PTK MATEMATIKA KELAS 5 MAKE A MATCH

PTK MATEMATIKA KELAS 5 MAKE A MATCH-Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui metode pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan Keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan materi pokok “pecahan campuran” kelas V di SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ..... Contoh ptk sd kelas 5 pdf
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart dengan langkah perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi yang dilaksanakan dengan dua siklus. Pada siklus I terdiri dari dua pertemuan, sedangkan siklus II terdiri dari dua pertemuan. Teknik analisis data yang digunakan dengan menggunakan teknik analisis data prosentase.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan keaktifan dan untuk mata pelajaran Matematika Kelas V Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016. Melalui metode pembelajaran kooperatif teknik Make A Match yang akan dilanjutkan oleh peningkatan hasil belajar yang dapat dilihat pada kondisi awal dengan sekor rata-rata nilai siswa 57,5, siklus I dengan rata-rata nilai 66,2, siklus II 78,5. Peningkatan hasil belajar pada kondisi awal ke siklus I sebesar 61,5% dan dari siklus I ke siklus II 88,5%. Dengan nilai maksimal siklus I 100 dan nilai minimalnya 70, dan pada siklus II dengan. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui Metode Pembelajaran Kooperatif teknik Make A Match dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa matematika semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016 kelas V SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten .... Maka saran dari penulis adalah metode pembelajaran teknik Make A Match dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam Proses Belajar Mengajar. Dengan metode pembelajaran kooperatif teknik Make A Match dalam Proses Belajar Mengajar dapat meningkatkan keaktifan yang akan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.
Kesimpulan dari penelitian inin adalah penerapan metode pembelajaran kooperatif teknik Make A Match (mencari pasangan) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Matematika siswa kelas V SD Negeri ... .
Diharapkan dalam menerapkan metode ini guru hendaknya membuat kesepakatan dengan siswa terlebih dahulu tentang aturan/tata tertib yang berlaku agar situasi di kelas tidak terlalu gaduh.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMTIKA SD yang diberi judul "PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN MAKE-A MATCH (MENCARI PASANGAN) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SEMESTER 2 SD NEGERI ... KABUPATEN ... TAHUN PELAJARAN 2015/2016". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK 029 SD).


DOWNLOAD LAPORAN HASIL PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, sekarang ini makin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian, dan di banyak bidang sosial maupun teknik. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi para guru dalam mengajarkan matematika di kelas. Kondisi yang demikian terjadi pada siswa SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ..., dalam pokok bahasan operasi hitung campuran banyak siswa yang menjawab dari 10 soal yang disediakan, hanya mampu menjawab 3-5 soal yang benar. Hal tersebut dikarenakan siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru.
Depdiknas (2002: 16) menyatakan bahwa bangunan matematika disusun dengan dasar pondasi berupa kumpulan pengertian pangkal (unsur pangkal dan relasi pangkal) dan kumpulan sifat pangkal (aksioma). Aksioma atau sifat pangkal adalah semacam dalil yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan namun sangat menentukan, karena sifat pangkal inilah yang akan menjadi dasar untuk membuktikan dalil atau teorema berikutnya matematika selanjutnya. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Depdiknas (2003: 4) menyebutkan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Hal ini ditegaskan lagi dalam salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai dari SD dan MI sampai SMA dan MA yaitu: menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika. Download ptk sd kelas 5 doc

Selama ini, matematika disekolah di Indonesia lebih diinspirasi oleh pandangan absolut bahwa matematika dipandang sebagai kebenaran mutlak, sebagai produk yang siap pakai. Siswa diperlakukan sebagai obyek belajar, sehingga guru lebih banyak mencekoki siswa dengan konsep-konsep atau prosedur-prosedur matematika. Selain itu, guru-guru juga tidak mengetahui bahwa proses terpenting dalam bermatematika adalah nalar bukan kemampuan berhitung. Matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika. Menurut Depdiknas (2002: 14) penekanan berlebihan pada penghafalan semata, penekanan pada kecepatan atau berhitung, pengajaran otoriter, kurangnya variasi dalam proses belajar-mengajar matematika, dan penekanan berlebihan pada prestasi individu menyebabkan terjadinya fobia matematika.
Selama ini proses pembelajaran matematika kebanyakan masih mengunakan paradigma yang lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal (3 DCH) sehingga Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran matematika. Akibatnya nilai akhir yang dicapai siswa tidak seperti yang diharapkan. Siswa kelas V SD Negeri ...  dalam pembelajaran materi pokok operasi hitung bilangan pecahan yang mendapatkan nilai 65 ke atas hanya 8 siswa atau 42,3% dari 18 orang siswa.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang hakikat pembelajaran matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses pembelajaran dengan baik yang sesuai dengan perkembangan kongnitif siswa, penggunaan media, metode dan pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta terseranggaranya kegiatan pembelajaran yang efektif. Selama ini kegiatan pembelajaran matematika di kelas V SD Negeri ...  masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah saja, sehingga guru dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Dampaknya siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar sehingga siswa sulit menerima materi. Belum lagi ditambah asumsi siswa bahwa mata pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit, sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar apalagi mendengarkan penjelasan guru.

Dalam pembelajaran matematika di SD Negeri ... , hasil evaluasinya belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil penelitian pada kondisi awal test formatif menunjukkan tingkat penguasaan terhadap materi pembelajaran yang rendah. Terbukti dari 18 siswa yang mencapai tingkat penguasaan hanya 8 siswa. Hal ini menjukkan tingkat penguasaan materi baru mencapai 42,30%, dengan rata-rata nilai 57,5, hasilnya tidak sesuai dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65.
Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti: sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Seorang pakar pendidikan, menyatakan bahwa ”hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktifitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan hasil belajar.
Menurut observasi yang telah dilakukan peneliti, peneliti melihat dalam proses pembelajaran siswa sering tidak aktif misalnya bercerita dengan teman sebangku, tidak mau bertanya walaupun belum jelas, bermain, tidak mau menjawab pertanyaan guru, diam, semua ini dapat membuat hasil belajar kurang memuaskan. Apabila ketidak aktifan dalam proses pembelajaran dibiarkan, akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan belajar siswa dan berpengaruh juga pada mata pelajaran yang lain. Maka peneliti tertarik untuk menanggulangi masalah tersebut melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu dengan cara meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) pada mata pelajaran matematika siswa kelas V SD Negeri ... .

Dengan survey di kelas diketemukan bahwa pada saat belajar mengajar berlangsung ternyata siswa tidak banyak yang mengeluarkan pendapat atau idenya atau terjadi saling membagi ide-ide yang dimilikinya untuk mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Dari kenyataan tersebut peneliti bersama guru berusaha memperbaiki sehingga siswa dapat bekerjasama dalam menguasai materi yang dibahas kurun waktu proses belajar mengajar. Dengan memperhatikan perihal tersebut maka dicoba untuk menggali penggunaan salah satu metode yang telah dikenal yaitu Make A Match (mencari pasangan). Dunia pendidikan yang semakin berkembang dari waktu ke waktu, menurut para pelaku pendidikan untuk menjawab pendidikan. Sebagai metode belajar terus dikembangkan agar siswa atau peserta didik dapat dengan mudah menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru, salah satu metode yang dapat di lakukan untuk memperoleh proses permbelajaran adalah dengan metode pembelajaran Make A Match (mencari pasangan). Contoh ptk kelas 5 sd
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam KBM siswa kelas V di SD Negeri ...  melalui penerapan pembelajaran kooperatif teknik Make A Match (mencari pasangan). Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklusnya mencakup 4 tahap kegiatan, yaitu: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan Tindakan, 3) Pengamatan, dan 4) Refleksi. Subyek penelitian adalah kelas V SD Negeri ...  pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Hasil penelitian ini secara keseluruhan menunjukan adanya peningkatan prestasi dan keaktifan dan hasil belajar matematika metode pembelajran kooperatif teknik Make A Match (mencari pasangan). Peningkatan keaktifan dan hasil belajar dapat dilihat dari berubahnya nilai kelas interval dari tahap pre tes atau kondisi awal ke siklus I kemudian dilanjutkan ke siklus II, terlihat semakin tinggi keaktifan dan hasil belajar siswa.

Proses belajar mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai kualitas pengajaran yang bermutu, mata pelajaran harus diorganisasikan dengan strategi yang tepat dan selanjutnya disampaikan kepada siswa dengan strategi yang tepat pula. Dalam hal ini, pemilihan metode pembelajaran sangat menentukan keberhasilan suatu proses belajar mengajar maupun untuk pengembangannya. Salah satu upaya untuk peningkatan keaktifan sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah bahwa guru dapat memilih strategi belajar yang tepat dipandang dari segi metode pembelajaran yang dipakai, situasi kelas, kemampuan siswa secara umum maupun dalam mempertimbangkan waktu yang tersedia dan lain sebagainya. Suatu hal yang terpenting yang dapat mempengaruhi keaktifan dan hasil belajar adalah metode pembelajaran, dari berbagai metode pembelajaran yang ada, guru dapat memilih yang paling tepat untuk dapat menunjang keberhasilan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran. Dari metode pembelajaran yang ada pada penerapanya di kelas siswa dapat belajar secara individual maupun belajar bersama secara gotong royong (cooperatif learning), merupakan hal yang sangat penting untuk membantu guru dalam ketepatan berbuat dan memilih metode pembelajaran yang digunakan secara tepat, mengingat bahwa semua metode pembelajaran yang ada mempunyai keunggulan dan kekurangan untuk diterapkan.

Melalui metode pembelajaran kooperatif tipe Make A Match (mencari pasangan) muncul keaktifan siswa yang terdata dari ide yang ada dalam pemecahan jawaban yang tepat diharapkan dapat terpenuhi dengan baik terhadap hasil belajar siswa. Teknik belajar mengajar Make A Match (mencari pasangan) dikembangkan oleh Lorna Curran 1994 (dalam Lie, 2007: 55). Salah satu keunggulan teknik Make A Match (mencari pasangan) ini adalah siswa dapat sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan ini dipusatkan pada siswa kelas V SD pada mata pelajaran matematika semester genap dengan maksud memperbaiki keaktifan dan hasil dalam proses belajar mengajar berlangsung untuk meningkatkan semangat kerjasama dalam mata pelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri ...  Subyek penelitian yang terpilih adalah kelas V dengan jumlah siswa sebanyak 18 siswa.

Dalam penelitian ini masalah yang diamati ada dua macam yaitu tingkat keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika, dengan materi pokok pecahan campuran. Untuk tingkat keaktifan siswa indikator keberhasilan yang digunakan adalah sekurang-kurangnya 70%. Sedangkan untuk hasil belajar dalam mata pelajaran matematika, KKM yang digunakan adalah nilai rata-rata mencapai minimal 65 rata-rata nilai ulangan. Untuk menghitung rata-rata aspek keaktifan dan hasil belajar digunakan data dari lembar observasi keaktifan dan soal-soal evaluasi. Data yang diperoleh kemudian dihitung, setelah itu dipersentase. Dengan demikian dapat diketahui seberapa besar peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hasil analisis data kemudian disajikan secara deskriptif. Selanjutnya data kuantitatif tersebut dapat ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif.
Selain dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, penerapan metode pembelajaran kooperatif teknik Make A Match (mencari pasangan) ini juga dapat mempersempit rentang nilai antara yang baik dengan yang buruk, sehingga nilai siswa di kelas menjadi homogen. Dengan penerapan metode pembelajaran tersebut pula membuat siswa menjadi termotivasi untuk bekerjasama lebih keras untuk keberhasilan bersama-sama, mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal kemudian membandingkan ide dengan temannya, dan membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, serta mengajarkan kemampuan berfikir kreatif mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain.
Berdasarkan penjelasan tersebut mengenai pentingnya penerapan metode pembelajaran Make A Match (mencari pasangan) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di sekolah dasar, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri ... ”.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah dapat diidentifikasikan masalah menurut faktor-faktor yang menyebabkan keaktifan dan hasil belajar siswa rendah dalam pelajaran matematika adalah:
a. Kurangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran metode pembelajaran yang kurang berfariasi dan menyenangkan untuk menerangkan materi pembelajaran.
b. Rendahnya hasil belajar karena siswa tidak merasa senang atau kurang bergembila saat proses pembelajaran berkangsung.
Untuk dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa guru perlu malakukan hal-hal yang dapat membuat keaktifan dan hasil belajar meningkat, yaitu seperti:
a. Mengubah metode pembelajaran, tidak hanya menggunakan metode ceramah saja tetapi menggunakan beberapa metode. Karena metode ceramah ini tidak akan mengaktifkan siswa dalam belajar
b. Menciptakan suasana menyenangkan dan tidak membosankan saat proses pembelajaran sehingga siswa dapat menerima materi lebih cepat
Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan). Metode ini adalah metode pembelajaran dalam bentuk permainan yang menggembirakan, sekaligus membuat semangat, sehingga diharapkan meningkatkan keaktifkan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika siswa di kelas V SD Negeri ... . Contoh ptk kelas 5 sd

1.3 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah, “Apakah Penerapan Metode Pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan) Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri ... ?”

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika Kelas V SD Negeri ...  melalui metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) di atas 13 siswa atau sekitar 70%.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Menumbuhkan keaktifan siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) pada pembelajaran matematika
b. Bagi Siswa
1) Meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran pada pelajaran matematika.
2) Meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika.
c. Bagi Sekolah
1) Meningkatkan proses pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di kelas V SD Negeri ... 
2) Memberikan masukan bagi sekolah bahwa metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) merupakan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan pada pembelajaran matematika.

CONTOH PTK MATEMATIKA SD KENAIKAN PANGKAT

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kajian Teori
2.1.1 Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah malam hari, siang hari, sore hari, atau pagi hari.
Namun, dari semua itu tidak semua orang mengetahui apa itu belajar. Seandainya dipertanyakan apa yang sedang dilakukan? Tentu saja jawabnya adalah “belajar”. Itu saja titik. Sebenarnya dari kata “belajar”itulah yang perlu diketahui dan dihayati, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai masalah belajar.
Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat di pertanggungj awabkan secara ilmiah (dalam Djamarah, 2011: 12)

Ada beberapa pendapat para ahli tentang definisi belajar. Contoh ptk sd kelas 5 pdf Menurut Ma’mur (2010: 63) mengatakan belajar adalah proses membangun makna atau pemahaman oleh pembelajar terhadap pengalaman dan informasi yang disaring dengan pandangan, pikiran pengetahuan yang dimiliki dan perasaan. Selaras dengan pendapat diatas, Bahri dan Aswan (2010: 10) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. James O. Whittaker (dalam Djamarah, 2011: 12) misalnya merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah malalui latihan atau pengalaman. Cronbach (dalam Djamarah, 2011: 12) berpendapat bahwa lerning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Howard L. Ki ngskey (dalam Djamarah, 2011: 13) mengatakan bahwa learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training. Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melaui praktek atau latihan.
Pengetian belajar yang selanjutnya menurut Slameto (2003: 2). Belajar adalah suatu proses usaha yang dikalukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Travers (dalam Suprijono, 2011: 2). Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku. Geoch (dalam Suprijono, 2011: 2). Learning is a change in performance as a resultof practice. Belajar adalah perubahan performance sebagai hasil latihan. Morgan (dalam Suprijono, 2011: 3). Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat pemanen sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Mahmud (2010: 61) proses munculnya atau berubahnya suatu perilaku karena adanya respons terhadap suatu situasi. Menurut Skinner yang (dalam Dimyati dan M udjiono, 2009: 9) bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku.

Berdasarkan uraian beberapa pengertian belajar dari para ahli, maka peneliti menyimpulkan pengertian belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan merupakan proses mendapatkan pengetahuan dan perubahan dalam diri seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Setelah mengupas mengenai pengertian belajar dari para ahli dapat diperoleh kesimpulan bahwa belajar adalah perubahan pada diri seseorang yang melakukan perbuatan belajar itu. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan, suatu sikap, suatu pengertian sebagai pengetahuan atau apresiasi (penerimaan atau penghargaan) dan lain-lain. Tujuan dari belajar adalah untuk memperoleh hasil belajar yang baik maka setelah mengupas mengenai belajar akan dilanjutkan pada pembahasan hasil belajar

2.1.2 Keaktifan
Sebelum peneliti meninjau lebih jauh tentang keaktuf an belajar, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang aktifitas belajar.
Belajar menurut Hamalik (2001: 28), belajar adalah “Suatu proses perubahan ti ngkah laku i ndividu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktif an siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif, afektif dan psikomotor”.
Menurut Usman (2002: 26) cara yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki keterlibatan siswa antara lain sebagai berikut:
a. Tingkat prestasi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang membuat responyang aktif dari siswa.
b. Masa transisi antara kegiatan dalam mengajar hendakanya dilakukan secara cepat dan luwes.
c. berikan pengajaran dengan jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai.
d. Usahakan agar pengajaran dapat lebih memacu minat siswa.
Menurut Lidgren (dalam Usman, 2002: 24) terdapat empat jenis interaksi dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya sebagai berikut:

Komunikasi satu arah (gambar 1.a) merupakan komunikasi yang hanya dilakukan oleh guru terhadap siswa, sementara siswa hanya pasif sebatas mendengarkan komunikasi dari guru. Komunikasi dari guru sudah dapat merespon balik dari siswa, tetapi tidak ada komunikasi antar siswa. Interaksi yang terjadi hanya antar guru dan siswa selama pembelajaran (gambar 1 .b). Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa dan ada interaksi antar siswa, tetapi belum keseluruhan siswa yang melakukan interaksi baik dengan guru maupun siswa lainnya (gambar 1.c). Komunikasi sudah berjalkan baik antar guru dengan siswa maupun antar siswa dengan siswa yang lainnya. Dalam hal ini interaksi sudah optimal selama proses pembelajaran (gambar 1.d).
Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktif an apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Seorang pakar pendidikan, menyatakan bahwa ” hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Menurut penulis aktif artinya giat bekerja dan berusaha. Keaktifan dapat diartikan bahwa dalam pembelajaran siswa semangat mengikuti penjelasan guru, antif bertanya, aktif menjawab, kerjasama antar siswa, aktif dalam melakukan mermai nan, aktif mengemukakan ide/pendapat, menyi mpulkan hasil kegiatan. Keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini keaktif an dapat juga terlihat dari respon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru.
Selanjutnya tingkat keaktif an belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak¬tidaknya sebagian besar (70%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.
2.1.3 Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai -nilai pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne (dalam Suprijono, 2011: 5) hasil belajar merupakan: 1) Informasi ferbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertilis. Kemampuan respon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak merupakan manipulasi simbol pemecahan masalah maupun penerapan aturan; 2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategori sasi, kemampuan analisis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktifitas kongnitif bersifat khas; 3) Strategi kongnitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kongnitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah; 4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan malakukan serangkaian gerak jasmani dalam urysan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani; 5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadi kan nilai -nilai sebagaistandar perilaku.

Menurut Bloom (dalam Suprijono, 2011: 6), hasil belajar mencangkup kemampuan kongnitif, akfektif, dan psikomotorik. Domain kongnitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (mengurai kan, menentukan hubu ngan), synthesis (mengorgani sasi kan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluarion (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons) valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Do mai n psi ko motor meli puti initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencangkup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Menurut Lindgren (dalam Suprijono, 2011: 7) hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap. Hasil belajar menurut Sudjana dan Ahmad (1999:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalan belajarnya.
Dari beberapa pengertian hasil belajar dari para ahli maka pemikiran penulis tentang hasil belajar adalah hasil akhir dari dari seluruh kegiatan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan menerima suatu palajaran untuk mencapai kompetensi yang berupa aspek kognitif yang diungkapkan dengan alat penilaian yaitu tes evaluasi dengan hasil yang dinyatakan dalam bentuk nilai, aspek afektif yang menunjukkan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan aspek psikomotorik yang menunjukkan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa dalam mengikuti pembelajaran. Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai seseatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kiat bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si pembelajar.

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Hasil Belajar
Untuk mencapai hasil belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain:
a. Faktor Internal
Menurut Baharudin dan Wahyuni (2010: 19) Faktor-faktor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis
Faktor Internal adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang ditimbulkan dari dalam diri individu itu sendiri, misalnya intelgenitas, kesehatan siswa, dan mental. Download ptk sd kelas 5 doc Adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecerdasan/intelegensi, bakat, minat, dan motivasi.
Slam eto (1995: 56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.”
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1997: 24) minat adalah “ kecenderungan yang menatap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.”

b. Faktor Eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endegen, faktor-faktor eksternal juga dapat memprngaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini Syah 2003 (dalam Menurut Baharudin dan Wahyuni (2010: 26) menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
Faktor Eksternal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu misalnya beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya, pengaruh teman, motivasi guru, lingkungan belajar, dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu.
2.1.5 Matematika
Matematika dibandingkan dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain mempunyai karakteristik tersendiri. Banyak para ahli menyebutkan bahwa matematika itu berhubungan dengan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak yang penalarannya bersif at deduktif, namun orang-orang sering menyebut matematika itu ilmu hitung. Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’, sedang dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antar konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu, matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu. Tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argumen yang konsisten menurut Arsyilia.

Dalam proses belajar Matematika menurut Brunner (dalam Muhsetyo, dkk, 2007: 1.26) menyatakan pentingnya tekanan pada kemampuan peserta didik dalam berfikir intuitifdan analitik akan mencerdaskan peserta didik membuat prediksi dan terampil dalm menemukan pola (pattern) dan hubungan/keterkaitan (relations). Pembaruan dalam proses belajar i ni, dari proses drill & practiceke proses bermakna, dan dilanjutkan proses berfikir intuitif dan analitik, merupakan usaha yang luar biasa untuk selalu meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

2.1.5.1 Tujuan dan Fungsi Pembelajara Matematika
Setiap yang dilakukan manusia pastilah memiliki tujuan, begitu pula dengan pembelajaran matematika. Tujuan umum pendidikan matematika ditekankan pada siswa untuk memiliki:
a. Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
b. Kamampuan menggunakan matemati ka sebagai lat komuni kasi.
c. Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat obyektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelsaikan suatu masalah.
Selain tujuan umum pembelajaran matematika ada pula fungsi matematika dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
Matematika berfi ngsi mengem bangakan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus, matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang, dan statistik, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfingsi mengembangka kemampuan mengomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat matematika dan persamaan matematika, diagram, grafik atau table.
2.1.5.2 Pembelajaran Matematika di SD
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, sekarang ini makin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian, dan di banyak bidang sosial maupun teknik. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi para guru dalam mengajarkan matematika di kelas. Kondisi yang demikian terjadi pada siswa SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ..., dalam pokok bahasan operasi hitung campuran banyak siswa yang menjawab dari 10 soal yang disediakan, hanya mampu dijawab 3-5 soal yang benar. Hal tersebut dikarenakan siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru.

Depdiknas (2002: 16) menyatakan bahwa bangunan matematika disusun dengan dasar pondasi berupa kumpulan pengertian pangkal (unsur pangkal dan relasi pangkal) dan kumpulan sifat pangkal (aksioma). Aksioma atau sifat pangkal adalah semacam dalil yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan namun sangat menentukan, karena sifat pangkal inilah yang akan menjadi dasar untuk membuktikan dalil atau teorema berikutnya matematika selanjutnya. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebel umnya.
Depdiknas (2003: 4) menyebutkan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Hal ini ditegaskan lagi dalam salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai dari SD dan MI sampai SMA dan MA yaitu: menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika.
Selama ini, matematika disekolah di Indonesia lebih diinspirasi oleh pandangan absolut bahwa matematika dipandang sebagai kebenaran mutlak, sebagai produk yang siap pakai. Siswa diperlakukan sebagai obyek belajar, sehingga guru lebih banyak mencekoki siswa dengan konsep-konsep atau prosedur-prosedur matemati ka. Selain itu, guru-guru juga tidak mengetahui bahwa proses terpenting dalam bermatematika adalah nalar bukan kemampuan berhitung. Matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika. Menurut Depdiknas (2002: 14) penekanan berlebihan pada penghafalan semata, penekanan pada kecepatan atau berhitung, pengajaran otoriter, kurangnya variasi dalam proses belajar-mengajar matematika, dan penekanan berlebihan pada prestasi individu menyebabkan terjadinya fobia matematika.

Selama ini proses pembelajaran matematika kebanyakan masih mengunakan paradigma yang lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal (3D CH) sehingga Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran matematika. Akibatnya nilai akhir yang dicapai siswa tidak seperti yang diharapkan. Siswa kelas V SD Negeri .... dalam pembelajaran materi pokok operasi hitung bilangan pecahan yang mendapatkan nilai 65 ke atas hanya 11 siswa atau 42,3% dari 26 orang siswa.
Menurut Muhsetyo, dkk (2007: 1.26) Pembelajaran matematika adalah proses poemberian pengalaman belajar peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matamatika yang dipelajari.
Pembelajaran matematika yang diajarkan di SD merupakan matematika sekolah yang terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta berpedoman kepada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Contoh ptk kelas 5 sd Hal ini menunjukkan bahwa matematika SD tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu: (1) memiliki objek kajian yang abstrak (2) memiliki pola pikir deduktif konsisten. Suherman (2006: 55) menjelaskan bahwa matematika sebagai studi tentang objek abstrak tentu saja sangat sulit untuk dapat dipahami oleh siswa-siswa SD yang belum mampu berpikir formal, sebab orientasinya masihterkait dengan benda-benda konkret. Ini tidak berarti bahwa matematika tidak mungkin tidak diajarkan di jenjang pendidikan dasar, bahkan pada hakekatnya matematika lebih baik diajarkan pada usia dini.

Sebelum tahun lima-puluhan, kurikulum matamatika sekolah dasar dipengaruhi oleh Thorndike, ditandaiterutama dengan pengembangan keteram pi lan kom putasi onal bi langan cacah, pecahan, dan decimal. Teori Thorndike tersebut teori penerapan, yaitu teori yang memandang peserta didik sebagai selembar kertas putih, penerima pengetahuanyang sisp menerima pengetahuan secara pasif. Menurut Thorndike 1924 (dalam Muhsetyo, dkk (2007: 1.8) belajar dikatakan sbagai berikut: learning in essentially the formation of connections or bonds between situations and responses…and that habit rules in the realm of thought as truly and as fully in the ream of action.
Penyelidikan matematis adalah penyelidikan tentang masalah yang dapat dikembangkan menjadi model matematika pada tema tertentu berorientasi pada kajian atau eksplorasi mendalam, dan bersifat open-ended. Kegiatan belajar yang dilaksanakan dapat berupa cooperative learning menurut M uhsetyo, dkk (2007: 1.31). Anak unur 6-9 tahun sifat fisiknya samangat aktif sehingga mudah merasa letih dan memerlukan istirahat. koordinasi otot-otot kecil masih belum sempurna, karena itu masih belum ada bisa memegang pensil dengan baik. Untuk dapat menyiptakan proses belajar matematika yang efektif dan hidup guru harus dapat mebebtukan suasana yang tepat dengan kondisi anak. Hindari anak menulis atau mengerjakan soal matematika yang berkepanjangan karena dapat menyebabkan anak jemu, bosan, lelah dan keterampilan menilisnya semakin menurun.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang hakikat pembelajaran matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses pembelajaran dengan baik yang sesuai dengan perkembangan kongnitif siswa, pemggunaan media, metode dan pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta terseranggaranya kegiatan pembelajaran yang efektif. Selama ini kegiatan pembelajaran matematika di kelas V SD Negeri ...  masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah saja, sehingga guru dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Dampaknya siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar sehingga siswa sulit menerima materi. Belum lagi ditambah asumsi siswa bahwa mata pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit, sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar apalagi mendengarkan penjelasan guru.

2.1.6 Pecahan Campuran
Konsep pecahan dan operasinya merupakan konsep yang sangat penting untuk dikuasai, sebagai bekal untuk mempelajari bahan matematika berikutnya dan bahan bukan matematika yang terkait. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa Sekolah Dasar mengalami kesulitan memahami pecahan dan operasinya, dan banyak guru Sekolah Dasar menyatakan mengalami kesulitan untuk mengajarkan pecahan dan bilangan rasional. Para guru cenderung menggunakan cara yang mekanistik, yaitu member aturan secara langsunguntuk dihafal, diingat, dan diterapkan. Perubahan cara mengajar tidak banyak perubahan dilakukan oleh para guru karena secara empirik mereka selalu menggunakan cara yang sama dari waktu ke waktu hal tersebut menurut M uhsetyo, dkk (2007: 4.20). prinsipnya menyatakan beberapa bagian dari sejumlah bagian yang sama tersebut bersama-samamembentuk suatu unit. Dua macam keadaan yang perlu penekanan adalah konsep keseluruhan dengan panjang, luas, volume, dan hitungan atau cacah. Kaitan masing-masing dapat ditunjukkan dengan menggunakan benda¬benda manipulative, misalnya kertas, karton, kelereng, kerikil, manik-manik, mata uang, kuku, pensil, atau butiran menurut M uhsetyo, dkk (2007: 4.20).
Kesulitan yang dialami siswa kelas V SD Negeri ...  pada materi pecahan campuran adalah: Cara menyelesaikan soal pecahan campuran karena pada dasarnya anak belum menguasai konsep pecahan. Pecahan adalah konsep yang abstrak. Padahal anak kelas V SD berada pada tahap perkembangan oprasional konkret. Dengan demikian, konsep tersebut tidak sejalan dengan masa perkembangannya. Karena itulah anak sulit untuk memahaminya. Kesulitan yang dihadapi siswa adalah :
a. Mengubah pecahan campuran menjadi pecahan biasa.
b. Menyamakan penyebut.
c. Mengurangi pecahan campuran, jika pembilang yang dikurangi lebih kecil dari pembilang pengurangnya. Download ptk sd kelas 5 lengkap 

Siswa kurang memahami perkalian bilangan asli dengan pecahan untuk memperbaiki kelemahan siswa terhadap masalah ini, antara lain dapat dilakukan dapat dilakukan kegiatan sebagai berikut; ambil 10 potong katonberukuran (1 cm x 10 cm) dengan warna-warna yang berbeda. Satu potong karton dengan warna tertentu ditentukan sebagai satuan. Potongan karton yang lain dipotong mnenjadi perduaan, pertigaan, perempatan, perlimaan, perenamaan, pertujuan, perdelapanan, persembilanan, dan persepuluhan. Kemudian susunlah seperti piramida M uhsetyo, dkk (2007: 4.20).
2.1.7 Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif berasal dari kata “kooperatif” yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau tim.
Menurut Johnson (dalam Isjoni, 2010: 15) pembelajaran kooperatif mengandung pengertian bekerjasama demi mencapai tujuan bersama. Menurut Slavin 1985, pembelajaran kooperatif adalah suatu model pelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan stuktur kelompok heterogen. Sedangkan Sunal dan Hans 2000, mengemukakan pelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk member dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Selanjutnya Stahl (dalam Isjoni, 2010: 12) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkat belajar siswa lebih baik danmeningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial. Johnson & Johnson (dalam Isjoni, 2010: 17) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah mengelompokkan siswa di dalam kela ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Menurut Suprijono (2011: 54) pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda-beda dengan tujuan setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pembelajaran dan menyelesaikan tugas kelompoknya. Oleh sebab itu, pembelajaran kooperatif sangat baik untuk dilaksanakan karena siswa bekerja sama dan saling tolong menolong mengatasi tugas yang dihadapai.

Belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk memotivasi siswa berani mengungkapakan pendapatnya, menghargai pendapat teman, dan saling memberikan pendapat (sharing ideas). Selain itu dalam belajar biasanya siswa dihadapkan pada latihan soal-soal atau pemecahan masalah. Oleh sebab itu, pembelajaran kooperatif sangat baik untuk dilaksanakan karena siswa dapat bekerjasama dan saling tolong menolong mengatasi tugas yang dihadapinya.
Model pembelajaran kooperatif, tidak hanya unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, bekerjasama, dan membentu teman. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kwalitas interaksi dan komunikasi yang berkwalitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi bel aj arnya.
2.1.8 Permainan Make-A Match
Anita Lie (dalam Isjoni, 2010: 112) make a match taknik dimana siswa mencari pasangan sendiri sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Menurut Suprijono (2011: 94) hal-hal yang perlu disiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan make a match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu terdiri dari kartu berisi pertanyaan dan kartu-kartu yang lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) ini dikembangkan oleh Lorna Curan 1994 (dalam Lie, 2002: 55) beliau mengatakan salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia anak didik. Model yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peni ngkatan prestasi.

Model pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan), merupakan bentuk model pembelajaran dengan melalui permainan yang sesuai dengan tahap permainan dengan formalisasi (formalization). Make-A Match Lorna Curran 1994 (dalam Lie, 2002: 58) adalah salah satu permainan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap peseta didik mendapatkan satu kartu
3. Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipengang
4. Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberi point
6. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian untuk permainan selanjutnya seperti tersebut diatas
8. Kesimpulan/penutup
Pada penerapan metode Make A Match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode Make A Match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri dari pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukan oleh Lie (2002: 30) bahwa, “Pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang menitikberatkan pada gotong royong dan kerja sama.”. adapun kelemahan dan keunggulan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
Keunggulan model pembelaj aran Make-A Match adalah:
Pembelajaran kooperatif metode Make A Match memberikan manfaat bagi siswa, di antaranya sebagai berikut:
a. Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan.
b. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa
c. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar secara klasikal 87,50%
d. Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran (Let them move)
e. Kerjasama antar sesama siswa terwuj ud dengan di nam is
f. Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa 

Kelemahan model pembelajaran Make-A Match:
Jila kelas terlalu gemuk (di atas 30 siswa) akan muncul suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali. Hal ini dapat diatasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa, sebelum dimulai permai nan.
Tak ada gading yang tak retak , begitu pula pada metode ini. Di samping manfaat yang dirasakan oleh siswa, pembelajaran kooperatif metode Make A Match berdasarkan temuan di lapangan mempunyai sedikit kelemahan yaitu: 
a.   Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan 
Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermai n-main dalam proses pembelajaran.
b. Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.
c. Pada kelas yang gemuk (> 30 siswa/kelas) jika kurang bijaksana maka yang
muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali.
Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri
kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Tetapi hal ini bisa diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen keterti ban dengan siswa sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan.

Berdasarkan pada kegiatan belajar mengajar penggunaan metode Make a Match, siswa nampak lebih aktif mencari pasangan kartu antara jawaban dan soal. Dengan metode pencarian kartu pasangan ini siswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di dalam kartu yang ditemukannya dan menceritakannya dengan sederhana dan jelas secara bersama-sama. Download ptk sd kelas 5 doc
Pada penerapan metode Make A Match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode Make a Match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing.
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994: 116), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktif an siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode Make A Match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa; mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan beragam kemampuan dan pengal aman bel ajar; karakteristik mata pelajaran.
Menurut peneliti aktif artinya giat bekerja dan berusaha. Keaktifan dapat diartikan bahwa dalam pembelajaran siswa memperhatikan penjelasan guru, siswa mampu bekerjasama dalam kelas, aktif mengemukakan pendapat, memberikan kesempatan kepada teman untuk berpendapat, mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat, mampu bemberikan gagasan atau ide yang cemerlang, memanfaatkan potensi yang ada dan saling membantu dalam menyelesaikan maslah.

2.1.9 Penerapan Make A Match Dalam Proses Belajaran Mengajar
Penerapan metode Make A Match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode Make A Match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktif an siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Kegiatan yang dilakukan guru i ni merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994: 116), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode Make A Match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa; mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran.

Sedangkan prosedur penerapan kooperatif teknik Make A Match dalam proses belajar mengajar, peneliti tetap mengacu pada langkah-langkah pembelajaran Make A Macth menurut Lorna Curran 1994 (dalam Lie, 2002: 55) yaitu:
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
b. Setiap peseta didik mendapatkan satu kartu
c. Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipengang
d. Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
e. Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberi point
f. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
g. Demikian untuk permainan selanjutnya seperti tersebut diatas.
h. Kesimpulan/penutup.

Akan tetapi ada sedikit penambahan/pengurangan oleh peneliti dengan maksud menyesuaikan materi yang akan kepada siswa serta menyesuaikan kondisi siswa. Adapun penerapan Make A Match yang akan digunakan digunakan peneliti dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
a. Kegiatan Pendahuluan
x A persepsi
(1) Persiapan mengajar, memberi salam, melaksanakan presensi
(2) Mengecek persiapan siswa dan mengingatkan cara duduk yang baik saat membaca dan menulis
(3) Memotivasi siswa dengan menyanyikan sebuah lagu
(4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

2. Tahap Penyampaian dan Pelatihan
Pada tahap kegiatan pembelajaran inti menggunakan metode yang disesuaikan karakteristik siswa dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
Langkah-langkah pertama dalam kegiatan inti, guru:
1) Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran
2) Menyiapakan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang
cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan kartu jawaban
3) Setiap siswa mendapatkan kartu yang tertuliskan soal/jawaban
4) Menbunyikan peluit pertanda permainan make a match telah dimulai
5) Mengontrol kerja siswa dalam mencari pasangannya dan membantu siswa
jika terdapat hal-hal yang belum dipahami
b. Kegiatan Inti
x Eksporasi
Dalam kegiatan Eksporasi:
(1) Menunjukkan kartu-kartu soal dan kartu-kartu jawaban
(2) Bertanya jawab seputar kartu-kartu soal dan kartu-kartu jawaban
(3) Melalui tanya jawab guru menjelaskan tentang materi
(4) Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran Make A Match
x Elaborasi :
Dalam kegiatan Elaborasi:
1. Menjelaskan tentang materi yang akan disampaikan
2. Dengan tanya jawab disertai contoh, guru menjelaskan materi yang di sam pai kan
3. Menjelaskan cara permainan Make A Match (mencari pasangan)
4. M embagikan kartu soal dan kartu jawaban secara acak kepada siswa, tiap peserata didik mendapatkan satu kartu
5. Siswa memikirkan jawaban dari kartu jawaban kemudian mencari pasangan kartu yang telah mereka dapatkan
6. Memfasilitasi siwa dalam melakukan permainan Make A Match
7. Memberikan poin kepada siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu
8. Guru mengocok kartu-kartu yang berbeda untuk permainan Make A Match untuk babak ke dua
9. Melalui tanya jawab guru bersama siswa mengoreksi jawaban dari masing-masing kartu soal yang telah didapat oleh masing-masing siswa
x Konfirmasi
Dalam kegiatan Konfirmasi:
(1) Memberi kesempatan bertanya kepada siswa tentang materi yang belum dipahami siswa
(2) Melalui tanya jawab guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
(3) Guru memberikan siswa soal evaluasi

3. Tahap Penampilan Hasil, Kesimpulan, dan Refleksi
c. Kegiatan Penutup
(1) Melalui bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan mengulangi kesimpulan yang sudah dibuat
(2) Memberikan PR kepada siswa
2.1.10 Make-A Match dan Keaktifan Belajar Matematika
Dalam pembelajaran matematika dengan menggunan model pembelajara Make-A Match, keaktif an siswa akan meningkat. Hal ini akan terjadi, apabila dalam pembelajaran itu melibatkan siswa secara aktif. Keaktifan siswa ini dapat ditunjukkan melalui permainan. Permainan Make-A Match merangsang siswa untuk berfikir secara aktif, dengan dibuktikan keaktifan siswa ketika mencari pasangan jawaban atau soal masing-masing.

Model pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) mampu memberikan rasa senang, bergairah, bersemangat dalam mengerjakan tugas, sehingga dapat mengaktifkan siswa pada materi pengurangan pecahan pecahan campuran di kelas V SD Negeri ...  Keaktifan siswa dalam pembelajaran ini akhirnya berdampak pada keberhasilan belajar siswa tentang materi tersebut.
Model pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) perupakan model pembelajaran dalam bentuk permaianan yang dapat menimbulkan rasa senang dan kepuasan. Rasa senang itu didapat karena materi pelajaran dikemas dalam bentuk permaianan. Siswa terlihat antusisas, semangat dan terlihat juga pada raut muka yang memancarkan wajah keceriaan. Banyak siswa yang merasa takut jika ditunjuk maju ke depan, tidak berani menatap guru ketika guru sedang memberikan pembelajaran. Download ptk sd kelas 5 lengkap Dengan melalui pembelajaran Make-A Match diharapkan situasi pembelajaran menjadi tidak tegang, yang akhirnya anak merasa senang, sehingga memungkinkan dapat meningkatkan keaktif an dan hasil belajar siswa.

2.2 Kerangka Berpikir
Pada kondisi awal peneliti belum menggunakan metode pelajaran Make-A Match (mencari pasangan) untuk meningkatkan keaktif an dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika masih rendah. Metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) dapat membuat siswa bergairah, bersemangat, karena metode pembelajaran ini bersifat permainan. Setelah peneliti melakuakan tindakan dengan menggunakan metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) ini ternyata keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat pada siklus II.
Berdasarkan uraikan yang telah dipaparkan oleh penulis pada kajian teori, pada hakekatnya kegiatan pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Agar tidak menimbulkan suasana yang monoton sehingga membuat siswa jenuh guru harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan komunikasi yang memberikan kemudahan bagi siswa agar mampu menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Pada kenyataannya komunikasi dalam proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung seperti yang diharapkan. Guru menggunakan metode pembelajaran yang monoton yaitu ceramah. Hal tersebut dapat membuat siswa hanya menerima informasi saja tanpa adanya kegiatan praktek, sehingga membuat siswa menjadi cepat bosan dan mengantuk hal tersebut membuat materi yang disampaikan oleh guru tidak dapat diterima dengan sem purna.

Siswa tidak memiliki keaktifan dan tidak mempunyai kesempatan berpartisipasi aktif dalam KBM sehingga prestasi belajar yang dihasilkan rendah. Keadaan seperti ini memerlukan suatu perbaikan, salah satu diantaranya yaitu dengan menerapkan metodel pembelajaran yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kualitas Kegiatan Belajar Mengajar. Mata pelajaran Matematika, yang mempelajari tentang logika mengenai bentuk-bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, geometri, maka perlu dicari metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran Matematika.
Oleh karena itu diharapkan guru sebagai fasilitator dapat menerapkan strategi serta menggunakan metode dan media yang variatif dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match (mencari pasangan) diharapkan dapat memberikan manfaat dalam kegiatan pembelajaran. Diantaranya yaitu siswa mampu berfikir kreatif dan imajinatif, siswa lebih aktif baik dalam kegiatan belajar kelompok maupun belajar mandiri, memudahkan pemahaman siswa sehingga kualitas pembelajaran meningkat serta hasil belajar akan tercapai secara maksimal.
Berdasarkan beberapa masalah yang telah dipaparkan peneliti berusaha mencari pemecahan masalahnya yaitu menerapkan metode pembelajaran kooperatif teknik Make-A Match (mencari pasangan) untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar Matematika serta menjelaskan langkah-langkahnya.

2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir diduga dengan metode pembelajaran Make-A Match (mencari pasangan) akan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Matematika siswa kelas V SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ....

PENYUSUNAN DAN DISEMINASI LAPORAN PTK MATEMATIKA

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah termasuk Penelitian Tindakan Kelas atau PTK. Disebut PTK karena penelitian ini hanya dilakukan oleh guru di dalam kelas yang sedang berlangsung kegiatan belajar dan mengajar, atau dalam proses pembelajaran. PTK timbul atau dilaksanakan karena ada kesenjangan/perbedaan antara harapan dan kenyataan, sehingga setelah PTK ini dilaksanakan diharapkan terjadi keadaan yang ideal. Jenis penelitian ini menggunakan jenis PTK kolaborasi. Dalam penelitian ini peneliti tidak berperan sebagai pengajar tetapi berperan sebagai peneliti dalam perencanaan dan observasi, sedangkan pelaksanaan tindakan dilakukan oleh guru kelas. Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil intruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi, pengelolaan intrksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

3.2 Setting Penelitian
Penelitian dilakukan di SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten .... Siswa memiliki latar belakang yang hampir sama, termasuk keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah serta kemempuan belajar yang hampir sama juga.

3.3 Subyek Penelitian
Siswa Kelas V SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun Pelajaran 2015/2016, dengan jumlah siswa 18 anak.

3.4 Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan. Dari bulan Februari sampai April. Pada bulan Februari-Maret peneliti mulai melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan siklus 1. Bulan Maret-April peneliti mulai melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan siklus 2 pada semester II tahun ajaran 2015/2016. Mulai bulan April peneliti mulai membuat laporan hasil penelitian. Contoh ptk sd kelas 5 pdf

3.5 Variabel Penelitian
Variabel yang diselidiki dalam penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar siswa di kelas V pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan ”Pengurangan Pecahan Campuran” dengan menerapkan metode make_a match untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di SD Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ... semester II tahun ajaran 2015/2016.
3.5.1 Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat atau unsur yang mengikat munculnya unsur lain, jadi variabel bebas merupakan gej ala yang sengaja mengikat terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah metode pembelajaran kooperatif tipe Make A Match. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pengunanaan metode Make A Match yaitu suatu kegiatan pembelajaran yang memberikan semangat siswa saat kegiatan belajar yaitu pengurangan pecahan campuran, perkalian dan pembagian bilangan pecahan.
3.5.2 Variabel Terikat (Y)
Adalah unsur yang diikat oleh adanya variabel yang lain, jadi variabel terikat merupakan gej ala sebagai akibat dari variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pengurangan pecahan campuran saat dan setelah proses pembelajaran dilaksanakan.
Variabel tindakan dalam penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran meliputi semangat mengikuti pembelajaran, kedisiplinan siswa, aktif bertanya, aktif menjawab, kerjasama dalam kelompok, aktif dalam diskusi kelompok, mengemukakan ide, menyimpulkan hasil kegiatan, dan kreatifitas siswa, sedangkan hasil belajar adalah mendapatklan nilai rata-rata di atas KKM.

3.6 Metode Penelitian
Model Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan adalah jenis PTK Kolaborasi yang menggunakan 2 siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Di sini peran peneliti bukanlah sebagai pengajar, namun peneliti berperan dalam perencanaan dan observasi, sedangkan pelaksana tindakan dilakukan oleh guru kelas yang bersangkutan kelas V SD Negeri ... .

3.7 Perencanaan Tindakan
Rencana Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dilaksanakan dengan II siklus yaitu siklus I dan suklus II dan dalam empat tahap. Yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan fefleksi, atau dalam istilah asingnya plan, act, observe, reflect. Keempat hal tersebut menurut Kemmis dan Taggart (1992: 66) merupakan daur ulang yang saling berhubungan.
Keempat tahap tersebut secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut : 
1. Perencanaan
Perencanaan dalam penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas. Adapun teknik pelaksanaan, dibagi menjadi 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II dalam penelitian yang dilakukan.
Pada tahap perencanaan ini yang dilakukan adalah sebagai berikut:
o Persiapan dengan minta ijin kepada Kepala Sekolah dan guru kelas V untuk melakukan observasi dan wawancara kepada guru kelas.
o Mengidentifikasi masalah
o Membuat skenario pembelajaran dan menyusun rencana pembelajaran
o Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )
o Mempersiapkan perlengkapan belajar yang diperlukan

2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah didesain. Pelaksanaan Tindakan Kelas dilaksanakan dalam 2 siklus dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Make-A Match. Apabila kegiatan pembelajaran pada siklus I belum berhasil, akan diperbaiki pada siklus II. Penelitian tindakan kelas ini merupakan implementasi kegiatan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang ada yaitu model PTK dengan tahapan dan skenario pembelajaran yang telah didesain sebelumya yaitu dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya.

3. Observasi
Observasi melakukan pengamatan terhadap guru dan siswa yang sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Setiap akhir siklus peneliti melakukan observasi mengamati siswa setelah melakukan pembelajaran, peneliti juga melakukan observasi pada saat pembelajaran berlangsung. Hasil observasi dari siklus pertama dan kedua adalah hasil dari penelitian. Hal-hal yang diamati adalah sebagai berikut :
a. Peneliti mengamati proses perbaikan pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dalam pembelajaran
b. Peneliti mencatat temuan-temuan selama proses pembelajaran yaitu berupa catatan-catatan anekdot.
c. Untuk siswa yaitu perhatian siswa dalam memahami materi yang disampaikan, semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan keaktifan siswa.
d. Untuk guru yaitu persiapan, membuka pelajaran, memotivasi siswa, penguasaan materi, penyajian sesuai dengan uraian materi, metode, bimbingan yang diberikan pada siswa dan evaluasi.

4. Refleksi
Kegiatan dilaksanakan setelah implementasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan dilakukan oleh peneliti untuk membahas aktifitas guru dan siswa, efektifitas penggunaan alat peraga dan metode, serta ketercapaian indicator yang telah ditetapakan. Refleksi dilakukan dengan pengungkapan hasil tes, pengamatan, pengungkapan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran pada siklus I. Jika siklus I telah berhasil akan dimantapkan dalam siklus II, disamping itu juga membandingkan antara keaktifan dan hasil belajar dengan kondisi awal dan siklus I.

3.7.1 Penerapan Tahap Pemelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilksanakan dalam 2 siklus perbaikan pembelajaran yang terdiri dari :
Siklus I
a. Perencanaan
1. Persiapan dengan minta ijin kepada Kepala Sekolah dan guru kelas II untuk melakukan observasi dan wawancara kepada guru kelas
2. Mengidentifikasi masalah
3. Membuat skenario pembelajaran dan menyusun rencana pembelajaran.
4. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )
5. Menyiapkan alat dan bahan pelajaran untuk melakukan pengamatan.
6. Menyusun lembar observer/guru pendamping peneliti sebagai observer
kedua terhadap guru aktifitas guru kelas selama kegiatan belajar
berlangsung.
7. Penyusunan asesmen yaitu menggunakan tes dan hasil observasi.

b. Pelaksanaan Tindakan
1. Persiapan
a. Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi
(1) Persiapan mengajar, memberi salam, melaksanakan presensi
(2) Mengecek persiapan siswa dan mengingatkan cara duduk yang baik saat membaca dan menulis
(3) Memotivasi siswa dengan menyanyikan sebuah lagu
(4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Penyajian materi pembelajaran
b. Kegiatan Inti
x Eksporasi
Dalam kegiatan Eksporasi:
(1) Menunjukkan kartu-kartu yang dibawanya
(2) Bertanya jawab seputar kartu-kartu yang dibawanya
(3) Melalui tanya jawab guru menjelaskan tentang materi
(4) Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran make a match
x Elaborasi :
Dalam kegiatan Elaborasi guru:
(1) Menjelaskan tentang materi yang akan disampaikan
(2) Dengan tanya jawab disertai contoh, guru menjelaskan materi yang disampaikan Contoh ptk kelas 5 sd
(3) Menjelaskan cara permainan make a match (mencari pasangan)
(4) Membagikan kartu soal dan kartu jawaban secara acak kepada siswa, tiap peserata didik mendapatkan satu kartu
(5) Siswa memikirkan jawaban dari kartu jawaban kemudian mencari pasangan kartu yang telah mereka dapatkan
(6) Guru memfasilitasi siwa dalam melakukan permainan make a match (mencari pasangan)
(7) Guru memberikan poin kepada siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu
(8) Guru mengocok kartu-kartu yang berbeda untuk permainan Make A Match untuk babak ke dua
(9) Melalui tanya jawab guru bersama siswa mengoreksi jawaban dari masing-masing kartu soal yang telah didapat oleh masing¬masing siswa
x Konfirmasi
Dalam kegiatan Konfirmasi:
(1) Memberi kesempatan bertanya kepada siswa tentang materi yang belum dipahami siswa
(2) Melalui tanya jawab guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
(3) Guru memberikan siswa soal evaluasi

3. Evaluasi
Evaluasi dilakukan setiap akhir pelajaran berakhir. evaluasi dengan menggunakan tes dengan tujuan untuk memperoleh hasil belajar siswa dari materi pelajaran yang telah dipelajari oleh peserta didik
Tahap Kesimpulan, dan Refleksi
c. Kegiatan Penutup
(1) Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan mengulangi kesimpulan yang sudah dibuat
(2) Guru memberikan PR kepada siswa
c. Observasi
x Pengamatan aktifitas siswa dalam pembelajaran oleh observasi.
x Pengamatan aktifitas guru dalam proses pembelajaran oleh observer.
x Mengidentifikasi kelemahan-kelemahan untuk memperbaiki proses
pembelajaran pada siklus berikutnya
d. Refleksi
x Menganalisis hasil pembelajaran.
x Mengevaluasi hasil observasi.
x Mengidentifikasi kelemahan-kelemahan untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus berikutnya.
Siklus I
a. Perencanaan
x Permasalahan diidentifikasi dan dirumuskan berdasarkan refleksi pada siklus I.
x Merancang kembali instrumen penelitian seperti pada siklus I yang meliputi RPP, lembar observasi, soal-soal evaluasi
b. Pelaksanaan tindakan
1) Persiapan
a) Kegiatan Pendahuluan
x Apersepsi
(1) Persiapan mengajar, memberi salam, melaksanakan presensi
(2) Mengecek persiapan siswa dan mengingatkan cara duduk yang baik saat membaca dan menulis
(3) Memotivasi siswa dengan menyanyikan sebuah lagu
(4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
2) Penyajian materi pelajaran
b) Kegiatan Inti
x Eksporasi
Dalam kegiatan Eksporasi guru:
(1) Guru menunjukkan kartu-kartu yang dibawanya
(2) Guru bersama siswa bertanya jawab seputar kartu-kartu yang dibawanya
(3) Melalui tanya jawab guru menjelaskan tentang materi
(4) Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran make a match

x Elaborasi :
Dalam kegiatan Elaborasi guru:
(1) Guru menjelaskan tentang materi yang akan disampaikan
(2) Dengan tanya jawab disertai contoh, guru menjelaskan materi yang disampaikan
(3) Guru menjelaskan cara permainan Make A Match
(4) Guru membagikan kartu soal dan kartu jawaban secara acak
kepada siswa, tiap peserata didik mendapatkan satu kartu
(5) Siswa memikirkan jawaban dari kartu jawaban kemudian
mencari pasangan kartu yang telah mereka dapatkan
(6) Guru memfasilitasi siwa dalam melakukan permainan make a match (mencari pasangan)
(7) Guru memberikan poin kepada siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu
(8) Guru mengocok kartu-kartu yang berbeda untuk permainan Make A Match untuk babak ke dua
(9) Melalui tanya jawab guru bersama siswa mengoreksi jawaban dari masing-masing kartu soal yang telah didapat oleh masing¬masing siswa
x Konfirmasi
Dalam kegiatan Konfirmasi guru :
(1) Guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa tentang materi yang belum dipahami siswa
(2) Melalui tanya jawab guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
(3) Guru memberikan siswa soal evaluasi
3) Evaluasi
Evaluasi dilakukan setiap akhir pelajaran. evaluasi dengan menggunakan tes bertujuan untuk memperoleh hasil belajar siswa dari materi pelajaran yang telah dipelajari oleh peserta didik.
Tahap Kesimpulan, dan Refleksi

c) Kegiatan Penutup
(1) Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan mengulangi kesimpulan yang sudah dibuat
(2) Guru memberikan PR kepada siswa
c. Observasi
x Pengamatan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran oleh observer. x Pengamatan aktifitas guru dalam proses pembelajaran oleh observer.
x Pengamatan efektifitas media pembelajaran yang digunakan guru oleh
observer.
d. Refleksi
x Menganalisis hasil pembelajaran.
x Mengevaluasi hasil observasi
x Menyusun simpulan dan sarana berdasar pelaksanaan penelitian yang dilakuakan

3.8 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini Teknik Pengumpulan Data dilakukan dengan melalui teknik tes dan non tes. Data yang diperlukan dalam penelitian ini berisi nilai yang diperoleh dari keaktifan di dalam kelas serta tes hasil belajar Matematika dengan pokok bahasan “pengurangan pecahan camapuran” dan lembar observasi siswa. Tes diadakan setiap akhir siklus. Pelaksanaan tes siklus pertama dilaksanakan pada akhir siklus I dan tes kedua dilaksanakan pada akhir siklus II. Untuk data kuantitatif barupa nilai siswa dari hasil tes yang diberikan kepada siswa. Contoh ptk sd kelas 5 pdf Sedangkan data kualitatif berasal dari observasi. Teknik pengunpulan data pada penelitian ini meliputi teknik tes maupun non tes.

3.9 Isntrumen Pengumpulan Data
Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan pembelajaran Make A Match untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar khususnya tentang mata pelajaran Matematika sebelum dan sesudah diberi tindakan.
3.9.1 Pengamatan atau Observasi
Pelaksanaan tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi, sehingga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan observasi/interpretasi berlangsung secara stimulus. Artinya data yang diamati tersebut langsung diinterpretasikan, tidak sekedar direkam. Teknik ini untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Pengamatan dan observasi ini melipti: semangat mengikuti pembelajaran, kedisiplinan siswa, aktif bertanya, aktif menjawab, kerjasama dalam kelompok, aktif dalam diskusi kelompok, mengemukakan ide, menyimpulkan hasil kegiatan, dan kreatifitas siswa.
Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observator (pengamat) tinggal memberikan tanda contreng pada kolom tempat peristiwa muncul. Itulah sebabnya maka cara bekerja seperti ini disebut system tanda (sign system) Arikunto (2010: 200).

3.9.2 Metode Tes
Instrument pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Arikunto, 2010: 193).. Tes secara individu dalam penelitian dilakukan melalui tes awal dan tes akhir tes awal diberikan secara lisan sedangkan tes akhir diberikan secara tertulis berbentuk isian singkat.
3.9.3 Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan lapangan, transkip, buku, surat, kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda (Arikunto, 2002: 206). Dokumen dalam penelitian ini berupa LKS, daftar kelompok siswa, dan daftar nilai siswa.
Table 3.1
Kisi-kisi Tindakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match

Tabel 3.2
Kisi-Kisi Soal Matematika Siklus I

Tabel 3.3
Kisi-Kisi Soal Matematika Siklus II

3.10 Uji Coba Instrumen Penilaian
3.10.1 Validitas Tes
Sebelum dibagikan kepada peserta didik, terlebih dahulu soal evaluasi tertulis diuji coba sehingga diperoleh butir soal yang valid. menurut Arikunto (2010: 211) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaiknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Instrument dikatakan valid artinya instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Tingkat validitas suatu instrument dapat diketahui dengan cara mengkorelasikan setiap skor pada butir instrument dengan total skor setelah dikurangi skor butirnya sendiri (corrected item to total correlation).

Menurut Sugiyono (2010: 173) bahwa instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
Tabel 3.4
Hasil Uji Validitas Tes YangValid Untuk Siklus I
Item-Total Statistics

Hasil uji validitas seperti yang terdapat pada tabel 3.1 dari 30 item soal yang diujikan didapat 24 item soal yang valid sedangkan yang tidak valid ada 6 soal. Selanjutnya dari 24 item soal yang valid tersebut 20 soal yang akan dipergunakan dalam penelitian untuk soal pada siklus I.
Tabel 3.5
Hasil Uji Validitas Tes YangValid Untuk Siklus II
Item-Total Statistics

Hasil uji validitas untuk siklus II seperti yang terdapat pada tabel 3.5. Jumlah soal validitas yang diujikan sama dengan jumlah soal pada soal validitas siklus I yaitu 30 item soal. Dari 30 item soal yang diujikan didapat 23 item yang valid, untuk selanjutnya dari 23 soal yang valid tersebut 20 item soal yang akan dipergunakan dalam penelitian untuk soal siklus II.
3.10.2 Uji Reliabilitas Tes
Adapun reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran relative konsisten jika dikenakan pada suatu objek, Sutrisno Hadi ( Arikunto, 2010: 173).
Untuk menguji reliabilitas instrument dilakukan analisis factorial dengan konstruk satu faktor untuk setiap perangkat dengan merujuk teori koefisien reliabilitas alpha dari Cronbach (Azwar, 2000). Kriteria untuk menentukan tingkat reliabilitas instrument digunakan pedoman yang dikemukakan oleh George dan Mallery (1995) sebagai berikut :
a > 0,7 : Tidak dapat diterima
0,7 < a > 0,8 :  Dapat diterima
0,8 < a > 0,9 : Reliabilitas bagus
a > 0,9 : Reliabilitas memuaskan
Tabel 3.6
Hasil Uji Realiabilitas Instrument Tes Siklus I
Reliability Statistics

Untuk reliabilitas diperoleh angka koefisien alpha .870 yang artinya instrument memiliki tingkat reliabilitas sedang atau dapat diterima. Dengan demikian instrument tes yang penulis susun dapat dipergunakan dalam penelitian ini pada siklus I.
Tabel 3.7
Hasil Uji Realiabilitas Instrument Tes Siklus II
Reliability Statistics

Sedangkan untuk reliabilitas soal untun siklus II diperoleh angka koefisien alpha .848 yang artinya instrument memiliki tingkat reliabilitas sedang juga atau dapat diterima. Dengan demikian instrument tes yang penulis susun dapat dipergunakan dalam penelitian siklus II. Download ptk sd kelas 5 lengkap
3.11 Analisis Taraf Kesukaran Item Instrumen
Menurut Arikunto (2007: 207-2 10), soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya, sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.
Bilangan yang menunjukan sukar mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (dificult indexs). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal. 
Table 3.8
Indeks Kesukaran Instrumen

3.12 Indikator Kinerja
Untuk mengetahui adanya perbaikan dalam proses dan hasil belajar sesuai dengan tujuan peneliti diperlukan indikator. Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah intervensi yang digunakan dapat membantu siswa mempermudah memahami materi adalah respon, tanggapan, dan opini siswa yang menunjukkan kesetujuannya. Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa adalah peningkatan hasil belajar siswa baik secara individu maupun klasikal serta ketuntasan belajar. Siswa dinyatakan tuntas belajar jika mendapat nilai sesuai KKM atau lebih.
Sedangkan indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar adalah :
1. Semangat mengikuti pembelajaran
2. Aktif bertanya
3. Aktif menjawab
4. Kerjasama antar siswa
5. Aktif dalam melakukan permainan
6. Mengemukakan ide
7. Menyimpulkan hasil kegiatan

Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya peningkatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Proses perbaikan pembelajaran (siswa terlibat aktif dalam pembelajaran) dinyatakan berhasil apabila sejurang-kurangnya 13 siswa dari 18 siswa atau sekitar 70% aktif dalam pembelajaran.
2. Proses perbaikan pembelajaran (hasil belajar siswa meningkat) dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 13 siswa dari 18 siswa atau sekitar 70% telah berhasil memahami standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Standar KKM untuk kompetensi dasar itu adalah 65.
3.13 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah :
1. Data kuantitatif berupa hasil belajar yang dianalisis dengan teknik analisis deskriptif untuk menemukan rata-rata. Penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk persentase, menggunakan rumus sebagai berikut:

Hasil penghitungan dikonversikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokkan de dalam kedua kategori yaitu tuntas dan tidak tuntas dengankriteria sebagai berikut.

Tabel 3.9
Kriteria Ketuntasan Belajar

2. Data kualitatif berupa hasil observasi aktifitas siswa dan aktifitas guru dalam pembelajaran serta hasil catatan di lokasi dan wawancara dianalisis dengan melakukan proses penyeleksi, mengelompokkan, mengorganisir, mendeskripsikan, dan menyimpulkan.

ABSTRAK PTK MATEMATIKA SD KELAS 5 KENAIKAN PANGKAT

DAFTAR PUSTAKA


A ri kunto, Suharsi ni. 2002. Prosedur Penilaian Pendidikan Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rieneka Ci pta.
Arikunto, Suharsini. 2007. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta
A ri kunto, Suharsi ni. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta.
A rsyi li a. 2009. Peranan Matematika Dalam Perkembangan Teknologi Informasi-Dan Komunikasi. arsyi li a09.wordpress.com. April 8, 2010
Asmani, Ma’mur. 2011. 7 Tips Aplikasi Pakem. Jogjakarta: Diva Press Baharudin, H. Drs.& Wahyuni, Esa Nur. 2010. Teori Balajar Dan Pembelajaran. Bahri, Syaiful dan Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
D epdi knas. 2002. Pembelajaran Matematika untuk SD. Jakarta: D epdi knas
2003. Pembelajaran Matematika untuk SD. Jakarta: D epdi knas Dimyati dan Mudjiyono. 2009. Belajar dan Pembelajaran : Jakarta : Rineka
Cipta.
Djamarah, S. B. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar . 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara . 2000. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
. 2001. Psikologi Belajar Mengajar. B andu ng: Si nar B aru Isjoni. 2010. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Palajar.
Kemmis, s. & M cTaggart, R. 1992. The Action Research Planner.A ustrali a: Deakin University.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
M uhmud, 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
M uhsetyo, Gatot, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: U niversitas Terbuka.
Ptaj eng. 2006. Pembelajaran M atemati ka Yang M enyenangkan.
Sardiman. 2007. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo
Slam eto, 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rieneka Cipta.
2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana & Ahmad, Rivai. 1999. Media Pengajaran. CV Sinar Baru : Bandung.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R & D. Bandung: CV Alfabeta.
Suherman, Erman. 2006. Pembelajaran Matematika. Jakarta: Depdikbud Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Usman, Moh Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Alfabeta Winataputra, Udin S. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Winkel, W. S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarata: Gramedia.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK MATEMATIKA KELAS 5 MAKE A MATCH







Postingan terkait: