CONTOH LENGKAP PTK PKN KELAS VII SMP

CONTOH LENGKAP PTK PKN KELAS VII SMP-Di dalam mengajarkan PKn guru kelas sering menggunakan metode ceramah yang lebih terpusat pada guru sehingga guru yang lebih aktif dan siswanya bersifat pasif. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa kelas banyak yang belum mencapai KKM >72. Dari data hasil belajar siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Pra siklus diketemukan 14 siswa (67,57%) yang belum tuntas dan yang sudah tuntas sebanyak 6 siswa (32,43%). Berdasarkan data pra siklus tersebut maka dilakukan perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “apakah dengan menggunakan metode Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada materi “kemerdekaan mengemukakan pendapat” pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 ?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PKn dengan menggunakan metode Think Pair Share (TPS) bagi siswa kelas VIIB semester 2 SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten .... Adapun hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah apabila dalam pembelajaran digunakan metode Think Pair Share (TPS) maka diharapkan hasil belajar siswa meningkat. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Contoh ptk pkn smp doc

Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... hal itu ditunjukan dengan peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi prasiklus, siklus 1 dan siklus 2. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar pada tiap siklus. Pada tahap pra siklus hanya terdapat 6 siswa (32,43%) yang telah tuntas dalam belajarnya atau 32,43 %, pada siklus I ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 15 siswa yang tuntas dalam belajarnya atau 75,68%, setelah dilakukan perbaikan melalui metode Think Pair Share (TPS). Siklus II tindakan perbaikan lanjut dan hasil belajar siswa meningkat menjadi 18 siswa yang telah tuntas dalam belajarnya atau 91,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas PKN yang diberi judul "

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn DENGAN METODE 
THINK PAIR SHARE (TPS) PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 
... KECAMATAN ... KABUPATEN ... SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2014/2015
"Disini akan  di bahas lengkap.



PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PKN VII SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 028).

PTK PKN DENGAN METODE TPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan dirumuskan sesuai dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Pasal 3 yakni untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut dicapai melaluai pendidikan formal, mulai jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan non-formal. Khusus pada jenj ang pendidikan dasar dalam Peraturan Pemerintah Nomer 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 26 dijelaskan bahwa standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, sarta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Wina Sanjaya, 2011:153-154). Salah satu mata pelajaran yang disajikan dalam kurikulum pada jenjang pendidikan dasar (SMP) yang menunjang pembentukan kompetensi lulusan tersebut adalah Pendidikan Kewarganegaraan.Contoh ptk pkn smp pdf

Penggunaan metode ceramah lebih mendominasi selama proses pembelajaran, sehingga guru dalam pendekatan pembelajaran berorientasi terpusat pada dirinya sendiri. Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan sebagai metode tradisional, karena sejak dahulu metode ini sudah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam interaksi edukatif. Kelemahan metode ceramah adalah: 1) kegiatan pembelajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata), 2) anak didik yang lebih tanggap dari sisi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya akan lebih cepat menerimanya, 3) bila terlalu lama akan membosankan, 4) sukar mengontrol sejauh mana perolehan belajar anak didik dan, 5) meyebabkan anak didik pasif (Jamal Ma’mur Asmani : 201 2: 32-33)

Kondisi ini juga terjadi di SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... khususnya pada kelas VIIB, berdasarkan hasil pengamatan terhadap pembelajaran PKn pada materi “Sikap Positif Terhadap Perlindungan dan Penegakan Hak Asasi Manusia” di kelas tersebut, dalam proses pembelajaran guru sering menggunakan metode ceramah sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dari 20 siswa yang sering bertanya ataupun mengemukakan pendapat pada waktu proses pembelajaran berlangsung hanya 4 orang (18,91%). Hal tersebut menyebabkan hasil belajar siswa rendah, masih terdapat siswa yang belum mencapai nilai KKM < 72. Dari hasil evaluasi setelah pembelajaran selesai hanya 6 orang (32,43%) yang hasil belajarnya sudah mencapai KKM > 72, sedangkan 14 orang (67,58%) masih mendapatkan nilai dibawah KKM < 72.

Dalam merancang sebuah pembelajaran tidak lepas dari indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Untuk mencapai hal itu dalam sebuah pembelajaran kita membutuhkan cara atau metode pembelajaran yang tepat.
Pada umumnya guru hanya menggunakan metod ceramah/ konvensional, hal ini dikarenakan materi PKn hanya berbentuk bacaan teoretis yang dihafal, guru kurang kreatifnya dalam menyajikan pembelajaran. Untuk mengatasi siswa yang kurang aktif dalam proses pembelajaran berdampak pada hasil belajar yang rendah maka di lakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan metode Tink Pair Share.

Metode Think Pair Share (TPS) adalah metode yang sederhana, namun sangat bermanfaat bagi siswa, metode ini dikembangkan pertama kali oleh Frannk Lyman dari university of Maryland 1989. Pada awal pembelajaran, siswa diminta untuk duduk berpasang (kelompok) dan kemudian guru mengajukan satu pertanyaan/ masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta untuk berfikir sendiri-sendiri terlebih dahulu tentang jawaban atas pertanyaan itu, kemudian mendiskusikan hasil pemikiranya dengan pasangan (kelompok) untuk memperoleh satu konsensus yang sekiranya dapat mewakili jawaban mereka. Setelah itu, guru meminta setiap pasangan untuk menshere, menjelaskan, atau menjabarkan hasil konsensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa yang lain diruang kelas (Miftahul Huda, 2012 : 132). Dengan metode TPS diharapkan pembelajaran PKn menjadi lebih menarik, siswa lebih aktif yang berdampak pada hasil belajar menjadi meningkat.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dirumuskan judul penelitian tindakan kelas “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PKn dengan Metode Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... semester genap tahun pelajaran 2014/2015”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat diidentifikasi beberapa permasalahan, yaitu :
1. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran PKn lebih cenderung menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah
2. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran
3. Hasil belajar PKn sebagian besar (67,57%) masih berada dibawah nilai KKM < 72.

C. Rumusan Masalah
Berdasrkan identifikasi permasalahan di atas, pada penelitian ini dipilih satu permasalahan yaitu masih rendahnya hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: apakah dengan menggunakan metode Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada materi “kemerdekaan mengemukakan pendapat” pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 ?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PKn pada materi kemerdekaan mengemukakan pendapat dengan menggunakan metode Think Pair Share pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015?

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Dapat memberikan sumbangan atau masukkan bagi pengembangan bidang pendidikan khususnya mengenai peningkatan hasil belajar melalui metode pembelajaran Think Pair Share (TPS)
2. Manfaat praktis
a. Bagi siswa :
1) Untuk memotivasi agar siswa senang terhadap pelajaran PKn
2) Untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran PKn sehingga hasil belajar dapat meningkat.
b. Bagi guru :
1) Membantu guru memperbaiki proses pembelajaran PKn
2) Memberikan pemahaman dan pengalaman mengajar dengan metode Think Pair Share (TPS)
3) Untuk memotivasi guru dalam menggunakan metode pembelajaran Think Pair Share (TPS)

c. Bagi Kepala Sekolah :
Untuk memotifasi guru agar menggunakan metode yang inovatif dalam pembelajaran salah satunya metode Think Pair Share (TPS) dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Bagi peneliti lain
Sebagai bahan referensi pada penelitian selanjutnya.

PTK KENAIKAN PANGKAT GURU MATA PELAJARAN PKN SMP

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah sebuah kata yang sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Belajar dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh kepandaian, ilmu ataupun keterampilan. Tentu saja dalam proses belajar dilakukan secara sadar untuk memperoleh kepandaian atau ilmu yang ingin dipelajari. Sebagai hasil atau output dari proses belajar adalah diperolehnya sebuah pengalaman atau perubahan tingkah laku. Download ptk pkn smp kelas 9 pdf Hal ini sesuai dengan pendapat (Slameto, 2010 : 2), belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan pendapat menurut Witherington dalam Hamdani (2011 : 21) Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan. Travers dalam Suprijono (2012 : 2) juga berpendapat bahwa Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku.

2. Hakikat hasil belajar
Menurut Nana Sudjana (2001:35), hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Gagne dalam Hamdani (2011 : 68) membagi lima kategori hasil belajar, yakni 1) informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya, pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya; 2) kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan adalah membedakan (discrimination), memahami konsep konkret, konsep abstrak, aturan, dan hukum. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah; 3) strategi kognitif yaitu kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. 

Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif, yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berpikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitik beratkan hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan proses pemikiran; 4) sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih jenis tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapai suatu objek atau peristiwa, di dalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran, dan kesiapan untuk bertindak; 5) kecakapan motorik yaitu hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Jadi dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mendapat perubahan perilaku secara keseluruhan yang tampak setelah mengalami proses pembelajaran, hasil pembelajaran itu dapat berupa pengetahuan, kebiasaan, sikap maupun keterampilan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Menurut Slameto (2010 : 54), belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar yang berasal dari dalam diri siswa, beberapa hasil sebagai berikut :
a. Faktor Intern
1) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya kurang baik, sehingga belajarnya juga akan lebih baik.
2) Kecerdasan/Intelegensia
Kecerdasan/Intelegensia adalah kemampuan belajar disertai kecapakan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi. Intelegensi yang normal selalu menunjukan kecapakan sesuai dengan tingkat perkembangan sebayanya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya.Download ptk pkn smp
Kecerdasan/Intelegensia juga berpengaruh besar dalam menentukan seorang siswa dalam mencapai keberhasilan. Siswa yang memiliki intelegensi sangat tinggi, hasil belajarnya juga akan tinggi, sementara siswa yang memiliki intelegensi rendah maka hasil yang diperoleh akan rendah.

3) Cara Belajar
Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
4) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar di luar bakatnya.
5) Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang/ hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Seorang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat dalam belajar.

6) Motivasi
Motivasi sebagai faktor intern berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan memiliki hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.
Motivasi belajar adalah faktor yang penting karena dalam hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang siswa akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.

b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang sifatnya dari luar diri siswa yaitu : beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan pada individu. Faktor-faktor ekstern itu meliputi :
1) Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka akan dituntut harus lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi belajar anak.
2) Status ekonomi sosial orang tua
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar harus terpenuhi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan anak akan kurang terpenuhi. Akibatnya kesehatan anak terganggu, belajar anak juga terganggu.

3) Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah orang tua Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan sebagai tempat yang stategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di rumah diperlukan tempat belajar dan bermaian, agar anak dapat berekreasi sesuai apa yang diinginkan. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik.
4) Media yang dipakai guru
Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang bervariasi. Potensi yang tersedia meliputi media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk tiap sekolah.

5) Kompetensi guru
Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya terhadap siswa dengan metode atau program tertentu. Metode atau program disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program yang dirancang.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Salah satu faktor lingkungan yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan intruksional. Pendapat ini sejalan dengan teori di sekolah (Theory of school learning) dari Bloom, bahwa ada 3 (tiga) variable utama dalam teori belajar di sekolah yaitu : karakteristik individu, kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa.

Sedangkan Carol (dalam Ankowo dan Kosasih, 2007 : 51) berpendapat bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor yaitu :
1) faktor bakat belajar.
2) Faktor waktu yang tersedia untuk belajar.
3) Faktor kemampuan individu.
4) Faktor kualitas pengajaran.
5) Faktor lingkungan
Kelima faktor tersebut, faktor pertama sampai keempat berkenaan dengan kemampuan individu, sedangkan faktor terakhir merupakan faktor yang datangnya dari luar diri siswa yaitu faktor lingkungan.

Dari uraian yang telah dijelaskan di atas maka dapat di simpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa berasal dari dua hal yaitu 1) faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor intern) seperti, faktor bakat belajar, faktor waktu yang tersedia untuk belajar, faktor kemampuan individu dan yang ke 2) faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor ekstern) meliputi faktor kualitas pengajaran, faktor lingkungan dan ada tiga aspek hasil belajar yang akan dipengaruhi faktor intern dan ektern yaitu: yang pertama yaitu aspek Kognitif yaitu kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif, yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berpikir agar terjadi aktivitas yang efektif. 

Kecakapan intelektual menitikberatkan hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan proses pemikiran. Aspek yang ke-dua, Afektif/ sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih jenis tindakan yang akan dilakukan. Contoh ptk pkn smp doc Dengan kata lain, sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapai suatu objek atau peristiwa, di dalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran, dan kesiapan untuk bertindak, dan yang ke-tiga aspek Psikomotor yaitu hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Berdasarkan teori Bernawi munthe (2009:40) hasil belajar dicapai melalui 3 ranah yaitu:
1) Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesa (synthesis), evaluasi (evaluation)
2) Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu penerimaan (receiving), partisipasi (responding), penilaian/ penentuan sikap (valuing), organisasi (organization), pembentukan karakter atau pola hidup (characterzation)
3) Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor ini meliputi persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided response), gerakan mekanis terbiasa (mechanism), gerakan respons kompleks (complex overst response), penyesuaian pola gerakan (adaptation), kreativitas (origination),
Dalam suatu mata pelajaran PKn tipe hasil belajar kognitif dan psikomotor lebih mendominasi namun hasil belajar afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran PKn

Menurut Howard Kingsley dalam Nana Sudjana (2005:22) hasil belajar dibagi menjadi 3 macam yaitu:
a) Keterampilan dan kebiasaan
b) Pengetahuan dan pengertian
c) Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan kurikulum sekolah
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu keberhasilan yang dicapai oleh siswa untuk mendapatkan peningkatan pengetahuan dan suatu pemahaman. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan peningkatan hasil belajar hanya sebagian dari aspek kognitif yaitu pengetahuan dan pemahaman terhadap materi pembelajaran.

5. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
a. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah bidang studi yang bersifat interdisipliner (ilmu-ilmu sosial) yang secara struktural bertumpu pada disiplin ilmu politik, khususnya konsep demokrasi politik untuk aspek hak dan kewajiban ( Abdul Aziz dkk, 2011)

Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang penting bagi kehidupan bangsa dan negara ini. PKn penting karena dapat digunakan untuk membina generasi penerus bangsa/ anak–anak bangsa sehingga mereka sadar terhadap hak dan kewajiban dalam hidup berbangsa agar dapat menjadi warganegara yang dapat diandalkan senantiasa oleh negara. Demikian juga bagi negara Indonesia pada masa lalu dan sekarang, PKn menjadi sarana untuk menanamkan hal yang terkait dengan ideologi negara baik melalui jalur formal (sekolah) ataupun nonformal (Rahardja, 2008: 2).

National Council for the Social Sudies (NCSS) mengemukakan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai berikut:
1) Pengetahuan dan keterampilan guna membantu memecahkan masalah dewasa ini
2) Kesadaran terhadap pengaruh sains dan teknologi pada peradaban serta manfaatnya untuk memperbaiki nilai kehidupan
3) Kesiapan guna kehidupan ekonomi yang efektif
4) Kemampuan untuk menyusun berbagai pertimbangan terhadap nilai-nilai untuk kehidupan yang efektif dalam dunia yang selalu mengalami perubahan
5) Menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang terus berkembang yang membutuhkan kesediaan untuk menerima fakta baru, gagasan baru, serta tata cara hidup yang baru.

6) Peran serta dalam proses pembuatan kepuusan melalui pernyataan pendapat kepada wakil-wakil rakyat, para pakar, dan spesialis
7) Keyakinan terhadap kebebasan individu serta persamaan hak bagi
setiap orang yang dijamin oleh konstitusi
8) Kebanggaan terhadap prestasi bangsa, penghargaan terhadap sumbangan yang diberikan bangsa lain serta dukungan untuk perdamaian dan kerjasama
9) Menggunakan seni yang kreatif untuk mensensitifkan dirinya sendiri terhadap pengalaman manusia yang universal serta pada keunikan individu
10) Mengasihani serta peka terhadap kebutuhan, perasaan, dan cita¬cita umat manusia lainnya
11) Pengembangan prinsip-prinsip demokrasi serta pelaksanaannya

b. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (BSNP, Standar Isi KTSP 2006) adalah sebagai berikut:
1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,
2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya,
4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

Sedangkan pendapat menurut Arnie Fajar (2009 : 143) tujuan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi sebagai berikut:
1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
2) Berpartisispasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh ptk pkn smp pdf
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter bangsa Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi.

Tujuan pembelajaran:
(1 ) Peserta didik dapat menjelaskan pengertian mengeluarkan pendapat (2)Peserta didik dapat menjelaskan perundang-undangan yang mengatur kebebasan mengeluarkan pendapat
(3) Peserta didik dapat menjelaskan hakekat kemerdekaan mengeluarkan pendapat
(4) Peserta didik dapat menjelaskan bentuk-bentuk menyampaikan pendapat di muka umum
(5) Peserta didik dapat menjelaskan tata cara mengeluarkan pendapat secara baik dan benar
(6) Peserta didik dapat menjelaskan akibat pembatasan mengeluarkan pendapat
(7) Peserta didik dapat menjelaskan keonsekwensi kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa batas

Kompetensi Dasar
2. Menguraikan pentingnya kemerdekaan mengeluarkan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab
Indikator:
1) Menjelaskan alasan mengeluarkan pendapat harus di landasi kebebasan yang bertanggung jawab
2) Menjelaskan tujuan pengaturan kebebasan mengeluarkan pendapat di muka umum
3) Menjelaskan tata cara mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab
4) Menjelaskan tata cara mengeluarkan pendapat di muka umum 

Tujuan pembelajaran:
(1) Peserta didik dapat menjelaskan hakekat kemerdekaan mengeluarkan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab
(2) Peserta didik dapat menjelaskan tujuan pengaturan kebebasa mengeluarkan pendapat di muka umum
(3) Peserta didik dapat menjelaskan tata cara mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab
(4) Peserta didik dapat menjelaskan tata cara mengemukakan pendapat di muka umum

Standar kompetensi
Menampilkan perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat 
1.1 Kompetensi dasar
Menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat
Indikator
1) Menjelaskan pengartian mengemukakan pendapat
2) Menyebutkan perundang-undangan yang mengatur kebebasan mengeluarkan pendapat
3) Menjelaskan bentuk-bentuk menyampaikan pendapat di muka umum
4) Menjelaskan tata-tata cara mengemukakan pendapat secara baik dan benar
5) Mengkaji akibat pembatasan kemerdekaan mengemukakan pendapat
6) Mendiskripsikan konsekwensi kebebasan mengemukakan pendapat tanpa batas
1.2. Kompetensi Dasar
Menguraikan pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab

Indikator
1) Menjelaskan alasan mengeluarkan pendapat harus di landasi kebebasan yang bertanggung jawab
2) Menjelaskan tujuan pengaturan kebebasan mengeluarkan pendapat di muka umum
3) Menjelaskan tata cara mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab
4) Menjelaskan tata cara mengeluarkan pendapat di muka umum 
5)
3. Pembelajaran Kooperatif
a. Metode Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal¬asalan. Dalam pembelajaran kooperatif kegiatan pembelajaran diarahkan oleh guru, adanya kerjasama diantara siswa, dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan prinsip dasar pokok pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Selama proses pembelajaran kooperatif, pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling belajar dengan sesama siswa lainnya. Pembelajaran dengan teman sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.

Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah bentuk kegiatan pembelajaran dimana siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama dan saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Siswa dibentuk berkelompok siswa dapat bekerja sama dan belajar dengan siswa lainnya dan keberhasilan dalam kelompok mereka ditentukan oleh semua anggota kelompok.

Metode pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang di lakukan oleh siswa dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan. Terdapat empat hal penting dalam metode pembelajaran kooperatif, yakni: (a) adanya peserta didik dalam kelompok, (b) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (c) adanya upaya belajar dalam kelompok, (d) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Jadi pembelajaran kooperatif lebih menekankan kerjasama dalam sebuah kelompok yang melibatkan partisipasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dengan adanya partisipasi dari siswa diharapkan pembelajaran akan menjadi lebih menarik. Download ptk pkn smp kelas 9 Hal yang tidak kalah penting adalah peran guru sebagai fasilitator yang bertugas mengarahkan siswa selama proses pembelajaran.

b. Macam-macam Metode kooperatif
Metode pembelajaran kooperatif dibedakan menjadi 12 macam metode di anatranya adalah sebagai berikut:
1) Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya

2) Think-Pair-Share
Metode Think Pair Share (TPS) adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Frannk Lyman dari university of Maryland 1989. Pada awal pembelajaran yaitu “Thinking”, pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan jawabanya. Selanjutnya “Pairing”, pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasang¬pasangan. Beri kesempatan kepada pasang-pasangan itu intuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna jawaban yang telah dipikirkan melalu intersubjektif dengan pasangannya. Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini dikenal dengan “Shering”. Dalam kegiatan ini dihapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pengontruksian pengetahuan secara intergratif. Peserta didik dapat menemukan setruktur dari pengetahuan yang di pelajarinya

3) Numbered Heads Together
Number Heads Together adalah suatu metode pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Spencer Kagan memperkenalkan metode ini pada tahun 1992. Metode pembelajaran ini biasanya diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok sengaja diberi nomor untuk memudahkan kinerja kerja kelompok, mengubah posisi kelompok, menyusun materi, mempresentasikan, dan mendapat tanggapan dari kelompok lain.

4) Group Investigation
Metode Group investigation adalah strategi belajar kooperatif yeng menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode GI mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
5) Two Stray Two Stray
Metode two stay two stray (dua tinggal dua tamu) adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu.

6) Make a Match
Make a Match) adalah bentuk pembelajaran yang dilaksanakan didalam kelas sambil bermain dengan teman, pada suasana yang menyenangkan tetapi mengenai sasaran. Hal ini dikarenakan siswa berkompetisi untuk lebih cepat menemukan pasangan dari kartu soal atau jawaban yang dibawa (Suherman, 2008)

7) Lestening Team
Pengertian operasional dari metode listening team adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep atau prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan yang melibatkan indra pendengaran. Penggunaan metode listening team dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada pengoptimalan indra pendengaran siswa (di samping indra lainnya), diharapkan secara tepat dapat mendorong siswa agar tetap fokus dan siap siaga selama proses pembelajaran berlangsung.
8) Inside-Outside Cirle
Metode Pembelajaran IOC (Inside Outside Circle) adalah motode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.

9) Bamboo Dancing
Metode bamboo dancing adalah merupakan metode yang sangat baik digunakan untuk mengajarkan berkaitan informasi - informasi awal guna mempelajari materi selanjutnya. Dengan menggunakan metode bamboo dancing diharapkan terjadi pemerataan informasi atau topik yang diketahui oleh siswa. Metode bamboo dancing tentunya sangat bermanfaat guna pembelajaran di kelas agar lebih variatif sehingga tidak membosankan siswa.
10) Point-Counter-Poin
Metode pembelajaran point-counter-point adalah metode yang dipergunakan untuk mendorong peserta didik berpikir dalam berbagai perspektif. Jika metode pembelajaran ini dikembangkan maka yang harus diperhatikan adalah materi pembelajaran. Di dalam bahan pelajaran harus terdapat isu-isu kontroversi.

11) The Power of Two
Metode The Power of Two adalah belajar dalam kelompok kecil dengan menumbuhkan kerja sama secara maksimal melelui pembelajaran oleh teman sendiri dengan anggota dua orang di dalamnya untuk mencapai kompetensi dasar.
12) Listening Team
Pengertian operasional dari Listening Team adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep atau prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan yang melibatkan indra pendengaran. Penggunaan Listening Team dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada pengoptimalan indra pendengaran siswa (di samping indra lainnya), diharapkan secara tepat dapat mendorong siswa agar tetap fokus dan siap.

Dari berbagai macam metode pembelajaran kooperatif diatas maka dipilih salah satu metode yaitu metode pembelajaran Think Pair Share karena metode ini sesuai dengan materi yang akan diajarkan yaitu menampilkan perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat

c. Metode Think Pair Share
1) Hakekat metode
Metode adalah cara atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, kata mengajar sendiri berarti memberi pelajaran (Pupuh Faturrohaman, 2007 : 55).
Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi (Wina Sanjaya, 2008 : 126).
Jadi menurut pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang di gunakan oleh guru/ siswa dalam mengolah informasi berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang mungkin terjadi dalam suatu strategi, untuk mencapai sebuah tujuaan tertentu dalam proses pembelajaran. Download ptk pkn smp kelas 9 pdf 

2) Hakekat metode Think Pair Share (TPS)
Metode yang sederhana, namun sangat bermanfaat ini dikembangkan pertama kali oleh Frannk Lyman dari university of Maryland 1989. Pada awal pembelajaran, siswa diminta untuk duduk berpasang dan kemudian guru mengajukan satu pertanyaan/ masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta untuk berfikir sendiri-sendiri terlebih dahulu tentang jawaban atas pertanyaan itu, kemudian mendiskusikan hasil pemikiranya dengan pasangan disebelahnya untuk memperoleh satu konsensus yang sekiranya dapat mewakili jawaban mereka. Setelah itu, guru meminta satiap pasangan untuk menshere, menjelaskan, atau menjabarkan hasil konsensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa yang lain diruang kelas (Miftahul Huda, 2012 : 132).

Think-Pair-Share adalah salah satu metode pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan metode ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Anita Lie, 2004 : 57)
Metode Think pair share menurut Sholeh Hamid (2011 : 225) adalah metode yang sangat menarik dan menantang, karena dalam metode ini ada pendalaman materi yang akan membuat siswa mampu menguasai atau mendalami sebuah materi yang dibahas dengan lebih baik.

3) Langkah-Langkah Metode Think Pair Share (TPS)
Langkah-langkah metode Think Pair Share menrut pendapat Jamal Ma’mur Asmani (2012 : 45) adalah sebagai berikut:
a) Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai
b) Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disamapaikan oleh guru
c) Siswa diminta berpasangan dengan temannya untuk mengutarakan hasil pemikiranya masing-masing
d) Guru memimpin sidang pleno kecil untuk berdiskusi. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
e) Berawal dari kegiatan tersebut, guru kemudian mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan oleh para siswa
f) Guru memberikan kesimpulan pada materi yang baru saja dipelajari bersama
g) Guru menutup pembelajaran

Sedangkan langkah-langkah penerapan metode Think Pair Share menurut Sholeh Hamid (2011 : 225) adalah sebagai berikut:
a) Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai
b) Siswa diminta untuk berpikir tentang materi / permasalahan yang di sampaikan guru
c) Siswa diminta barpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok berpasangan) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
d) Guru memimpin sidang pleno kecil untuk berdiskusi, lalu tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya

e) Berawal dari kegiatan tersebut, guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah meteri yang belum di ungkapkan oleh para siswa
f) Guru memberi kesimpulan
g) Penutup
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat dirumuskan sintak metode pembelajaran Think Pair Share

TABEL 03
4) Keunggulan Metode Think Pair Share (TPS)
Menurut Muslimin Ibrahim (2000 : 6) metode Think-Pair-Share mempunyai keunggulan antara lain :
a) Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan metode pembelajaran TPS menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru di awal pertemuan sehingga diharapkan siswa mampu memahami materi dengan baik sebelum guru menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.

b) Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.
c) Angka putus sekolah berkurang. Metode pembelajaran TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik daripada pembelajaran dengan metode konvensional.

d) Sikap apatis berkurang. Sebelum pembelajaran dimulai, kencenderungan siswa merasa malas karena proses belajar di kelas hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru dan menjawab semua yang ditanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan metode konvensional.
e) Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam metode pembelajaran konvensional, siswa yang aktif di dalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang disampaikan oleh guru. Contoh ptk pkn smp doc Dengan pembelajaran TPS hal ini dapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang diberikan oleh guru.

f) Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam PBM adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa. Dengan pembelajaran TPS perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi secara bertahap, sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat lebih optimal.
g) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerjasama yang diterapkan dalam metode pembelajaran TPS menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima.

5) Kelemahan Metode Think Pair Share (TPS)
Adapun kelemahan metode pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share menurut Hartina (2008: 12) adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak. Sedangkan menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan adalah: 1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor, 2) lebih sedikit ide yang muncul, dan 3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.

Dari pendapat para ahli di atas maka dapat dirumuskan tentang
kelemahan dalam metode Think Pair Share sebagai berikut
a) Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas
b) Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas
c) Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang
d) Metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah
e) Mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa

B. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIIB di SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dijelaskan dalam sekema sebagai berikut:

TABEL 05
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pembelajaran yang mengembangkan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar dapat menjadi warga negara yang baik yaitu warga negara yang memahami, menyadari, dan mampu menggunakan hak serta menjalankan kewajibannya dengan cara bertanggung jawab. Dalam pembelajaran PKn guru menggunakan metode konvensional (ceramah) yang berdampak negatif terhadap hasil belajar siswa di kelas. Hasil belajar siswa rendah karena sebagian besar siswa pasif dalam pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, metode yang dipilih oleh guru dalam mengajar seharusnya tidak hanya fokus pada aspek pengetahuan saja, akan tetapi harus dapat mencankup dua ranah yaitu aspek kognitif, dan afektif.

Materi PKn selama ini terkesan abstrak karena hanya bersifat teoritis sehingga siswa sulit memahami materi pelajaran. Siswa jenuh mengingat materi hafalan yang hanya diajarkan tanpa menggunakan metode yang menyenangkan. Pembelajaran cenderung tidak menarik karena kebanyakan belum mengoptimalkan kedua belah otak, yaitu otak kanan dan kiri. Kemampuan dan kreatifitas guru dalam menggunakan dan memilih metode secara tepat dalam pembelajaran pun masih rendah. Hal ini sering menyebabkan siswa kehilangan semangat untuk belajar, sehingga siswa pasif dalam pembelajaran. Padahal keaktifan siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar.

Permasalahan di atas harus dapat diselesaikan dengan mencari jalan keluar yang tepat atau paling tidak dapat mengurangi permasalahan. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode atau metode pembelajaran yang efektif yang sesuai materi pelajaran dan perkembangan peserta didik, yaitu salah satunya menggunakan metode Think Pair Share (TPS). Penggunaan metode Think Pair Share (TPS) lebih menekankan pada daya tangkap dan ingatan siswa.
Proses pembelajaran yang menyenangkan akan membuat siswa bersemangat dalam belajar, dan berdampak pada hasil belajar siswa pada materi mata pelajaran PKn akan meningkat.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan perumusan masalah, landasan teori dan kajian pustaka, serta kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : “Melalui penggunaan metode Think Pair Share (TPS) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015

CONTOH LENGKAP PTK PKN KELAS VII

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). David Hopkins (dalam Trianto, 2012 : 15) menyebutkan penelitian tindakan kelas sebagai suatu studi yang sistematis (penelitian) yang dilakukan oleh pelaku pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran melalui tindakan yang terencana dan dam pak dari tindakan (aksi) yang telah dilakukan
Model yang digunakan dalam penelitian adalah model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan Mc Taggert dengan menggunakan sistem spiral yang terdiri dari empat tahapan. Tahapan-tahapan itu meliputi penyusunan rencana (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation) dan refleksi (reflection).

B. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari 2015 – Mei 2015 dengan jadwal sebagai berikut :
a. Pelaksanaan kondisi awal pertengahan Februari 2015
b. Siklus I dilaksanakan pada awal bulan Mei 2015
c. Siklus II dilaksanakan pada akhir bulan Mei 2015
d.
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 20 siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.Download ptk pkn smp kelas 9 pdf
C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2010 : 308) menyatakan teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Menurut Nana Sudjana (2010:84) Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru dalam mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam simulasi, dan penggunaan alat peraga pada waktu mengajar. Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang aktifitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

b. Tes
Tes ini digunakan untuk mendapatkan data tentang peningkatan hasil belajar siswa yang dilakukan diakhir kegiatan setiap siklus dengan memberi sejumlah soal pilihan ganda kepada siswa kelas VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015

c. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang tertulis. Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai data awal penelitian yang berupa jumlah siswa, daftar nama siswa, dan daftar nilai siswa VIIB SMPN 5 ... Kecamatan ... Kabupaten ... Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat dengan bekerja sama dengan guru kelas dan foto-foto yang membuktikan proses pembelajaran mulai siklus 1 sampai siklus 2.

2. Instrument Pengumpulan Data
Trianto, (2011:54) instrument pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut sistematis dan dipermudah olehnya.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan soal tes.
Untuk melihat validitas dan reliabilitas soal tes maka dilakukan uji instrumen

a. Validitas
Arikunto (2010:211) berpendapat bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi.
Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas butir soal. Contoh ptk pkn smp pdf Validitas butir soal berfungsi untuk menguji setiap butir soal tes yang telah dibuat.
Validitas soal dihitung dengan menggunakan rumus point biserial. M enurut Suharsimi Arikunto (2012 : 93) rumus korelasi point biserial adalah sebagai berikut.
Keterangan:
Rpbis : Koefisien validitas tiap item soal
Me : rata-rata skor total yang dijawab benar pada butir soal
Mt : rata-rata skor total
St : standar deviasi skor total
P :proporsi siswa yang menjawab benar setiap butir soal
q : proporsi siswa yang menjawab salah setiap butir soal.

Taraf validitas setiap item soal dinyatakan dalam koefisien yang disebut koefisien validitas tiap item soal ( Rpbis). Setelah diperoleh harga Rpbis kemudian dikonsultasikan dengan harga kritik r hasil korelasi product moment. Apabila harga r Rpbis > r kritis pada tabel, maka item soal dinyatakan valid, jika harga r Rpbis < r kritis pada tabel, maka korelasi tersebut tidak signifikan (Suharsimi Arikunto, 2012:93).
Taraf koefisien validitas:
0,91-1 ,00 : Sangat tinggi
0,71 -0,90 : Tinggi
0,41 -0,70 : Cukup
0,21-0,40 : Rendah
N egatif-0,20 : Sangat rendah

a) Validitas pada siklus 1
Berdasarkan uji coba validitas dengan menggunakan program SPSS 16.0, dari 30 soal yang diuji terdapat 22 soal yang valid dan ada 8 soal yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk penelitian adalah soal yang valid sehingga dalam penelitian ini dari 30 soal ada 22 soal yang valid, namun soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 soal.
Tabel
Data validitas instrumen siklus 1

b) Validitas pada siklus 2
Berdasarkan uji coba validitas pada siklus 2 dengan menggunakan program SPSS 16.0, dari 30 soal yang diuji terdapat 21 soal yang valid dan ada 8 soal yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk penelitian adalah soal yang valid sehingga dalam penelitian ini dari 30 soal ada 21 soal yang valid, namun soal yang digunakan dalam panelitian ini adalah
20 soal.
Tabel
Data validitas instrumen siklus 2

b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya unuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2010 : 221). Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
Dalam penelitian ini rumus untuk mengukur reliabilitas adalah rumus yang diperkenalkan oleh Kurder dan Richardson. Hal ini disebabkan oleh alat evaluasi yang digunakan berbentuk tes objektif, pilihan ganda. Menurut Arikunto (2010:231) menyatakan bahwa rumus K-R20 ini cenderung memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumus yang lain. Rumus K-R 20 yang dikemukakan oleh Kuder dan Richardson tersebut adalah:

TABEL 06
 Menurut Suharsimi Arikunto (2010:232) klasifikasi koefisien reliabilitas adalah:
0,91 – 1,00 = Sangat Tinggi
0,71 – 0,90 = Tinggi
0,41 – 0,70 = Cukup
0,00 – 0,40 = Rendah
Negatif = tidak memenuhi uji reliabilitas

a) Reliabilitas pada siklus 1
Hasil uji coba reliabilitas instrumen tes pada siklus 1 diperoleh koefisien reliabilitas (R11) sebesar 0,885. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria reliabilitas yang tinggi.
b) Reliabilitas pada siklus 2
Hasil uji coba reliabilitas instrumen tes pada siklus 2 diperoleh koefisien reliabilitas (R11) sebesar 0,872. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria reliabilitas yang tinggi.

D. Analisis Data
Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Teknik deskriptif kualitatif digunakan untuk mengenalisis data proses pem belajaran. Sedangkan teknik deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis hasil belajar dalam bentuk angka. Contoh ptk pkn smp doc
Hasil perhitungan persentase hasil belajar dari pra-siklus dan siklus 1, 2 dibandingkan dan dilihat peningkatanya sesuai target dalam indikator keberhasi lan.

E. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan adalah harapan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa berdasarkan kenaikan nilai ketuntasan di kelas dari siklus 1 ke siklus 2, dengan menerapkan metode Think Pair Share diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang nilainya masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) ~72. Dalam hal ini, peneliti mentargetkan hasil belajar siswa tiap siklus, yaitu:
1. Siklus 1, ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 70% dari seluruh siswa
2. Siklus 2, ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 80% dari seluruh siswa
3.
F. Prosedur Penelitian
Rencana tindakan merupakan rencana atau rancangan yang akan dilaksanakan oleh peneliti sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan. Desain yang digunakan adalah desain penelitian yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart yang tiap-tiap siklus terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflection).
1. Rencana Siklus I
a. Perencanaan (planing)
Pada tahap ini dilakukan apa saja yang akan direncanakan untuk mengatasi masalah yang ada di sekolah berdasarkan identifikasi yang dilakukan pada tahap pra penelitian. Peneliti dan guru merencanakan apa saja segala keperluan dalam penelitan ini, mulai dari merancang skenario pembelajaran (RPP), menyiapkan materi/bahan ajar untuk pembelajaran Think Pair Share, evaluasi, serta lembar observasi. Semuanya dipersiapkan secara matang. Dalam tahap ini juga perhitungkan segala kendala untuk melakukan antisipasi agar penelitian dapat berlangsung dengan baik sesuai hipotesis yang telah ditentukan.

b. Tindakan (akting)
Tahap ini merupakan pelaksanaan atau implementasi dari rencana yang telah dibuat pada tahap perencanaan yaitu dengan melaksanakan tindakan yang sesuai dengan skenario yang telah dibuat dalam kegiatan pembelajaran dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai materi yang telah ditentukan. Pada tahap tindakan ini menerapkan metode pembelajaran Think Pair Share (TPS)
Langkah-Langkah M etode Think Pair Share (TPS)
1) Guru menyampaikan inti materi dan kopetensi yang ingin di capai
2) Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disamapaikan oleh guru
3) Siswa diminta berpasangan dengan temanya (2-5 orang) dan mengutarakan hasil pemikiranya masing-masing

4) Guru memimpin siding pleno kecil untuk berdiskusi. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5) Berawal dari kegiatan tersebut, guru kemudian mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah meteri yang belum diungkapkan oleh para siswa
6) Guru memberikan kesimpulan pada materi yang baru saja dipelajari bersama
7) Guru menutup pembelajaran

c. Observasi (observing)
Kegiatan observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pada tahap tindakan atau acting. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tidakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dam paknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang telah dikembangkan oleh pen eliti.
Pengam atan dilakukan terhadap proses pembelajaran menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa. Data yang dikumpulkan berupa data tentang proses mengajar guru dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran akibat dari pelaksanaan tindakan.

d. Refleksi (reflektion)
Pada tahap ini merupakan tahap yang amat penting yaitu tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan. Data yang didapatkan kemudian dikaji dan dianalisis tentang segala sesuatu yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya seperti keadaan siswa,
suasana kelas ataupun langkah-langkah mengajar yang telah diterapkan, kemudian digunakan untuk menetapkan langkah pada siklus II. 

2. Rencana Siklus II
Tahap pada siklus II ini diawali dengan identifikasi masalah berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Masalah-masalah yang timbul pada siklus I kemudian ditetapkan alternatif pemecahan masalahnya dengan harapan tidak tidak terulang kembali pada siklus II.
a. Perencanaan (planing)
Masalah yang ada pada siklus I yang belum berhasil diverifikasi kemudian dianalisis, menyusun rencana untuk mengatasi masalah pada siklus I. Bersama-sama dengan guru mata pelajaran PKn menyusun rancangan kegiatan pembelajaran serta merencanakan apa saja segala keperluan dalam penelitan ini, mulai dari merancang skenario pembelajaran (RPP), menyiapkan materi/bahan ajar untuk pembelajaran menggunakan metode Think Pair Share, evaluasi, serta lembar observasi.

b. Tindakan (akting)
Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan pada siklus II berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Tentu saja disesuaikan dengan metode Think Pair Share.
Langkah-Langkah Metode Think Pair Share (TPS)
1) Guru menyampaikan inti materi dan kopetensi yang ingin di capai
2) Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disamapaikan oleh guru
3) Siswa diminta berpasangan dengan temanya (2-5 orang) dan mengutarakan hasil pemikiranya masing-masing

4) Guru memimpin sidang pleno kecil untuk berdiskusi. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5) Berawal dari kegiatan tersebut, guru kemudian mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah meteri yang belum diungkapkan oleh para siswa
6) Guru memberikan kesimpulan pada materi yang baru saja dipelajari bersama
7) Guru menutup pembelajaran

c. Observasi (observing)
Kegiatan observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pada tahap tindakan atau acting. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tidakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dam paknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang telah dikembangkan oleh peneliti. Download ptk pkn smp Pengamatan dilakukan terhadap proses pembelajaran menggunakan lem bar observasi siswa. Data yang dikumpulkan berupa data tentang keaktifan siswa selama proses pembelajaran akibat dari pelaksanaan tindakan.

d. Refleksi (reflektion)
Peneliti menganalisis hasil pembelajaran siklus II, kemudian melakukan refleksi terhadap strategi yang dilakukan dalam tindakan kelas. Jika hasil yang dicapai oleh siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, maka peneliti merencanakan kegiatan pembelajaran selanjutnya.

DOWNLOAD PTK PKN SMP TERBARU

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz W dan Sapriya. 2011. Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung : CV Alfabeta.
Angkowo, R. Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran Mempengaruhi Motivasi, Hail Belajar dan Kepribadian. Jakarta : Grasindo.
Agus Suprijono.201 1. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Arnie Fajar.2009. Port ofolio (Dalam Pelajaran IPS). Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Arikunto, Suharmi.2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharmi. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Anita Lie. 2004. Cooperative Learning (Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas). Jakarta : PT. Grasindo.
Anita Lie. 2005. Pembelajaran Kooperatif Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Aswita Ambarwati. 2012. Upaya meningkatkan hasil belajar PKn melalui metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) mata pelajaran PKn materi makna kedaulatan rakyat pada siswa kelas VIa SMP Muhammmadiyah 3 Jetis Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012. Ponorogo: FKIP
MUHAMMADIYAH.
Bermawi Munthe.2009. Desain Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Insan Madani
Darmadi, Hamid. 2010. Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung : Alfabeta.
Depdiknas, 2003, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Depdiknas.
Defi Arfina. 2012. Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Pkn Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share Beserta Pemberian Reward Bagi Siswa Kelas VI A SMP Islam Sudirman Ambarawa Semester I Tahun Ajaran 2011/2012. Salatiga: FKIP UKSW
Dhimas Luthfi Herjunanto. 2012. Dhimas Luthfi Herjunanto, “Efektivitas Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pairs Share) Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri Genuksuran Purwodadi Grobogan Semester I Tahun Ajaran 2011/2012. Salatiga: FKIP UKSW
Dika Satriya Wibawa. 2012. Upaya meningkatkan hasil belajar IPS dengan menggunakan Metode pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pairs Share) siswakelas V di SD Negeri 01 Ngambakrejo Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan pada semester 2 tahunajaran 2011/2012. Salatiga: FKIP UKSW
Dimyati. Mudjiono.2006. Bel ajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT Rineka Cipta Eomar Hamalik. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Faturrohaman, Pupuh. 2007. Metode Pembelajaran Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Surabaya : CV. Widya Utama.
Hamid Darmadi. 2010. Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung : Alfabeta
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia. Hartina.2008. Teori Pembelajaran Kooperatif Learning. Bandung: CV Alfabeta
Jamal Ma’mur Asmani.2012. 7 Tips Aplikasi Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Jogjakarta: Diva pres
Mawardi. 2011. Pengembangan Pendidikan kewarganegaraan SD. Salatiga: Program Studi S1 Pgsd Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Mawardi. 2011. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Salatiga : FKIP UKSW.
Maimunah. 2005. Pembelajaran Volume Bola dengan Belajar Kooperatif Model GI pada Siswa Kelas X SMA Laboratorium UM. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Miftahul Huda. 2012. Cooperative Learning (metode, teknik dan model pembelajaran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Nana S. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rasdakarya
Nana S. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Wina Sanjaya. 2011. Kurukulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Wina Sanjaya: 2011. Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)). Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Wuryan, S dan Syaifullah. 2009. Ilmu Kewarganegaraan (Civic). Bandung : Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.
PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Permendiknas No.22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Slavin, R. E. 2005. Cooperative Learning : Teori, Riset, dan Praktik. Bandung : Nusa Media.
Sholeh Hamid. 2011. Metode Edu Tainment ( Menjadiakn Siswa Kreatif dan nyaman di Kelas). Jogjakarta : DIVA Pres
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Bandung : Raja Persindo Persada. Trianto. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Media.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH LENGKAP PTK PKN KELAS VII SMP

Postingan terkait: