CONTOH PTK IPA SD NUMBER HEADS TOGETHER

CONTOH PTK IPA SD NUMBER HEADS TOGETHER-Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA siswa rendah, keaktifan siswa dalam pembelajaran rendah, pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat konvensional dan teacher center, kerjasama siswa dalam kelompok belum efektif. Untuk memecahkan masalah ini maka diterapkan Numbered Heads Together. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penerapan Numbered Heads Together dapat meningkatkan keaktifan belajar pada mata pelajaran IPA kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 dan apakah penerapan Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA dengan menerapkan metode Numbered Heads Together. Berdasarkan rumusan masalah yang telah diungkapkan, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan Numbered Heads Together diduga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Contoh ptk sd kelas 5 pdf
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 SDN ...  02 yang berjumlah 30 siswa terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Data diperoleh melalui teknik tes dan observasi. Instrumen yang dipakai adalah lembar observasi dan lembar tes hasil belajar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis uji ketuntasan dan analisis deskriptif komparatif.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Numbered Heads Together dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA. Pada kondisi awal sebelum diadakan tindakan, keaktifan siswa kategori tinggi sebesar 46,7% pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 62,2% dan meningkat di siklus II yaitu 75,56%. Hasil tersebut telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu 70% siswa mencapai keaktifan tinggi. Hasil belajar IPA ketuntasan siswa pada prasiklus adalah 43,3 % pada siklus I meningkat menjadi 73,3% siswa tuntas dan pada siklus II meningkat dengan 90% siswa tuntas. Hasil tersebut telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu 80% siswa tuntas. Dengan demikian hipotesis yang diajukan peneliti dapat dibuktikan kebenarannya, dengan penerapan Numbered Heads Together dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN ...  02.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPA SD yang diberi judul "
 
PENERAPAN NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK 
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR 
IPA PADA SISWA KELAS 5 SDN ... 02 
KECAMATAN ... KABUPATEN ... 
SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2014/2015
"
. Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPA KELAS 5 SD lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK 026 SD).

DOWNLOAD PTK IPA SD TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Depdiknas (2006:486) mengemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya penugasan, kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep atau prinsip, tetapi merupakan suatu proses penemuan. Samatowa (2011:5) menyatakan bahwa pembelajaran IPA seharusnya disampaikan dengan pendekatan, metode atau model yang mencakup kesesuaian antara situasi belajar anak dengan situasi kehidupan nyata di masyarakat. Dengan menemukan ciri-ciri dari situasi yang berbeda-beda akan meningkatkan kemampuan menalar, berprakarsa dan berpikir kreatif pada anak didik. Bila IPA diajarkan dengan cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis. Samatowa (2011:15) juga mengemukakan bahwa pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Senada dengan pernyataan ini peneliti pendidikan sains Piaget dalam Samatowa (2011:5) mengungkapkan bahwa belajar IPA merupakan proses konstruktif yang menghendaki partisipasi aktif dari siswa sehingga disini peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa. Menurut Sanjaya (2006:27) salah satu tugas guru yaitu sebagai motivator bagi peserta didiknya. Cara untuk membangkitkan motivasi siswa dalam belajar yaitu dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Oleh karena itu guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang menarik sehingga anak dapat termotivasi dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk membangkitkan keaktifan belajar maka dibutuhkan metode pembelajaran yang inovatif.

Pelaksanaan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar guru belum mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, siswa menemukan sendiri dan mengutamakan keaktifan siswa. Inganah (20 12:1) menyatakan bahwa selama ini sebagian besar guru IPA dalam menyajikan pembelajaran kepada siswa cenderung monoton, yaitu menyajikan teori atau prosedur dan diakhiri dengan memberikan tes. Pada tahap awal pembelajaran guru menanamkan konsep atau prinsip ke dalam pikiran siswa. Guru cenderung menggiring seluruh siswa tanpa memperhatikan perbedaan atau karakteristik siswa, untuk memahami konsep atau prinsip seperti pemahaman yang dimilikinya. Siswa jarang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam penyelesaian masalah. Siswa lebih dikondisikan sebagai objek yang hanya dapat menerima dan mengerjakan seperti apa yang diperintah guru sehingga siswa cenderung menghafalkan fakta atau konsep IPA. Suprijono (2009:8) menyatakan bahwa peserta didik memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Pembelajaran yang bersifat hafalan dan lebih menekankan pada memorisasi terhadap materi yang dipelajari daripada struktur yang terdapat dalam materi itu. Download ptk ipa sd kelas 5 Pembelajaran seperti ini melelahkan dan membosankan. Pendapat tersebut dikonfontir dengan guru kelas 5 sehingga dapat diketahui bahwa penggunaan metode ceramah dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar.
Gambaran permasalahan yang disampaikan oleh Inganah (2012:1) tidak jauh berbeda dengan keadaan di SDN ...  02 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti selama dua hari pada tanggal 18 dan 19 Februari 2015 menggunakan lembar wawancara yang dibuat berdasarkan pedoman penyusunan wawancara dan lembar observasi keaktifan siswa, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA yang digunakan guru dalam sehari-hari sering atau sebagian besar dilakukan secara ceramah atau konvensional. Pembelajaran IPA masih teacher center, dalam kegiatan pembelajaran sebagian besar siswa hanya menerima begitu saja materi yang disampaikan guru kemudian diakhiri evaluasi sehingga dalam pembelajaran siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan yang dimiliki. Guru pernah melakukan kegiatan pembelajara IPA dengan bentuk kegiatan kelompok, namun kebanyakan tugas-tugas kelompok tersebut tidak dikerjakan secara bekerjasama tetapi hanya diselesaikan oleh satu siswa saja yang pandai dalam kelompok. Guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga partisipasi yang berupa keaktifan siswa masih rendah. Keaktifan siswa yang rendah diperoleh dari hasil observasi keaktifan siswa pra siklus dimana setiap siswa diamati kemudian hasilnya diolah dengan microsoft excel. Untuk mendapatkan hasil dari keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA, hasil observasi setiap anak diolah berdasarkan langkah Usman dan Akbar (2006:7 1) sehingga dapat digolongkan menjadi keaktifan belajar kategori rendah (skor 1 – 1,9), kategori sedang (skor 2 - 2,9), dan kategori tinggi (skor ~3). Hasil observasi keaktifan siswa pra siklus dapat dilihat pada Tabel 1:
Tabel 1
Hasil Observasi Keaktifan Belajar pada Mata Pelajaran IPA Kelas 5
SDN ...  02 Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015
Pra Siklus

Dari Tabel 1, dapat diketahui bahwa siswa di kelas 5 SDN ...  02 yang mempunyai keaktifan tinggi adalah 14 siswa dengan persentase 46,7% kemudian siswa kategori keaktifan sedang berjumlah 9 orang dengan persentase 30% dan siswa dengan keaktifan rendah ada 7 orang dengan persentase 23,3%. Rata-rata kelas hanya 2,6. Hal ini berarti siswa yang mempunyai keaktifan tinggi hanya 14 siswa dengan persentase 46,7% lebih rendah dari jumlah keseluruhan siswa di bawah kategori keaktifan tinggi yaitu 16 siswa persentase 53,3%. Selain keaktifan siswa yang masih kurang, hasil belajar siswa juga rendah dilihat dari nilai ulangan harian siswa pada mata pelajaran IPA kelas 5 pada semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 diperoleh data :

Tabel 2
Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SDN ...  02 Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015
Pra Siklus

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa siswa kelas 5 yang berjumlah 30 siswa terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan, diperoleh data ada 43,3% siswa tuntas yaitu yang nilainya sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan masih ada 5 6,7% siswa tidak tuntas yang memperoleh nilai kurang dari KKM. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 65. Dan rata-rata kelas adalah 62,8. Dalam menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) kepala sekolah berpedoman dengan kemampuan siswa yang ada di SDN ...  02.
Sejalan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu upaya yang dilaksanakan di sekolah adalah penggunaan metode pembelajaran yang menarik dan student center. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti mengambil langkah menerapkan metode Numbered Heads Together untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Menurut Suprijono (2011:19) Numbered Heads Together termasuk salah satu metode dari pembelajaran kooperatif. Metode ini dipilih karena menurut Isjoni (2012:16) dalam proses pembelajaran kooperatif, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Dalam Numbered Heads Together tiap-tiap siswa memiliki tanggung jawab kepada guru dan teman sekelas untuk berbagi gagasan dan jawaban. Unsur yang menutun siswa untuk bertanggung jawab di sini adalah dengan adanya pemanggilan nomor oleh guru secara acak sehingga siswa harus aktif dalam kelompok dan menguasai jawaban. Melalui pembelajaran kooperatif ini, siswa pandai dan kurang pandai akan dapat saling berinteraksi, siswa pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Menurut Sharan (2012:2 15) individu saling berbagi dalam kelompok dan ketika siswa sudah merasa jelas bahwa mereka memiliki tanggung jawab dengan adanya pemanggilan nomor dalam kelompok secara acak, hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan bersedia mendengarkan dan berpartisipasi. Misalnya jika Numbered Heads Together diubah dengan menghilangkan unsur berfikir bersama dan pemanggilan nomor dalam kelompok, siswa menjadi tidak bertanggung jawab berbagi jawaban dan mungkin beberapa orang memutuskan untuk tidak memperhatikan sama sekali. Menurut Kagan dalam Asmani (2007:65) metode Numbered Heads Together menggunakan sistem penomoran pada tiap siswa. Biasanya jika guru menggunakan metode diskusi, siswa dapat mudah bosan, maka dengan adanya pemberian nomor pada siswa dalam tiap kelompok diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam menjawab pertanyaan dan tertarik dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Contoh ptk ipa sd kelas 5 doc

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, ditemukan permasalahan sebagai berikut :
1) Rendahnya hasil belajar IPA yaitu 56,7% siswa memperoleh nilai kurang dari KKM. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 65.
2) Keaktifan siswa dalam pembelajaran masih rendah yaitu siswa dengan kategori keaktifan tinggi hanya 14 siswa persentase 46,7% sedangkan siswa yang keaktifan sedang dan rendah mencapai 16 siswa dengan persentase 53,3%.
3) Pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat konvensional.
4) Pembelajaran masih teacher center, sehingga siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan yang dimiliki.
5) Kerjasama siswa dalam kelompok belum efektif karena dalam pembelajaran kelompok masih didominasi oleh siswa yang pandai.

1.3 Pembatasan Masalah
Penelitian ini terfokus pada penerapan Numbered Heads Together untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas 5 dalam ruang lingkup IPA. Keaktifan belajar yang dimaksud adalah keaktifan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran. Standar kompetensi memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam. Kompetensi dasar mendeskripsikan struktur bumi serta mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1) Apakah penerapan Numbered Heads Together dapat meningkatkan keaktifan belajar pada mata pelajaran IPA kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015?
2) Apakah penerapan Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015?

1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut :
1) Untuk meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan Numbered Heads Together pada siswa kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015.
2) Untuk meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan Numbered Heads Together pada siswa kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015.

1.6 Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah : 
1) Manfaat Teoretis
Penelitian ini mempunyai dua manfaat teoritis. Penelitian ini secara umum memberikan sumbangan dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa menggunakan Numbered Heads Together. Hasil penelitian juga dapat digunakan sebagai tambahan atau pelengkap referensi bagi penelitian selanjutnya.
2) Manfaat Praktis
Penelitian ini mempunyai manfaat bagi siswa yaitu: (a) kemampuan belajar siswa terhadap pelajaran IPA meningkat, (b) siswa dapat memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru, (c) hasil belajar siswa pada pelajaran IPA dapat meningkat, (d) keaktifan siswa dalam pembelajaran meningkat.
Selain manfaat untuk siswa, penelitian ini juga mempunyai manfaat bagi guru yaitu: (a) guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat untuk dilaksanakan di kelas, (b) meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran IPA sehingga hasil belajar siswa lebih baik, (c) meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran sehingga dapat menjadi guru yang profesional.
Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah: (a) memberikan sumbangan yang positif terhadap kinerja guru sehingga kualitas pembelajaran di sekolah meningkat, (b) dapat memberikan masukan berupa informasi bagi sekolah tentang pentingnya pemilihan metode yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPA.

CONTOH PROPOSAL PTK IPA SD LENGKAP

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kajian Teori
Dalam sub bab kajian teori akan diuraikan tentang pembelajaran Numbered Heads Together yang berisi tentang pengertian, sintaks, pentingnya Numbered Heads Together, kaitan antara Numbered Heads Together dengan keaktifan dan hasil belajar serta kelemahan dan kelebihan dari Numbered Heads Together. Selain Numbered Heads Together juga akan diuraikan tentang hasil belajar yang berisi tentang pengertian hasil belajar, pentingnya penilaian hasil belajar, prinsip penilaian hasil belajar, pengukuran hasil belajar dan faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Akan diuraikan juga tentang keaktifan belajar yang berisi pengertian keaktifan belajar, pentingnya keaktifan belajar dan pengukuran keaktifan belajar. Pada sub bab terakhir akan diuraikan tentang Ilmu Pengetahuan Alam.
2.1.1 Numbered Heads Together
Suprijono (2011:19) mengemukakan salah satu metode dari model pembelajaran kooperatif adalah Numbered Heads Together. Sejalan dengan Suprijono, Nur (2011:216) juga menyatakan bahwa Numbered Heads Together adalah salah satu metode dari tipe pembelajaran kooperatif. Asmani (2007:25) menyatakan bahwa Numbered Heads Together (NHT) merupakan pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan oleh Spencer Kagan. Numbered Heads Together merupakan salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Rusman (2003:54) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok¬kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Secara umum pembelajaran kooperatif menurut Suprijono (2003:54) dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.

Menurut Lie (2004:59) Numbered Heads Together adalah pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Numbered Heads Together adalah suatu metode pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Hariyanto (2012:2 16) mengemukakan bahwa aktivitas dalam Numbered Heads Together mendorong siswa untuk berfikir dalam suatu tim dan berani tampil mandiri. Nur (2011:78) juga menyatakan bahwa Numbered Heads Together pada dasarnya merupakan sebuah varian diskusi kelompok, ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya. Cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini juga merupakan usaha yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Download ptk ipa sd word

2.1.1.1 Pentingnya Numbered Heads Together
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan¬kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Numbered Heads Together merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Ibrahim (2000:2 8) mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam Numbered Heads Together yaitu: (1) hasil belajar akademik stuktural, bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. (2) pengakuan adanya keragaman, bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. (3) pengembangan keterampilan sosial, bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Ada beberapa manfaat pada metode Numbered Heads Together terhadap siswa yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18) antara lain rasa harga diri menjadi lebih tinggi, memperbaiki kehadiran, penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar, perilaku mengganggu menjadi lebih kecil, konflik antara pribadi berkurang, pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi, dan hasil belajar lebih tinggi.
2.1.1.2 Kaitan Antara Numbered Heads Together dengan Keaktifan dan Hasil Belajar
Menurut Isjoni (2012:16) dalam proses pembelajaran Numbered Heads Together, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Arends (2008:6) juga menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif mendukung perkembangan intelegensi interpersonal, interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Ibrahim (2000:2 8) juga mengemukakan tujuan yang hendak dicapai dalam Numberd Heads Together salah satunya adalah hasil belajar akademik stuktural. Unsur yang menutun siswa untuk meningkatkan pemahaman siswa sehingga diduga dapat meningkatkan hasil belajar adalah dengan adanya pada tahap pemanggilan nomor secara acak oleh guru dan tahap berfikir bersama/diskusi. Dalam Numbered Heads Together tiap-tiap siswa memiliki tanggung jawab kepada guru dan teman sekelas untuk berbagi gagasan dan jawaban. Dengan adanya tahap berfikir bersama dan pemanggilan nomor dalam kelompok secara acak, siswa menjadi bertanggung jawab berbagi jawaban dengan anggota kelompok dan setiap siswa merasa harus menguasai materi. Pada pembentukan kelompok diskusi dibuat secara heterogen sehingga siswa pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

Sharan (2012:2 15) menyatakan bahwa individu saling berbagi dalam kelompok, ketika siswa sudah merasa jelas bahwa mereka memiliki tanggung jawab dengan adanya pemanggilan nomor secara acak dalam kelompok, hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan bersedia mendengarkan dan berpartisipasi sehingga siswa mau tidak mau harus aktif dalam kelompok. Unsur yang menutun siswa untuk meningkatkan keaktifan belajarnya adalah pada tahap pemanggilan nomor secara acak oleh guru, tahap berfikir bersama/diskusi, menjawab pertanyaan dan menanggapi jawaban. Dengan adanya tahap pemanggilan nomor secara acak oleh guru maka siswa harus aktif dalam diskusi kelompok agar menguasai materi, dalam tahap berfikir bersama/diskusi siswa aktif berinteraksi dengan anggota kelompok karena seluruh kelompok harus memastikan bahwa anggotanya paham, dalam tahap menjawab pertanyaan dan menanggapi jawaban siswa aktif dalam berkomunikasi menyampaikan jawaban, menanggapi jawaban, mengomentari dan menambahkan jawaban dari kelompok lain. Metode Numbered Heads Together menggunakan sistem penomoran pada tiap siswa, dengan adanya pemberian nomor pada tiap siswa dalam tiap kelompok maka siswa akan lebih aktif dalam berdiskusi, menjawab pertanyaan maupun menanggapi jawaban sehingga diduga dapat meningkatkan keaktifan belajar.
2.1.1.3 Kelebihan dan Kelemahan Numbered Heads Together
Menurut Zuhdi (20 10:65) Numbered Heads Together memiliki kelebihan yaitu setiap siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, dan siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Metode ini juga memiliki kelemahan yaitu kemungkinan nomor yang dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru, tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru, dan kendala teknis misalnya masalah tempat duduk kadang sulit atau kurang mendukung diatur kegiatan kelompok. Solusi mengatasi kelemahan tersebut adalah guru membuat catatan kecil agar nomor yang dipanggil tidak dipanggil lagi oleh guru, guru harus mengatur waktu pembelajaran dengan baik sehingga semua anggota kelompok dapat dipanggil oleh guru dan sebelum pembelajaran ruang kelas harus sudah tertata yang mendukung untuk diskusi kelompok.

2.1.1.4 Sintaks Numbered Heads Together
Langkah metode Numbered Heads Together menurut Nur (2011:216) adalah setiap siswa dalam kelompok memilih satu nomor dan siswa itu juga mengetahui bahwa hanya seorang siswa akan dipanggil setiap saat untuk mewakili kelompoknya. Kesempatan diskusi dan berbagi ide tersebut merupakan suatu upaya siswa untuk memperoleh berbagai informasi sehingga setiap orang mengetahui jawabannya. Dengan cara ini para siswa akan menerima sebuah poin tanpa memandang nomor mana yang dipanggil.
Suprijono (2011:92) menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Heads Together diawali dengan numbering. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari, maka tiap kelompok terdiri 8 orang. Tiap-tiap orang dalam tiap-tiap kelompok diberi nomor 1-8. Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok Heads Together atau berdiskusi memikirkan jawaban dari pertanyaan. Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang diterima dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Contoh ptk sd kelas 5 pdf  Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh. Menurut Lie (2011:60) langkah pembelajaran Numbered Heads Together adalah:
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
b) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
Menurut Kagan dalam Asmani (2007:40) langkah-langkah pembelajaran menggunakan Numbered Heads Together adalah sebagai berikut:
a) Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4 – 5 anggota, setiap siswa atau anggota kelompok mendapat sebuah nomor.
b) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap
anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
d) Guru memanggil salah satu siswa dengan memanggil nomornya, kemudian
siswa tersebut melaporkan hasil kerjasama diskusi kelompoknya.
e) Kelompok atau teman yang lain memberikan tanggapan, kemudian guru
melanjutkan memanggil nomor yang lain.
f) Siswa dengan dipandu guru membuat kesimpulan.
Menurut Arends (2008:16), sintaks pembelajaran dari Numbered Heads Together adalah:
a) Langkah 1 Numbering, guru membagi siswa menjadi beberapa tim beranggota 3 sampai 5 orang dan memberi nomor sehingga setiap siswa pada masing-masing tim memiliki nomor antara 1 sampai 5.
b) Langkah 2 Questioning, guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.
Pertanyaan itu bisa sangat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.
c) Langkah 3 Heads Together, siswa menyatukan “kepala” untuk menyatukan
jawabannya dan memastikan bahwa semua orang tahu jawabannya.
d) Langkah 4 Answering, guru memanggil sebuah nomor dan siswa dari masing 
masing kelompok yang memiliki nomor itu mengangkat tangannya dan
memberikan jawabannya kehadapan seluruh kelas.
Dari beberapa pendapat diatas maka sintaks dari Numbered Heads Together adalah:
1) Pembentukan kelompok: siswa dibagi kelompok beranggotakan 3-5 orang.
2) Penomoran anggota kelompok: setelah guru membagi siswa dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5. Siswa bergabung dengan tim atau anggotanya yang telah ditentukan.
3) Pembagian tugas: guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk dikerjakan.
4) Diskusi atau berpikir bersama: siswa berdiskusi berpikir bersama menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
5) Memanggil nomor: guru memanggil suatu nomor tertentu secara acak dari 1 sampai x (x adalah banyaknya anggota kelompok). Siswa yang dipanggil nomornya maju ke depan kelas untuk melaporkan hasil diskusinya ke depan kelas.
6) Menjawab pertanyaan: siswa yang nomornya dipanggil mencoba menjawab pertanyaan atau melaporkan jawaban untuk seluruh kelas mewakili kelompoknya. Guru membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan.
7) Menanggapi jawaban: guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi jawaban yang disampaikan.
8) Memberikan kesimpulan: guru membimbing siswa untuk memperbaiki atau menambah kesimpulan yang salah atau kurang terhadap materi yang telah di bahas.

2.1.2 Hasil Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil adalah sesuatu yang diadakan, diciptakan, dibuat, dijadikan dengan usaha pikiran. Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Winkel (2004:34) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan sikap atau tingkah laku anak melalui proses belajar. Suprijono (2009:5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar siswa menurut Sudjana (2011:3) pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan pengetahuan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Horward Kingsley dalam Sudjana (2011:22) membagi tiga macam hasil belajar yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita. Merujuk pemikiran Gagne dalam Suprijono (2009:5) hasil belajar dapat berupa: (a) informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. (b) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif yang bersifat khas. (c) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. (d) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. (e) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penelitian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Dari pengertian hasil belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli maka intinya adalah perubahan. Oleh karena itu seseorang yang melakukan aktivitas belajar dan memperoleh perubahan dalam dirinya dengan memperoleh pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah belajar.
2.1.2.1 Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Slameto (2003:54) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi dua. Dua faktor tersebut akan dijelaskan dengan penjelasan sebagai berikut:
a) Faktor-faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari diri siswa. Faktor intern ini terbagi menjadi tiga faktor yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.
1. Faktor jasmaniah
Pertama adalah faktor kesehatan. Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Kedua adalah cacat tubuh yitu sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh..
2. Faktor psikologis
Sekurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah: (a) intelegensi yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. (b) Perhatian yaitu keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek. (c) Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. (d) Bakat yaitu kemampuan untuk belajar. (e) Motif harus diperhatikan agar dapat belajar dengan baik harus memiliki motif atau dorongan untuk berfikir dan memusatkan perhatian saat belajar. (f) Kematangan adalah suatu tingkat pertumbuhan seseorang. (g) Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi renspon atau bereaksi. Download ptk ipa sd kelas 5

3. Faktor kelelahan
Kelelahan seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat praktis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul untuk membaringkan tubuh. Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat untuk menghasilkan sesuatu hilang. b) Faktor-faktor ekstern
Faktor eksten adalah faktor yang berasal dari luar siswa. Faktor ini meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat yaitu dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
2. Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberi pengaruh pada hasil belajar siswa. Sekolah harus menciptakan suasana yang kondusif bagi pembelajaran, hubungan dan komunikasi perorang di sekolah berjalan baik, kurikulum yang sesuai, kedisiplinan sekolah, gedung yang nyaman, metode pembelajaran aktif-interaktif, pemberian tugas rumah, dan sarana penunjang cukup memadai seperti perpustakaan sekolah dan sarana yang lainnya.

3. Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Pengaruh ini karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa ini meliputi: (a) kegiatan siswa dalam masyarakat yaitu misalnya siswa ikut dalam organisasi masyarakat, kegiatan¬kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain, belajar akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.(b) multi media misalnya: TV, radio, bioskop, surat kabar, buku-buku, komik dan lain-lain. (c) teman bergaul, (d) bentuk kehidupan masyarakat.
Dari uraian yang dikemukakan oleh Slameto, maka salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar adalah faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari sekolah diantaranya adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas. Arends (2008:12) menyatakan bahwa salah satu aspek penting cooperative learning adalah bahwa selain membantu meningkatkan perilaku kooperatif dan hubungan kelompok yang lebih baik di antara para siswa, pada saat yang sama ia juga membantu siswa dalam pembelajaran akademiknya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif meskipun mencakup tujuan sosial, juga bertujuan memperbaiki prestasi siswa. Menurut Suprijono (2009 :92) Numbered Heads Together merupakan salah satu metode dari pembelajaran kooperatif. Karena Numbered Heads Together merupakan salah satu metode dari pembelajaran kooperatif sehingga diduga Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.1.2.2 Pentingnya Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar penting dilakukan, karena penilaian hasil belajar menurut Sudjana (2011:3) berfungsi sebagai: (a) alat untuk mengetahui tercapai¬tidaknya tujuan pembelajaran. (b) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar¬mengajar. (c) Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya. Sejalan dengan fungsi penilaian di atas maka tujuan dari penilaian hasil belajar adalah untuk :
a) Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.
b) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran disekolah, dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral, dan ketrampilan yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
c) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya. Kegagalan para siswa dalam hasil belajar yang dicapainya hendakmya tidak dipandang sebagai kekurangan pada diri siswa semata-mata, tetapi juga bisa disebabkan oleh program pembelajaran yang diberikan kepadanya atau oleh kesalahan strategi dalam melaksanakan program tersebut.
d) Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
2.1.2.3 Prinsip Penilaian Hasil Belajar
Selain tujuan dan fungsi penilaian, guru juga harus memahami prinsip¬prinsip penilaian. Prinsip penilaian yang dimaksud menurut Sudjana (2011:8) antara lain adalah sebagai berikut :
a) Penilaian hasil belajar hendaknya dirancang dengan jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian dan interpretasi hasil penilaian.
b) Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Artinya penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
c) Penilaian harus dilaksanakan secara komprehensif, artinya kemampuan yang diukurnya meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotirik. Dalam aspek kognitif mencakup: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi secara seimbang.
d) Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tidak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru sebagai bahan untuk menyempurnakan program pembelajaran, memperbaiki kelemahan¬kelemahan pembelajaran, dan kegiatan bimbingan belajar pada siswa yang memerlukannya.
2.1.2.4 Pengukuran Hasil Belajar
Dilihat dari fungsinya, jenis penilaian ada beberapa macam menurut Sudjana (2011:5) yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, penilaian selektif dan penilaian penempatan. Dalam penelitian ini penilaian yang dilakukan adalah penilaian formatif yaitu penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Tes ini ada yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan) ada tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai dan uraian. Sedangkan bukan tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, dan lain-lain.

2.1.3 Keaktifan Belajar
Keaktifan berasal dari kata aktif. Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:12) berarti giat (bekerja atau berusaha). Aktif mendapat awalan ke- dan –an, sehingga menjadi keaktifan yang diartikan sebagai hal atau dimana siswa dapat aktif. Keaktifan merupakan kegiatan atau kesibukan yang diwujudkan dalam suatu perilaku yang bisa dilihat dari keteraturan dan keterlibatan seseorang untuk aktif dalam suatu kegiatan, sedangkan belajar merupakan proses perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yang bersifat tetap berkat adanya interaksi dan latihan. Contoh ptk sd kelas 5 pdf Jadi keaktifan belajar adalah suatu kegiatan individu yang terwujud dari perilaku seseorang untuk aktif dalam pembelajaran sehingga dapat membawa perubahan ke arah lebih baik. Keaktifan siswa dalam belajar IPA tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran IPA. Keaktifan belajar merupakan suatu kegiatan yang menimbulkan perubahan pada diri individu baik tingkah laku maupun kepribadian yang bersifat kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian yang bersifat konstan dan berbekas. Keaktifan belajar akan terjadi pada diri siswa apabila terdapat interaksi antara situasi stimulus dengan isi memori, sehingga perilaku siswa berubah dari waktu sebelum dan sesudah adanya situasi stimulus tersebut.
Selama proses belajar siswa dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencerna pelajaran yang diberikan guru, disamping itu sangat dimungkinkan para siswa memberikan balikan berupa pertanyaan, gagasan pikiran, perasaan, dan keinginannya. Guru hendaknya mampu membina rasa keberanian, keingintahuan siswa, untuk itu siswa hendaknya merasa aman, nyaman, dan kondusif dalam belajar. Peran guru dalam pembelajaran siswa aktif adalah sebagai fasilitator dan pembimbing siswa yang memberi berbagai kemudahan siswa dalam belajar serta mampu mendorong siswa untuk belajar seoptimal mungkin.
Mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil belajar, Sudjana dalam Yunia (20 12:7) menyatakan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi keaktifan belajar, yaitu stimulus belajar, perhatian dan motivasi, respon yang dipelajarinya, penguatan, pemakaian dan pemindahan. Guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif. Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar.
2.1.3.1 Pentingnya Keaktifan Belajar
Aunurrahman (2009: 119) menyatakan bahwa siswa merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif saat lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk perkembangan keaktifan itu. Menurut Mulyasa (2003:32) pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berpengaruh terhadap daya ingat siswa terhadap pelajaran yang diberikan. Menurut Vernon Magnesen dalam Sutrisna (2011:2) ingatan yang diperoleh belajar dari membaca sebesar 20%, mendengarkan 30%, melihat sebesar 40%, mengucapkan sebesar 50%, melakukan sebesar 60% dan gabungan dari membaca, mendengarkan, melihat, mengucapkan dan melakukan sebesar 90%.
Segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Ahmadi dan Prasatya dalam Yunia (20 12:7) mengemukakan bahwa proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa, untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut. Selanjutnya tingkat keaktifan belajar dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki keaktifan yang besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar sehingga guru perlu membangkitkan keaktifan siswanya dalam pembelajaran agar pelajaran yang diberikan mudah.

2.1.3.2 Pengukuran Keaktifan Belajar
Untuk dapat mengukur keaktifan belajar dapat dilakukan dengan teknik observasi menggunakan instrumen lembar observasi keaktifan belajar. Lembar observasi dibuat berdasarkan indikator keaktifan belajar. Menurut Sudjana (2011:84) observasi adalah alat penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkah laku individu maupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain melalui observasi dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi dalam suatu kegiatan, kemampuan dan proses kegiatan yang dilakukan. Observasi harus dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Menurut Asmani (2011:78) keaktifan belajar dapat dilihat berdasarkan indikator keaktifan siswa yaitu :
a) Pengalaman: Anak akan belajar banyak melalui berbuat dan pengalaman dengan cara mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya melalui mendengarkan.
b) Interaksi: Belajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila terjadi dalam suatu interaksi dengan orang lain, misalnya berdiskusi, saling bertanya dan mempertanyakan serta saling menjelaskan. Pada saat orang lain mempertanyakan pendapat kita atau apa yang kita kerjakan maka kita terpacu untuk berpikir menguraikan lebih jelas lagi sehingga kualitas pendapat itu menjadi lebih baik.
c) Komunikasi: Pengungkapan pikiran dan perasaan, baik lisan maupun tulis, merupakan kebutuhan setiap manusia dalam rangka mengungkapkan dirinya untuk mencapai kepuasan. Pengungkapan pikiran baik dalam rangka memantapkan pemahaman seseorang tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipelajari.
d) Refleksi: Bila seseorang mengungkapkan gagasannya kepada orang lain dan mendapat tanggapan, maka orang itu akan merenungkan kembali (refleksi) gagasannya tersebut kemudian melakukan perbaikan sehingga memiliki gagasan yang lebih mantap lagi.
Melalui indikator keaktifan belajar, guru dapat melihat apakah siswa telah melakukan aktivitas belajar yang diharapkan atau tidak. Tingkat keaktifan belajar dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Keaktifan belajar tidak semata-mata muncul karena siswa tetapi guru juga harus berusaha untuk memunculkan suasana belajar yang aktif sehingga siswa dapat terpacu untuk aktif dalam belajar.
2.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut Samatowa (2010:1) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains dalam arti sempit sebagai disiplin ilmu dari physical sciences dan life sciences, yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika sedangkan life science meliputi biologi (anatomi, fisiologi, zoologi, dan seterusnya). Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa Inggris yaitu natural science, artinya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.
Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena alam dan segala sesuatu yang ada di alam. IPA merupakan pengetahuan yang ilmiah, yaitu pengetahuan yang diperolah secara ilmiah. Sedangkan IPA menurut Fisher dalam Widyastyanto (2012:1) adalah salah satu kumpulan pengetahuan yang tersusun secar sistematik yang di dalamnya secara umum terbatas pada gej ala-gej ala alam.
Depdiknas (2006 :486) menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam berkaitan dengan mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatuproses penemuan. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan tentang alam, berbagai peristiwa alam di kupas didalamnya. Definisi atau teori Ilmu Pengetahuan Alam di ambil dalam mengamati kejadian yang terjadi secara berulang dalam kurun waktu tertentu. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Depdiknas (2006:13) menyatakan bahwa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam berfungsi untuk: (1) memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangkai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitannya dengan pemanfaatan melalui lingkungan sehari-hari. (2) Mengembangkan ketrampilan proses. (3) Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari. (4) Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan keterkaitan yang saling mempengaruhi antara kemajuan Ilmu Pengetahuan Alam dan teknologi (IPTEK), serta ketrampilan yang berguna dalam rangka kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikannya ketingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Menurut Depdiknas (2006:13) mata pelajaran IPA SD/MI betujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Ruang lingkup mata pelajaran IPA SD/MI menurut Depdiknas (2006:14) secara garis besar terinci menjadi empat kelompok yaitu:
1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan,
tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat, dan gas
3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana
4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya. Contoh ptk ipa sd kelas 5 doc

2.2 Kerangka Pikir
Pembelajaran IPA kelas 5 SDN ...  02 selama ini sering bersifat konvensional dan masih terpusat pada guru (teacher center). Guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga keaktifan siswa masih rendah, apabila diberikan tugas kelompok tidak dikerjakan secara bekerjasama tetapi hanya diselesaikan oleh satu siswa saja yang pandai dalam kelompok. Kondisi seperti ini menyebabkan siswa tidak dapat memahami materi dengan baik sehingga menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA, maka guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan student center. Dalam pembelajaran IPA, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran dan melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan guru di kelas, karena ada siswa yang mempunyai daya tangkap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tangkap yang lama.
Menyikapi kenyataan ini, maka alternatif tindakan yang diambil adalah menggunakan metode Numbered Heads Together yaitu salah satu dari metode pembelajaran kooperatif. Melalui metode ini diharapkan siswa akan tertarik dalam
pembelajaran dan berperan aktif dalam pembelajaran sehingga meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar. Kelebihan dari Numbered Heads Together adalah siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh dan siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Pemanggilan nomor secara acak menyebabkan siswa memiliki tangung jawab untuk menguasai materi sehingga diduga dapat meningkatkan keaktifan belajar baik aktif dalam berinteraksi dalam diskusi, komunikasi, pengalaman, maupun refleksi. Numbered Heads Together diduga dapat meningkatkan keaktifan belajar dikarenakan dalam Numbered Heads Together lebih memungkinkan siswa untuk dapat berinteraksi lebih banyak, baik siswa dalam kelompok, kelompok antar kelompok maupun siswa dengan guru lewat diskusi kelompok, menjawab pertanyaan dan menanggapi jawaban. Setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama dalam interaksi dengan guru maupun dalam kelompoknya.

Dalam Numbered Heads Together siswa akan diberikan nomor, salah satu nomor akan dipanggil guru secara acak kemudian nomor yang dipanggil guru menjawab pertanyaan. Dengan adanya pemanggilan nomor secara acak maka seluruh siswa dalam kelompok harus siap menguasai dan memahami materi dengan cara berdiskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok, anggota dibuat heterogen sehingga siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai maka diduga hasil belajar siswa juga meningkat.

2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diungkapkan, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan Numbered Heads Together diduga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015.

CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS IPA KELAS 5 SD

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas 5 SDN ...  02 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Subjek penelitiannya yaitu seluruh siswa kelas 5 yang berjumlah 30 siswa yang terdiri dari 14 anak laki-laki dan 16 anak perempuan. Karakteristik siswa kelas 5 ini adalah siswa berumur antara 10 tahun sampai 11 yang berada pada tahap berpikir konkrit. Latar belakang siswa ditinjau dari tingkat ekonomi, sosial dan budaya adalah hampir semua siswa berasal dari keluarga petani dan sebagian kecil pedagang.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di SDN ... 02 Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan, yaitu mulai bulan Februari sampai bulan Mei 2012. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan sebagai berikut :
a) Bulan Februari 2015 menyelesaikan proposal penelitian dan validasi instrumen.
b) Bulan Maret 2015 dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I (3x pertemuan).
c) Bulan April 2015 dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II (3x pertemuan).
d) Bulan April dan Mei 2015 dilakukan analisis data dan penyusunan laporan

3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah Numbered Heads Together. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah keaktifan dan hasil belajar siswa kelas 5 SDN ...  02 Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi.

3.3 Definisi Operasional
Definisi operasional ini dimaksudkan untuk menghindari perbedaan interpretasi makna terhadap hal-hal yang bersifat esensial yang dapat menimbulkan kerancuan dalam mengartikan judul, maksud dari penelitian dan merupakan suatu bentuk kerangka pembahasan yang lebih mengarah dan relevan dengan permasalahan yang ada. Sesuai dengan judul “Penerapan Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas 5 SDN ...  02 Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015”, maka batasan pengertian di atas meliputi:
a) Numbered Heads together
Numbered Heads Together adalah suatu metode pembelajaran kooperatif dimana siswa dibuat suatu kelompok diskusi lalu diberi nomor, dan secara acak guru memanggil nomor dari siswa dan siswa yang dipanggil nomornya melaporkan hasil jawaban. Ada 8 langkah dalam pembelajaran Numbered Heads Together yaitu pembentukan kelompok, penomoran anggota kelompok, pembagian tugas, diskusi/berpikir bersama, memanggil nomor, menjawab pertanyaan, menanggapi jawaban dan memberikan kesimpulan. Download ptk ipa sd word 
b) Keaktifan Belajar
Keaktifan diartikan sebagai hal atau dimana siswa dapat aktif, keaktifan belajar dalam penelitian ini merupakan suatu perilaku yang bisa dilihat dari keteraturan dan keterlibatan seseorang untuk aktif dalam pembelajaran IPA yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan. Keaktifan belajar IPA tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran IPA dan diukur melalui teknik observasi menggunakan instrumen lembar observasi keaktifan yang disusun berdasarkan indikator keaktifan belajar. Indikator keaktifan belajar dalam penelitian ini menggunakan indikator yang dikemukakan oleh Asmani (2011:78) yaitu pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi. Keaktifan belajar merupakan konsekuensi dari penerapan metode Numbered Heads Together oleh guru, sehingga keaktifan belajar akan dikomparasikan dengan keaktifan proses oleh guru.
c) Hasil Belajar IPA
Hasil belajar adalah perubahan perilaku atau kemampuan siswa setelah mengalami proses belajar. Dalam penelitian ini hasil belajar IPA adalah penguasaan pengetahuan/aspek kognitif yang diperoleh dari penilaian formatif melalui tes tertulis yang diberikan oleh guru berbentuk pilihan ganda.
Dari denifisi para ahli dapat disimpulkan bahwa penerapan Numbered Heads Together untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah cara yang dilakukan oleh peneliti atau seorang guru kepada siswa pada saat mengajar dengan menggunakan Numbered Heads Together terdapat 8 langkah yaitu pembentukan kelompok, penomoran anggota kelompok, pembagian tugas, diskusi/berpikir bersama, memanggil nomor, menjawab pertanyaan, menanggapi jawaban dan memberikan kesimpulan. Penerapan Numbered Heads Together bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Keaktifan belajar adalah suatu perilaku yang bisa dilihat dari keteraturan dan keterlibatan seseorang untuk aktif dalam pembelajaran IPA yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan. Keaktifan belajar IPA tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dan diukur melalui teknik observasi menggunakan instrumen lembar observasi keaktifan yang disusun berdasarkan indikator keaktifan belajar.
Hasil belajar IPA adalah penguasaan pengetahuan/aspek kognitif yang diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru berupa tes pilihan ganda. 

3.4 Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus yang dipergunakan adalah Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16) terdapat empat tahap rencana tindakan, meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi.
 
Sebelum dilaksanakan penelitian, menyusun suatu perencanaan mengenai apa yang akan dilaksanakan dan diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Setelah perencanaan akan dilaksanakan tindakan dengan suatu pengamatan atau observasi mengenai jalannya tindakan dalam pembelajaran, kemudian melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan. Hasil refleksi untuk menemukan kelemahan dan kekurangan yang ditemukan pada tindakan siklus I kemudian akan dilaksanakan dan diperbaiki pada siklus selanjutnya yang pelaksanaanya sama pada siklus I.
3.4.1 Tindakan Siklus I
Tindakan siklus I terdiri dari bagian perencanaan siklus I kemudian pelaksanaan tindakan siklus I, observasi siklus I dan refleksi.
1) Perencanaan Siklus I
Perencanaan pada penelitian tindakan kelas ini adalah merencanakan dan merancang tindakan pembelajaran IPA kelas 5. Mempersiapkan perijinan di sekolah untuk melaksanakan tindakan siklus I, berkonsultasi dengan guru kelas mengenai materi pembelajaran yang akan digunakan sebagai penelitian, mengkonsultasikan tanggal pelaksanaan penelitian kepada pihak sekolah dan guru, menyiapkan RPP, melakukan validasi dan mempersiapkan instrumen. Instrumen yang disiapkan berupa soal tes yang telah divalidasi, lembar observasi keaktifan belajar dan lembar observasi guru dalam pelaksanaan metode Numbered Heads Together. Penyusunan lembar observasi keaktifan belajar berdasarkan indikator keaktifan siswa serta penyusunan lembar observasi guru penerapan pembelaj aran Numbered Heads Together berdasarkan sintaks pembelajaran. Dipersiapkan pula alat yang akan mendukung pembelajaran yaitu lembar soal dan nomor kepala serta menyiapkan alat peraga yang dibutuhkan.
2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pelaksanaan tindakan pada siklus I terdiri dari 3 pertemuan, yaitu pertemuan pertama guru membuka pelajaran, mempresensi, apersepsi dan motivasi. Guru menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru melakukan tanya jawab serta menjelaskan materi secara singkat. Guru menjelaskan langkah metode pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa dibagi dalam 6 kelompok belajar yang masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa pada setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5. Setiap kelompok siswa diberikan soal atau pertanyaan tentang materi kemudian mendiskusikan jawaban. Contoh ptk sd kelas 5 pdf  Guru berkeliling mengarahkan dan membimbing bila ada kelompok yang mengalami kesulitan. Setelah melakukan diskusi, guru menyebutkan satu nomor secara acak dan anak yang merasa nomornya disebutkan mengangkat tangannya lalu maju melaporkan hasil diskusi. Kelompok lain memperhatikan dan bila kurang jelas siswa diberi kesempatan bertanya, jika terjadi perbedaan pendapat maka kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi kemudian membuat kesimpulan. Pada kegiatan penutup siswa dibimbing guru membuat rangkuman dan melakukan refleksi.
Pertemuan kedua kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi, apersepsi dan motivasi. Guru menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru melakukan tanya jawab serta menjelaskan materi secara singkat. Guru menjelaskan langkah metode pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa dibagi dalam 6 kelompok belajar yang masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa pada setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5. Setiap kelompok siswa diberikan soal atau pertanyaan tentang materi kemudian mendiskusikan jawaban. Guru berkeliling mengarahkan dan membimbing bila ada kelompok yang mengalami kesulitan. Setelah melakukan diskusi, guru menyebutkan satu nomor secara acak dan anak yang merasa nomornya disebutkan mengangkat tangannya lalu maju melaporkan hasil diskusi. Kelompok lain memperhatikan dan bila kurang jelas siswa diberi kesempatan bertanya, jika terjadi perbedaan pendapat maka kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi kemudian membuat kesimpulan. Pada kegiatan penutup siswa dibimbing guru membuat rangkuman dan melakukan refleksi.

Pertemuan ketiga kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi, apersepsi dan motivasi. Guru menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru melakukan tanya jawab serta menjelaskan materi secara singkat. Guru menjelaskan langkah metode pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa dibagi dalam 6 kelompok belajar yang masing-masing kelompok beranggotakan 5 siswa pada setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5. Setiap kelompok siswa diberikan soal atau pertanyaan tentang materi kemudian mendiskusikan jawaban. Guru berkeliling mengarahkan dan membimbing bila ada kelompok yang mengalami kesulitan. Setelah melakukan diskusi, guru menyebutkan satu nomor secara acak dan anak yang merasa nomornya disebutkan mengangkat tangannya lalu maju melaporkan hasil diskusi. Kelompok lain memperhatikan dan bila kurang jelas siswa diberi kesempatan bertanya, jika terjadi perbedaan pendapat maka kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi kemudian membuat kesimpulan. Pada kegiatan penutup siswa dibimbing guru membuat rangkuman dan melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran tersebut kemudian guru meminta siswa untuk menggerjakan soal evaluasi.
3) Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung oleh peneliti sebagai observer. Hal yang diamati yaitu keterlaksanaan sintaks pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan keaktifan belajar selama jalannya proses pembelajaran dengan menerapkan metode Numbered Heads Together kemudian pengamat mencatat semua temuan pada saat proses pembelajaran berlangsung termasuk hasil yang dicapai siswa. Aspek pengamatan yang menjadi perhatian meliputi kegiatan pembelajaran guru tentang keterlaksanaan sintaks Numbered Heads Together, keaktifan belajar secara individu, mencatat masalah¬masalah saat tindakan kemudian menjadi refleksi sebagai tindak lanjut.

4. Refleksi
Pada tahap ini peneliti dan pengamat segera menganalisis pelaksanaan tindakan setelah kegiatan belajar mengajar berakhir sebagai bahan refleksi. Selanjutnya peneliti mengadakan refleksi dalam pelaksanaan pembelajaran dan kekurangan serta hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran. Bila melalui metode Numbered Heads Together keaktifan dan hasil belajar siswa masih rendah atau masih kurang dalam mata pelajaran IPA yang dapat dilihat dari kriteria pencapaian indikator kinerjanya, maka sebagai tindakan dalam merefleksi dilakukan perbaikan pada siklus II.
3.4.2 Tindakan Siklus II
Pada siklus II pun kegiatan pembelajaran akan dilakukan sama seperti pada siklus I hanya saja siklus II merupakan penyempurnaan dari kelemahan dan kekurangan pada siklus sebelumnya.

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Data dalam penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa lembar observasi keaktifan siswa dan lembar observasi guru menggunakan metode Numbered Heads Together, data kuantitatif berupa tes hasil belajar siswa.
3.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian untuk mengetahui keaktifan dan hasil belajar siswa kelas 5 setelah melakukan pembelajaran Numbered Heads Together adalah dengan teknik tes dan observasi. Tes hasil belajar siswa untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam menerima bahan ajar dan tingkat pemahaman dalam pembelajaran IPA. Observasi digunakan untuk mengetahui peningkatan keaktifan belajar dalam mengikuti pembelajaran dan keterlaksanaan sintaks yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan Numbered Heads Together.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar tes hasil belajar. Lembar observasi dan lembar tes hasil belajar disusun berdasarkan indikator keaktifan belajar, sintaks metode dan prosedur penyusunan butir soal.
3.5.2.1 Lembar Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blanko pengamat sebagai instrumen. Lembar observasi dalam penelitian ini adalah lembar observasi keaktifan belajar untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar pada saat dilaksanakan tindakan, lembar observasi digunakan pada tiap pertemuan dan setiap individu dinilai keaktifan belajarnya.
Lembar observasi keaktifan belajar disusun setelah membuat kisi-kisi keaktifan siswa. Kisi-kisi dan lembar observasi keaktifan belajar berdasarkan indikator keaktifan belajar yang dikemukakan Asmani (2011:78) yaitu pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi. Berdasarkan indikator tersebut maka dijabarkan ke dalam beberapa item pernyataan. Data observasi keaktifan belajar dinilai dengan kategori penskoran sebagai berikut:
Skor 1 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori kurang. Skor 2 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori cukup. Skor 3 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori baik.
Skor 4 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori sangat baik
Untuk mengetahui keaktifan belajar setiap siswa dalam pembelajaran IPA diperoleh melalui:

Nilai keaktifan siswa = 

Kategori keaktifan belajar dimodifikasi berdasarkan langkah Usman dan Akbar (2006:71) diolah dengan:
 
Sehingga diperoleh:
Skor 1 – 1,9 = keaktifan rendah
Skor 2 – 2,9 = keaktifan sedang
Skor > 3 = keaktifan tinggi
Sedangkan lembar observasi keterlaksanaan sintaks dibuat setelah menyusun kisi-kisi keterlaksanaan sintaks. Kisi-kisi dan lembar observasi guru ini dibuat berdasarkan sintaks Numbered Heads Together dan penilaian menggunakan daftar cek (check list). Download ptk ipa sd kelas 5

Tabel 4
Kisi-Kisi Instrumen Observasi Keaktifan Belajar Penerapan Pembelajaran
Numbered Heads Together Siswa Kelas 5 SDN ...  02 
Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015

Tabel 5
Kisi-kisi Observasi Keterlaksanaan Sintaks Penerapan Pembelajaran Numbered
Heads Together Siswa Kelas 5 SDN ...  02 Semester 2
Tahun Pelajaran 2014/2015

3.5.2.2 Lembar Tes Hasil Belajar
Soal tes yang diberikan adalah soal tes tertulis berbentuk pilihan ganda. Soal tes tertulis digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam pembelajaran. Tes ini diberikan setelah proses belajar mengajar pada pertemuan ketiga tiap siklus. Pembuatan lembar tes hasil belajar menggunakan prosedur penyusunan butir soal. Menurut Sudjana (2011:149) langkah-langkah penyusunan instrumen tes tertulis yaitu: (a) memperhatikan persyaratan penyusunan tes tertulis, baik dari aspek materi/isi/konsep, konstruksi maupun bahas, (b) mengacu pada indikator pencapaian, (c) memilih bentuk butir yang sesuai dengan indikator, dalam penelitian ini memilih bentuk pilihan ganda, (d) membuat kunci jawaban dan pedoman penskoran. Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa, dengan menilai hasil tes evaluasi siswa dengan teknik berikut:

Nilai hasil belajar = 

Data hasil belajar siswa yang sudah diolah kemudian disederhanakan dengan menggunakan acuan yang didapat dengan interval sesuai dengan Usman dan Akbar (2006:7 1) langkah-langkah membuat tabel distribusi frekuensi adalah urutkan data dari yang terkecil ke data terbesar, kemudian menghitung rentang yaitu yaitu data tertinggi dikurang data terendah dengan rumus :
Setelah menghitung rentang, hitung banyak kelas dengan aturan Sturges yaitu :
  

n = banyaknya data, hasil akhirnya dibulatkan. 
Hitung panjang kelas interval dengan rumus :
 
Setelah menghitung panjang kelas interval, langkah selanjutnya adalah menentukan ujung bawah kelas interval pertama. Biasanya diambil data terkecil atau data yang lebih kecil dari data terkecil tetapi selisihnya harus kurang dari panjang kelas yang harus didapat, selanjutnya kelas interval pertama dihitung dengan menjumlahkan ujung bawah kelas dengan p dikurangi l demikian seterusnya, nilai f dihitung dan dipindahkan ke tabel distribusi frekuensi.Kemudian data dianalisis dengan cara menghitung rata-rata kelas dan persentase ketuntasan belajarnya sebagai berikut:
 
Kisi- kisi Instrumen Evaluasi IPA Siswa Kelas 5 SDN ...  02
Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015
Siklus I

Tabel 7
Kisi- kisi Instrumen Evaluasi IPA Siswa Kelas 5 SDN ...  02
Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015
Siklus II

3.6 Validitas dan Reliabilitas
Dalam sub bab validitas dan reliabilitas akan disajikan pengertian, rumus validitas instrumen dan hasil validitas instrumen siklus I dan siklus II. Selain uji validitas akan disajikan pula pengertian, rumus uji reliabilitas dan hasil reliabilitas instrumen siklus I dan instrumen siklus II.
3.6.1 Validitas Instrumen
Uji validitas dan reabilitas instrumen dilaksanakan di kelas 6 SDN ...  02 Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Instrumen siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2015 dan instrumen siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2015. Tujuan dari pelaksanaan uji coba instrumen adalah mengetahui kelayakan butir soal yang nantinya akan dipergunakan untuk pengukuran variabel penelitian. Priyatno (2009:97) mengemukakan bahwa instrumen dikatakan valid artinya instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Pengambilan keputusan pada uji validitas biasanya dilakukan dengan membandingkan correted item to total correlation dengan batasan r tabel dengan signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi.
Uji validitas dalam penelitian ini dilaksanakan dengan jumlah responden 33 siswa dan jumlah soal 25 butir soal. Untuk batasan r tabel maka dengan N= 33 maka didapat r tabel sebesar 0,344. Artinya jika nilai korelasi lebih dari batasan yang ditentukan maka item dianggap valid, sedang jika kurang dari batasan yang ditentukan maka item dianggap tidak valid. Uji validitas menggunakan alat analisis SPSS 16 for windows. Untuk mengetahui tingkat validitas isntrumen dapat dilihat angka pada Corrected Item- Total Correlation yang merupakan korelasi antar skor item dengan skor total. Hasil uji validitas butir soal tersaji pada Tabel 8 dan Tabel 9.

Tabel 8
Hasil Validasi Butir Soal Evaluasi Siklus I

Berdasarkan Tabel 8 dari 25 butir soal yang diujikan, sebanyak 20 soal yang valid dan hanya ada 5 soal yang tidak valid. Dengan demikian instrumen tersebut dapat digunakan sebagai instrumen evaluasi siklus I dalam penelitian yang akan dilakukan tetapi harus dilakukan uji taraf kesukaran untuk memilih 15 soal yang akan digunakan. Instrumen siklus 2 hasil uji validitas dapat dilihat pada Tabel 9:

Tabel 9
Hasil Validasi Butir Soal Evaluasi Siklus II

Berdasarkan Tabel 9 dari 25 butir soal yang diujikan, sebanyak 17 soal yang valid dan ada 8 soal yang tidak valid. Contoh ptk ipa sd kelas 5 doc Dengan demikian instrumen tersebut dapat digunakan sebagai instrumen evaluasi siklus II dalam penelitian yang akan dilakukan tetapi harus dilakukan uji taraf kesukaran untuk memilih 15 soal yang akan digunakan.
3.6.2 Reliabilitas Instrumen
Selain uji validitas instrumen juga dilakukan uji reliabilitas instrumen pada penelitian ini menggunakan rumus alpha-Cronbach. Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah dianggap baik. Reliabel artinya dapat dipercaya juga dapat diandalkan. Untuk menguji reliabilitas instrumen dengan meggunakan teknik Cronbach’s Alpha dengan memakai program SPSS 16.0 for windows. Menurut Sekaran (dalam Priyatno, 2012:98) menyatakan batasan pengujian reliabilitas adalah:
       < 0,6 : Reliabilitas kurang baik
0,6- 0,8 : Reliabilitas dapat diterima
> 0,8 : Reliabilitas baik
Berdasarkan hasil uji reliabilitas instrumen yang akan digunakan sebagai instrumen evaluasi siklus I dapat dilihat pada Tabel 10 :
Tabel 10
Hasil Reliabilitas Instrumen Siklus I
 
Berdasarkan Tabel 10 uji reliabilitas instrumen yang digunakan untuk evaluasi siklus I dapat diketahui bahwa reliabilitasnya .843 sehingga masuk dalam kriteria reliabilitas baik.
Tabel 11
Hasil Reliabilitas Instrumen Siklus II
 
Berdasarkan Tabel 11 uji reliabilitas instrumen yang digunakan untuk evaluasi siklus II dapat diketahui bahwa reliabilitasnya 753 sehingga masuk dalam kriteria reliabilitas dapat diterima.

3.6.3 Analisis Taraf Kesukaran
Menurut Sudjana (2011:135) menganalisis tingkat kesukaran soal artinya mengkaji soal-soal tes dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang dan sukar. Bilangan yang menunjukan sukar mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (dificult indexs). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal.
Rumus mencari taraf atau indeks kesukaran adalah:
 
Keterangan rumus:
I = Indek kesukaran untuk setiap butir soal
B = banyaknya siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal
N = banyak siswa yang memberikan jawaban pada soal yang dimaksudkan (Sudjana, 2011:137).
Kriteria yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang diperoleh, maka semakin sulit soal tersebut. Sebaliknya semakin besar indeks yang diperoleh maka semakin mudah soal tersebut. Kriteria indeks kesulitan soal menurut Sudjana (2011:137) adalah sebagai berikut:
0 - 0,30 = soal kategori sukar
0,31 - 0,70 = soal kategori sedang
0,71 - 1,00 = soal kategori mudah

Uji tingkat kesukaran dilakukan setelah instrumen dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas instrumen dan hasil uji tingkat kesukaran instrumen tes digunakan untuk menyeleksi soal yang akan digunakan untuk evaluasi. Hasil taraf kesukaran dapat dilihat pada Tabel 12:
Tabel 12
Indeks Kesukaran Instrumen Soal Siklus I dan Siklus II

3.7 Indikator Kinerja
Dengan melihat latar belakang permasalahan dan untuk meningkatkan keaktifan serta hasil belajar, maka indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar adalah pengalaman, komunikasi, interaksi dan refleksi. Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa adalah peningkatan hasil belajar siswa baik secara individu maupun klasikal serta ketuntasan belajar. Download ptk ipa sd word Siswa dinyatakan tuntas ditunjukkan dengan perolehan nilai formatif 65 atau lebih (sesuai KKM).
Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya peningkatan pembelajaran yang diperoleh dari kesepakatan antara guru kelas dan peneliti adalah sebagai berikut :
a) Hasil belajar siswa dikatakan berhasil apabila 80% dari 30 siswa telah berhasil mencapai standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM untuk mata pelajaran IPA adalah 65.
b) Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 70% siswa mencapai kategori keaktifan tinggi, dimana kategori keaktifan siswa:
Skor 1 – 1,9 = keaktifan rendah
Skor 2 – 2,9 = keaktifan sedang
Skor ~3 = keaktifan tinggi

3.8 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan analisis uji ketuntasan dan analisis deskriptif komparatif. Analisis uji ketuntasan adalah analisis membandingkan skor yang diperoleh dengan KKM. Analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes sebelum perbaikan dengan nilai tes antar siklus. Data kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka dan deskriptif kualitatif yaitu berupa kata-kata atau penjelasan. Contoh ptk ipa sd kelas 5 doc Kemudian hasilnya dianalisis dengan deskriptif komparatif, yaitu membandingkan nilai sebelum tindakan, siklus I dan nilai siklus II. Kemudian membuat kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi data.

PTK IPA SD KELAS 5 LENGKAP

DAFTAR PUSTAKA


Arends. 2008. Learning to Theach. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Arikunto. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Yogjakarta: Diva Press. Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dimyati dan M ujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hariyanto, Warsono. 2012. Pembelajaran Aktif. Bandung: PT. Remaja R osd a k ar y a.
Ibrahim dan N ur. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Surabaya University Press.
Inganah. 2012. Meningkatkan Keaktifan Belajar IPA dengan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). 
Isjoni. 2011. Pembelajaran Kooperaif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ismiyati. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) pada Siswa Kelas 1 Semester 2 SD N 4 Boloh Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/201. 
Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: PT Gasindo.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Rosda karya.
Novitasari, Rima Chandra. 2011. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Mata Pelajaran IPAPokok Bahasan Perubahan Lingkungan Kelas IV SDN Tegalrejo 05 Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga Semester I Tahun Ajaran 2010/2011. 
Nur, Muhammad. 2011. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.
Priyatno, D. 2010. Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media.
Rusman. 2010. Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Samatowa, Usman. 2010. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks Permata Puri Media.
Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sharan, Shlomo. 2009. Handbook of Cooperative Learning Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu keberhasilan Siswa di Kelas (Handbook of Cooperative Metodhs). Yogyakarta: Imperium.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara.
Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Suprijono, A gus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutrisna. 2011. Alasan Pentingnya Keaktifan Siswa dalam Belajar. http://www.buatskripsi.com. (6 Feb. 2013)

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK IPA SD NUMBER HEADS TOGETHER

Postingan terkait: