CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX NARASI

CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX NARASI-Menulis merupakan kegiatan yang bersifat berkelanjutan sehingga pembelajarannya pun perlu dilakukan secara berkesinambungan sejak sekolah dasar. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa menulis merupakan kemampuan dasar sebagai bekal belajar menulis di jenjang berikutnya. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc Oleh karena itu, pembelajaran menulis di sekolah perlu mendapat perhatian yang optimal sehingga dapat memenuhi target kemampuan menulis yang diharapkan. Menulis sebagai suatu kegiatan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif merupakan kemampuan yang menuntut adanya kegiatan encoding yaitu kegiatan untuk menghasilkan atau menyampaikan isi bahasa kepada pihak lain melalui tulisan
Menulis merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap orang yang terlibat dalam kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan lain-lain. Hal ini disebabkan semua aktivitas komunikasi saat ini tidak dapat melepaskan diri dari pemanfaatan sarana tulis. Dengan menulis seseorang dapat menceritakan ide, perasaan, peristiwa, dan benda kepada orang lain, oleh karena itu, ini perlu diajarkan di sekolah dasar dengan tepat. Selain itu menulis juga merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Adapaun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan menggunakan metode field trip. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis memberikan tes dan menyebarkan angket kepada siswa. Di samping itu, penulis melakukan wawancara kepada guru bidang studi bahasa Indonesia.
Setelah dilakukannya penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran menulis siswa dapat meningkat setelah menggunakan metode field trip dan siswa pun lebih termotivasi dalam belajar, terutama belajar menulis paragraf narasi. Dan siswa pun mampu menuangkan ide/gagasan dan mengembangkanya sehingga kemampuan menulis narasi siswa dapat terkembangkan dengan optimal.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA SMP yang diberi judul 
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF 
NARASI DENGAN PENGGUNAAN METODE FIELD TRIP 
PADA SISWA KELAS 9 DI SMP NEGERI 2 ... 
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
"
.
 Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 018).

CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMP

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi, bahasa merupakan sarana komunikasi dalam masyarakat yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, seseorang perlu belajar cara berbahasa yang baik dan benar. Pembelajaran tersebut akan lebih baik manakala dipelajari sejak dini dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa disertakan dalam kurikulum, hal ini berarti setiap peserta didik dituntut untuk mampu menguasai bahasa yang mereka pelajari terutama bahasa resmi yang dipakai oleh negara yang di tempati peserta didik. Begitu pula di Indonesia, bahasa Indonesia menjadi materi pembelajaran yang wajib diberikan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal itu dilakukan agar peserta didik mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta mampu menerapkannya dalam kehidupan masyarakat.
Pengajaran bahasa Indonesia terdiri dari beberapa aspek kemampuan berbahasa dan bersastra. Kemampuan berbahasa dan bersastra meliputi empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, salah satu dari keempat keterampilan itu yakni keterampilan menulis. Download ptk bahasa indonesia smp pdf Keterampilan menulis tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi melalui proses belajar mengajar. Menulis merupakan kegiatan yang bersifat berkelanjutan sehingga pembelajarannya pun perlu dilakukan secara berkesinambungan sejak sekolah dasar. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa menulis merupakan
kemampuan dasar sebagai bekal belajar menulis dijenjang berikutnya. Oleh karena itu, pembelajaran menulis di sekolah perlu mendapat perhatian yang optimal sehingga dapat memenuhi target kemampuan menulis yang diharapkan. Menulis sebagai suatu kegiatan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif merupakan kemampuan yang menuntut adanya kegiatan encoding yaitu kegiatan untuk menghasilkan atau menyampaikan bahasa kepada pihak lain melalui tulisan
Menulis merupakan media untuk berkomunikasi seseorang kepada orang lain, namun banyak guru mengalami kesulitan untuk membiasakan anak belajar menulis.Masalah utamanya adalah siswa sulit menentukan pilihan kata, menggabungkan kalimat dan menuangkan ide dalam tulisan narasi. Kesulitan ini menyebabkan rendahnya kualitas tulisan siswa baik pada aspek isi maupun kebahasaan. Maka dari itu penggunaan metode sangat penting kehadirannya dalam pelajaran, namun kegiatan belajar mengajar yang disertai dengan penggunaan metode pembelajaran sangat tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu cara mengajar guru harus menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi secara kreatif.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menunjang prestasi belajar menulis adalah dengan menggunakan metode field trip. Metode ini dilakukan karena melihat kondisi siswa dalam menerima materi menulis belum sesuai dengan harapan. Selain itu, peneliti beranggapan metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap hasil pekerjaan siswa dalam menulis. Masalah lain yang muncul siswa akan berpersepsi negatif terhadap materi menulis, karena metode dan media yang digunakan terkesan membosankan dan membingungkan. Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek yang lain, hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajaran dengan melihat kenyataannya.
Melihat pentingnya penggunaan metode untuk menumbuhkan motivasi, minat dan aktivitas siswa dalam belajar, serta dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada peningkatan kemampuan menulis. Maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Narasi dengan Penggunaan Metode Field Trip Pada Siswa Kelas 9.3 di SMPN 2 ... ”.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, identifikasi masalah yang timbul adalah sebagai berikut:
1. Kendala yang dihadapi siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi.
2. Penerapan metode field trip dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi.
3. Penggunaan metode field trip dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.

C. Rumusan Masalah dan Hipotesis
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan tersebut, maka rumusan masalah yang timbul adalah:
1. Bagaimana upaya peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi siswa Kelas 9.3 di SMPN 2 ...?
2. Apakah penggunaan metode field trip dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa?
3. Apakah penerapan metode field trip dapat meningkatkan kualitas hasil
pembelajaran menulis narasi siswa Kelas 9.3 di SMPN 2 ...?
Hipotesis penelitian ini diharapkan dengan digunakannya metode field trip kegiatan menulis paragraf narasi dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis narasi. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc  Dengan demikian, dapat dirumuskan hipotesis bahwa penggunaan metode field trip dapat meningkatkan keterampilan dan kualitas hasil pembelajaran menulis narasi.

D. Pembatasan Masalah
Sedangkan pembatasan masalah penulis membatasi pada penggunaan metode field trip dalam pembelajaran menulis paragraf narasi. Namun mengingat keterbatasan peneliti dalam hal waktu, biaya, dan kemampuan akademik, masalah yang diangkat dalam penelitian ini dibatasi pada peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip pada siswa Kelas 9.3 di SMPN 2 ....

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis paragraf narasi siswa.
2. Untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi siswa.
3. Untuk memperbaiki mutu praktek pembelajaran di kelas.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai:
a. Untuk Guru
Untuk menambah khasanah keilmuan teori-teori SMPN 2 ....
b. Untuk Siswa
Memberikan pembelajaran menulis paragraf narasi.
c. Untuk Peneliti
Mengaplikasikan teori yang diperoleh
2. Manfaat praktis
a. Untuk siswa
1). Sebagai sumber belajar bagi siswa yang menaruh perhatian pada kajian tentang penulisan terutama penulisan paragraf narasi.
2). Memberikan kemudahan bagi siswa dalam menemukan ide tulisan.
3). Menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
4). Meningkatkan kemampuan menulis narasi bagi siswa.
b. Untuk guru
1). Sebagai panduan bagi guru dalam mengajar bahasa Indonesia khususnya dalam pelajaran menulis narasi.
2). Menjadi acuan bagi guru untuk membuat pembelajaran menulis narasi lebih kreatif dan inovatif
3). Sebagai bahan pengayaan bagi guru-guru yang mengajar bahasa Indonesia dalam mengajarkan topik paragraf Contoh ptk bahasa indonesia smp doc 
4). Membantu guru memperbaiki pembelajaran menulis paragraf narasi.
c. Untuk peneliti
1). Mengaplikasikan teori yang diperoleh
2). Menambah pengalaman peneliti dalam penelitian yang terkait dengan pembelajaran menulis.
 

DOWNLOAD PTK BAHASA INDONESIA KELAS 9 SMP

BAB II
ACUAN TEORETIS

A. Hakikat Menulis
1. Pengertian menulis
Menulis adalah kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Aktivitas menulis melibatkan unsur penulis sebagai penyampai pesan, atau isi tulisan, saluran atau media tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
Menulis merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap orang yang terlibat dalam kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan lain-lain. Hal ini disebabkan semua aktivitas komunikasi saat ini tidak dapat melepaskan diri dari pemanfaatan sarana tulis. Dengan menulis seseorang dapat menceritakan ide, perasaan, peristiwa, dan benda kepada orang lain, oleh karena itu, kemampuan ini perlu diajarkan di sekolah dasar tepat. Selain itu menulis juga merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa.
Dengan menulis dapat melatih kita untuk berpikir kritis dan logis, serta dapat mengungkapkan perasaan ide, gagasan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik itu. Gambar atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan-kesatuan bahasa.Kemampuan menulis memang harus terus-menerus dibina, karena kegiatan menulis menyangkut upaya perekaman ilmu pengetahuan. Akan sulit sekali penyebaran ilmu pengetahuan tanpa adanya sarana tulis ini.
Menurut Nurgiantoro dalam bukunya yang berjudul ”Kajian Prosa Fiksi” mengungkapkan bahwa menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Batasan yang dibuat Nurgiantoro sangat sederhana, menurutnya menulis hanya sekedar mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat dalam bahasa tulis, lepas dari mudah tidaknya tulisan tersebut dipahami oleh pembaca. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013 Pendapat senada disampaikan oleh Semi menyatakan menulis sebagai tindakan pemindahan pikiran atau perasaan dalam bahasa tulis dengan menggunakan lambang-lambang atau grafem.
Sedikit berbeda dari kedua pakar di atas, Gie menambahkan bahwa menulis diistilahkan mengarang yaitu segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Dengan mencermati pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya mengungkapkan gagasan melalui media bahasa tulis saja tetapi juga meramu tulisan tersebut agar dapat dipahami oleh pembaca.
Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa setidaknya ada tiga hal yang ada dalam aktivitas menulis yaitu adanya ide atau gagasan yang melandasi seseorang untuk menulis, adanya media berupa bahasa tulis, dan adanya tujuan menjadikan pembaca memahami pesan atau informasi yang disampaikan oleh penulis.
Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang komplek karena penulis dituntut dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya serta menuangkannya dalam formulasi ragam bahasa tulis. Di balik kerumitanya, menulis mengandung banyak manfaat bagi pengembangan mental, intelektual, dan sosial seseorang. Menulis dapat meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian, serta merangsang kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Sayangnya, tidak banyak orang yang menyukai tulis-menulis karena mungkin merasa tidak berbakat, serta tidak tahu untuk apa dan bagaimana harus menulis, keadaan ini tentu saja tidak lepas dari lingkungan dan pengalaman belajar menulis di sekolah. Menulis sebagai aktivitas berbahasa tidak dapat dilepas dari kegiatan berbahasa lainnya. Apa yang diperoleh melalui menyimak, membaca, dan berbicara, akan memberikan masukan berharga untuk kegiatan menulis.
Akan tetapi pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena dapat memudahkan bagi para pelajar berpikir secara kritis serta memperdalam daya tanggap atau persepsi, terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.
Di samping itu tidak jarang kita menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan mengenai orang-orang, gagasan-gagasan, masalah-masalah, dan kejadian-kejadian hanya dalam proses menulis yang aktual. Salah satunya dari tugas-tugas terpenting sang penulis sebagai penulis adalah menguasai prinsip¬prinsip menulis dan berpikir, yang akan dapat menolongnya mencapai maksud dan tujuannya. Yang paling penting di antara prinsip-prinsip yang dimaksud adalah penemuan, susunan, dan gaya. Secara singkat, belajar menulis adalah belajar berfikir dalam atau dengan cara tertentu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh D’Angelo dikutip dari bukunya Tarigan yang berjudul Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa yakni penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan itu adalah:
a. Maksud dan tujuan sang penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi pada diri pembaca).
b. Pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orang tua, kenalan atau teman sang penulis)
c. Waktu dan kesempatan (keadaan-keadaan yang melibatkan berlangsungnya suatu kejadian tertentu, waktu, tempat, masalah yang memerlukan pemecahan, pertanyaan yang menuntut jawaban, dan sebagainya).
2. Jenis-jenis tulisan
Menurut Semi terdapat empat bentuk pengembangan tulisan yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Sementara itu, Keraf membagi karangan atau wacana menjadi lima jenis berdasarkan tujuan umum yang tersirat dibalik wacana tersebut, yaitu eksposisi, argumentasi, persuasi, deskripsi, dan narasi.
a. Narasi
Narasi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan karangan dan tulisan yang bersifat sejarah sesuatu berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Narasi mementingkan urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian, dan masalah. Contoh ptk bahasa indonesia smp kelas 9 pdf Narasi bisa berisi fakta, bisa pula fiksi atau rekaman yang direka-reka atau dikhayalkan oleh pengarangnya saja yang berbentuk fakta contohnya biografi, autobiografi, kisah-kisah sejati, sedangkan yang berbentuk fiksi antara lain novel, cerpen, cerbung.
b. Deskripsi
Deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang hidup dan berpengaruh. Karangan deskripsi berhubungan dengan pengalaman pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasaan. Deskripsi memberikan suatu gambaran tentang suatu peristiwa atau kejadian dan masalah. Untuk menulis suatu deskripsi yang baik seseorang pengarang harus dekat kepada objek dan masalah dengan semua pancaindera.
c. Eksposisi
Eksposisi merupakan tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Dalam hal wacana eksposisi, yang dipaparkan itu adalah buah pikiran atau ide, perasaan atau pendapat penulisnya untuk diketahui orang lain. Oleh karena itu, terlebih dahulu haruslah ada suatu hal, suatu buah pikiran, atau suatu isi hati, atau suatu pendapat yang akan kita ungkapkan.
d. Argumentasi
Argumentasi merupakan satu bentuk karangan eksposisi yang khusus. Pengarang argumentasi berusaha untuk meyakinkan atau membujuk pembaca atau pendengar untuk percaya dan menerima apa yang dikatakan, dalam hal ini selalu membutuhkan pembuktian dengan objektif dan menyakinkan. Pengarang dapat mengajukan argumennya berdasarkan 1) contoh-contoh, 2) analogi, 3) akibat ke sebab, 4) sebab-akibat dan 5) pola-pola deduktif. Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dan dalam dunia ilmu pengetahuan, argumentasi itu tidak lain dari pada usaha untuk mengajukan bukti¬bukti atau menentukan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat mengenai suatu hal.
e. Persuasi
Persuasi merupakan bentuk tulisan ynag menyimpang dari argumentasi. Hal ini disebabkan dalam persuasi terdapat usaha untuk membujuk dan menyakinkan pembaca didasarkan pada kelogisan pembuktian fakta-fakta yang disajikan.

B. Pengertian Paragraf
Ketika membaca sebuah tulisan (artikel, makalah, atau buku), kita melihat kenyataan bahwa tulisan-tulisan itu terbagi dalam kelompok-kelompok kalimat. Tiap kelompok kalimat itu ditandai dengan baris baru yang ditulis agak menjorok ke dalam sekitar empat atau lima karakter. Bila kita amati lebih teliti, ternyata kalimat-kalimat yang tergabung dalam sebuah kelompok itu saling berhubungan dan bersama-sama menjelaskan satu unit buah pikiran yang sejalan dengan buah pikiran seluruh tulisan. Kelompok kalimat seperti itu dinamakan paragraf.
Istilah paragraf, alinea ataupun “paragraph’ sudah sering kita dengar bahkan pernah digunakan baik dalam percakapan maupun dalam praktik. Dalam rapat, diskusi, ataupun seminar, misalnya, peserta sering berkata, “… pada paragraf pertama baris kelima. …” Para guru pun sering berkata, “Anak-anak perhatikan paragraf kesekian…’ Apalagi mereka yang sering menulis baik menulis surat, kertas kerja, laporan, dan skripsi pastilah mereka itu menggunakan pengertian paragraf dalam tulisannya tersebut.
Namun, bila ditanyakan apa yang disebut dengan paragraf, maka jawabannya akan bervariasi. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karangan Purwadarminta (almarhum) tertera penjelasan bahawa alinea sering diartikan sama dengan baris baru atau ganti baris. Pengertian lain, tetapi sedikit ada persamaan dengan penjelasan Purwadaminta, diberikan oleh Weaver yang dikutip dari buku ”Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya” sebagai berikut: “…paragraph means something written beside”. Wojowasito mengartikan “paragraf” sebagai “membagi dalam pasal demi pasal”. Pengertian yang lebih jelas diberikan oleh Barnett sebagai berikut: “A paragraph is a group of closely related sentences arranged in a way that permits a central idea to be defined, developed, and clarifed”.
Bila ditelaah pengertian paragraf seperti yang tercantum pada keempat sumber tersebut di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Paragraf berisi “sesuatu’ dan penulisan paragraf selalu dimulai dengan garis baru yang dimajukan ke depan atau “Indentation’. Kesimpulan ini berdasarkan sumber pertama dan kedua. Dari pengertian sumber ketiga tersirat pengertian bahwa ada semacam usaha untuk mengubah pengertian yang abstrak menjadi pengertian yang lebih kongkret. Sayangnya usaha tersebut tidak dijabarkan sampai tuntas. Download ptk bahasa indonesia smp pdf Tetapi bila ide tersebut digabungkan dengan uraian maka gambaran yang tersirat dari sumber ketiga semakin jelas yakni paragraf merupakan wadah terkecil yang menampung sebagian dari pengertian yang kongkret. Dari definisi Barnett dapat disimpulkan bahawa paragraf merupakan seperangkat kalimat berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas.
Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, mungkin terdiri atas dua kalimat, mungkin juga lebih dari dua buah kalimat. Bahkan, sering kita temukan bahwa suatu paragraf berisi lebih dari lima buah kalimat. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satu pun dari kalimat-kalimat itu memperkatakan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu.
Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf:
a). Kesatuan paragraf
Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu. kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak padu, tidak utuh. Kalimat yang menyimpang itu harus dikeluarkan dari paragraf.
b). Kepaduan paragraf
Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyususnan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antar kalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kaliamat-kalimat dalam paragraf itu, dalam paragraf itu tidak ada kalimat-kalimat yang sumbang atau keluar dari permasalahan yang dibicarakan.

1. Ciri-ciri dan fungsi paragraf
Dalam karangan yang panjang, paragraf mempunyai ciri-ciri dan fungsi yang penting. Dengan paragraf itu pengarang dapat mengekspresikan keseluruhan gagasan secara utuh, runtun, lengkap menyatu dan sempurna sehingga bermakna dan dapat dipahami oleh pembaca sesuai dengan keinginan penulisnya. Lebih jauh dari pada itu, paragraf dapat mendinamiskan sebuah karangan sehingga menjadi lebih hidup, dinamis, dan energik sehingga pembaca menjadi penuh semangat. Artinya, paragraf mempunyai ciri-ciri dan fungsi strategis dalam menjembati gagasan penulis dan pembacanya.
Di bawah ini merupakan ciri-ciri dan fungsi paragraf yakni:
a. Ciri-ciri paragraf
1. Kalimat pertama berketuk ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa, misalnya surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah formal, misalnya: makalah, karya ilmiah , tesis, dan disertasi. Karangan berbentuk lurus dan tidak berketuk (block syle) ditandai dengan jarak spasi merenggang, satu spasi lebih banyak dari jarak antar baris lainnya.
2. Paragraf menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik
3. Setiap paragraf menggunakan sebuah kalimat topik dan selebihnya kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan, menguraikan atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik.
4. Paragraf menggunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas, kalimat ini berisi tentang detail-detail kalimat topik. Paragraf bukan kumpulan kaliamt-kalimat topik. Paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.
b. Fungsi paragraf
Sesuatu yang bersifat abstrak lebih sukar dipahami dibandingkan dengan sesuatu yang lebih kecil dan kongkret. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc Pemahaman pada dasarnya ialah memahami bagian-bagian kecil serta hubungan antar bagian-bagian itu dalam rangka keseluruhan. Karangan pun dapat dikatagorikan sebagai suatu yang abstrak. Maka untuk memahaminya karangan itu perlu dipecah-pecahkan jadi bagian-bagian kecil yang dikenal dengan istilah paragraf. Memahami isi paragraf jauh lebih mudah daripada memahami isi buku sekaligus.
Melalui penjelasan di atas tersirat beberapa fungsi paragraf yakni
1. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam suatu kesatuan.
2. Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri dari beberapa paragraf, ganti paragraf berarti ganti pemikiran
3. Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
4. Memudahkan pengembangan topik kedalam satuan, satuan unit pikiran yang lebih kecil.

2. Pengertian paragraf narasi
Narasi berasal dari narratian yang artinya bercerita. Pengertian narasi atau naratif itu sendiri adalah tulisan berbentuk karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa atau kejadian menurut urutan kejadian (kronologis), dengan maksud memberi makna kepada sebuah atau rentetan kejadian, sehingga pembaca dapat memetik hikmah dari cerita itu.
Narasi bisa berisi fakta, bisa pula fiksi atau rekaan, yang direka-reka atau dikhayalkan oleh pengarangnya saja. Yang berisi fakta adalah biografi (riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri), kisah-kisah sejati seperti “pengalaman yang tidak terlupakan”, “kisah sejati’ dan lainnya yang banyak ditemukan di dalam media massa. Namun agaknya yang paling banyak peminatnya adalah yang fiksi atau rekaan. Inilah yang kita namakan novel, cerita pendek, serta cerita bersambung dan cerita bergambar yang juga sangat banyak kita temukan di media massa.
Dari segi sifatnya karangan narasi dapat dibedakan atas dua macam: 
a. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris pertama-tama bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi mengenai berlangsungnya suatu peristiwa. Sebuah narasi mengenai berlangsungnya suatu pemogokan buruh d suatu perusahaan untuk menuntut kenaikan gaji, suatu narasi yang ditampilkan oleh seorang penuntut umum di depan pengadilan mengenai bagaimana berlangsungnya suatu pembunuhan semuanya berusaha menyampaikan informas kepada para pembaca atau pendengar mengenai kejadian itu, supaya mereka pun tahu menganai peristiwa itu secara tepat.
Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap tahap kejadian, rangkaian-rangkaian perbuatan kepada para pembaca atau pendengar. Runtun kejadian atau peristiwa yang disajikan itu dimaksudkan untuk menyampaikan informasi untuk memperluas pengetahuan atau pengertian pembaca, tidak peduli apakah disampaikan secara tertulis atau secara lisan.
Narasi ekpositoris yang bersifat generalisasi adalah narasi yang menyampaikan suatu proses umum, yang dapat dilakukan siapa saja, dan dapat pula dilakukan secara berulang-ulang. Dengan melaksanakan tipe kejadian itu secara berluang-ulang, maka seseorang dapat memperoleh kemahiran yang tinggi mengenai hal itu. Misalnya suatu wacana naratif yang menceritakan bagaimana seorang menyiapkan nasi goreng, bagaimana membuat roti, bagaimana membangun sebuah kapal dengan menggunakan bahan fero-semen, dan sebagainya. Semua narasi seperti disebutkan itu adalah narasi yang bersifat generalisasi.
b. Narasi Sugestif
Seperti halnya dengan narasi ekspositoris, narasi sugestif juga pertama¬tama bertalian dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaikan dalam suatu kejadian atau peristiwa. Seluruh rangkaian kejadian itu berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Tetapi tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, tetapi berusaha memberi makna atas kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc Karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, maka narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal (imajinasi).
Narasi sugestif merupakan suatu rangkaian peristiwa yang disajikan sekian macam sehingga merangsang daya khayal para pembaca. Pembaca menarik suatu makna baru di luar apa yang diungkapkan secara eksplisit. Sesuatu yang eksplisit adalah sesuatu yang tersurat mengenai objek atau subjek yang bergerak dan bertindak, sedangkan makna yang baru adalah sesuatu yang tersirat. Semua obyek dipaparkan sebagai suatu rangkaian gerak, kehidupan para tokoh dilukiskan dalam satuan gerak yang dinamis, bagaimana kehidupan itu berubah dari waktu ke waktu. Makna yang baru akan jelas dipahami sesudah narasi itu seusai dibaca, karena ia tersirat dalam seluruh narasi itu.
Dengan demikian narasi tidak berceritra atau memberikan komentar mengenai sebuah cerita, tetapi ia justru mengisahkan suatu cerita atau kisah. Seluruh kejadian yang disajikan menyiapkan pembaca kepada suatu perasaan tertentu untuk menghadapi peristiwa yang berada di depan matanya. Narasi menyediakan suatu kematangan mental. Kesiapan mental itulah yang melibatkan para pembaca bersama perasaannya, bahkan melibatkan simpati atau antipati mereka kepada kejadian itu sendiri. Inilah makna yang dikatakan tadi, makna yang tersirat dalam seluruh rangkaian kejadian itu.

3. Tujuan dan prinsip-prinsip menulis narasi
Tujuan menulis secara fundamental ada dua, yaitu (1) hendak memberikan informasi atau memberi wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca dan (2) hendak memberikan pengalaman estetis kepada pembaca. Sebaga sebuah karangan, narasi dikembanglan dengan memperhatikan prinsip prinsip dasar narasi sebagai tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: alur (plot), penokohan, latar, titik pandang, pemilihan detail peristiwa. Detail-detail dalam naras disusun dalam sekuensi ruang dan waktu yang menyarankan adanya bagian awal, tengah, dan akhir cerita. Jika cerita menyangkut latar tempat, maka pengisahan mengalami pergantian dari suatu tempat ke tempat lain Jika cerita menyangkut latar waktu, pengisahan mengalami pergantian dar waktu ke waktu lain. Jika cerita menyangkut perbuatan, tokoh pengisahan mengalami gerakan dari suatu adegan ke adegan berikutnya.

C. Hakikat Metode Pembelajaran
Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang dipergunakan oleh fasilisator dalam interaksi belajar dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan. Metode memiliki peranan yang sangat strategis dalam mengajar. Metode berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran tidak berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, semua guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses pembelajaran efisien, efektif, menyenangkan dan tercapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan.
Sama halnya dengan Metodologi, metodologi adalah tata cara memudahkan sehingga dalam proses belajar-mengajar perlu dicapai dan dikembangkan oleh guru. Oleh karena itu, dalam belajar bahasa perlu dikembangkan metodologi pengajaran bahasa secara cermat sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi siswa. Metodologi dalam pengajaran bahasa mengacu pada prosedur dan aktivitas yang akan digunakan untuk mengajarkan silabus agar memudahkan dalam mengajar bahasa. Seorang guru selalu berusaha menggunakan metode mengajar yang paling efektif dan memakai alat atau media yang terbaik. Pelaksanaan pembelajaran bahasa sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pendekatan sangat berpengaruh terhadap penentuan tujuan pembelajaran, metode, teknik apa yang digunakan. Istilah pendekatan, metode, dan teknik sering dipakai secara tumpang¬tindih. Metode pembelajaran tidak ada yang sempurna. Setiap metode selalu memiliki kekurangan dan kelebihan. Meskipun selalu banyak dilakukan penelitian dan eksperimen yang diadakan mengenai metode-metode mana yang paling efektif, tetapi masih tetap sulit untuk membuktikan secara ilmiah metode mana yang paling baik. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013  Kadang-kadang dalam proses belajar siswa perlu diajak keluar sekolah, untuk meninjau tempat-tempat atau objek yang lain. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis narasi adalah field trip.
Metode ini dilakukan karena melihat kondisi siswa dalam menerima materi menulis belum sesuai dengan harapan. Selain itu, peneliti beranggapan metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap hasil pekerjaan siswa dalam menulis. Masalah lain yang muncul siswa akan berpersepsi negatif terhadap materi menulis, karena metode dan media yang digunakan terkesan membosankan dan membingungkan. Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar sisiwa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek yang lain. Hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya.

1. Pengertian metode field trip
Field trip dapat diartikan sebagai kunjungan atau karyawisata. Menurut Roestiyah (2001: 85) field trip bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajaran dengan melihat kenyataan. Karena itu dikatakan teknik field trip yaitu cara mengajar yang dilakukan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidik sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sagala field trip adalah pesiar yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Dengan field trip sebagai metode belajar mengajar, anak didik di bawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Adapun tujuan teknik ini adalah dengan melaksanakan field trip diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanggung jawab. Mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran. 
Dalam hal ini unsur belajar sangat ditonjolkan di samping sifat rekreasi itu sendiri tetap diperhatikan. Hal ini harus dibedakan dengan apa yang sering disebu dengan tamasya yang semata-mata hanya mencari kesenangan, bukan mencari pengetahuan.
Dengan panggunakan metode ini, siswa lebih banyak mengetahui bukti¬bukti nyata dari apa yang ia lihat langsung. Selain itu, dengan melaksanakan karaya wisata ini diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dar objek yang ia rasakan dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang dan juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.
Alangkah baiknya sebelum kita berkaryawisata kita menentukan tempat¬tempat yang baik untuk dijadikan objek karya wisata, karena biasanya karyawisata dilakukan dalam rangka mempelajari sesuatu bagian pelajaran. Sebenarnya satu kali karyawisata bisa digunakan untuk bermacam-macam pelajaran. Satu objek karyawisata yang sama pun bisa dijadikan tujuan yang berbeda-beda dari bermacam-macam mata pelajaran. Sebelum menentukan tempat yang dijadikan objek karyawisata kita menelaah, dahulu tujuan-tujuan yang diharapkan tercapai. Selanjutnya dipertimbangkan apakah karyawisata ketempat tujuan itu dapat tercapai dengan efektif. Jika setelah dipertimbangkan bahwa objek karyawisata itu menemui tujuan yang diharapkan tercapai barulah kita menentukan tempat itu akan dijadikan objek karyawisata.

2. Langkah-langkah untuk mengadakan karyawisata yang efektif.
a. Perumusan tujuan-tujuan yang tegas yang hendak dicapai dengan menggunakan metode karyawisata, alasan mengapa menggunakan metode karyawisata. Misalnya ada masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang bisa dipecahkan atau dijawab, jika mengadakan karyawisata.
b. Jika karyawisata itu ke pabrik, ke kantor atau ke musium seharusnya diadakan hubungan terlebih dahulu dengan pimpinan objek karyawisata itu dalam menentukan waktu berkunjung dan persiapan-persiapan lain¬lainnya.
c. Harus ada rencana kongkrit di dalam hal kendaraan, biaya, lamanya mengadakan karyawisata dan fasilitas-fasilitas lainnya.
d. Mengirim utusan terlebih dahulu ke objek karyawisata untuk menyiapkan beberapa hal yang diperlukan.
e. Disusun suatu tata tertib untuk menjaga keamanan.
f. Dibentuk panitia agar yang bertanggung jawab dalam bidangnya masing¬masing.
g. Tentukanlah terlebih dahulu tugas-tugas yang harus dilakukan sewaktu dan sesudah karyawisata oleh perseorangan atau kelompok dalam bidang studi.
h. Setelah selesai karyawisata perlu diadakan suatu diskusi (analisa) mengenai pengalaman-pengalaman hasil karyawisata. Download ptk bahasa indonesia smp pdf 
i. Langkah selanjutnya sebagai pengalaman hasil karyawisata perlu kegiatan¬kegiatan lain sebagai usaha follow-up misalnya membuat laporan umum, membuat booklet atau karangan-karangan.
Biasanya karyawisata dilakukan dalam rangka mempelajari sesuatu bagian mata pelajaran. Sebenarnya satu kali karyawisata bisa digunakan untuk macam¬macam pelajaran. Satu obyek karyawisata yang sama pun bisa dijadikan tujuan yang berbeda-beda dari bermacam-macam mata pelajaran.
Sebelum menentukan tempat yang akan dijadikan objek karyawisata kita menelaah, dahulu tujuan-tujuan yang diharapakan tercapai. Selanjutnya dipertimbangkan apakah karyawisata ke tempat tujuan itu dapat tercapai dengan efektif. Jika setelah dipertimbangkan tercapai berulah kita menentukan tempat itu akan dijadikan objek karyawisata.

3. Kebaikan dan keunggulan metode field trip
Metode field trip mempunyai beberapa kebaikan, antara lain ialah, 1) anak didik dapat mengamati kenyataan-kenyataan yang beragam dar dekat, 2) anak didik dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru dengan mencoba turut serta di dalam suatu kegiatan, 3) anak didik dapa menjawab masalah- masalah atau pertanyaan-pertanyaan dengan melihat mendengar, mencoba, atau membuktikan secara langsung, 4) anak didik dapat memperoleh informasi dengan jalan mengadakan wawancara atau mendengarkan ceramah yang diberikan on the sport dan, 5) mengembangkan, menanamkan, serta memupuk rasa cinta pada alam sekitar dan tanah air, 6) guru mendapatkan kesempatan baik untuk memadukan beberapa dibidang studi, 7) memupuk kebiasaan untuk mengamati secara teliti, 8) anak didik dapat mempelajari sesuatu secara internal dan komprehensif.
Adapun menurut Roestiyah keunggulan metode field trip antar lain sebagai berikut:
a. Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan petugas pada objek karyawisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana yang tidak mugkin diperoleh di sekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampilan mereka
b. Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.
c. Dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencoba teorinya ke dalam praktek.
d. Dengan objek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam¬macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.
D. Pengajuan Konseptual Tindakan
Berhasil tidaknya proses belajar mengajar di sekolah senantiasa dipengaruhi oleh berbagai unsur pendidikan salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran yang digunakan pada proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar guru harus pandai memilih model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga begitu diharapkan siswa dapat menerima dan memahami materi yang dipelajarinya dengan baik. Contoh ptk bahasa indonesia smp kelas 9 pdf Salah satu metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif yaitu metode pembelajaran field trip. Pada metode ini siswa dituntut untuk lebih berfikir kratif dan lebih banyak memiliki ide-ide atau gagasan dalam menulis karangan narasi. Berangkat dari pemikiran tersebut, maka pengajuan konseptual tindakan dalam penelitian ini adalah “Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Narasi dengan Menggunakan Metode Field Trip”.

CONTOH PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA SMP TERBARU

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan SMPN 2 ..., dapun waktu penelitian dilaksanakan selama dua bulan, yaitu Agustus dan September. Dalam dua bulan inilah penulis berupaya menggunakan waktu see fektif mungkin untuk melakukan penelitian.

B. Metode dan Desain Intervensi Tindakan/Rancangan Siklus Penelitian 
1. Metode
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian, yang dengan sendirinya mempunyai berbagai aturan dan langkah yang harus diikuti. Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu Action Research, sesuai dengan arti katanya, diterjemahkan menjadi penelitian tindakan; yang oleh Carr dan Kemmis (McNiff, 1991, p.2) didefinisikan sebagai berikut:
Action research is a from of self-reflective enquiry undertaken by participants (teacher, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the retionality and justice of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices, and (3) the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Jika kita cermati pengertian tersebut secara seksama, kita akan menemukan sejumlah ide pokok sebagai berikut.
1. Penelitian tindakan adalah suatu bentuk inquiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki: dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat praktek tersebut dilaksanakan. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc Dari keempat ide pokok tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama, dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek.
 
Gambar 1. Siklus Kegiatan PTK
(Suharsimi Arikunto, dkk., 2007: 74)
2. Desain intervensi tindakan/rancangan siklus pretes penelitian 
Gambaran tentang langkah-langkah yang akan dilakukan dalam tindakan penelitian siklus I (pretes)

a. Menyusun rancangan tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti dan guru menyusun:
1. Perangkat pembelajaran, berupa penentuan kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut:
a. Guru membuka pelajaran.
b. Guru memberikan apersepsi mengenai pengetahuan siswa terhadap macam-macam paragraf untuk mengetahui pengetahuan mereka.
c. Guru memberikan materi tentang tulisan narasi.
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang sedang diajarkan.
e. Guru bersama dengan siswa melakukan field trip ke suatu tempat yang telah ditentukan.
f. Guru membagikan lembar kerja dan menugaskan siswa untuk menulis narasi berdasarkan hasil observasi.
b. Tahap pelaksanaan
Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah direncanakan. Pada siklus I (pretes), direncanakan satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 X 45 menit, begitu juga dengan siklus I ([postes). Tahap ini dilakukan bersamaan dengan tahap observasi.
c. Tahap observasi
Tahap ini dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasi aktivitas pemanfaatan metode field trip pada proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa) maupun pada hasil pembelajaran menulis narasi yang telah dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang kelebihan dan kekurangan pelaksanaan tindakan. Pengamatan difokuskan pada situasi pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang dilakukan guru, dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini, peneliti bertindak sebagai partisipan pasif yang melakukan pengamatan dari bangku paling belakang melalui pedoman observasi yang telah dibuat. Sesekali, peneliti berada di depan kelas untuk mengambil gambar sebagai dokumentasi. Setelah itu, peneliti berdiskusi dengan guru mengenai hasil akhir tindakan serta menyusun rancangan tindakan berikutnya.
d. Tahap analisis dan refleksi
Pada tahap ini, dilakukan analisis hasil observasi dan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan hal-hal yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan yang telah memenuhi target. Analisis dilakukan dengan meninjau kembali hasil observasi dan interpretasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Selanjutnya, dilakukan refleksi untuk mengetahui beberapa kekurangan yang muncul dalam pelaksanaan tindakan tersebut. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013 Setelah itu, guru dan peneliti berdiskusi untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang muncul sekaligus sebagai langkah perbaikan pada pembelajaran berikutnya.
3. Desain intervensi tindakan/rancangan siklus postes penelitian
Siklus I (postes) dilakukan dengan tahapan-tahapan seperti pada siklus I (pretes), yaitu tahap pelaksanaan, observasi, serta analisis dan refleksi. Akan tetapi, didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus I pretes (refleksi) sehingga kekurangan yang terjadi pada siklus I (pretes) tidak terjadi pada siklus I (postes).
a. Tahap penyusunan laporan
Tahap ini dilaksanakan setelah penelitian selesai dilakukan. Peneliti menyusun laporan mengenai keberhasilan metode field trip dalam meningkatkan kualitas pembelajaran menulis narasi di Kelas 9.3 SMPN 2 ... berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan.

C. Objek dan Subjek Penelitian
Adapun yang menjadi Objek penelitian ini adalah proses belajar mengajar, khususnya pembelajaran menulis narasi yang terjadi di Kelas 9.3. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas 9.3 SMPN 2 ....

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian
Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai observer pada kegiatan belajar mengajara paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip di Kelas 9.3 SMPN 2 .... Pada saat pembelajaran berlangsung kegiatan observasi akan dilaksanakan oleh dua orang observer untuk membantu terlaksananya observasi tes perbuatan/kinerja siswa Kelas 9.3 SMPN 2 ....

E. Tahapan Intervensi Tindakan
Tahapan intervensi tindakan dilakukan pada setiap siklus yaitu: 
Tabel 3.1
Tahapan intervensi tindakan

F. Hasil Intervensi Tindakan yang diharapkan
1. Siswa mampu memahami tentang menulis paragraf narasi.
2. Siswa mampu memahami tentang metode field trip.
3. Siswa dapat menerapkan metode field trip dalam pembelajaran menulis paragraf narasi.
4. Siswa dapat menggunakan metode field trip dalam meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi.

G. Data dan Sumber Data
1. Data hasil belajar kongnitif yaitu penguasaan konsep siswa dalam bentuk objektif. Tes objektif akan dilakukan sebanyak dua kali setiap siklusnya yaitu sebelum pelajaran berlangsung (pretes) dan setelah pembelajaran berlangsung (postes). Hasil nilai pretes dan postes siswa akan diolah menjadi nilai siswa.
2. Data hasil belajar psikomotorik yaitu kemampuan keterampilan proses menulis yang dilakukan oleh siswa Kelas 9.3 SMPN 2 .... Untuk mengetahui kemampuan keterampilan proses menulis dilakukan observasi pada masing-masing siswa baik kegiatan observasi langsung maupun tak langsung yang dinilai oleh observer. Kegiatan observasi dilakukan tiap pertemuan.
3. Data untuk mengetahui tanggapan atau respon siswa terhadap peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip berupa kuesioneir/pertanyaan yang menuntut jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Download ptk bahasa indonesia smp pdf  Kuesioneir tersebut dijawab oleh masing-masing siswa tiap pertemuan.

H. Instrumen-instrumen Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan tersebut maka terlebih dahulu dibuat instrument penelitian yang terdiri dari:
1. Soal tes
Tes ini diberikan setiap akhir siklus. Dimana soal tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal uraian dengan indikator soal¬soal pemahaman guna mengukur kemampuan pemahaman menulis siswa. 
Tabel 3.2
Instrumen PretestMENULIS PARAGRAF NARASI (PRETEST)
Tabel 3.3
Instrumen Postest
Tabel 3.4
Kriteria Penilaian 
1. Teknik Penulisan
1 Isi Gagasan yang di ungkapkan
1 Penggunaan Bahasa
1 Pilihan Kata
1 Penggunaan Ejaan
2. Lembar observasi
Lembar observasi merupakan pengamatan tingkah laku pada suatu tertentu, observasi itu biasanya pada suatu sebenarnya atau observasi langsung atau observasi buatan atau observasi tidak langsung yang dapat dilakukan secara sistematika yaitu dengan menggunakan pedoman observasi.
Tahapan ini dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar. Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti. Selain itu, untuk memperoleh data yang akurat, peneliti juga melakukan wawancara (angket) dengan para siswa mengenai poin-poin yang dirasa perlu ditanyakan pada siswa untuk mendapatkan data yang lengkap. 
Observasi juga dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran menulis narasi untuk melihat perkembangan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Observasi terhadap guru difokuskan pada kemampuan guru dalam mengelola kelas serta merangsang keaktifan siswa dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc Sementara itu, observasi terhadap siswa difokuskan pada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis narasi melalui metode field trip, lembar observasi ini dapat dilihat pada lampiran 1.
3. Angket
Angket (kuesioner) merupakan sejumlah pertanyaan tertentu yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Angket atau kuesioner juga merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya, tabel angket ini dapat dilihat pada lampiran 2.
4. Catatan lapangan
Catatan lapangan untuk setiap tindakan dimaksudkan untuk mengungkap aktivitas siswa dan guru yang tidak diungkapkan dengan menggunakan lembar observasi dan format observasi ini dapat dilihat pada lampiran 3.
5. Instrumen Perlakuan
Instrument perlakuan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip. Pelaksanaan perlakuan dalam penelitian ini disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencakup semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. RPP yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN 1
Nama Sekolah  :        SMPN 2 ...
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : 9.3 / Ganjil
Tanggal            : 1 September 2016
Alokasi Waktu : 2 X 45 menit
A. Standar Kompetensi
Mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskripsi, Eksposisi dan persuasi).
B. Kompetensi Dasar 
Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf narasi.
C. Indikator
1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf narasi berdasarkan hasil pengamatan.
2. Menyusun kerangka paragraf narasi.
3. Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf narasi.
D. Materi Pokok
Paragraf narasi
Jenis karangan: deskripsi, narasi, eksposis ,argumentasi dan persuasi
Paragraf narasi secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Langkah menyusun narasi: Langkah menyusun narasi (fiksi) melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013 Cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H. Di mana seting/ lokasi ceritanya, siapa pelaku ceritanya, apa yang akan diceritakan, kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan bagaimana cerita itu dipaparkan.
E. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): 70
F. Sekenario Pembelajaran
G. Sumber Belajar
1. Lks Simpati Bahasa Indonesia untuk Kelas 9.3
2. Buku paket bahasa Indonesia Kelas 9.3
3. Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001).
H. Penilaian
1. Penilaian proses belajar
a. Keseriusan siswa
b. Keaktifan
2. Penilaian hasil
a. Jenis tes menulis karangan
Susunlah sebuah karangan/ paragraf narasi bedasarkan hasil observasi.
b. Alat penilaian/ pedoman penilaian
Tabel. 3.5
Format penilaian
Keterangan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN II
Nama Sekolah : SMPN 2 ...
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : 9.3/ Ganjil
 Tanggal           : 8 September 2016
Alokasi Waktu : 2 X 45 menit
A. Standar Kompetensi
Mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskripsi, Eksposisi dan persuasi).
B. Kompetensi Dasar 
Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf narasi.
C. Indikator
1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf narasi berdasarkan hasil pengamatan.
2. Menyusun kerangka paragraf narasi.
3. Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf narasi.
D. Materi Pokok
Paragraf narasi
Jenis karangan: deskripsi, narasi, eksposis ,argumentasi dan persuasi
Paragraf narasi secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Langkah menyusun narasi: Langkah menyusun narasi (fiksi) melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H. Download ptk bahasa indonesia smp pdf Di mana seting/ lokasi ceritanya, siapa pelaku ceritanya, apa yang akan diceritakan, kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan bagaimana cerita itu dipaparkan.
E. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): 70
F. Sekenario Pembelajaran
Kegiatan Guru Kegiatan siswa Waktu Metode
G. Sumber Belajar
1. Lks Simpati Bahasa Indonesia untuk Kelas 9.3
2. Buku paket bahasa Indonesia Kelas 9.3
3. Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001)
H. Penilaian
1. Penilaian proses belajar
a. Keseriusan siswa
b. Keaktifan
2. Penilaian hasil
a. Jenis tes menulis paragraf narasi
Tabel. 3.6
Format penilaian
Keterangan
6. Lembar wawancara
Wawacara dilakukan pada awal penelitian dan tiap akhir siklus dalam penelitian. Wawancara menitik beratkan pada tanggapan dan kesulitan siswa serta saran terhadap pembelajaran berikut.
Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kualitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual.
Selain itu wawancara dapat dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap guru dan siswa untuk mengetahui pendapat mereka tentang proses pembelajaran menulis narasi dengan metode field trip, kesulitan yang dihadapi serta informasi lain yang dibutuhkan peneliti lembar wawancara ini dapat dilihat pada lampiran 4.
7. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Jadi studi dokumentasi tidak sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumen yang dilaporkan dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap dokumen¬dokumen tersebut, dan hasil dokumentasi ini dapat dilihat pada lampiran 5.
I. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data hasil belajar tingkat kongnitif dengan cara memberikan soal tes. Sebelum pembelajaran dimulai siswa diberikan soal pretes, lalu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan skenario. Kemudian setelah pembelajaran selesai siswa diberi soal postes.
Cara peneliti mengumpulakan data dari hasil belajar psikomotor untuk mengetahui kemampuan menulis paragraf narasi siswa secara langsung yaitu mengobservasi hasil karangan-karangan siswa. Selain itu peneliti juga melakukan observasi secara tidak langsung yaitu keterampilan diukur melalui tes tertulis yang dirancang secara khusus dalam lembar kerja siswa. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc Penilaian observasi ini baik secara langsung maupun tidak langsung dinilai sesuai dengan kriteria penilaian yang ada pada lembar observasi.
Sedangkan untuk mengetahui respon atau tanggapan siswa mengenai peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip yaitu dengan memberikan kuesioner kepada masing-masing siswa pada akhir pembelajaran di setiap pertemuan.
J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan Studi
Untuk memperoleh data yang valid maka digunakan teknik triagulasi data yakni memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis penelitian dengan membandingkan hasil orang lain.
1. Pengambilan data dari berbagai narasumber, yaitu, peneliti, guru, dan siswa
2. Pengguanan berbagai alat atau instrumen agar data yang dikumpulkan lebih akurat. Langkah yang ditempuh adalah mengisi lembar observasi, pedoman wawancara, dan menilai hasil tes siswa.
3. Penggunaan berbagai metode atau cara analisis, sehingga data yang terkumpul dapat dipercaya. Dalam hal ini yang bisa dilakukan pengamatan, wawancara, dan pengambilan gambar dalam bentuk foto.
4. Memeriksa kembali data-data yang telah terkumpul baik tentang kejanggalan-kejanggalan, keaslian maupun kelengkapan.
5. Mengulang pengolahan data yang telah terkumpul.
K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis
Dari penelitian yang dilakukan data yang terkumpul terdiri dari hasil observasi aktivitas siswa sebagai indikator keaktifan siswa, hasil observasi aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip dan hasil belajar yang berupa hasil nilai tes setiap akhir siklus sebagai indikator pemahaman siswa terhadap konsep yang disampaikan. Adapun langkah-langkah pengolahan data yang terkumpul dari setiap siklus adalah :
a. Menganalisis data hasil observasi terhadap pelaksanaan tindakan setiap siklus dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang hanya menggunakan paparan sederhana
b. Menentukan rata-rata dari keseluruhan siswa mengikuti tes.
1). Pensekoran terhadap jawaban yang diberikan siswa untuk soal uraian.
2). Tingkat keberhasilan siswa berdasarkan skor tes yang diperoleh ditetapkan dalam nilai dengan menggunakan rumus :
Nilai Akhir (NA) = Jumlah Skor yang didapat siswa X 100 Skor maksimum
Selanjutnya dihitung nilai rata-rata, rumus yang digunakan :
Nilai rata-raa (x) = Jumlah skor seluruhnya Jumlah seluruh siswa
c. Setelah menghitung rata-rata maka diadakan kembali perhitungan selisih nilai antara pretes ke postes dengan rumus:
Selisih nilai = X postes – X pretes
Tahapan ketiga, penulis mencari persentase peningkatan nilai dengan menggunakan rumus persentase, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Presentase peningkatan nilai = 
Keterangan : N = Jumlah Siswa
Tahap keempat, penulis mencari perbedaan yang signifikasi antara lain pretes dan postes dengan menggunakan rumus t tes.
Dengan rumus tersebut, dapat diketahui koefesien t yang akan menunjukkan berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc Taraf signifikansi sebesar 5 % pada tingkat kepercayaan 95%. Langkah-langkah penggunaan t tes sebagai berikut.
Berdasarkan peroilehan nilai, tingkat keberhasilan belajar siswa ditetapkan seperti dalam tabel berikut :
Tabel 3.10
Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa
L. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan
Setelah penelitian ini berakhir peneliti menyadari bahwa dari penelitian yang dilakukan ini telah berhasil menguji adanya peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi dengan menggunakan metode field trip. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar menulis siswa, serta faktor-faktor lain yang belum diketahui. Untuk itu masih perlu diadakan penelitian lebih lanjut.
Bahkan bila perlu dibuta rencana baru. Jika ini terjadi maka akan terdapat siklus 2 PTK yang langkah-langkahnya tetap sama yaitu perumusan masalah, perencanaan tindakan, refleksi. Download ptk bahasa indonesia smp pdf Siklus ini akan akan berulang kembali pada siklus 2, tindakan perbaiakan masih belum berhasil menjawab masalah yang menjadi kerisauan guru, atau dengan perkataan lain perbaikan belum terjadi sesuai dengan yang ditargetkan. Siklus PTK akan berakhir, jika perbaikan sudah berhasil dilakukan. Perlu dicatat bahwa satu siklus PTK dapat terjadi pada satu atau lebih pertemuan. Lebih-lebih untuk tujuan perbaikan yang membutuhkan waktu cukup lama, seperti meningkatkan kemampuan menulis, maka satu siklus PTK dapat terdiri dari beberapa pertemuan.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA SMP

DAFTAR PUSTAKA


Alfin, Jauharoti, dkk., Bahasa Indonesia 1, Learning Assistance program for Islamic Schools Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2008.
Arifin Zaenal, Tasri Amran, Cermat Berbahasa Indonesia, Jakarta: Mediayatama Sarana Perkasa, 1988.
Arikunto, Suharsimi, dkk., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. IX, 2009.
Djamaran Syaiful Bahari, Zain Aswan, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Junaedi, dkk., Strategi Pembelajaran. Learning Assistance program for Islamic Schools Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2008.
Keraf, Gorys, Argumentasi dan Narasi, Jakarta: Gramedia, 2001.
Kusnadi, Mahsusi, Mahir Berbahasa Indonesia, Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah, 2006.
Marahimin, Ismail, Menulis Secara Populer, Jakarta: Pustaka Jaya, 2001. Nurgiantoro, Burhan, Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gajah Mada, 2005. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1985. Semi, Atar, Menulis Efektif, Padang: Angkasa Raya, 1990.
Semiawan, Conny, dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, Jakarta: Gramedia, 1992.
Subari. Supervisi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Sukardi, Metodelogi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. I, 2003.
Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. 5, 1994.
Tarigan, Henry Guntur, Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Aksara, 1983.
Tarigan, Djoko, Membina keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya, Bandung: Aksara, 2007.
Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, Jakarta: Rajawali, 1984.
Widjono, Bahasa Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2007.
Wiyanto, Asul, Terampil Menulis Paragraf, Jakarta: Grasindo, 2004.
Yamin, Martinus, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta: Gaung Persada Press, 2006.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX NARASI

Postingan terkait: