CONTOH PTK MATEMATIKA SD KELAS 4 LENGKAP

CONTOH PTK MATEMATIKA SD KELAS 4 LENGKAP-Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah guru belum menerapkan pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif namun masih banyak menggunakan metode ceramah, sehingga hasil belajar Matematika siswa kelas IV SDN ..... belum mencapai nilai ketuntasan yang optimal. Masalah yang dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan penggunaan media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang pecahan pada siswa kelas IV SD Negeri ..... Kecamatan ..... Kabupaten ..... Semester 2 Tahun 2015/2016”. Contoh ptk matematika sd kelas 4 pdf 
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research. Model PTK dengan menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yakni 1) perencanaan tindakan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan 3) refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri ..... Kecamatan ..... Kabupaten ..... sebanyak 24 siswa. Teknik pengumpulan data adalah teknik tes dan teknik observasi. Adapun instrumen penelitiannya dengan menggunakan butir-butir soal dan lembar observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif komparatif yang meliputi perbandingan, mean, dan persentase.
Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan hasil belajar matematika siswa tentang pecahan, setelah menggunakan media manipulatif. Hal ini nampak pada perbandingan nilai rata-rata yakni pada kondisi pra siklus sebesar 64,58; pada siklus 1 naik menjadi 66,67 dan pada siklus 2 naik lagi menjadi 72,08. Download PTK matematika sd kelas 4 lengkap  Adapun peningkatan persentasi hasil belajar klasikal pada kondisi pra siklus 58,33 %; siklus I naik menjadi 70,84% dan pada siklus II naik menjadi 87,5%.
Saran bagi guru matematika hendaknya menerapkan penggunaan media terutama media manipulatif, karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Untuk itu guru perlu mengatur waktu dengan baik, menggunakan metode yang sesuai serta menggunakan media dengan tepat.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel Matematika SD yang diberi judul “MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN MEDIA MANIPULATIF KERTAS MANILA SISWA KELAS 4 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SD NEGERI ... KABUPATEN ... TAHUN 2015/2016”,  Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA KELAS 4 SD lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK 012 SD).


CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS 4 SD LENGKAP

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat (PP No.19 tahun 2005). Salah satu perwujudannya melalui pendidikan bermutu pada setiap satuan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan di Indonesia adalah suatu pendidikan yang memiliki tujuan yang tertulis dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut, salah satu upayanya adalah dengan mengembangkan keterampilan berhitung bagi warga masyarakat melalui Matematika.
Lampiran Permendiknas RI No. 22 (2006, 416) menyebutkan bahwa, dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Contoh ptk matematika sd doc Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Sementara itu, dalam Permendiknas RI No. 41 (2007: 6) disebutkan bahwa proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi mengajar dan sekaligus melibatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajarannya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional dan menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar nasional, Depdiknas melakukan pergeseran paradigma dalam proses pembelajaran, yaitu dari teacher active teaching menjadi student active learning. Maksudnya adalah perubahan orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator yang akan memfasilitasi siswa dalam belajar, dan siswa sendirilah yang harus aktif belajar dari berbagai sumber belajar.
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa transfer matematika sebagai salah satu mata pelajaran dalam kurikulum kepada siswa hendaknya melalui proses belajar mengajar yang terencana dan berpola. Keberhasilan dalam proses pembelajarannya menjadi tanggung jawab bersama antara guru dan siswa. Guru dalam merencanakan suatu proses pembelajaran sekurang-kurangnya faktor yang umumnya harus dipikirkan secara simultan oleh guru antara lain adalah: tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran, siswa, media pengajaran, metode pembelajaran, dan waktu belajar. Tanpa mengabaikan faktor yang lain, faktor faktor tersebut secara bersama-sama menentukan hasil dari proses pembelajaran yang terjadi. Kualitas dan produktivitas pembelajaran ini akan tampak pada seberapa jauh siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sementara itu untuk membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan tersebut terkait erat dengan efektivitas strategi pembelajaran yang disusun oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kualitas dan produktivitas pembelajaran yang tinggi penyampaian materi pelajaran harus dikelola dan diorganisir melalui strategi pembelajaran yang tepat dan penyampaian yang tepat pula kepada siswa. Untuk itu salah satu tugas guru adalah bagaimana menyelenggarakan pembelajaran efektif. Dikemukakan Suparman (1997:156), bahwa kemampuan mengatur urutan kegiatan pembelajaran, pemilihan metode dan media tertentu serta pembagian waktu dalam kegiatan pembelajaran bagi seorang guru akan menjadi modal utama dalam merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematik. Download ptk matematika sd lengkap Karena apa yang diajarkan guru, bukan saja relevan dengan tujuan pembelajaran mata pelajaran yang bersangkutan, melainkan juga harus dikuasai dengan baik oleh siswa yang diajarnya serta kegiatan pembelajarannya harus menarik dan bervariasi.
Namun demikian, kenyataan di lapangan guru masih mengalami kesulitan bagaimana menyelenggarakan pembelajaran yang efektif. Seperti dikemukakan Zamroni (dalam Sutarto Hadi, 2000: 1), orientasi pendidikan di Indonesia pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) cenderung memperlakukan siswa berstatus sebagai obyek; (2) guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktrinator; (3) materi bersifat subject-oriented; dan (4) manajemen bersifat sentralistis. Ciri-ciri tersebut, mengidentifikasikan bahwa belum adanya peran aktif siswa dalam pembelajaran. Guru di sekolah lebih berperan sebagai subyek pembelajaran (pembelajaran berpusat pada guru), sedangkan siswa sebagai obyek, serta pembelajaran tidak mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Sejalan dengan apa yang telah dikemukakan di atas, maka perlu kiranya bagi guru bagaimana sebaiknya mengatur urutan kegiatan pembelajarannya sehingga relevan dengan tujuan pembelajaran, dan dikuasai dengan baik oleh siswa yang diajarnya, serta kegiatan pembelajarannya kontekstual, menarik, bervariasi, dan melibatkan peran aktif siswa.
Fungsi Matematika dan tujuan pembelajaran Matematika bertujuan agar siswa memiliki kemahiran yang mencakup kemampuan penalaran, komunikasi dan pemecahan masalah. Penerapan kemahiran pemecahan masalah antara lain dengan menerapkan suatu konsep untuk memperoleh penyelesaian dari suatu soal. Pembelajaran Matematika sering dianggap sulit dan membosankan bagi siswa sehinggga hasil belajar Matematika cenderung kurang bagus. Hal ini ditandai dengan nilai hasil evaluasi mata pelajaran Matematika yang masih rendah pada siswa. Siswa yang memperoleh nilai baik hanya sebagian saja.
Ilmu matematika diajarkan di segala jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA hingga bahkan di perguruan tinggi. Hal ini dilakukan karena manfaat matematika sangat banyak yaitu untuk kuantitatif, penataan cara berfikir dalam hal pembentukan kemampuan analitis, membuat sintesis, dan untuk evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah (Suhito, 2001 : 2).
Ilmu matematika tidak hanya untuk matematika saja tetapi teori maupun pemakaiannya praktis banyak membantu dan melayani ilmu-ilmu lain (Ruseffendi dkk, 1993 : 106). Peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai penanaman konsep dan pemahaman konsep matematika dilakukan dengan menggunakan berbagai media diantaranya yaitu tabel perkalian, kartu angka dan sedotan, manik-manik, uang-uangan dan sebagainya. Contoh ptk matematika sd doc Untuk peningkatan kemampuan ini menjadi lebih penting yaitu:
1. Peningkatan kemampuan dalam melakukan operasi pada operasi hitung pecahan campuran.
2. Peningkatan penyelidikan, penemuan dan pemecahan masalah (kurikulum, 1994:98)
Setiap guru berharap agar setiap ilmu pengetahuan yang ia ajarkan dapat dimengerti, diterima dan dikuasai oleh siswanya dengan baik. Agar harapan setiap guru untuk menuju keberhasilan mengajar tercapai, maka guru harus memiliki kecakapan dan keterampilan dalam menyajikan pelajaran kepada siswa.
Pecahan merupakan salah satu kajian inti dari materi matematika yang dipelajari peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Pembahasan materinya menitikberatkan pada pengerjaan (operasi) hitung dasar yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, baik untuk pecahan biasa, campuran dan desimal. Inventarisasi masalah yang dilakukan penulis tentang materi pecahan, menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan dalam penguasaan materi, penyiapan dan penggunaan media maupun pemilihan strategi/metodenya. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain berkisar pada materi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian pecahan baik untuk pecahan biasa maupun pecahan campuran dan desimal. Berdasarkan hasil diskusi peserta KKG pemandu matematika diperoleh informasi bahwa pada pelaksanaan pembelajaran matematika di SD guru dominan menggunakan metode ceramah dan pendekatan yang bersifat abstrak. Akibatnya peserta didik cenderung pasif dan kurang memahami obyek-obyek matematika yang dipelajari (fakta, konsep, prinsip dan keterampilan). Diduga salah satu penyebab dari keadaan tersebut adalah kurangnya kompetensi guru terutama kompetensi profesional dan pedagogik. Di sisi lain guru masih dituntut untuk mewujudkan pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Salah satu komponen penunjang untuk mewujudkan PAKEM adalah bahan tertulis yang mudah digunakan oleh guru.
Dalam kegiatan proses belajar mengajar, media memiliki peranan yang dapat mendukung keberhasilan seorang guru dalam mengajar. Media merupakan salah satu pendukung utama keberhasilan mengajar. Oleh karena itu, seorang guru perlu memilih media mengajar yang bisa memacu keberhasilan belajar siswa, salah satunya adalah media manipulatif.Pembelajaran yang berhasil ditunjukkan adanya perubahan sikap pada diri siswa dan dikuasainya materi pembelajaran sesuai dengan indikator yang telah ditetapkanoleh guru dalam rencana pembelajaran. Tingkat penguasaan siswa dinyatakan dengan nilai. Penulis setelah melaksanakan proses pembelajaran pada materi pecahan menemukan bahwa sebagian siswa belum berhasil mengerjakan soal tentang pecahan. Hal ini karena pelajaran matematika merupakan pelajaran yang momok bagi sebagian besar siswa. Ada anak yang mengantuk, melamun, bermain sendiri. KKM yang ditetapkan adalah 60 sedangkan persentase ketuntasan klasikal adalah 75%. Rata-rata kelas baru mencapai 55, jadi masih berada di bawah KKM.

1.2 Permasalahan Penelitian
Proses Belajar Mengajar yang dilaksanakan penulis sering muncul masalah yang perlu diselesaikan dan perlu diperbaiki. Download ptk matematika sd word Berdasarkan analisis masalah dan untuk membantu siswa agar hasil pembelajaran baik dan memuaskan, maka penulis menuliskan permasalahan berupa hasil belajar matematika yang masih di bawah KKM. Hasil belajar matematika dengan KKM 60 belum dapat tercapai karena berbagai faktor, salah satunya karena belum menggunakan metode yang tepat dan belum memanfaatkan media dengan efektif.
1.3 Cara Pemecahan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang sudah dikemukakan di atas maka penulis berusaha memecahkan masalah dengan penggunaan alat peraga yaitu berupa kertas manila sebagai alat peraga manipulatif.Penggunaan media manipulatif ini digunakan dengan alasan untuk mengurangi kejenuhan metode ceramah serta membuat sesuatu yang abstrak menjadi hal yang konkrit, sehingga pemahaman anak tentang pecahan semakin meningkat yang pada akhirnya nanti akan berpengaruh pada hasil belajar mata pelajaran matematika, sehingga KKM dapat dicapai.
1.4 Rumusan Masalah
Apakah penggunaan media manipulatif kertas manila dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN .... ?
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.1 Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas 4 SDN .... Kecamatan ..... Semester 2 tahun 2015/2016 melalui penggunaan media manipulatif kertas manila.
1.5.2 Manfaat Penelitian
1.5.2.1. Bagi guru, penelitian ini berguna sebagai:
a. Membantu guru memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya.
b. Membantu guru berkembang secara profesional.
1.5.2.2. Bagi para siswa :
a. Nilai hasil belajar meningkat.
b. Meningkatkan dan memperbaiki cara belajar siswa.
c. Menjadikan model bagi siswa dalam bersikap kritis terhadap 
hasil belajarnya. 
1.5.2.3. Bagi SD :
a. sebagai salah satu cara meningkatkan mutu SD.
b. membantu sekolah agar bisa berkembang pesat karena berbagai perbaikan diwujudkan. Contoh ptk matematika sd kelas 4 pdf 
c. Membantu menanggulangi masalah belajar para siswa.
d. Menumbuhkan iklim kerjasama yang kondusif di sekolah.

DOWNLOAD PTK MATEMATIKA SD

BAB II
KAJIAN PUSTAKA



2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Hasil Belajar
Slameto dalam Harminingsih (2008) menyatakan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor dalam terdiri dari: (1) jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), (2) psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), (3) dan kelelahan. Faktor luar yaitu: (1) keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), (2) sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), (3) dan masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).
Sekolah merupakan salah satu faktor luar dalam mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga guru sebagai anggota sekolah memiliki peran penting dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Download PTK matematika sd kelas 4 lengkap Untuk itu, Guru harus memiliki kompetensi dibidangnya, selain itu agar pembelajaran tidak monoton maka guru sebaiknya mampu memvariasikan metode pembelajaran misalkan diskusi inkuiri, praktikum, game dan jigsaw. Penggunaan media pembelajaran yang bervariasi juga dapat mempengaruhi hasil belajar karena siswa merasa senang dalam belajar, motivasi tinggi dan hasil belajarnya dapat maksimal.
Sadiman et al. (2007) menyatakan bahwa hasil belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Oleh karena itu, apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah tidak hanya berupa penguasaan konsep tetapi juga keterampilan dan sikap.
2.1.2. Matematika
a. Pengertian Matematika
Menurut James dan James yang dikutip Rusffendi (1997) “Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, geometri.” Jadi, Matematika adalah ilmu pengetahuan yang dibangun dengan penalaran yang terstruktur secara deduktif berdasarkan unsur, aksioma, sifat dan teori yang telah terbukti.
b. Perlunya Belajar Matematika
Pencarian kebenaran dalam matematika disajikan sebagai suatu cara manusia berpikir, sehingga validitas dari pemikiran kebenaran tidak diragukan lagi. Demikian pula dalam menyelesaikan persoalan sehari–hari, atau persoalan lain yang memerlukan matematika sebagai suatu cara yang khusus, misalnya persamaan, pertidaksamaan, model Matematika dan sebagainya. Banyak persoalan sehari-hari yang dapat dibantu dengan matematika. Oleh karena itu, matematika sangat perlu untuk dipelajari. Matematika bukan hanya sebagai alat bantu untuk matematika itu sendiri, akan tetapi banyak konsep–konsep yang sangat diperlukan oleh ilmu lainnya seperti fisika, kimia, biologi, teknik, ekonomi dan farmasi.
c. Ruang Lingkup Matematika
Bahan kajian inti Matematika Sekolah Sekolah Dasar mencakup aritmatika (berhitung) pengantar aljabar, geometri, pengukuran, dan kajian data (pengantar statistik). Penekanan diberikan pada “penguasaan bilangan termasuk berhitung“ (Depdikbud, 1994:35). Download ptk matematika sd word Menurut standar kompetensi dasar Matematika, ruang lingkup Matematika dikelompokkan dalam kemahiran matematika, bilangan, pengukuran, geometri, aljabar, statistika, peluang, trigonometri, dan kalkulus.
2.1.3. Pecahan
Pecahan pada prinsipnya menyatakan beberapa bagian dari sejumlah bagian yang sama. Seluruh jumlah bagian yang sama tersebut bersama-sama membentuk satuan (unit). Dua macam keadaan yang perlu penekanan adalah konsep keseluruhan sebagai satuan dan konsep yang sama. Kedua konsep ini dapat di kaitkan dengan panjang,luas,volume, dan hitungan atau cacah. Kaitan masing-masing dapat ditunjukkan dengan menggunakan benda-benda manipulatif, misalnya kertas, karton, kelereng, kerikil, manik-manik, mata uang, buku, pensil, atau butiran
2.1.4. Media
Dalam suatu proses pembelajaran, peran media sangat membantu para guru dalam menyajikan materi. Apalagi bagi peserta didik usia SD. Oleh karena itu Media pengajaran menurut Nasution (1982) memiliki sifat sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya) pada diri siswa.
b. Memperbesar perhatian siswa sehingga saat kegiatan belajar mengajar berlangsung akan tumbuh minat siswa terhadap materi pembelajaran.
c. Membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan oleh siswa.
d. Memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa sehingga mereka terdorong untuk berusaha mengetahui kenyataan yang sebenarnya dan peduli terhadap peristiwa yang terjadi.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkelanjutan secara teratur.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan perkembangan berbahasa dalam mengungkap sesuatu dengan bahasa sendiri.
g. Dapat menarik minat siswa dan menumbuhkan keinginan untuk membicarakannya lebih lanjut.
2.1.5. Media pembelajaran
Media pembelajaran diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran. Berdasar fungsinya media dapat berbentuk alat peraga dan sarana. Namun dalam keseharian kita tidak terlalu membedakan antara alat peraga dan sarana. Sehingga semua benda yang digunakan sebagai alat dalam pembelajaran matematika kita sebut alat peraga matematika. Demikian pula pada modul ini, media matematika kita sebut alat peraga matematika. Menurut Estiningsih (1994) alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang dipelajari. Contoh: papan tulis, buku tulis, dan daun pintu yang berbentuk persegipanjang dapat berfungsisebagai alat peraga pada saat guru menerangkan bangun geometri dalam persegipanjang. Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari. Dengan melihat, meraba, dan memanipulasi alat peraga maka anak mempunyai pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti konsep. Sedangkan sarana merupakan media pembelajaran yang fungsi utamanya sebagai alat bantu untuk melakukan pembelajaran. Download ptk matematika sd lengkap Dengan menggunakan sarana tersebut diharapkan dapat memperlancar pembelajaran. Contoh: papan tulis, jangka, penggaris, lembar tugas (LT), lembar kerja (LK), dan alat-alat permainan.
Media adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untukmemperjelas materi atau mencapai tujuan pembelajaran tertentu (Situmorang dan Suparman, 1998). Secara garis besar media dibedakan menjadi alat bantu pembelajaran (instructional aids) dan media pembelajaran (instructional media). Alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu mengajar. Jadi efektivitas alat bantu tersebut terletak pada kemampuan guru dalam menggunakannya (khususnya kemampuan menjelaskan). Yang termasuk alat bantu antara lain: OHP/OHT, film bingkai (slide), foto, peta, poster, grafik, flip-chart, model, benda sebenarnya, alat peraga, lingkungan belajar dan lain-lain. Media pembelajaran adalah suatu media yang memuat pesan-pesan tertentu, yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu pula. Oleh karena itu media pembelajaran disebut juga sebagai perantara (medium). Yang termasuk media pembelajaran antara lain: televisi, film, slide seri, kaset audio, modul CAI (Computer Assisted Instructional), dan lain-lain. Media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran beraneka ragam. Guruhendaknya dapat memilih salah satu atau beberapa diantaranya untuk digunakan dalam menyusun strategi pembelajaran. Pada pembelajaran matematika, media pembelajaran sebagai alat bantu sesuai dengan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu alat peraga dan sarana. Sebagai alat peraga media pengajaran itu membantu siswa memahami konsep matematika dalam wujud yang konkrit. Sedangkan yang masuk dalam kelompok sarana berfungsi membantu terjadinya proses belajar siswa (Estiningsih, 1994). Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) matematika, alat peraga berperan membantu siswa menguasai pengetahuan tentang konsep matematika yang dipelajari dalam KBM. Sebagai contoh: kotak kapur, kotak kue sebagai model geometri ruang berfungsi sebagai alat peraga apabila digunakan untuk mengajarkan konsep bangun ruang balok. Sarana berperan membantu proses belajar siswa dalam KBM untuk pembinaan keterampilan maupun untuk pemahaman konsep.Contoh ptk matematika sd kelas 4 pdf Sebagai contoh tabel perkalian dua bilangan satu angka yang pengisiannya digunakan untuk beradu cepat di antara siswa merupakan kegiatan untuk membina keterampilan siswa dalam fakta perkalian dasar. Pada kesempatan lain tabel perkalian dapat digunakan dalam KBM untuk pemahaman konsep yaitu membantu siswa menemukan sifat pertukaran tempat yang dimiliki operasi hitung perkalian. Keterkaitan antara alat peraga dan kegiatan belajar untuk penanaman konsep menunjukkan bahwa macam alat peraga sesuai dengan ragam materi matematika yang dipelajari siswa dan yang tergolong sebagai pengertian baru atau pengertian dasar.
Media merupakan faktor pendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran sekaligus mampu merangsang perhatian, pikiran dan perasaan siswa sehingga terjadi proses pembelajaran disebut juga media pembelajaran (Santoso 2008). Menurut Sanjaya (2008) media dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya. Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam media auditif, media visual, dan audio visual. Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara seperti radio dan rekaman suara. Media visual yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara, contohnya adalah film slide, foto, transparansi, kartu, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan lain sebagainya. Media audio visual yaitu jenis media yang selain mengandung unsur gambar yang bisa dilihat juga mengandung unsur suara yang bisa didengar misalnya, rekaman vidio, film, dan slide suara. Media memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan, selain itu dapat menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Media sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.
a. Fungsi media pembelajaran
Levie & Lentz (1982) diacu dalam Erianawati (2005) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif,  dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan teks materi pelajaran. Fungsi afektif dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Fungsi kognitif mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca dan mengingatnya kembali.
Media dalam proses pembelajaran mempunyai fungsi antara lain: mampu mengatasi keterbatasan pengalaman siswa yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, memungkinkan adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, menumbuhkan minat baru dan memotivasi dan merangsang siswa untuk belajar. Download ptk matematika sd lengkap Gambar (visual) dapat menimbulkan rangsangan tertentu kearah keinginan untuk belajar. Siswa menjadi penasaran dan timbul keinginan untuk mencari sesuatu yang baru (Sudjana 2007).
b. Penggunaan media pembelajaran
Selama proses belajar mengajar cenderung menggunakan panca indera penglihatan, memakai mata untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian, kenyataan ini mempunyai arti yang penting untuk keperluan belajar dan mengajar. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar. Penampilan media pembelajaran berupa kartu tidak boleh mengganggu gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca, untuk itu harus jelas dan terang. Media tidak boleh meragukan, artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya, harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. Media tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. Menurut Arsyad (1997) prinsip umum untuk penggunaan efektif media pembelajaran visual (gambar), yaitu:
1) Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan, dan diagram. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan.
2) Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
3) Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi.
4) Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas, dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. Download ptk matematika sd word
5) Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi.
6) Keterangan gambar (caption) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual, atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya, dan menyatakan orang dalam gambar itu sedang kerjakan, pikirkan atau katakan.
c. Tujuan Penggunaan Media
1) Memberikan kemampuan berpikir matematika secara kreatif. Bagi sebagian anak, matematika tampak seperti suatu sistem yang kaku, yang hanya berisi simbol-simbol dan sekumpulan dalil-dalil untuk dipecahkan. Padahal sesungguhnya matematika memiliki banyak hubungan untuk mengembangkan kreatifitas.
2) Mengembangkan sikap yang menguntungkan ke arah berpikir matematika. Suasana pembelajaran matematika di kelas haruslah sedemikian rupa, sehingga para peserta didik dapat menyukai pelajaran tersebut. Suasana semacam ini merupakan salah satu hal yang dapat membuat para peserta didik memperoleh kepercayaan diri akan kemampuannya dalam belajar matematika melalui pengalaman-pengalaman yang akrab dengan kehidupannya.
3) Menunjang matematika di luar kelas, yang menunjukkan penerapan matematika dalam keadaan sebenarnya. Peserta didik dapat menghubungkan pengalaman belajarnya dengan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan keterampilan masing-masing mereka dapat menyelidiki atau mengamati benda-benda di sekitarnya, kemudian mengorganisirnya untuk memecahkan suatu masalah.
4) Memberikan motivasi dan memudahkan abstraksi. Dengan alat peraga diharapkan peserta didik lebih memperoleh pengalaman-pengalaman yang baru dan menyenangkan, sehingga mereka dapat menghubungkannya dengan matematika yang bersifat abstrak.
5) Dari tujuan di atas diharapkan dengan bantuan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat memberikan permasalahan-permasalahan menjadi lebih menarik bagi anak yang sedang melakukan kegiatan belajar. Karena penemuan-penemuan yang diperoleh dari aktivitas anak biasanya bermula dari munculnya hal-hal yang merupakan tanda tanya, maka permasalahan yang diselidiki jawabannya itu harus didasarkan pada obyek yang menarik perhatian anak. Jadi bila memungkinkan hal itu haruslah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengarah pada bahan diskusi dalam berbagai cabang penyelidikan, misalnya dari buku, dari guru atau bahkan dari anak sendiri. Contoh ptk matematika sd doc Hal itu dapat ditentukan melalui peragaan dari guru dan diskusi yang melibatkan seluruh kelas atau oleh kelompok kecil/seorang anak yang bekerja dengan lembar kerja. Dengan menggunakan suatu lembar kerja, mereka dapat menggunakan bahan-bahan yang dirancang untuk mengarahkan dalam menjawab pertanyaan yang akan membantu mereka menemukan suatu jawaban yang dimaksudkan pada arti pertanyaannya. Oleh karena itu sebaiknya setiap alat peraga dilengkapi dengan kartu-kartu atau lembar kerja atau petunjuk penggunaan alat untuk menjawab permasalahan.
d. Penggunaan Media dalam Pembelajaran
Bila kita cermati pembelajaran yang terjadi di sekolah saat ini, masih banyak yang dikelola secara klasikal. Artinya semua peserta didik diperlakukan sama oleh guru. Pembelajaran klasikal merupakan pembelajaran yang paling disenangi oleh guru karena cara ini mudah dilaksanakan. Pada pembelajaran klasikal umumnya komunikasi terjadi searah, yaitu dari guru ke peserta didik, dan hampir tidak terjadi sebaliknya. Oleh sebab itu penggunaan alat peraganya didominasi oleh guru. Pada umumnya hanya sebagaian kecil dari peserta didik yang dapat memanfaatkan alat peraga tersebut. Untuk meminimalisasi dominasi guru dalam penggunaan alat peraga, maka perlu direncanakan dan dikembangkan alat peraga untuk kelompok atau individu. Ada beberapa keuntungan bila alat peraga digunakan untuk kelompok, antara lain: (1) adanya tutor sebaya dalam kelompok, akan dapat membantu guru dalam menerangkan pemanfaatan alat peraga kepada temannya, (2) kerjasama yang terjadi dalam penggunaan alat peraga kelompok akan membuat suasana kelas lebih menyenangkan, (3) banyaknya anggota kelompok yang relatif kecil akan memudahkan peserta didik untuk berdiskusi dan bekerjasama dalam pemanfaatan alat. Namun demikian ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan alat peraga kelompok yakni: (1) tugas-tugas pelengkap dari alat peraga/sarana yang menjadi tanggung jawab kelompok hendaknya mengaktifkan semua anggota kelompok, agar tidak terjadi dominasi oleh seorang anggota kelompok, (2) pemilihan anggota kelompok dalam melaksanakan tugas-tugas pemanfaatan alat peraga haruslah secermat mungkin, sehingga tidak terjadi penumpukan peserta didik yang pandai atau sebaliknya dalam satu kelompok.
e. Prinsip-Prinsip Umum Penggunaan Media
Selain mempersiapkan langkah-langkah penggunaan alat peraga, seperti persiapan guru, lingkungan, persiapan peserta didik, maka perlu pula mengetahui prinsipprinsip umum dalam penggunaan alat peraga, di antaranya sebagai berikut.
1) Penggunaan alat peraga hendaknya sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2) Alat peraga yang digunakan hendaknya sesuai dengan metode/strategi
pembelajaran.
3) Tidak ada satu alat peragapun yang dapat atau sesuai untuk segala macam kegiatan belajar. Download ptk matematika sd word 
4) Guru harus terampil menggunakan alat peraga dalam pembelajaran.
5) Peraga yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa dan gaya belajarnya.
6) Pemilihan alat peraga harus obyektif, tidak didasarkan kepada kesenangan pribadi.
7) Keberhasilan penggunaan alat peraga juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
f. Persyaratan Media
Menurut E.T. Ruseffendi (dalam Pujiati, 2009a) ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki alat peraga agar fungsi atau manfaat dari alat peraga tersebut sesuai dengan yang diharapkan dalam pembelajaran, yaitu :
1) Sesuai dengan konsep matematika.
2) Dapat memperjelas konsep matematika, baik dalam bentuk real, gambar atau diagram dan bukan sebaliknya (mempersulit pemahaman konsep matematika)
3) Tahan lama (dibuat dari bahan-bahan yang cukup kuat).
4) Bentuk dan warnanya menarik.
5) Dari bahan yang aman bagi kesehatan peserta didik.
6) Sederhana dan mudah dikelola.
7) Ukuran sesuai atau seimbang dengan ukuran fisik dari peserta didik.
8) Peragan diharapkan menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berpikir abstrak
9) bagi peserta didik, karena alat peraga tersebut dapat dimanipulasi (dapat
10) diraba, dipegang, dipindahkan, dipasangkan, dan sebagainya) agar peserta
11) didik dapat belajar secara aktif baik secara individual maupun kelompok.
12) Bila mungkin alat peraga tersebut dapat berfaedah banyak.
g. Pemilihan Media
Menurut Pujiati (2009a) pemilihan alat peraga yang tepat dan digunakan secara benar diharapkan dapat:
1) mempermudah abstraksi,
2) memudahkan, memperbaiki, atau meningkatkan penguasaan konsep atau fakta,
3) memberikan motivasi,
4) memberikan variasi pembelajaran,
5) meningkatkan efisiensi waktu,
6) menunjang kegiatan matematika di luar kelas yang menunjukkan penerapan matematika pada peristiwa nyata, dan
7) meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
h. Kegagalan Penggunaan Media
Menurut Ruseffendi (dalam Pujiati, 2009a) penggunakan alat peraga tidak selamanya membuahkan hasil belajar yang lebih meningkat, lebih menarik, dan sebagainya. Download PTK matematika sd kelas 4 lengkap Adakalanya menyebabkan hal yang sebaliknya, yaitu menyebabkan kegagalan peserta didik dalam belajar. Kegagalan itu akan nampak bila:
1) generalisasi konsep abstrak dari representasi hal-hal yang konkret tidak
tercapai,
2) alat peraga yang digunakan hanya sekedar sajian yang tidak memiliki nilai nilai yang tidak menunjang konsep-konsep dalam matematika,
3) tidak disajikan pada saat yang tepat,
4) memboroskan waktu,
5) diberikan pada anak yang sebenarnya tidak memerlukannya, dan
6) tidak menarik dan mempersulit konsep yang dipelajari.
i. Analisis Kebutuhan Media Matematika untuk Setiap Kelas
Pada dasarnya kegiatan belajar mengajar matematika dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan variasi sajian, misalnya permainan, diskusi, pemecahan masalah, praktek, dan lain-lain yang menarik. Alat peraga merupakan bagian penting dari perangkat pembelajaran. Agar alat peraga yang akan digunakan sesuai dengan materi yang dibahas dan terencana dengan baik serta bermakna maksimal, seyogyanya alat peraga tersebut dirancang dan dibuat sendiri oleh guru. Untuk itu dibutuhkan urutan langkah sebagai berikut:
1) Identifikasi kebutuhan alat peraga dengan cara menganalisis kurikulum/standar
isi yang sedang digunakan/berlaku menurut jenjang kelas yang diampu dari
guru yang bersangkutan.
2) Mendesain alat peraga yang akan dibuat.
3) Merencanakan dan memilih bahan dari alat peraga yang akan dibuat. 
4) Membuat alat peraga. Contoh ptk matematika sd kelas 4 pdf 
5) Menyusun petunjuk penggunaan alat peraga atau lembar kerja .
6) Penilaian alat peraga dan petunjuk yang telah dibuat dari catatan-catatan guru saat digunakan.
Kegiatan identifikasi kebutuhan alat peraga yang digunakan di SD dari kelas I sampai dengan kelas VI merupakan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru pengampu kelas yang bersangkutan baik secara individu atau kelompok ditingkat sekolah maupun tingkat KKG. Kegiatan ini memerlukan ketekunan dan inovasi dari guru sehingga dapat menentukan dan mengembangkan alat peraga yang digunakan berdasar pada kurikulum yang berlaku. Pencermatan terhadap kurikulum mengenai indikator, hasil belajar dan materi akan menentukan alat peraga yang dapat digunakan atau dikembangkan.
2.1.6. Pengertian Benda Manipulatif
Dalam pembelajaran Matematika SD, agar bahan pelajaran yang diberikan lebih mudah dipahami oleh siswa, diperlukan bahan-bahan yang perlu disiapkan guru, dari barang-barang yang harganya relatif murah dan mudah diperoleh, misalnya dari karton, kertas, kayu, kawat, kain, untuk menanamkan konsep matematika tertentu sesuai dengan keperluan.
Bahan-bahan itu dapat dipegang, dipindah-pindah, dipasang, dibolak-balik diatur/ ditata, dilipat/ dipotong oleh siswa sehingga dapat disebut sebagai bahan manipulatif, yaitu bahan yang dapat “ dimain-mainkan” dengan tangan. Bahan ini berfungsi untuk menyederhanakan konsep yang sulit/ sukar, menyajikan bahan yang relatif abstrak menjadi lebih nyata, menjelaskan pengertian atau konsep secara lebih konkret, menjelaskan sifat-sifat tertentu yang terkait dengan pengerjaan (operasi) hitung dan sifat-sifat bangun geometri, serta memperlihatkan fakta-fakta.
2.1.7. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan media manipulatif Langkah-langkah dalam pembelajaran menggunakan media manipulatif adalah sebagai berkut :
Dalam pelaksanaan pembelajaran diharapkan mengangkat permasalahan¬permasalahan keseharian seperti contoh di atas untuk menghilangkan kesan abstrak dari konsep. Guru dapat menyediakan bendabenda konkrit sederhana seperti pita, tali, kue cake kecil, kertas folio berwarna dan sebagainya, untuk dijadikan media pembelajaran sebelum masuk pada tahap semi konkrit berupa gambar. Secara singkat alternatif pembelajaran yang dapat dilaksanakan secara bertahap seperti berikut ini. Pada tahap awal guru mengulang materi prasyarat yang digunakan dalam pembahasan materi inti yaitu meliputi: penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama, dan konsep perkalian yang merupakan penjumlahan berulang. Guru membagikan lembar kerja untuk semua peserta didik yang berisi permasalahan-permasalahan seperti di atas untuk dibahas secara kelompok dan dilanjutkan secara klasikal. Peserta didik dibagi dalam kelompok¬kelompok (beranggotakan 2 peserta didik) diberi kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan menggunakan bendabenda konkrit yang telah disiapkan. Download ptk matematika sd lengkap  Guru harus merencanakan permasalahan permasalahan dengan baik agar masing-masing kelompok dapat memperagakan obyek yang dapat membentuk kalimat matematika yang berbeda-beda tentang bilangan asli yang dikalikan dengan pecahan. Contoh
1) Kelompok 1 dengan alat peraga pita dan menyelesaikan masalah sebagai berikut. Ani, Beta, dan Cica akan membuat bunga dengan masing-masing memerlukan meter pita. Berapa meter pita yang diperlukan?
2) Kelompok 2 dengan alat peraga pita. Ati, Bety, dan Cindi akan membuat bunga dan masing-masing memerlukan m pita. Berapa meter pita yang diperlukan? 
Kalimat matematika yang diharapkan muncul dari soal cerita tersebut adalah: Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk memperagakan objek yang telah disiapkan dan  mengemukakan hasil dari penyelesaiannya. Guru dapat membantu kelompok pada saat mengemukakan hasil dan merangkumnya atau memperjelas materi yang dibahas dengan menggunakan chart yang telah disiapkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru dapat menyiapkan LK berupa gambargambar atau bangun-bangun sebagai pengganti dari benda konkrit untuk didiskusikan peserta didik secara kelompok. Gambar atau bangun yang tercantum pada LK hendaknya sederhana sehingga peserta didik mudah menentukan bagian-bagian dari bangun tersebut. Sebelum masuk pada kegiatan inti guru mengulang materi prasyarat yaitu meliputi bilangan asli yang dikalikan dengan pecahan. Adapun sebaliknya cukup dengan menggunakan sifat komutatif perkalian pecahan. Materi prasyarat lain adalah pecahan senilai dan pecahan campuran. Guru dapat membantu kelompok saat berdiskusi dan presentasi hasil. Pada akhir kegiatan guru bersama peserta didik merangkum atau memperjelas materi yang dibahas dengan menggunakan chart yang telah disiapkan
2.2 Kerangka Berpikir
Optimalisasi kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor media atau teknik dan model mengajar guru. guru dapat menggunakan media pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang terdapat dalam kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehingga siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna atau memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh ptk matematika sd doc Dengan menerapkan media manipulatif, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat mengatasi masalah dalam pembelajaran Matematika di kelas 4 SD Negeri...., karena siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan diharapkan pula terjadi peningkatan hasil belajar.
2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan perumusan masalah, landasan teori dan kajian pustaka, serta kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan bahwa pembelajaran dapat meningkat dengan media manipulatif pada hasil belajar matematika siswa kelas 4 SD Negeri ..... Kecamatan ..... Kabupaten ..... Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.

DOWNLOAD LAPORAN PROPOSAL PTK MATEMATIKA SD

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian
3.1.1 Setting
1. Tempat Pen elitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas 4 SDN .... Kecamatan...., Kabupaten ....
2. Setting waktu
Pelaksanaan penelitian pada semester genap/ semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 selama 2 minggu dengan menggunakan 8 jam pelajaran x 35 menit ( 4 x pertemuan ). Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2016 dengan jadwal sebagai berikut :
a. Pelaksanaan kondisi awal tgl 20 Maret 2016
b. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2016 pukul 07.15 – 08.45.
c. Siklus II dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2016 pukul 07.15 – 08.45.
3. Jenis penelitian, setting tempat dan waktu yang digunakan adalah tindakan penelitian kelas. Adapun jadwal kegiatan secara lengkap seperti pada tabel berikut:
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian

3.2 Variabel yang akan Diteliti
Faktor-faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Variabel: sesuatu yang dapat berubah-ubah
b. Variabel pada masalah pokok yang diteliti dikenal dengan variabel terikat (Y) Dalam hal ini adalah hasil belajar matematika sebagai variabel terikat
c. Masalah tidak berdiri sendiri selalu berkonstelasi dengan masalah lain
d. Masalah lain tersebut umumnya mengandung variabel bebas (X)
Dalam hal ini variabel X nya adalah penggunaan media manipulatif. Download ptk matematika sd word Penggunaan Media manipulatif dijadikan sebagi variabel yang akan menjadi variabel bebas dan hasil belajar sebagai variabel terikat
3.3 Rencana Tindakan
a. Rencana ( Planning ) c. Observasi
b. Pelaksanaan Tindakan d. Refleksi
3.4. Siklus Penelitian
3.4.1. Siklus Pertama
a. Perencanaan
Penulis melakukan kegiatan sebagai berikut :
- Berdiskusi dengan teman sejawat, berkonsultasi dengan dosen pembimbing, mengajukan ijin kepada kepala sekolah, menyusun RPP, menyiapkan alat peraga, menyiapkan pengaturan tempat duduk, merancang tes siklus 1.
b. Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru dapat menyiapkan gambar-gambar sederhana sebagai pengganti dari benda konkrit untuk diskusi kelas. Sebelum masuk pada kegiatan inti hendaknya guru mengulang materi prasyarat yaitu meliputi konsep perkalian, bilangan asli yang dikalikan dengan pecahan; pecahan senilai; dan pecahan campuran. Pada akhir kegiatan, guru bersama peserta didik merangkum atau memperjelas materi yang dibahas untuk permasalahan yang berbeda dengan menggunakan chart yang telah disiapkan. Dalam pembelajaran ini guru mencatat, menilai, melakukan pengamatan keaktifan siswa dalam diskusi. Pada akhir pelajaran siswa bersama guru membahas eksperimen dan masing-masing kelompok mengemukakan hasil kerja kelompok dan kesimpulan yang telah di rumuskan. Rencana siklus pertama pada pertemuan ke dua adalah tanya jawab hasil eksperimen pertemuan yang lalu dan melanjutkan eksperimen materi selanjutnya, diadakan tanya jawab materi yang belum jelas. Pada akhir pertemuan ke dua diadakan Test Formatif. Pada tahap pelaksanan tindakan, guru melaksanakan pembelajaran dengan meggunakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah direncanakan, sedangkan peneliti berlaku sebagai observer partisipatif saat proses pembelajaran dengan media yang dipakai tetap berlangsung. Peneliti mengamati aktivitas yang sedang berlangsung dan membantu terlaksananya proses pembelajaran.
c. Observasi
Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan kelas dengan lembar observasi yang telah disiapkan. Observasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru lain sebagai guru kolaborasi. Download PTK matematika sd kelas 4 lengkap Dia melakukan pengamatan, tentang keaktifan siswa dalam metode permainan dan kerja kelompok, juga mengamati kegiatan guru dalam menerangkan dan bimbingan pada diskusi. Hasil pengamatan dimasukkan dalam lembar observasi sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Observasi merupakan upaya mengamati pelaksanaan tindakan. Observasi dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan seorang pengamat lain. Observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan observasi bertujuan untuk mengamati kemandirian belajar siswa saat proses pembelajaran.
dari aspek guru :
Kelemahan:
1) Apersepsi kurang mengena pada anak hanya sekilas.
2) Kurang memotivasi siswa.
3) Kurang memberi contoh-contoh soal.
Kelebihan :
1) Ketika anak maju benar jawaban diberikan pujian.
2) Memberikan PR.
3) Alat peraga digunakan dengan maksimal.
dari aspek siswa:
1) Ketertiban kurang.
2) Tidak mau bertanya.
3) Ada yang kurang aktif.
d. Ref leksi
1) dari tiga kegiatan di atas maka penulis mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki khususnya:
2) pemanfaatan alat peraga
3) apersepsi disangkutkan dalam kehidupan sehari-hari.
4) meningkatkan partisipasi aktif siswa.

4.2. Siklus Kedua 
1) Perencanaan
a) Menyusun rencana perbaikan dengan materi pecahan
b) Memadukan hasil siklus I agar siklus II lebih efektif
c) Menyiapkan lembar kerja siswa.
d) Menyiapkan lembar evaluasi
e) Menyiapkan lembar observasi. Contoh ptk matematika sd kelas 4 pdf 
2) Pelaksanaan Tindakan
a) Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai
b) Melakukan Pre test (tanya jawab lisan) mengenai materi yang telah dipelajari pada siklus I.
3) Observasi
a) Mengamati aktivitas siswa saat pembelajaran (dilakukan oleh observer)
b) Memantau diskusi/kerjasama antar siswa
c) Mengamati aktivitas guru dalam pembelajaran (dilakukan oleh observer)
4) Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan. Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis, kemudian dilakukan refleksi untuk melakukan penilaian proses yang terjadi, masalah yang muncul, dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya. Refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan baik secara proses maupun hasil. Proses berkaitan dengan melihat kemandirian belajar siswa, sedangkan hasil penugasan konsep lewat lembar soal dan dan hasil tes pada tiap akhir siklus. Analisis dari proses dan hasil ini kemudian didiskusikan dengan guru sehingga menghasilkan masukan-masukan yang digunakan untuk perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya. Dari hasil observasi tersebut di atas, guru merefleksi diri apakah proses pembelajaran yang telah dilaksanakan tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa atau belum. Dari hasil post tes pada siklus pertama sampai siklus kedua dianalisis berapa nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada kelas tersebut. Refleksi direncanakan pada akhir siklus kedua tahap kedua. Download ptk matematika sd lengkap Pada penelitian ini ditentukan indikator yang akan diraih adalah nilai rata-rata kelas 65.
3.4 Indikator Kinerja
Media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 4 SDN .....  Kecamatan ..... Kabupaten ..... dengan indikator sebagai berikut :
a) Pembelajaran matematika menggunakan media manipulatif meningkat dengan kriteria baik.
b) 80% siswa kelas 4 SDN .....  Kecamatan ..... Kabupaten ..... mendapat nilai > 60
3.5 Analisis Data
Analisis data ini dilakukan secara kualitatif melalui tindakan kelas. Dalam penelitian ini data dari observasi, dokumentasi, wawancara dan tes terhadap yang terkait langsung, dalam proses belajar mengajar. Penulis menggunakan Metode analisa data yang digunakan penulis dalam menganalisa data kuantitatif yang telah diperoleh adalah metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes formatif pada kondisi awal, tes formatif pada siklus 1, tes formatif pada siklus 2. Perbandingan hasil belajar untuk kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2 dengan megamati dari ketuntasan dan rata-rata nilai yang diukur dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Data diproses dan dianalisa berdasarkan nilai hasil Belajar siswa dan dibandingkan SKM ( Standar Ketuntasan Minimal ) mata pelajaran matematika yang telah ditentukan oleh sekolah. Analisa data meliputi : analisa nilai minimal, rata-rata kelas dan tarap serap materi pembelajaran. Dari hasil pengolahan nilai akan digunakan untuk menentukan Tuntas dan Tidak Tuntas peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran. Selain itu analisa data diambil dari perubahan sikap atau perilaku siswa setelah proses pembelajaran selesai.
3.5.1. Sumber Data
1. Siswa
2. Guru
3. Data doku men
4. Catatan lapangan
3.5.2. Jenis Data
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif diwujudkan dengan hasil belajar IPS yang diperoleh siswa.
2. Data Kualitatif
Diperoleh dari lembar pengamatan aktivitas siswa, keterampilan guru, wawancara serta catatan lapangan

3.5.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode observasi, metode tes dan dokumentasi. Contoh ptk matematika sd doc 
3.5.4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah:
a) Data berupa hasil belajar matematika
b) Data kualitatif berupa data hasil observasi aktifitas guru


DAFTAR PUSTAKA

Agus, S. 2007. Pemanfaatan Alat Peraga Matematika di SD. Yogyakarta:PPPPTK Matematika
Al. Krismanto. 2001. Pembelajaran Matematika Yang Efektif. Dalam makalah yang disampaikan dalam seminar pendidikan matematika Guru SLTP Kabupaten Gresik di PPPG Matematika Yogyakarta, tanggal 12 Maret 2001 Yogyakarta: PPPG Matematika
Atwi Suparman. 1997. Desain Instructional. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka Buckeye D. 1972. Cheap Math Lab Equipment. Michigan : Midwest Publications Co, Inc.
Berns dan Erikson. 2001. Theoretical Roots of Contextual Teaching and Learning in Mathematics. Georgia: The Departemet of Mathematis Education
Bruce Joyce dan Marcha Weil. 1996. Models of Teaching, 5th- edition. Needham Direktorat
Pendidikan Lanjutan Pertama. 2003. Pendekatan Kontekstual Contextual Teaching and
Learning (CTL). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Dikdasmen.
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar. Depdikbud: Jakarta
Depdikbud. 1994. Garis Besar Program Pen gajaran ( GBPP ) Mata Pelajaran Matematika Kurikulum Matematika SD Tahun 1994. Jakarta: Depdiknas
Estiningsih, E. 1994. Landasan Teknik Pen gajaran Hitung SD. Yogyakarta: PPPG Matematika
Elaine B Johnson. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press, Inc.
Elly Estiningsih. 1994. Analisis GBPP SD 1994. Bahan Ajar untuk Program Penataran Baca, Tulis, Hitung yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Dasar.
Fall. 1995. C ollaborativLearningEnchancesCriticalThingking. http://scholar. lib.vt.edu/ejournal/ JTE/v7n 1/gokhale.jte-v7n 1.html. 15 Agustus 2009
Frederich H, Bell. 1978. Teaching and Learning Mathematics. Iowa : Brown Company Publisher
George Ontract W. 1977. The Mathematics Laboratory, NCTM. Hudojo, H. 1998. Men gajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.
NCTM ( Thirty Year Book ). 1973. Instructional Aids in Mathematics, Virginia
Gunawan, Adi. 2007. Born to be a Genius but Conditioned to be an Idiot.
http://www.adigunawa.com.html. Diakses 21 November 2008
Marpaung, Y. 2001. Pendekatan Realistik dan Sani dalam Pembelajaran Matematika. Dalam makalah yang disampaikan pada seminar Pendekatan realistik dan sains
dalam Pendidikan Matematika di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Marpaung, Y. 2006. Pembelajaran Matematika dengan Model PMRI (Makalah yang
disampaikan pada seminar dan lokakarya pembelajaran matematika). Yogyakarta:
PPPG Matematika
M. Asikin Hidayat, Djoko Iswadyi. (2003). Geometri Ruang. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud.
Miarso, dkk. (1980). Penuntun Belajar Matematika. Bandung: Ganeca Exact.
Mujiman, Haris. 2007. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pujiati. 2009a. Pemanfaatan Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran Matematika SD. Makalah tidak dipublikasikan. Yogyakarta: PPPPTK Matematika
Pujiati. 2009b. Pembuatan Alat Peraga Matematika. Makalah tidak dipublikasikan. Yogyakarta: PPPPTK Matematika
Tim PPPPTK Matematika. 2008a. Petunjuk Pen ggunaan Alat Peraga Matematika untuk Guru. Yogyakarta: Empat Pilar
Tim PPPPTK Matematika. 2008b. Petunjuk Pen ggunaan Alat Peraga Matematika untuk Murid. Yogyakarta: Empat Pilar
Rosdiana. 2008. Pengaruh Metode Kerja Kelompok Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 9 Makassar. Skripsi. (tidak diterbitkan). Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Makassar.
Robert G. Patricia M. Contextual Teaching and Learning: Preparing Students for the New Economy. The Highlightzone: research @ work no. 5
Robert N Gagne dan Leslie J Briggs. 1992. Principles of Instructional Design, 4th edition. New York: Holt Rineharart and Winston
Suryanto & Sugiman. 2001. Pendidikan Matematika Realistik. Disampaikan pada Seminar Pendekatan Realistik dan Sani dalam Pendidikan Matematika di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Suryanto. 2001. Pendidikan Matematika Realistik. Dalam makalah yang disampaikan dalam Lokakarya Penyusunan Perangkat Penataran Matematika bagi
Sutarto Hadi. 2003. Pendidikan Realistik: Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna bagi Siswa. Dalam Makalah yang Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika ’Perubahan Paradigma dari Paradigma Mengajar ke Paradigma Belajar’. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Sutarto Hadi. 2005. Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Banjarmasin: Penerbit Tulip
Sri Wardani. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika SD. Bahan ajar disampaikan pada
TOT Instruktur Matematika SD di Propinsi baru. Yogyakarta: PPPG Matematika
Supinah. 1997–1 998. Menentukan Macam Media Pengajaran Matematika SD pada Jenjang Kelas. Paket Pembinaan Penataran. Yogyakarta: PPPG Matematika
Sadali, Purwaningsih. (2008). Ilmu Ukur Ruang. Bandung: Tarate.
Susilowati. 2007. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Kesebangunan Men ggunakan Pendekatan Kerja Kelompok Bagi Siswa Kelas 1 SMP 2 Jati Kudus. Skripsi. Universitas Negeri Semarang
Wilbur Scharmm, Johnston. C.L. (1977). Plane Trigonometry, A New Approach. 2nd ed. NewYork: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs.
Winkel, Daniel L. Anvil. (1992). Intermediate Algebra, Addison – Wesley Publishing Company Inc.
W. JS. Poerwodarminto. (1982). Kamus Matematika Inggris-Indonesia. Tarsito: Bandung.
Walter Dick dan Zan Carey. 1996. The Systematic Design of Instruction. 4th edition. Illinois, Glecview: Harper Collins Publishers


Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK MATEMATIKA SD KELAS 4 LENGKAP

Postingan terkait: