DOWNLOAD PTS PENGAWAS SEKOLAH LENGKAP

DOWNLOAD PTS PENGAWAS SEKOLAH LENGKAP-Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang peranan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru yang meliputi enam aspek, yaitu: peran kepala sekolah sebagai leader, peran kepala sekolah sebagai motivator, peran kepala sekolah sebagai supervisor, peran kepala sekolah sebagai inovator, peran kepala sekolah sebagai manajer, dan peran kepala sekolah sebagai edukator. Penelitian ini dilakukan di MIS ... pada bulan januari – februari 2015. PTS pengawas sekolah doc
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru dan staff karyawan MIS .... Dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel guru yang mengajar di MIS ... sebanyak 20 orang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa: pelaksanaaan peran kepala sekolah di MIS ... berjalan dengan cukup baik dalam hal ini peran kepala sekolah dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru sangat dominan. Pemberdayaan tenaga pengajar (peningkatan profesionalisme guru), karyawan, peningkatan sarana pembelajaran, pengawasan terhadap proses belajar mengajar yang kesemuanya dapat berjalan dengan cukup baik, ditentukan melalui peran kepala sekolah yang meliputi ke enam dimensi tersebut diatas.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi pihak sekolah yang menjadi tempat penelitian, para civitas akademika, para mahasiswa, para pengajar terutama dalam rangka memberikan motivasi kepada mahasiswa agar senantiasa meningkatkan prestasi pendidikannya.

Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini  diberi judul 
PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU DI MIS ... KECAMATAN ... KABUPATEN ...". Disini akan di bahas lengkap.



PTS ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE Penelitian Tindakan Sekolah (PTS)  lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTS dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTS 007).

DOWNLOAD PTS KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Kepala sekolah memegang suatu peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi dan mengarahkan semua personil sekolah yang ada, agar dapat bekerja sama dalam usaha pencapaian tujuan organisasi sekolah. Tidak kalah pentingnya adalah produktivitas organisasi sekolah sebagaimana yang tampak dalam bentuk efektivitas dan efisiensi pengelolaannya serta kualitas dan kuantitas dari lulusannya, banyak ditentukan oleh adanya suatu kedisiplinan kerja yang tinggi dalam “penampilan kerja atau kinerja” (work performance) dari para personil sekolah. Kinerja guru-guru dalam suatu wujud pelaksanaan tugas mendidik dan mengajar para peserta didiknya, sangat banyak juga ditentukan atau dipengaruhi oleh adanya motivasi kerja mereka. Perilaku kepemimpinan yang efektif dari kepala sekolah sangat menentukan atau sangat mempengaruhi kinerja guru-guru.
Kepala sekolah memiliki peran sebagai pemimpin di sekolahnya yang bertanggung jawab untuk memimpin proses pendidikan di sekolah, berkaitan dengan peningkatan mutu SDM, peningkatan profesionalusme guru, karyawan dan semua yang berhubungan dengan sekolah di bawah naungan kepemimpinan kepala sekolah. Contoh penelitian tindakan sekolah pdf

Paradigma baru manajemen pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas secara efektif, perlu didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Pengembangan SDM merupakan proses peningkatan kemampuan manusia agar mampu melakukan pilihan-pilihan. Pengertian ini memusatkan perhatian pada pemerataan dalam peningkatan kemampuan manusia dan pemanfaatan kemampuan itu. Rumusan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan SDM tidak hanya sekedar meningkatkan kemampuan, tetapi juga menyangkut pemanfaatan kemampuan tersebut.

Kepala sekolah adalah seorang guru yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural di sekolah, ia ditugaskan untuk mengelola sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Bahkan lebih jauh studi tersebut menyimpulkan bahwa “Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah”.
Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin mencerminkan tanggung jawab kepala sekolah untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah, sehingga lahir etos kerja dan produktivitas yang tinggi dalam mencapai tujuan. Fungsi kepemimpinan ini amat penting sebab disamping sebagai penggerak juga berperan untuk melakukan kontrol segala aktifitas guru (dalam rangka meningkatkan professional mengajar), staf dan siswa dan sekaligus untuk meneliti persoalan-persoalan yang timbul dilingkungan sekolah.

Kepala sekolah harus memiliki visi dan misi, serta strategi manajemen pendidikan secara utuh dan berorientasi kepada mutu. Strategi ini dikenal dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT), yang telah popular dalam dunia bisnis dan industri dengan istilah Total Quality Management (TQM). Strategi ini merupakan usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus menerus memperbaiki kualitas layanan, sehingga fokusnya diarahkan kepelanggan dalam hal ini peserta didik, orang tua peserta didik, pemakai lulusan, guru, karyawan, pemerintah dan masyarakat. Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan oleh kepala sekolah agar pelanggan puas: yakni layanan sesuai dengan yang dijanjikan (reability), mampu menjamin kualitas pembelajaran (assurance), iklim sekolah yang kondusif (tangible), memberikan perhatian penuh kepada peserta didik (emphaty), cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik responsiveness).

Lancar atau tidaknya suatu sekolah dan tinggi rendahnya mutu sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah guru dan kecakapannya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh cara kepala sekolah melaksanakan kepemimpinan disekolahnya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan bukanlah memanfaatkan kesanggupan guru, dan bagaimana kepala sekolah dapat mengikutsertakan semua potensi yang ada dalam kelompoknya semaksimal mungkin. Mengikutsertakan dan memanfaatkan anggota-anggota kelompoknya itu, tidak dapat dengan cara dominasi yang otoriter. Sebab dengan cara yang otoriter ia akan mempunyai sikap “lebih”, sehingga tidak dapat menimbulkan rasa tanggung jawab yang sebaik¬-baiknya. Dan rasa tanggung jawab inilah yang diperlukan sebagai penggerak dan penghasil potensi yang maksimal. Karena itu mengikutsertakan memanfaatkan anggota kelompok hendaknya dilakukan atas dasar; respect terhadap sesama manusia, saling menghargai dan saling mengakui kesanggupan masing-masing.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh oleh kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di sekolah untuk meningkatkan pemberdayaan guru dalam mengajar adalah melalui Manajemen Sumber Daya Manusia. Ini merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam hal ini masih banyak kelemahan-kelemahan yang ada dalam pendidikan di sekolah. Salah satu kelemahan yang krusial adalah manajemen yang sangat sederhana baik itu mengenai SDM, kurikulum, dan komponen-komponen pendidikan lainnya sehingga pendidikan tidak direncanakan dengan baik.
Oleh karena itulah, upaya kepala sekolah dalam peningkatan profesionalisme guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah melalui peningkatan manajemen sumber daya manusia (MSDM), mendesak untuk dilaksanakan. Sebab jika profesionalisme guru dalam mengajar dapat dikelola dengan baik maka segala potensi yang dimilikinya dapat didayagunakan dengan semaksimal mungkin sehingga akan lahir out put pendidikan sekolah yang bermutu dan berkualitas. Contoh pts pengawas lengkap word

Dari penjelasan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah yang berjudul tentang “Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru di MIS ... Kecamatan Pinoh Selatan Kabupaten ...”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan kepala sekolah yang dilaksanakan di MIS ... ?
2. Apakah peranan kepala sekolah sebagai pemimpin sudah mencerminkan tanggung jawab sebagai kepala sekolah?
3. Apakah pelaksanaan peranan kepala sekolah di MIS ... telah berjalan dengan baik?
C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya bahasan objek yang akan diteliti, maka masalah dibatasi pada peranan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru yang meliputi pada peranana kepala sekolah sebagai leadership, motivator, supervisor, innovator, manajer, dan edukator.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti adalah: Bagaimana peranan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dari segi dimensi leadership, motivator, supervisor, innovator, manajer, dan edukator.

E. Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan rumusan masalah penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MIS ....

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi kepala sekolah dapat dijadikan acuan untuk mengetahui bagaimana peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MIS ....
2. Dapat dijadikan dorongan bagi para guru untuk menjadi guru yang profesional dan untuk meningkatkan kualitas kerja dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
3. Bagi peneliti dapat bermanfaat memberikan informasi yang aktual dalam mengembangkan diri sendiri serta mengetahui peranan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalme guru yang ada di MIS ... Kab....

CONTOH TERBARU PTS PENGAWAS SEKOLAH

BAB II
LANDASAN TEORI


A. Tinjauan Tentang Peran Kepala Sekolah 
1. Pengertian Peranan K epala Sekolah 
a. Pengertian Peran
Menurut kamus Oxford Dictionary, “peran atau role adalah actor’s part; one’s task or function, yang berarti aktor; tugas seseorang atau fungsi. Karena itulah, ada yang disebut dengan role expectation, yaitu harapan mengenai peran seseorang atas harapan dari si pemberi tugas dan harapan dari orang yang menerima manfaat dari pekerjaan tersebut”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “...peran berarti perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat....” Selanjutnya Veithzal Rivai dan Sylviana Murni menjelaskan, “peran adalah perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu”.
Berdasarkan definisi-definisi di atas penulis menarik simpulan, peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat atau sebuah lembaga. Dalam hal ini, kepala sekolah perlu menjalankan perannya sesuai dengan hak dan kewajibannya. Download penelitian tindakan sekolah pdf

Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan sekolah, maka seseorang yang diberi (atau mendapatkan) suatu posisi, diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sikap tanggung jawab dan profesional dari pemegang peran tersebut.
b. Pengertian Kepala Sekolah
Kata Kepala Sekolah terdiri dari dua kata kunci yaitu "Kepala" dan "Sekolah ". Kepala berarti ketua atau pemimpin dalam sebuah organisasi atau lembaga. Sedangkan Sekolah adalah sebuah lembaga tempat menerima dan memberi pelajaran.4 Dengan demikian dapat diambil kesimpulan yang sederhana bahwa Kepala Sekolah berarti seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas memimpin suatu lembaga pendidikan di mana terjadi proses belajar mengajar.

2. Tipologi Kepemimpinan
Dari sekian banyak pemimpin mayoritas dari mereka cara menempuh tujuan pendidikannya tidak sama walaupun prinsip  prinsipnya tidak jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena masing-masing kepala sekolah memiliki ciri khas serta gaya kepemimpinan dengan menyertakan karakter yang ada dalam pribadi mereka sendiri, yang selanjutnya disebut dengan tipologi pemimpin.
Ada empat macam tipologi pemimpin, yaitu:
a) Kepemimpinan Otoriter
Tipologi kepemimpinan seperti ini identik dengan seorang diktator. Bahwa memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Penafsirannya, sebagai pemimpin tidak lain adalah memberi perintah sehingga ada kesan bawahan atau anggota-anggotanya hanya mengikuti dan menjalankannya, tidak boleh membantah dan mengajukan saran.
Tipe kepemimpinan otoriter memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a) Menganggap organisasi yang dipimpinnya sebagai milik pribadi.
b) Mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c) Menganggap bawahan bak sebuah alat semata.
d) Tidak menerima pendapat, saran atau kritik dari anggotanya.
e) Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya.
f) Cara pendekatan kepada bawahannya dengan pendekatan paksaan dan bersifat kesalahan menghukum.

Efek yang ditimbulkan oleh kepemimpinan otoriter antara lain sikap menyerah tanpa kritik, sikap asal bapak senang atau sikap sumuhun dawuh terhadap pemimpin, dan adanya kecenderungan untuk mengabaikan tugas dan perintah jika tidak ada pengawasan langsung. Dominasi yang berlebihan akan melahirkan oposan atau sikap apatis, atau sebaliknya akan timbul sifat-sifat agresif dari anggota-anggota kelompok terhadap pemimpinnya.
Namun demikian ada beberapa keuntungan dari kepemimpinan model ini, diantaranya: pemimpin dapat dikontrol dengan baik dan pekerjaan atau kegiatan dapat berjalan dengan baik pula. Hal ini disebabkan karena segala hal yang berkenaan dengan organisasi berada dibawah satu kendali yaitu di tangan pemimpin.
b) Kepemimpinan Pseduo-Demokratis
Pseduo (berarti palsu), Ia sebenarnya otokratis, tetapi dalam kepemimpinanya ia memberi kesan demokratis. Seorang pemimpin yang bersifat pseduo-demokratis sering memakai “topeng”. Ia pura¬pura memperlihatkan sifat demokratis di dalam kepemimpinannya. Ia memberi hak dan kuasa kepada guru-guru untuk menetapkan dan memutuskan sesuatu, tetapi sesungguhnya ia bekerja dengan perhitungan. Ia mengatur siasat agar kemauannya terwujud kelak.
c) Kepemimpinan Bebas (Laissez Faire)
Kepemimpinan model ini sifatnya memberikan kebebasan penuh kepada bawahan. Bawahan bebas berbuat apapun dan mengeluarkan ide seusai dengan keinginannya. Pemimpin disini hanya berperan sebagai pendamping dan pelayan bagi bawahan yang membutuhkan. Tidak pernah pemimpin memberikan kontrol atau koreksi. Pembagian tugas diserahkan sepenuhnya kepada bawahan. Ibaratnya kepemimpinan model ini seperti air mengalir. Ia akan terus mengalir tanpa ada halangan.
Kelebihan dari kepemimpinan model ini adalah tujuan dari organisasi akan lebih cepat untuk tercapai. Namun keberhasilan ini harus didukung kemampuan, kesadaran dan dedikasi yang tinggi dari bawahan. Hal ini dikarenakan setiap individu akan melaksanakan tugasnya dengan sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang ia miliki tanpa ada perasaan iri dengan yang lain ataupun terpaksa. Tanpa itu semua, mustahil tujuan dari organisasi akan tercapai.

Namun demikian banyak juga kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam kepemimpinan ini, diantaranya adalah bawahan dalam melaksanakan tugas terlalu monoton. Bawahan tidak dapat mengembangkan kemampuannya dan pola pikirnya karena tidak ada pengarahan dari pimpinan hingga kendala-kendala yang dihadapi tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Yang lebih membahayakan adalah semakin memburuknya kondisi organisasi bila bawahan terdiri dari orang-orang yang lemah dan kondisi seperti ini tentu semakin menyulitkan usaha pencapaian tujuan bersama.
Dalam tipe kepemimpinan ini biasanya organisasinya tidak jelas dan kabur, segala kegiatan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pengawasan dari pemimpin.

d) Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang kooperatif dan tidak diktator. Dia selalu menstimulasi anggota-anggota kelompoknya untuk bekerja bersama-sama dalam mencapai tujuan bersama pula. Dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya dan selalu mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia mau menerima dan mengharapkan saran-saran, bahkan kritik yang membangun dari para anggotanya. Ia mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada para anggotanya, bahwa mereka mempunyai kesanggupan kerja dengan baik dan bertanggung jawab.

Beberapa ciri dari kepemimpinan yang demokratis antara lain sebagai berikut:
a) Dalam menggerakkan bawahan bertitik tolak dari pendapat: manusia makhluk termulia didunia.
b) Selalu berusaha untuk menyingkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan tujuan pribadi.
c) Senang menerima saran, pendapat dan kritik dari bawahan.
d) Mengutamakan kerjasama dalam mencapai tujuan.
e) Memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan dan membimbingnya.
f) Mengusahakan agar bawahan lebih sukses dari pada dirinya.
g) Selalu mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Bentuk kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting. Hubungan antara pemimpin dan orang¬orang yang dipimpin diwujudkan dalam bentuk human relationship yang didasari prinsip saling menghargai dan saling menghormati. Pemimpin memandang orang lain sebagai subyek yang memiliki sifat-sifat manusiawi sebagaimana dirinya. Setiap orang dihargai dan dihormati sebagai manusia yang memiliki kemampuan, kemauan, kehendak, pikiran, minat dan perhatian, pendapat dan lain-lain. Oleh karena itu setiap orang harus dimanfaatkan dengan mengikutsertakannya dalam semua kegiatan organisasi. Keikutsertaan itu disesuaikan dengan posisi masing-masing yang memiliki wewenang dan tanggung jawab yang sama pentingnya bagi pencapaian tujuan bersama.

3. Peran Kepala Sekolah
Kedudukan kepala Sekolah adalah kedudukan yang sangat sulit Pada satu pihak ia adalah orang atasan karena ia diangkat oleh atasan pada lain pihak ia adalah wakil guru-guru atau stafnya, ia adalah suara dan keinginan guru-guru.
Peran utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid-murid dapat belajar dengan baik. Dalam melaksanakan peran tersebut, kepala sekolah memiliki tanggungjawab ganda yaitu melaksanakn administrasi sekolah sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang baik, dan melaksanakan supervisi sehingga guru-guru bertambah dalam menjalankan tugas-tugas pengajaran dan dalam membimbing pertumbuhan murid-murid.

Kepala sekolah harus mampu menciptakan situasi belajar mengajar yang baik. Ini berarti bahwa ia harus mampu mengelola “school plant”, pelayanan-pelayanan khusus sekolah, dan fasilitas-fasilitas pendidikan sehingga guru-guru dan murid-murid memperoleh kepuasan menikmati kondisi-kondisi kerja; mengelola personalia pengajar dan murid; membina kurikulum yang memenuhi kebutuhan anak; dan mengelola catatan-catatan pendidikan. Contoh pts pengawas lengkap word Kesemuanya ini diharapkan, agar ia dapat memajukan program pengajaran di sekolahnya.
Dalam dunia pendidikan, peran kepala sekolah sangat menentukan dalam memperlancar kegiatan belajar mengajar (KBM). Peranannya bukan hanya menguasai teori teori kepemimpinan, lebih dari itu seorang kepala sekolah harus bisa mengimplementasikan kemampuannya dalam aplikasi teori secara nyata. Untuk itu seorang kepala sekolah sudah sepatutnya memiliki ilmu pendidikan secara menyeluruh.

E. Mulyasa menyebutkan bahwa untuk mendorong visinya dalam meningkatkan kualitas tenaga kependidikan kepala sekolah harus mempunyai peran sebagai berikut:
1) Kepala sekolah sebagai edukator (pendidik), meliputi pembinaan mental, pembinaan moral dan pembinaan fisik bagi tenaga kependidikan.
2) Kepala sekolah sebagai Manajer, yang pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Kepala sekolah sebagai Administrator, dalam hal ini ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah.
4) Kepala sekolah sebagai Supervisor, harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan.
5) Kepala sekolah sebagai Leader, harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasi tugas.
6) Kepala sekolah sebagai Inovator, harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan disekolah dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
7) Kepala sekolah sebagai Motivator, harus memiliki strategi yang tepat untuk memotivasi para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).

Peran khusus kepala sekolah ini tidak terlepas dari ilmu pendidikan didalam melaksanakan peranan-peranannya sebagaimana diungkapkan oleh Harry Mintzberg yang secara jelas mengungkapkan ada tiga peranan seorang pemimpin, yaitu; interpersonal roles, informational roles dan decisional roles.
a) Peranan hubungan antar perseorangan (interpersonal roles)
Peranan ini timbul akibat otoritas formal dari seorang manajer meliputi:
1) Figurehead (lambang)
2) Leadership (kepemimpinan)
3) Liasion (penghubung)
b) Peranan informasional (informational roles)
1) Sebagai monitor
2) Sebagai disseminator
3) Sebagai Spokesman
c) Peranan sebagai pengambil keputusan (decisional roles)
Ada empat macam peran kepala sekolah sebagai pengambil keputusan, yaitu:
1) Entrepreneur
2) Orang yang memperhatikan gangguan (disturbancehandler)
3) A negotiator roles
4) Sebagai innovator

B. Profesionalisme Guru
1. Pengertian Profesionalisme
Komarudin (2000:205) mengemukakan bahwa professional berasal dari bahasa latin yaitu “profesia”, yang mengandung arti, pekerjaan, keahlian, jabatan, jabatan guru besar. Sedangkan Javis (1983) menjelaskan profesional dapat diartikan bahwa seorang yang melakukan suatu tugas profesi juga sebagai seorang ahli (expert) apabila dia secara spesifik memperolehnya dari belajar.
Menurut Dr. Nana Sudjana, 1988 menyatakan bahwa kata “profesional” berasal dari kata sifat berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti ini guru, dokter dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan itu.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, profesionalisme diartikan sebagai mutu, kualitas, yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Sedangkan profesionalisme sendiri berasal dari kata professien. Profesi mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Dengan kata lain, profesi dapat diartikan sebagai suatu bidang keahlian yang khusus untuk menangani lapangan kerja tertentu yang membutuhkannya.
Drs. Moh. Ali, mengemukakan syarat khusus untuk profesi yaitu
a. Menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
b. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya.
c. Menuntut adanya tingkat keguruan yang memadai.
d. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
e. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.17
Melihat beberapa definisi di atas maka profesionalisme dapat diartikan sebagai mutu atau kualitas, yang merupakan ciri dari suatu profesi atau orang yang melakukan suatu tugas profesi atau jabatan profesional bertindak sebagai pelaku untuk kepentingan profesinya dan juga sebagai ahli (expert) apabila ia secara spesifik memperoleh keahlian dari belajar.

2. Profesionalisme Keguruan
Guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Betapa pun bagusnya sebuah kurikulum (oficial), hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru di luar maupun dalam kelas (actual). Berangkat dari permasalahan tersebut maka profesionalisme ke-guru-an dalam mengajar sangat diperlukan.
Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari¬hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, member arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.

Walaupun segala prilaku guru selalu diperhatikan masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini berhubungan dengan bagaimana pola tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap professional keguruan terhadap: (1) peraturan perundang¬undangan, (2) Organisasi profesi, (3) Teman sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) Pemimpin, dan (7) Pekerjaan.
Profesi kependidikan, khususnya profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan alasan tersebut, jelas kiranya bahwa profesionalisasi keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat.

Untuk meningkatkan kompetensi guru, perlu dilakukan suatu sistem pengujian terhadap kompetensi guru. Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, beberapa daerah telah melakukan uji kompetensi guru, mereka melakukannya terutama untuk mengetahui kemampuan guru di daerahnya, untuk kenaikan pangkat dan jabatan, serta untuk mengangkat kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Uji kompetensi guru dapat dilakukan secara nasional, regional maupun lokal. Secara nasional dapat dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan secara keseluruhan. Secara regional dapat dilakukan oleh pemerintah provinsi untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan di provinsi masing-masing. Sedangkan secara lokal dapat dilakukan oleh daerah (kabupaten dan kota) untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan di daerah dan kota masing-masing.

Kompetensi keguruan meliputi kompetensi kepribadian kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Dalam banyak analisis tentang kompetensi keguruan, aspek kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial umumnya disatukan. Hal ini wajar karena sosialitas manusia (termasuk guru) dapat dipandang sebagai pengejawantahan pribadinya.
Prof. Dr. Tjokorde Raka Joni, merumuskan tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang professional. Tiga kompetens tersebut yaitu:
a) kompetensi professional, artinya bahwa guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan, serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu menggunakannya dalam proses belajar-mengajar.
b) Kompetensi personal, artinya bahwa guru harus memiliki sikap kepribadin yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi bagi subjek. Arti lebih terperinci adalah bahwa ia memiliki kepribadian yang patut diteladani seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro: “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani”.
c) Kompetensi sosial, artinya bahwa guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama teman guru, dengan kepala sekolah, dengan pegawai, dan tidak lupa dengan anggota masyarakat.

Satu dari tiga kompetensi yang disebutkan ini akhirnya dirinci lebih kecil karena dipandang penting dan harus bukan hanya dipahami tetapi juga diraih oleh guru adalah kompetensi professional. Dalam kompetensi profesioanl, seorang guru dituntut mempunyai kemampuan dasar keguruan sebagai berikut:
1) Guru dituntut menguasai bahan yang akan diajarkan,
2) Guru mampu mengelola program belajar-mengajar,
3) Guru mampu mengelola kelas dengan baik,
4) Guru mampu menggunakan media dan sumber pengajaran,
5) Guru menguasai landasan-landasan kependidikan,
6) Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar,
7) Guru mampu menilai prestasi belajar siswa untuk kepentingan pengajaran,
8) Guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan,
9) Guru mengenal dan mampu ikut menyelenggarakan administrasi sekolah, dan
10) Guru memahami prinsip-prinsip penelitian pendidikan dan mampu menafsirkan hasil-hasil penelitin pendidikan untuk kepentingan pengajaran.
Sedangkan berdasarkan undang-undang pemerintah No.14 Tahun 2005 tentang kompetensi guru “kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.

3. Bentuk Kompetensi Guru dalam Mengajar Di Sekolah
Kompetensi menurut Abdul Majid (2005) adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.
Guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab member pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasamani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu beriri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasannya, mampu memenuhi tugasnya sebaga hamba dan khalifah Allah SWT dan mampu sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk hidup yang mandiri (Muhaimin & Abdul Mujib, 1993).
Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban dengan bertanggung jawab dan layak Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukan kualitas guru dalam mengajar. Contoh penelitian tindakan sekolah pdf Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan professional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.
Menurut Muhibbin Syah (2004), ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dalam upaya peningkatan keberhasilan belajar mengajar, yaitu:
Menguasai bahan
Mengolah program belajar-mengajar
Mengelola kelas
Menggunakan media/sumber
Menguasai landasan-landasan kependidikan
Mengolah interaksi belajar dan mengajar
Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
Mengenal program bimbingan dan penyuluhan di sekolah Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
Di samping itu, sebagaimana yang dikutip dalam buku Dasar¬dasar Proses Belajar Mengajar karya Nana Sudjana (1991), Glasser menyebutkan ada empat hal yang harus dikuasai guru, yakni:
1) Menguasai bahan pelajaran
2) Kemampuan mendiagnosa tingkah laku siswa
3) Kemampuan melaksanakan proses pengajaran
4) Kemampuan mengukur hasil belajar siswa.

DOWNLOAD LAPORAN PTS KEPALA SEKOLAH LENGKAP

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai penulis adalah untuk mengetahui peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MIS ... Kab. ....
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lembaga pendidikan MIS ... .... Sedangkan waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2015.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam pembahasan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu metode yang meneliti dan menemukan informasi yang seluas-luasnya tentang variabel yang diteliti dan tidak bermaksud mengidentifikasi hubungan antar variabel. Penelitian deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk mengetahui gambaran peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MIS ....

D . Populasi dan Sam pel Penelitian
Populasi adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru dan staff karyawan MIS ..., yang berjumlah sebanyak 24 orang.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel guru yang mengajar di MIS ... sebanyak 20 orang.

E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1. Data Kualitatif : Observasi keadaan sekolah yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan pada objek yang diteliti. Dalam melakukan observasi, penulis melakukannya dengan cara mengamati lingkungan sekolah, bangunan, sarana dan prasarana sekolah.
2. Data Kuantitatif : Hasil angket. Teknik ini adalah berbentuk daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden secara langsung. Angket ini diberikan kepada guru untuk memperoleh informasi mengenai Peran Kepala Sekolah dalam Rangka Meningkatkan Profesionalisme Guru di MIS ....

F. Teknik Pengolahan dan A nalisis Data
1. Teknik Pengolahan Data
Teknik analisis data yaitu data yang sudah diperolah diuraikan dengan keterangan agar data tersebut dapat dipahami oleh penulis dan orang yang ingin mengetahui hasil penelitian ini. Untuk mengolah data hasil penelitian ini, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Editing
Pada tahap ini penulis mengecek kelengkapan dan kebenaran pengisian angket agar terhindar dari kesalahan/ kekeliruan dalam mendapatkan informasi sehingga data yang diperoleh akurat.
b. Skoring
Penulis memberikan skor terhadap butir-butir pertanyaan yang terdapat pada angket. Butir jawaban yang terdapat dalam angket ada empat, yaitu selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah maka skor yang diberikan yaitu: 4 untuk Selalu, 3 untuk Sering, 2 untuk Kadang-kadang, dan 1 untuk Tidak pernah.
c. Tabulating
Setelah diketahui skor setiap indikatornya maka seluruh data tersebut ditabulasikan dalam sebuah tabel untuk kemudian diketahui hasil penghitungannya.
2. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis variabel yang diteliti digunakan teknik analisis secara deskriptif, dengan menggunakan rumusan sebagai berikut:
F
P =------- X 100%
N
P : Persentase Jawaban
F : Frekuensi jawaban yang dicari presentasenya
N : Number Of Case (Jumlah Frekuensi/banyaknya individu/Responden)
100 % : Bilangan Tetap.
Dari data yang merupakan hasil perhitungan statistik deskriptif, yang perlu dibahas selanjutnya adalah menghitng nilai mean atau nilai rata-ratanya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi atau gambaran dari aspek yang diteliti berdasarkan jawaban responden. Untuk menentukan rata-rata digunakan perhitungan sederhana dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
M = N
 X dibaca sigma X yang berarti jumlah X
Tabel 1
Tabulasi Skor
Kategorisasi Peran Kepala Sekolah Dalam Rangka Meningkatkan
Profesionalisme Guru Berdasarkan Rentangan Skoring

Jika responden menjawab 30 pertanyaan dengan frekuensi tidak pernah maka skor total yang diperoleh yaitu 30, dan termasuk dalam kategori skor Kurang Baik. PTS pengawas sekolah doc Dan apabila responden menjawab 30 pertanyaan dengan frekuensi selalu maka skor total yang diperoleh yaitu 120, dan termasuk dalam kategori Sangat Baik.

G. Definisi Konseptual dan Operasional
1. Definisi Konseptual
Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam penelitian ini adalah memperlihatkan bagaimana kemampuan peran kepala sekolah sebagai pemimpin di lembaga pendidikan yang bersangkutan.
2. Definisi Operasional
Peran kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru disini adalah meliputi kemampuan sebagai leader, kemampuan supervisor, kemampuan motivator, kemampuan sebagai innovator, kemampuan sebagai manajer, dan kemampuan sebagai edukator.
Untuk mengetahui peran kepala sekolah dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, maka setiap dimensi memiliki indikator yang disertai dengan butir soal pertanyaan, sebagaimana yang terdapat dalam tabel berikut:
Tabel 2
Soal pertanyaan Dimensi Peran Kep ala Sekolah
Dalam Rangka Meningkatkan Profesionalisme Guru

CONTOH LENGKAP PTS TERBARU UNTUK PENGAWAS SEKOLAH

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004.
Wahyosumidjo. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik Dan
Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Rohani, Ahmad HM dan Ahmadi, Abu. Pedoman Penyelenggaran Administrasi di Sekolah, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1991.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
Rivai, Veithzal dan Murni, Sylviana. Education Management; Analisis Teori dan Praktik. Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2009.
Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995.
Indrafachrudi, Soekarto. Mengantar Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Baik, Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 1993.
Nawawi, Hadari. Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Yayasan Masagung, 1989
Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988.
Soetjipto dan Kosasih, Raflis. Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Arikunto, Suharsimi. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990.
Fathurrohman, Pupuh dan Sutikno, M. Sobry. Strategi Belajar Mengajar, Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002.
Poerwadaminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2003.
McNergney, Robert F. Dan Carrier, Carol A. Teacher Development, Canada: Macmilan Publishing, 1981.
Sukardi. Metodologi penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya DOWNLOAD PTS PENGAWAS SEKOLAH LENGKAP

Postingan terkait: