PTK IPS EKONOMI SMP KELAS VIII LENGKAP

PTK IPS EKONOMI SMP KELAS VIII LENGKAP-Awal proses yang menjadi kendala di SMPN 3 ... adalah keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih belum optimal, siswa masih cenderung diam dan kurang aktif pada saat proses pembelajaran, guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan observasi awal di SMPN 3 ... Kelas VIII.2, diperoleh data bahwa Kelas VIII.2 memiliki rata-rata nilai ulangan harian sebesar 69,83 yang berarti masih di bawah KKM. Hal ini disebabkan perlu adanya penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dalam proses belajar mengajar, salah satu alternatifnya dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII.2 SMPN 3 ... tahun ajaran 2015/2016. Download ptk ips smp pdf Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 70,5 1 dengan ketuntasan klasikal 44,33%, aktivitas siswa sebesar 77,5% dalam kategori tinggi, aktivitas guru dalam pembelajaran sebesar 72,5% atau kategori tinggi. Untuk hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 79,33 dengan ketuntasan klasikal 83,33%, aktivitas siswa 90% atau aktivitas siswa dalam kategori sangat tinggi, untuk aktivitas guru sebesar 92,5% dengan kriteria sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa Kelas VIII.2 SMPN 3 ... pada materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Saran yang berkaitan dengan hasil penelitian adalah perlu adanya kesiapan guru sebelum memulai pelajaran, guru dapat melakukan perbaikan pembelajaran bagi siswa yang belum tuntas belajar, guru juga ada baiknya meningkatkan penguasaan terhadap berbagai jenis metode pembelajaran dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti diklat atau seminar pendidikan, sekolah bisa lebih mengembangkan dan memanfaatkan sarana prasarana dalam proses pembelajaran.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas IPS SMP yang diberi judul 
 
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS PADA KOMPETENSI DASAR PERMINTAAN DAN PENAWARAN SERTA TERBENTUKNYA HARGA PASAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA KELAS VIII SMPN 3 ... 
"
.
 Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK IPS KELAS VIII lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 020).

DOWNLOAD PTK IPS EKONOMI PERMINTAAN KELAS VIII

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar adalah proses pokok yang harus dilalui oleh seorang pendidik atau guru. Berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan bergantung kepada bagaiaman proses belajar dan mengajar disajikan. Tenaga kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, mengembangkan, mengelola dan memberikan pelayanan tehnis dalam pendidikan. Salah satu unsur tenaga kependidikan adalah tenaga pengajar yang tugas utamanya adalah mengajar dan sekaligus membimbing. Berkaitan dengan ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar-mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang dicita-citakan (Sardiman,20 12:125).
Pada mata pelajaran IPS terpadu sebagian besar materinya berisi deskriptif, biasanya metode yang digunakan oleh guru adalah metode ceramah. Guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS terpadu ini menularkan pengetahuan dan informasi dengan menggunakan lisan. Dari hal ini dapat dilihat bahwa keaktifan siswa kurang berperan, sehingga untuk berfikir kreatifpun siswa mengalami hambatan, selain itu metode ceramah ini menimbulkan rasa bosan pada siswa, sehingga metode ini dirasa kurang efektif. Contoh ptk ips smp terbaru Oleh karena itu dalam proses belajar-mengajar perlu adanya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan mampu menciptakan suasana yang dapat mengaktifkan siswa khususnya pada mata pelajaran IPS terpadu.
Selain itu berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMPN 3 ... diketahui bahwa :
1. Guru masih menggunakan metode ceramah atau metode konvensional dalam proses pembelajaran
2. Guru kurang memberikan pertanyaan yang dapat memacu proses berfikir siswa.
3. Skor kemampuan kognitif siswa hanya diambil dari tugas siswa dan catatan, bukan dari keaktifan siswa dalam hal berfikir dan belajar bersama.
Hasil observasi yang telah dilakukan di SMPN 3 ... diperoleh informasi bahwa hasil belajar dan aktivitas belajar siswa didalam kelas pada saat proses pembelajaran masing rendah. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1.1.
Nilai Ulangan Harian Kompetensi Dasar Permintaan dan Penawaran Serta Terbentuknya Harga Pasar 2015/2016

KELAS SISWA
TUNTAS SISWA TIDAK
TUNTAS PERSENTASE SISWA
TIDAK TUNTAS
VIII A 20 10 33.3
VIII B 17 13 43.3
VIII C 17 13 43.3
VIII D 22 8 26.6
VIII E 19 11 36,6
VIII F 19 11 36.6
VIII G 20 10 33.3
VIII H 21 9 30

Hal ini terbukti dari jumlah siswa Kelas VIII.2 yang berjumlah 240 siswa terdapat 85 siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM padahal nilai ketuntasan untuk mata pelajaran ekonomi adalah 72. Rendahnya hasil belajar ini merupakan indikator rendahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (menjawab soal).
Berdasarkan teori belajar tuntas, seorang peserta didik dianggap tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi ataupun mencapai tujuan belajar minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut dari data diatas dapat diketahui bahwa 64,5% mampu memenuhi standar nilai yang ditetapkan sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa Kelas VIII.2 SMPN 3 ... belum mampu memenuhi standart ketuntasan belajar ekonomi.
Sekarang ini berkembang model-model pembelajaran pelajaran IPS terpadu yang dimadsudkan untuk lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif belajar. Dapat juga dikatakan model-model tersebut untuk mengupayakan agar pembelajaran terpusat pada guru (Teacher Oriented) berubah menjadi terpusat kepada siswa ( Student Oriented).
Salah satu model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala di atas adalah model pembelajaran teman sebaya (model pembelajaran tutor sebaya). Kita tahu bahwa kenyataannya, anak yang belajar dari anak-anak lain yang memiliki status dan umur yang sama, kematangan / harga diri yang tidak jauh berbeda, maka siswa tidak akan merasa terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap-sikap dari teman sebayanya yang bertindak sebagai guru tersebut. Anak bebas mencari hubungan yang bersifat pribadi dan bebas pula menguji dirinya dengan teman-teman lain. Dengan perasaan bebas yang dimiliki itu maka diharapkan anak dapat lebih aktif dalam berkomunikasi, sehingga dapat mempermudah mereka dalam memahami konsep / materi yang sedang diajarkan oleh guru. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini selain dapat meningkatkan kecakapan siswa dalam berkomunikasi juga dapat memberi solusi kepada siswa dalam memahami suatu konsep mata pelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka.
Pembelajaran tutor sebaya merupakan strategi belajar dengan kemampuannya berbeda. Dalam pembelajaran, setiap siswa harus bekerja sama dan saling membantu dalam memahami materi pembelajaran. Sehingga pada pembelajaran tutor sebaya ini dikatakan belum selesai apabila salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai materi pelajaran.
Menurut Suryono dan Amin (Djamarah, 2006:35) menyatakan ada beberapa kelebihan bimbingan tutor sebaya antara lain :
1. Adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
2. Bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
3. Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu.
4. Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab akan kepercayaan.
Hasil penelitian sebelumnya mengenai model pembelajaran Tutor Sebaya, Indah Purwanti (2008), Ketuntasan belajar siswa meningkat dari 62,79% menjadi 81,4% (Kategori tuntas). Dedy Herianto (2010) Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pembelajaran kooperatif Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah mata pelajaran teknologi komunikasi dan juga dapat meningkatkan keaktifan dan kerjasama siswa. Download ptk ips smp doc Menurut Moh. Amiruddin (2010) dengan model Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar pada tiap siklusnya mata pelajaran Ekonomi. selain itu, penerapan model ini dapat menjadikan kondisi kelas lebih hidup, dinamis, siswa menjadi lebih aktif dan meningkatkan semangat belajar.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pembelajaran IPS Terpadu dengan pendekatan pembelajaran Tutor Sebaya dengan berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS pada Kompetensi Dasar Permintaan dan Penawaran serta Terbentuknya Harga Pasar dengan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Kelas VIII SMPN 3 ...”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah :
Apakah model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar Kelas VIII.2 SMPN 3 ... ?
Seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar Kelas VIII.2 SMPN 3 ... melalui model pembelajaran tutor sebaya ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah :
1. Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar Kelas VIII.2 SMPN 3 ....
2. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar Kelas VIII.2 SMPN 3 ... melalui model pembelajaran Tutor Sebaya.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Manfaat bagi siswa
Dapat mengurangi kebosanan siswa dalam pelajaran yang sifatnya teoritis dan meningkatkan keaktifan siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
2. Manfaat bagi guru
Dapat menambah pengetahuan guru dalam memilih strategi dan model pembelajaran yang tepat agar hasil belajar siswa bisa meningkat, serta memberikan input (masukan) serta gambaran kepada guru mengenai motode pembelajaran untuk materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar, selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Download ptk ips smp doc 
3. Manfaat bagi peneliti
Untuk mengetahui kondisi sebenarnya bahwa metode pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di sekolah, sekaligus sebagai bekal pengetahuan saat nanti peneliti terjun ke dunia pendidikan.

CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS IPS EKONOMI SMP

BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Tinjauan Tentang Belajar
2.1.1 Pengertian Tentang Belajar
Belajar adalah ciri khas manusia, menurut Skiner berpandangan bahwa pada saat orang belajar, responnya menjadi kuat. Apabila ia tidak belajar, responnya menurun. Dalam belajar ditemukan (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar; (2) respon pembelajaran; (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Hamdani, 2010: 17-20). Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Menurut Slavin dalam Rifa’I (1994: 3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa, belajar merupakan proses atau tahapan yang harus dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang dipikirkan secara individu agar memperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang harapan.
2.1.2 Unsur – Unsur Belajar
Menurut Gagne dalam Rifa’I (1977: 4) unsur – unsur belajar adalah
a) Peserta didik, dapat diartikan sebagai peserta didik, warga didik, dan peserta pelatihan yang sedang melakukan kegiatan belajar. Contoh ptk ips smp kurikulum 2013 Dalam proses belajar rangsangan (stimulus) yang diterima oleh peserta didik diorganisir di dalam syaraf dan ada beberapa rangsangan yang disimpan di memori.
b) Rangsangan (Stimulus), peristiwa yang merangsang penginderaan peserta didik disebut stimulus. Agar peserta didik mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
c) Memori, memori yang ada pada peserta didik berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari kegiatan belajar sebelumnya.
d) Respon, adalah tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori. Respon dalam peserta didikan diamati pada akhir proses belajar yang disebut perubahan perilaku atau perubahan kinerja (performance).
Dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur belajar merupakan satu kesatuan dimana peserta didik dalam proses belajar perlu adanya rangsangan agar lebih fokus dalam menerima pelajaran, jika peserta didik dapat fokus menerima pelajaran maka memori siswa tentang pelajaran dapat optimal. Sehingga respon atau tindakan siswa dalam proses belajar dapat meningkat.

2.2 Tinjauan tentang Aktivitas Belajar
Seseorang melakukan aktivitas karena didorong oleh adanya faktor¬faktor kebutuhan biologis, insting, unsure-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya. Hubungan dengan kegiatan belajar yang perlu ditekankan adalah bagaimana agar siswa melakukan aktivitas belajar. Guru harus melakukan usaha-usaha untuk menumbuhkan dan memberi motivasi agar anak didik mampu melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Menurut Poerwadarminta (2003:23), aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar. Aktivitas dalam proses pembelajaran tidak hanya guru yang melakukan aktivitas dan siswa hanya mendengarkan dan menerima saja apa yang diberikan oleh guru sehingga dapat dilihat menurut guru siswa yang baik adalah siswa yang duduk diam, mendengarkan ceramah guru dengan penuh perhatian, tidak bertanya,tidak mengemukakan masalah. Siswa percaya saja dengan kebenaran kata-kata guru sehingga menjadikan siswa kurang kritis dan tidak ikut aktif dalam proses belajar. Jadi berdasarkan uraian di atas, aktivitas belajar adalah segala cara yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan tingkah laku sebagai suatu hasil latihan atas pengetahuan, baik jasmani maupun rohani.
Menurut Anton M. Mulyono (2001: 26), aktivitas artinya “kegiatan/keaktifan”. Segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan– kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2001: 28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, sikap dan sebagainya, jika seseorang telah belajar maka akan terlihat perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Berdasarkan aktivitas tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa, siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Selain itu dalam belajar terjadi dua proses, yaitu :
1. Perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar
2. Interaksi dengan lingkungannya baik berupa pribadi, fakta, dan sebagainya.
Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Menurut Paul B. Diedrich dalam Sardiman (2011: 101) aktivitas belajar digolongkan dalam beberapa klasifikasi antara lain :
visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing activities, motor activities dan mental activities.
1. Visual activities, yang termasuk didalamnya misal : membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities, misalnya : menyatakan, merumuskan, bertanya, member saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening activities, seperti : mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato.
4. Writing activities, misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities, seperti : menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7. Mental activities, misalnya : menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, misal : menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Dari berbagai pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan belajar, aktivitas disini ditekankan pada siswa karena dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi yang aktif jika ada aktivitas dari siswa itu sendiri.
Selain aktivitas siswa, guru juga mempunyai beberapa aspek yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru. Guru paling tidak harus memiliki dua modal dasar, yakni kemampuan mendisain program dan keterampilan mengkomunikasikan program itu kepada peserta didik. Download ptk ips terpadu smp doc Dua modal ini telah terumuskan di dalam “sepuluh kompetensi guru” itu meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenai fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran (Sardiman, 2010: 164).

2.3 Tinjauan Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek – aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam peserta didikan, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan peserta didikan.
Perumusan tujuan peserta didikan itu, yakni hasil belajar yang diinginkan pada diri peserta didik, lebih rumit karena tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan peserta didikan merupakan bentuk harapan yang dikomunikasikan melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang diinginkan pada diri peserta didik, yakni pernyataan tentang apa yang diinginkan peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Kerumitan pengukuran hasil belajar itu karena bersifat psikologis. Dalam kegiatan belajar, tujuan yang harus dicapai oleh setiap individu dalam belajar memiliki beberapa peranan penting, yaitu :
1. Memberikan arah pada kegiatan peserta didikan. Bagi pendidik, tujuan peserta didikan akan mengarahkan pemilihan strategi dan jenis kegiatan yang tepat. Kemudian bagi peserta didik, tujuan itu mengarahkan peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar yang diharapkan dan mampu menggunakan waktu seefisien mungkin.
2. Untuk mengetahui kemajuan belajar dan perlu tidaknya pemberian peserta didikan pembinaan bagi peserta didikan (remidial teaching).
1. Sebagai bahan komunikasi.
Hasil belajar juga merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan - keterampilan. Menurut Gagne dalam Anni (2011:90), hasil belajar berupa :
1. Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tertulis.
2. Kemampuan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
4. Ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam rangka urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Menurut Benyamin S. Bloom dalam Sardiman (2012:23) menyampaikan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah kognitif (cognitive domain), ranah afekif (afective domain), dan ranah psikomotorik (psychomotoric domain). Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation). Ranah afektif berkaitan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai.
Kategori tujuannya mencerminkan hirarkhi yang bertentangan dengan keinginan untuk menerima sampai dengan pembentukan pola hidup. Kategori tujuan peserta didikan afektif adalah penerimaan (receiving), penanggapan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), pembentukan pola hidup (organization by a value complex). Ranah psikomotorik berkaitan dengan kemampuan fisik seperti ketermpilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf.
Penjabaran ranah psikomotorik ini sangat sukar karena seringkali tumpang tindih dengan dengan ranah kognitif dan afektif. Kategori jenis perilaku untuk ranah psikomotorik menurut Elizabeth Simpson adalah persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided respons), gerakan terbiasa (mechanism), gerakan kompleks (complex overt response), penyesuaian (adaption), kreativitas (originality).
Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil akhir dari perubahan-perubahan perilaku yang dilakukan, perubahan yang diperoleh dapat berupa arahan kepada peserta didik dan mengetahui apakan perubahan itu memberi nilai yang lebih baik atau tidak.

2.4 Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Perkembangan model pembelajaran dari waktu kewaktu terus mengalami perubahan. Model-model pembelajaran tradisional kini mulai ditinggalkan berganti dengan model yang lebih modern. Salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning.
Secara sederhana kata “cooperative” berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai satu tim (Isjoni 2007:6). Cooperative learning menyangkut tehnik pengelompokan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan
belajar terdiri dari 4-6 orang. Menurut Nur dalam Isjoni (2009:27), pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan penciptaan pembelajaran yang berhasil mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik. Sanjaya (2007:242), Cooperative Learning merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/ tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (Heterogen). Pada hakikatnya model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran di mana siswa dapat belajar, bekerja sama dan berinteraksi dengan sesama siswa, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.
Isjoni (2007:20) mengemukakan beberapa ciri dari cooperative learning adalah setiap anggota memiliki peran,terjadi hubungan interaksi antar siswa,setiap anggota bertanggung jawab atas belajarnya dan juga kelompoknya. Cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju yang lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial.
Tujuan utama dari metode pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak¬tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang penting yang dirangkum Ibrahim, et al. 2000, yaitu: Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perilaku individu, pengembangan ketrampilan social (Isjoni 2007:28).
Dapat disimpulkan Cooperative Learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengejakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya dengan aturan – aturan yang tertentu. Download ptk ips smp pdf Serta secara sadar menciptakan interaksi sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan karena siswa merasa termotivasi oleh teman¬ - temannya.

2.5 Metode Pembelajaran Tutor Sebaya
Menurut etimologi tutor adalah guru pribadi,mengajar ekstra atau member les/pengajaran. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,dosen,konselor,pamong belajar,tutor dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta partisipasinya dalam menyelenggarakan pendidikan. Dimana tutor merupakan sebutan bagi orang yang mengajar dalam pendidikan non-formal, walaupun yang menjadi tutor adalah seorang guru dalam pendidikan formal. Metode tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri. Siswa dapat mengkonsultasikan tentang masalah yang ditemui secara periodik.
Menurut dedi Supriyadi mengemukakan, bahwa tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan (Suherman 2003:276). Tutor Sebaya artinya siswa yang mengalami kesulitan belajar diberi bantuan oleh teman-teman mereka sekelas yang mempunyai umur sebaya dengan dia.
Berdasarkan definisi tentang tutor sebaya diatas, maka dapat disimpulkan bahwa istilah tutor sebaya yang dimadsud dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengoptimalkan kemampuan siswa yang berprestasi dalam satu kelas untuk mengajarkan atau menularkan kepada teman sebaya mereka yang kurang berprestasi sehingga siswa kurang berprestasi bisa mengatasi ketertinggalan pembimbingan dalam pelajaran yang diberikan oleh siswa kepada yang siswa lain, sedangkan antara pembimbing dan yang dibimbing adalah teman sekelas atau teman sebangku yang usianya relative sama dan siswayang kurang paham bisa bertanya langsung kepada teman sebangkunya atau tutor yang ditunjuk sehingga kondisi kelas bisa hidup karena siswa tidak malu bertanya ketika mereka tidak paham.
A. Kriteria Tutor Sebaya
Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas
2. Mampu menjalin kerjasama dengan sesama teman
3. Memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik
4. Memliki sikap toleransi, tenggang rasa, dan ramah dengan sesama
5. Memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya menjadi yang terbaik
6. Bersikap rendah hati, pemberani, dan tanggung jawab. Suka membantu temannya yang mengalami kesulitan.
B. Tugas dan Tanggung Jawab Tutor Sebaya
Tutor memiliki tugas dan tanggung jawab :
1. Memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi yang dipelajari
2. Mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis
3. Menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai.
C. Cara menyiapkan Tutor Sebaya
1. Guru memberikan petunjuk pada tutor bagaimana mendekati temannya dalam hal memahami materi.
2. Guru menyampaikan pesan kepada tutor agar tidak slalu membimbing teman yang sama.
3. Guru membantu agar semua siswa dapat menjadi tutor sehingga mereka dapat membantu teman belajar.
4. Tutor sebaiknya bekerja dalam kelompok kecil, campuran, siswa berbagai kemampuan (heterogen) akan lebih baik.
5. Guru membantu agar semua siswa dapat menjadi tutor sehingga mereka merasa dapat membatu teman belajar.
6. Guru memonitoring terus kapan tutor maupun siswa yang lain butuh pertolongan.
7. Guru memonitoring terus kapan tutor maupun siswa lain membutuhkan pertolongan.
8. Guru memonitoring tutor sebaya dengan berkunjung dan menanyakan kesulitan yang dihadapi kelompok pada saat mereka diskusi di kelas maupun pratikum.
9. Tutor tidak mengetes temannya untuk grade, biarkan hal ini dilakukan guru.
Cara membagi kelompok tutor sebaya merupakan bagian dari Cooperative Learning atau belajar bersama. Dalam metode ini siswa yang kurang mampu dibantu belajar oleh teman-teman sendiri yang lebih mampu dalam suatu kelompok. Contoh ptk ips smp terbaru Bentuknya adalah satu tutor membimbing satu teman, atau satu tutor membimbing beberapa teman dalam satu kelompok.
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan metode tutor sebaya yaitu
1. Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada gurunya.
2. Bagi tutor pekerjaan tutoring akan dapat memperkuat konsep yang sedang dibahas.
3. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
4. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
5. Mempererat hubungan antar siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
Kekurangan metode Tutor Sebaya yaitu
1. Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan temannya sediri sehingga hasilnya kurang memuaskan.
2. Ada beberapa siswa yang malu atau enggan untuk bertanya karena takut kelemahannya diketahui oleh temannya.
3. Pada kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan karena perbedaan jenis kelamin antara tutor dengan siswa yang diberikan program perbaikan.
4. Bagi guru yang sukar untuk menentukan tutor sebaya karena tidak semua siswa pandai dapat mengajarkannya kembali kepada temannya.
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode tutor sebaya dalam pendidikan anak diajak untuk mandiri, dewasa dan punya rasa kesetia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor bagi temannya yang kurang pandai atau tertinggal. Disini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja.

2.6 Kerangka Berpikir
Proses pembelajaran dalam pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan penerapan konsep diri. Keberhasilan proses pembelajaran dalam dunia pendidikan tercermin dalam peningkatan prestasi dalam kegiatan belajar mengajar, untuk itu perlu adanya peran aktif seluruh komponen pendidikan terutama siswa yang berfungsi sebagai input sekaligus sebagai calon output, dan juga guru sebagai fasilitator. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan anak didik dikelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan. “Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas untuk membantu perkembangan siswa” (Slameto, 2010:79).
Kegiatan guru dalam belajar mengajar perlu diperhatikan. “Kegiatan guru yang dimaksud adalah berkaitan dengan model pembelajaran yang digunakan sehingga mampu membangkitkan motivasi siswa”. Joyce dalam Trianto (2007:5) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. “Dalam mengajarkan pokok bahasan tertentu harus dipilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai” (Trianto, 2007:9).
Model pembelajaran yang sering diterapkan oleh guru pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar adalah pembelajaran konvensional yaitu modifikasi antara metode ceramah, metode tanya jawab dan metode tugas. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional terdapat beberapa kelemahan. Siswa cenderung hanya mendengarkan dan menerima penjelasan dari guru sehingga siswa kesulitan memahami materi. Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar masih rendah, karena model pembelajaran ini merupakan kegiatan mengajar yang berpusat pada guru dan siswa malas untuk bekerja sama dengan temannya.
Berdasarkan hal tersebut model pembelajaran yang lebih tepat, sehingga aktivitas siswa dalam proses belajar dapat meningkat. Jika meningkat, maka akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Download ptk ips smp doc Model pembelajaran yang lebih tepat untuk materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar menurut peneliti adalah model pembelajaran tutor sebaya. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka penulis kemukakan gambar skema kerangka berpikir sebagai berikut :
 
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
2.7 Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah “Adanya Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Permintaan dan penawaran serta Terbentuknya Harga Pasar dengan menerapkan model pembelajaran Tutor Sebaya pada Siswa Kelas VIII.2 SMPN 3 ... Tahun Ajaran 2015/2016.”
 

PTK IPS EKONOMI SMP TERBARU

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) atau Class Room Action Research. Penelitian tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain (Suharsimi, 2006: 90). Oleh karena itu dalam PTK dikenal adanya siklus pelaksanaan berupa pola:
1. Perencanaan
Perencanaan yaitu kegiatan menetapkan tindakan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Perencanaan merupakan persiapan yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya untuk menyelesaikan masalah. Rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah (1) menyiapkan materi dan menyusun rencana pembelajaran, (2) menyiapkan media dan alat yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, (3) membuat dan menyiapkan soal yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.
2. Tindakan
Pada tahap ini, Pelaksanaan tindakan merupakan suatu kegiatan dilaksanakannya tahapan pembelajaran yang telah direncanakan, dalam hal ini melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disiapkan.
3. Pengamatan
Pengamatan adalah suatu kegiatan mengamati jalannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dan guru untuk memantau sejauh mana efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya pada tiap siklus. Download ptk ips terpadu smp doc
4. Refleksi
“Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi” (Suharsimi, 2006: 99). Kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, guru, dan suasana kelas. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana kegiatan selanjutnya atau terhadap rencana siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis tes siklus 1. Contoh ptk ips smp kurikulum 2013 Dari hasil tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil tes siklus II. Masalah - masalah yang timbul pada sikus I akan dicarikan alternatif pemecahanya pada siklus II. Sedangkan kelebihannya akan dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

3.2 Setting Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMPN 3 ... yang terletak di jalan Raya ... Kecamatan ... Kabupaten ....

3.3 Subjek Penelitian
Subjek penelitian diambil adalah siswa Kelas VIII.2.2 yang berjumlah 25 siswa. Waktu pelaksanaan semester genap tahun pelajaran 2015/2016.

3.4 Faktor yang Diteliti
Faktor yang diteliti dalam hal ini adalah :
a. Faktor guru yaitu cara guru dalam merencanakan pembelajaran dan cara guru dalam proses belajar dengan menerapkan strategi pembelajaran tutor sebaya.
b. Faktor siswa yaitu :
1. Melihat aktivitas siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat pada materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar yang telah disampaikan guru dengan menerapkan metode tutor sebaya .
2. Hasil belajar siswa setelah kegiatan pembelajaran yang berasal dari nilai tes pada setiap akhir siklus.

3.5 Rancangan Penelitian
Penelitian ini direncanakan dengan melewati beberapa siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan : 1) Tahap perencanaan, 2) Tahap tindakan, 3) Tahap observasi, 4) Tahap refleksi.
1) Perencanaan
Perencanaan merupakan persiapan yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya untuk menyelesaikan masalah. Rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk mata pelajaran IPS Ekonomi Kelas VIII.2 permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar.
b. Menyusun Lembar kerja siswa
c. Menyusun format penilaian (unjuk kerja) dan observasi.
d. Mengadakan tes awal untuk menentukan kelompok yang menjadi tutor dan kelompok teman.
e. Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan.
2) Pelaksanaan dan Pengamatan
A. Pendahuluan
a. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Menyiapkan materi IPS terpadu tentang permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar yang terangkum dalam modul pembelajaran
c. Membuat instrumen penelitian
d. Melakukan pembagian kelompok
e. Membagi kelompok antara tutor dengan anggota kelompoknya
f. Presentasi kelompok
B. Inti
Didalam kelas siswa diharapkan dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik
a. Mendengarkan saat guru sedang menerangkan materi pembelajaran.
b. Menanyakan apa yang belum paham dari materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar, yang disampaikan oleh guru. Download ptk ips smp doc
c. Melaksanakan atau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dengan penuh rasa tanggung jawab, cermat dan cepat.
C. Penutup
a. Guru dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar hari itu.
b. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya, apabila siswa tersebut merasa kurang paham atas materi yang di sampaikan.
Pelaksanaan tindakan merupakan suatu kegiatan dilaksanakannya tahapan pembelajaran yang telah direncanakan, dalam hal ini sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disiapkan.  
3). Refleksi
“Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi” (Suharsimi, 2006: 99). Kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, guru, dan suasana kelas. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana kegiatan selanjutnya atau terhadap rencana siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis tes siklus 1. Dari hasil tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil tes siklus II. Masalah - masalah yang timbul pada sikus I akan dicarikan alternatif pemecahanya pada siklus II. Sedangkan kelebihanya akan dipertahankan dan ditingkatkan lagi.
Adapun metode dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:
 
Gambar 3.1. Skema Rancangan Penelitian
3.6 Analisis Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran.
2. Tes Evaluasi
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar. Tes ini diberikan pada akhir siklus.
3. Lembar Kerja Siswa
Lembar kegiatan ini yang digunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil proses pembelajaran
4. Validitas Tes
Validitas dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya soal yang akan digunakan dalam strategi pembelajaran tutor sebaya. Tingkat kevalidan dapat dihitung dengan korelasi Product
 Moment:
Keterangan:
rXY = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan
X = Skor soal yang dicari validitasnya
Y = Skor total
N = Jumlah peserta tes
∑X2 = Jumlah kuadrat nilai x
∑Y2 = Jumlah kuadrat nilai y
∑XY = Jumlah perkalian skor item dengan skor total
(Suharsimi, 2009: 72)

Hasil perhitungan rXY dikonsentrasikan dengan taraf signifikansi 5% atau taraf kepercayaan 95%. Jika didapatkan harga rXY > rtabel maka butir instrumen dapat dikatakan valid, akan tetapi sebaliknya jika harga rXY < rtabel maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak valid.
Soal uji coba yang diberikan sebanyak 50 butir soal dan dari hasil uji coba yang termasuk kategori valid adalah soal nomor 1, 2, 3,4, 5, 7, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, 30, 31, 34, 35, 36, 37, 40, 41, 43, 45, 46, 47, 48, 50. Sedangkan yang tidak valid soal nomor 8, 12, 18, 21, 26, 32, 33, 38, 39, 42, 44 dan 49. 12 soal tersebut dibuang karena sudah terwakili dengan soal yang lain dalam indikator tersebut. Download ptk ips smp pdf Pada penelitian ini peneliti mengambil 20 soal yang mencakup permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar yang telah valid semuanya.
5. Reliabilitas
Reliabilitas dalam penelitian ini menunjukkan pada tingkat konsistensi dan dapat dipercaya suatu instrumen dalam mengumpulkan data. Untuk mengetahui reliabilitas soal melalui penerapan metode pembelajaran tutor sebaya materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar peneliti menggunakan rumus KR-20, yaitu 
Keterangan :
r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan
p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p)
∑pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q
n = Banyaknya item
S = Standar deviasi dari tes
(standar deviasi adalah akar varians)
(Suharsimi, 2009:100)

Setelah r11 diketahui, kemudian dibandingkan dengan harga rtabel. Apabila r11 > rtabel maka dikatakan instrumen tersebut reliabel. Berdasarkan hasil uji coba instrumen yang telah dilaksanakan diperoleh hasil pada a = 5% dengan N = 30 diperoleh rtabel = 0,361.
Karena r11 > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa soal tersebut reliabel.
6.  Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat kesukaran soal untuk pilihan ganda dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria soal bentuk pilihan ganda adalah sebagai berikut:
1. Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
2. Soal dengan P 0,31 sampai 0,70 adalah soal sedang
3. Soal dengan P 0,71 sampai 1,00 adalah soal mudah

Berdasarkan hasil uji coba dari 50 soal terdapat 12 soal dengan kategori mudah yaitu soal nomor 10, 11, 28, 30, 31, 32, 34, 37, 38, 44, 45, 50. Soal dengan tingkat kategori sedang ada 28 soal yaitu nomor 2, 7, 9, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 25, 26, 27, 33, 35, 36, 39, 40, 41, 42, 43, 46, 47, 48, 49. Soal dengan kategori sukar ada 10 soal yaitu nomor 1, 3, 4, 5, 6, 8, 12, 22, 24, 29.
7. Daya Pembeda
Menurut Suharsimi (2009:211) daya pembeda soal, adalah “kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).” Rumus yang digunakan untuk bentuk soal pilihan ganda adalah sebagai berikut: 
Keterangan:
J = Jumlah peserta tes
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
(ingat, P sebagai indeks kesukaran)
PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Untuk mengetahui soal-soal yang akan dipakai berdasarkan daya pembeda soal, digunakan klasifikasi sebagai berikut: Contoh ptk ips smp terbaru 
D = 0,00-0,20 = jelek
D = 0,21-0,40 = cukup
D = 0,41-0,70 = baik
D = 0,71-1,00 = baik sekali
D = negatif semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
(Suharsimi, 2009:218)

Dari 50 soal yang diuji cobakan diperoleh daya pembeda dalam kategori jelek sebanyak 12 soal yaitu soal nomor 8, 12, 18, 19, 21, 26, 32, 33, 38, 39, 44, 49. Soal dengan daya pembeda dalam kategori cukup sebanyak 21 soal yaitu nomor 1, 3, 4, 5, 9, 10, 11, 13, 14, 16, 22, 23, 24, 28, 30, 31, 34, 37, 41, 46, 50. Soal dengan daya pembeda dengan kategori baik sebanyak 17 soal yaitu nomor 2, 6, 7, 15, 17, 20, 25, 27, 29, 35, 36, 40, 42, 43, 45, 47, 48. Download ptk ips terpadu smp doc
8. Lembar Observasi
Lembar pengamatan merupakan alat untuk mengumpulkan data berupa sebuah daftar aspek-aspek yang akan diamati. Dalam proses observasi, pengamatan memberikan tanda (¥) pada kolom yang tersedia sesuai dengan aspek yang akan diamati. skor pengamatan untuk siswa bertujuan untuk mengetahui siswa yang aktif selama pembelajaran. Sedangkan skor pengamatan untuk guru bertujuan untuk mengetahui aktifitas guru dalam pemahaman dan mengelola metode pembelajaran tutor sebaya.

3.7 Metode Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Dalam teknik ini peneliti memperdalam informasi dari benda¬benda tertulis seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.
Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data awal yang berupa daftar nilai harian permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar siswa Kelas VIII.2 semester II tahun ajaran 2012 / 2013 pada guru bidang studi IPS Ekonomi.
2. Metode Tes
Metode ini digunakan sebagai data penilaian untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada materi prinsip dan motif ekonomi Kelas VIII.2 SMPN 3 ... setelah proses pembelajaran pada tiap siklusnya. Untuk memperoleh data yang akurat, soal tes yang digunakan sebagai alat evaluasi terlebih dahulu diuji cobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda soal.
3. Metode Observasi
Metode observasi yaitu peneliti datang ke obyek penelitian, metode ini digunakan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa.

3.8 Metode Analisis Data
1. Untuk menilai tes evaluasi
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap siklus dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir siklus. Download ptk ips smp doc Analisis ini dapat dihitung dengan menggunakan statistik sederhana sebagai berikut:
  (Sudjana, 2005:67)
Keterangan:
X = nilai rerata
X = jumlah nilai seluruh siswa
N = banyaknya siswa yang mengikuti tes
a. Untuk ketuntasan belajar
 
Keterangan:
% = tingkat persentase yang dicapai 
n = jumlah nilai tuntas
N = jumlah seluruh siswa
b. Untuk aktivitas guru dan aktivitas siswa
 
3.9 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan yang dijadikan tolak ukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap individu dengan nilai 73 dan ketuntasan klasikal 75% setiap kelas yang ditentukan oleh pihak sekolah.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK IPS EKONOMI SMP

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Amirrudin, Moh. 2010. Implementasi Metode Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII A MTS¬ AL- MA’ARIF 01 Singosari Malang. Skripsi. Malang:
Pendidikan IPS Tarbiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Catharina Tri Anni,Achmad Rifa’i. 2011. Psikologi Pendidikan. Unnes Press.
Drs Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah.20 10. Strategi Belajar Men gajar. Jakarta:Rinneka Cipta.
Harianto, Dedy. Jurnal Efektivitas Model Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Siswa Dalam Belajar Microsoft Excel Kelas VI SMP D UA MEI BANJARAN. Jurnal UPI Bandung. 2009.
Isjoni. 2012. Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok. Bandung:Alfabeta.
Mudjiono,Dimyati. 2009. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rinneka Cipta.
Oemar,Hamalik.2007.Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta:Bumi aksara.
Poerwadarminta. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Sardiman. 2011. Interaksi Dan Motivasi Belajar-mengajar. Jakarta:Rajawali Pers.
S, Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suherman. E, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.
Trianto.2007. Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrustik. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya PTK IPS EKONOMI SMP KELAS VIII LENGKAP

Postingan terkait: