisi lembar jawaban. Hal ini dilakukan sebagai refleksi terhadap kemampuan menyimak siswa itu sendiri.

2.3 Media Pendidikan
2.3.1 Pengertian
Media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan intereraksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik, 1977 : 23).
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pendidikan merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengefektifkan proses pendidikan. Proses pendidikan yang dimaksud, yaitu proses belajar mengajar.

2.3.3 Jenis-jenis
Menurut Hamalik dalam Asnawir dan Usman (2002 : 29), media pendidikan diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut. Download ptk bahasa indonesia smp doc
alat-alat visual yang dapat dilihat, misalnya filmstrip, transparasi, microprojection, papan tulis, bulletin board, gambar-gambar, ilustrasi, chart, grafik, poster, peta, dan globe; alat-alat yang bersifat auditif atau hanya dapat didengar, misalnya phonograph record, transkipsi electris, radio, rekaman, pada tape recorder;
alat-alat yang bias dilihat dan didengar, misalnya film dan televise, benda-benda tiga dimensi yang biasanya dipertunjukkan, misalnya model, spicemens, bak pasir, peta electris, koleksi diodrama;
dramatisasi, bermain peran, sosiodrama, sandiwara boneka, dan sebagainya.

2.3.4 Manfaat
Menurut Asnawir dan Usman (2002 : 14-15), media pembelajaran atau media pendidikan memiliki beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut:
1) media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa atau mahasiswa. Pengalaman masing-masing individu yang beragam karena kehidupan keluarga dan masyarakat sangat menentukan macam pengalaman yang berbeda pula. Dalam hal ini media dapat mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut;
2) media dapat mengatasi ruang kelas. Banyak hal yang sukar untuk dialami secara langsung oleh siswa/mahasiswa di dalam kelas, seperti objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan-gerakan yang diamati terlalu cepat atau terlalu lambat. Maka, dengan melalui media akan dapat di atasi kesukaran –kesukaran tersebut;

3) media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan. Gejala fisik dan sosial dapat diajak berkomunikasi dengannya;
4) media menghasilkan keseragaman pengamatan. Pengamatan yang dilakukan siswa dapat secara bersama-sama diarahkan kepada hal-hal yang dianggap penting sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai;
5) media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret, dan realistis. Penggunaan media, seperti gambar, film, model, grafik, dan lainnya dapat memberikan konsep dasar yang benar;
6) media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Dengan menggunakan media horizon pengalaman anak semakin luas, persepsi semakin tajam, dan konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap, sehingga keinginan dan minat baru untuk belajar selalu timbul;

7) media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar. Pemasangan gambar di papan buletin, pemutaran film dan mendengarkan program audio dapat menimbulkan rangsangan tertantu ke arah keinginan untuk belajar;
8) media dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang konkret sampai kepada yang abstrak. Sebuah film tentang suatu benda atau kejadian yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh siswa akan dapat memberikan gambaran yang konkret tentang wujud, ukuran, dan lokasi. Di samping itu, dapat pula mengarahkan kepada generalisasi tentang arti kepercayaan suatu kebudayaan dan sebagainya.

2.4 Film kartun sebagai Media Pendidikan
2.4.1 Pengertian
Pengertian kartun yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 510), yakni film yang menciptakan khayalan gerak sebagai hasil pemotretan rangkaian gambar yang melukiskan perubahan posisi; gambar dengan penampilan yang lucu, berkaitan dengan keadaan yang sedang berlaku (terutama mengenai politik). Selain itu, kartun didefinisikan sebagai gambar bermuatan humor atau satir dalam berbagai media massa dengan tokoh-tokoh yang bersifat fiktif tersebut dikreasikan untuk disajikan sebagai komedi-komedi sosial serta visualisasi jenaka.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kartun adalah gambar yang mengandung pesan tertentu, baik humor, kritikan, maupun pesan lain mngenai suatu hal/peristiwa yang terdapat di media. Media tersebut dapat berupa film, Koran, atau buku.

2.4.2 Jenis-jenis
Kartun dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kartun verbakartun verbal dan kartun non verbal (Wijana, 2003 : 8). Kartun verbal adalah kartun-kartun yang memanfaatkan unsur¬unsur verbal seperti kata, frasa, kalimat, wacana di samping gambar-gambar jenaka di dalam memancing senyum dan tawa para pembacanya.
Sedangkan kartun nonverbal, yaitu kartun yang semata-mata memanfaatkan gambar-gambar/visualisasi jenaka untuk menjalankan tugas itu. Adapun gambar-gambar yang disajikan pada jenis kartun nonverbal adalah gambar-gambar yang memutarbalikkan logika, misalnya seorang lelaki digambarkan berumah di atas pohon Enau atau seseorang digambarkan sedang mengendarai sepeda beban besar. Contoh ptk bahasa indonesia smp pdf
2.4.3 Fungsi
Fungsi film kartun berperan sebagai penghibur, pelepas lelah dan sebagai media kritik sosial. Namun pada waktu-waktu tertentu kartun juga sering digunakan sebagai alat propaganda politik (Kusmayadi, 2004)
Selain itu, kartun pun dapat diserap ke dalam arena pendidikan, yaitu digunakan sebagai media pendidikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Haron dalam Supriadi (2003 : 5) bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. Malah, kartun disanggap sebagai salash satu wahana yang menghiburkan dan boleh meredakan emosi manusia. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens, maka kartun sesuai untuk diserap dalam arena pendidikan.

2.4.4 Kriteria Pemilihan
Menurut Haron dalam Supriadi (2003 : 35-36), kriteria pemilihan kartun untuk pengajaran sebagai berikut:
1. bahan kartun yang mempunyai hubungan pengalaman dan lingkungan hidup dengan kumpulan pelajar sasaran;
2. bahan kartun mesti sesuai dengan pelajar, boleh menarik minat mereka serta berdasarkan kebolehan bahasa dan kecerdasan otak pelajar. Mengetahui tahap pencapaian pelajar terlebih dahulu sebelum membuat pemilihan kartun adalah lebih baik. Kartun-kartun yang sesuai dengan pelajar dapat menarik minat mereka seterunya mencetuskan suasana pembelajaran yang menarik dan berkesan;
3. pilihlah kartun yang menggunakan dialog yang sesuai. Penggunaan perkataan, rangkai kata, dan ayat yang sesuai dengan umur mereka sangat diperlukan;

4. kartun yang akan dipilih seharusnya sesuai dengan sukatan pelajaran dan objektif mengarang pada tingkat tertentu;
5. bahan-bahan yang dipilih sebaik-baiknya bertentangan dengan dasar kerajaan dan tidak bercanggah dengan nilai-nilai murni yang termaktub dalam sukatan pelajaran. Penggunaan kartun yang ekstrim terhadap sesuatu etnik, kaum, aliran politik, dan sebagainya akan menjelaskan kemurnian emosi para pelajar;
6. sebaik-baiknya pilihan kartun yang menampakkan tajuk karangan yang jelas dan tersurat. Banyak kartun yang menggunakan perbilangan, pepatah, simpulan bahasa, falsafah, prinsip, dan sebagainya boleh dipilih sebagai bahan untuk memotivasikan pelajar;
7. kartun yang dipilih bergantung kepada kebijakan guru, yaitu yang bersesuaian dengan tahap pelajar dan objektif mengarang yang ingin dicapai semasa pengajaran.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7

BAB 3
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN


3.1 Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 ...  yang berada di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini menitikberatkan pada kemampuan menyimak siswa dengan menggunakan media film kartun yang berjudul Putri Tidur terjemahan dari cerita yang berjudul Sleeping Beauty.
Penulis memilih film tersebut dengan alasan film tersebut mampu meninbulkan jiwa kepahlawanan bagi siswa pria dan nilai kewanitaan bagi murid wanita yang tidak penulis temukan dalam film-film kartun local, disamping itu persiapan pula bagi siswa dalam menghadapi era globalisasi budaya.

Siswa kelas VII-A SMP Negeri 4 ...  tahun pelajaran 2015-2016 semester 1 dijadikan subjek penelitian. Kelas VII.A ini terdiri atas 26 orang siswa, yaitu 21 orang siswa laki-laki dan 24 orang siswa perempuan. Kelas tersebut diambil sebagai subjek penelitian berdasarkan studi pendahuluan dengan guru bidang studi di sekolah tersebut. ptk bahasa indonesia smp kelas 7 pdf
Siswa kelas VII-A dinyatakan pantas dijadikan subjek penelitian karena siswa kelas tersebut sangat menyukai dongeng, namun kemampuan mereka dalam menyimak dongeng masih sangat rendah. Dengan kata lain, kemampuan menyimak dongeng siswa kelas VII.A harus ditingkatkan sehingga perlu diberi tindakan.

3.2 Prosedur Penelitian
3.2.1 Gambaran Umum Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam materi menyimak dongeng.
Metode ini dipilih dengan berdasarkan pada pendapat ahli yang menyatakan bahwa PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Selain itu, tuntutan masyarakat yang begitu cepat menyebabkan tuntutan terhadap layanan pendidikan yang harus dilakukan oleh guru juga meningkat. Penelitian tindakan merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas.

PTK merupakan suatu proses yang menunjukkan sebuah siklus kegiatan berkelanjutan berulang. Proses penelitian tindakan kelas ini terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation),dan refleksi (reflection). Tahap-tahap kegiatan ini akan terus berulang dalam beberapa siklus sampai suatu permasalahan dianggap teratasi.
Menurut Wardani dkk. (2002 : 2.4), tahap-tahap kegiatan dalam PTK dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3.1
Tahap-tahap Kegiatan dalam Penelitian Tindakan kelas
Menurut Raka Joni dkk. Dalam Tim Pelatih Proyek PGSM (1994 : 2), secara lebih terperinci pro sedur berdaur pelaksanaan PTK dapat digambarkan sebagai berikut.

3.2.2 Rincian Prosedur Penelitian
3.2.2.1 Persiapan Tindakan
Sebagai persiapan tindakan dalam penelitian penulis melakukan studi pendahuluan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi awal yang akan dijadikan sebagai bahan untuk merencanakan tindakan. Penulis melakukan studi pendahuluan yang berkaitan dengan pembelajaran menyimak dongeng lebih kurang seminggu sebelum penelitian tindakan dimulai. Studi pendahuluan tersebut terdiri atas wawancara, penyebaran angket observasi pratindakan, dan pembacaan dongeng.

Wawancara dilakukan dengan guru bidang studi. Wawancara tersebut berisi pertanyaan¬pertanyaan yang terdiri atas pertanyaan mengenai respons siswa terhadap mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, pertanyaan mengenai respon siswa terhadap materi pelajaran menyimak, pertanyaan mengenai respon siswa terhadap materi pelajaran menyimak dongeng, pertanyaan mengenai siswa yang pantas dijadikan subjek penelitian, pertanyaan mengenai keterampilan menyimak dongeng siswa yang akan dijadikan subjek penelitian, dan pertanyaan mengenai penggunaan media dalam pembelajaran menyimak, khususnya dalam pembelajaran menyimak dongeng. Download ptk bahasa indonesia smp doc

Penyebaran angket observasi pratindakan ditujukan kepada siswa yang dijadikan subjek penelitiaan. Angket tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, materi pelajaran menyimak, dan materi pelajaran menyimak dongeng. Hal ini dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap mata pelajaran dan materi pelajaran tersebut, serta untuk mengetahui kesulitan siswa dalam menyimak dongeng.

Selain melakukan wawancara dengan guru bidang studi dan menyebarkan angket observasi pratindakan kepada siswa, penulis membacakan pembacaan dongeng. Pembacaan dongeng tersebut ditujukan kepada siswa yang dijadikan subjek penelitian sebagai tes menyimak dongeng. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak dongeng.

3.2.2.2 Implementasi Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama lebih kurang dua bulan. Pelaksanaannya dilakukan bersama guru bidang studi yang berperan sebagai praktisi. Dalam pelaksanaannya digunakan tahap-tahap kegiatan PTK, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengamatan, dan refleksi.
a. Perencanaan
Hasil studi pendahuluan yang telah diperoleh selanjutnya digunakan sebagai bahan untuk menyusun rancangan tindakan yang akan dilakukan. Pada tahap ini penulis dan guru menyusun rancangan program tindakan perbaikan pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun. Perencanaan penelitian tersebut terdiri atas hal¬hal berikut.
1) Penentuan jumlah siklus penelitian, yaitu dua siklus. Penetapan ini berdasarkan pada waktu yang tersedia.
2) Penentuan waktu penelitian tindakan (siklus I dan siklus II).
3) Penentuan kelas yang akan digunakan sebagai kelas penelitian.
4) Penentuan film kartun yang akan digunakan sebagai media dalam penelitian.
5) Pembuatan instrument penelitian, lembar observasi aktivitas siswa, lembar 
       observasi aktivitas guru, angket respons siswa, dan jurnal siswa.

a) Lembar observasi, yaitu berupa daftar hal-hal yang akan di observasi atau diamati pada saat pelaksanaan tindakan. Pedoman observasi yang digunakan, yaitu lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi aktivitas guru. Aktivitas siswa yang diamati mencakup perilaku siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yakni keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, menyimak penjelasan guru, mengerjakan tugas, perilaku yang tidak sesuai dengan KBM, dan mengerjakan tugas, sedangkan aktivitas guru yang diamati meliputi keterampilan guru mengajar, yaitu sejak membuka hingga menutup pelajaran.

b) Angket respons siswa. Angket ini diberikan pada setiap akhir pembelajaran. Angket yang terdiri atas lima pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui respons siswa mengenai pembelajaran menyimak dongeng yang dilaksanakan. Adapun pertanyaan – pertanyaan tersebut sebagai berikut.
1) Pembelajaran menyimak yang saya ikuti menarik.
2) Saya menyukai cara guru mengajar.
3) Saya jadi mengerti pelajaran menyimak dongeng.
4) Saya berharap pembelaj ran menyimak dongeng diajarkan dengan media pembelajaran seperti ini.
5) Ini benar-benar pengalaman baru dalam belajar menyimak.

b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus I
1) tim peneliti merancang tindakan yang akan dilakukan dengan menekankan pada hal yang harus diperbaiki berdasarkan hasil studi pendahuluan.
2) tim peneliti membuat skenario pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun.
3) tim peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas siklus I sekaligus melakukan observasi
4) tim peneliti menganalisis hasil pembelajaran siklus I. Pelaksanaan analisis terhadap pembelajaran dilakukan untuk memperoleh gambaran secara kualitatif dan kuantitatif dari proses tindakan dan observasi, kemudian dijadikan perencanaan pada siklus selanjutnya.

Siklus II
1) Tim peneliti merancang tindakan yang akan dilakukan dengan menekankan pada hal yang harus diperberbaiki berdasarkan hasil refleksi pada siklus I;
2) Tim peneliti membuat skenario pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media film kartun;
3) Tim peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas siklus II sekaligus melakukan observasi
4) Tim peneliti menganalisi hasil pembelajaran siklus II. Pelaksanaan analisis terhadap pembelajaran dilakukan untuk memperoleh gambaran secara kualitatif dan kuantitatif
dari proses tindakan dan observasi, kemudian dijadikan perencanaan pada siklus selanjutnya.

3.2.2.3 Pemantauan
Secara umum, observasi bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu (Wardani dkk., 2002 : 2.19). Pemantauan (observasi) merupakan upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. Pemantauan ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dan aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa, sedangkan untuk memperoleh data mengenai aktivitas guru digunakan lembar observasi aktivitas guru.
Jenis observasi hanya digunakan dalam penelitian ini, yaitu observasi terstruktur. Observer hanya membubuhkan tanda cek (~) di tempat yang telah disediakan karena lembar observasi ini sudah siap pakai.

3.2.2.4 Refleksi
Refleksi dilakukan oleh penulis dan praktisi (guru) dengan cara mendiskusikan hasil pengamatan kegiatan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Kegiatan tersebut merupakan refleksi yang dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang harus dipertahankan dan yang harus ditingkatkan atau harus diperbaiki. Contoh judul ptk bahasa indonesia smp
Hasil observasi dikumpulkan. Lalu diolah. Dari hasil observasi tersebut guru dapat merefleksikan diri mengenai pengaruh aktivitas yang telah dilakukannya terhadap keterampilan menyimak dongeng siswa.

Dari hasil analisis lembar kerja siswa, jurnal siswa, angket respon siswa, lembar observasi aktivitas siswa, dan lembar observasi aktivitas guru dapat dilihat peningkatan atau penurunan keberhasilan pembelajaran pada setiap siklus. Hasil analisis data tersebut dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.
Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara berikut.
1) Penulis mengiventarisasi data, yaitu mengumpulkan data yang ada, antara lain lembar kerja siswa, observasi aktivitas siswa, observasi aktivitas guru, angket respon siswa, dan jurnal siswa.
2) Penulis mendeskripsikan perencanaan tindakan setiap siklus.
3) Penulis mendeskripsikan pelaksanaan tindakan setiap siklus.
4) Penulis menganalisis data berupa hasil belajar siswa, yaitu jawaban menyimak dongeng untuk mengetahui keberhasilan penelitian yang telah dilakukan.Untuk mengukur daya serap siswa penulis menggunakan system PAP skala lima menurut Suherman dalam Lapipah (2004 : 33) berikut ini.
90 ~ A ~ 100 (sangat tinggi)
75 ~ B < 90 (tinggi)
55 ~ C < 75 (cukup)
40 ~ D < 55 (rendah)
0 ~ E < 40 (sangat rendah)
Penulis menilai menyimak siswa dengan menggunakan kriteria penilaian yang tampak pada tabel berikut.

Tabel 3.2
Format Penilaian Menyimak Siswa

Deskripsi Penilaian
1. Kemampuan mengungkapkan isi cerita
2. Kemampuan mengungkapkan hal-hal menarik dalam dongeng yang disimak dengan alasan yang logis.
3. Kemampuan mengungkapkan relevansi isi dongeng dengan kondisi saat ini.

5) Penulis menganalisis data yang diperoleh dari angket respon siswa lalu menafsirkannya. Caranya, yaitu menghitung persentase setiap pertanyaan (respons) dengan rumus berikut
ini. Download ptk bahasa indonesia smp doc
Keterangan
F: Jumlah persentase setiap pertanyaan (respons) E: Jumlah siswa yang memilih/menjawab respons N: Jumlah seluruh subjek
Berikut ini klasifikasi interprestasi perhitungan persentase setiap kategori menurut Kuntjaraningrat dalam Hartini (2004 : 46).

Tabel 3.3
Interprestasi Perhitungan Persentase
6) Penulis menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa dengan rumus berikut ini.
Keterangan
01 = Penilaian yang diberikan pengamat pertama untuk setiap kategori pengamatan.
02 = penilaian yang diberikan pengamat kedua untuk setiap kategori pengamatan.
7) Penulis menganalisis jurnal siswa dengan mengelompokkan kesan siswa ke dalam kelompok kesan atau komentar positif dan negatif.
Persentase jenis komentar =
Persentase rata-rata jenis komentar =
Keterangan
PKS1= Persentase Komentar Siklus ke -1 PKS2= Persentase Komentar Siklus ke-2

CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP LENGKAP

DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Abdullah. 1983. Intisari Sastra Indonesia. Bandung:Jatnika.
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Pros edur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta : PT. Rinekacipta.
Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta : Ciputat Pers. Hamalik, Oemar. 1977. Media Pendidikan. Bandung : Alumni.
Hidayat, Kosadi dkk. 1994. Evaluasi Pendidikan dan Penerapannya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung : Alfabeta.
Natawidjaya, Suparman. 1980. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta : PT. Intermasa. Rahmanto, B dan P Hariyanto. 1997. Cerita Rekaan dan Drama. Jakarta : Universitas Terbuka.
Rose, Colin. 2003. K-U-A-S-A-I Lebih Cepat : Buku Pintar Accelerated Learning. Bandung : KAIFA.
Sadiman, Arief S. dkk. 2003. Media Pendidikan Pen gertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Semi, M. Atar. 1993. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung : Angkasa. Subana, M dan Sudrajat. 2005. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung : Pustaka Setia.
Subana, M dan Sunarti. (tanpa tahun). Strategi Belajar Mengaj ar Bahasa Indonesia; Berbagai
Pendekatan, Metode, Teknik, dan Media Pengajaran. Bandung : Pustaka Setia.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Aglesindo. Sudjana, Nana. 1989. Penelitian dan Penilaian dalam Pendidikan. Bandung : C.V Sinar Baru. Sukidin dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Insan Cendekia.
Supriadi. 2003. Pengaruh Media Kartun Matematika terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (Suatu Penelitian di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Bandung). Skripsi Sarjana Pendidikan pada FPMIPA UPI : tidak diterbitkan.
Surakhmad, Winarno. 1980. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Angkasa.
Tarigan, Hendry Guntur. 1994. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka.
Universitas Pendidikan Indonesia. 2001. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Laporan Buku, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi). Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Usman, Moh. Uzer. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Wardani, I.G.A.K.dkk. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka. W, H. Sutardi. 2003. Pen gantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : UPI.
Wibawa, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.
Wibawa, Basuki dan Farida Mukti. 1992. Media Pengajaran. Jakarta : Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Wijana, I Dewa Putu. 2003. Kartun. Yogyakarta : Ombak.
Z.F, Zulfahnur. Dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta : Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH JUDUL PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7

Postingan terkait: