CONTOH LAPORAN PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII

CONTOH LAPORAN PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII-Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life di kelas VII-G. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write merupakan salah satu model yang digunakan oleh guru untuk memberi rangsangan siswa agar meningkatkan aktivitas dan hasil dalam belajar karena model Think Talk Write ini diterapkan berdasarkan tiga tahapan penting, yaitu tahap think (berpikir), talk (berdiskusi), dan write (menulis). Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ... . Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-G yang berjumlah 33 siswa. Data penelitian untuk hasil belajar bahasa Inggris diperoleh melalui tes evaluasi dari pembelajaran pada siklus 1 dan 2. Contoh ptk bahasa inggris smp doc

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris pada siswa kelas VII-G. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai siswa dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2. Pada saat kondisi awal terdapat 10 siswa yang tuntas dalam KKM atau sebesar 43,5% dan yang belum tuntas terdapat 13 siswa atau sebesar 56,5%. Pada siklus 1 terdapat 15 siswa yang tuntas dalam KKM atau sebesar 65,2%, dan yang belum tuntas terdapat 8 siswa atau sebesar 34,8%, sedangkan pada siklus 2 terdapat 21 siswa yang tuntas dalam KKM atau sebesar 9 1,3%, dan yang belum tuntas dalam belajar terdapat 2 siswa atau sebesar 8,7 %. Dari analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas VII-G.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INGGRIS yang diberi judul "
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS MATERI INTRODUCTORY CHAPTER AND FAMILY LIFE PADA KELAS VII SMP NEGERI 32 ... KECAMATAN ... KABUPATEN ...  SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016"Disini akan  di bahas lengkap.



PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INGGRIS VII SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 029).


DOWNLOAD PROPOSAL PTK BAHASA INGGRIS SMP

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Jadi yang dimaksud proses belajar tersebut merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.

Upaya untuk mengatasi permasalahan pem belajaran yang konvensional, dapat menggunakan model-model pem belajaran yang inovatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life (offline) kata “inovasif” yang bersifat memperkenalk an sesuatu yang baru; bersifat pem baruan (kreasi baru). Jadi, pem belajaran inovatif merupakan pembelajaran yang menggunakan metode atau model baru yang ditemukan sendiri atau dari sumber-sumber lain yang diterapkan sedemikian rupa agar tercipta pem belajaran yang kondusif dan berpusat pada siswa. Diharapkan melalui pembelajaran inovatif ini dapat meningkatkan kualitas siswa. Download ptk bahasa inggris smp kelas 7 pdf

Kualitas siswa yang dihasilkan menunjukkan berhasil tidaknya proses pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran siswa dapat dilihat dari hasil belajar. Hasil belajar terbagi menjadi tiga aspek yaitu, kognitif, afektif dan psikom otor. Ada dua faktor yang menyebabkan hasil belajar yaitu, faktor intern (dari diri sendiri) dan faktor ekstern (dari luar atau lingkungan).
Perm asalahan yang ada di kelas VII-G SMPN 32 ...  Kecamatan ... Kabupaten ...  yaitu hasil belajar belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life yang rendah khususnya dalam keterampilan menulis yaitu materi meringkas isi buku dengan m em perhatikan beberapa mejaan. Hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life yang rendah dapat dilihat dari hasil ulangan harian yang terdapat nilai < 70 karena nilai 70 merupakan batas tuntas utau KKM . Dari 33 siswa diketahui hanya 10 siswa yang m em peroleh nilai t 70, sedangkan siswa yang memperoleh nilai < 70 atau belum tuntas sejum lah 13 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa yang mencapai KKM adalah 43,48%, sedangkan yang belum dapat mencapai KKM adalah 56,52%.

Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dapat dinilai mampu meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life karena model pembelajaran tersebut menekankan dalam tiga tahapan penting, antara lain tahap berpikir, tahap berbicara, dan tahap menulis yang cocok digunakan pada keterampilan menulis.

Berdasarkan dugaan masalah yang telah dijabarkan pada paragraf-paragraf sebelum nya, peneliti tertarik m engadakan penelitian yang berjudul “Penerapan model pem belajaran Think Talk Write untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life di kelas VII-G SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ...  semester ganjil tahun ajaran 2015/2016”. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar melalui model pembelajaran Think Talk Write siswa kelas VII-G SMPN 32 ...  pada mata pelajaran bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, permasalahan yang dapat teridentifikasi dalam penelitian ini dirum uskan sebagai berikut:
a. Penyampaian materi masih menggunakan metode konvensional (ceramah).
b. Masih kurangnya interaksi guru dengan siswa, dan juga interaksi antar siswa dalam kelom pok pembelajaran.
c. Faktor kognitif siswa dalam kegiatan pem belajaran.
d. Faktor lingkungan belajar siswa.
Dengan adanya temuan masalah tersebut, mengakibatkan siswa didalam belajar mata pelajaran bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life kurang memahami materi yang disam paikan oleh guru sehingga hasil belajarnya kurang baik.

1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, maka batasan masalah yang akan diteliti yaitu:
a. Nilai mata pelajaran bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life yang rendah pada kelas VII-G SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ... 
b. Penerapan model pem belajaran kooperatif tipe Think Talk Write untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life khususnya tentang meringkas isi buku dengan memperhatikan beberapa ejaan di SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ...  semester ganjil tahun ajaran 2015/2016.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Apakah melalui penerapan model pembelajaran Think Talk Write, hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life di SMPN 32 ...  kelas VII-G Kecamatan ...Kabupaten ...  dapat ditingkatkan?”

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life di SMPN 32 ...  kelas VII-G Kecamatan ...Kabupaten ...  semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016. Download ptk bahasa inggris pdf

1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan membawa manfaat secara teoretis dan praktis, yaitu:
a. Manfaat Teoretis
Untuk memperkaya pengetahuan guru dalam menggunakan model pembelajaran Think Talk Write.
b. Manfaat Praktis
1) Guru dapat mengetahui solusi untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life m elalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write.
2) Guru bisa menerapkan model pem belajaran kooperatif tipe Think Talk Write dengan baik dalam pembelajaran bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life.

LAPORAN PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori
Dalam kajian teori ini dipaparkan beberapa teori dari para ahli mengenai pengertian belajar dan hasil belajar beserta faktor-faktor penyebabnya. Adapun hal lain yang dipaparkan seperti mata pelajaran, model pembelajaran, serta kerangka pikir.
2.1.1 Hakikat Belajar
Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar itu penting karena yang menentukan berhasil tidaknya tujuan pendidikan tergantung dari bagaimana proses belajar yang melibatkan objek pendidikan. Objek pendidikan disini adalah siswa. Contoh proposal ptk bahasa inggris smp Belajar itu penting untuk menyiapkan diri menjadi manusia yang berpendidikan dan kompeten sehingga dengan belajar siswa kelak siap menghadapi perkembangan zaman yang sem akin pesat.

Menurut Slameto (20 10:2) “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dari ketiga pendapat menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh perubahan kemampuan pada diri seseorang, yang menjadi lebih baik melalui interaksi dengan lingkungannya dan perubahan itu bukan didapatkan secara langsung dari proses pertumbuhan.

2.1.2 Hasil Belajar
H asil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut Gagne dalam Suprijono (2012 : 5), hasil belajar berupa :
a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
c. Strategi kognitif yaitu kecapakan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan ekstenalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.

2.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Slameto (2010:54) digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern dibagi m enjadi tiga faktor, yaitu:
1) Faktor Jasmaniah, terdiri atas: faktor kesehatan, cacat tubuh.
2) Faktor Psikologis, terdiri atas: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
3) Faktor Kelelahan, meliputi: kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.

b. Faktor Ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dikelompokkan menjadi tiga faktor, antara lain:
1) Faktor Keluarga, meliputi: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
2) Faktor Sekolah, seperti: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
3) Faktor Masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
4) Faktor Metode, meliputi: metode mengajar dan metode belajar.

2.1.4 Pembelajaran Bahasa Inggris
Ciri-ciri pembelajaran menurut Darsono dalam Hamdani (2011:47) adalah sebagai berikut :
a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistem atis.
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.
d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangakan bagi siswa.
f. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik m aupun psikologi.
g. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.
h. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan disengaja.

Pembelajaran mempunyai tujuan, yaitu membantu siswa memperolah berbagai pengalaman dan dari pengalaman itu, tingkah laku siswa bertambah dan berkembang, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku tersebut antara lain: pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.
Tujuan mata pelajaran Bahasa Inggris dalam Permendiknas No.22 Tahun 2006 agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Berkom unikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan m aupun tulis
b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa persatuan dan bahasa internasional 
c. Memahami bahasa Inggris dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
d. Menggunakan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemam puan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial Download ptk bahasa inggris smp kelas 7 pdf
e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
f. Menghargai dan membanggakan sastra sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia.

Dalam pelajaran bahasa Inggris ada empat keterampilan berbahasa, yaitu: keterampilan Writing, Speaking, dan Listening. Tiga keterampilan berbahasa dijelaskan sebagai berikut:
a. Keterampilan Listening
Keterampilan Listening adalah satu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak bukan hanya kegiatan yang sekedar mengumpulkan dan menyimpan pesan, tetapi juga mengklasifikasi, membandingkan, dan menghubungkan pesan dengan pengetahuan awal yang dim iliki sebelum nya.
b. Keterampilan Speaking
Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan alat ucap m anusia m erupakan persyaratan alam iah yang m em ungkinkannya untuk m em produksi suatu ragam bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan dan lagu bicara. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar, jujur, benar dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah, dan lain-lain.
c. Keterampilan Reading

Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis. Membaca juga merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang ada dalam teks. Maka dari itu, seorang pembaca perlu menguasai bahasa yang digunakan. Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara mempelajarinya di sekolah.

d. Keterampilan Writing
Menulis merupakan keterempilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkom unikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap m uka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, siswa harus memperhatikan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Ketetam pilan menulis ini tidak akan datang secara otom atis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. (Tarigan, 2008 :3)
Menulis dapat dikatakan suatu keterampilan berbahasa yang paling rum it diantara ketiga keterampilan berbahasa yang lainnya. Menulis bukan hanya kegiatan menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu bentuk tulisan yang teratur. Berbeda halnya dengan berbicara, menulis sulit untuk dilakukan secara spontan karena harus memperhatikan kaidah penggunaan tata bahasa dan secara semestinya. Jadi dalam menulis, unsur kebahasaan dan tata bahasa merupakan aspek penting yang perlu dicermati, disamping isi yang diungkapkan.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris ini diharapkan:
a. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
b. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sum ber belajar;
c. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
d. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
e. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
f. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

2.1.5 Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk-bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari em pat sampai enam orang dengan kelompok yang bersifat heterogen. Contoh ptk bahasa inggris smp doc
Pembelajaran kooperatif menurut Nurulhayati dalam Rusman (2012:203) adalah “strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil yang saling berinteraksi”. Pembelajaran kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan siswa lainnya. Model pembelajaran ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu siswa belajar untuk diri sendiri dan belajar bersama/saling membantu dalam kelompok kecilnya untuk belajar.

Pembelajaran kooperatif menurut pendapat dari para ahli di atas dapat disimpulkan sebagai pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Diharapkan dengan penggunaan pembelajaran kooperatif ini merubah peran guru yang dulunya belajar berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa dengan kelompok¬kelompok kecil. Jadi guru tidak mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu dan menfasilitasi siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri melalui kerja kelompok.

Beberapa ciri pembelajaran kooperatif menurut Hamdani (2011:31), sebagai berikut:
a. Setiap anggota memiliki peran
b. Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa
c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya
d. Guru membantu mengembangkan keteram pilan-keteram pilan interpersonal kelompok
e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Dengan pembelajaran kooperatif terjadi interaksi secara langsung antar siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memungkinkan setiap siswa memiliki peran dalam kelompoknya sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap kerja kelompok. Dengan adanya pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa maka peran guru disini sebagai fasilitator.

2.1.6 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (Berpikir Berbicara Menulis)
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write m erupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin. Model ini didasarkan pada tiga tahapan melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Pelaksanaan model Think Talk Write dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir secara individu setelah proses membaca ataupun menyimak, selanjutnya berbicara dan membagi ide dengan teman sekelompoknya sebelum menulis. Pembelajaran ini akan lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Kelompok ini siswa diminta membaca ataupun menyimak, membuat catatan kecil, menjelaskan, dan membagi ide bersama teman kelompok, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.

Ada tiga tahap yang dilakukan dalam model pembelajaran Think Talk Write, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap Think (Berpikir)
Tahap ini dilakukan pada siswa bahwa berpikir itu dim ulai dengan proses membaca maupun menyimak terlebih dulu kemudian siswa dapat mengungkapkan ide atau penyelesaian masalah secara tertulis dengan membuat semacam catatan kecil. Proses berpikir pada tahap ini akan terlihat ketika siswa membaca masalah atau lembar kerja yang diberikan guru kemudian siswa menuliskan apa yang diketahuinya atau penyelesaian m asalahnya.

b. Tahap Talk (Berbicara atau Berdiskusi)
Pada tahap ini siswa melakukan diskusi atau bertukar pendapat dalam kelompok kecil. Ketika siswa dapat menyampaikan ide atau pendapatnya dalam kegiatan diskusi, berarti siswa sudah mampu mengungkapkan idenya secara lisan (Talk). Tahap ini juga memberikan kesempatan bagi siswa agar lebih terampil berbicara dan membangun komunikasi yang baik antar siswa.
c. Tahap Write (Menulis)
Pada tahap ini merupakan tahap dimana siswa menuliskan hasil diskusi kelompok kecil dan hasil dari catatan kecil masing-masing siswa.

Kemungkinan apa yang siswa tulis dalam tahap ini berbeda dengan apa yang siswa tuliskan pada cacatan individual (tahap think ). Hal ini terjadi karena setelah siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil, ia akan memperoleh ide yang baru untuk menyelesaikan masalah yang telah diberikan.

Langkah-langkah umum pembelajaran Think Talk Write adalah sebagai berikut:
a. Guru membagi lembar kerja siswa yang memuat permasalahan dan petunjuk pengerjaannya.
b. Siswa membaca teks dan membuat catatan kecil dari hasil bacaan secara individual (think), untuk dibawa ke forum diskusi.
c. Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok untuk membahas isi catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar.
d. Siswa mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang memuat pemahaman dalam bentuk tulisan (write).

2.2 Kerangka Berpikir
Pada kondisi awal pembelajaran di kelas 5 diduga masih tergolong konvensional, dimana peran guru dalam pembelajaran sangat kuat, kurangnya interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan siswa sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar bahasa Inggris. Adapun hal lain seperti pikiran-pikiran yang ada dalam diri siswa bahwa bahasa Inggris sering dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan sepele, mungkin hal ini dikarenakan bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar kita sehari-hari. Tapi dilihat dari hasil ulangan bahasa Inggris ada 13 siswa dari 33 siswa yang nilainya di bawah KKM. Maka untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write. Download ptk bahasa inggris pdf

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sebagai alternatif bagi guru dalam mengajar siswa dengan variasi diskusi kelompok yang berciri khas, guru menyediakan atau m em berikan siswa permasalahan kemudian siswa berpikir sendiri untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan membuat catatan kecil sebelum sharing dalam kelompok dan kemudian menuliskannya. Cara ini menjamin keterlibatan semua siswa dalam pembelajaran dan berdampak baik untuk meningkatkan hubungan atau kom unikasi antar individual dalam kelom pok.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write diharapkan terjadi perubahan sikap dan kemampuan siswa terutama dalam menulis yang terlihat dari hasil belajar bahasa Inggris.

2.3 Hipotesis Tindakan
Dari kerangka berpikir yang telah dikemukakan dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: diduga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris di SMPN 32 ...  kelas VII-G Kecamatan ...Kabupaten ...  Semester Ganjil Tahun Ajaran 2015/2016.

CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII SMP 

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
Dalam setting dan karakteristik subjek penelitian ini dipaparkan mengenai tempat dilaksanakannya penelitian, waktu yang digunakan untuk penelitian, dan karakteistik dari subjek penelitian tersebut.
3.1.1 Setting Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian ini di SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ...  pada siswa kelas VII-G. Peneliti menggunakan waktu penelitian pada semester ganjil tahun ajaran 2015/2016 mulai dari bulan September sampai bulan Desember.

3.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-G SMPN 32 ... . Jumlah siswa kelas VII-G adalah 33 siswa, terdiri dari 15 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Semua siswa tersebut tergolong normal tidak ada siswa yang mengalami gangguan ABK. Namun demikian, walaupun semua anak dibilang normal atau mampu menerima pelajaran dengan baik, tetapi ada salah satu siswa yang bandel, sulit diatur oleh guru sehingga siswa tersebut sering mendapat nilai yang rendah karena selalu tidak memperhatikan pelajaran. Contoh proposal ptk bahasa inggris smp Pekerjaan orang tua siswa sebagian besar berprofesi sebagai petani dan sebagian kecil penambang pasir sehingga orang tua siswa kurang memperhatikan anaknya dalam belajar. Hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan orang tua yang rendah.

3.2 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini bersifat kolaboratif. PTK kolaboratif yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru kelas. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ... . Tahapan awal peneliti menyiapkan materi, menyusun RPP, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengajar, kemudian guru kelas yang mengajarkan pada saat pelaksanaan penelitian. Untuk observer dapat dilakukan oleh guru yang lain yang setara jabatannya.
Desain penelitian yang dipergunakan berbentuk siklus yang mengacu pada model kemmis dan Mc Taggart. Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali, tetapi beberapa kali hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki.
Desain penelitian model Kemmis dan Mc Taggart terdiri dari tiga tahapan rencana tindakan, antara lain: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Tahapan siklus diartikan sebagai perputaran tahapan dalam penelitian tindakan kelas. Pada bagian ini dipersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan dalam kegiatan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar. Desain yang dipergunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk siklus diambil dari Kemis dan MC Taggart yang terlihat pada gambar di bawah ini.
Desain model PTK bentuk spiral dari Kemmis dan
Taggart
Pelaksanaan tiap siklus tersebut secara garis besar dapat dijelaskan dengan gambar berikut.
Skema Tahapan yang Dilakukan dalam Setiap Siklus
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart dengan melalui beberapa siklus tindakan dan terdiri dari empatkomponenyaitu:
a. Perencanaan yaitu rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi. Contoh ptk bahasa inggris smp doc Pada tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun perencanaan tindakan berdasarkan identifikasi masalah pada obeservasi awal sebelum penelitian dilaksanakan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci pada tahap ini segala keperluan pelaksanaan penelitian tindakan kelas dipersiapkan mulai dari bahan ajar, rencana pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran, model yang akan digunakan, subjek penelitian serta teknik dan instrumen observasi disesuaikan dengan rencana.

b. Tindakan dan observasi yaitu apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumya. Pelaksanaan tindakan merupakan proses kegiatan pembelajaran kelas sebagai realisasi dari teori dan strategi belajar mengajar yang telah disiapkan serta mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasil yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kerjasama peneliti dengan subjek penelitian (siswa) sehingga dapat memberikan refleksi dan evaluasi terhadap apa yang terjadi dalam pembelajaran dikelas.


c. Hasil observasi yaitu mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan terhadap siswa. Tahap observasi merupakan kegiatan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam PTK. Tujuan pokok observasi adalah untuk mengetahui ada tidaknya perubahan yang terjadi dengan adanya pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung.
d. Refleksi yaitu peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai kriteria. Berdasarhan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal. Kegiatan refleksi ini, guru akan dapat menetapkan apa yang telah dicapai, apa yang belum dicapai, serta apa yang perlu diperbaiki lagi dalam pembelajaran berikutnya. Oleh karena itu hasil dari tindakan perlu dikaji, dilihat dan direnungkan, baik itu dari segi proses pembelajaran antara guru dan siswa, metode, model, alat peraga maupun evaluasi.

3.3 Variabel Penelitian
Sebelum menentukan penelitian, terlebih dahulu peneliti harus menentukan variabel yang akan diteliti. Menurut Sugiono (20 10:60) variabel merupakan “segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimulan”. Variabel penelitian berfungsi untuk pembeda dalam hubungan antar variabel yang satu dengan yang lainnya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah variabel yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain. Variabel bebas kedudukannya tidak tergantung oleh variabel yang lain dan sebagai penyebab variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write.

b. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat adalah unsur yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar Bahasa Inggris. Variabel yang digunakan mengandung arti bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write mempengaruhi hasil belajar Bahasa Inggris siswa kelas VII-G SMPN 32 ... .

3.4 Rencana Tindakan
3.4.1 Siklus 1
a. Tahap Perencanaan
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), meliputi :
a) Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian
b) Mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam indikator
c) Indikator kemudian dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran
d) Merumuskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan guru
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
e) Menetapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam
pembelajaran sesuai dengan materi
2) Membuat evaluasi
3) Membuat lembar observasi guru dan siswa dalam pembelajaran

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pada pelaksanaan tindakan siklus I akan dilaksanakan 3 kali pertemuan. Masing-masing pertemuan akan dilaksanakan tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup/akhir 

c. Tahap Hasil Observasi
Pada kegiatan ini peneliti melakukan observasi terhadap:
1) Kegiatan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
2) Kemampuan guru dalam mengelola kelas
3) Kegiatan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran
4) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
5) Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajaran

d. Tahap Refleksi
Pada tahap ini semua data yang terkumpul dianalisis. Hasil analisis akan digunakan sebagai bahan refleksi untuk melihat keberhasilan maupun kekurangan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write. Untuk mengetahui perubahan atas tindakan yang telah diberikan, diadakan perbandingan antara hasil belajar bahasa Inggris setelah diberi tindakan dengan hasil belajar bahasa Inggris pada tindakan sebelumnya. Download ptk bahasa inggris pdf Dari hasil tersebut, diadakan tindak lanjut apabila tindakan yang telah dilakukan tidak menghasilkan perubahan yang dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris. Kelebihan akan tetap dipertahankan, sedangkan kekurangan akan diperbaiki pada tindakan berikutnya yang didiskusikan dengan guru kelas VII-G.

3.4.2. Siklus 2
Siklus 2 dirancang apabila siklus 1 belum berhasil. Kegiatan yang dilakukan pada siklus 2 merupakan penyempurnaan dari kelemahan atau kekurangan pada siklus 1.
3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan data merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap bentuk penilaian. Kesalahan dalam pengumpulan data akan sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Maka data yang diharapkan dalam setiap penelitian adalah data yang benar dan dapat dipercaya.
Sesuai dengan pendekatan tindakan kelas dan sumber data maka teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini meliputi:
a. Tes
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan siswa dalam mengerjakan dan mencari kalimat atau ide pokok dalam bacaan. Tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.

b. Observasi
Untuk mengatahui perkembangan aktivitas belajar siswa dilakukan teknik observasi. Observer bertugas untuk melakukan pengamatan dan penilaian melalui pengisian lembar aktivitas siswa dan kegiatan mengajar guru dalam proses pembelajaran.
c. D... mentasi
D... mentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data yang diperlukan sebagai data awal penelitian yang berupa jumlah siswa, daftar nama siswa, dan daftar nilai siswa kelas VII-G SMPN 32 ...  Kecamatan ...Kabupaten ... 

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan hasil belajar bahasa Inggris adalah:
a. Tes
Tes diberikan kepada siswa setelah mempelajari bahasa Inggris Materi Introductory Chapter and Family Life. Tes yang diberikan berbentuk pilihan ganda. 
b. Lembar Observasi atau Pengamatan
Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan mengajar guru dan kegiatan siswa saat proses pembelajaran berlangsung sampai akhir pembelajaran. dalam lembar observasi guru dan siswa, hal yang diamati pada intinya adalah kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write sesuai dengan indikator dalam kisi-kisi lembar observasi di bawah ini.

Tabel 3.3
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru

Tabel 3.4
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa

3.6 Validitas dan Reliabilitas
3.6.1 Uji Validitas
Sebelum soal diberikan kepada siswa, maka untuk menguji valid dan tidaknya suatu item maka menggunakan validitas instrumen berkaitan dengan sejauh mana suatu instrumen sesuai atau tepat untuk mengukur tujuan. Untuk menetukan suatu item tertentu valid atau tidak digunakan pedoman dari Priyatno. Menurut Priyatno (2010: 95) menyatakan suatu item instrumen penelitian dianggap valid jika pada output Item-Total Statistics pada kolom Corrected Item-Total Correlation nilainya ~ nilai r tabel. r tabel dicari pada signifikansi 0,05 dan jumlah data (n) = 21, maka didapat r tabel sebesar 0,433. Validitas dihitung dengan menggunakan penghitungan SPSS 17. 0 for Windows.
Tabel 3.5
Uji Validitas Siklus 1

Hasil penghitungan validitas item pada soal siklus 1 dengan menggunakan SPSS 17.0 for Windows yang berdasarkan Corrected Item-Total Correlation berdasarkan tabel r yang dikemukakan oleh Priyatno (2010: 95), maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian validitas dari 40 item yang diuji ada 23 item yang valid dan 17 item yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk tes evaluasi pada siklus 1 diambil 20 soal dari 23 soal yang valid.
Tabel 3.6
Uji Validitas Siklus 2

Hasil penghitungan validitas item pada instrumen soal siklus 2 dengan menggunakan SPSS 17.0 for Windows yang berdasarkan Corrected Item-Total Correlation berdasarkan tabel r yang dikemukakan oleh Priyatno (2010: 95), maka nomor item 3, 4, 5, 13, 14, 17, 19, 27, 29 dinyatakan tidak valid karena nilai Corrected Item-Total Correlation < 0,433. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian validitas dari 30 item yang diuji ada 21 item yang valid dan 9 item yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk tes evaluasi pada siklus 2 diambil 20 soal dari 21 soal yang valid.

3.6.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keajegan instrumen dari variabel yang hendak diukur. Pengukuran realibilitas instrumen dalam penelitian ini dengan menggunakan Sekaran dalam Priyatno (2010: 98) sebagai berikut :
D < 0,6 : kurang baik
0,6 < D ~ 0,8 : dapat diterima
D > 0,8 : baik
Tabel 3.7
Uji Reliabilitas Siklus 1

Adapun hasil uji tingkat reliabilitasnya dapat dilihat bahwa Cronbach`s
Alpha sebesar 0,899 dari 23 item yang diuji. Menurut Sekaran dalam Priyatno
(2010: 98), Cronbach`s Alpha 0,9 15 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang
baik. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian.
Tabel 3.8
Uji Reliabilitas Siklus 2

Adapun hasil uji tingkat reliabilitasnya dapat dilihat bahwa Cronbach`s Alpha sebesar 0,9 15 dari 21 item yang diuji. Menurut Sekaran dalam Priyatno (2010: 98), Cronbach`s Alpha 0,9 15 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang baik. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian. Contoh proposal ptk bahasa inggris smp

3.7 Taraf Kesukaran
Untuk memperoleh kualitas soal yang baik, di samping memenuhi validitas dan reabilitas juga harus memperhatikan keseimbangan dari tingkat kesukaran soal tersebut. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesangggupan atau kemampuan siswa dalam menjawab soal, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Menurut Arifin (2012: 272) cara melakukan analisis untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
p = tingkat kesukaran
6B = jumlah peserta didik yang menjawab benar
N = jumlah peserta didik
Untuk menafsirkan tingkat kesukaran tersebut, dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
P > 0,70 = soal kategori mudah
0,30 d p d 0,70 = soal kategori sedang
P < 0,30 = soal kategori sukar

Hasil penghitungan tingkat kesukaran pada soal siklus 1 dapat dilihat pada tabel 3.9
Tabel 3.9
Taraf Kesukaran Soal Siklus 1

Tabel 3.9 dapat dilihat bahwa tingkat kesukaran soal pada siklus 1 dari 23 soal yang termasuk kategori mudah sejumlah 4 soal, yang termasuk kategori sedang sejumlah 19 soal, dan yang termasuk kategori sukar sejumlah 0 soal. Soal pada siklus 1 yang termasuk dalam kategori mudah terdiri dari nomor 7, 16, 22, 26 dan yang termasuk kategori sedang terdiri dari nomor 1, 2, 3, 4, 5, 10, 11, 12, 13, 19, 21, 23, 24, 25, 29, 30, 32, 35, 36 sedangkan yang soal yang termasuk kategori sukar tidak ada.

Hasil penghitungan tingkat kesukaran pada soal siklus 2 dapat dilihat pada tabel 3.10
Tabel 3.10
Taraf Kesukaran Soal Siklus 2

Tabel 3.10 dapat dilihat bahwa tingkat kesukaran soal pada siklus 2 dari 21 soal yang termasuk kategori mudah sejumlah 6 soal, yang termasuk kategori sedang sejumlah 15 soal, dan yang termasuk kategori sukar tidak ada. Soal pada 36 siklus 2 yang termasuk dalam kategori mudah adalah soal nomor 2, 9, 11, 12, 20, 24 dan yang termasuk kategori sedang terdiri dari nomor 1, 6, 7, 8, 10, 15, 16, 18, 21, 22, 23, 25, 26, 28, 30 sedangkan yang soal yang termasuk kategori sukar tidak ada.

3.8 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dinyatakan dapat berhasil apabila dapat meningkatkan skor kriteria hasil belajar siswa sebanyak 90% dari jumlah keseluruhan siswa kelas VII-G dengan mencapai nilai t 70.

3.9 Teknik Analisis Data
Jenis data yang peneliti peroleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah data kuantitatif yang berupa skor hasil belajar siswa dari kegiatan pembelajaran pada siklus 1 dan 2. Download ptk bahasa inggris pdf Data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan r product moment. Untuk memperoleh signifikasi tindakan yang dilakukan terhadap hasil belajar dengan bantuan program SPSS versi 17.0 for Windows.

DOWNLOAD PROPOSAL PTK BAHASA INGGRIS SMP

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Rem aja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.Bumi A ksara.
Dimyati dan M udjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. H am dan n i. 2011. Strategi Belajar Mengajar. B an dung: Pu stak a Seti a.
Iskandarwassid & Sunendar, Dadang. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosdakarya.
M ulyati, Y eti. 2007. Keterampilan BerBahasa Inggris SD. Jakarta: U niversitas Tebuka.
Priyanto, D uw i. 2010. Paham Analisis Statistik Data dengan SPSS. Y ogyakarta: M ediaKom.
Rusm an. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja G rafindo Persada.
Slam eto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
S u djana, N an a. 2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. B an dung: Rosdakarya.
S u g i y on o. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung : CV.ALFABETA.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tarigan, H enry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Anggi, Nuraeni. 2012. “Pengaruh penerapan model cooperatif learning tipe Think Talk Write (TTW) terhadap pemahaman konsep pada siswa kelas X SMA Negeri 8 Bandung dalam mata pelajaran ekonomi”.
Istiqomah , Annas Nur . 2009. “Pembelajaran matematika dengan strategi Think Talk Write (TTW) dalam upaya meningkatkan peran aktif dan prestasi belajar siswa kelas VIII SM P Negeri 2 Bambanglipuro Bantul”.
Permen No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Krizi.wordpress.com. 2011. “PTK model kemmis dan Mc Taggart”. http://krizi.wordpress.com/201 1/09/12/ptk-penelitian-tindakan-kelas-model¬kemmis-dan-mc-taggrat/. D iakses pada tanggal 4 Januari 2013.
Lipurtriyoso.wordpress.com. 2012. “Skripsi Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika dengan Strategi Think Talk Write”.http://lipurtriyoso. wordpress. com/2012/06/05/contoh-skripsi¬meningkatan-aktivitas-dan-hasil-belajar-matematika-dengan-strategi-th ink¬talk-write-smp-muhammadiyah-1-metro-tahun-pelajaran-201 0201 1/. D iakses pada tanggal 3 Januari 2013.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH LAPORAN PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CONTOH LAPORAN PTK BAHASA INGGRIS KELAS VII"