PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD METODE KERJA KELOMPOK

PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD METODE KERJA KELOMPOK-Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran yang baik apabila guru mempersiapkan perencanaan dengan matang baik kelengkapan alat-alat pembelajaran seperti materi pelajaran maupun penggunaan metode pembelajaran yang tepat digunakan sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. Sering guru hanya menggunakan satu atau dua metode secara monoton, dan lupa untuk melibatkan siswa, sehingga prestasi belajar yang dicapai siswa tidak optimal. Contoh ptk sd kelas 5 pdf
Masalah yang dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar matematika tentang bangun ruang sisi datar bagi siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...Semester I Tahun 2015/2016”.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau (classroom action research). Model PTK yang digunakan adalah model spiral dari Kemmis, S. dan Mc Taggart, R dengan menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yakni 1) perencanaan tindakan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan 3) refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...sebanyak 33 siswa. Teknik pengumpulan data dengan teknik tes dan teknik observasi. Adapun instrumen penelitiannya dengan menggunakan butir-butir soal dan lembar observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif komparatif yang meliputi jumlah, mean, skor minimal-maksimal, persentase, membandingkan dan grafik/diagram.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kubus dan balok setelah menggunakan metode kerja kelompok. Hal ini nampak pada skor rata-rata yakni pada kondisi pra siklus sebesar 65, siklus I naik menjadi 80,21 dan pada siklus II naik lagi menjadi 83,96. Adapun ketuntasan belajar klasikal pada kondisi pra siklus 45,83 %; siklus I naik menjadi 87,5% dan pada siklus II naik menjadi 9 1,67%. Sedangkan skor minimal pada kondisi prasiklus sebesar 45, pada siklus I naik menjadi 55 dan pada siklus II tetap 55. Sedangkan skor maksimal pada kondisi prasiklus dan siklus I sebesar 90, dan siklus II naik menjadi 95.
Saran bagi guru matematika hendaknya menerapkan metode pembelajaran kerja kelompok, karena dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.Untuk itu guru perlu memanaknai waktu dengan baik.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMATIKA SD yang diberi judul "
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA 
MELALUI PENGGUNAAN METODE KERJA KELOMPOK 
BAGI SISWA KELAS V SDN ... 04 
KABUPATEN ... SEMESTER I TAHUN 2015/2016
". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK 022 SD).

DOWNLOAD PTK MATEMATIKA KELAS 5 METODE KERJA KELOMPOK

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru seyogyanya menjadi tumpuan dan harapan peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan wawasan keilmuannya sehingga terjadi peningkatan prestasi belajar siswa sebagai bagian dari tujuan dan sasaran pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.
Proses belajar mengajar dapat terlaksana secara baik apabila guru memiliki persiapan dan perencanaan yang cukup matang, dimana kelengkapan alat-alat pembelajaran seperti materi pelajaran, dan metode kerja kelompok yang digunakan sesuai dengan tuntutan kurikulum mata pelajaran. Terkait dengan metode sebagaimana disebutkan di atas, maka penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan arah kurikulum mata pelajaran sangat menentukan keberhasilan pencapaian belajar siswa.
Departemen Pendidikan Nasional (2007:20 1) buku materi sosialisasi Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan disebutkan bahwa terdapat berbagai macam dan jenis metode pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam proses belajar, sehingga dibutuhkan kejelian guru dalam menggunakannya. Adapun metode-metode pembelajaran yang dimaksud sebagaimana disebutkan Djamarah (2006:82) antara lain; metode ceramah, tanya jawab, penugasan, kerja kelompok, praktikum, tugas proyek, word square, talking stick, quantum learning, cooperative learning, collaborative learning dan lain sebagainya, dimana dalam pelaksanaannya guru dapat menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran.
Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran, metode pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metode pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam menyajikan pelajaran kepada siswa-siswa, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penampilan, metode studi mandiri, pembelajaran terprogram, latihan sesama temen, simulasi karya wisata, induksi, deduksi, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, insiden, seminar, bermain peran, proyek, praktikum dan lain-lain, masing metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kadang-kadang dalam proses pembelajaran guru kaku dengan mempergunakan satu atau dua metode, dan menterjemahkan metode itu secara sempit dan menerapkan metode di kelas dengan metode yang pernah ia baca, metode pembelajaran merupakan cara untuk menyampaikan, menyajikan, memberi latihan, dan memberi contoh pelajaran kepada siswa, dengan demikian metode dapat di kembangkan dari pengalaman, seseorang guru yang berpengalaman dia dapat menyuguhkan materi kepada siswa, dan siswa mudah menyerapkan materi yang disampaikan oleh guru secara sempurna dengan mempergunakan metode yang dikembangkan dengan dasar pengalamannya, metode-metode dapat dipergunakan secara variatif, dalam arti kata kita tidak boleh monoton dalam suatu metode. Download ptk sd kelas 5 doc Dalam proses belajar mengajar guru dihadapkan untuk memilih metode-metode dari sekian banyak metode yang telah ditemui oleh para ahli sebelum ia menyampaikan materi pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Namun demikian, pada prinsipnya pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran yang harus dilakukan guru pada prinsipnya harus berpihak kepada siswa sehingga siswa mampu memahami materi pelajaran yang diajarkan.
Adanya perubahan yang terkait dengan berbagai inovasi dan perubahan dalam paradigma pendidikan, khususnya dari paradigma lama yang menekankan pada perilaku (behaviouristic) yang berpola teaching-testing ke paradigma baru yang menekankan pada proses (constructivistic) yang berpola learning-continous improvement, akan berimplikasi terhadap penyempurnaan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, serta pengelolaan peserta didik dalam pembelajaran.

Peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai materi ajar yang diberikan oleh guru sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan. Pendekatan pembelajaran yang secara luas diterima di seluruh dunia sebagai praktik terbaik (best practice) adalah Pendekatan Pembelajaran Aktif (DBE2-USAID, 2010). Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa cara belajar terbaik bagi siswa adalah dengan melakukan, dengan menggunakan semua inderanya, dan dengan mengeksplorasi lingkungannya yang terdiri atas orang, hal, tempat dan kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari siswa (pembelajaran kontekstual). Selain itu, siswa belajar dari pengalaman langsung dan konkrit seperti menyimak bacaan, mengukur kemampuan siswa SD, mengamati fenomena siswa dalam proses pembelajaran di SD, melihat gambar, atau mendengarkan radio, chating dan internet. Keterlibatan aktif dengan gagasan ini mendorong siswa aktif berpikir untuk mendapatkan pengetahuan baru dan memadukannya dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Keterlibatan aktif dengan lingkungan sosial dan fisik serta gagasan yang berkait dengan kehidupan nyata akan mendorong mahasiswa aktif berpikir dan kreatif dalam mendapatkan pengetahuan baru dan memadukannya dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Untuk memfasilitasi pembelajaran aktif yang dapat mendorong kreatifitas siswa, guru harus menggunakan berbagai strategi perkuliahan yang aktif, kreatif dan kontekstual, melibatkan pembelajaran bersama (cooperative learning) dan mengakomodasi perbedaan gaya belajar masing-masing siswa. Hal tersebut bermanfaat untuk memaksimalkan kemampuan pembelajar dalam memahami hal baru dan dapat menggunakan informasi baru tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran aktif dan kreatif juga dapat mengangkat tingkat pembelajaran dari keterampilan berpikir tingkat rendah (pengamatan, menghafal, dan mengingat informasi, pengetahuan akan gagasan umum yakni tentang apa, di mana dan kapan) hingga keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi (memecahkan masalah, analisis, sintesis, evaluasi yakni tentang bagaimana dan mengapa). Dengan demikian proses pembelajaran menjadi bermakna dan memiliki peranan yang sangat penting. Guru memegang peranan utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran terutama dalam mengelola pembelajaran.
Terkait dengan uraian ini, maka Mujiman (2006:80) menjelaskan bahwa : penggunaan suatu jenis metode pembelajaran dalam pelatihan banyak ditentukan oleh tujuan pembelajaran, keadaan partisipan, alat bantu belajar yang tersedia, keadaan fasilitas di dalam ruang kelas, waktu yang tersedia, tempat dan lain sebagainya. Akan tetapi, apapun yang dipilih metode itu tidak boleh menyebabkan partisipan tidak senang, merasa bosan dan tidak bersemangat, sebab metode yang tepat akan sangat berpengaruh pada pengembangan motivasi belajar, dan motivasi belajar mampu merangsang kemampuan siswa untuk belajar mandiri.

Kenyataan yang ditemui, masih banyak guru-guru utamanya pada tingkat sekolah dasar metode pembelajaran yang digunakan kurang efektif dan kurang terlaksana secara maksimal sehingga banyak siswa menjadi kurang mengerti isi materi pelajaran yang diberikan. Jika kondisi itu terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan, proses belajar mengajar yang dilaksanakan berjalan monoton. Artinya sasaran pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat dicapai.
Kondisi serupa juga dialami pada siswa kelas V di SDN ... 04 Kabupaten ... khususnya pada mata pelajaran matematika. Penyajian materi pelajaran oleh guru dilakukan dengan cara ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pada satu sisi, keadaan pembelajaran seperti ini akan kurang memberikan kesempatan dan peluan kepada siswa untuk menumbuhkembangkan pengetahuannya, mengingat mata pelajaran matematika ini adalah mata pelajaran yang berhubungan perhitungan angka¬angka yang pada siswa kelas V tentu saja diperlukan adanya pembimbingan belajar yang baik. Contoh ptk kelas 5 sd 

Mata pelajaran matematika yang diajarkan kepada siswa kelas V di SDN ... 04 Kabupaten ... oleh guru dilakukan dengan cara teoritis. Pembelajaran teoritis yang dilakukan guru-pun berdasarkan hasil pantauan sementara dilakukan dengan pendekatan konvensional dimana kombinasi metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas menjadi pemandangan yang umum ditemui di dalam kelas. Pembelajaran secara konvensional (ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas) dalam mata pelajaran matematika tentu saja terasa kurang relevan dan cenderung memungkinkan timbulnya kejenuhan dan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi bahan ajar, dan untuk mengatasi hal ini diperlukan proaktif guru dalam mengatasi permasalahan yang muncul.
Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa kecenderungan nilai hasil belajar siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ... mata pelajaran matematika cenderung menurun. Menyikapi keadaan proses belajar mengajar yang dirasakan siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ... di atas, maka diperlukan inisiatif penggunaan metode pembelajaran yang lebih baik sehingga siswa dapat naik kelas semua atau mendapatkan nilai yang lebih baik pada mata pelajaran matematika khususnya melalui pembelajaran kelompok. Metode kerja kelompok yang digunakan dalam proses belajar mengajar mata pelajaran matematika diupayakan terlaksana dengan perencanaan yang matang.
Salah satu keunggulan metode kerja kelompok sebagaimana diutarakan Mujiman (2006:84) yaitu; “terbangunnya rasa saling kerja sama antar individu. Di samping itu, kerja kelompok kecil merupakan kegiatan terbaik untuk berlatih membangun kerja sama tim, pembagian tanggung jawab, dan pendidikan etik. Aspek etik memang ada dalam kerja kelompok, karena dapat tumbuhnya rasa ewuh pakewuh, atau rasa bersalah kalau seorang anggota kelompok tidak ikut bekerja, padahal ia turut menikmati hasil kerja kelompok. Sehingga dengan demikian anggota kelompok dapat terdorong untuk aktif bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing”. Artinya individu anak mengetahui kekurangannya.
Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka peneliti mencoba mengadakan upaya penelitian skripsi dengan judul “Upaya Penggunaan Metode Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Tentang Bangun Ruang Sisi Datar Bagi Siswa Kelas V SDN ... 04 Kecamatan ... Kabupaten ... Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas terdapat beberapa masalah dalam penelitian ini. Adapun masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasikasikan sebagai berikut:
1. Masih banyak siswa yang belum tuntas belajar, siswa yang telah tuntas belajar mencapai 45,83 %.
2. Pada saat pembelajaran matematika guru kurang memperhatikan apakah siswanya dapat menerima strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika. Dominasi guru sangat tinggi sedangkan pengorganisasian siswa cenderung searah.
3. Guru selalu menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran.
4. Saat proses belajar mengajar banyak siswa yang bermain.
5. Pelajaran Matematika dianggap siswa sulit diterima.
6. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran guru kaku dengan mempergunakan satu atau dua metode, dan menterjemahkan metode itu secara sempit

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut: “Apakah dengan penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar matematika tentang bangun ruang sisi datar bagi siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...Semester I Tahun 2015/2016”.

1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode kerja kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar matematika tentang bangun ruang sisi datar bagi siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...Semester I Tahun 2015/2016.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai wadah pengembangan berbagai teori kependidikan terkait dengan penyelenggaraan dan pelaksanaan proses belajar di kelas bagi guru, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal sesuai dengan tujuan dan arah kurikulum. Download ptk sd kelas 5 lengkap 
b. Bagi siswa, meningkatnya wawasan, pengetahuan dan prestasi serta terbangunnya rasa kebersamaan dalam belajar melalui penerapan metode pembelajaran kelompok.
c. Bagi peneliti, bertambahnya wawasan keilmuan tentang penggunaan
dan penerapan berbagai metode pembelajaran dalam proses belajar
mengajar sehingga mampu diimplementasikan dalam pelaksanaannya.
d. Bagi lembaga, sebagai bahan masukan dan informasi bagi penelitian 
penelitiain sejenis.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan tentang arti pentingnya proses belajar mengajar yang dilaksanakan dengan perencanaan matang, kelengkapan alat dan media pembelajaran yang digunakan, sarana dan prasarana belajar yang memadai dan hal-hal yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan penyelenggaraan proses belajar mengajar.


CONTOH LENGKAP PTK MATEMATIKA SD KELAS 5

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Prestasi Belajar
Sehubungan dengan prestasi belajar, Purwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Sedangkan menurut Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Shofiana (2008 : 34) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Selaiin itu, Wiriatmadja (2005:23) mendefinisikan hasil sebagai suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun kelompok dalam bidang tertentu. Banyak kegiatan yang biasa dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan hasil, semuanya tergantung dari kesenangan setiap individu.
Djuwariyah (2008:37) menjelaskan bahwa prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.

Prestasi belajar adalah pernyataan khusus tentang apa yang akan diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa, sebagai hasil kegiatan belajar, biasanya berupa pengetahuan, keterampilan, atau sikap (knowledge, skill or attitude) (Louis dalam Slameto, 2006) atau pencapaian kompetensi siswa (Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab X pasal 63).
Selanjutnya, pengertian prestasi belajar dapat dipersempit sebagai kualitas dan kuantitas pekerjaan siswa, yang dipakai untuk menghitung rata-rata tingkat pencapaian keseluruhan mata pelajaran, dalam satu semester atau satu tahun ajaran. Slameto (2006) memberi batasan tentang prestasi belajar (achievement) sebagai hasil pengukuran tentang apa yang diketahui atau yang dapat dilakukan oleh seseorang, setelah belajar. Pengukuran yang dimaksud adalah sebagai alat yang dipakai untuk menyediakan balikan bagi siswa dan pihak lainnya, untuk menentukan posisi siswa dalam hubungannya dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Prestasi belajar mempunyai dua peranan penting bagi siswa dan guru, yaitu sebagai pencerminan keberhasilan mengajar bagi seorang guru dan penceminan kemampuan siswa dalam penguasan materi baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Peran itulah yang mendasari penulis memilih prestasi belajar sebagai variabel terikat pada penelitian ini.

Kajian prestasi belajar yang lain mengadopsi dari Slameto (2002) Sukmadinata (2005) dan Benjamin S Bloom (2003) mengklasifikasi prestasi belajar menjadi tiga ranah, yaitu: 1) Ranah kognitif yang berkaitan dengan hasil belajar intektual, 2) Ranah Afektif yang berkaitan dengan sikap, dan 3) Ranah psikomotorik yang berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.
Dengan pemahaman yang demikian maka dapat dirumuskan bahwa prestasi belajar siswa adalah performance dan kompetensinya dalam mata pelajaran setelah mempelajari materi untuk mencapai tujuan pengajaran dalan satu satuan waktu yang biasa berupa semester, atau tahun pelajaran. Performance dan kompetensi tersebut meliputi:
(1) Ranah kognitif seperti informasi atau pengetahuan /knowledge, konsep dan prinsip (understanding), pemecahan masalah dan kreativitas,
(2) Ranah psikomotorik/ skill, dan
(3) Ranah afektif seperti perasaan, sikap, nilai dan integritas pribadi (Slameto 2002).
Pada penelitian ini prestasi belajar yang akan diukur adalah prestasi belajar kognitif. Asperk kognitif yang akan diukur adalah: pengetahuan uang sebagai alat tukar menukar yang sah. Mata pelajaran yang akan diujikan adalah mata pelajaran matematika.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Soetjipto (2004: 8) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Contoh ptk sd kelas 5 pdf

Dalam proses belajar tentu ada yang berhasil, sukses dan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan, ada yang gagal dan mengalami hambatan untuk mencapai tujuan. Ukuran keberhasilan dalam proses belajar diberikan istilah prestasi belajar. Menurut Slameto (2003:52), prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa dalam suatu mata pelajaran tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan murid. Sedangkan Tirtaraharja (1981:19) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah taraf kemampuan aktual yang bersif at terukur, berupa pengalaman ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, interes yang dicapai oleh murid dari apa yang dipelajari di sekolah.

Menurut Suharsimi Arikunto (2002) tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Agar dapat alat ukur prestasi siswa, terdapat 5 syarat atau ciri dalam tes yang baik yaitu: 1)Valid/ tepat, 2) Reliabel/ tetap (ajeg), 3) Objektif, 4) Praktis, dan 5) Ekonomis.
Berdasarkan beberapa pengertian yang diajukan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Pada dasarnya segala sesuatu yang dilaksanakan berorientasi pada suatu hasil. Hasil adalah sesuatu yang dihadapi dari usaha yang dilakukan. Demikian pula halnya dengan belajar yang senantiasa mengharapkan suatu hasil yang baik. Hasil belajar tersebut dapat diukur dengan menggunakan alat tes hasil belajar, baik melalui lisan dan tulisan ataupun dalam bentuk unjuk kerja. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur dan mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa. Terkait dengan dengan uraian ini, maka Haling (2006:107) mengemukakan secara jelas mengenai penilaian atau evaluasi ini sebagai berikut : Penilaian merupakan suatu usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi, disamping itu, penilaian juga berfungsi untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan pembelajaran.
Alat pembelajaran yang biasa digunakan adalah; (a) Tes, yaitu suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh pebelajar, sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi pebelajar tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh pebelajar lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan. (b) Non Tes, yaitu untuk menilai aspek¬aspek tingkah laku yang meliputi kegiatan observasi, wawancara, studi kasus, skala penilaian, check list dan inventori”.

Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa dalam bentuk nilai dalam satu mata pelajaran atau keterampilan tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang sedang prestasi belajar adalah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.

2.2 Mata Pelajaran Matematika
Kata "matematika" berasal dari Yunani μάθημα (máthēma), yang berarti pengkajian, pembelajaran, ilmu, yang ruang lingkupnya menyempit, dan arti teknisnya menjadi "pengkajian matematika", bahkan demikian juga pada zaman kuno. Kata sifatnya adalah (mathēmatikós), berkaitan dengan pengkajian, atau tekun belajar, yang lebih jauhnya berarti matematis. Secara khusus, (mathēmatik~ tékhnē), di dalam bahasa Latin ars mathematica, berarti seni matematika.
Kita sebagai pendidik perlu tahu kebutuhan yang diinginkan siswa. Setiap siswa berbeda kebutuhan berprestasinya. Ada siswa yang memiliki motivasi tinggi, sedang dan ada yang rendah untuk berprestasi. Siswa mempunyai motivasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri sendiri. Siswa akan bekerja keras jika minat timbul dalam dirinya sendiri. Sedang siswa yang mempunyai motivasi rendah cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam mencapai prestasi yang tinggi.
Siswa yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka sendiri khususnya. Mereka mempunyai gambaran tertentu tentang dirinya sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam menghadapi lingkungan. Ini merupakan cap atau label yang dimiliki siswa tentang dirinya dan kemungkinan tidak dilihat oleh guru namun sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Download ptk sd kelas 5 doc Gambaran ini mulai terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, yaitu keluarga dan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya, dan hal ini mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.
Jika minat siswa dapat dibangkitkan kemudian seluruh perhatiannya dapat dipusatkan kepada pelajaran yang diberikan oleh guru. Ditinjau dari sudut fisiologis, perhatian adalah suatu gejala kejiwaan yang erat kaitannya dengan dorongan minat atau tingkah laku seseorang.
Selanjutnya dipandang dari sudut pendidikan, pemusatan perhatian sangat penting artinya bagi pembentukan watak anak yang sudah terlatih, dan bisa menjadi memusatkan perhatian, tidak semata-mata kepada hal yang digemari saja melainkan juga terhadap objek yang tidak menarik perhatiannya, memaksa dirinya untuk menggerakkan kemampuannya memberikan perhatian yang berarti pula memperluas kemauannya.
Ada beberapa usaha untuk membangkitkan perhatian siswa selama proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
a. Mengajar yang menarik sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
b. Mengadakan selingan dalam mengajar yang sehat.
c. Menggunakan media yang sesuai dengan bahan ajar atau materi mengajar.
d. Menjauhkan pengaruh yang mengganggu konsentrasi belajar anak.
e. Memberikan pengertian manfaat bahan pelajaran yang akan diajarkan
kepada siswa.
f. Menghubungkan hal-hal yang sudah diketahui siswa dengan hal-hal yang akan diketahui siswa.
g. Mengadakan kompetisi dalam belajar.
h. Memberikan hukuman dan pujian tetapi yang bijaksana.
Selain itu hubungan antara guru dan murid hendaknya tetap terjaga dengan baik. Karena hal ini akan mempengaruhi yang sangat besar bagi siswa terhadap bahan pelajaran yang diajarkan, terlebih-lebih berguru yang mereka sukai.
Menurut Tenner dan Lindgen (1971) yang mengemukakan tentang pengaruh guru terhadap tingkah laku dan aktivitas siswa dalam belajar. Siswa secara terus menerus mereaksi terhadap sikap dan nilai yang dianut dan kepribadian gurunya. Mereka menjadikan guru sebagai model yang perlu dicontoh. Oleh karenanya siswa meniru gurunya apa yang dikerjakan maupun apa yang dikatakan.
Proses belajar mengajar matematika berlangsung dengan lancar bila dilaksanakan secara continue. Menurut pendapat Hudoyo (1990:5) belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggunya terjadinya proses belajar. Di dalam proses belajar mengajar matematika terjadi pula proses berfikir. Di dalam berfikir orang menyusun hubungan-hubungan antara bgaian-bagian informasi yang sudah direkam dalam pikirannya itu sebagai pengertian. Dari pengertian tersebut terbentuklah suatu kesatuan, akhirnya ditarik kesimpulan.

Dalam proses belajar mengajar yang baik, subyek yang belajar akan memahami dan mempelajari materi matematika sebelumnya sebagai syarat untuk mempelajari matematika selanjutnya serta dapat melakukan aplikasi ke situasi yang baru sehingga dapat menyelesaikan masalah matematika itu sendiri maupun dalam ilmu yang lain, itu semua dapat terwujud bila di dalam proses belajar mengajar berlangsung seimbang antara peran guru dan siswa yang dilengkapi dengan sarana dan lingkungan belajar yang mendukung.
Pendidikan nasional yang dirumuskan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, dijabarkan ke dalam tujuan institusional. Dalam tujuan itu tercakup proses-proses atau program-program yang dipakai untuk mencapai tujuan lembaga dan tertuang dalam pembelajaran setiap mata pelajaran seperti mata pelajaran Matematika SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
Dalam tujuan mata pelajaran matematika tersebut, terdapat dua tujuan yang terkait dengan proses dan hasil. Untuk mencapai tujuan tersebut termanifestasikan dalam perilaku yang akan diukur. Download ptk sd kelas 5 doc Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), untuk mencapai tujuan tersebut tergantung pada tuntutan kompetensi, baik standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya.
Adapun Standar kompetensi dan kompetensi dasar Matematika untuk siswa Kelas V, Semester 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika
Kelas V, Semester 1

Tabel 2.2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika
Kelas V, Semester 2

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembanganteknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).
Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meni ngkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah di harapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Ruang Lingkup Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek bilangan, geometri dan pengukuran dan pengolahan data.

2.3 Metode Kerja Kelompok
2.3.1 Pengertian Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok dalam pembelajaran menurut Mujiman (2006: 84) dapat disamakan dengan penugasan kelompok, karena sama¬sama mengandung arti belajar kelompok. Pekerjaan kelompok biasanya dimulai dengan diskusi kelompok untuk menyatu-persepsikan tentang tugas yang harus dikerjakan secara kelompok, dan output yang harus dicapai. Dilanjutkan dengan diskusi tentang langkah-langkah untuk mencapai output yang disepakati bersama, pembagian tugas, pelaksanaan tugas, diskusi-diskusi untuk analisis data dan informasi yang terkumpul, penulisan laporan, pendiskusian laporan dan dinalisasi. Modjiono (1992: 61) mengemukakan metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitikberatkan kepada interaksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelopk guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama. Robert L. Cilstrap (dalam Roestiyah N.K (1998: 15) menyatakan bahwa kerja kelompok merupakan suatu kegiatan kelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas
Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama.
Lebih lanjut Mujiman mengemukakan bahwa keuntungan belajar kelompok adalah terbangunnya kerjasama tim, dimana siswa dilatih untuk membangun kebersamaan tim, pembagian tanggungjawab, dan pendidikan etik. Aspek etik memang ada dalam kerja kelompok, karena dapat tumbuhnya rasa ewuh pakewuh atau rasa bersalah kalau seorang anggota tim tidak ikut bekerja, padahal ia turut menikmati hasil kerja kelompok. Maka dari itu, anggota kelompok terdorong untuk aktif bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya dalam mencapai output.
Rosdiana (2008:12) mengemukakan empat keuntungan pembelajaran kelompok yaitu :
1. Dapat memberikan kesempatan untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai kasus atau masalah.
2. Dapat memungkinkan guru untuk lebih mempertahankan siswa sebagai individu serta kebutuhan belajarnya.
3. Siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran dan berpartisipasi dalam diskusi.
4. Dapat memberikan kesempatan mengembangkan rasa menghargai
dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang
lain, hal mana membantu kelompok mencapai tujuan bersama.
Di samping keuntungan penggunaan metode kerja kelompok dalam satu pembelajaran, metode ini juga memiliki kekurangan antara lain :
1. Kerja kelompok sering kali hanya melibatkan siswa yang mampu dan cakap.
2. Kerja kelompok kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda dan gaya mengajar yang berbeda pula. Contoh ptk kelas 5 sd 
3. Keberhasilan kerja kelompok tergantung kemampuan memimpin atau bekerja sendiri.
Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2008) sebagaimana dikutip dari sumber internet tanggal akses 8 Agustus 2009 dijelaskan bahwa metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun di bagi atas kel ompok-kelompok keci l (sub-sub kelompok). Kelompok bisa dibuat berdasarkan :
1. Perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama bila kelas itu sifatnya heterogin dalam belajar.
2. Perbedaan minat belajar, dibuat kelompok yang terdiri atas siswa yang punya minat yang sama.
3. Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan kita berikan.
4. Pengelompokan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa yang tinggal
dalam satu wilayah yang dikelompokkan dalam satu kelompokan sehingga memudahkan koordinasi kerja.
5. Pengelompokan secara random atau dilotre, tidak melihat faktor¬faktor lain.
6. Pengelompokan atas dasar jenis kelamin, ada kelompok pria dan kelompok wanita.
Sebaiknya kelompok menggambarkan yang heterogen, baik dari segi kemapuan belajar maupun jenis kelamin. Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok tersebut tidak berat sebelah (ada kelompok yang baik dan ada kelompok yang kurang baik). Kalau dilihat dari segi proses kerjanya maka kerja kelompok ada dua macam, yaitu kelompok jangka pendek dan kelompok jangka panjang.
1. Kelom pok jangka pendek, arti nya jangka waktu untuk bekerja dalam
kelompok tersebut hanya pada saat itu saja, jadi sifatnya insidental.
2. Kelompok jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok itu bukan hanya pada saat itu saja, mungkin berlaku untuk satu periode tertentu sesuai dengan tugas/masalah yang akan dipecahkan.
Untuk mencapai hasil yang baik, maka faktor yang harus diperhatikan dalam kerja kelompok adalah :
1. Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota.
2. Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai satu unit dipecahkan bersama, atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing secara individual. Hal ini bergantung kepada kompleks tidaknya masalah yang akan dipecahkan.
3. Persaingan yang sehat antarkelompok biasanya mendoronganak untuk belajar.
4. Situasi yang menyenangkan antar anggota banyak menentukan berahsil tidaknya kerja kelompok. Download ptk sd kelas 5 lengkap 
2.3.2 Tujuan Metode Kerja Kelompok
Penggunaan kerja kelompok dalam belajar bertujuan agar siswa mampu bekerja bersama-sama dengan temannya yang lain dalam mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan kelompok tersebut harus berlandaskan pada dasar pengelompokkan tersebut di bawah ini (Rosdiana, 2008:13) :
1. Kemampuan bel ajar siswa
2. Minat khusus dari siswa
3. M emperbesar partisipasi siswa
4. Pemberian tugas atau pekerjaan
5. Kerjasama efektif
Tujuan harus jelas bagi setiap siswa agar diperoleh hasil yang baik pula. Tiap siswa harus tahu persis apa yang harus dikerjakannya. Itulah sebabnya dalam menghadapi setiap pekerjaan perlu adanya diskusi untuk menentukan cara mengerjakannya, maka dari sinilah
fungsinya studi kelompok. Dalam rangka pencapaian tujuan kelompok harus berlandaskan pada dasar pengelompokkan tersebut di atas dengan didasari aspek-aspek seperti :
1. Tujuan, yang harus jelas bagi setiap siswa agar diperoleh yang baik dengan kerja sama yang baik pula, dan harus dibarengi diskusi untuk mengetahui cara mengerjakannya.
2. Interaksi, yang harus disadari atas dasar kerjasama yang merupakan salah satu persyaratan bagi terjadinya suatu kerjasama yaitu komunikasi yang efektif serta interaksi antar siswa.
3. Kepemimpinan, tugas yang jelas dan komunikasi yang efektif serta kepemimpinan yang baik akan berpangaruh terhadap suasana belajar dan pada gilirannya akan mempengaruhi proses belajar, penyelesaian tugas dan pemecahan masalah.
Uraian di atas dapat memudahkan bagi seorang guru untuk mencapai tujuan daripada penerapan metode kerja kelompok dan memudahkan terjadinya transfer yang positif di dalam proses belajar mangajar. Dengan tercapainya tujuan pengajaran yang telah ditetapkan oleh gguru sebelum pelaksanaan pembelajaran yang biasa disebut interaksi, maka itu berarti pelaksanaan metode kerja kelompok telah tercapai.

2.3.3 Peranan Guru Dalam Kerja Kelompok
Hasibuan dan Moedjiono (2008:24) dalam kerja kelompok guru berperan sebagai berikut :
1. Manager, membantu para peserta didik mengorganisasikan diri, tempat duduk, serta bahan yang diperlukan.
2. Observer, mengamati dinamika kelompok yang terjadi sehingga ia dapat mengarahkan serta membantunya bila perlu. Ia perlu memberikan balikan kepada kelompok tentnag kepemimpinan, interaksi, tujuan serta perasaan dan norma yang terjadi dalam kelompok.
3. Advisor, memberikan saran-saran tentang penyelesaian tugas bila diperlukan. Tetapi memberikan saran ini jangan berarti gguru yang menyelesaikan tugas buat siswa. Berikan saran ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, bukan memberikan informasi secara langsung.
4. Evalator, nilailah proses kerja kelompok yang terjadi bersama-sama dengan kelompok. Penilaian ini hendaklah selalu penilaian kelompok, bukan penilaian terhadap individu.
Hasibuan dan Moedjiono (2008:25) menyebutkan rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan kerja kelompok sebagai berikut :
1. Pesan terpenting, format kerja kelompok adalah pemecahan masalah atau penunaian tugas melalui proses kerja kelompok. Secara umum dapat dikatakan bahwa topik-topik yang cocok ditangani melalui kerja kelompok adalah topik-topik yang :
1. Cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga bisa dibagi-bagi yang cukup memadai sebagai tugas tugas kelompok baik secara paralel maupun komplementer. Contoh ptk sd kelas 5 pdf 
2. Membutuhkakn bahan dan informasi dari pelbagai sumber dan pemecahannya.
2. Di dalam pelaksanaannya, kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok secara random atau berdasarkan pengaturan tertentu, misalnya dengan menyebarkan peserta kelompok yang kurang mampu dan yang mampu, cepat membuat ribut atau cepat teralihkan perhatiannya dari tugas, dan lain-lain dasar penggolongannya, yang penting bahwa penyebaran ini dilakukan untuk sedapat-dapatnya menyeragamkan profil kelompok, meskipun tugas-tugasnya dapat berbeda (penugasan komplementer). Pengelompokkan yang diatur dilakukan bila produktivitas maupun kekohesif an kelompok merupakan tujuan penting.
3. Produktivitas dan kekohesif an adalah dua aspek yang harus selalu diperhatikan secara seim bang, akan tetapi tugas kelompok terutama dilakukan untuk mengembangkan keterampilan bekerja sama dan memupuk semangat kebersamaan, sedangkan pada kesempatan lain, tugas kelompok diberikan karena ada produk-produk nyata yang perlu dicapai seperti pengetahuan yang cukup luas dan pengertian yang mendalam tentang suatu fenomena. Akan tetapi secara keseluruhan sasaran penilaian adalah terhadap kedua aspek tersebut produk kelompok serta peningkatan kemampuan kelompok dan semangat kebersamaan di dalam kelompok bekerjasama menyel esai kan tugas-tugasnya.

2.3.4. Langkah-langkah Pembelajaran Menggunakan Metode Kerja Kelompok
Menurut Sagala (2006) langkah-langkah pembelajaran metode kerja kelompok sebagai berikut:
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi pembelajaran tersebut ke dalam tugas-tugas kelompok.
c) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan kerja kelompok.
d) Menyusun peraturan pembentukan kelompok cara kerja, saat memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Membuka Pelajaran
b) Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebel umnya.
c) Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan
d) Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
3) Kegiatan Inti Pelajaran
a) Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
b) Membentuk kelompok
c) Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa
d) Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
e) Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.
f) Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
4) Kegiatan Mengakhiri Pelajaran
a) Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.
Melakukan evaluasi hasil dan proses
b) Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut.
Menurut Roestiyah N.K (1998: 19 – 20) menyebutkan bahwa ada 6 langkah agar kerja kelompok dapat berhasil yaitu :
a) Menjelaskan tugas kepada siswa
b) Menjelaskan apa tuj uan kerja kelompok
c) Membagi kelas menjadi beberapa kelompok
d) Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kerja kelompok tersebut
e) Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan
f) Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.
Keenam langkah di atas pelu diterapkan oleh peneliti agar siswa dalam melakukan kerja kelompok yang dilakukan pada saat penelitian dapat menghasilkan tujuan yang diharapkan yaitu siswa dapat memecahkan masalah dengan baik.
Selanjutnya Nana Sudjana (2002 : 83) mengemukakan tentang petunjuk pelakanaan bekerja dalam kelompok untuk mencapai hasil yang baik yaitu :
a) Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota
b) Pemecahan masalah dapat dipandang, sebagai satu unit dipecahkan bersama-sama atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing secara individual, hal ini bergantung kepada kompleks tidaknya masalah yang akan dipecahkan.
c) Persaingan yang sehat antar kelompok bisanya mendorong anak untuk belajar
d) Situasi yang menyenangkan antara anggota banyak menentukan berhasil tidaknya kerja kelompok.

Berdasarkan ahli di atas peneliti dapat menyimpulkan langkah-langkah pembelajaran model kerja kelompok adalah melalui tahapan sebagai berikut:
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi pembelajaran tersebut ke dalam tugas-tugas kelompok.
c) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadisasaran kegiatan kerja kelompok.
d) Menyusun peraturan pembentukan kelompok cara kerja, saat memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Membuka Pelajaran
b) Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya.
c) Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan
d) Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
3) Kegiatan Inti Pelajaran
a) Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
b) Membentuk kelompok
c) Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa
d) Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
e) Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.
f) Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
4) Kegiatan Mengakhiri Pelajaran
a) Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.
Melakukan evaluasi hasil dan proses
b) Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut. Download ptk sd kelas 5 doc

2.4 Kerangka Pikir
Proses belajar mengajar yang terlaksana di dalam kelas pada umumnya dapat menimbulkan rasa bosan siswa ketika pembelajaran yang dilaksanakan berkesan terlalu prosedural. Artinya, guru melaksanakan pembelajaran secara sistematis sementara keadaan seperti ini umumnya tidak dii ngi nkan siswa. Di samping itu, perangkat pembelajaran dalam hal ini buku-buku paket yang diberikan sebagai materi pembelajaran kepada siswa mengandung materi yang terlalu padat dan meluas pula, sehingga dapat menyebabkan ketidaktertarikan siswa untuk membaca materi pelajaran, terlebih lagi metode pembelajaran yang tidak tepat digunakan dalam proses belajar mengajar.
Jika kondisi pembelajaran dalam kelas sebagaimana uraian di atas, maka guru ada baiknya melakukan upaya untuk mengubah metode pembelajaran yang digunakan, karena bukan tidak mungkin keadaan belajar siswa sebagaimana uraian di atas salah satunya disebabkan karena metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan keinginan dan keadaan belajar siswa dalam kelas. Salah satu upaya yang dapat ditempuh guru adalah dengan menerapkan metode kerja kelompok sehingga aspek afektif dan kognitif siswa dapat dibangun secara maksimal. Dengan demikian, penggunaan metode pembelajaran kerja kelompok diharapkan dapat menimbulkan ketertarikan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat pula.
Untuk memberikan gambaran singkat dan jelas terhadap tindakan yang akan dilaksanakan, maka berikut akan disajikan dalam skema kerangka pikir :
Gambar 2.1
Skema Kerangka Berpikir tentang
Hubungan Antara Penggunaan Metode Kerja Kelompok dan Prestasi Belajar
 
2.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka rumusan hipotesisnya ebagai berikut : Penggunaan metode pembelajaran kerja kelompok pada pembelajaran matematika tentang bangun ruang sisi datar, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...Semester I Tahun 2015/2016.

CONTOH PROPOSAL PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD TERBARU

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
3.1.1 Setting Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan di kelas V SDN ... 04 Kecamatan ... Kabupaten ... Penelitian ini dilaksanakan pada Semester I Tahun 2015/2016.
3.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian
Subyek penelitiannya adalah siswa kelas V SDN ... 04 Kecamatan ... Kabupaten ... tahun pelajaran 2015/2016. Jumlah siswa sebanyak 33 orang yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 14 orang perempuan usia siswa rata-rata 9 – 10 tahun dengan keadaan ekonomi siswa sebagian besar tergolong ekonomi menengah ke bawah dengan pekerjaan orang tuanya kebanyakan petani dan tempat tinggal tidak jauh dari sekolah.

3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri variabel bebas dan variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika. Prestasi belajar matematika adalah besarnya skor yang diperoleh siswa dari tes formatif matematika.
Sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode kerja kelompok. Metode kerja kelompok adalah suatu metode yang dipergunakan dalam pembelajaran matematika dengan membentuk kelompok-kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Adapun penggunaan metode kerja kelompok mengikuti langkah-langkah berikut ini:
3.2.1. Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
3.2.2. Membentuk kelompok
3.2.3. Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa
3.2.4. Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
3.2.5. Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.
3.2.6. Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
3.2.7. Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.
3.2.8. Melakukan evaluasi hasil dan proses
3.2.9. Melaksanakan tindak lanjut

3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart (Mujiman, 2007:34) dengan 3 tahapan atau rangkaian yaitu; 1) perencanaan tindakan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan 3) refleksi (reflection).
Perencanaan tindakan
Pemberian tindakan pada siklus 1 didasarkan pada hasil observasi awal. Observasi awal dilakukan oleh peneliti sebelum penelitian ini dilaksanakan, maksudnya untuk mendapatkan data-data awal yang ada di lapangan (tempat penelitian). Data-data inilah yang nantinya akan digunakan oleh peneliti untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan pada langkah-langkah selanjutnya. Contoh ptk kelas 5 sd
Dari hasil observasi awal dilakukan perencanaan awal sebagai berikut: (1) mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi guru dan siswa dalam pembelajaran; (2) merumuskan tujuan pembelajaran; (3) menyiapkan materi pelajaran yang akan dipecahkan; (4) menyiapkan alat dan bahan; (5) erancang pembelajaran dengan metode inkuiri dan menyiapkan RPP; (6) membuat lembar observasi untuk melihat kondisi pembelajaran di kelas; (7) membuat lembar kerja dan tes untuk melihat hasil yang telah dilakukan.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Tahap pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah implementasi RPP dan observasi.. Dalam 1 RPP dirancang terdiri dari 3 pertemuan.
Proses tindakan siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan sesuai dengan perencanaan awal yang telah dilakukan yaitu: (1) melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri; (2) menilai pelaksanaan pembelajaran bagi guru melalui lembar observasi yang sudah dibuat pada perencanaan awal; (3) melakukan tes formatif untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran tiap siklus.
Proses pengamatan dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan memberikan lembar observasi kepada observer. Pengisian lembar observasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Dan observasi meliputi observasi tentang aktivitas guru pada saat pembelajaran berlangsung.
Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan untuk memahami dan memaknai segala sesuatu yang berkaitan dengan proses hasil yang diperoleh akibat tindakan yang dilakukan. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap temuan-temuan yang berkaitan dengan hambatan dan kekurangan yang dijumpai selama tindakan berlangsung. Keleihan akan tetap di pertahankan, sedangkan kekurangan akan diperbaiki pada siklus 1.
3.3.1 Pelaksanaan Siklus I
3.3.1.1 Perencanaan tindakan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus I dilakukan melalui hasil ref leksi terhadap hasil observasi awal mata pelajaran matematika di kelas V, maka dengan bantuan teman sejawat observer melakukan identifikasi dan analisis permasalahan. Berdasarkan kesepakatan, diputuskan guru akan melakukan perbaikan pembelajaran yang difokuskan pada: (1) Ketrampilan guru terhadap metode kerja kelompok; (2) Perubahan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa selama menerima pembelajaran; (3) Perubahan nilai prestasi belajar siswa pada pembelajaran matematika. T

Tahapan perencanaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.3.1.1.1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peneliti menyusun RPP sesuai permasalahan dan dikonsultasikan dengan guru matematika yang bersangkutan dan dosen pembimbing. Contoh ptk sd kelas 5 pdf RPP disusun sesuai dengan metode pembelajaran kerja kelompok. Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
a) Siswa melakukan diskusi kelompok untuk memahami materi pembelajaran
b) Presentasi hasil diskusi oleh perwakilan beberapa kelompok Setelah siswa memahami materi, siswa berlatih memecahkan masalah dengan tahapan yai tu:
c) Siswa berpikir sendiri untuk memahami soal
d) Siswa melakukan diskusi berpasangan untuk merancang penyelesaian soal, menyelesaikan sesuai rencana, dan menafsirkan solusi yang diperoleh
e) Siswa melakukan diskusi berempat untuk mengoreksi dan memecahkan soal yang belum terselesaikan.
3.3.1.1.2 Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Menyiapkan Peraga
Peneliti menyusun LKS sesuai dengan materi dan telah dikonsultasikan dengan guru matematika dan dosen pembimbing, bertujuan untuk memandu siswa dalam memahami materi dan mengerjakan soal. LKS sebagai lembar evaluasi didesain dalam 2 kegiatan yaitu:
a) Kegiatan 1
Berisi panduan pemahaman materi bagi siswa. Kegiatan 1 dikerjakan oleh siswa dengan cara berdiskusi bersama kelompoknya. Hasil diskusi siswa pada kegiatan 1 dipresentasikan oleh perwakilan beberapa kelompok.
b) Kegiatan 2
Berisi soal-soal sebagai latihan bagi siswa untuk memecahkan masalah. Soal-soal ini dikerjakan oleh siswa dengan tahapan berpikir sendiri diskusi berpasangan, diskusi berempat. Dalam kegiatan ini siswa dipandu untuk menyelesaikan soal sesuai aspek pemecahan masalah, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian masalah, melaksanakan rencana penyelesaian, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Peneliti juga membuat alat peraga berupa 9 buah kubus dan 9 buah balok yang terbuat dari kertas karton.
3.3.1.1.3 Menyusun dan Menyiapkan Lembar Observasi
Lembar observasi yang disusun adalah lembar observasi keterlaksanaan pem belajaran dan lembar observasi aktifitas pemecahan masalah siswa. Lembar observasi keterl aksanaan pem belajaran di susun berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Lembar observasi aktifitas pemecahan masalah siswa disusun berdasarkan pada aspek-aspek pemecahan masalah yang akan diamati.
3.3.1.1.4 Menyusun Soal Tes
Peneliti menyusun soal tes yang akan diberikan pada akhir siklus. Soal tes disesuaikan dengan kisi-kisi yang telah di persi apkan.
3.3.1.2 Pelaksanaan tindakan dan pengamatan
Pada tahap ini guru melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan menggunakan metode pembelajaran kerja kelompok dengan tahapan: (1)siswa berdiskusi tentang materi pembelajaran secara berkelompok, (2) siswa mempresentasikan materi kemudian menyimpulkan, (3) siswa diberikan masalah/soal, siswa berpikir secara individu untuk memahami soal, (4) siswa berpikir berpasangan dalam menyelesaikan soal, (5) siswa kembali berkelompok untuk menyelesaikan soal, dan siswa bersama guru membahas soal. Kegiatan pembelajaran yang di laksanakan bersifat fleksibel artinya terbuka pada perubahan sesuai dengan kondisi di lapangan. Selama pelaksanaan pembelajaran, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran tersebut antara lain :

3.3.1.2.1 Kegiatan Awal
a) Kegiatan membuka pelajaran
b) Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya.
c) Memotivasi
belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan di ajarkan
d) Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
3.3.1.2.2 Kegiatan Inti
a) Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
b) Membentuk kelompok
c) Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa
d) Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
e) Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.
f) Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
3.3.1.2.3 Kegiatan Penutup
a) Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.
b) Melakukan evaluasi hasil dan proses
c) Melaksanakan tindak lanjut
Observasi atau pengamatan dilakukan selama pelaksanaan tindakan sebagai upaya untuk mengetahui proses pembelajaran dan aktifitas pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kerja kelompok.
Dalam melaksanakan observasi, peneliti dibantu oleh observer/ pengamat yang turut dalam mengamati pelaksanaan pembelajaran. Download ptk sd kelas 5 doc Pada tahap ini dilakukan pengamatan proses tindakan, hasil tindakan, situasi tempat tindakan, dan kendala-kendala tindakan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kesesuaian tindakan dengan rencana tindakan yang disusun sebelumnya dan aktifitas siswa dalam memecahkan soal/masalah.
Pengamatan tingkah laku pada peneliti selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yaitu: (1) Temuan-temuan tingkah laku yang diamati merupakan bahasan yang akan diteliti sebagai pendukung keberhasilan penelitian; (2) Pengamatan yang dilakukan untuk mengamati tingkah laku guru selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan oleh observer dengan menggunakan lembar pengamatan. Analisis nilai diperoleh dari hasil tes tertulis yang dilakukan siswa diperlukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Berdasarkan KKM yang telah ditentukan sekolah maka t 70 menyatakan siswa telah berhasil mencapai standar ketuntasan belajar, sedangkan nilai < 70 menyatakan bahwa siswa belum mencapai standar ketuntasan.
3.3.1 .3 Refleksi
Ref leksi berupa diskusi antara peneliti, guru matematika yang bersangkutan, dan juga pengamat. Refleksi dilakukan dengan meninj au hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran, observasi aktifitas pemecahan masalah, dan catatan lapangan. Berdasarkan observasi akan tampak hambatan dan kesulitan selama pembelajaran, sehingga dapat dilakukan evaluasi untuk mencari solusinya. Refleksi di lakukan setelah pembelajaran. Apabila hasilnya masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yakni lebih dari atau sama dengan (~) 70, maka penelitian dilanjutkan pada siklus II melalui proses perbaikan pembelajaran.
3.3.2 Pelaksanaan Siklus II
3.3.2.1 Perencanaan Tindakan
Tahap kerja pada siklus II seperti tahap kerja pada siklus I. Dalam hal ini rencana tindakan pada siklus II dilakukan berdasarkan ref leksi siklus I. Kegiatan-kegiatan pada siklus II dimaksudkan sebagai penyempurnaan /perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran siklus I. Tahapan pada siklus II meliputi:Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan melalui hasil ref leksi terhadap pembelajaran siklus I pelajaran matematika di kelas V. Penulis dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran, terlebih dahulu menyusun : (1) RPP; (2) Menyusun LKS, (3) Menyusun dan menyiapkan lembar observasi, (4) M enyusun soal tes. Contoh ptk kelas 5 sd
3.3.2.2 Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan di kelas V SDN ... 04 Kabupaten ...Dengan menggunakan instrumen penelitian, teman sejawat melakukan pengamatan perilaku guru pada waktu menyampaikan materi.
Pengamatan tingkah laku guru yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran menggunakan lembar pengamatan. Temuan-temuan tingkah laku yang diamati merupakan bahasan yang akan diteliti sebagai pendukung keberhasilan penelitian. Analisis nilai diperoleh dari hail tes tertulis yang dilakukan siswa diperlukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Berdasarkan KKM yang telah ditentukan sekolah, maka skor yang memperoleh lebih atau sama dengan ( t )70 menyatakan siswa telah berhasil mencapai standar ketuntasan belajar, sedangkan nilai < 70 menyatakan bahwa siswa belum mencapai standar ketuntasan.
3.3.2.3 Refleksi
Ref leksi siklus II menekankan pada hasil observasi yang digunakan untuk melihat apakah solusi permasalahan pada ref leksi siklus I ada hasilnya atau tidak. Selain itu, refleksi pada siklus II digunakan untuk membandingkan hasil antara siklus I dan siklus II. Pembandingan dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan pada kemampuan pemecahan masalah dari siklus I ke siklus II. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus.
Adapun gambar kegiatan PTK model spiral dari C. Kemmis dan Taggart disajikan dalam gambar seperti di bawah ini(Rochiati Wiriaatmadja, 2007: 66) :
 
Gambar 3.1 PTK Model Spiral dari C. Kemmis dan Taggart
Kegiatan penelitian ini merupakan penelitian yang sifatnya kolaboratif dan partisipatif karena adanya kerjasama antara peneliti dengan teman sejawat di kelas V SDN Setiadarma 04 Kabupaten Bekasi. Penelitian ini ditujukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran matematika, sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.
3.4 Jenis Data, Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian 
3.4.1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, dalam hal ini adalah siswa kelas V SDN Setiadarma 04 Kabupaten Bekasi. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumbernya, dalam hal ini adalah data perkembangan siswa. Download ptk sd kelas 5 lengkap 
3.4.2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan teknik observasi.
3.4.3. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan butir-butir soal. Dalam pengamatan disediakan lembar observasi dan butir soal. Adapun lembar observasi disajikan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Rubrik Pernyataan Sikap Siswa Terhadap
Guru Mata Pelajaran Matematika

Selanjutnya lembar observasi yang digunakan teman sejawat untuk mengamati proses perbaikan pembelajaran pada siklus II pada mata pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2 Rubrik Penilaian Implementasi RPP
Mata Pelajaran Matematika

Adapun saran-saran yang diberikan adalah guru harus mampu memberikan berbagai media, hal ini dengan pemberian cara berbagai media yang didesain guru, maka siswa akan mudah meningat apa yang sudah diberikan dalam proses pembelajaran.

Tabel 3.3
Kisi-kisi Instrumen Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok

Sedangkan untuk kisi-kisi variabel (y) atau variabel hasil belajar siswa dapat diuraikan di dalam tabel 3.4 berikut ini.

Tabel 3.4
Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Matematika

3.5. Indikator Kinerja
Pada penelitian Tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila 75% siswa berhasil tuntas dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) >70. Di samping itu pembelajaran, dengan menggunakan langkah-langkah metode kerja kelompok. Download ptk sd kelas 5 doc

3.6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif komparatif yang meliputi jumlah, mean, skor minimal-maksimal, persentase, membandingkan skor dan grafik/diagram.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA METODE KERJA KELOMPOK

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Bonwell dan Eison. 1991. dalam wikipedia Tersedia online: [http://en. wikipedia. org/wiki/active_learning#column-one].
Bruner, J.S. 1966. The Process Of Education. Cambridge: Harvard University Press.
Bruner, J. (1978). The Process of Educational Technology. Cambridge : Harvard University.
Bruner, J.S. 1965. A Study Of Thinking. New York: J. Wiley & Sons. Cambridge: Harvard University Press.
Departemen pendidikan Nasional. 2006. Kumpulan Permendiknas Tentang Stándar Nasional Pendidikan ( SNP ) dan Panduan KTSP. Jakarta: Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Depdikbud RI. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa.
Djahiri. 1993. Pengelolaan dan Strategi Pembelajaran. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Djauzah Ahmad. 1994. Landasan Program dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Balai Pustaka.
Djamarah, S. Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta.
De Poter, Bobbi dan Mike Henarcki. 2002. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Eggen, P. D. dan Kauchak, D.P. 1993. Strategies for Teachers Teaching Content and Thinking Skills. Third Edition Boston: Allyn & Bacon.
Farris, P.J. and Cooper, S.M. 1994. Elementary Social Studies. USA : Dubuque, Brown Communications, Inc.
Fontana. 1981. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia Widia Sarana.
Fuad Hasan. 1993. Petunjuk Proses Belajar Mengajar Pendidikan Menengah. Jakarta: Balai Pustaka.
Gagne, R. M. and N.E Paradise. 1970. Abilities and Learning Sets In Knowledge Acquisition. Psychological Monographs. University Press.
Hamalik,Oemar. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indo.
Skinner, B.F. 1969. Contingencies of Reinforcement. New York: Appleton-Century- Crofts.
Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology (3 ed). Englewood Cliffs New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Soedjadi. 1991. Psikologi Kepibadian (Psikoanalisis, Behaviorisme, Humanistik). Bandung : PT Erseco.
Sumantri, Mulyani. (2007). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sumarma. 1991. Pembelajaran Matematika untuk Mendukung Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah. Bandung : PPS UPI.
Wahyudin, Dinn. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Weton, D. A and Mallan, J.T. 1988. Children and Their World. Boston : Houghton Mifflin Coy.
Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widia Sarana.
Wiriti Wiriaatmaja, R, 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung PT Rosda Karya.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK MATEMATIKA KELAS 5 SD METODE KERJA KELOMPOK

Postingan terkait: